Meskipun disebut ‘strategis’, pendekatan ini tidak mengatakan bahwa pendekatan lain ‘tidak strategis’. Intinya adalah bahwa pendekatan ini menggunakan rumusan runtutan perumusan strategis sebagai basis perumusan kebijakan. Salah satu yang banyak dirujuk adalah John D. Bryson, seorang pakar perumusan startegis bagi organisasi non-bisnis.
Bryson mengutip Olsen dan Eadie untuk merumuskan makna perencanaan strategis, yaitu upaya yang didisiplinkan untuk membuat keputusan dan tindakan penting yang membentuk dan memandu bagaimana menjadi organisasi (atau entitas lainnya), apa yang dikerjakan organisasi (atau etentitas lainnya), dan mengapa
organisasi (atau entitas lainnya) mengerjakan hal seperti itu (Bryson, 2002, 4-5). Perencanaan strategis mensyaratkan pengumpulan informasi secara luas, eksploratif alternatif, dan menekankan implikasi masa depan dengan keputusan sekarang. (Bryson, 2002, 5).
Perencanaan strategis lebih memfokuskan pada pengindentifikasian dan pemacahan isu-isu, lebih menekankan pada penilaian terhadap lingkungan di luar dan di dalam organisasi, dan berorientasi pada tindakan (Bryson, 2002, 7-8). Perencanaan strategis (Bryson, 2002, 12-13) dapat membantu organisasi untuk:
1. Berpikir secara strategis dan mengembangkan strategis- strategis efektif
2. Memperjelas arah masa depan 3. Menciptakan prioritas
4. Membuat keputusan sekarang dengan mengingat konsekuensi masa depan
5. Mengembangkan landasan yang koheren dan kokoh bagi formulasi keputusan
6. Menggunakan keleluasan yang maksimum dalam bidang-bidang yang berada di bawah
7. Kontrol organisasi
8. Membuat keputusan yang meintasi tingkat dan fungsi 9. Memecahkan masalah utama organisasi
10. Menangani keadaan yang berubah dengan cepat secara efektif 11. Membangun kerja kelompok dan keahlian
Proses permusan strategis sendiri (Bryson, 2002) disusun dalam
langkah-langkah sebagai berikut:
1. Memprakarsai dan menyepakati proses perencanaan strategis 2. Memahami manfaat proses perencanaan strategis,
mengembangkan kesepakatan awal 3. Merumuskan panduan proses
4. Memperjelas mandat dan misi organisasi, yang meliputi kegiatan perumusan misi dan mandat organisasi
5. Menilai kekuatan dan kelemahan, peluang dan ancaman.
Proses ini melibatkan kegiatan perumusan hasil kerbijakan yang diinginkan, manfaat-manfaat kebijakan, analisis SWOT (penilaian lingkungan eksternal dan internal), proses penilaian, dan panduan proses penilaian itu sendiri
6. Menidentifikas isu strategis yang dihadapi organisasi. Proses ini melibatkan kegiatan-kegiatan merumuskan hasil dan manfaat yang diinginkan dari kebijakan, merumuskan contoh-contoh isu strategis, dan mendeskripsikan isu-isu strategis
7. Merumuskan strategi untuk mengelola isu
Model ini sebenarnya dapat dikatakan sebagai salah satu derivat manajemen dari model rasional karena mengandaikan bahwa proses perumusan kebijakan adalah proses rasional, dengan pembedaan bahwa model ini lebih fokus pada rincian-rincian langkah manajemen.
Dari pemetaan dua belas model tersebut di atas, dapat dilihat bahwa untuk merumuskan atau membuat kebijakan tidaklah sederhana karena paling tidak ada sembilan model yang dapat membantu kita untuk melakukan tugas tersebut. Jadi, untuk merumuskan suatu kebijakan, pertama kali disimak apakah kompleksitas masalahnya
sangat tinggi, dalam ukuran sejauh mana masyarakat terlibat (seluruh masyarakat, separuh, atau sebagaian kecil, atau hanya di lingkup pemerintahan) dan seberapa besar impak yang dihasilkan oleh kebijakan tersebut.
Apabila, masalahnya sangat kompleks, simak sumber daya yang Anda miliki, dari sumber daya waktu (kemendesakan dibuat kebijakan), politi (dukungan publik), dan ekonomi (dana yang tersedia). Sumber daya manusia dan teknologi dapat disewa dari tempat lain jika tidak didapatkan di tempat tersebut. Apabila kebijakan tersebut sangat tidak kompleks, atau merupakan kerutinan birokrasi, atau melibatkan publik secara terbatas, dan impak langsungnya terbatas, dan Anda memiliki sumber daya terbatas, pergunakan metode inkrementalis. Jika masalahnya tidak sangat kompleks, dan Anda mempunyai sumber daya yang memadai, pergunakan metode demokratis.
Namun demikian, Anda dapat mempergunakan salah satu atau kombinasi motode, dengan memperhatikan ‘6 Benar’, yaitu benar dalam:
1. Proses, yaitu bahwa prosesnya harus transparan, dapat dipertanggungjawabkan, melibatkan pihak yang seharusnya terlibat
2. Isi, yaitu bahwa isi kebijakan mengatur masalah kebijakan yang harus diatur, bukan merupakan kompromi politik dan ekonomi, dan langsung pada masalah yang diatur
3. Politik (etika), yaitu mengakomodasi para pihak yang terkait secara langsung dengan kebijakan, menerapkan prinsip-prinsip
pokok dalam good governance, sebagaimana dimuat pada item pertama, yaitu proses, dan memerhatikan kaidah-kaidah moralitas dalam pembuatan kebijakan
4. Hukum, yaitu bahwa kebijakan ini benar-benar merupakah, kaidah hukum, tidak sekedar imbauan (karena tugas pokok pemerintah adalah mengatur bukan mengadvokasi. Peran ini lebih efektif diserahkan kepada LSM), memberikan batas-batas aturan serta sanksi yang tegas, dan memberikan keadilan dan kesamaan di depan hukum bagi publik.
5. Manajemen, yaitu bahwa isi dari kebijakan bersifat sistematis, dapat dilaksanakan, meskipun pelaksanaannya bukan oleh pemerintah, namun pemerintah dapat mengendalikan secara efektif, dan mempunyai impak yang relatif terukur
6. Bahasa, yaitu bahwa setiap kebijakan publik di negara-negara berkembang harus menggunakan bahasa nasional negara tersebut, meskipun itu merupakan kebijakan kerja sama dengan asing, dan kemudian seandainya perlu, diterjemahkan ke bahasa asing atau daerah; bahasa tersebut benar –tidak sekadar baik–
karena benar berarti tidak ada pertentangan kata dan kalimat antar pasal-pasalnya, dan mudah dipahami publik.
Proses perumusan kebijakan yang berbentuk Undang_udang atau Peraturan Daerah dapat dijabarkan yaitu:
1. Munculnya isu kebijakan yang dapat bermula dari isu di masyarakat atau muncul sebagai akibat munculnya kebijakan sebelumnya. Isu yang disebut ‘baru’ termasuk di dalamnya masalah yang berpotensi muncul di masa depan, atau visi dari Pimpinan Administrasi Publik yang perlu diwadahi dalam suatu
kebijakan publik
2. Pemerintah menangkan isu tersebut dan membentuk Tim Perumus Kebijakan, yang terdiri atas pejabat birokrasi terkait dan ahli kebijakan publik. Tim ini kemudian secara paralel merumuskan naskah akademik dan merumuskan draf kebijakan 3. Rumusan naskah akademik didiskusikan bersama publik
terkait (biasanya disebut sebagai stakeholders forum dengan pola focused group discussion). Diskusi publik yang baik diselenggarakan minimal sebanyak 3 kali untuk proses mengecek ulang calon kebijakan, termasuk mengecek bahwa kebijakan akan didukung oleh publik. Kemudian, secara paralel materi di atas dipergunakan sebagai materi pokok pengembangan draf kebijakan yang dikerjakan oleh Tim Perumus Kebijakan, dan draf kebijakan ini dibawa ke dalam diskusi antar dinas (departemen) terkait. Untuk catatan, draf kebijakan yang detail tidak selalu harus dibawa kepada diskusi publik karena publik hanya efektif jika diperhadapkan dengan isu-isu strategis dan makro dari pada teknis atau detail
4. Hasil diskusi publik dipadukan dengan diskusi antar-instansi atau dinas terkait
5. Formulasi hasil diskusi publik dan diskusi antar-instansi menjadi Rumusan Konsep Kebijakan
6. Rumusan Konsep Kebijakan ini kemudian dibawa pada proses legislasi, yang secara perundang-undangan telah diatur dalam UU No. 10/2004, khususnya Pasal 17 dan seterusnya
Pertanyaannya adalah :
1. Bagaimana jika kebijakan tersebut tidak memerlukan proses legislasi karena merupakan domain dari eksekutif – dan tidak perlu melibatkan legislatif?
2. Bagaimana jika kebijakan tersebut bersifat sangat terbatas sehingga tidak perlu melibatkan publik, seperti kebijakan kenaikan pangkay dalam birokrasi?
Jika kebijakan tersebut tidak memerlukan proses legislasi, prosesnya berhenti pada langkah kelima, dan langkah keenam adalah proses pengesahan oleh pejabat publik yang mempunyai otoritas. Jika kebijakan tersebut bersifat sangat terbatas, tidak perlu diselenggarakan diskusi publik. Jika pun diperlukan, hanya mengundang para ahli, dan diselenggarakan dengan pola delphi – atau berpola ‘pendapat pakar’ untuk memastikan tidak ada yang keliru dalam kebijakan yang hendak ditetapkan.
Namun demikian, ada pertanyaan yang tidak kalah penting.
Kapan kita akan menggunakan seluruh langkah tersebut? Seperti yang digambarkan di atas, setiap kebijakan memerlukan tahapan perumusan yang berlainan. Kita mencoba memilahkannya dalam bentuk kuadran.
Kita membuat diskripsi sederhana sebagai berikut :
1. Kuadran I: keputusan cukup dibuat oleh Pemerintah dengan melibatkan bagian-bagian (Direktorat atau Dinas) yang terkait;
waktu pembuatan kurang dari 1 bulan
2. Kuadran II: keputusan dibuat dengan melibatkan partisipasi
publik secara maksimal, waktu hingga pengesahan keputusan 1 sampai 6 bulan
3. Kuadran III: keputusan dibuat dengan arbiter oleh pejabat yang ada di tempat; waktu hingga pengesahan keputusan pada saat itu juga
4. Kuadran IV: keputusan cukup dibuat oleh Pemerintah dengan melibatkan bagian-bagian (Direktorat atau Dinas) yang terkait, dibantu oleh pimpinan lembaga legislatif, beberapa pakar, dan beberapa tokoh masyarakat; waktu hingga pengesahan keputusan kurang dari 48 jam.
Namun, perlu dicatat, bahwa secara kualitatif lebih dari 80%
kebijakan publik berada pada Kuadran II sehingga memerlukan proses perumusan kebijakan sebagaimana di atas. Kebijakan publik harus dipaksakan meskipun ditentang oleh publik jika isu kebijakan berkenaan dengan:
1. Keselamatan (survavility)
2. Dipolitisasi secara berlebihan (over-politization) 3. Ada batas waktu bagi penetapan kebijakan