• Tidak ada hasil yang ditemukan

Minat Membaca Al-Quran

BAB I PENDAHULUAN

F. Kerangka Teori

2. Minat Membaca Al-Quran

24

sehingga terjadilah proses modeling dari seorang guru kepada siswanya.

Jadi, keempat tahapan tersebut harus dilaksanakan secara bertahap dan teratur. Karena antara satu dengan yang lainnya memiliki keterkaitan untuk mempermudah proses konseling dengan menggunakan teknik modeling.

2. Minat Membaca Al-Quran

25

tersebut untuk memberikan perhatian yang lebih serta konsentrasi terhadap apa yang dipelajarinya.

Dalam mencapai segala tujuan dan berhasilnya segala sesutau dalam proses belajar mengajar, maka minat merupakan salah satu faktor yang memegang peranan penting sebagaimana diungkapkan Slameto :

Minat sangat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya ia segan-segan untuk belajar, ia tidak memperoleh kepuasaan dari pelajaran itu. Bahan pelajaran yang menarik siswa, lebih mudah dipelajari dan disimpan, karena minat menambah kegiatan belajar.

Kemampuan baca Al Qur‟an adalah taraf kemampaun santri dalam menguasai pengetahuan dan keterampilan dalam membunyikan, menggambarkan atau menuliskan huruf-huruf Al Qur‟an. Dengan demikian kemampuan membaca Al Qur‟an adalah kemampuan atau kesanggupan melafalkan tulisan pada kitab suci Al Qur‟an.

Dalam agama Islam, banyak sekali dalil maupun hadits yang menyeru untuk perintah dalam mendidik meningkatkan minat dalam belajar. Salah satu diantaranya yakni hadits Rasulullah SAW yang berbunyi sebagai berikut:

26

( يراخب هاور ) هولعو ى ارقلا نلعت يه نكريخ

Artinnya: “Yang terbaik diantara kalian adalah yang belajar Al- Qur’an dan mengajarkannya.

Hadits tersebut menerangkan bahwa pentingnya mendidik untuk membangun minat peserta didik dalam beajar, terutama dalam membaca Al-Qur‟an. Oleh karenanya, kamampuan pendidik tidak hanya sebatas kemampuan menguasai materi, kelas, dan metode.

Seorang pendidik juga harus menguasai teknik yang digunakan saat proses belajar mengajar. Penggunaan teknik yang tepat dapat meningkatkan minat peserta didik dalam belajar, sebaliknya penggunaan media pembelajaran yang tidak tepat, monoton dan tidak bervariasi cenderung menghasilkan kegiatan belajar mengajar yang membosankan bagi peserta didik.

Tidak adanya minat seseorang anak terhadap suatu pelajaran akan timbul kesulitan belajar. Ada tidaknya minat terhadap sesuatu pelajaran dapat dilihat dari cara anak mengikuti pelajaran, lengkap tidaknya catatan, memperhatikan garis miring tidaknya dalam pelajaran itu.

b. Proses Terjadinya Minat

Kondisi belajar mengajar yang efektif adalah adanya minat dan perhatian siswa dalam belajar. Karena minat merupakan suatu sifat

27

yang menetap pada diri seseorang, dalam hal ini besar pengaruhnya terhadap belajar, sebab dengan minat seseorang akan melakukan sesuatu sesuai dengan yang diminatinya, dalam hal ini dikatakan bahwa ”keterlibatan siswa dalam belajar erat kaitannya dengan sifat- sifat murid, baik yang bersifat kognitif seperti kecerdasan dan bakat, maupun bersifat afektif seperti motivasi, rasa percaya diri dan minatnya”.30

Adanya minat pada seseorang memungkinkan ketertiban yang lebih besar dalam sesuatu kegiatan. Minat dapat di pahami untuk menunjukkan kekuatan motif yang menyebabkan seorang memberikan perhatian kepada orang, benda, aktivitas tertentu. Minat menggambarkan alasan-alasan mengapa seorang lebih tertarik kepada benda, dan aktivitas tertentu.

Slameto menyatakan bahwa minat adalah suatu rasa pada suatu hal atau aktivitas. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara dirinya dengan suatu diluar dirinya, semakin kuat atau manifestasinya dalam perbuatan atau tingkah laku. Minat dibentuk melalui perhatian dan belajar. Apabila seorang memperhatikan suatu hal secara sukarela dan cenderung untuk mengingatnya, maka yang di ingatnya tersebut merupakan petunjuk

30 M. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT. Remaja Rodsa Karya, 1996), hlm. 27.

28

dari munculnya minat. Minat bersifat pribadi atau berkaitan dengan perbedaan individual dan berkembang sejak awal kanak-kanak. Pada mulanya aktivitas ini bersifat biologis, tetapi kemudian muncul suatu persepsi dan konsep yang merupakan komponen psikologis yang penting.

c. Macam-macam Minat

Dalam mencapai segala tujuan dan berhasilnya segala sesutau dalam proses belajar mengajar, maka minat merupakan salah satu faktor yang memegang peranan penting sebagaimana diungkapkan Slameto:

Minat sangat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya ia segan-segan untuk belajar, ia tidak memperoleh kepuasaan dari pelajaran itu. Bahan pelajaran yang menarik siswa, lebih mudah dipelajari dan disimpan, karena minat menambah kegiatan belajar.31

Tidak adanya minat seseorang anak terhadap suatu pelajaran akan timbul kesulitan belajar. Ada tidaknya minat terhadap sesuatu pelajaran dapat dilihat dari cara anak mengikuti pelajaran, lengkap

31 Ibid., hlm. 57.

29

tidaknya catatan, memperhatikan garis miring tidaknya dalam pelajaran itu.32

Selain itu minat belajar pada anak didik dapat dilihat dengan adanya fenomena-fenomena atau gejala-gejala yang nampak atau dilakukan oleh anak didik selama proses belajar atau sebelum pelajaran dimulai. Antara lain dengan mengajukan pertanyaan secara tak henti-hentinya. ”Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan si murid merupakan pertanda bahwa ia memiliki kesediaan belajar serta kesadaran akan masalah yang dihadapi”. Ketiadaan minat terhadap suatu mata pelajaran menjadi pangkal penyebab kenapa anak didik tidak bergeming untuk mencatat apa-apa yang telah disampaikan oleh guru. 33

Dengan demikian apabila seorang siswa sudah memiliki minat terhadap mata pelajaran, maka akan dapat terlihat dari keaktifan siswa tersebut dalam proses belajar dan dengan senang hati ia mengikuti mata pelajaran, kemudian siswa tersebut akan aktif untuk bertanya maupun menjawab pertanyaan pelajaran. Dengan demikian maka akan berhasil seseorang dalam belajar dengan prestasi yang baik karena

32 Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (Jakarta :Rineka Cipta, 2004), hlm. 83.

33 Kurt Singer, Membina Hasrat Belajar Disekolah, (Bandung: Remaja Karya, CV, 1987), hlm. 94.

30

dipengaruhi oleh minat belajar yang baik, sehingga mendorong siswa untuk belajar lebih rajin.

d. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Minat

Kondisi belajar mengajar yang efektif adalah adanya minat dan perhatian siswa dalam belajar. Karena minat merupakan suatu sifat yang menetap pada diri seseorang, dalam hal ini besar pengaruhnya terhadap belajar, sebab dengan minat seseorang akan melakukan sesuatu sesuai dengan yang diminatinya, dalam hal ini dikatakan bahwa ”Keterlibatan siswa dalam belajar erat kaitannya dengan sifat- sifat murid, baik yang bersifat kognitif seperti kecerdasan dan bakat, maupun bersifat afektif seperti motivasi, rasa percaya diri dan minatnya”.34

Minat belajar siswa erat kaitannya dengan hasil belajar yang ingin dicapai, oleh karena itu ada beberapa faktor yang mempengaruhi belajar siswa untuk dapat mendorong terhadap minat belajar. Menurut slameto faktor-faktor tersebut antara lain :

1) Faktor intern - Faktor jasmani - Faktor psikologi - Faktor kelelahan

34 M. Uzer Usman, Menjadi Guru.., hlm. 27.

31 2) Faktor ekstern

- Faktor keluarga - Faktor masyarakat.

Sedangkan Abdul Rahman Shaleh mengmukakan bahwa cukup benyak faktor-faktor dapat mempengaruhi timbulnya minat terhadap sesuatu, dimana secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu yang bersumber dari dalam diri individu yang bersangkutan dan yang berasal dari luar mencakup lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat.

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa yang menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi minat adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor-faktor yang timbul dari individu yang bersangkutan. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor- faktor yang timbul dari luar individu mencakup lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.

e. Indikator Minat

Minat merupakan suatu kecenderungan untuk memberikan perhatian dan bertindak terhadap orang, aktifitas atau situasi yang menjadi objek dari minat tersebut dengan disertai perasaan senang”.35 Zakiah Daradjat mengemukakan bahwa minat adalah kecenderungan jiwa yang tetap kejurusan sesuatu hal yang berharga bagi seseorang.

35 Abdur Rahman Shaleh dan Muhbib Abdul Wahab, Psikologi Suatu., hlm. 263.

32

Sesuatu yang berharga bagi seseorang adalah yang sesuai dengan kebutuhannya.36 Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi minat : 1) Rasa senang

2) Rasa tertarik 3) Perhatian 4) Partisipasi

5) Keinginan/kesadaran

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa minat adalah suatu kecenderungan hati/jiwa atau kepentingan kepada sesuatu yang timbul dalam diri individu karena sesuatu itu sangat berharga atau sangat penting untuk kebutuhannya. Adanya minat akan mendorong siswa tersebut untuk memberikan perhatian yang lebih serta konsentrasi terhadap apa yang dipelajarinya.

f. Metode Untuk Meningkatkan Minat Membaca Al-Qur’an

Metode merupakan bagian dari strategi, artinya sesuatu teknik atau cara yang tersusun secara sistematis untuk melakukan suatu pekerjaan atau kegiatan yang sudah direncanakan dalam strategi. Ada beberapa metode yang bisa digunakan guru untuk meningkatkan minat santri dalam membaca Al-Qur‟an, diantaranya adalah:

36 Zakiah Daradjat, Metodik Khusus Pengajaran.., hlm. 133.

33 1. Metode ceramah

Metode ceramah yaitu metode dengan memberikan uraian atau penjelasan kepada sejumlah santri pada waktu dan tempat tertentu.

Dengan kata lain, metode ini merupakan sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan kepada santri yang pada umumnya mengikuti secara pasif. Seperti santri yang kurang aktif dalam belajar atau yang bersifat menerima saja apa yang disampaikan guru. Sebagai tahap awal metode ini sangat membantu para santri untuk memahami arti dari ayat-ayat Al-Qur‟an dan pembelajaran.

Dalam menggunakan metode ceramah ini guru menginstruksikan kepada santri untuk mendengar dan memperhatikan. Karena diharapkan dengan mendengar dan memperhatikan santri mampu mencerna informasi atau penjelasan yang disampaikan oleh guru. Namun tidak jarang guru melakukan pengulangan pada santri anak-anak maupun dewasa yang kurang paham. Metode ceramah ini sangat diminati oleh santri dikalangan ibu-ibu dan bapak-bapak karena dengan metode ini mereka mendapat ilmu atau pemahaman dari Al-Qur‟an.

Metode ceramah diberlakukan untuk semua para santri.

Metode ini digunakan setiap kali pertemuan misalnya guru memberikan penjelasan tentang Al-Qur‟an, bercerita tentang

34

akhlak dan kebaikan orang-orang muslim atau ilmu tajwid kepada santri biasanya terdapat pada akhir jam pembelajaran di kelas atau disela-sela proses pembelajaran membaca atau menghafal Al- Qur‟an di dalam kelas.

2. Metode pemberian tugas

Metode pemberian tugas dimaksudkan disini adalah memberikan tugas seperti menghafal ayat untuk penghafalan Al- Qur‟an kepada semua santri. Untuk metode pemberian tugas ini sangat membantu santri menghafal sesuai kemampuannya, namun dalam memberikan tugas santri tidak dipaksa untuk menghafal sekian juz dari guru tapi santri menghafal sesuai kemampuannya atau untuk melanjutkan hafalannya. Dengan membiasakan mengulang hafalan maka jika tidak diulang kembali sebelum menambah hafalan tersebut akan lupa.37

3. Metode diskusi/tanya jawab

Metode tanya jawab yaitu cara penyampaian suatu pelajaran melalui interaksi dua arah dari guru kepada santri atau dari santri kepada guru agar diperoleh jawaban kepastian penjelasan melalui lisan guru atau santri. Metode diskusi/tanya jawab ada pada saat guru memberikan waktu senggang. Seperti di akhir proses belajar

37 Husna Welly Anggraini, Komunikasi Instruksional Guru dalam Meningkatkan Minat Membaca dan Mengafal Al-Qur’an di Maqdis Kota Duri Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis, dalam jurnal JOM FISIP, Vol 3, No 2, Oktober 2016, hlm 12.

35

mengajar atau di sela-sela waktu yang pas untuk tanya jawab. Dan kesempatan itu dimanfaatkan oleh semua santri untuk bertanya tentang ilmu tajwid. Namun untuk para guru yang menjawab pertanyaan tentang Al-Qur‟an atau ilmu tajwid, mereka menjawab pertanyaan sesuai kemampuan atau ilmu mereka masing-masing karena kalau menjawab sesuatu yang tidak diketahuinya akan menimbulkan kesalahpahaman atau tidak sesuai dengan hadis karena ilmu tidak boleh disampaikan tanpa diketahui kebenarannya atau tidak termasuk dalam hadits Al-Qur‟an.

4. Metode tasmi‟

Metode tasmi‟/ mendengarkan adalah metode yang diberikan secara khusus untuk membaca dan menghafal Al-Qur‟an untuk santrinya yang dilakukan dengan cara guru yang membaca kemudian santri yang mengikuti.

5. Metode murajaah

Metode murajaah adalah metode khusus yang diberikan guru dengan mengulang semua hafalan yang sudah dihafal para santri.

Metode ini diterapkan agar santri tidak lupa dengan hafalan mereka, walaupun menambah hafalan mereka harus sering mengulang-ulang hafalan mereka dari awal sampai akhir dengan

36

bantuan guru yang mengingatkan kembali ayat-ayat atau hafalan yang lupa.38