• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II MANAJEMEN KEPALA SEKOLAH DALA

C. Pembahasan

Berdasarkan paparan data pada Rumusan penelitian tentang manajemen kepala sekolah dalam mengembangkan budaya Literasi di SMAN 2 Wawo, dengan sub fokus bentuk kegiatan membaca di SMAN 2 Wawo, proses Penerapan yang dilakukan kepala sekolah dalam Menerapkan budaya sekolah yang Literasi serta faktor yang menjadi peluang dan penghambat dalam Menerapkan budaya sekolah yang Literasi di sekolah, dapat dikemukakan beberapa temuan penelitian sebagai berikut:

1. Perencanaan (planning)

Perencanaan merupakan tindakan awal dalam proses manajemen. Menurut Robbins (2011:16) Perencanaan adalah proses menentukan tujuan dan menetapkan cara terbaik untuk mencapai tujuan dan menetapkan cara terbaik untuk mencapai tujuan. Mondy dan Premeaux menjelaskan bahwa “Perencanaan adalah proses menentukan apa yang seharusnya dicapai dan bagaimana mencapainya. Mengapa para manajer harus membuat perencanaan?. Dengan adanya perencanaan akan dapat mengarahkan, mengurangi pengaruh lingkungan, mempengaruh tumpang tindih, serta merancang standar untuk memudahkan pengawasan.

Dengan perencanaan

yang dibuat akan dapat mengkoordinir berbagai kegiatan, mengarahkan para manajer dan pegawai kepada tujuan yang akan dicapai.82

Untuk mewujudkan Budaya Literasi di Sekolah di perlukan langkah- langkah yang matang dan terukur, penentuan program di bahas dan di rancang awal semester, program strategis budaya Literasi seperti apa saja yang perlu dibuat demi terwujudnya sekolah yang berbudaya Literasi sesuai dengan visi sekolah itu sendiri.Tanpa pengelolaan manajemen yang baik program yang dibuat tidak akan akan berjalan dengan maksimal, maka di perlukan leadershif dengan pengalaman mumpuni dan mampu menciptakan iklim sinergitas antara Kepala sekolah, Wakil kepala sekolah, guru, stap, dan semua warga sekolah83.

Perencanaan Manajemen pengembangan Budaya Literasi di SMAN 2 Wawo meliputi:

a. Mission and objective.

Dalam perencanaan pelatihan hal yang dilakukan oleh SMAN 2 Wawo adalah dengan melihat dan mencermati misi dan tujuan sekolah. Adapun lembaga tersebut telah mempunyai misi dan tujuan yang jelas dan menjadi pedoman dari program pelatihan pendidik.84

Dalam pembuatan visi misi sangat pnting untuk melibatkan stakeholder baik secara langsung maupun tidak langsung (misalnya melalui wawancara atau angket)

82 Nurdyansyah, Nurdyansyah, and Widodo Andiek.” Manajemen Berbasis ICT.” Jakarta:

83Hariyani, (2014). Nilai Keislaman dalam Novel Syahadat Cinta Karya Taufiqurrahman Al-Azizy. Universitas Negeri Malang, Jurnal pendidikan Humaniora, Vol. 2 No. 3, h. 283-293

84 Dokumentasi Di SMAN 2Wawo pada tanggal 06 November 2021

hal ini untuk memastikan bahwa harapan harapan stakeholder diperhatikan dengan sunggu-sungguh dalam pembuatan visi dan misi sekolah/madrasah. Dalam penyusunan visi juga perlu memperhatikan berbagai hal yang berkaitan dengan kondisi mikro dan makro lembaga. Untuk itu perlu kiranya melaksanakan analisis untuk mengetahui berbagai tantangan dan peluang dari lembaga pendidikan yang akan terjadi pada masa-masa yang akan datang dengan menggunakan berbagai analisis dalam pelaksanaannya.85

b. Strategy.

Strategi atau cara yang digunakan SMAN 2 wawo dalam menentukan mencapai tujuan adalah berdasarkan analisis pekerjaan atau job description. Hasil dari analisis pekerjaan dapat memberikan gambaran tentang tugas-tugas yang dilaksanakan dalam jabatan yang bersangkutan.

langkah-langkah, pertama, analisis lingkungan industri tempat perusahaan berada, kedua, berdasarkan lingkungan adalah dengan apa yang disebut SWOT, yaitu analisis kekuatan (strength), kelemahan (weakness), kekuatan, peluang dan kesempatan (opportunity), dan ancaman (threat). Kekuatan dan kelemahan dapat bersumber dari sumber daya manusia dalam hal kecukupannya atau keahliannya.86

Dari paparan di atas, dapat diketahui bahwa, SMAN 2 wawo dalam mengembangkan budaya literasi berupaya keras untuk meningkatkan produktiviatas kerja guru- guru dengan memberikan pelatihan seperti : (1). Program

85 Muhaimin,M.A manajemen pendidikan (aplikasi dalam penyusunan rencana pengembangan sekolah, Jakarta: prenada medi, 2015) h.25

86 Hariandja, Marihot Tua Effendi. Manajemen Sumber Daya Manusia.

Grasindo, 2002.

penyetaraan dan sertifikasi, (2). Program pelatihan terintegrasi berbasis kompetensi, (3). Program supervise, (4). Program pemberdayaan (misalnya melalui MGMP/Musyawarah Guru Mata Pelajaran), dan (5). dan lain-lain (seperti simposium, menulis karya ilmiah, berpartisipasi dalam forum ilmiah, melakukan penelitian, magang, mengikuti berita faktual di media pemberitaan, berpartisipasi dalam organisasi profesi, dan menggalang kerja sama dengan teman sejawat).

Hal demikian senada dengan konsep yang dikemukakan oleh Carrel dkk dalam Suparno, yang mengatakan bahwa tujuan umum pengembangan sumber daya manusia adalah meningkatkan kinerja (improve performace), memperbahrui keterampilan karyawan (update employe’es skill), memecahkan permasalahan organisasi (solveorganizational problems), mempersiapkan diri untuk promosi dan suksesi manajerial (prepatefor promotion, and managerial succession), dan memenuhi kebutuhan kepuasan pribadi (satisfy personal growth needs).

c. Policy (kebijakan).

Kebijakan merupakan suatu panduan umum yang akan mengarahkan pembuatan keputusan yang akan diambil oleh suatu lembaga. Kebijakan yang digunakan SMAN 2 Wawo dalam menerapkan budaya sekolah yang literasi berpedoman atau panduan adalah kebijakan dari pemerintah dan kebijakan dari Kepala sekolah. Adanya kebijakan dari pemerintah, yaitu perubahan kurikulum dari KTSP menjadi kurikulum tiga

belas (kurtilas), maka perlu diadakannya pelatihan atau workshop implementasi kurikulum tiga belas.

d. Program.

Penentuan program pengembangan budaya literasi di SMAN 2 Wawo dilakukan dari hasil analisis misi, tujuan, strategi, kebijakan dan prosedur serta aturan yang hendak dicapai oleh sekolah. Adapun program pelatihan yang dibuat oleh SMAN 2 Wawo adalah rencana jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Dalam pelaksanaan program sebagaimana dijelaskan oleh Kepala sekolah SMAN 2 Wawo adalah sifatnya sangat situasional. Artinya dalam pelaksanaan program pelatihan lebih menekankan pada perhitungan kepentingan lembaga dan kebutuhan para guru dengan mempertimbangkan kehematan biaya, materi, dan fasilitas yang tersedia.

Untuk tempat diselenggarakannya pelatihan di SMAN 2 Wawo yang mendukung pengembangan budaya literasi sekolah disesuaikan dengan kebutuhan dalam latihan.

Seperti isi program pelatihan, materi pelatihan dan biaya serta metode- metode apa yang digunakan dalam pelatihan. Artinya dalam pelaksanaan pelatihan bisa diselenggarakan di dalam sekolah dan bias juga di luar sekolah.

Langkah-langkah yang dilakukan oleh Kepala sekolah SMAN 2 Wawo dalam Menerapkan budaya sekolah yang Literasi adalah terdiri dari dua tahap yaitu langkah-langkah rencana jangka pendek atau program tahunan dan rencana operasional. Langkah- langkah rencana jangka pendek merupakan tanggungjawab Kepala sekolah sebagai top manajer di organisasi sekolah. Sedangkan langkah-langkah rencana operasionalnya, Kepala sekolah mendelegasikan atau

memberikan kepercayaan kepada Pembina literasi atau Guru yang menanganinya.

1 Rencana Jangka Pendek (Program Tahunan) Penyusunan rencana jangka pendek merupakan tanggungjawab Kepala Sekolah SMAN 2 Wawo dan dijadikan Program tahunan. Dalam membuat Penerapan tahunan tersebut, kepala sekolah berusaha menggunakan tata cara penyusunan Penerapan berikut:

a) Merumuskan tujuan secara jelas dan tetulis.

b) Menganalisis situasi dan kondisi yang memungkinkan untuk menetapkan suatu program kerja.

c) Mengidentifikasi masalah dan mencari solusinya.

d) Membuat alat ukur atau alat evaluasi supaya dapat diketahui tingkat ketercapaiannya.

2) Rencana Operasional

Penyusunan rencana operasional merupakan tindak lanjut dari program tahunan yang penanganannya diserahkan kepada Pembina Literasi sekolah dan Guru. Kepala sekolah memberikan kepercayaan dan kewenangan kepada Pembina untuk mengatur secara teknis pelaksanaan setiap kegiatan Penerapan budaya sekolah yang Literasi di SMAN 2 Wawo melalui SK pembagian tugas guru Pembina kegiatan ekstrakurikuler.

3) Struktur Organisasi Tim Gerakan Literasi Sekolah SMAN 2 Wawo.

Tabel 3.1 Struktur organisasi Gerakan Literasi Sekolah SMAN 2 Wawo.87

87 Dokumentasi Di SMAN 2 Wawo, pada tanggal 06 November 2021

No Tugas Nama

1. Pengarah Kepala SMAN 2

Wawo (Muhtar, S.pd, MM).

2. Penanggung jawab. Kesiswaan (Abdul Faridd, S,pd).

3. Pembina. Syukradatul, S,pd

4. Anggota Nurhayati, Spd

5. Anggota Sirajuddin,S.pd

6. Anggota Edi Iksan, S.pd

7. Anggota Fitriani, S,pd

8. Anggota Hilmiyah, S.pd

2. pengorganisasian (organizing).

Peran yang dilakukan Kepala sekolah sebagai leader antara lain: (1). Penyusunan visi, misi, dan tujuan sekolah melibatkan melibatkan guru, komite, perwakilan orangtua peserta didik, dan alumni untuk diadakan musyawarah, (2). Dalam mempermudah kerja Kepala sekolah (3). Penyusunan program kerja baik jangka panjang, menengah, dan jangka pendek menyusun bersama tim disusun bersama tim (4). Pengambilan keputusan, Kepala sekolah juga melibatkan banyak pihak (5). Kepala sekolah memiliki kepribadian baik yaitu tegas dalam mengambil keputusan.

Setiap ada agenda kegiatan sekolah, maka semua komponen masyarakat, baik pengurus komite sekolah, paguyuban sekolah, maupun orang tua Siswa secara umum, dilibatkan penuh dalam mengelola kegiatan. Diterapkannya konsep MBS dapat meningkatkan akuntabilitas Kepala Sekolah dan guru terhadap peserta didik, orang tua siswa, dan masyarakat serta adanya keterbukaan kepada semua komponen sekolah dan masyarakat dalam memberikan saran dan masukan dalam pengambilan keputusan. Seperti yang dijelaskan oleh Suparlan (2013:52- adalah “pertama,

MBS dapat meningkatkan akuntabilitas Kepala sekolah dan guru terhadap peserta didik, orang tua siswa, dan masyarakat. Kedua, MBS memberikan keterbukaan kepada semua pemangku kepentingan dalam memberikan saran dan masukan untuk menentukan kebijakan-kebijakan penting yang diperlukan oleh sekolah.88

Komponen untuk pengorganisasian atau pengelompokkan peserta latihan yaitu berdasarkan:

a. Pengelompokkan tugas-tugas yang memiliki kesamaan rumpun tugas seperti pelatihan untuk kegiatan literasi pelatihan untuk guru kelas dan siswa.

b. Pengembangkan hierarki organisasi yang akan mengatur pertanggung jawaban masing-masing jenjang manajemen yang terlibat di dalam lembaga, seperti:

waka kurikulum membawahi coordinator kelas (korlas), dan korlas sendiri membawahi wali kelas.

dalam pelaksanaan budaya literasi di SMAN 2 wawo ini hal yang kami lakukan adalah pengorganisisasin dengan membentuk struktur kerja mulai dari dewan guru sampai ke siswa dengan membentuk tim literasi sekolah dan kelompok- kelompok siswa dalam mengembangkan budaya literasi ini dengan terorganisirnya kelompok siswa nantinya dapat mudah melaksanakan kegiatan dalam bentuk lomba dan kegiatan lainnya dalam mengembangkan budaya membaca ini.”

3. Pelaksanaan (Actuating)

Actuating pada pelaksanaan pengembangan sumber daya manusia di sini adalah memang orang-orang yang mampu menggerakkan kepada suatu tujuan yang telah di tetapkan. Kamampuan atau seni menggerakan orang lain itu disebut sebagai kepemimpinan (leadership). Di sekolah orang yang mampu untuk menggerakkan dan mempunyai

88 Mistrianingsih, siti, Ali Imron dkk, peran kepala sekolah dalam implementasi manajemen berbasis sekolah manajemen pendidikan :2016 . H.111

kewenangan yang lebih adalah Kepala sekolah. Sebagai pemimpin harus mampu menggerakkan bawahan untuk melakukan suatu hal yang baik untuk organisasi atau lembaganya. Sedangkan alat untuk menggerakkan adalah dengan motivasi, baik yang bersifat instrinsik maupun ekstrinsik, dan di dukung oleh pendekatan-pendekatan dalam pelatihan.

Mengajar bagi para pendidik dalam mengembangkan budaya literasi ini Ada tiga fungsi motivasi, yaitu: motivasi adalah sebagai pendorong perbuatan, motivasi sebagai penggerak perbuatan, dan motivasi sebagai pengarah perbuatan. Kepala sekolah SMAN 2 wawo juga menambahkan, selain menggerakkan dengan sebuah motivasi, juga didukung dengan adanya pendekatan-pendekatan dalam pelatihan, yaitu menempatkan guru-guru yang kurang terampil atau belum mempunyai banyak pengalaman dibawah bimbingan guru-guru yang mempunyai pengalaman lebih, dengan diadakannya pelatihan-pelatihan yang bersifat umum dengan menggunakan metode-metode seperti kuliah, demonstrasi, multimedia, sesi tanya jawab yang secara tidak langsung mewujudkan suasana yang lebih harmonis antar guru.

Tugas kepemimpinan yang dijalankan oleh Kepala sekolah SMAN 2 Wawo Bapak Muhtar, S.pd di atas, sejalan dengan konsep yang dijelaskan oleh Kootz dalam Wajosumidjo, ia mengatakan bahwa, Kepala sekolah sebagai seorang pemimpin harus mampu mendorong timbulnya kemauan yang kuat dengan penuh semangat dan percaya diri, para guru, staf, dan siswa dalam melaksanakan tugas masing-masing, serta memberikan bimbingan dan mengarahkan para guru, staf dan siswa serta memberikan

dorongan memacu dan berdiri di depan demi kemajuan dan memberikan inspirasi sekolah dalam mencapai tujuan.89

Kemudian Kepala SMAN 2 Wawo dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya menerapkan gaya kepemimpinan yang demokratis. Hal demikian dapat dilihat dari prinsip yang dilaksanakan oleh Kepala Sekolah SMAN 2 Wawo pada seluruh bawahannya. Dalam mensukseskan program-program Sekolah Kepala Sekolah SMAN 2 Wawo menerapkan tiga prinsip yaitu, Kepala sekolah sebagai seorang Bapak, Kepala Sekolah sebagai seorang kakak, dan Kepala sekolah sebagai seorang teman. Dengan prinsip seperti itu dapat terjalin komunikasi yang baik dan hubungan yang erat antara sekolah dengan seluruh warga sekolah, sehingga mempermudah kerja antara Kepala Sekolah dengan seluruh warga sekolah dalam mensukseskan program yang akan dilaksanakan di sekolah.

4. Controlling

Adapun pengawasan yang dilakukan oleh kepala sekolah SMAN 2 Wawo adalah berupa: Pengawasan preventif, pengawasan yang dilakukan diawal pelatihan pada waktu sebelum terjadi kesalahan. Dengan melihat daftar hadir, ketepatan waktu peserta mengikuti pelatihan, menyediakan peralatan-peralatan yang diperlukan.

Berkaitan dengan hal demikian, Kepala Sekolah SMAN 2 Wawo terus berupaya melaksanakan tugas dan tanggung jawab kepemimpinannya dengan baik untuk meningkatkan mutu sekolah. Adapun tugas yang dilakukan oleh Kepala sekolah di SMAN 2 Wawo tahun pelajaran 2021/2022 adalah sebagai berikut:

a. Memberikan Bimbingan Kepada Siswa, Guru dan Staf

89 Prim masrokan mutahar, manajemen mutu sekolah.119

Dengan demikian, Kepala SMAN 2 Wawo dalam menjalankan tugas kepemimpinannya khususnya dalam memberikan bimbingan kepada para siswa, guru dan staf guru sudah dilaksanakan dengan baik. Hal itu dipengaruhi oleh pengalaman yang dimiliki oleh Kepala SMAN 2 Wawo baik pengalamannya menjadi seorang guru, menjadi Wakil kepala sekolah, bahkan pengalamannya menjadi Kepala sekolah. Sehingga dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dapat dilaksanakan dengan optimal khususnya yang berkaitan dengan meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh para guru.

Hal itu sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh mulyasa bahwa, Kepala sekolah harus senantiasa berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh para guru. dalam hal ini faktor pengalaman akan sangat mempengaruhi profesionalisme Kepala sekolah, terutama dalam mendukung terbentuknya pemahaman tenaga kependidikan terhadap pelaksanaan tugasnya.90

b. Penanaman Sikap Disisplin dan Sikap Semangat Kerja.

Berkaitan dengan sikap disiplin dan semangat kerja, salah satu usaha yang dilakukan oleh Kepala SMAN 2 Wawo dalam memajukan lembaga adalah dengan selalu mendorong pada semua warga sekolah agar tetap berdisiplin dan bersemangat dalam menjalankan tugas yang diemban. Penanaman sikap disiplin dan menumbuhkan semangat kerja bawahan yang dilakukan oleh Kepala SMAN 2 Wawo adalah bertujuan untuk membiasakan para guru, karyawan, dan siswa menjalankan amanah yang telah diberikan dengan penuh efektif dan efisien. Untuk pengembangan mutu pendidikan di SMAN 2 Wawo, penananaman sikap disiplin yang dilakukan adalah dengan

90 Mulyasa, manajemen kepemimpinan kepala sekolah….h.100

selalu mendorong guru-guru untuk datang ke sekolah tepat waktu, masuk ke dalam kelas keluar dalam kelas sesuai jadwal yang telah ditentukan. Selain itu Kepala SMAN 2 Wawo mendorong guru-guru agar disiplin dalam berpakaian, serta disiplin dalam bertutur kata dan betingkah laku serta menumbuhkan semangat kepada guru-guru untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik, yaitu dengan cara tidak membiarkan jam kosong terjadi di dalam kelas.

Prim masrokan Mutohar, ia mengatakan bahwa, untuk mendorong anggota kelompok agar mau bekerja dengan penuh rasa tanggung jawab, seorang pemimpin harus memiliki kemampuan sebagai berikut. Pertama, kemampuan dan kelebihan untuk berpikir untuk mengendalikan orgnisasi atau kelompok kerja yang dipimpinnya. Kedua, kelebihan dalam kepribadian, khususnya yang berkitan dengan semangat, keuletan, keberanian, kebijaksanaan, dan berlaku adil, percaya diri sendiri, ramah tamah, stabil dalam emosi, jujur, rendah hati, sederhana, dan berdisiplin tinggi. Ketiga, kelebihan dalam pengetahuan terutama dalam merumuskan kebijaksanaan, memahami, dan mengetahui perilaku dan tingkat kepuasan kerja guru atau bawahan yang dipimpinnya.91

c. Memperdayakan Tenaga Kependidikan Melalui Kerja Sama

Selain yang dijelaskan oleh peneliti di atas, kepala SMAN 2 Wawo dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin lebih meniti beratkan kerja sama dalam mencapai tujuan (kooperatif). Kepala SMAN 2 Wawo menyadari bahwa

91 Prim Masrokan Mutohar, Manajemen Mutu Sekolah,…244

dirinya tidak mungkin dapat bekerja sendiri tanpa bantuan orang lain. Untuk itu Salah satu bentuk pemberdayaan melalui kerja sama/kooperatif yang dilakukan oleh SMAN 2 Wawo pada guru-guru adalah dengan membentuk tim. Misalnya melibatkan tim pada penjadwalan piket guru, kegiatan MGMP, KKG, penyusunan panitia penerimaan mahasiswa baru, panitia ujian, mendorong guru-guru untuk bersama-sama memberikan bimbingan pada siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler, dan lain sebagainya. Budaya kerja sama tersebut, membuat antar warga sekolah saling menumbuhkan kesetiakawanan dalam menjalankan tugas.

Dengan demikian, menurut hemat peneliti bahwa semua tugas-tugas sekolah dapat berjalan dengan lancar dan dapat diselesaikan tepat waktu. Semua ini tidak terlepas dari adanya kerja tim antara Kepala SMAN 2 Wawo dengan para guru dan karyawan.

Memberdayakan tenaga kependidikan melalui kerja sama atau kooperatif Di SMAN 2 Wawo dimaksudkan bahwa dalam peningkatan profesionalisme tenaga kependidikan di sekolah, kepala sekolah harus mementingkan kerja sama dengan tenaga kependidikan dan pihak lain yang terkait dalam melaksanakan setiap kegiatan. Sebagai pemimpin Kepala Sekolah harus mau dan mampu mendayagunakan seluruh sumber daya sekolah dalam rangka mewujudkan visi, misi, dan mencapai tujuan.

Kepala sekolah Di SMAN 2 Wawo harus mampu bekerja melalui orang lain (wakil-wakilnya), serta berusaha untuk senantiasa mempertanggung jawabkan setiap tindakan Dalam hal ini kepala sekolah bisa berpedoman pada asas tujuan, asas keunggulan, asas mufakat, asas kesatuan, asan persatuan, asas empirisme,

asas keakraban, dan asas integritas Mendorong keterlibatan seluruh tenaga kependidikan, dimaksudkan bahwa Kepala sekolah harus berusaha untuk mendorong keterlibatan semua tenaga kependidikan dalam setiap kegiatan di sekolah (partisipatif). Dalam hal ini Kepala sekolah bisa berpedoman pada asas tujuan, asas keunggulan, asas mufakat, asas kesatuan, asan persatuan, asas empirisme, asas keakraban, dan asas integritas. Jadi, apa yang dikemukakan oleh muliyasa di atas, diwujudkan oleh kepala SMAN 2 wawo dalam menjalankan tugas kepemimpinannya, sehingga program-program yang ditetapkan sebelumnya dilaksanakan dengan efektif.

Dokumen terkait