• Tidak ada hasil yang ditemukan

Desain Dalam KebijaKan PubliK

N/A
N/A
Nurul saepul Rohman

Academic year: 2024

Membagikan "Desain Dalam KebijaKan PubliK"

Copied!
309
0
0

Teks penuh

(1)

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/362733171

Design Dalam KebijaKan PubliK

Book · August 2022

CITATION

1

READS

5,836

2 authors:

Taufiqurokhman Taufiqurokhman Universitas Muhammadiyah Jakarta 145PUBLICATIONS   233CITATIONS   

SEE PROFILE

Evi Satispi

Universitas Muhammadiyah Jakarta 59PUBLICATIONS   185CITATIONS   

SEE PROFILE

(2)

Design Dalam KebijaKan PubliK

Dr. Evi Satispi, SP.M.Si.

Dr. Taufiqurokhman, A.ks., S.Sos., M.Si

Penerbit:

UMJ PRESS 2018

(3)

Design Dalam KebijaKan PubliK

Dr. Evi Satispi, SP.M.Si.

Dr. Taufiqurokhman, A.ks., S.Sos., M.Si

Penerbit:

UMJ PRESS 2018

(4)

Undang-Undang RepUblik indonesia nomoR 19 TahUn 2002 TenTang hak CipTa

lingkup hak Cipta pasal 2:

1. Hak Cipta merupakan hak ekslusif bagi Pencipta atau Pengarang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang- undangan yang berlaku.

ketentuan pidana pasal 72:

1. Barang siapa dengan sengaja atau tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan (2) dipidana dengan pidana penjara masing- masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.

5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).

2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak

(5)

CeTakan PeRTama TaHun 2019

Penulis :

Dr. evi Satispi, SP.m.Si.

Dr. Taufiqurokhman, a.ks., S.Sos., m.Si kata Pengantar :

Dr. evi Satispi, SP.m.Si.

Dr. Taufiqurokhman, a.ks., S.Sos., m.Si Penerbit :

umJ PReSS 2018

Jln. kH. ahmad Dahlan, Cirendeu Ciputat, Tangerang Selatan Telp.: 021-7492862, 7401894

Design Dalam

KebijaKan PubliK

(6)

daFTaR isi

daFTaR isi

penganTaR penUlis

bab i

design kebiJakan (DESIGN POLICY) Pengertian Desain

Defenisi Desain pRinsip desain Proporsi (Proportion) Irama (Rhythm)

keseimbangan (Balance) kesatuan (Unity)

Dominasi (Dominance)

Penekanan (emphasis)/Focal Point Pergerakan (Movement)

Variasi (Variety) kaTegoRi desain

Penjelasan tentang kategori Desain

Global-Based Systems (Sistem Berbasis Global) Group-Based Systems (Sistem Berbasis kelompok) Local-Based Systems (Sistem Berbasis Lokal) Desain Sebagai Subjek

(7)

Designer atau Perancang metode Desain

Jenis-Jenis Desain

bab ii

insTRUmen kebiJakan pUblik Pengertian Instrumen

Fungsi Instrumen Instrumen Sukarela keluarga dan masyarakat Organisasi Sukarela Instrumen Pasar Wajib Instrumen Peraturan

Perusahaan umum Pajak dan Retribusi Retribusi

Perbedaan Pajak dan Retribusi insTRUmen kebiJakan pUblik Definisi Instrumen kebijakan

klasifikasi Instrumen kebijakan Publik FoRmUlasi kebiJakan pUblik Formulasi masalah kebijakan Publik

peRangkaT kebiJakan pUblik (POLICY INSTRUMENT) Rumusan kebijakan, Desain, dan Perangkat

(8)

Perumusan kebijakan Desain kebijakan Perangkat kebijakan

Pendekatan dalam Perangkat kebijakan Publik Pendekatan Topdown

Pendekatan Bottom-up

konsekuensi kebijakan Publik keadilan Sosial

Partisipasi dan aspirasi Warga masalah-masalah Lingkungan konsekuensi kebijakan Publik Desentralisasi dan Otonomi Daerah Dampak kebijakan Publik

bab iii

model-model peRUmUsan kebiJakan Penjelasan model kebijakan Publik

model Sistem

model Rasional komprehensif model Penambahan

model kelembagaan model Proses

model Teori kelompok model Teori elit

model Teori Rasionalisme model Inkrementalis model Teori Permainan model Pilihan Publik

(9)

model Sistem Biologi

model Pengamatan Terpadu model Demokratis

model Strategis

bab iV

pRoses penYUsUnan dan peRUmUsan kebiJakan pUblik Penyusunan Skala Prioritas

alasan-alasan Perumusan kebijakan Publik Penetapan dan Pengesahan kebijakan Publik Pelaksanaan kebijakan Publik

evaluasi kebijakan Publik

konsep UmUm pelaksanaan kebiJakan pUblik aspek yang mempengaruhi Pelaksanaan kebijakan Publik kewenangan/ Struktur Birokrasi

komunikasi Sumberdaya

Disposisi atau Sikap dari Pelaksana Dimensi Pelaksanaan kebijakan Publik Diskresi Pelaksanaan kebijakan Publik

JaRingan kebiJakan pUblik (POLICY NETWORKING) model Jaringan kebijakan Publik

(10)

bab V

peRUmUsan kebiJakan

kebijakan Publik sebagai Intervensi Lembaga-lembaga negara nirlaba model-model

model kelembagaan (Institutional) model Proses (Process)

model Teori kelompok (Group) model Teori elit (Elite)

model Teori Rasionalisme (Rational) model Inkremental (Incremental)

model Pengamatan Terpadu (Mixed-Scanning) model Demokratis (Democratic)

model Strategis (Strategic)

model Teori Permainan (Game Theory) model Pilihan Publik (Public Choice) model Sistem (System)

mana model yang Paling Sesuai?

menuju Perumusan yang Ideal Goal Oriented, Sebuah alternatif Permasalahan Politis

bab Vi

PeRumuSan keBIJakan: DeSaIn Dan aLaT Pendekatan pada Perumusan kebijakan

(11)

Pendekatan pada alat kebijakan Desain kebijakan di Luar model Tahap

peRUmUsan kebiJakan: konTeks dan agen konsekuensi kebijakan Publik

kRITIk Dan aRaH BaRu

bab Vii

implemenTasi kebiJakan pUblik

Lebih Dalam tentang Studi Implementasi kebijakan Publik TeoRi-TeoRi implemenTasi kebiJakan pUblik Teori atas-Bawah

Respons kritis Terhadap Teori Bawah-atas Diskusi Perbandingan

Teori Hibrida

peRkembangan baRU dalam analisis implemenTasi Implementasi Dalam konteks Internasional

Pendekatan Interpretatif pada Implementasi kebijakan TIGaPuLuH TaHun PeneLITIan ImPLemenTaSI

bab Viii

apakah kebiJakan menenTUkan poliTik?

Tesis Lowi ‘kebijakan menentukan Politik’

(12)

Dimensi untuk membedakan Hubungan kebijakan Publik Dampak khusus atau umum masalah

efek kebijakan Individu dan kolektif Prediktabilitas

Interdependensi dan Batas-Batas kebijakan LemBaGa keBIJakan

bab iX

ImPLemenTaSI keBIJakan keJeLaSan makna

model-model implemenTasi memilih model

PenuTuP

DaFTaR PuSTaka

(13)

penganTaR penUlis

HamPIR semua kebijakan publik yang berbentuk tertulis seperti konstitusi, undang-undang, keputusan pemerintah, pedoman lembaga atau praktik implementasi memiliki desain. Di sini pengertian desain kebijakan (policy design) merujuk kepada substansi dari suatu kebijakan, apakah kebijakan tersebut dilihat sebagai alat, instrumen, atau dilihat dalam konteks arsitekturnya. Studi tentang desain kebijakan bukanlah hal yang baru tetapi telah berjalan seiiring dengan dimulainya studi kebijakan publik. mempelajari isi atau substansi kebijakan publik pada dasarnya selalu menjadi bagian sentral dalam lapangan studi kebijakan publik, hanya dahulu studi desain kebijakan ini kebanyakan difokuskan pada studi kasus dengan mendeskripsikan dan menganalisis suatu kebijakan seperti pada umum nya. namun sekarang sudah berkembang semakin sistematik, tidak semata mendeskripsikan tetapi hingga mengkomparasikan pada berbagai arena, negara, lintas waktu dan sebagainya.

Pentingnya kebijakan sebagai instrumen telah disorot oleh Dahl dan Lindblom mulai tahun 1953 ketika mereka menyatakan bahwa

‘proses mendesain kebijakan - sebagai penciptaan dan inovasi teknik sosial - yang mungkin saat ini adalah revolusi politik besar pada zaman kita”. Pernyataan ini disebabkan pada waktu itu kemampuan pemerintah untuk membuat pilihan dikhotomis antara sosialisme dan kapitalisme tampak masih kabur padahal dikhotomi ini mutlak diperlukan. Sebagian besar upaya para sarjana pada awalnya mencoba untuk menggambarkan isi kebijakan dalam sapuan yang lebar.

(14)

Dahl dan Lindblom (1953) misalnya, mengemukakan ada lima dimensi dalam desain kebijakan yang mereka percaya dapat mengungkap perbedaan isi (content) kebijakan yaitu:

1. Private to public

2. Compulsory (wajib) to informative 3. Direct to indirect

4. Compulsory to voluntary mem- bership (keanggotaan sukarela) 5. Prescriptive (resep) to outonomous dalam hirarki

menurut Lowi, kebijakan memiliki dua dimensi yaitu, The extent of coercion (memperluas tingkat paksaan) di mana manfaat atau beban didistribusikan, dan The policy is directed at specific group or it consists of rules (kebijakan diarahkan kepada kelompok- kelompok tertentu atau kebijakan terdiri dari aturan-aturan) un tuk mempengaruhi lingkungan yang lebih umum.

Pada tahun 1985 Stephen Linder dan Guy Peters menyebutkan studi desain kebijakan sebagai teori tingkat menengah (middle-level theory), yaitu campuran dari tiga dimensi: teori kausalitas, evaluasi, dan instrumen. Sedangkan David Boborow dan John Dryzek (1987) menyebutkan bahwa studi desain kebijakan justru berkonsentrasi kepada proses di mana desain dibentuk dan disahkan. Semua terangkum dalam buku Design dalam Kebijakan Publik.

dr. evi satispi, sp.m.si.

dr. Taufiqurokhman, a.ks., s.sos., m.si.

(15)

DESAIN KEBIJAKAN ( POLICY DESIGN ) BAB I

Pengertian Desain

Desain berasal dari bahasa Inggris design yang berarti rancangan, rencana, atau reka rupa. Dari kata design kemudian muncullah kata serapan bahasa Indonesia ‘desain’ yang berarti mencipta, memikir, atau merancang. Desain dapat diartikan sebagai rancangan yang merupakan susunan dari garis, bentuk, ukuran, warna serta value dan benda yang dibuat berdasarkan prinsip-prinsip desain kata benda. Desain juga dapat diartikan sebagai proses perencanaan bentuk dengan tujuan supaya benda yang dirancang mempunyai fungsi, berguna, serta mempunyai nilai keindahan.

Desain ialah suatu sistem yang berlaku untuk segala jenis perancangan yang mana titik beratnya dilakukan dengan melihat segala sesuatu persoalan tidak secara terpisah atau tersendiri, namun sebagai suatu kesatuan dimana satu masalah dengan lainnya saling terkait. Disisi lain, desain juga diartikan sebagai perencanaan dalam pembuatan sebuah objek, sistem, komponen, atau struktur.

(16)

Desain juga salah satu bentuk kebutuhan badani dan rohani manusia yang dijabarkan melalui berbagai bidang pengalaman, keahlian, dan pengetahuannya yang mencerminkan perhatian pada apresiasi dan adaptasi terhadap sekelilingnya, terutama yang berhubungan dengan bentuk, komposisi, arti, nilai, dan berbagai tujuan benda buatan manusia (Archer, 1976).

Desain adalah sebuah kegiatan kreatif yang mencerminkan keanekaan bentuk kualitas dan sistem, bagaikan sebuah lingkaran yang saling berhubungan. Selain itu, desain merupakan faktor yang yang membangun kegiatan inovasi pemanusiaan teknologi, dinamika budaya, dan perubahan ekonomi (ICSID, 1999).

Desain merupakan upaya kreatif dalam perencanaan dan pembuatan sesuatu yang memiliki kegunaan dengan mengutamakan prinsip kenyamanan dan pencapaian suatu kepentingan tertentu. Dan desain adalah salah satu manifestasi kebudayaan yang berwujud dan merupakan produk nilai-nilai untuk waktu tertentu (Widagdo, 1993).

Definisi Desain

Desain diambil dari kata designo (Italia) yang berarti gambar.

Designo Interno diartikan secara bebas, konsep untuk karya yang akan dilaksanakan dan Designo Esterno adalah karya yang sudah terlaksana.

Sedang dalam bahasa Inggris desain diambil dari bahasa Latin designare yang artinya merencanakan atau merancang untuk kemudian dalam dunia seni rupa istilah desain dipadukan dengan reka bentuk, reka rupa, rancangan, atau sketsa ide.

(17)

Definisi desain untuk pertama kalinya muncul pada tahun 1588 pada English Oxford Dictionary dengan penjabaran, rencana atau skema yang dibuat manusia yang akan direalisasikan, gambar terencana untuk sebuah karya seni rupa atau seni terapan (Applied Art) untuk panduan pelaksanaannya.

Definisi yang dipaparkan Henricus Kusbiantoro bahwa desain adalah kompromi antara seni dan bisnis. Yaitu melayani kebutuhan orang banyak pada pemecahan problem visual, namun sekaligus tidak kehilangan karakter dan keunikan dari segi eksekusi visual baik konsep maupun visual teknis. Buku pedoman pendidikan seni rupa dan desain ITB menyebutkan bahwa desain adalah pemecahan masalah dalam konteks teknologi dan estetik. Hal itu diperkuat oleh kongres Ikatan Ahli Desain Indonesia (IADI) yang tertuang dalam anggaran dasarnya, bahwa desain adalah pemecahan masalah dalam yang menyuarakan budaya zamannya.

Dari sejumlah definisi dan yang dipaparkan di atas, pendapat Agus Sachari (2005:7) paling mudah dipahami bahwa desain pada hakikatnya merupakan upaya manusia memberdayakan diri melalui benda ciptaannya untuk menjalani kehidupan yang lebih aman dan sejahtera.

Penggunaan istilah design atau desain bermula dari gambar teknik arsitektur (gambar potong untuk bangunan) serta di awal perkembangan, istilah desain awalnya masih berbaur dengan seni dan kriya. Di mana, pada dasarnya seni adalah suatu pola pikir untuk membentuk ekpresi murni yang cenderung fokus pada nilai estetis dan pemaknaan secara privasi. Sedangkan desain memiliki pengertian sebagai suatu pemikiran baru atas fundamental seni dengan tidak hanya menitik-beratkan pada

(18)

nilai estetik, namun juga aspek fungsi dan latar industri secara massa, yang memang pada realitanya pengertian desain tidak hanya digunakan dalam dunia seni rupa saja, namun juga dalam bidang teknologi, rekayasa, dan lain-lain.

Setiap desain bertujuan menyusun secara teratur bagian demi bagian menjadi satu tatanan yang utuh demi maksud-maksud tertentu. Dalam desain interior, elemen-elemen yang dipilih dan ditata menjadi pola tiga dimensi sesuai dengan garis- garis besar fungsi, estetika, dan perilakunya.

Hubungan antara elemen-elemen yang terbentuk dari pola–pola ini pada akhirnya menentukan kualitas visual dan kecocokan fungsi suatu interior dan mempengaruhi bagaimana kita memahami dan menggunakannya.

Dalam proses desain itu pula keunikannya yaitu bahwa proses desain itu tidak selalu menuju ke satu jawaban yang pasti dan benar. Bahkan sering di peroleh lebih dari satu solusi yang tepat untuk suatu masalah desain. Jadi bagaimana kita dapat menilai apakah suatu desain itu baik atau buruk? Sebuah desain dianggap baik dan bagus menurut pendapat perancangnya, kliennya atau orang lain yang dan menggunakan desain tersebut, karena sakah satu dari beberapa alasan sebagai berikut :

1. Sebuah desain dianggap bagus sebab telah memenuhi fungsinya dengan baik-desain berhasil

2. Sebuah desain dianggap bagus sebab biaya murah- ekonomis,efesien dan tahan lama

3. Sebuah desain dianggap bagus sebab tanpak indah- secara estetis menyenangkan

4. Sebuah desain dianggap bagus sebab dapat menimbulkan kembali perasaan dan ingatan akan suatu waktu dan tempat yang membawa arti

(19)

Kadang-kadang, kita menilai suatu desain bagus karena kita berpendapat desain tersebut mengikuti mode desain yang sedang popular atau karena dapat menimbulkan impresi pada orang lain yang dapat mengangkat status kita. Beberapa desain dianggap bagus juga karena dianggap mudah dimengerti dan diterima oleh umum.

Sedangkan yang lain baru dapat dihargai oleh sekelompok orang tertentu saja. Desain yang sukses biasanya dapat menyampaikan lebih dari satu pesan sehingga dapat menarik perhatian orang banyak.

Desain sebagai upaya pemecahan masalah (baik dalam pengambilan keputusan maupun pemanfaatan temuan sains- teknologi)

1. A goal-directed problem solving activity (Bruce Archer 1965, Systematic Method For Designer)

2. Decision making in the face uncertainty with high penalties for error” (M. Asimow, 1962, Introduction to Design)

3. (Engineering) Design is the use of scientific principles, technical information and imagination in the definition of a mechanical structure, machine or system to perform pre specified functions with the maximum economy and efficiency.” (G.B.R. Fielden , 1963, Engineering Design)

Desain sebagai upaya kreatif (pemanfaatan imajinasi dan simulasi ke arah perubahan dan kebaruan di waktu mendatang) 1. Simulating what we want to make (or do) before we make (or

do) it as many times as may be necessary to feel confident in the final result” (P.J. Booker, 1964)

2. A creative activity-it involves bringing into being something new an useful that has not existed previously” (J.B. Reswick, 1965)

(20)

3. The imaginative jump from present facts to future possibilities” (J.K.

Page 1966)

4. To initiate change in man made things” (Christopher Jones 1970, Design Method)

Desain sebagai upaya perencanaan dan pembuatan sesuatu*

yang berguna (bernilai dan bermakna baru, pencapaian kenyamanan) 1. Design in the conscious and intuitive effort to impose meaningful

order” (Victor Papanek, Design for the Real World, 1984)

2. Design is a broad field of making and planning disciplines” (Ken Friedman Strategic Design Taxonomy, 1992)

Saat ini desain tidak hanya membicarakan masalah objek (Benda). Hal itu bisa dilihat dari ungkapan Hesket (2004), “Design is to design a design to produce a design.”

1. Desain sebagai pilihan ilmu (Masalah Epistemologi)

2. Desain sebagai aktivitas (Action) mendesain dengan metode tertentu

3. Desain sebagai produk suatu benda (Objek)

4. Desain sebagai wacana akibat kehadiran objek ‘baru’ tersebut

PRINSIP DESAIN

Prinsip-prinsip desain penting diketahui oleh siapapun yang memiliki pekerjaan yang bersinggungan dengan desain. Dengan memahami prinsip desain, kita memiliki semacam kosa kata dasar yang dapat digunakan untuk membahas desain sehingga membantu desainer untuk menghasilkan desain yang diharapkan. Ada banyak konsep yang mendasari pembelajaran studi desain yang seringkali dikategorikan berbeda tergantung pada dasar filosofi ataupun metode pembelajaran

(21)

yang digunakan. Prinsip ini merupakan asumsi dasar yang menjadi acuan dalam proses desain dan mempengaruhi pengaturan objek desain dalam sebuah kerangka komposisi. Prinsip-prinsip desain tersebut antara lain :

Proporsi (Proportion)

Proporsi merupakan perbandingan antara bentuk elemen besar dan kecil. Proporsi menyangkut suatu hubungan bagian dengan bagian yang lain atau bagian dengan keseluruhan, atau antara satu objek dan objek lainnya. Proporsi juga bertalian erat dengan bagian-bagian di dalam suatu komposisi yang dapat berbentuk suatu besaran, kuantitas, atau tingkatan.

Proporsi Agung (The Golden Mean) adalah proporsi yang paling populer dan dipakai hingga saat ini dalam karya seni rupa hingga karya arsitektur. Proporsi ini menggunakan deret bilangan Fibonacci yang mempunyai perbandingan 1:1,618, sering juga dipakai 8:13. Membedakan proporsi pada sebuah komposisi dapat membentuk pada berbagai macam keseimbangan atau simetri, serta dapat menentukan bobot visual dan kedalaman benda.

Dalam prinsip desain juga terdapat beberapa skala yang lazim dipakai dalam desain yaitu skala mekanik dan skala visual. Skala mekanik adalah perhitungan sesuatu fisik berdasarkan sistem ukuran standar, bisa dengan cm, mm, inci, kaki dan lain sebagainya. Sedangkan skala visual merujuk pada besarnya sesuatu yang tampak karena diukur terhadap benda-benda lain disekitarnya. Suatu benda dapat dikatakan berskala kecil jika kita mengukurnya dengan membandingkan terhadap benda- benda lain yang umumnya jauh lebih besar ukurannya, dan begitu pula sebaliknya.

(22)

Proporsi masih ada hubungannya dengan keseimbangan. Proporsi meliputi perbandingan skala antara satu elemen dengan elemen lainnya sehingga hasil akhirnya tidak aneh. Contohnya ialah perbandingan kepala dan badan. Pada gambar kartun biasanya skala proporsi kepala terhadap badan lebih besar daripada keadaan normal untuk menekankan penonton pada ekspresi wajah tokoh kartun.

Irama (Rhythm)

Rhythm atau irama merupakan pengulangan gerak yang teratur dan terus menerus dan memiliki jarak atau interval pada tiap pengulangan.

Irama dapat menciptakan nuansa pergerakan (movement) serta dapat membentuk sebuah pola ataupun tekstur tertentu. Ada beberapa macam irama yang seringkali didefinisikan berdasar perasaan yang timbul ketika kita melihat perulangan tersebut, antara lain:

1. Regular Rhythm terjadi ketika jarak antar elemen atau elemen itu sendiri memiliki kesamaan dalam ukuran atau panjang

2. Flowing Rhythm ketika perulangan yang terjadi memberikan nuansa pergerakan, lebih sering berkaitan dengan benda-benda di alam semisal ombak, dan lain-lain

3. Progressive Rhythm ketika perulangan yang terjadi merupakan rangkaian bentuk yang melalui perkembangan langkah atau tingkatan

Keseimbangan (Balance)

Merupakan titik ekuilibrium yang dihasilkan ketika mengamati dan menilai sebuah objek berdasarkan ide maupun struktur fisiknya (seperti masa, gravitasi, atau sisi sebuah halaman) yang memiliki pengaturan sedemikian rupa berkaitan dengan titik beban visual objek tersebut dalam

(23)

sebuah komposisi. Seimbang berarti tidak berat sebelah. Dalam desain, keseimbangan terjadi ketika objek visual didistribusikan sedemikian rupa sehingga nyaman dipandang secara keseluruhan. Dalam desain, keseimbangan dibagi menjadi tiga yaitu:

1. Keseimbangan Simetris (Symmetrical Balance) 2. Keseimbangan Asimetris (Asymmetrical Balance) 3. Keseimbangan Radial (Radial Balance)

Keseimbangan Simetris - Keseimbangan simetris adalah ketika elemen-elemen desain di satu sisi sama dengan elemen-elemen di sisi lainnya. Keseimbangan ini membagi rata berat-nya baik dari sisi atas- bawah atau kiri-kanan. Keseimbangan simetris muncul ketika titik beban dari sebuah komposisi terbagi merata di seputar sumbu vertikal maupun horizontal. Biasanya keseimbangan simetris memiliki bentuk yang sama persis pada kedua bagian sumbu pembaginya. Keseimbangan simetris juga dikenal sebagai keseimbangan formal (formal balance).

Keseimbangan Asimetris - Berbeda dengan keseimbangan simetris di mana distribusi berat dilakukan dengan membagi rata elemen.

Keseimbangan asimetris tidak sama antara sisi kanan, kiri, atas, bawah namun tetap terasa seimbang. Seringkali kita melihat sebuah desain dengan gambar yang begitu besar diimbangi dengan teks yang kecil namun terlihat seimbang karena permainan kontras, warna, dan sebagainya.

Keseimbangan asimetris muncul ketika titik beban dari sebuah komposisi tidak dibagi secara merata pada sumbu tengah pembaginya. Merupakan pengaturan objek dengan bentuk dan ukuran yang berbeda dalam sebuah komposisi yang tetap memberikan keseimbangan beban visual satu sama lain. Seringkali berupa satu objek dominan yang diimbangi oleh bentukan

(24)

kecil yang lebih banyak dalam satu komposisi. Keseimbangan asimetris juga dikenal sebagai keseimbangan informal (informal balance).

Keseimbangan Radial - Dalam keseimbangan radial, elemen- elemen desain disusun melingkar seolah-olah memiliki pusat. Biasanya desain-desain mandala memiliki keseimbangan radial. Meski hampir mirip dengan keseimbangan simetris, namun kesan yang ditampilkan seperti ada pancaran dari tengah lingkaran. Kesimbangan radial sangat mudah ditangkap mata karena seakan diarahkan fokus ke titik pusat lingkaran.

Kesatuan (Unity)

Konsep kesatuan merupakan penggambaran hubungan antara satu bagian individual (objek) terhadap keseluruhan komposisi. Hal ini digunakan untuk mengetahui aspek-aspek desain yang diperlukan untuk mengikat komposisi objek bersama-sama, baik dalam pembentukan kesan kebersamaan, keutuhan, atau membongkarnya untuk kemudian menciptakan nuansa keragaman dalam komposisi tersebut. Kesatuan dalam desain berasal dari beberapa teori Gestalt mengenai persepsi visual dan psikologi, terutama yang berhubungan dengan bagaimana cara kerja otak manusia dalam mengorganisasikan informasi ke dalam kategori-kategori maupun grup-grup.

Prinsip unity dalam desain merupakan harmoni antara semua elemen sehingga menciptakan suatu perasaan yang lengkap dan memiliki makna. Agak sulit dideskripsikan tapi dapat kita rasakan jika ada sesuatu yang kurang atau bahkan berlebihan (too much) ketika kita meihat desain tersebut. Untuk konsep tentang kesatuan ini mungkin akan lebih

(25)

komprehensif jika dikaitkan dengan Teori Gestalt. Teori Gestalt sendiri agak panjang dan rumit, berhubungan dengan berbagai tingkat abstraksi dan generalisasi, tetapi beberapa ide dasar yang keluar dari pemikiran semacam ini bisa dipahami secara universal.

1. Closure - Closure merupakan ide bahwa otak cenderung mengisi bagian informasi yang kosong ketika sebuah objek disadari telah hilang beberapa bagiannya. Objek dapat didekonstruksikan menjadi beberapa bagian kecil atau grup, dan ketika bagian-bagian ini ada yang menghilang otak akan cenderung menambahkan informasi mengenai sebuah objek untuk mencapai titik penuh. Pada gambar di bawah ini telah ditambahkan informasi yang hilang untuk membuat sebuah bentukan.

2. Continuance - Continuance atau keberlanjutan merupakan ide bahwa sekali anda melihat pada satu arah, anda akan tetap melakukannya hingga ada sesuatu lain yang lebi dominan menarik perhatian anda.

Perspektif, atau penggunaan garis sudut pandang, cenderung sukses dalam mengarahkan mata pengamat kepada arah yang diberikan.

Sebagai tambahan, sudut pandang mata pada subjek apa pun pada desain dapat menimbulkan efek yang serupa. Pada gambar di bawah ini, pandangan mata akan secara otomatis turun menuju arah ujung akhir jalan pada pojok sebelah kanan gambar. Karena tidak ada objek lain yang dominan untuk merubah arah pandangan mata kita.

3. Similarity, Proximity, and Alignment - Kesamaan, kedekatan, dan keselarasan. Objek yang memiliki kesamaan pada ukuran, bentuk, dan warna akan cenderung di kelompokkan pada satu grup yang sama oleh otak kita, dan sebuah hubungan semantik antar objek pun telah terbentuk. Sebagai tambahan, objek dengan kedekatan atau selaras dengan yang lainnya akan mengalami hal yang erupa.

(26)

Pada gambar di bawah ini, perhatikan betapa lebih mudahnya untuk mengkategorikan dan mengelompokkan bentuk dari objek pada pojok kiri atas daripada objek pada pojok kanan bawah.

Dominasi (Dominance)

Dominasi berkaitan erat dengan berbagai macam derajat penekanan (emphasis) dalam desain. Hal ini dibutuhkan dalam menentukan beban visual dari sebuah komposisi, menetapkan ruang dan perspektif, serta seringkali menunjukkan kemana mata menuju ketika pertama kali melihat sebuah desain atau komposisi. Ada tiga tahapan dominasi, masing-masingnya berkaitan dengan beban objek tertentu dalam sebuah komposisi.

1. Dominan: Objek memiliki beban visual terbanyak. Objek utama penekanan yang diletakkan paling depan dalam sebuah komposisi

2. Sub-dominan: Objek dari penekanan sekunder. Objek berada pada level tengah dalam sebuah komposisi

3. Subordinat: Objek yang memiliki beban visual paling ringan.

Objek berada pada level tersier yang tersedot ke bagian belakang komposisi

Selain prinsip-prinsip di atas, ada beberapa konsep tambahan terkait yang dapat menambah kelengkapan dalam mendesain sebuah komposisi, yaitu:

1. Kontras dan Oposisi (Contrast and Opposition)

2. Ruang Positif dan Ruang Negatif (Positive and Negative Space) 3. Rule of Thirds

4. Visual Center

5. Warna dan Tipografi (Color and Typography)

(27)

Penekanan (Emphasis)/Focal Point

Sebenarnya masih ada kata-kata lain yang sama saja seperti: Center of Interest, Eye Catcher, dan sebagainya. Tapi focal point tampaknya lebih tepat. Penekanan (Emphasis) atau focal point adalah bagian yang dibuat menonjol untuk menarik perhatian yang melihat. Dapat dilakukan dengan memberikan kontras baik bentuk, warna, tekstur, dan sebagainya.

Pergerakan ( Movement )

Pergerakan dalam desain adalah suatu prinsip di mana desain yang dihasilkan memiliki suatu alur ketika dilihat.

Pattern, Repetition & Rythm

1. Pattern adalah elemen-elemen yang dibentuk dan diulang dalam suatu susunan yang teratur dan sama

2. Repetition adalah pengulangan yang terjadi namun dalam interval tertentu

3. Rythm adalah kombinasi dari unsur-unsur yang diulang yang mengalami variasi namun masih sinergis

Variasi ( Variety )

Variasi dalam desain meliputi penggunaan berbagai elemen visual untuk menghasilkan suatu karya yang kompleks. Memang ada kecenderungan orang-orang memperoleh minat/ketertarikan terhadap sesuatu yang dianggap rumit. Contoh yang sering kita lihat adalah pengguna beberapa font yang dikonsep secara sengaja dalam suatu poster.

(28)

KATEGORI DESAIN

Penjelasan tentang Kategori Desain

Saat ini semakin sulit mencari rancangan yang benar-benar baru.

Produk-produk yang dihasilkan saat ini lebih banyak menitikberatkan baik pada modifikasi maupun mengkombinasikan beberapa komponen menjadi solusi. Baik sebagai subjek maupun objek, desain dapat digeneralisir menjadi beberapa kategori umum.

Kategori ini adalah penyematan sifat dari proses maupun output yang dihasilkan desainer di antaranya:

1. Inovatif - Karya yang benar-benar inovatif kini semakin sulit ditemukan dan kategori desain yang inovatif saat inipun memiliki defenisi yang berbeda dari zaman dahulu. Karya inovatif kerap disematkan oleh marketing pada produk-produk umum yang menambahkan satu atau dua fitur saja. Misalnya mobil pertama yang menggunakan kamera belakang untuk mundur atau yang ditambahkan GPS. Saat ini inovasi-inovasi kreatif ditemukan pada produk yang memberikan solusi lebih besar bukan parsial.

2. Modifikasi - Kategori modifikasi pada saat ini mendominasi pasar yang ada dunia. Salah satu penyebabnya adalah secara umum masyarakat membutuhkan waktu pada trasnformasi yang ekstrim sehingga industri mengupayakan penyesuaian dan perubahan secara bertahap.

3. Plagiasi - Plagiasi merupakan tindakan terburuk dalam mendesain.

Plagiasi merupakan kegiatan meniru produk orang lain hampir 100%.

4. Kombinasi - Kategori ini merupakan kegiatan umum kedua setelah

(29)

modifikasi terutama di kalangan industri. Misalnya mengabungkan mobil dan kapal menjadi kapal ampibhi.

Tidak dapat dipungkiri, desain merupakan salah satu bidang keilmuan yang akrab dengan kita. Karena output-nya kita lihat, gunakan bahkan jadi barang berharga bagi kita. Dalam kondisi masyarakat yang semakin dinamis, bidang ini dituntut mampu berubah dalam waktu singkat dan tidak sedikit yang menyediakan platform untuk kostumisasi bagi pasar yang umum sehingga banyak bermunculan platform-platform yang menyediakan sebuat rancangan yang default disertai dengan fitur- fitur untuk merubahnya bagi konsumen.

Kategori desain juga bisa dibagi dalam tiga sistem, antara lain:

1. Global-Based Systems 2. Group-Based Systems 3. Local-Based Systems

Global-Based Systems (Sistem Berbasis Global)

Untuk mendesain sistem yang berbasis global (global-based) membutuhkan pemeriksaan secara seksama dan lengkap atau penggantian dari seluruh komponen desain umum. Beberapa tipe perubahan yang umum adalah :

1. Output yang lama, dari laporan berbentuk tabel setiap bulannya menjadi layar grafik berwarna 2 atau 3 dimensi

2. Proses baru dibuat

3. Input diambil dari peralatan scan daripada dengan pensil dan kertas 4. Database hirarki lama diubah ke database relasional baru dengan

standar bahasa query

(30)

5. Kontrol yang bervariasi diinstal, termasuk UPS (Uninterruptible Power Systems), DRP (Disaster Recovery Plans), peralatan enkripsi dan peralatan kontrol akses biometri

6. Platform teknologi baru yang menggabungkan seluruh topologi jaringan organisasi (komputer dan peralatannya) yang mendukung

Membutuhkan beberapa tim proyek yang langsung ditunjuk dari CIO. Lembar kerjanya berisi semua komponen desain umum berikut deskripsi masing-masing secara umum. Beberapa alternatif diberikan ke user untuk di-review dan diketahui. Setelah di-review, alternatif beberapa aspek dapat digabungkan untuk dibuat gabungannya. Beberapa di antaranya dapat diterima atau dapat ditolak.

Group-Based Systems (Sistem Berbasis Kelompok)

Sistem ini melayani cabang-cabang atau group user khusus dalam organisasi. Kelompok ini memiliki kebutuhan khusus untuk menyelesaikan pekerjaan dan membuat keputusan yang tepat. Perancang sistem yang bekerja pada group ini perlu memiliki pengetahuan tentang bekerja pada sistem group-based. Perancang tidak perlu memusatkan perhatian ke perancangan desain sistem tertentu, seperti database dan platform teknologi tetapi pada output, input, proses, kontrol dan untuk platform teknologi, khusus untuk group local (LAN).

Local-Based Systems (Sistem Berbasis Lokal)

Sistem ini khusus didesain untuk beberapa orang, sering satu atau dua, untuk aplikasi khusus tambahan. User memiliki PC dan ia direncanakan untuk memiliki sistemnya. Profesional sistem umumnya dipakai untuk

(31)

bekerja sama dengan user menganalisis mendesain, mengevaluasi sistem yang berbeda, memilih satu dan mengimplementasikan dengan menggunakan jaringan dan pendukungnya.

Desain Sebagai Subjek

Dalam rangkaian panjang sebuah proses, desain seringkali ditempatkan di bagian hulu. Desain, dalam hal ini bersifat sebagai perencanaan dalam pembuatan sebuah objek, sistem, komponen, atau struktur. Sebagai proses bidang ini bisa ditempatkan setelah riset.

Penelitian-penelitian pendahuluan tentang pasar, semantika, semiotika dan sebagainya memberikan masukan pada desainer untuk menghasilkan rancangan yang sesuai. Setelah rancangan diselesaikan tahap selanjutnya dapat berupa proses uji coba maupun tahap produksi setelah sirkulasi antara uji coba dan redesign atau perancangan ulang dilakukan.

Dalam rangkaian panjang sebuah proses, desain seringkali ditempatkan pada bagian hulu. Desain dalam hal ini bersifat sebagai perencanaan dalam pembuatan sebuah objek, sistem, komponen, atau struktur. Sebagai proses bidang ini bisa ditempatkan setelah riset.

Penelitian-penelitian pendahuluan tentang pasar, semantika, semiotika dan sebagainya memberikan masukan pada desainer untuk menghasilkan rancangan yang sesuai. Setelah rancangan diselesaikan tahap selanjutnya dapat berupa proses uji coba maupun tahap produksi setelah sirkulasi antara uji coba dan redesign atau perancangan ulang dilakukan.

Desain Sebagai Objek

Dalam pengertian ini secara gamblang keilmuan ini dapat diartikan sebagai hasil atau output yang kemudian bagi para desainer diklaim

(32)

sebagai karya. Seseorang dapat menunjuk sebuah objek fisik sebagai sebuah design. Misalnya, gedung tersebut adalah desain dari arsitek ternama Budi. Akan tetapi, bukan hanya objek yang dapat dirupakan sebagai objek dari keilmuan ini, solusi dari permasalahan hasil riset misalnya dapat dikatakan sebagai desain meskipun dia berbentuk konsep sebuah sistem. Misalnya saudara Emir membuat sistem keamanan sebuah pemerintahan yang sulit ditembus oleh para penyusup, sistem ini merupakan desain dari saudara Emir.

Hasil atau objek bidang ini dapat berasal dari proses yang singkat bahkan output verbal. Misalnya saya ingin membuat cake dengan topping blueberry saos kecap yang ditaburi merica ketika ditanya oleh ibunya. Cake dari perencanaan tanpa riset dan proses menemukan bentuk yang panjang ini dapat dikatakan sebagai cake desain saya. Bahkan terminologi desain juga dapat disematkan pada objek yang dibuat secara spontan, misalnya seseorang ingin membuat pisau dengan cara tradisional kemudian dari bayangan awal terjadi distorsi menjadi pedang, objek atau output ini masih dapat dilabeli sebagai desain sang perajin. Dengan demikian secara singkat kelimuan ini sebagai subjek dapat diartikan sebagai rencana dan atau proses, sedangkan sebagai objek desain diartikan sebagai hasil atau output.

Desainer atau Perancang

Secara umum siapapun dapat diberikan label sebagai desainer atau perancang atas apa yang dihasilkannya. Namun demikian karena ketetapan yang disepakati bersama menentukan bahwa profesi desainer merupakan profesi yang kini ditempatkan pada bidang kreatif maka hanya beberapa profesi yang mendapat julukan tersebut. Meskipun hasil

(33)

karya dari beberapa bidang keilmuan lain juga kerap diliterasikan sebagai desain.

Di Indonesia jauh sebelum profesi desain yang lain dikenal, desainer kerap kali hanya diasosiasikan pada perancang mode yang disebut sebagai Desainer Fashion. Kemudian menyusul desainer grafis, interior dan produk. Penetapan kategori pada desainer ini terjadi pada pengertian keilmuan ini sebagai output sesuasi dengan klasifikasinya. Dalam bidang keilmuan desain dengan imbuhan “me” dilekatkan pada proses.

Sedangkan desain tanpa imbuhan apapun diartikan sebagai hasil.

Metoda-metoda yang telah dilakukan dari waktu ke waktu, terapan pada industri maupun anggapan proses yang benar disusun oleh akademisi menjadi kurikulum. Meskipun demikian berbagai tahapan yang ideal tersebut akhirnya menyesuaikan terhadapat kondisi faktual di lapangan atau sistem operasi yang berlangsung disebuah perusahaan.

Sehingga metoda-metoda tersebut kini lebih fleksibel menjadi subjek- subjek yang kemudian dapat dipilih sendiri.

Sistem akademis yang berkembang terutama di Indonesia menitik beratkan pendidikan desain pada eksekusi estetika. Meskipun realitanya beberapa bidang keilmuan harus memastikan desainnya secara teknis dapat diproduksi dan dapat dijual. Sehingga komunikasi antara desainer dengan tukang, teknisi, pemilihan material, market yang ingin dituju hingga pemasaran yang akan digunakan dalam kenyataannya menjadi fenomena baru bagi fresh graduate.

(34)

Metode Desain

Metode desain adalah suatu cara yang dilakukan oleh desainer untuk menghasilkan suatu karya desain. Beberapa metode yang umum digunakan, antara lain:

1. Explosing yaitu mencari inspirasi dengan berpikir secara kritis untuk menghasilkan suatu desain yang belum pernah diciptakan.

2. Redefining yaitu mengolah kembali suatu desain agar menjadi bentuk yang berbeda dan lebih baik.

3. Managing yaitu menciptakan desain secara berkelanjutan dan terus-menerus.

4. Phototyping yaitu memperbaiki dan atau memodifikasi desain warisan nenek moyang.

5. Trendspotting yaitu membuat suatu desain berdasarkan tren yang sedang berkembang.

Jenis-Jenis Desain

Dalam hal ini desain memiliki dua jenis yaitu:

1. Yang pertama ialah desain struktur yang merupakan wujud dari suatu benda yang terdiri dari unsur-unsur desain diantaranya susunan garis, bentuk, ukuran, warna tekstur dan nilai gelap terangnya.

2. Yang kedua yaitu desain hiasan yang mempunyai tujuan untuk menghias desain struktur suatu benda atau busana.

(35)

Pengertian Instrumen

Instrumen merupakan sebuah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi yang bermanfaat untuk menjawab permasalahan penelitian. Instrumen sebagai alat pada waktu penelitian yang menggunakan suatu metode. Menyusun instrumen penelitian dapat dilakukan peneliti jika peneliti telah memahami benar penelitiannya. Pemahaman terhadap variabel atau hubungan antar variabel merupakan modal penting bagi peneliti agar dapat menjabarkan menjadi sub variabel, indikator, deskriptor dan butir- butir instrumennya.

Ada beberapa langkah umum yang bisa ditempuh dalam menyusun instrumen penelitian. Langkah-langkah tersebut antara lain:

1. Analisis variabel penelitian, yakni mengkaji variabel menjadi sub penelitian sejelas-jelasnya, sehingga indikator tersebut bisa diukur dan menghasilkan data yang diinginkan peneliti. Dalam membuat indikator variabel, peneliti dapat menggunakan teori atau konsep-konsep yang ada dalam pengetahuan ilmiah yang

INSTRUMEN

KEBIJAKAN PUBLIK

BAB II

(36)

berkenaan dengan variabel tersebut, atau menggunakan fakta empiris berdasarkan pengamatan lapangan.

2. Menetapkan jenis instrumen yang digunakan untuk mengukur variable/subvariabel/ indikator-indikatornya. Satu variabel mungkin bisa diukur oleh atau jenis instrumen, bisa pula lebih dari satu instrumen.

3. Setelah ditetapkan jenis instrumennya, peneliti menyusun kisi- kisi atau layout instrumen. Kisi-kisi ini berisi lingkup materi pertanyaan, abilitas yang diukur, jenis pertanyaan, banyak pertanyaan, waktu yang dibutuhkan. Materi atau lingkup materi pertanyaan didasarkan pada indikator varibel. Artinya, setiap indikator akan menghasilkan beberapa luas lingkup isi pertanyaan, serta abilitas yang diukurnya. Abilitas dimaksudkan adalah kemampuan yang diharapkan dari subjek yang diteliti.

Misalnya kalau diukur prestasi belajar, maka abilitas prestasi tersebut dilihat dari kemampuan subjek dalam hal pengenalan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, evaluasi. Atau bila diukur sikap seseorang, maka lingkup abilitas sikap kita bedakan aspek kognisi, afeksi, dan konasinya.

4. Berdasarkan kisi-kisi tersebut lalu peneliti menyusun item dan pertanyaan sesuai dengan jenis instrumen dan jumlah yang telah ditetapkan dalam kisi-kisi. Jumlah pertanyaan bisa dibuat lebih dari yang ditetapkan sebagai item cadangan. Setiap item yang dibuat peneliti harus sudah punya gambaran jawaban yang diharapkan. Artinya, prakiraan jawaban yang betul/diinginkan harus dibuat peneliti.

5. Instrumen yang sudah dibuat sebaiknya diuji coba digunakan untuk revisi instrumen, misalnya membuang instumen yang tidak

(37)

perlu, menggantinya dengan item yang baru, atau perbaikan isi dan redaksi/bahasannya.

Fungsi Instrumen

Fungsi instrumen adalah mengungkapkan fakta menjadi data.

Menurut Arikunto, data merupakan penggambaran variabel yang diteliti dan berfungsi sebagai alat pembuktian hipotesis, benar tidaknya data tergantung dari baik tidaknya instrumen pengumpulan data. Beberapa jenis instrumen dalam suatu penelitian adalah sebagai berikut:

1. Tes - Sederetan pertanyaan atau latihan atau alat yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengukuran intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok.

2. Kuesioner - Sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari reponden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui.

3. Wawancara (Interview) - Interview digunakan oleh peneliti untuk menilai keadaan seseorang, misalnya untuk mencari data tentang variabel latar belakang murid, orangtua, pendidikan, perhatian, dan sikap terhadap sesuatu.

4. Observasi - Mengadakan pengamatan secara langsung, observasi dapat dilakukan dengan tes, kuesioner, ragam gambar, dan rekaman suara. Pedoman observasi berisi sebuah daftar jenis kegiatan yang mungkin timbul dan akan diamati.

5. Skala bertingkat (ratings) - Suatu ukuran subyektif yang dibuat berskala. Walaupun skala bertingkat ini menghasilkan data yang kasar tetapi cukup memberikan informasi tettentu tentang program atau orang. Instrumen ini dapat dengan mudah

(38)

memberikan gambaran, penampilan, terutama penampilan di dalam orang menjalankan tugas yang menunjukkan frekuensi munculnya sifat-sifat. Di dalam menyusun skala, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menentukan variabel skala. Apa yang harus ditanyakan harus apa yang diamati responden.

6. Dokumentasi - Berasal dari asal kata dokumen, yang artinya tetulis, di dalam melaksanakan metode dokumentasi, penelitian menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen peraturan-peraturan, notulen rapat, dan sebagainya.

Instrumen Sukarela

Instrumen sukarela merupakan alat penting untuk melaksanakan kedua kebijakan ekonomi dan sosial. Dan penggunaannya juga mungkin increasing karena penyebaran privatisasi dalam beberapa tahun terakhir. Mereka lebih disukai masyarakat karena-efisiensi biaya mereka, konsisten dengan norma-norma budaya kebebasan individu, dan dukungan untuk ikatan keluarga dan masyarakat.

Fitur karakteristik instrumen sukarela adalah bahwa mereka tidak membawa atau sedikit keterlibatan oleh pemerintah; tugas yang diinginkan adalah bukan dilakukan atas dasar sukarela.

Ini adalah organisasi non-pemerintah yang beroperasi atas dasar sukarela, di bahwa anggota mereka tidak dipaksa untuk melakukan tugas oleh pemerintah. Jika mereka melakukan sesuatu yang melayani tujuan-tujuan kebijakan publik, itu adalah untuk alasan kepentingan pribadi, etchics, atau kepuasan emosional.

(39)

Keluarga dan Masyarakat

Instrumen pertama yang sukarela mengatur government bisa mengandalkan pada untuk menerapkan kebijakan adalah keluarga dan masyarakat. Dalam semua realtives socities, teman, dan tetangga menyediakan berbagai barang dan jasa, dan pemerintah dapat mengambil langkah-langkah untuk memperluas peran mereka dengan cara yang berfungsi golas kebijakannya.

Keuntungan utama untuk mempromosikan keluarga dan masyarakat sebagai instrumen kebijakan publik adalah bahwa hal itu tidak dikenakan biaya apa pun pemerintah, kecuali jika memilih untuk memberikan hibah atau subsidi untuk upaya ini. Dalam keadaan banyak, seperti dalam kasus keluarga atau kepedulian masyarakat bagi penyandang cacat jangka panjang dibandingkan dengan perawatan mereka di lembaga-lembaga publik, alternatif untuk kembali instrumen ini sulit untuk dibayangkan.

Selain itu, fungsi mereka menikmati dukungan politik luas dalam socities kebanyakan. Dan kelemahannya misalnya umumnya instrumen lemah untuk mengatasi problem ekonomi yang kompleks.

Efisiensi skala mungkin juga menjamin penyediaan terpusat oleh pemerintah, bukan penyisihan atas desentralisasi oleh keluarga atau komunitas. Ketergantungan pada jenis instrumen untuk memecahkan masalah publik juga mungkin tidak adil karena banyak indvidul tidak punya siapa-siapa, atau siapa pun dengan sumber daya finansial terdiri atau komitmen emosional, untuk menjaga mereka.

(40)

Organisasi Sukarela

Organisasi sukarela melibatkan kegiatan yang memang sukarela misalnya menyediakan layanan pematauan, pendidikan, dan makanan untuk penampungan miskin dan sementara bagi perempuan dan anak- anak yang melarikan diri adalah contoh utama organisasi tersebut. Di Amerika, negara menyediakan 40 persen dari total pengeluaran oleh organisasi-organisasi sukarela, yang merupakan sumber dana lebih besar dari sumbangan swasta.

Organisasi sukarela, dalam teori, sebuah cara yang efisien memberikan layanan yang paling ekonomis dan sosial. Jika yang layak akan abviously biaya-efisien untuk menyediakan jaminan sosial atau pematauan dan pelayanan pendidikan atau membangun bendungan dan jalan pada upaya dasar sukarela individual. Mereka juga menawarkan fleksibilitas dan kecepatan respon dan kesempatan untuk experimantation yang akan sulit dalam organisasi pemerintah.

Mereka sering lebih cepat dari pemerintah dalam memberikan bantuan kepada korban bencana alam, misalnya.

Selain itu, pertemuan kebutuhan sosial dengan cara ini mengurangi kebutuhan untuk tindakan pemerintah, yang menarik bagi mereka yang percaya bahwa intervensi negara secara inheren bertentangan dengan kebebasan politik. Masalah Kontemporer ekonomi dan sosial simply terlalu luas untuk ditangani berdasarkan upaya sukarela saja, kebanyakan orang tidak memiliki waktu maupun sumber daya yang dibutuhkan untuk berkontribusi dengan aktivitas tersebut, bahkan jika mereka ingin melakukannya. Karena itu tidak mungkin untuk bekerja di luar di mana para anggota mereka

(41)

menemukan kepuasan dalam mereka agama, etika, atau alasan politik.

Instrumen Pasar

Pasar merupakan instrumen sangat dianjurkan dalam keadaan tertentu. Ini adalah cara yang efektif dan efisien dalam menyediakan barang yang paling pribadi dan dapat memastikan bahwa sumber daya hanya dikhususkan kepada barang-barang dan jasa yang dihargai oleh masyarakat, seperti tercermin dalam kesediaan individu untuk membayar. Karena sebagian besar barang dan jasa yang dicari oleh penduduk adalah bersifat pribadi, pemerintah dalam masyarakat kapitalis mengandalkan ekstensif atas instrumen pasar.

Pasar juga instrumen yang sangat tidak adil, karena memenuhi kebutuhan hanya bagi mereka dengan kemampuan untuk membayar.

Jadi dalam sistem murni berbasis pasar dari penyediaan layanan kesehatan, misalnya, orang kaya dengan uang dapat memiliki keinginan untuk bedah kosmetik, sementara orang miskin dari menderita gagal ginjal tidak dapat menerima pengobatan penting.

Sejauh ini yang paling penting, instrumen sukarela adalah pasar. Interaksi sukarela antara konsumen dan produsen, dengan mantan mencari untuk membeli sebanyak yang mereka dapat dengan keterbatasan dana yang mereka miliki dan yang kedua mencari keuntungan setinggi mungkin, biasanya dapat diharapkan memberikan hasil yang memuaskan keduanya. Motif utama kedua belah pihak adalah kepentingan diri sendiri, masyarakat sebagai keseluruhan keuntungan dari interaksi mereka karena apapun yang

(42)

diinginkan oleh masyarakat disediakan dengan harga serendah mungkin.

Wajib Instrumen

Instrumen wajib yang juga kerap disebut instrumen direktif, memaksa atau mengarahkan tindakan individu dan perusahaan sasaran, yang pergi dengan kebijaksanaan sedikit atau tidak ada dalam merancang tanggapan. Pemerintah, dalam pelaksanaan kewenangan kedaulatannya, dapat memerintahkan warga subjek untuk melakukan kegiatan tertentu. Seperti, dapat mendirikan perusahaan pemerintah dan dikendalikan untuk melakukan setiap fungsi yang dipilihnya atau langsung menyediakan barang dan jasa yang bersangkutan melalui birokrasi.

Peraturan

Peraturan merupakan tindakan yang harus dilakukan dan tidak harus dilakukan. Setiap tempat memiliki peraturannya sendiri.

Bahkan di rumah juga ada peraturan, seperti peraturan harus mencuci piring sendiri setelah makan, harus membereskan tempat tidur setelah bangun tidur, menjaga kebersihan dengan membuang sampah di tempatnya dan lain sebagainya.

Dalam kehidupan bermasyarakat pun demikian. Contoh peraturan yang terdapat di masyarakat adalah, setiap warga RT harus melaporkan tamu mereka yang menginap kepada ketua RT.

Ada juga peraturan untuk menjaga kebersihan lingkungan di sekitar mereka. Di sekolah, kita juga menjumpai yang namanya peraturan, contohnya saja semua siswa harus berpakian seragam sesuai dengan

(43)

pakaian yang telah ditentukan. Peraturan tidak boleh ribut di kelas, peraturan tidak boleh terlambat, peraturan untuk piket, peraturan dimana siswa laki-laki tidak boleh berambut gondrong, peraturan tidak boleh membawa HP ke sekolah dan banyak lagi.

Sangat banyak contoh peraturan yang ada, selain yang telah disebutkan tadi terdapat juga peraturan lain seperti peraturan kantor, peraturan lalu lintas, peraturan pemerintah dan lain sebagainya. Jika kita berbicara mengenai peraturan, Anda juga tentunya mengenal yang disebut dengan peraturan pusat dan peraturan daerah. Lalu apa pengertian peraturan pusat dan pengertian peraturan daerah tersebut?

Pengertian peraturan pusat adalah peraturan yang dibuat oleh pemerintah pusat yang berlaku secara nasional. Di mana peraturan ini haruslah dijalankan dan ditaati oleh seluruh warga maupun pemerintah daerah. Contoh peraturan pusat adalah peraturan yang ada dalam undang-undang, peraturan pemerintah pengganti undang-undang, ketetapan MPR, peraturan pemerintah, Keputusan presiden, dan juga instruksi menteri. Pengertian peraturan Daerah adalah peraturan yang dibuat oleh lembaga-lembaga berwenang yang ada di daerah baik daerah tingkat I maupun tingkat II. Lembaga yang dimaksudkan seperti DPR, Gubernur, Bupati, dan Walikota.

Contohnya peraturan daerah provinsi, peratura daerah kabupaten, maupun PERDES atau peraturan desa.

Perusahaan Umum

Perusahaan Umum atau Perum adalah salah satu jenis Badan

(44)

Usaha Milik Negara (BUMN) yang modalnya masih dimiliki oleh pemerintah. Namun demikian, Perum memiliki sifat mirip dengan perusahaan jawatan (perjan) dan sisanya perusahaan perseroan (persero). Perum diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1998 tentang Perusahaan Umum.

Perum dikelola oleh Menteri, Direksi, dan Dewan Pengawas.

Pendiriannya bisa diusulkan oleh menteri kepada presiden. Sebagai pemegang kekuasaan tertinggi perum untuk mewakili pemerintah sebagai pemulik modal, pemerintah menunjuk. Direksi bertugas sebagai pemimpin perum, direksi diangkat dan diberhentikan oleh menteri. Sedangkan, Dewan Pengawas adalah dewan yang bertugas memberikan pengawasan dan nasihat kepada direksi.

Aturan Perum atau BUMN telah dibuat khusus sehingga untuk menutup semua kegiatan, seperti yang akan menjadi arahan internal pengelolaan organisasi yang dikendalikan oleh pemerintah. Perum memiliki tujuan utama, yaitu untuk melayani kepentingan hajat hidup orang banyak sekaligus untuk mencari keuntungan:

1. Bebas dari kontrak kerja dengan semua pihak

2. Memiliki kekayaan sendiri dan bergerak di bidang swasta 3. Modal berasal dari kekayaan negara yang terpisahkan

4. Biasanya sebagian besar pekerja utamanya Pegawai Negeri Sipil (PNS)

5. Berstatus sebagai badan hukum

6. Keuntungan dimanfaatkan untuk mengisi kas negara 7. Bisa menghimpun dana dari pihak tertentu

8. Bisa dituntut dan menuntut karena hukumnya diatur secara hukum perdata

(45)

Pajak dan Retribusi

Sebagian besar orang masih merasa asing dengan istilah pajak dan retribusi. Bahkan kebanyakan kerap menyamakan kedua istilah tersebut. Nyatanya, kedua istilah tersebut berbeda satu sama lain.

Walaupun sama-sama dibebankan kepada masyarakat (Wajib Pajak), peruntukan kedua jenis pungutan tersebut berbeda. Agar lebih dapat mengetahui perbedaan antara pajak dan retribusi, ulasan berikut akan menguraikan secara jelas kedua jenis pungutan tersebut.

Saat mendengar kata pajak, terkadang timbul kebingungan di sebagian orang. Mereka memilih untuk tidak berurusan dengan bidang ini. Padahal, pajak mempunyai manfaat yang akan berdampak pada kehidupan masyarakat dalam sebuah negara. Misalnya, pembangunan fasilitas umum dan infrastruktur seperti jalan, jembatan, sekolah, dan rumah sakit. Meskipun tidak langsung memberikan manfaat kepada pembayar pajak (Wajib Pajak), pajak yang dikumpulkan akan dimanfaatkan untuk kepentingan umum.

Pajak merupakan iuran masyarakat pada negara yang didasarkan pada undang-undang sehingga dapat dipaksakan. Namun, pembayar pajak tidak mendapatkan balas jasa secara langsung. Menurut Charles E. McLure, pakar pajak dari Stanford University, pajak merupakan kewajiban finansial yang dikenakan terhadap Wajib Pajak (orang pribadi atau badan) oleh negara atau institusi yang digunakan untuk membiayai berbagai macam keperluan publik.

Pajak dipungut sesuai dengan norma-norma hukum untuk menutup biaya produksi dan jasa kolektif untuk mencapai

(46)

kesejahteraan umum. Menghindari pembayaran pajak, menolak, ataupun melakukan perlawanan terhadap pajak termasuk tindakan melawan hukum. Karena itu, mempelajari dan mengetahui jenis-jenis pajak penting bagi wajib pajak agar tidak terlibat masalah hukum.

Pembagian Jenis Pajak Berdasarkan Lembaga Pemungut Pajak.

Berdasarkan lembaga pemungut pajak, jenis pajak dibagi menjadi dua, yaitu:

Pajak Negara - Sering disebut juga pajak pusat ialah pajak yang dipungut Pemerintah Pusat yang terdiri atas:

1. Pajak Penghasilan (PPh) yang Diatur dalam UU No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan yang diubah terakhir kali dengan UU No. 36 Tahun 2008.

2. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), diatur dalam UU No. 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang diubah terakhir kali dalam UU No. 42 Tahun 2009.

3. Bea Materai, diatur dalam UU No. 13 Tahun 1985 tentang Bea Materai.

4. Bea Masuk terdapat dalam UU No. 10 Tahun 1995 jo. UU No. 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan.

5. Cukai tertuang dalam UU No. 11 Tahun 1995 jo. UU No. 39 Tahun 2007 tentang Cukai.

Pajak Daerah - Sesuai UU No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

(47)

Pajak Langsung adalah pungutan atau pajak yang dibebankan secara langsung kepada Wajib Pajak, seperti pajak kekayaan dan pajak penghasilan. Sementara, Pajak Tidak Langsung adalah pungutan atau pajak wajib yang harus dibayarkan sebagai sumbangan wajib terhadap negara yang secara tidak langsung dikenakan kepada Wajib Pajak, seperti cukai rokok.

Jenis pajak berdasarkan jumlah yang harus dibayarkan dibedakan menjadi tiga, yaitu:

1. Pajak Pendapatan - Pajak pendapatan adalah pajak yang dikenakan atas pendapatan tahunan atau laba dari seseorang atau perseroan terbatas.

2. Pajak Penjualan - Pajak penjualan adalah pajak yang dikenakan pada saat terjadinya transaksi penjualan barang atau jasa kepada pembeli

3. Pajak Badan Usaha - Pajak badan usaha adalah pajak yang dikenakan kepada badan usaha, semisal bank.

Retribusi

Retribusi adalah Pungutan Atas Penggunaan Fasilitas Negara.

Awam pada umumnya mengira ketika membayar retribusi, mereka juga telah membayar pajak. Hal ini disebabkan masyarakat lebih sering bersinggungan dengan pembayaran retribusi daripada pajak, seperti retribusi pelayanan kesehatan, retribusi parkir, dan retribusi pengujian kendaraan bermotor.

Retribusi adalah pungutan yang dikenakan kepada masyarakat atau warga yang menggunakan fasilitas yang disediakan Negara.

(48)

Dalam istilah lain, retribusi adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas pemberian izin tertentu atau jasa yang diberikan atau disediakan Pemerintah Daerah untuk kepentingan pribadi atau badan. Retribusi dikelola langsung oleh Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda).

Persamaan antara pajak dan retribusi adalah keduanya merupakan bentuk pungutan yang dibebankan kepada masyarakat.

Keduanya memiliki sifat yaitu sama-sama bisa dipaksakan sehingga Wajib Pajak atau masyarakat dapat memanfaatkan fasilitas daerah.

Selain itu, pajak dan retribusi sama-sama dijalankan demi tercapainya kesejahteraan.

Perbedaan Pajak dan Retribusi

Agar dapat memahami pajak dan retribusi dengan mudah, Anda juga perlu mengetahui perbedaan di antara keduanya.

1. Poin pertama yang membedakan antara pajak dan retribusi dilihat dari dasar hukum yang memayungi keduanya. Untuk pajak, dasar hukumnya adalah undang-undang seperti tercantum pada UU No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, UU No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan, dan UU No. 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah. Sementara payung hukum retribusi adalah adanya Peraturan Pemerintah (PP), Peraturan Menteri, atau pejabat negara yang lebih rendah. Contohnya, Peraturan Daerah (Perda) Kota Malang No. 3 Tahun 2015 tentang Retribusi Jasa Umum dan Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta No. 1 Tahun 2015 tentang

(49)

Perubahan Atas Peraturan Daerah No. 3 Tahun 2012 tentang Retribusi Daerah.

2. Poin kedua yang membedakan antara pajak dan retribusi adalah balas jasa yang didapatkan Wajib Pajak atau masyarakat. Bagi Wajib Pajak, setelah melakukan pembayaran atas kewajiban pajaknya, Wajib Pajak tidak dapat langsung menikmati balas jasanya. Akan tetapi, dikumpulkan terlebih dahulu untuk kemudian didistribusikan untuk kepentingan umum. Sementara masyarakat yang membayar retribusi akan dapat langsung menikmati manfaat dari apa yang dibayar. Misalnya, dengan membayar uang parkir, orang tersebut berhak untuk menitipkan motor atau kendaraannya.

3. Poin ketiga, pembeda antara pajak dan retribusi adalah objek yang dikenakan pajak atau retribusi. Beberapa hal yang bisa dikenakan pajak adalah penghasilan, kekayaan, laba perusahaan, dan kendaraan. Sementara objek yang dikenai retribusi adalah orang-orang tertentu yang menggunakan jasa pemerintah, seperti pelayanan kesehatan, terminal, dan pelayanan pasar.

4. Poin keempat, pajak dan retribusi tidak dipungut lembaga yang sama. Untuk pembayaran pajak, Pemerintah Pusat ataupun Daerah yang langsung mengelolanya. Sementara retribusi hanya dikelola Pemerintah Daerah, yang dalam hal ini adalah Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda).

(50)

INSTRUMEN KEBIJAKAN PUBLIK Definisi Instrumen Kebijakan

Kebijakan publik merupakan upaya yang dilandasi pemikiran rasional untuk mencapai suatu tujuan ideal di antaranya adalah untuk mendapatkan keadilan, efesiensi, keamanan, kebebasan, serta tujuan-tujuan dari suatu komunitas itu sendiri (Stone dalam Eddi W, Hessel Nogi S. Tangkilisan, 2004:47). Keadilan dalam konteks ini diartikan sebagai memperlakukan seolah-olah seperti sama, sedangkan efesiensi diartikan usaha mendapatkan output terbanyak dari sejumlah input tertentu. Keamanan diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan sesuatu yang diinginkan sepanjang tidak mengganggu individu lain.

Heinz Eulau dan Kenneth Prewitt, 1973 dalam Leo Agustino (2006:6) dalam perspektif mereka mendefinisikan kebijakan publik sebagai keputusan tetap yang dicirikan dengan konsistensi dan pengulangan (repitisi) tingkah laku dari mereka yang membuat dan dari mereka mematuhi keputusan. (Heinz Eulau , Kenneth Prewitt, Leo Agustino 2006:6). Carl Friedrich, 1969 dalam Leo Agustino (2006:7) mengatakan bahwa kebijakan adalah serangkaian tindakan/kegiatan yang diusulkan oleh seseorang, kelompok, atau pemerintah dalam suatu lingkungan terutama di mana terdapat hambatan-hambatan dan kemungkinan-kemungkinan di mana kebijakan tersebut diusulkan agar berguna dalam mengatasinya untuk mencapai tujuan yang diamaksud.

(51)

Sementara, Bridgman dan Davis, 2005 dalam Edi Suharto (2007:3) menerangkan kebijakan publik pada umumnya mengandung pengertian mengenai whatever government choose to do or not to do yang artinya, kebijakan publik adalah ‘apa saja yang dipilih oleh pemerintah untuk dilakukan atau tidak dilakukan’. Hogwood dan Gunn, 1990 Edi Suharto (2007:4) menyatakan bahwa kebijakan publik adalah seperangkat tindakan pemerintah yang didesain untuk mencapai hasil-hasil tertentu. Ini tidak berarti bahwa makna

‘kebijakan’ hanyalah milik atau dominan pemerintah saja. Organisasi- organisasi non-pemerintah, seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Organisasi Sosial (Misalnya Karang Taruna, Pendidikan Kesejahtraan Keluarga/PKK) dan lembaga - lembaga sukarela lainnya memiliki kebijakan-kebijakan pula.

Bridgeman dan Davis, 2004 dalam Edi Suharto (2007:5) menerangkan bahwa kebijakan publik setidaknya memiliki tiga dimensi yang saling bertautan, yakni sebagai tujuan (objective), sebagai pilihan tindakan yang legal atau sah secara hukum(authoritative choice), dan sebagai hipotesis (hypothesis).

Siti Kurnia Rahayu mengutip pengertian kebijakan negara yang dikemukakan oleh Harol D. Lasswell dan Abraham Kaplan sebagai a projected program of goals, values and practices. Juga sebagai sebuah program pencapaian tujuan, nilai-nilai dan praktek-praktek yang terarah. (Lauddin Marsuni, 2006).

Jadi, kebijakan publik memang merupakan aktivitas politik di mana kebijakan yang diambil oleh pemerintah lebih mencerminkan pertarungan politik di antara berbagai elemen masyarakat. Dengan

(52)

demikian siapa yang mampu mempengaruhi elemen-elemen politik melalui berbagai saluran politik, merekalah yang akan mampu merealisasikan kepentingan-kepentingan mereka. Instrumen kebijakan publik sebaiknya jangan mempersulit keadaan untuk rakyat kecil, karena tujuan utamanya untuk menyejahterakan rakyat.

Seperti sudah dipaparkan sebelumnya, instrumen kebijakan memiliki beraneka ragam bentuk, seperti Intrumen Sukarela, Keluarga dan Masyarakat, Organisasi Sukarela, Pasar, Wajib Instrumen, Peraturan, Perusahaan Umum, Arah Penyisihan, Campuran Instrumen, Informasi dan Seruan, Subsidi, Lelang Hak Kekayaan, Pajak dan retribusi . Pilihan terhadap jenis instrument tersebut tentu sangat tergantung pada berbagai pertimbangan, seperti jenis kebijakan dan tujuan yang akan diwujudkan. Menurut Howlett dan Ramesh, (1995), kebijakan ini dapat diklasifikasikan kedalam tiga garis besar yaitu:

Compulsory Instruments (Kebijakan Wajib), Voluntary Instruments, (Kebijakan Sukarela), dan Mixed Instruments (Kebijakan Campuran).

Mengacu dari spektrum instrumen kebijakan yang dikemukakan oleh Hawlett dan Remish (1995), kebijakan campuran merupakan transisi dari keterlibatan pemerintah yang pasif dengan keterlibatan pemerintah yang aktif terkait otoritasnya. Kebijakan campuran penekanannya pada keterlibatan pemerintah yang berada antara tidak terlibat sama sekali dengan posisi pemerintah sebagai aktor utama dalam kebijakan. Dengan keputusan akhir tetap berada ditangan aktor-aktor non pemerintah, oleh karenanya kebijakan campuran ini dapat digunakan untuk mendorong perilaku yang diinginkan atau perilaku yang tidak diinginkan.

(53)

Klasifikasi Instrumen Kebijakan Publik

Kebijakan instrumen publik merupakan proses penggunaan kewenangan negara yang bereksperimen terhadap nasib orang banyak. Dari pemaknaan tersebut, para ilmuwan cenderung melakukan simplifikasi terhadap teori kebijakan publik sehingga mengakibatkan permasalahan di level implementasi. Para ilmuwan telah banyak melakukan pemaknaan terhadap kebijakan publik tersebut namun sebagian besar proses itu bias ilmuwan dan justru dimanfaatkan sebagai instrumen bagi kenyamanan penguasa.

Setidaknya terdapat empat lapis pemaknaan dari kebijakan publik.

1. Memahami kebijakan publik sebagai decision making

2. Kebijakan dimaknai sebagai serangkaian fase kerja pejabat publik

3. Kebijakan publik bisa berupa intervensi sosio kultural dengan mendayagunakan berbagai instrumen untuk mengatasi persoalan publik

4. Bagaimana memahami kebijakan publik sebagai interaksi negara dengan rakyatnya dalam rangka mengatasi persoalan publik Melalui keempat lapis pemaknaan di atas, berikut klasifikasi terhadap pemaknaan yang telah banyak dilakukan para ilmuwan dalam teori-teori kebijakan publiknya. Klasifikasi tersebut akan menunjukkan bahwa sebagian besar ilmuwan masih banyak yang justru mereduksi esensi kebijakan publik sebatas pada lapis pemaknaan yang sempit.

(54)

Kebijakan publik selalu berhubungan dengan keputusan- keputusan pemerintah yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat melalui instrumen-instrumen kebijakan yang dimiliki oleh pemerintah berupa hukum, pelayanan, transfer dana, pajak dan anggaran-anggaran. Graham Allison(1971) dalam Lele (1999) menulis, kebijakan publik merupakan hasil kompetisi dari berbagai entitas atau departemen yang ada dalam suatu negara dengan lembaga- lembaga pemerintahan sebagai aktor utamanya yang terikat oleh konteks, peran, kepentingan, dan kapasitas organisasionalnya.

Menurut Carl Friedrich, kebijakan publik adalah suatu arah tindakan yang diusulkan oleh seseorang, kelompok atau pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu yang memberikan hambatan- hambatan dan kesempatan-kesempatan terhadap kebijakan yang diusulkan untuk menggunakan dan mengatasi dalam rangka mencapai suatu tujuan atau merealisasikan suatu sasaran atau maksud tertentu. Dalam hal ini, pemerintah berhak memberi hambatan dan kesempatan terhadap kebijakan tersebut. Pemerintah masih bisa dikatakan otoritatif meskipun kebijakan tersebut memiliki tujuan dan sasaran demi kepentingan masyarakat. Kebijakan publik merupakan arahan-arahan yang bersifat otoritatif untuk melaksanakan tindakan- tindakan pemerintahan di dalam yurisdiksi nasional, regional, dan lokal.

William N. Dunn merumuskan, kebijakan publik adalah pedoman yang berisi nilai-nilai dan norma-norma yang mempunyai kewenangan untuk mendukung tindakan-tindakan pemerintah dalam wilayah yurisdiksinya. Selanjutnya, Anderson mengatakan bahwa

(55)

public policies are those policies developed by governmental bodies and official (kebijakan negara adalah kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dikembangkan oleh badan dan pejabat-pejabat pemerintah).

Charles OJones, istilah kebijakan (policy term) digunakan dalam praktik sehari-hari namun digunakan untuk menggantikan kegiatan atau keputusan yang sangat berbeda. Istilah ini sering dipertukarkan dengan tujuan (goals), standard, proposal, dan grand design.

FORMULASI KEBIJAKAN PUBLIK Formulasi Masalah Kebijakan Publik

Perumusan (formulasi) kebijakan publik merupakan salah satu tahap dari rangkaian proses pembuatan dan pelaksanaan suatu kebijakan publik. Setelah tahapan agenda setting dilalui atau suatu isu telah masuk agenda pemerintah, maka tahapan berikutnya adalah membuat formulasi kebijakan. Beberapa ahli mengemukakan definisi kebijakan publik sebagai berikut:

Anderson yang dikutip oleh Nugroho, menyebut policy formulation is, “The development of patinent and acceptable proposal courses of action for dealing with problem”. Formulasi kebijakan menyangkut upaya menjawab pertanyaan bagaimana berbagai alternatif disepakati untuk masalah yang dikembangkan dan siapa yang berpartisipasi. Sementara Dunn mengatakan, perumusan kebijakan (policy formulation) adalah, “pengembangan dan sintesis terhadap alternatif-alternatif pemecahan masalah”.

(56)

Menurut Eugene, The complete formulation is ‘Alternative will very probably lead to Outcome, which we judge to be the best of the possible outcomes; therefore, we judge a alternative to be the best.”

Formulasi yang lengkap adalah menentukan alternatif yang mungkin untuk dibuat kebijakan, di mana kita menilai (mencari) yang terbaik dari kemungkinan yang ada; oleh sebab itu, kita mencari s

Referensi

Dokumen terkait

•• PROCEDURAL FAIRNESS yaitu sampai seberapa PROCEDURAL FAIRNESS yaitu sampai seberapa jauh orang yang terkena dampak kebijakan publik jauh orang yang terkena dampak kebijakan

Lingkungan kebijakan publik dalam Subarsono (2010: 98) memiliki beberapa karakteristik yaitu kondisi sosial ekonomi masyarakat dan tingkat kemajuan teknologi, dukungan

Analisis Kebijakan Publik , Yogyakarta., Gadjah Mada University Press.. Menjelaskan relasi dan pengaruh budaya terhadap produk Kebijakan Publik Mengetahui Faktor-

 benar-benar sesuai dengan kebutuhan publik.seringkali hanya ada  perencanaannya saja publik dilibatkan.hasilnya memang kebijakan tersebut ditujukan untuk publik

• DIMENSI KEBIJAKAN PUBLIK PROSES KEBIJAKAN: MENGKAJI PROSES PENYUSUNAN KEBIJAKAN: IDENTIFIKASI, PERUMUSAN MASALAH, IMPLEMENTASI, MONITORING, EVALUASI KEBIJAKAN.. ANALISIS

Jejaring Kebijakan Dalam Perumusan Kebijakan Publik Suatu Kajian Tentang Perumusan Kebijakan Penanggulangan Banjir dan Rob Pemerintah Kota Semarang.. Jurnal Delegasi STIA

3 Dalam kerangka pemikiran James Andersen tentang beberapa implikasi dari konsep kebijakan publik, konsep kebijakan publik dalam Permenpan tersebut tersebut termasuk dalam kebijakan

Kebijakan publik mencakup sesuatu yang tidak dilakukan oleh pemerintah saat menghadapi masalah