BAB II MANAJEMEN KEPALA SEKOLAH DALA
A. Paparan Data
2. Manajemen Kepala Sekolah Dalam Mengembangkan
7. Meningkatkan kegiatan ekstra berkaitan dengan lomba cerdas cermat.
8. Menggalang kegiatan kepramukaan upaya mewujudkan kepedulian sosial dan UKS.
9. Meningkatkan dan membudayakan disiplin KBM di sekolah secara efisien yang bersifat rekreatif (menyenangkan).
10. Meningkatkan hubungan kerja secara internal sekolah dengan komite sekolah, serta dengan masyarakat di sekitar sekolah.
Tujuan
1. Tahun 2015 diharapkan 80% dari peserta UN dapat memperoleh DANUN >7,00.
2. Tahun 2016 ditargetkan 50% dari peserta UN dapat diterima di perguruan inggi.
3. Tahun 2017 ditargetkan 70% dari peserta UN dapat diterima diperguruan tinngi baik melalui SNMPTN, SPAN PTAIN, PMDK PTN dan seleksi jalur mandiri PTN.
2. Manajemen Kepala Sekolah Dalam Mengembangkan
kognitif literasi (proses membaca, proses menulis dan konsep analisis wacana tertulis).
SMAN 2 Wawo dalam kurun waktu 4 tahun terakhir sudah mampu membangun sekolah dengan iklim budaya Literasi Baca Tulis, meskipun masih banyak kekurangan misalnyanya ada beberapa peserta didik yang kurang dalam melaksanakan budaya Literasi, kenyataan ini membuat SMAN 2 Wawo terus melakukan pembenahan di segala aspek demi terwujudnya generasi yang literat, ilmu mumpuni, semangat berprestasi, dengan asas tinggi-sukses meraih arah dan tujuan untuk meningkatkan kualitas menejem dan tata kelola guna mewujudkan sekolah unggul dan berdaya saing.
1) Perencanaan (Planning)
Kebutuhan akan perencanaan SDM mungkin tidak segera nampak orang mungkin akan bertanya, jika suatu perusahaan memerlukan karyawan baru mengapa tidak dengan mudah mendapatkannya. kebutuhan SDM dalam perusahaan sukar dipenuhi secepatnya atau semudah yang tersirat dalam pikiran titik perusahaan yang tidak merencanakan sdm-nya sering menemukan bahwa mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan karyawan sesuai dengan tujuan dari perusahaan secara efisien dan efektif .
Berkaitan dengan Pelaksanaan Budaya Literasi di SMAN 2 Wawo tentu harus ditopang oleh perencanaan manajemen sumberdaya yang memadai, perencanaan yang efektif dalam menunjuk dan menugaskan SDM Guru di SMAN 2 Wawo yang memiliki keahlian dan minat dalam mengembangkan budaya literasi yang akan menjadi tenaga khusus pendampingan siswa dalam melaksanakan program literasi berbasis sekolah dengan membiasakan budaya Baca Tulis dalam menjalankan tugas.
Sebagai Kepala Sekolah SMAN 2 Wawo Bapak Muhtar, menjelaskan bahwa :
“Peran saya sebagai pemimpin di sekolah ini, saya memberikan petunjuk, membuka komunikasi untuk mewujudkan budaya literasi dengan menyusunan program awal semester seperti mengevaluasi kinerja, pembagian jam mengajar, tugas tambahan, dan terkhusus pembahasan perencanaan program budaya literasi yang diusulkan dewan guru kemudian disepakati program strategis budaya literasi seperti apa saja yang harus direncanakan, karena bagi saya sebagai kepala Sekolah perencanaan program itu hal yang sangat fundamental karena tanpa perencanaan yang matang program budaya Literasi seperti apa saja tidak akan berjalan dengan maksimal dan terukur, maka dari itu dalam rapat kita tentukan programnya, kita susun dengan baik sehingga rencana yang kita buat terukur dan tepat sasaran ketikadilaksanakan”.63
Hal ini dijelaskan oleh wakil kepala sekolah bidang kesiswaan SMAN 2 Wawo Abdul Farid, beliau mengatakan bahwa :
“Menurut saya kegiatan yang dijalankan sekedar untuk memenuhi kewajiban, tidak akan berjalan dengan maksimal dan memuaskan, oleh karena itu, kegiatan harus dipikirkan dengan perencanaan manajemen yang matang. Yaitu Kepala Sekolah dengan perannya sebagai pemimpin bersama dewan guru menetapkan program budaya literasi, penyusunan jadwal program, merumuskan tujuan yang harus dicapai, perencanaan struktur organisasi, menetapkan para penanggung jawab, menetapka
63 Wawa ncara Muhtar, Kepala sekolah SMAN 2 Wawo pada tanggal 04 November 2021
prosedur, menetapkan fasilitas, menetapkan modal (capital), menetapkan control informasi menetapkan rencana-rencana operasional. Selain itu juga diperhitungkan dampak yang mungkin terjadi baik dari segi positif maupun sisi negatifnya, yaitu menyelesaikan masalah langsung dengan mewaspadai kemungkinan terjadinya dampak berantai dari pilihan dan pelaksanaan satu kebijakan mengenai budaya literasi”64
Mengenai perencanaan budaya Literasi hal senada juga di sampaikan oleh guru PAI sekaligus Pembina Imtak SMAN 2 Wawo Bapak Sirajuddin, beliau mengatakan bahwa :
“Sebagai Guru PAI dan Pembina Imtak saya berkewajiban berpartisipasi bersama Kepala Sekolah dengan perannya sebagai pemimpin merencanakan budaya literasi baik penyusunan kurikulim, membuat perencanaa pelaksanaan pembelajaran (RPP), silabus, program semester, program tahunan mata pelajaran PAI kemudian menyusun perencanaan program budaya Literasi yang menjadi otoritas Imtak dalam mengeksekusi program budaya literasi yang telah disusun tersebut.”65
Kemudian soal perencanaan budaya Literasi hal senada juga di sampaikan oleh guru bimbingan konseling SMAN 2 Wawo Bapak Mahmud, beliau mengatakan bahwa :
“Kepala Sekolah dengan perannya sebagai pemimpin megemban tanggung jawab penuh dengan membuka
64 Wawancara dengan Abdul Farid, Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan SMAN 2 Wawo tanggal 04 November 2021.
65 Wawancara dengan, Sirajuddin, Guru PAI SMAN 2 Wawo, tanggal 04 November 2021
ruang komunikasi seluas-luasnya Kepada semua dewan guru terhadap usulan budaya literasi seperti apa yang harus di rencanakan. Terkait tugas dan wewenang guru bimbingan konseling Kepala Sekolah mengarahkan untuk membimbing, menasehati, dan memberi solusi kepada siswa yang melanggar aturan dengan tidak menjalankan program budaya literasi yang telah direncanakan, kita melakukan kerja-kerja yang sesuai dengan program bimbingan konseling demi terwujudnya budaya literasi di Sekolah ini.”66
Dari hasil Wawancara di atas penulis menyimpulkan bahwa mengenai Perencanaan Budaya Literasi Kepala Sekolah dengan peranya sebagai pemimpin dalam merencanakan Budaya Literasi harus memberikan keputusan dan melakukan kebijakan secara demokratis.
Dalam menetapkan kegiatan yang harus dilaksanakan dewan guru, dan staf sebagai sumber daya manusia dengan pemberian instruksi dan motivasi pada tataran atas dan bawahan dalam garis tindakan sesuai dengan filosofis kebijakan, prosedur, dan standard yang ditetapkan dalam rencana-rencana Sekolah.
2) Pengorganisasian (Organizing).
Organizing disini adalah sekelompok manusia yang bekerja sama, dimana kerja sama tersebut dirancangkan dalam bentuk struktur organisasi atau gambaran stematis tentang hubungan kerja, dalam rangka mencapai tujuan tertentu.
Komponen untuk pengorganisasian atau pengelompokkan pserta latihan di SMAN 2 Wawo, yaitu Berdasarkan: 1) Pembagian beban menjadi tugas-tugas
66 Wawancara dengan, Mahmud, guru Bk SMAN 2 Wawo pada tanggal 04 November 2021
yang dapat dikerjakan secara individu maupun kelompok.
2). Pengelompokkan tugas-tugas yang memiliki kesamaan rumpun tugas. 3). Pengembangan herarki organisasi serta mensukseskan program Budaya Literasi sehingga nuansa sekolah literasi itu tergambar dari Visi dan Misi yang matang.
Hal ini dapat dilihat pada saat peneliti Mengunjungi Sekolah SMAN 2 Wawo di situ Semua guru memiliki tugas Masing-masing ada yang mengawasi siswa yang membaca di Perpustakaan, dan pada saat proses Belajar di Kelas guru Mata Pelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca 15 menit terdahulu sebelum guru menjelaskan Materi pelajarannya, Sehingga siswa dapat aktif pada saat proses Belajar mengajar di Kelas67
Hal tersebut di atas dijelaskan oleh Kepala Sekolah SMAN 2 Wawo Muhtar, beliau menyatakan bahwa:
“Peran saya sebagai manager di sekolah ini adalah mengorganisasikan program budaya Literasi dengan menentukan tugas, wewenang, fungsi dan tanggung jawab, pembagian kerja masing-masing dewan guru sesuai kemampuan agar mereka bekerja lebih terarah baik dalam rutinitas mengajar, tugas tambahan terlebih mereka melaksanakan kerja-kerja yang harus ikut berpartisipasi dalam mensukseskan program kepala sekolah terkait budaya Literasi, sehingga nuansa sekolah Literasi itu tergambar dari visi dan misi yang matang dan manajemen organisasi yang baik begitulah cita-cita yang kita harapkan dalam setiap pertemuan baik rapat awal
67 Observasi Di SMAN 2 Wawo, pada tanggal 03 Nonember 2021
semester, akhir semester, rapat mingguan, dan bulanan yang menunjang terwujudnya budaya Literasi”.68
Hal yang sama juga dijelaskan oleh Wakil Kepala Sekolah bidang kesiswaan SMAN 2 Wawo Bapak Abdul Farid, beliau menyatakan bahwa :
“Di sekolah ini peran Kepala Sekolah sebagai administrator mengorganisasikan pengelolaan kegiatan administrasi belajar dan mengajar, administrasi sarana prasarana, mengelola administrasi keuangan, administrasi persuratan, administrasi kurikulum, dan administrasi kesiswaan bekerja sama dengan karyawan dalam menyusun kelengkapaan mengenai administrasi sekolah, dari kegiatan administasi tersebut program budaya literasi terorganisasi dengan baik dan tertib administrasi jika terjadi pengawasan mendadak, atau kegiatan akreditasi sekolah mengenai program dan kegiatan budaya literasi.”69
Mengenai pengorganisasian budaya Literasi hal senada juga di sampaikan oleh guru PAI sekaligus Pembina Rohis SMAN 2 Wawo Bapak Sirajuddin, beliau mengatakan bahwa
“Peran Kepala sekolah sebagai inovator dalam mengorganisasikan budaya Literasi di sekolah ini adalah dengan cara melakukan pembaharuan dengan menerapkan kegiatan kurikulum berbasis manajemen dengan menyisipkan nilai-nilai Literasi mengunakan metode qisah untuk memotivasi kehidupan siswa keteladanan dengan adanya kantin kejujuran, mencintai lingkungan, meningkatkan
68 Muhtar, ,, kepala sekolah SMAN 2 wawo wawancara tanggal 05 Nopember 2021
69 Wawancara Wakasek, Abdul Farid, S.pd pada tanggal 05 November 2021
prestasi dengan kegiatan ekstrakurikuler, dan pembaharuan Menggali sumber masyarakat.”70
Kemudian soal pengorganisasian budaya Literasi hal senada juga di sampaikan oleh guru bimbingan konseling SMAN 2 Wawo Bapak Mahmud, beliau mengatakan bahwa :
“Peran kepala sekolah sebagai motivator di sekolah ini adalah dengan cara mengorganisasikan suasana Literasi yang kondusif melalui bimbingan konseling berisi pembelajaran karakter sehingga siswa yang melangar tata terbit kita proses dan kita bimbing, kita beri motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Suasana kondusif tersebut bisa di wujudkan dengan cara terus menjaga hubungan yang harmonis antara kepala sekolah,wakil kepala sekolah, dewan guru, staf, peserta didik dll.”
Dari hasil wawancara di atas penulis menyimpulkan bahwa kepala sekolah dalam mengorganisasikan budaya Literasi dengan perannya sebagai manager, administrator, inovator, dan motivator dilakukan dengan cara mempersiakan, menyusun struktur organisasi sekolah, tugas, wewenang, tanggung jawab, pekerjaan dan aktivitas yang harus dilakukan oleh masing-masing komponen organisasi di SMAN 2 Wawo wakil kepala sekolah bidang kurikulum, dan kesiswaan merupakan ujung tombak dalam mewujudkan budaya Literasi di sekolah berkoordinasi langsung dengan guru bimbingan konseling, pembina dan osis demi terwujudnya budaya Literasi.
3) Pelaksanaan (Actuating).
70 Wawancara Pembina Imtak SMAN 2 Wawo, Sirajuddin, S.pd pada tanggal 06 November 2021
Di SMAN 2 Wawo Pogram mewujudkan budaya Literasi baca tulis masing-masing bidang berjalan sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan merupakan organisasi budaya Literasi tunggal bagi setiap bidang, maka pimpinan ketua atau atasan mencari mekanisme proses implementasi. Mereka mempunyai standar kekuasaan personil, rekrutmen, seleksi, tugas, dan relokasi kemajuan dan publikasi dan akhirnya memnerhentikan.
Selanjutnya, mereka harus mengontrol alokasi anggaran dari masing-masing seksi dan bidang-bidang dalam rangka memompa dan menguji respon atau kinerja para seksi memuaskan atau tidak. Ketika pemimpin tidak dapat mengomando bawahan, maka pimpinan harus mempunyai kapasitas substansi mempengaruhi perilaku bawahannya.
Kepala Sekolah Mengadakan Pelatihan-pelatihan seperti Bimbingan Khusus kepada guru-guru Di SMAN 2 Wawo untuk tercapainya Sekolah yang Literal.
Hal ini dapat dilihat pada saat peneliti mengunjungi Sekolah guru-guru diberikan tugas sesuai keahlian di bidangnya Masing-masing. Misalnya bagian kewirausahaan harus bisa mengelola usahanya dengan baik. Hal ini dapat dibuktikan adanya Kantin Kejujuran di lokasi Sekolah SMAN 2 Wawo.71
Dari penjelasan di atas pelaksanaan budaya Literasi harus tepat sasaran dengan pembagian kerja yang telah ditetapkan. Berkaitan dengan pelaksanaan budaya Literasi di SMAN 2 Wawo Bapak Muhtar, menjelaskan bahwa :
“Peran saya sebagai edukator/pendidik dalammewujudkan program budaya literasi baca tulis di SMAN 2 Wawo dengan cara membimbing
71 Observasi Di SMAN 2 Wawo,pada tanggal 06 November 2021
semua guru mata pelajaran yang berkaitan dengan actuating/pelaksanaan program budaya literasi mengadakan penilaian serta pengendalian terhadap kinerja secaran periodik dan berkesinambungan mengizinkan untuk mengikuti pelatihan-pelatihan agar kemampuan guru makin bertambah dan melaksanakan pembelajaran bernuansa literasi baca tulis dalam meningkatkan prestasi guru dan sisawa.”72
Hal yang sama juga dijelaskan oleh Wakil Kepala Sekolah bidang kesiswaan SMAN 2 Wawo Bapak Abdul farid, beliau menyatakan bahwa :
Deengan perannya sebagai edukator dan pendidik di SMAN 2 Wawo. Kepala Sekolah melalui perencanaan dan perngorganisasisan, kemudian melaksanakan program dengan cara membina, membimbing, mengarahkan siswa agar tertib melaksanakan program budaya literasi baca tulis yang telah disusun. Kemudian terkhusus pengurus osis berkewajiban melaksanakan program kerja yang bersingungan dengan budaya literasi. Manajemen Kepala Sekolah terkait pelaksanaan budaya literasi di atur sedemikian rupa agar pelaksanaan program budaya literasi terlaksana dengan baik dan peran Kepala Sekolah benar-benar berjalan sesuai dengan standar yang telah ditentukan.”73
Mengenai actuating/pelaksanaan program budaya literasi hal senada juga di sampaikan oleh guru PAI
72Wawancara Muhtar, Selaku KepalaSekolah SMAN 2Wawo pada tanggal 06 November 2021
73 Wawancara, Wakasek SMAN 2 Wawo, Abdul Farid Pada tanggal 06 November 2021
sekaligus Pembina IMTAK SMAN 2 Wawo Bapak Sirajuddinbeliau mengatakan bahwa:
“Selain perannya sebagai educator/pendidik, Kepala Sekolah SMAN 2 Wawo menjalankan fungsi manajemen actuating / pelaksanaan dalam mewujudkan program budaya literasi dengan perannya sebagai entrepreneur/wirausahawan, selain melaksanakan program budaya literasi yang di telah saya susun bersama tim literasi, Kepala Sekolah juga melaksanakan program budaya literasi berbasis kewirausahaan dengan dibuktikan terus berjalannya koperasi sekolah dan kantin kejujuran kaya teks untuk menumbuhkan nilai-nilai literasi dalam diri siswa, dengan berjalannya program tersebut hingga kini membuktikan program budaya literasi di SMAN 2 Wawo ini berjalan cukup efektif.”74
Kemudian soal actuating / pelaksanaan program Budaya Literasi Baca Tulis hal senada juga di sampaikan oleh guru bimbingan konseling SMAN 2 Wawo Bapak Mahmud, beliau mengatakan bahwa:
“Saya selaku guru bimbingan konseling selain menyelesaikan permasalahan perserta didik dengan ilmu konseling yg saya punya saya juga yang pertama mengusulkan untuk di laksanakannya program budaya Literasi baca tulis seperti
penggunaan sudut baca dan
penggunaan`perpustakaan sekolah, pelaksanaan program tersbut adalah untuk melahirkan terbiasa membaca dan keuletan dalam diri siswa sehingga
74 Wawancara , k Sirajuddin, selaku guru PAI SMAN 2 Wawo pada tanggal 06 November 2021
setelah selesai di sekolah ini ia mampu menerapkan di lingkungan sekitarnya.”75
Dari hasil wawancara di atas penulis menyimpulkan pelaksanaan program budaya Literasi baca tulis dengan peran kepala sekolah memberikan kepercayaan untuk pelaksanaan program budaya Literasi yang dalam hal ini dikerjakan oleh waka kesiswaan bekerjasama dengan tim literasi, guru PAI sekaligus Pembina IMTAK, dan guru Bimbingan konseling SMAN 2 Wawo.
4) Pengawasan (Controlling)
Sistem pengawasan yang dilakukan Di SMAN 2 Wawo disini Meliputi pemantauan Kinerja Guru yang di Lakukan oleh Kepala Sekolah SMAN 2 Wawo Seperi melakukan Supervisi Pada saat Guru melaksanakan Proses Belajar Mengajar Di kelas, mengawasi pelaksanaan Program Baca Tulis, Kegiatan Osis, maupun Kegiatan Imtak. 76
Hal tersebut di atas di jelaskan oleh kepala sekolah SMAN 2 Wawo Bapak Muhtar, beliau memaparkan bahwa :
“Terkait pengawasan program budaya Literasi baca tulis yang telah di laksanakan peran saya sebagai supervisior yakni mengadakan proses pengawasan dan pengendalian proses belajar mengajar, mengawasi pelaksanaan program kegiatan baca tulis, osis, Imtak, dan bimbingan konseling yang bersingungan langsung dengan budaya Literasi kemudian melakukan supervisi guru mata pelajaran guna memastikan ada peningkatan perbaikan dalam proses belajar-mengajar demi terwujudnya budaya Literasi”77
75 Wawancara, Mahmud, selaku guru BK SMAN 2 Wawo, pada tanggal 06 November 2021
76 Observasi Di SMAN 2 Wawo pada tanggal 06 November 2021
77 Wawancara Muhtar, Kepala Sekolah SMAN 2 Wawo, tanggal 08 November 2021
Keterangan dari kepala sekolah itu, menunjukkan bahwa pengawasan mewujudkan budaya Literasi seperti gemar membaca sebenarnya berfungsi sebagai instrumen untuk mengubah perilaku disfungsional atau menyimpang.
Bukan untuk serta merta mengenakan sanksi atau hukuman, tetapi untuk membantu yang bersangkutan mengubah atau meluruskan perilaku. Kiatnya adalah bahwa teknik apapun yang digunakan dalam melakukan pengawasan dalam mewujudkan budaya Literasi, sasaran utamanya adalah untuk menemukan “apa yang tidak beres dalam pelaksanaan mewujudkan budaya Literasi dan berbagai kegiatan operasional dalam mewujudkan budaya Literasi”dan bukan serta merta mencari “siapa yang salah”. Dengan demikian secara implisit terlihat bahwa pengawasan dalam mewujudkan budaya Literasi merupakan alat yang ampuh untuk meningkatkan produktivitas kerja.
Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan SMAN 2 Wawo
Bapak Abdul Farid, menjelaskan bahwa :
“Kepala Sekolah dengan perannya sebagai supervisior demi memantapkan program budaya literasi terlaksana dengan baik atau tidak Kepala Sekolah terjun langsung mengawasi kinerja saya sebagai wakil kepala sekolah bidang kesiswaan dan juga guru-guru lain yang juga mempunyai kewajiban dalam melaksanakan program budaya literasi turut dilakukan pengawasan dan supervisi baik program membaca, kesiswaan, IMTAK, Osis, dan terutama supervisi pengawasan terhadap pelaksanaan guru dalam mengajar”.78
78 Abdul Farid, selaku Wakasek SMAN 2 Wawo tanggal 08 November 2021
Mengenai fungsi pengawasan misalnya dalam pelaksanaan program literasi guru PAI SMAN 2 Wawo Bapak Sirajuddin Mengatakan bahwa :
“Bapak Kepala Sekolah selalu memantau dan megontrol kegiatan membaca pagi dengan berkeliling disetiap kelas apakah kegiatan berjalan dengan baik atau tidak, serta apakah guru jam pertama melaksanakan tugasnya mendampingi kegiatan membaca sebelum memulai mata pelajaran jika tidak maka Kepala Sekolah langsung menegur Ketua tim literasi agar guru yang bersangkutan melaksanakan tugasnya, jika berhalangan hadir agar digantikan oleh guru piket hari itu”.79
Kemudian soal actuating/pelaksanaan program Budaya Literasi hal senada juga di sampaikan oleh guru Bimbingan Konseling SMAN 2 Wawo Bapak Mahmud, beliau mengatakan bahwa :
“Dengan perannya sebagai supervisior kepala sekolah memfungsikan manajemen pengawasan mengamanahkan kepada saya selaku guru bimbingan konseling untuk memantau dan mengawasi sikap peserta didik baik saat belajar maupun melaksanakan kegiatan budaya membaca, ketika siswa melangar peraturan maka saya berkewajiban penuh menyelesaikan dengan pembimbingan dan kriteria bimbingan konseling.”80
79 Wawancara, Sirajuddin, Selaku Guru PAI SMAN 2 Wawo tanggal 08 November 2021
80 Wawancara Mahmud, selaku Guru BK SMAN 2 Wawo tanggal 08 November 2021
Pengurus tim literasi sekolah SMAN 2 Wawo Bapak Edi Insan juga memberikan tanggapan tentang fungsi kepengawasan kepala sekolah beliau mengatakan bahwa :
“Kepala sekolah melakukan pengawasan dengan menghadiri kegiatan membaca yang kita buat sebagai program strategis budaya Literasi di SMAN 2 Wawo ini di antaranya menghadiri membaca 15 menit sebelum memulai pelajaran, sudut baca, menanggapi buku dan kegiatan-kegiatan yang lain yang diadakan oleh sekolah mengenai literasi baca tulis, jika beliau ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan maka di wakilkan oleh bapak wakil kesiswaan dan dalam tiap sambutanya beliau terus mengapresiasi, kritik dan saran untuk kebaikan program-program ke depan”81