• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Anak pada Masa Balita

PENDIDIKAN PRAKELAHIRAN DAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI 1

C. Pendidikan Anak pada Masa Balita

Dan mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang haid.

Katakanlah, “Itu adalah sesuatu yang kotor.” Karena itu jauhilah istri pada waktu haid; dan jangan kamu dekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri. (al-Baqarah/2: 222)

Anak akan sangat terpengaruh dengan suara tersebut meski ia tidak begitu merasakannya.

Selain efek psikologis tersebut, melafalkan azan di telinga kanan bayi juga akan mengebiri kemampuan setan untuk meng- goda seorang anak manusia yang baru saja lahir. Betapa tidak, suara azan itu didengar pula oleh setan, dan itu akan membuat- nya marah dan kehilangan kekuatan sama sekali, bahkan untuk sekadar mendekati sang bayi.24

Melafalkan azan di telinga bayi juga merupakan inisiasi dini dari orang tua kepada anaknya untuk menaati Allah, menjalankan Islam, dan menolak ajakan setan. Hal ini sejalan dengan fitrah yang Allah jadikan sebagai landasan penciptaan manusia. Usaha semacam ini perlu dilakukan guna mendahului usaha setan dalam memalingkan langkah manusia dari jalur yang sesuai dengan fitrahnya.25

Selain memperdengarkan azan dan iqamat di telinga bayi yang baru lahir, Islam juga menganjurkan setiap ayah untuk memoleskan kurma yang telah dikunyah olehnya ke langit- langit mulut bayinya dengan gerakan lembut, atau biasa dikenal dengan istilah ta♥nik. Memang tidak harus kurma, karena kita juga boleh menggantinya dengan makanan-makanan yang ber- sifat manis, misalnya gula yang dicampur air bunga. Semua ajaran indah ini bersumber dari sunnah Rasulullah ☺allall☼hu

„alaihi wa sallam. Bahkan Imam an-Nawawi menegaskan kesun- nahan ta♥nik berdasarkan ijma‟ para ulama.26

Boleh jadi, salah satu hikmah ta♥nik adalah membantu menguatkan otot-otot mulut. Ta♥nik akan merangsang gerakan simultan antara lidah, langit-langit, serta rahang atas dan bawah, sebagai reaksi terhadap makanan yang masuk ke mulut bayi.

Dengan begitu, mulut bayi akan cukup siap dan kuat untuk menyerap susu ibunya.

Demikian pula, orang tua bayi dianjurkan untuk meng- gunting rambut bayinya pada hari ketujuh sejak kelahirannya, melakukan aqiqah, memberi nama yang baik, dan mengkhitan-

nya pada usia dini. Namun kita tidak akan membahas poin- poin ini secara rinci karena fokus pembicaraan kita bukan pada hal-hal tersebut, melainkan pada pendidikan anak pada masa balita.

Lazimnya, fase-fase yang dilalui seorang anak adalah:

1. Fase dalam kandungan, disebut janin;

2. Fase balita, bermula dari lahir hingga usia 5 tahun;

3. Fase usia sekolah, antara 5-12 tahun;

4. Fase remaja, yang terbagi lagi menjadi dua: (a) remaja perta- ma, yaitu antara 12-15 tahun; (b) remaja akhir, yaitu antara 15-21 tahun.27

Anak adalah buah pernikahan. Karenanya, kedua orang tua harus sama-sama memainkan peranannya serta berbagi suka dan duka dalam mendidik anaknya. Mendidik anak adalah kewajiban bersama kedua orang tua, bukan tugas ibu semata.

UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 7 ayat (2) berbunyi, “Orang tua dari anak usia wajib belajar, berkewajiban memberikan pendidikan dasar kepada anaknya.” Memang, kebanyakan ibu secara naluriah mau mem- beri perawatan maksimal kepada anaknya, namun seorang ayah tidak boleh berpangku tangan begitu saja. Tidak benar bila kita menganggap perawatan dan pendidikan anak hanyalah tugas ibu, dan itu sama sekali di luar tanggung jawab ayah. Tentunya tidak pantas bila seorang suami membiarkan istrinya mati- matian mengurus bayinya yang sedang menangis, sementara ia beristirahat di kamar lain.

Anak adalah tanggung jawab bersama. Suami bekerja keras di luar rumah, sedangkan istri bekerja keras di dalam rumah. Istri juga membutuhkan waktu istirahat sama banyak- nya dengan apa yang suami butuhkan. Istri, sama seperti suami, tentu merasa terganggu ketika bayinya menangis keras-keras.28

Usia balita adalah masa paling rawan bagi seorang anak.

Ia perlu mendapat asupan makanan dan minuman yang bergizi, seperti protein hewani, utamanya yang berasal dari air susu ibu,

yang sangat diperlukan dalam tumbuh kembang fisik dan psikisnya.29 Allah berfirman:

Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut.

Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (men- derita) karena anaknya. Ahli waris pun (berkewajiban) seperti itu pula.

Apa-bila keduanya ingin menyapih dengan persetujuan dan per- musyawaratan antara keduanya, maka tidak ada dosa atas keduanya.

Dan jika kamu ingin menyusukan anakmu kepada orang lain, maka tidak ada dosa bagimu memberikan pembayaran dengan cara yang patut.

Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (al-Baqarah/2: 233)

Ketika istri menyusui anaknya, suami harus berperan aktif dengan bersikap positif terhadap istri untuk membesarkan hatinya dan menambah semangatnya, utamanya bagi ibu muda yang baru pertama kali menyusui.

Umumnya, para ibu ingin sekali menyusui anaknya, tetapi tidak semua ibu mempunyai cadangan ASI yang cukup, bahkan ada sebagian ibu yang tidak mempunyai itu sama sekali. Dalam

kasus seperti ini, suami harus aktif memotivasi istrinya agar secara psikis lebih terdorong untuk menyusui anaknya, karena refleks pengeluaran ASI juga sedikit banya dipengaruhi oleh emosi ibu.

Pada minggu atau bulan pertama pascamelahirkan, kon- disi ibu belum pulih benar. Namun dalam kondisi seperti itu, ibu harus menyusui bayinya yang sedang kuat-kuatnya menyusu, sehingga amat ibu tidak punya banyak waktu untuk beristirahat. Hal ini seringkali mengurangi produksi dan kualitas ASI. Dengan demikian, adalah tugas suami untuk membantu dan menemani istrinya yang sedang menyusui, terutama pada malam hari. Meski suami tidak selalu dapat menemani sepan- jang malam, namun sikap macam ini sudah cukup membuat istri merasa diberi perhatian olehnya.

Keunggulan ASI sebagai sumber makanan terbaik bagi bayi diakui oleh ilmu kedokteran. ASI terbukti mengandung nilai gizi yang sangat tinggi, memberi imunitas kepada bayi dari penyakit, juga mengandung zat yang berfungsi menyembuhkan penyakit.

Berdasarkan penelitian BKKBN, lebih dari 90% ibu menyusui tidak mengalami kehamilan.30 Untuk itu, para ibu yang tidak mengikuti program Keluarga Berencana disarankan untuk menyusui bayinya sampai dua tahun untuk menjarangkan kelahiran. Selain berefek positif bagi kesehatan ibu, pemberian ASI sangat besar manfaatnya bagi kesehatan dan tumbuh kembang bayi. Lebih-lebih, pemberian ASI eksklusif memban- tu membangun hubungan emosional yang sangat intens antara ibu dan bayi. Ketika bayi menyusu, kasih sayang ibu tercurah sepenuhnya kepada bayi. Dengan begitu, ketika dewasa kelak, sang bayi insyaallah akan menjadi anak yang berbakti kepada ibu yang telah merawat dan menyusuinya.

Bila proses tumbuh kembang bayi dilalui dengan baik maka upaya keluarga, khususnya ibu dan ayah, dalam membina insan yang berkualitas tidak akan menghadapi halangan serius

pada tahap selanjutnya, karena anak tersebut telah memiliki fondasi kesehatan yang kokoh.

Perhatian Islam terhadap kesehatan dan pembinaan kese- jahteraan anak tampak pada kasus ketika kedua orang tua anak tersebut bercerai. Islam memberi ibu hak untuk merawat anak- nya hingga usia tujuh tahun selama ia belum menikah kembali.

Selama proses ini, nafkah anak menjadi tanggung jawab ayah sampai, bila anaknya laki-laki, mencapai usia balig dan sudah berpenghasilan, dan bila anaknya perempuan, sampai menikah.

Ketika anak berusai tujuh tahun, Islam memberinya kebebasan untuk memilih antara mengikuti ayah atau ibunya, selama ayah atau ibu yang dipilihnya berkompeten dalam pandangan hakim.

Namun, anak yang menderita cacat mental, tidak peduli masih kecil atau sudah balig, lebih baik dirawat oleh ibunya. Anak yang seperti ini membutuhkan perawat yang sangat sabar dan penuh kasih sayang, dan ibulah yang paling pas untuk itu.

Terkait tanggung jawab terhadap pendidikan, kesejahte- raan, dan kesehatan anak, Rasulullah ☺allall☼hu „alaihi wa sallam menegaskan:

31

Setiap kamu adalah penanggung jawab, dan akan dimintai pertanggung- jawaban atas apa yang dipercayakan kepadanya. Seorang pemimpin bertanggung jawab atas kehidupan rakyatnya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Seorang laki-laki bertanggung jawab atas kehidupan keluarganya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atasnya.

Seorang istri bertanggung jawab atas harta benda dan anak-anak

suaminya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. (Riwayat al-Bukhār◄ dan Muslim dari Ibnu „Umar)

Merunut pada hadis ini, suami dan istri sama-sama bertanggung jawab atas kehidupan keluarga, tidak terkecuali pendidikan dan kesehatan anak, baik secara fisik maupun mental. Dari segi lahiriah, seorang suami berkewajiban mencari nafkah untuk menghidupi istri dan anak-anaknya, memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan bagi mereka. Kebutuh- an anak tidak terbatas pada dimensi lahiriah belaka, karena anak terutama dalam masa pertumbuhannya sangat membutuhkan kasih sayang orang tuanya, sehingga anak tumbuh sehat sesuai dengan keinginan orang tuanya. Seberat apa pun tugas suami, ia harus mampu meyediakan waktu bagi anak-anaknya. Suami harus berperan dalam memberikan pendidikan kepada anak- anaknya, utamanya pendidikan agama dan akhlak agar mereka tidak terjerumus ke dalam perbuatan yang dilarang agama.

Anak yang berpendidikan dan berasal dari keluarga yang harmonis bisa diketahui dari beberapa ciri, di antaranya ber- iman dan bertakwa, berakhlak mulia dan berbudi luhur, cerdas dan terampil, serta sehat jasmani dan rohani.

Demikianlah pokok-pokok pemikiran tentang pendidi- kan prakelahiran dan pendidikan anak usia dini (PAUD), yang dapat penulis kemukakan. Semoga bermanfaat. Wall☼hu a„lam bi☺-☺aw☼b. []

Catatan:

1 UU No. 20 Tahun 2003 tetang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1 ayat 14 berbunyi, “Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.”

2Riwayat al-Bukhāri, ☻a♥◄♥ul-Bukhār◄, bab Akiffā╨ fid-dīn no. 4700;

Muslim, ☻a♥◄♥ Muslim, bab Isti♥bābu nikāh ż☼tid-dīn, No. 2661.

3 as-☻an„ānī, Subulus-Sal☼m, j. 3, h. 111.

4 Hadis Hasan, riwayat an-Nasā'◄ dalam Sunan an-Nasā'◄ al-Kubr☼, juz 3 h. 271, No. 5342, dari Ma„qil bin Yasar. Hadis ini dinilai sahih oleh Syaikh al-Albān◄ dalam ☻a♥◄♥ wa ◙a„īf Sunan an-Nasā'◄, juz 7, h. 299.

5 Riwayat al-Bukhāri dalam ☻a♥◄♥ al-Bukhāri, kitab al-Jihād wa as- Sa◄r, bab „Isti╨żānur-rajul al-Imām, No. 2745.

6 Hadis ○a„◄f riwayat ad-Dāruqu•n◄. “al-Wāqidi menyendiri dalam meriwayatkan hadis ini, sedangkan dia adalah perawi yang lemah riwayat- nya,” demikian komentar ad-Dāruqu•n◄.

7 Al-Gaz☼li, I♥y☼╨ Ulūmid-D◄n, (Beirut: D☼rul-Ma„rifah, t.th), juz 2, h. 38.

8 Hadis hasan, diriwayatkan oleh al-H☼kim dalam al-Mustadrak No.

2644, Ibnu Mājah dalam Sunan Ibni Mājah, No. 1957, dari Abu Hurairah.

9 Sayyid Sābiq, Fiqhus-Sunnah, juz 2, h. 20.

10 Dalam hadis Nabi dijelaskan:

Istri yang baik adalah yang bila dilihat oleh suaminya, maka suaminya merasa senang (terhibur), bila diperintah oleh suaminya, maka ia mematuhinya; serta menjaga kehormatan dan hartanya dari hal-hal yang tidak disukai suaminya. (Riwayat A♥mad, an-Nas☼'i, dan al-♦☼kim. Lihat: as-Suyū•ī, al-J☼mi„ a☺-☻ag◄r, juz 2, h. 9)

11 Hadis riwayat al-Bukhār◄ dalam ☻a♥ī♥ul-Bukhār◄, Kitab an-Nikā♥, bab lā Yakh•ub min Khi•bati Akhīhi, No. 4848.

12 a☺-☻an„āni, Subulus-Sal☼m, j. 3, h. 155.

13 Sayyid S☼biq, Fiqhus-Sunnah, j. 2, h. 113.

14 Sayyid S☼biq, Fiqhus-Sunnah, j. 2, h. 113.

_________________________

15 Ibnu Rusyd, Bid☼yatul-Mujtahid wa Nih☼yatul-Muqta☺id, (D☼ru I♥y☼'il-Kutub al-„Arabiyyah, t.th), juz 2, h. 2; lihat pula: as-☻an„ānī, Subulus- Sal☼m, juz 3, h. 155.

16 Ibnu Rusyd, Bidāyatul-Mujtahid, j. 2, h. 2, lihat pula: asy-Syaukān◄, Nailul-Au•ār, juz 7, h. 117.

17 Hadis riwayat Muslim dalam ☻a♥īh Muslim, kitab a•-◘al☼q, bab al- Mu•allaqah ♨alā♧an Lā Nafaqah Lahā, No. 2709.

18 Lihat: Cholil Nafis, Fikih Keluarga, (Jakarta: Mitra Abadi Press, 2009), cet I, h. 233-234.

19 Cholil Nafis, Fikih Keluarga, h, 234-235.

20 Cholil Nafis, Fikih Keluarga, h, 235.

21 Cholil Nafis, Fikih Keluarga, h, 235-236.

22 Cholil Nafis, Fikih Keluarga, h, 236.

23 Hadis da╧īf, diriwayatkan oleh al-Baih☼q◄ dalam Syu„abul-↕m☼n, No. 8370, Ibnu Sunnī dalam „Am☼lul-yaumi wal-lailah, No. 622, Ibnul- Qoyyim dalam Tu♥fatul-Maulūd, h. 9. “Hadis ini da‟if,” demikian jelas al- Baih☼qi)

24 Huzaemah Tahido Yanggo, Fikih Anak, (Jakarta: Mawardi Prima, 2005), h. 49.

25 Huzaemah Tahido Yanggo, Fikih Anak, h. 50-51.

26 an-Nawawi, al-Majmu„, (Kairo: Ma•ba„ah al-Im☼m, t.th), juz 8, h.

351.

27 Depag RI, Modul Keluarga Bahagia Sejahtera, (Jakarta: Proyek Peningkatan Peranan Wanita Depag RI, 1991/1992), h. 113.

28 Lihat: Selamet Abidin dan Amiruddin, Fikih Munakahat, (Bandung: Pustaka Setia, 1419 H/1999 M), h. 168.

29 MUI dan UNICEF, Ajaran Islam dan Penanggulangan Perkawinan Usia Muda, (Jakarta: MUI, 1991), h. 35.

30 Disarikan dari ceramah yang disampaikan kepala BKKBN dalam Lokakarya Keluarga Berencana pada tahun 1990 di Jakarta.

31 Hadis riwayat al-Bukhāri dalam ☻a♥◄♥ Bukhār◄, Kitab al-„Itq, bab Karāhah Ta•☼wul „Alar-Raqīq, no. 2416, Muslim dalam ☻a♥◄♥ Muslim, kitab al- Imārah, bab Fa○īlatul-Imām al-„Ādil, no. 4828.

_________________________

PENDIDIKAN MENGHADAPI