• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menuju Perumusan yang Ideal

Dalam dokumen Desain Dalam KebijaKan PubliK (Halaman 189-196)

Dari gambar tersebut tampak bahwa jika kombinasi-kombinasi dari kondisi obyektif yang ada sebelum formulasi kebijakan, yang akan mengarah kepada model formulasi atau perumusan kebijakan yang paling sesuai. Jika disimak, tampak bahwa model inkremental adalah model yang efektif digunakan justru ketika sumber daya yang tersedia rendah dan kompleksitas masalah rendah, sementara model permainan efektif digunakan pada permsalahan yang kompleks dan sumber daya, khususnya SDM, tersedia dalam jumlah dan kualitas yang mencukupi.

Model tersebut adalah model paling klasik yang menjadi acuan dari sebagian besar pengambilan kebijakan. Di sini saya juga menganjurkan sidang pembaca mencermati proses formulasi kebijakan seperti itu karena pada dasarnya memang formulasi kebijakan berjalan seperti itu apa pun modelnya. Dalam membuat keputusan pasti kita melakukan terlebih dulu identifikasi permasalahan, dilanjutkan dengan memilih kriteria untuk mengevaluasi permasalahan untuk menuju kepada pilihan-pilihan pemecahan masalah yang kita sebut sebagai pilihan atau alternatif- alternartif kebijakan. Langkah selanjutnya adalah menilai seluruh alternatif tersebut, termasuk memberikan bobot dan ranking dari masing-masing alternatif. Penilaian tersebut menghasilkan satu alternatif yang terbaik dibanding yang lain untuk kemudian dipilih sebagai keputusan atau kebijakan.

Langkah selanjutnya, implementasikan kebijakan tersebut.

Sederhana bukan? Namun keyataannya tidak semudah itu, karena ada prosedur-prosedur teknis dasar yang perlu dilakukan agar kebijakan yang dibuat adalah terbaik. Keseluruhan tugas ini biasanya dilkukan oleh analis-analis kebijakan yang memang mempunyai spesialisasi di dalam analisa permasalahan, pemilihan alternatif, dan pemilihan alternatif terbaik. Di negara-negara maju, profesi analis kebijakan menjadi profesi yang terhormat dan diperlukan bagi setiap pimpinan lembaga pemerintah khusunya Presiden dan Menteri.

Perumusan masalah adalah hal pertama yang terpenting. Bagi analis kebijakan, inti dari tugas yang dijalaninya adalah memastikan untuk menemukan pokok dari permasalahan. Tugas ini tampak sederhana, namun harus benar-benar dilaksanakan agar mencapai inti sasaran. Ada banyak contoh kebijakan dibuat tetapi tidak berkenaan dengan inti permasalahan.

Misalnya, pada era reformasi ini untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, maka diperlukan tingkat investasi yang tinggi.

Sementara itu, tingkat inventasi yang ada sangat memprihatikan.

Melihat permasalahan tersebut, pemerintah kemudian melakukan promosi investasi ke pelbagai negara, memberikan diskon investasi, bebas pajak selama beberapa waktu (tax holiday), dan kemudahan izin. Apa yang terjadi? Pada awal Desember 2002, Sony menyatakan menutup pabriknya dan mundur dari Indonesia. Padahal upaya promosi Indonesia sudah berlangsung “habis-habisan”, sementara yang datang sedikit, yang ada hengkang. Ini adalah contoh dari kebijakan publik yang dibuat yang tidak mengena kepada inti

permasalahan. Masalah pokok bagi investasi di Indonesia bukanlah masalah kemudahan izin atau tax holiday, namun adalah masalah- masalah:

1. Kepastian hukum, baik dalam hal tindak kejahatan maupun dalam hukum usaha dikaitkan dengan otonomi daerah. Kasus yang paling menonjol adalah sengketa antara Newmont, perusahaan pertambangan asal Amerika, dengan Pemda Kabupaten Minahasa. Di dalam persidangan tingkat nasional Newmont menang, namun karena di tingkat kabupaten ia kalah, maka Newmont pun kalah.

2. Masalah ketenagakerjaan. Kebijakan ketenagakerjaan hari ini adakah kebijakan yang tidak win-win antara pengusaha dan pekerja, melainkan pro-kepada pekerja dan dapat dikatakan anti terhadap pengusaha.

3. Masalah penyelundupan. Sony, misalnya, berkepentingan dengan penyelundupan produk elektronika. Sementara ia memproduksi barang elektronik dengan dibebani pajak dan ketentuan-ketentuan lain resmi dan tidak resmi namun ia berhadapan dengan barang-barang selundupan yang tidak dihadang dengan pajak sehingga harganya bisa di bawah produk Sony di Indonesia. Dengan demikian, produknya tidak bisa bersaing di Indonesia karena masalah produk elektronik selundupan.

4. Masalah otonomi daerah. Kebijakan otonomi daerah yang belum sempurna menjadikan pengusaha bingung harus memberikan pertanggungjawabkan kepada siapa: Pemda Kabupaten atau Kota, propinsi, atau pusat atau semuanya? Otonomi daerah pun

menjadikan pengusaha sebagai sapi perahan baru termasuk untuk mengisi kekurangan anggaran daerah melalui kebijakan perizinan dan perpajakan. Ada juga kasus di mana seorang investor hendak masuk ke kawasan Indonesia Timur. Oleh bupati ia diberi jaminan kemudahan perizinan, namun ia mendapat masalah di propinsi dan di pusat yang meminta “bagian”.

Dari beberapa hal tersebut, sesungguhnya langkah atau kebijakan yang harus diambil bukanlah road show atau tax holiday namun membuat kenbijakan yang memberikan kepastian hukum baik secara spesifik dalam arti kasus-kasus hukum, namun juga berkenan dengan hukum investasi, hukum ketenagakerjaan, dan hukum yang lain yang bersifat menjaga pertumbuhan investasi di dalam negeri.

Jadi, tugas pertama adalah tangkap induk permasalahan, jangan

“anak buahnya”. Ini pekerjaan yang mudah diucapkan namun tidak mudah dilaksanakan. Tetapi, ada beberapa kiat yang dapat dipakai, yaitu:

1. Tangkap masalahnya secara makro

2. Urai secara rinci masalah-masalah yang ada di dalamnya

3. Temukan permasalahan yang terpenting atau paling strategis di dalam uraian masalah dan temukan kemungkinan masalah lain yang terkait di dalam masalah tersebut, yang mungkin justru menjadi penyebab utama.

Ambil contoh untuk masalah investasi di daerah yang merosot, maka uraiannya adalah sebagai berikut:

No Masalah Evaluasi

1 Umum Penurunan investasi

2 Rincian

Masalah infrastruktur Masalah perizinan Masalah keamanan Masalah ketenagakerjaan Masalah perpajakan

3 Strategis/Inti Masalah kepastian hukum perizinan

Dengan melihat masalah strategis tersebut, maka daerah dapat menyusun kebijakan publik di daerah yang mendukung terciptanya kepastian hukum perizinan usaha di daerah. Di era otonomi daerah, maka daerah dapat menyusun Perda yang secara relatif dapat mengurangi intervensi pusat untuk perizinan di daerah, khususnya pada investasi-investasi yang tidak berkenaan dengan keamanan nasional. Otonomi daerah pada prinsipnya adalah kalau malasah bisa diselesaikan di daerah, ya selesaikan di daerah. Baru jika ada masalah, naik jenjang ke pemerintahan di atasnya atau pun ke pusat.

Kepastian hukum perizinan dapat diperkuat dengan memberdayakan peran dari pimpinan daerah melalui BKPMD sebagai mitra yang menyediakan diri untuk memperlancar perizinan ke pusat, apabila memang diperlukan perizinan di tingkat pusat.

Jadi, inti dari pekerjaan yang dilakukan di sini adalah bagaimana kita memisahkan antara masalah teknis dan starategis, untuk kemudian

kita tembak masalah yang strategis bukan yang teknis. Malangnya acapkali para pemimpin ketika dihadapkan kepada masalah teknik dan strategis, kecenderungan ia memilih masalah teknis dari pada strategis. Ada tiga alasan kenapa demikian:

1. Karena masalah teknis memang mudah diselesaikan.

2. Karena hasilnya langsung tampak nyata, 3. Karenanya mudah diukur, dan hasilnya

4. Si pemimpin mudah memperoleh populatiras masa.

Beberapa contoh yang pada hemat saya merupakan kebijakan strategis namun diselesaikan dengan cara teknis adalah masalah banjir di DKI Jakarta. Masalah strategisnya adalah:

1. Tata ruang di DKI harus diperbaiki dan kemudian dilaksanakan secara konsisten,

2. Kerja sama yang baik antara Pemda DKI dengan Pemda-Pemda di sekitarnya.

Namun, untuk menyelesaikannya perlu kerja keras. Adalah lebih mudah untuk membuat proyek pembuatan bendungan-bendungan kecil di beberapa tempat, bantuan bagi yang kebanjiran, memperbaiki parit, atau penyuluhan bagaimana kalau terjadi banjir. Contoh lain adalah pemulihan ekonomi Indonesia. Jika diibaratkan. Kebijakan publik yang ada cenderung bersifat teknis daripada strategis, misalnya promosi dagang, pemberian insentif, mempercepat penjualan aset di BPPN dan privatisasi BUMN untuk meningkatkan daya tarik, dan sebagainya.

Padahal, masalah pentingnya adalah bagaimana kepastian hukum dapat dicapai di Indonesia. Karena di dalam bisnis tidak ada kata mahal, seperti buruh mahal, bahan baku mahal, pejabat mahal, dan sebagiannya. Kemahalan adalah faktor relatif yang bisa membuat pebisnis datang atau tidak apakah di sana ada kepastian hukum dan aturan main. Apabila hukumnya masih bersifat isuk kedele sore tempe alias berganti-ganti setiap saat, maka tidak ada bisnis yang dapat berjalan. Sebagai ilustrasi, di dataran paling tandus atau yang paling dingin pun masih dapat ditemui tanaman. Namun kita tidak akan menemukan apa-apa di dataran yang mengalami perubahan cuaca panas-dingin yang tinggi dalam waktu pendek.

Dalam dokumen Desain Dalam KebijaKan PubliK (Halaman 189-196)

Dokumen terkait