BAB I PENDAHULUAN
F. Kerangka Teori
2. Model dan Teknik supervisi
antara lain: 1) Melaksanakan pengawasan untuk menjaga kualitas belajar mengaja rmelalui monitoring kegiatan proses belajar mengajar di sekolah. 2) Mengembangkan professional guru yang dapat membantu guru mengembangkan kemampuannya dalam mengelola kehidupan kelas, mengembangkan ketrampilan metode mengajarnya dan menggunakan teknik mengajar yang lebih efektif dan menyenangkan. 3) Memberikan motivasi agar proses pembelajran menjadi lebih baik serta mendorong guru agar ia memiliki perhatian yang sunguh-sungguh (commitment) dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.24
Menurut Sahertian dan Mataheru, secara operasional dapat dikemukakan tujuan konkrit dari supervisi, antara lain: (1) Membantu guru melihat dengan jelas tujuan-tujuan pendidikan, (2) Membantu guru dalam menggunakan sumber-sumber pengalaman belajar, (3) Membantu guru dalam membimbing pengalaman belajar murid, (4) Membantu guru dalam menggunakan methode dana alat pelajaran modern, (5) Membantu guru dalam memenuhi kebutuhan belajar murid, (6) Membantu guru dalam menilai kemajuan murud dan hasil pekerjaan guru itu sendiri, (7) Menbantu guru dalam membina reaksi mental atau moral kerja guru dalam rangka petumbuhan pribadi dan jabatan mereka, 8) Membantu guru baru di sekolah sehingga mereka merasa gembira dengan tugas yang diperolehnya, (9) Membantu guru agar waktu dan tenaga guru tercurahkan sepenuhnya dalam pendidikan dan pengajaran, dan (10) Membantu guru-guru agar lebih mudah mengadakan penyesuaian terhadap masyarakat dan cara-cara menggunakan sumber-sumber masyarakat seterusnya.25
MODEL SUPERVISI
Supervisi Konvensional (Tradisional)
Supervisi Artistik Supervisi
Ilmiah
Supervisi Klinis
1. Supervisor cenderung mencari kesalahan 2. terkesan
mematai-matai para guru 3. guru bersikap
tidak mau tau, acuh, masa bodoh dan bisa jadi menentang dengan
kehadiran supervisor
1. Menekankan pada bahasa
penerimaan.
2. Membangun kepercayaan dan slaing
menghormati dan serta menghargai, 3. Berbagi
pengalaman apa adanya.
4. Terciptanya rasa aman, dorongan positif untuk berusaha lebih baik lagi.
1. Butuh
perencanaan dan persiapan yang matang serta taat prosedur yang sistematis 2. Menggunakan
instrument yang tepat
3. Berusaha mendapatkan informasi atau data yang didapatkan supervisor itu riil adanya
Membantu guru dalam
mengembangkan professional, aksi mengajar di kelas berdasarkan
perubahan tingkah laku.
Secara teknis melalui 3 fase yaitu:
1. pertemuan perencanaan, 2. observasi kelas,
dan 3. pertemuan
balikan
berkaitan dengan administrasi sekolah sedangkan supervisi akademik lebih mengarah pada peningkatan kualitas pembelajaran.
Sahertian (2000) menyatakan beberapa model supervisi Pendidikan sebagai berikut:26
Gambar 1.1:
Model Supervisi Pendidikan dari Sahertian (2000) a. Model Supervisi Konvensional (Tradisional)
26 Donni Juni Priansa & Sonny Suntani Setiana, Manajemen Dan Supervisi Pendidikan (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2018), 172.
Model ini tidak lain refleksi dari kondisi masyarakat pada suatu saat. Pada saat kekuasaan yang otoriter dan feodal, akan berpengaruh pada sikap pemimpin yang otokrat dan korektif. Pemimpin cenderung untuk mencari kesalahan. Perilaku supervisi selalu mengadakan inspeksi untuk mencari dan menemukan kesalahan bahkan sering berprilaku memata-matai (snoopervision). Sering juga disebut sebagai supervisi yang korektif.27
Pelaksanaan supervisi ini sangat mudah jika hanya untuk mengoreksi atau mencari kesalahan yang dilakukan guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, akan tetapi nilai-nilai positif dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru sulit ditemukan.
Jika perilaku pemimpin tersebut dipertahankan dengan alasan menjaga kewibawan atau kekuasaannya disekolah, maka akibatnya guru-guru merasa tidak puas dengan perlakuan itu. Bahkan mungkin guru akan tidak peduli (masa bodoh) dan menimbulkan sifat menantang terhadap pimpinan. Praktik seperti ini masih sering dilakukan oleh supervisor yang konvensional, yang masuk kekelas dengan tidak memberitahukan terlebih dahulu dan menanyakan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
Mengoreksi kesalahan memang perlu, tetapi lebih baik dikomunikasikan terlebih dahulu kepada guru.28
Berdasarkan uraian di atas memberikan arti bahwa model supervisi konvensional/tradisional seorang pemimpin cendrung mencari kesalahan/kekeliruan yang dilakukan oleh bawahan, sehingga menciptakan ketidakpuasan terhadap hasil supervisi yang dilakukan.
b. Model Ilmiah
Model supervisi ilmiah dilaksanakan secara berencana, kontinu, sistematis, serta menggunakan prosedur
27Priansa dan Setiana, Manajemen dan Supervsisi, 228.
28Priansa dan Setiana, Manajemen dan Supervsisi,229
dan Teknik tertentu, menggunakan instrument sebagai pengumpul data, dan data yang objektif sesuai dengan keadaan yang riil.
Agar mendapatkan gambaran yang obyektif, diperlukan rencana dan persiapan yang matang, menaati aturan dan Langkah-langkah yang sistematis dengan menggunakan instrument pengumpulan data dan alat penilaian yang tepat agar memperoleh hasil yang riil.
Adapun ciri-cirinya menurut Sahertian adalah:29 1) terencana dan berkelanjutan.
2) Sistematis dengan menggunakan prosedur dan metode atau teknik tertentu.
3) Menggunakan instrumen pengumpulan data yang tepat.
4) Membuat alat penilaian berupa angket yang mudah dijawab.
5) Penyebaran angket kepada siswa dan atau guru sejawat.
6) Data atau informasi yang objektif diperoleh dari keadaan yang riil.
c. Model Supervisi Klinis
Supervisi klinis merupakan bentuk supervisi yang difokuskan pada peningkatan kualitas belajar mengajar melalui siklus yang sistematis, terencana, pengamatan, serta analisis yang intensif dan cermat tentang penampilan belajar yang nyata, serta bertujuan mengadakan perubahan dengan cara yang rasional.30
Richard Waller menjelaskan definisi supervisi klinis sebagaimana dikutip dalam John J. Bolla sebagai berikut:
29 Jasmani dan Mustofa, Syaiful, Supervisi Pendidikan: Terobosan Baru Dalam Peningkatan Kinerja Pengawas Sekolah Dan Guru (Jogjakarta: Ar- Ruzz Media, 2013), 96.
30 Donni Juni Priansa & Sonny Suntani Setiana, Manajemen Dan Supervisi Pendidikan (Bandung: CV.Pustaka Setia, 2018), 231.
“Clinical Supervision may be defined as supervision focused upon the improvement of instruction by mean of systematic cycles of planning, observation, and intensive analiysis of actual teaching performance in interest of rational modification”
Supervisi klinis adalah bentuk supervisi yang difokuskan pada perbaikan dan peningkatan pembelajaran melalui siklus yang sistematis, mulai dari tahap perencanaan, pengamatan, dan analisis yang intensif terhadap penampilan pembelajarannya dengan tujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran).31
Ada dua asumsi dijadikan sebagai dasar praktek supervisi klinis. Pertama, pengajaran merupakan aktivitas yang sangat kompleks yang memerlukan perhatian, pengamatan dan analisis secara hati-hati, melalui pengamatan dan analisis ini, supervisor akan mudah mengembangkan kemampuan guru mengelola proses belajar mengajar. Kedua, guru-guru yang ingin mengembangkan profesionalnya lebih menghendaki cara yang kolegial dari pada cara yang autoritarian.32
Supervisi klinis sebagai suatu sistem instruksional yang menggambarkan perilaku supervisor untuk berinteraksi secara langsung dengan guru atau kelompok guru untuk memberikan dukungan, membantu dan melayani guru untuk meningkatkan hasil kinerja guru dalam mendidik para siswa. Snyder dan Anderson 1986 mengatakan supervisi klinis adalah suatu teknologi perbaikan pengajaran, tujuan yang dicapai, dan memadukan kebutuhan sekolah dan pertumbuhan personal.33 Sejalan
31 John. J. Bolla, Supervisi Klinis (Jakarta: Departemen P dan K, Ditjen Pendidikan Tinggi (PPLPK), 1985),19.
32 Bafadal, Supervisi Pengajaran: Teori Dan Aplikasinya Dalam Membina Profesional Guru, 89-90.
33 Sagala Saiyful, Supervisi Pembelajaran Dalam Profesi Pendidikan Cet.2 (Bandung:
Alfabeta, 2010), 194.
dengan pendapat tersebut sebagaiamana yang dikutif oleh Cogan menyatakan bahwa:
The rational and practice designe to improve the teacher’s classroom performance. It takes its principle data from the events of classroom. The analysis of these data and the relationship between teacher and supervisor from basis of the program, procedures, and strategies desidned to improve the student’s learning by improving the teacher’s classroom behavior.
Supervisi klinis pada dasarnya dirancang untuk meningkatkan performance atau kegiatan guru di dalam kelas, dengan asumsi bahwa analisis data mengenai kegiatan di dalam kelas, hubungan antara guru dan supervisor merupakan program, prosedur dan strategi dalam meningkatkan dan mengembangkan proses belajar.
Sedangkan menurut Oliva (1984) ada tiga aktivitas esensial dalam proses supervisi klinis yaitu: 1) Kontak dan komunikasi dengan guru untuk merencanakan observasi klinis, 2) Observasi Kelas, dan 3) Tindak lanjut observasi kelas.34
Goldhammer, Anderson dan Krajewsky (1981) berpendapat bahwa dalam supervisi klinis melalui lima proses kegiatan yang dilakukan yang disebut dengan sequence of supervision, yaitu: 1) Pertemuan sebelum observasi, 2) observasi, 3) Analisis dan Strategi, 4) Pertemuan supervisi, dan 5) Analisis sesudah pertemuan supervisi.35
Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa supervisi klinis adalah suatu proses bimbingan yang bertujuan membantu pengembangan profesional guru, dalam penampilan mengajar berdasarkan hasil observasi dan
34 Jerry H. Makawimbang, Supervisi Klinis Teory Dan Pengukurannya (Bandung:
Alfabeta, 2013), 38.
35 Makawimbang, Supervisi Klinis Teory, 38.
analisis data secara teliti dan objektif sebagai pegangan untuk perubahan tingkah laku kearah yang lebih baik.
Supervisi klinis adalah suatu model supervisi yang terdiri dari tiga fase: pertemuan perencanaan, observasi kelas, dan pertemuan balikan
d. Model Supervisi Artistik (Seni)
Mengajar dan supervisi berkaitan dengan pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan seni (art). Supervisi bekerja untuk orang lain (working for other), dan bekerja dengan orang lain (working with the others), bekerja melalui orang lain (working through the other). Menjalin hubungan bekerja dengan orang lain maka akan tercipta suatu rantai hubungan kemanusiaan.
Hubungan manusia dengan orang lain tercipta bila ada kerelaan untuk saling menerima apa adanya.36
Sergiovani (1987) sebagaimana dikutip Donni Juni Priansa dan Sonny Suntani Setiana menyatakan beberapa ciri khas dari model supervisi artistik yaitu:
1) Membutuhkan perhatian agar lebih banyak mendengarkan daripada banyak berbicara;
2) Tingkat pengetahuan yang cukup atau keahlian khusus, untuk memahami yang dibutuhkan seseorang yang sesuai dengan harapannya;
3) Sangat membutuhkan sumbangan yang unik dari guru- guru dalam rangka mengembangkan Pendidikan bagi generasi muda;
4) Menuntut untuk memberikan perhatian lebih banyak terhadap proses kehidupan kelas dan proses saat diobservasi selama waktu yang diterapkan sehinga diperoleh peristiwa-peristiwa yang signifikan dan dapat ditempatkan dalam konteks waktu tertentu;
5) Memerlukan laporan yang menunjukkan bahwa dialog antara supervisor dan yang disupervisi dilaksanakan
36 Makawimbang, Supervisi Klinis Teory, 231
atas dasar kepemimpinan yang dilakukan oleh kedua belah pihak;
6) Kemampuan berbahasa, yaitu cara mengungkapkan yang dimiliki orang lain dan orang lain dapat menangkap dengan jelas ciri ekspresi yang diungkapkan itu;
7) Kemampuan menafsirkan makna dan peristiwa yang diungkapkan sehingga orang lain memperoleh pengalaman dan membuat mereka mengapresiasi yang dipelajarinya;
8) Menunjukkan fakta bahwa supervisi yang bersifat individual dengan kekhasannya, sensitivitas dan pengalaman, merupakan instrument yang utama digunakan, ketika situasi Pendidikan tersebut diterima dan bermakna bagi orang yang disupervisi.37
Berdasarkan uraian di atas dapat dijelaskan bahwa model supervisi artistic (seni) bagaimana membangun relasi yang baik dengan guru dan menerima apa adanya, meluangkan waktu untuk mendengarkan, memberikan apresiasi, saling memahami apa yang menjadi kebutuhan, memberikan perhatian sehingga mendorong guru untuk menjadi lebih baik.
Adapun teknik supervisi menurut Mulyasa (2004), yaitu sebagai berikut:38
1) Kunjungan dan Observasi Kelas
Kunjungan dan observasi kelas dilaksanakan dalam rangka mencari informasi proses pembelajaran berlangsung dikelas, yang meliputi penggunaan metode mengajar, penggunaan alat atau media dalam pembelajaran, penguasaan guru dikelas dan hal lain yang berkaitan dengan proses pembelajaran, yang selanjutnya hasil dari observasi tersebut akan dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam
37 Donni Juni Priansa & Sonny Suntani Setiana, Manajemen Dan Supervisi Pendidikan (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2018), 232
38 Priansa dan Setiana, Manajemen Dan Supervisi, 173-174.
memotivasi, mengarahkan, membina, dan membimbing guru dalam peningkatan kualitas pembelajaran dan peningkatan prestasi belajar peserta didik.
2) Pembicaraan Individual
Pembicaraan individual adalah pembicaraan antara supervisor dan yang disupervisi dalam proses supervisi.
Pembicaraan ini dapat dilakukan dengan didahului kunjungan dan observasi kelas atau tanpa didahului dengan kunjungan dan observasi kelas. Pembicaraan dapat terjadi karena inisiatif supervisor atau atas permintaan yang disupervisi jika ia memerlukan bantuan atau pemecahan suatu masalah.
3) Diskusi Kelompok
Diskusi kelompok merupakan forum pertemuan yang melibatkan banyak orang untuk bertukar pikiran dan informasi dalam upaya memperbaiki proses dan hasil pembelajaran. Diskusi dapat dilakukan dalam skala besar, seperti diskusi panel, lokakarya, worshop, dan sebagainya, dan juga dapat dilakukan dalam skala kecil seperti rapat guru, pertemuan guru mata pelajaran sejenis, dan sebagainya.
4) Demonstrasi Mengajar
Demonstrasi mengajar dapat dilkukan dengan mendatangkan guru yang professional dalam mengajar sehingga guru lain dapat mengambil pelajaran dan manfaat dari cara mengajar yang telah dilihatnya. Demonstrasi mengajar juga dapat dilakukan oleh supervisor sebagai contoh cara mengajar yang tepat. Setelah demonstrasi dilkukan, hendaknya guru diberikan kesempatan untuk menganalisis segala sesuatu yang telah dilihatnya.
5) Perpustakaan Profesional
Pelaksanaan supervisi Pendidikan berkaitan langsung dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, dalam hal ini guru, sehingga guru akan menjadi professional, yang
selalu berusaha meningkatkan kualitas dirinya melalui kegiatan membaca buku. Oleh karena itu, perlu diwujudkan perpustakaan yang menyediakan buku-buku berkualitas yang penting dan menunjang pelaksanaan tugas guru.