• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

F. Kerangka Teori

2. Mutu Pembelajaran

a. Pengertian Mutu Pembelajaran

Mutu juga dapat diartikan sebagai kadar atau tingkatan dari sesuatu, oleh karena itu mutu bisa mengandung pengertian tingkat baik buruknya kadar dan derajat atau taraf (kepandaian, kecakapan, dan sebagainya).24

Menurut pandangan Zamroni, dikatakan peningkatan mutu pembelajaran suatu proses yang sistematis yang terus menerus meningkatkan kualitas proses belajar mengajar dan faktor-faktor yang berkaitan dengan itu, dengan tujuan agar menjadi target yang dicapai dengan lebih efektif dan efisien.25 Mutu pembelajaran mengacu pada proses pembelajaran disekolah dan hasil belajar yang mengikuti kebutuhan dan harapan stakeholder pendidikan.26

Dalam konteks pendidikan, konsep mutu di sini mengacu pada proses pendidikan dan hasil pendidikan. Dalam “proses pendidikan“ yang bermutu terlibat berbagai input seperti: bahan ajar (kognitif, afektif atau psikomotorik), metodelogi (bervariasi sesuai kemampuan guru), sarana, sekolah, dukungan administrasi

23 Muhammad Anwar, Menjadi Guru Profesional, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2018), hlm.8

24 Ali L. Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, 1996), h. 467.

25 Latifah Husein, Profesi Keguruan Menjadi Guru Profesional, (Yogjakarta:

Pustaka Baru Press, 2017), hlm. 57.

26 Fathul Arifin Toatubun dan Muhammad Rijal, Profesionalitas dan Mutu Pembelajaran, (Ponorogo: Uwais Inspirasi Indonesia, 2018), hlm.102.

15

dan prasarana dan sumber daya lainnya serta penciptaan suasana yang kondusif.27

b. Komponen Mutu Pembelajaran

Komponen yang terkait dengan mutu pembelajaran adalah pertama, persiapan dan motivasi siswa. Kedua, kapasitas guru profesional dan kerjasama dalam organisasi sekolah. Ketiga, program mencakup relevansi isi dan alur proses pembelajaran.

Keempat struktur dan infrastruktur tersebut meliputi kecukupan dan efektivitas untuk mendukung proses pembelajaran. Kelima, partisipasi masyarakat dalam pengembangan program pendidikan sekolah.28

Berbicara tentang mutu pembelajaran berarti mempersoalkan bagaimana kegiatan pembelajaran yang dilakukan selama ini telah berjalan dengan baik dan mampu menghasilkan lulusan yang diinginkan dan diharapkan. Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran kita harus memperhatikan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pembelajaran.29 Komponen-komponen tersebut adalah sebagai berikut:

1) Siswa dan guru 2) Kurikulum

3) Sarana dan prasarana pendidikan

27 Fathul Mujib, Diktat Manajemen Lembaga Pendidikan Islam. (STAIN TULUNGAGUNG, 2008), hlm. 67.

28 Fathul Arifin Toatubun dan Muhammad Rijal, Profesionalitas dan Mutu..., hlm. 102.

29 Ibid, hlm. 103.

16

4) Manajemen sekolah, meliputi pengelolaan kelas, guru, siswa, sarana dan prasarana, peningkatan kedisiplinan dan kepemimpinan.

5) Pengelolaan proses pembelajaran, meliputi sikap guru, penguasaan materi dan penerapan strategi pembelajaran

6) Pengelolaan dana 7) Evaluasi

8) Kemitraan, meliputi hubungan sekolah dengan lembaga lain.30 c. Pendidikan IPA yang Bermutu

Mutu dapat dikatakan ada apabila telah memenuhi spesifikasi atau standar yang ada. Dalam konteks pendidikan, konsep mutu bersifat relative. Pendidikan yang bermutu dalam pendidikan IPA berarti pendidikan yang memberikan pengalaman pendidikan IPA kepada siswanya. Pendidikan IPA yang bermutu akan selalu berkaitan dengan standar, konsumen dan pengelolaannya. Standar pendidikan IPA disusun karena adanya kebutuhan masyarakat akan IPA bukan hanya sebagai ilmu tetapi sebagai sesuatu yang dapat digunakan untuk bertahan hidup.31

Standar pendidikan IPA bukan hanya berisi konten IPA tetapi juga meliputi standar pedagogi dalam mengajarkan IPA, standar profesi, standar program, standar asesmen, dan standar

30 Martinis Yamin dan Maisah. Manajemen Pembelajaran Kelas Strategi Meningkatkan Mutu Pembelajaran, (Jakarta Gaung Persada, 2009), hlm. 164-166.

31 Mimin Nurjhani.K. “Manajeman Mutu Pendidikan IPA”, (Universitas Pendidikan Indonesia, 2007), hlm. 3.

17

sistem. Dari sejumlah standar ini tampaknya jika menginginkan mutu pendidikan IPA yang baik, semua yang terkait dalam penyelenggaraan pendidikan IPA yang bermutu harus memiliki standar. Semua pihak yang melaksanakan pendidikan IPA yang bermutu wajib mengetahui dan melaksanakannya.32

Adapun Badan Nasional Standar Pendidikan (BSNP) membuat standar nasional pendidikan yang termasuk di dalamnya pendidikan IPA terdiri atas:

1) Standar Kompetensi Lulusan 2) Standar Isi

3) Standar Proses 4) Standar Penilaian

5) Standar Pendidik dan Tenaga Pendidik 6) Standar Pengelolaan

7) Standar Sarana dan Prasarana 8) Standar Pembiayaan.33

d. Indikator Mutu Pendidikan IPA

Mutu pendidikan IPA di Indonesia dapat ditentukan oleh beberapa indikator. Indikator tersebut adalah: spesifikasi lulusan yang memenuhi standar kompetensi lulusan, spesifikasi guru IPA yang sesuai dengan standar kompetensi guru IPA, spesifikasi

32 Ibid,hlm. 3.

33 Kemendikbud, Indikator Mutu Dalam Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar Dan Menengah, (Kemendikbud, Dierktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, 2017), hlm. 3.

18

penyelenggaraan pendidikan IPA, spesifiksi fasilitas belajar IPA, spesifikasi kepedulian masyarakat (orang tua, pemerintah, dunia kerja).34

Sekolah yang menyelenggarakan pendidikan IPA haruslah mengerti tujuan pendidikan IPA, karakter pendidikan IPA, standar pendidikan IPA, berapa lama pendidikan IPA harus diselenggarakan, dan sarana serta prasarana apa saja yang dibutuhkan untuk pendidikan IPA.35

Berdasarkan kastemer primer (siswa) pendidikan IPA yang bermutu haruslah benar-benar melatih seseorang mempelajari alam sekitar mereka secara menyenangkan, mudah dipahami, mudah dilakukan, mudah diterapkan, dapat digunakan baik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi maupun untuk bekerja. Sedangkan persepsi pendidikan IPA berdasarkan kastemer sekunder (orang tua siswa) pendidikan IPA yang bermutu berarti pendidikan yang mampu membuat siswa memperoleh nilai tinggi dalam pelajaran IPA, memberi kesempatan pada siswa untuk mengeskplor bidang studi secara lebih luas jika siswa melanjutkan ke perguruan tinggi, memberikan bekal kepada siswa untuk dapat mengapresiasi perkembangan teknologi dan tidak menuntut banyak biaya. 36

34 Mimin Nurjhani.K. “Manajeman Mutu..., hlm. 5.

35 Ibid,hlm. 4.

36 Ibid, hlm. 5.

19

Adapun indikator atau kriteria yang dapat dijadikan tolak ukur mutu pendidikan adalah sebagai berikut :

1) Hasil akhir pendidikan

2) Hasil langsung pendidikan, hasil langsung inilah yang dapat dipakai sebagai titik tolak pengukuran mutu pendidikan suaru lembaga pendidikan. Misalnya tes tertulis, daftar cek, anekdot, skala rating dan skala sikap.

3) Proses pendidikan

4) Instrumen input yaitu alat berinteraski dengan raw input (siswa).

5) Raw input dan lingkungan.37

Hasil pendidikan dikatakan bermutu apabila melahirkan keunggulan akademik dan ekstrakurikuler pada peserta didik yang dinyatakan lulus untuk jenjang pendidikan atau menyelesaikan program pembelajaran tertentu. Keunggulan akademik dinyatakan dengan nilai yang dicapai oleh peserta didik. Keunggulan ekstrakulikuler dinyatakan dengan aneka jenis keterampilan yang diperoleh selama mengikuti program esktrakulikuler. Diluar kerangka itu mutu luaran dapat dilihat dari nilai-nilai hidup yang dianut, moralitas, dorongan untuk maju, dan lain-lain yang diperoleh anak didik selama menjalani pendidikan.38

37 Sri Minarti, Manajemen Sekolah: Mengelola Lembaga Pendidikan Secara Mandiri, (Jogjakarta: AR-Ruzz Media, 2011), hlm. 335.

38 Ibid, hlm 335.

20

Indikator mutu pembelajaran IPA meliputi proses dan hasil pembelajaran yaitu:

1) Perencanaan proses pembelajaran IPA yakni kemampuan guru dalam menyusun perangkat pembelajaran berupa RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) ini sangat penting karena dari sanalah siswa akan diarahkan menguasai tujuan pembelajaran melalui sejumlah kompetensi. Guru diharapkan memiliki kemampuan dalam merancang atau menyusun perangkat pembelajaran. Hal ini dikarenakan perencanaan pembelajaran sangat berpengaruh pada keterlaksanaan proses pembelajaran.39

2) Pelaksanaan proses pembelajaran IPA ini merupakan implementasi dari rencana pelaksanaan pembelajaran yang sudah dibuat yang meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.

3) Penilaian hasil pembelajaran dilakukan oleh guru terhadap hasil pembelajaran untuk mengukur tingkat pencapaian Kompetensi peserta didik, serta digunakan sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar siswa dan memperbaiki hasil pembelajaran.

39 Sonya Rosida & Erman, “Tantangan Guru dalam Pembelajaran IPA dengan Pendekatan Saintifik 5M di SMP” Pensa E-Jurnal: Pendidikan Sains, Vol. 9 No 2 Tahun 2021, hlm. 262-263.

21

4) Pengawasan proses pembelajaran adalah suatu proses yang luas yang dapat diterapkan pada manusia, benda dan organisasi.

Adapun pengawasan dalam pembelajaran meliputi:

a) Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan pembelajaran.

b) Merumuskan tindakan koreksi, menyusun standar-standar pembelajaran dan sasaran-sasaran.

c) Menilai pekerjaan dan melakukan tindakan koreksi terhadap penyimpangan baik institusi satuan pendidikan maupun proses pembelajaran.40