PENDIDIKAN PRAKELAHIRAN DAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI 1
A. Memilih Pasangan
Untuk membangun gedung yang kokoh, diperlukan material berkualitas tinggi, letak yang strategis, demi menjamin kekuatan dan daya tahannya. Dalam mendirikan bangunan yang terdiri dari batu dan tanah saja, manusia tidak boleh melaku- kannya secara sembarangan, lebih-lebih dalam membangun keluarga yang terdiri dari suami, istri, dan anak-anak. Pemilihan dan penelitian dalam pembinaan keluarga lebih memerlukan perhatian. Jika bangunan batu hanya berorientasi pada dunia fana, maka mahligai rumah tangga berkaitan erat dengan kebahagian di dunia dan akhirat.
Untuk menjamin ketentraman dan kebahagiaan dalam rumah tangga, Islam memberikan panduan yang detail dalam urusan memilih pasangan hidup yang sesuai. Berikut ini akan kami uraikan penjelasan tentang kriteria calon pasangan hidup sesuai ajaran Islam.
1. Kriteria calon istri
Dalam memilih calon istri yang baik, terdapat beberapa kriteria, di antaranya:
a) Kuat beragama
Yang dimaksudkan dengan kriteria kuat beragama ialah pemahaman yang benar tentang Islam yang disertai dengan mempraktikkan ajarannya dengan menyeluruh. Wanita salehah adalah dia yang senantiasa berpegang teguh kepada ajaran Islam, tidak mengabaikan tanggung jawabnya terhadap Allah, serta mengetahui tujuan hidup yang benar. Ia dapat menahan dirinya dari dorongan nafsu laww☼mah yang mungkin memba-
wanya ke jurang kehinaan. Sebab itu, Rasulullah ☺allall☼hu „alaihi wa sallam berpesan kepada lelaki yang ingin menikah untuk memilih wanita yang kuat beragama agar dapat melaksanakan kewajibannya kepada suami dan mampu memberi didikan yang benar kepada anak-anak. Rasulullah ☺allall☼hu „alahi wa sallam bersabda:
2
Wanita dinikahi karena empat faktor: harta, garis keturunan, kecantikan, dan agama. Maka, pilihlah wanita yang berpegang kepada agama agar engkau selamat. (Riwayat al-Bukh☼ri dan Muslim dari Abu Hurairah)
b) Berakhlak baik
Wanita yang berakhlak baik adalah yang selalu menjaga kehormatannya ketika suami tidak di rumah. Bilamana ia beker- ja di luar rumah, ia mampu menjaga perilakunya di hadapan teman-temannya. Orang Arab mewanti-wanti para pria untuk tidak menikahi enam macam wanita, yaitu:
1. Ann☼nah: wanita yang banyak mengadu dan mengeluh.
2. Mann☼nah: wanita yang suka mengungkit-ungkit jasanya kepada suami.
3. Hann☼nah: wanita yang gemar berselingkuh.
4. ♦add☼qah: wanita yang pintar membujuk dan merayu suami ketika menginginkan sesuatu, sehingga suami merasa terbe- bani untuk memenuhi keinginan istrinya itu.
5. Barr☼qah: wanita yang suka berhias dan bersolek sampai- sampai mengabaikan tugasnya terhadap suami.
6. Syadd☼qah: wanita yang cerewet.3 c) Cantik
Sudah menjadi fitrah manusia untuk mendambakan ke-
but, Rasulullah ☺allall☼hu „alaihi wa sallam menganjurkan laki-laki muslim untuk memilih perempuan yang cantik sebagai istri, tanpa mengabaikan faktor agamanya sesuai anjuran hadis di atas.
d) Banyak keturunan
Salah satu tujuan pernikahan ialah memperbanyak umat sebagai generasi penerus syiar Islam. Rasulullah sallall☼hu „alaihi wa sallam bangga dengan jumlah umatnya yang banyak. Karena itu, beliau menganjurkan para lelaki untuk memilih wanita yang subur dan dapat melahirkan anak yang banyak dan juga berkua- litas. Rasulullah ☺allall☼hu „alahi wa sallam bersabda:
4
Nikahilah wanita yang subur dan mencintai(suaminya), karena sesung- guhnya dengan banyaknya kalian saya berbangga dihadapan para Nabi di hari Kiamat. (Riwayat A♥mad dari Anas bin Malik)
e) Masih perawan
Rasulullah juga menganjurkan para lelaki untuk memilih calon istri yang masih perawan. Memang, sudah menjadi tabiat manusia bisa lebih mesra ketika bergaul dengan orang yang pertama ditemuinya. Rasullah ☺allall☼hu „alahi wa sallam bersabda kepada Jabir yang menikahi seorang janda:
Mengapa tidak saja engkau menikahi gadis yang engkau bisa bermain- main dengannya dan dia bermain-main denganmu? (Riwayat al- Bukh☼ri dari J☼bir).5
f) Bernasab baik
Ini adalah kriteria berikutnya yang dipesankan oleh Rasulullah ☺allall☼hu „alahi wa sallam. Beliau mewanti-wanti para lelaki untuk tidak menikahi wanita yang cantik namun berasal dari keluarga yang tidak baik.
6
“Waspadalah kalian terhadap sayur yang tumbuh di timbunan kotoran hewan.” Seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang eng- kau maksud dengan sayur yang tumbuh di timbunan kotoran hewan?”
Beliau menjawab, “Wanita cantik yang berasal dari nasab yang tidak baik. (Riwayat ad-D☼ruqu•ni dari Abu Sa„id al-Khudri)
Meskipun status hadis ini ○a„◄f, namun tidak ada salahnya untuk dijadikan pedoman, karena menikahi wanita yang berasal dari nasab yang tidak baik dapat berdampak kurang baik kepa- da keturunan selanjutnya. Menurut mayoritas ulama, hadis ○a„◄f dapat dijadikan pedoman dalam ranah non-hukum, yakni dalam fa○☼'ilul-„am☼l―kesempurnaan amal.
g) Tidak berasal dari kerabat dekat
Para ulama menganjurkan para lelaki untuk menikahi wa- nita asing (ajnabiyah) yang tidak memiliki ikatan kekerabatan.
Ini bertujuan menjaga kecerdasan anak serta mencegah mun- culnya penyakit menular dan cacat keturunan. Imam asy-Sy☼fi„i, umpamanya, menilai ajaran ini sebagai kesunnahan. Sedangkan menurut az-Zinj☼ni, tujuan pernikahan adalah mempererat rela- si dan kerjasama antarkabilah, dan itu bisa direalisasikan dengan pernikahan lintas kabilah.7
2. Kriteria calon suami
Agama dan akhlak merupakan kriteria utama dalam memilih calon suami, sesuai pesan Rasulullah ☺allall☼hu „alahi wa
8
Apabila datang kepadamu seorang lelaki yang kausenangi agama dan akhlaknya maka nikahkanlah dia (dengan anak perempuanmu). Jika tidak, niscaya akan timbul fitnah dan kerusakan besar di bumi ini.
(Riwayat at-Tirmi♣◄ dan Ibnu M☼jah dari Abu Hurairah)
Kriteria berikutnya adalah tidak mempunyai riwayat penyakit kronis seperti AIDS, gila, impoten, dan semisalnya. Ini bertujuan mencegah kemungkinan tertularnya istri oleh penya- kit yang diidap pasangannya, serta menjamin hak istri untuk mendapat layanan prima dari suaminya.9
Dari uraian di atas tampak bagaimana Islam menaruh perhatian serius dalam detil persoalan pasangan hidup. Islam memberi panduan yang jelas bagi lelaki dan perempuan dalam memilih pasangan hidup yang dianggapnya sesuai. Agama men- jadi kriteria paling dominan di antara kriteria-kriteria lain yang perlu diperhatikan dalam hal ini. Dengan berpegang pada agama, manusia akan tahu statusnya sebagai hamba Allah yang bertanggung jawab untuk melaksanakan segala perintah-Nya.
Selain faktor agama, faktor lain yang Islam anjurkan dalam upaya memilih calon suami atau istri adalah akhlak. Ciri- ciri perempuan salehah10 di antaranya: berakhlak mulia, mem- bahagiakan suami saat dipandang, mampu menjaga kehormat- an, mampu menjaga harta suami, serta mampu berkerja sama dengan suami dalam mendidik anak dan membina silaturahmi dengan mertua dan keluarga suami. Suami yang saleh adalah yang dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya terha- dap anak istri, menghormati perasaan istri, membantu istri mengurus pekerjaan rumah, tidak mementingkan diri sendiri, dan memperhatikan kemaslahatan orang-orang yang menjadi tanggungannya.
Kecantikan, keturunan, dan harta adalah beberapa krite- ria tambahan dalam memilih jodoh. Allah menjadikan manusia secara fitrah menginginkan keindahan dan kecantikan. Sebab itu, dalam hal memilih jodoh, kebanyakan lelaki lebih meno- morsatukan kecantikan, mengesampingkan syarat-syarat lain.
Tidak heran bila kemudian banyak lelaki tertipu kecantikan istrinya dan pada akhirnya jatuh ke lembah hina. Sama juga jika suatu pernikahan didasari motif kekayaan dan keturunan belaka; kedua-duanya berpotensi membuat seseorang cende- rung angkuh dan sombong.
Berikutnya, Islam melarang seorang lelaki meminang pinangan orang lain. Ini adalah sebuah himbauan yang bersifat moral demi menghindari potensi permusuhan dan pelanggaran tatanan susila. Rasulullah ☺allall☼hu „alaihi wa sallam bersabda:
11
Dan janganlah salah seorang dari kalian meminang pinangan saudaranya (orang lain) sampai saudaranya yang meminang itu memba- talkan pinangannya atau memberi izin kepadanya. Ketika itu, bolehlah ia melamar (wanita tersebut). (Riwayat al-Bukh☼ri dan Muslim dari Ibnu „Umar)
Tujuan dasar dari setiap larangan adalah lit-ta♥r◄m, mengharamkan, kecuali jika ada dalil yang memalingkannya dari tujuan dasar itu. Mengutip ijma‟ para ulama, Imam an-Nawawi menyatakan bahwa larangan ini tetap pada tujuan dasarnya, yakni lit-ta♥r◄m.12
Sayyid S☼biq berpendapat lain. Menurutnya, yang menja- di haram adalah apabila perempuan yang telah dipinang itu menerima pinangan lelaki kedua, dan wali juga bagi memberi ijin untuk itu.13 Lebih jauh, Sayyid S☼b◄q menyatakan, “Apabila lamaran lelaki kedua diterima pascapersetujuan wali perempuan
itu terhadap lamaran lelaki pertama, kemudian dilangsungkan akad nikah, maka penerimaan itu jelas haram. Meski begitu, akad nikah yang terlanjur dilangsungkan tetap saja sah. Yang dilarang adalah lamaran lelaki kedua, bukan akad nikahnya itu sendiri, karena lamaran bukanlah syarat sahnya suatu perni- kahan. Sebab itu, pernikahan tidak batal meski lamaran yang mendahuluinya dianggap ilegal.”14
D☼wūd a♣-♠☼hiri berpendapat sebaliknya. Menurutnya, akad nikah antara seorang perempuan dan lelaki yang menye- robot lamaran lelaki pertama otomatis dibatalkan, baik sebelum atau sesudah kedua bercampur. Ini jelas bertolak belakang dengan pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa akad nikah tersebut tetap sah meski lamaran lelaki kedua kepa- da wanita itu hukumnya haram. Pendapat yang disebut terakhir ini dikemukakan di antaranya oleh Imam asy-Sy☼fi„i dan Abū
♦an◄fah.15
Apakah larangan di atas berlaku umum, tanpa mengecu- alikan realitas ketika peminang kedua adalah lelaki saleh, sedang peminang pertama adalah lelaki fasik? Menurut Imam Ibnul Qāsim, larangan ini tidak sama sekali bersifat absolut. Artinya, larangan ini hanya berlaku jika kedua lelaki yang meminang itu sama-sama saleh. Jadi, bila peminang pertama bukan lelaki saleh, sedangkan peminang kedua adalah lelaki saleh, maka wali tidak diharamkan menerima pinangan lelaki kedua.16
Larangan meminang bagi lelaki kedua tidak seketika berlaku saat proses pinangan terjadi, tetapi saat pinangan itu diterima oleh pihak perempuan. Dalam hadis Fa•imah binti Qais dikisahkan bahwa ia menghadap Rasulullah ☺allall☼hu „alaihi wa sallam untuk meminta pendapat beliau, antara menerima lamaran Abu Jahm bin Abi Huzaifah atau Mu„awiyah bin Abi Sufyan. Rasulullah ☺allall☼hu „alaihi wa sallam lalu bersabda:
17
Abu Jahm adalah lelaki yang tidak pernah mengangkat tongkatnya dari punggungnya, dan Mu„awiyah adalah lelaki miskin yang tak punya harta. Karena itu, nikahilah saja Usamah bin Zaid. (Riwayat Muslim dari Fā•imah binti Qais)
Hadis ini menunjukkan bolehnya menolak pinangan lelaki yang dianggap tidak sejajar, dan menerima pinangan lelaki yang dianggap lebih baik. Islam juga tidak melarang seorang wanita untuk menolak pinangan lelaki fasik dan menerima pinangan lelaki saleh, demi mencegah kemungkaran yang mungkin terjadi.
Selain yang telah disebutkan di atas, yang perlu dihindari pula adalah meminang wanita dalam masa iddah dari talak raj„◄.
Dalam masa ini, wanita tersebut tetap menjadi tanggungan suaminya, dan suami boleh merujuknya kapan pun selama masa iddah belum habis. Juga, haram hukumnya meminang secara terang-terangan wanita dalam iddah cerai mati, meskipun pi- nangan secara sindiran tetap boleh dilakukan. Allah berfirman:
Dan tidak ada dosa bagimu meminang perempuan-perempuan itu dengan sindiran atau kamu sembunyikan (keinginanmu) dalam hati. (al-Baqa- rah/2: 235)