BAB V ANALISIS NERACA SATELIT PARIWISATA
A. Analisa Pengeluaran Pariwisata
3. Nilai dan Struktur Pengeluaran Pemerintah Terkait
berinteraksi dengan pelaku yang berada di Jawa Barat relatif belum optimal digali.
Hal ini menjadi sumber masalah ketimpangan/kecemburuan seolah-olah ada ketidakadilan perlakuan di antara pelaku bisnis pariwisata.
3. Nilai dan Struktur Pengeluaran Pemerintah Terkait Pariwisata di Jawa
Neraca Satelit Pariwisata Daerah (NESPARDA) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2021 79 1. promosi pariwisata;
2. perencanaan dan koordinasi pembangunan pariwisata;
3. penyusunan statistik dan informasi pariwisata;
4. penelitian dan pengembangan pariwisata;
5. penyelenggaraan dan pelayanan informasi pariwisata;
6. keamanan dan perlindungan pariwisata;
7. pengawasan dan pengaturan; serta 8. lainnya.
Sebagian besar sumber pembiayaan kegiatan pemerintah di atas berasal dari anggaran rutin baik dari APBN maupun APBD, termasuk di dalamnya kegiatan yang bersumber dari anggaran Kementerian Pariwisata beserta seluruh jajarannya dan Dinas Pariwisata Provinsi dan Kabupaten/Kota sepanjang berhubungan dengan sektor kepariwisataan. Jadi lingkup pengeluaran ini lebih luas dari lingkup investasi pariwisata yang dilakukan oleh pemerintah yang telah dibicarakan sebelumnya.
Tabel 5.5.
Nilai Pengeluaran Pemerintah Terkait Pariwisata Menurut Industri di Jawa Barat Tahun 2019-2020 (Juta Rupiah)
Kode Uraian Kategori/Sub Kategori Usaha 2019 2020
I-13 Industri Makanan dan Minuman 10.215,93 8.772,95 I-16 Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki 0,37 0,32 I-17
Industri Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus dan Barang Anyaman dari Bambu, Rotan dan Sejenisnya
0,64 0,55
I-18 Industri Kertas dan Barang dari Kertas,
Percetakan dan Reproduksi Media Rekaman 37,44 32,15 I-19 Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional 16,02 13,76 I-20 Industri Karet, Barang dari Karet dan Plastik 1,93 1,65 I-26 Industri Furnitur 0,27 0,23 I-27 Industri Pengolahan Lainnya, Jasa Reparasi
dan Pemasangan Mesin dan Peralatan 0,40 0,34 I-30 Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah,
dan Daur Ulang 468,34 402,19 I-32 Perdagangan Mobil, Sepeda Motor dan
Reparasinya 236,87 203,41
Kode Uraian Kategori/Sub Kategori Usaha 2019 2020 I-33 Perdagangan Besar dan Eceran, Bukan Mobil
dan Sepeda Motor 1.794,17 1.540,75 I-34 Angkutan Rel 1,63 1,40 I-35 Angkutan Darat 218,20 187,38 I-38 Angkutan Udara 4,92 4,22 I-39 Pergudangan dan Jasa Penunjang Angkutan,
Pos dan Kurir 22,89 19,66 I-40 Penyediaan Akomodasi 1,08 0,93 I-41 Penyediaan Makan Minum 54,84 47,09 I-42 Jasa Informasi dan Komunikasi 498,03 427,68 I-43 Jasa Perantara Keuangan Selain Bank Sentral 1.718,36 1.475,65 I-45 Jasa Keuangan Lainnya 0,01 0,01 I-48 Jasa Perusahaan 3,01 2,59 I-49 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan
Jaminan Sosial Wajib 232.837,81 199.950,05 I-50 Jasa Pendidikan 178.315,44 153.128,82 I-51 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 30.312,37 26.030,82 I-52 Jasa Lainnya 1.255,91 1.078,52
Jumlah 458.016,89 393.323,13
Sumber: Tabel IRIO 2016 Provinsi Jawa Barat, diolah
Tabel di atas memperlihatkan pengeluaran pemerintah yang berhubungan dengan pembinaan kepariwisataan (jasa Pendidikan) baik yang dilakukan kepada pelaku usaha pariwisata maupun masyarakat secara umum pada tahun 2019-2020 masing-masing sebesar 178,32 miliar rupiah, dan 153,13 miliar rupiah. Menempati posisi terbesar kedua setelah pengeluaran Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib yang lebih kepada belanja tata kelola birokrasi dan aspek pemeliharaan serta jaminan keamanan.
Belanja untuk memastikan bahwa bisnis pariwisata Jawa Barat memiliki standar kesehatan lingkungan menempati posisi terbesar ketiga, diikuti oleh belanja untuk keperluan makanan minuman yang digunakan dalam berbagai kegiatan forum/rapat/seminar terkait kepariwisataan.
Neraca Satelit Pariwisata Daerah (NESPARDA) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2021 81 Gambar 5.11.
Struktur Pengeluaran Pemerintah Terkait Pariwisata Menurut Industri di Jawa Barat Tahun 2019-2020 (Persen)
Sumber: Tabel IRIO 2016 Provinsi Jawa Barat, diolah
Promosi pariwisata yang efektif dan efisien yang dilakukan melalui kerjasama antara pemerintah dengan swasta akan berdampak positif bila dapat menarik lebih banyak minat wisman untuk mengunjungi Jawa Barat. Juga menggairahkan masyarakat sebagai pelaku wisnus untuk bisa menikmati kekayaan bangsa dan negerinya sendiri secara optimal. Secara jumlah (populasi) wisnus lebih banyak, meski nilai belanja pengeluarannya masih dibawah rata-rata pelaku wisman.
Dari sisi penyediaan (supply), perlu dilakukan pembinaan usaha-usaha yang bergerak di sektor pariwisata serta promosi pariwisata untuk penduduk Indonesia sendiri agar lebih mengenal budaya bangsanya. Misalnya pemberian diskon/promosi untuk warga negara yang belum pernah berkunjung ke tempat wisata (first comes) atau sebaliknya untuk pengunjung langganan yang datang untuk frekuensi ke sekian kalinya (repeat order) dengan penyesuaian momentum sosial, budaya lokal/regional/nasional seperti peringatan hari-hari besar yang bertepatan dengan libur nasional/regional, dan lain-lain.
Pengeluaran lainnya terkait pariwisata yang dilakukan oleh pemerintah, mencakup pengeluaran promosi, pembinaan serta pengeluaran lainnya yang
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib; 50,84 Jasa Pendidikan ; 38,93
Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial ; 6,62
Makanan dan Minuman ; 2,23 Perdagangan Besar & Eceran, ; 0,39
Jasa Perantara Keuangan ; 0,38 Jasa Lainnya; 0,27
Jasa Informasi dan Komunikasi ; 0,11 Air, Pengelolaan Sampah, Limbah, Daur Ulang; 0,1
Perdagangan Mobil, Motor &
Reparasinya; 0,05 Angkutan Darat; 0,05
Kertas & Brg Kertas, Percetakan & Reproduksi Media Rekaman ; 0,01
Penyediaan Makan Minum; 0,01
bersifat non investasi atau modal. Pengeluaran ini terdiri dari pengeluaran promosi, periklanan pada kegiatan yang terkait dengan pariwisata seperti kegiatan perhotelan, restoran, industri pengolahan dan pertanian yang terkait dengan pariwisata, serta sektor jasa yang terkait dengan pariwisata. Secara garis besar pengeluaran ini akan tergambar dalam belanja barang dalam pengeluaran rutin pemerintah. Termasuk pula balas jasa dalam rangka pembinaan pegawai pemerintah yang bergerak di sektor pariwisata yang tercermin dari belanja pegawai dari anggaran rutin pemerintah.
4. Peranan Pariwisata dalam Perekonomian
Kegiatan pariwisata mempunyai peran penting dan strategis dalam perekonomian daerah. Kegiatan pariwisata mampu berperan dalam menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta mampu menciptakan lapangan kerja dan peluang usaha. Sebagai contoh, pembangunan hotel dan restoran di sekitar lokasi daya tarik wisata akan menciptakan lapangan pekerjaan bagi penduduk sekitar dan dapat pula menciptakan usaha ekonomi bagi penduduk lokal seperti pembuatan suvenir atau cinderamata. Peran pemerintah dan swasta sangat penting dalam mendukung pembangunan pariwisata. Salah satu bentuk dukungan tersebut adalah dengan melakukan investasi pada sektor-sektor yang mendukung aktivitas pariwisata. Investor dapat berpartisipasi dalam membangun sarana penunjang yang mampu menarik wisatawan untuk berkunjung.
Pariwisata bukan merupakan sektor yang berdiri sendiri, namun terkait dengan sektor lain. Untuk mengukur peranannya dalam perekonomian tidak dapat dilakukan secara langsung, namun perlu melalui identifikasi semua sektor yang terkait dengan kegiatan ini. Transaksi ekonomi pariwisata sendiri dibentuk oleh keseimbangan antara supply dan demand dari barang dan jasa yang berkaitan dengan pariwisata. Pertemuan antara supply dan demand pariwisata dirangkum dalam Neraca Satelit Pariwisata Daerah (Nesparda). Dengan melakukan analisis Nesparda, dampak sektor terkait dapat diukur. Penyusunan Nesparda memerlukan berbagai jenis data yakni data yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan
Neraca Satelit Pariwisata Daerah (NESPARDA) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2021 83 kegiatan pariwisata, dan data-data makro lainnya. Data yang digunakan umumnya
berupa data kuantitatif yang dapat dipakai untuk mengukur kinerja sektor pariwisata dalam perekonomian suatu daerah dan diperoleh dari berbagai survei.
Pendekatan yang digunakan untuk melihat dampak kegiatan pariwisata terhadap perekonomian adalah menggunakan analisis dampak dengan model input-output. Terkait dengan hal tersebut, dampak ekonomi pariwisata yang diciptakan sangat bergantung pada beberapa hal yang berkaitan dengan: (1) struktur pengeluaran wisatawan dan besarannya, (2) struktur pengeluaran pemerintah untuk pariwisata, (3) struktur investasi pariwisata, dan (4) struktur pekerja dan kontribusinya terhadap pekerja di Jawa Barat. Dengan menggunakan pendekatan tabel I-O dapat diperkirakan sejauh mana peran pariwisata di masing- masing sektor yang terkait, baik secara langsung maupung tidak langsung. Tabel 5.6 di bawah ini menunjukkan nilai transaksi ekonomi kegiatan pariwisata yang terjadi di Jawa Barat pada tahun 2019 dan 2020.
Tabel 5.6.
Nilai Transaksi Ekonomi Kegiatan Pariwisata Jawa Barat Tahun 2019-2020
Uraian
2019 2020
Nilai (Rp
miliar) % Nilai (Rp
miliar) %
Pengeluaran Konsumsi Wisatawan* 255.155,39 99,03 180.230,59 98,60 a. Wisatawan Asal Jawa Barat 84.428,40 32,77 36.186,67 19,80 b. Wisatawan Asal Luar Jawa Barat 170.726,99 66,26 144.043,92 78,80 Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 458,02 0,18 393,32 0,22
Investasi 2.052,54 0,80 2.174,65 1,19
Jumlah 257.665,94 100,00 182.798,56 100,00
Tidak termasuk wisatawan mancanegara
Pada tabel di atas terlihat bahwa nilai transaksi ekonomi dari kegiatan pariwisata di Jawa Barat pada tahun 2019 adalah sebesar 257.665,94 miliar rupiah.
Pengeluaran konsumsi wisatawan merupakan penggerak utama dalam kegiatan ekonomi pariwisata Jawa Barat yang nilainya mencapai 255.155,39 miliar rupiah atau
sekitar 99,03 persen terhadap seluruh nilai transaksi ekonomi pariwisata. Jika dilihat berdasarkan asal wisatawan, pengeluaran wisatawan domestik yang berasal dari Jawa Barat memberikan nilai transaksi sebesar 84.428,40 miliar rupiah (32,77 persen), sedangkan wisatawan domestik asal luar Jawa Barat bertransaksi sebesar 170.726,99 miliar rupiah (66,26 persen). Sementara pengeluaran konsumsi pemerintah dan invetasi masing-masing bernilai 458,02 miliar rupiah dan 2.052,54 miliar rupiah, atau hanya berkontribusi masing-masing sebesar 0,18 persen dan 0,80 persen terhadap seluruh nilai transaksi ekonomi pariwisata Jawa Barat tahun 2019.
Terjadinya pandemi Covid-19 sejak Maret 2020 di Indonesia menyebabkan pemerintah melalukan pembatasan pada berbagai aktivitas ekonomi. Kegiatan pariwisata adalah salah satu sektor yang paling terdampak akibat pembatasan tersebut. Hal itu terlihat pada nilai transaksi ekonomi pariwisata di tahun 2020 yang mengalami penurunan yang cukup signifikan, yaitu mencapai 74.867,38 miliar rupiah atau sebesar 29,06 persen jika dibandingkan dengan tahun 2019. Penurunan terbesar terjadi pada pengeluaran konsumsi wisatawan domestik asal Jawa Barat yaitu sebesar 57,14 persen, diikuti oleh pengeluaran wisatawan domestik asal luar Jawa Barat sebesar 15,63 persen. Pengalihan fokus anggaran untuk penanganan dampak pandemi Covid-19 juga memberikan pengaruh cukup besar terhadap pengeluaran anggaran pemerintah untuk pariwisata, sehingga mengalami penurunan sebesar 14,12 persen. Namun demikian, realisasi investasi pariwisata masih tumbuh positif sebesar 5,95 persen.
Penurunan nilai transaksi ekonomi pariwisata di tahun 2020 tidak menyebabkan perubahan signifikan pada struktur transaksi ekonomi pariwisata Jawa Barat. Pengeluaran konsumsi wisatawan domestik masih mendominasi yakni dengan kontribusi sebesar 98,60 persen. Namun jika dilihat berdasarkan daerah asal wisatawan, pengeluaran wisatawan domestik asal Jawa Barat mengalami penurunan kontribusi yang cukup tajam, yakni menjadi sebesar 19,80 persen saja di tahun 2020.
Sedangkan pengeluaran wisawatan domestik asal luar Jawa Barat justru mengalami peningkatan kontribusi yakni menjadi sebesar 78,80 persen. Sementara itu pengeluaran konsumsi pemerintah dan investasi berkontribusi masing-masing
Neraca Satelit Pariwisata Daerah (NESPARDA) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2021 85 sebesar 0,22 persen dan 1,19 persen terhadap nilai transaksi ekonomi pariwisata
Jawa Barat tahun 2020.
4.1 Dampak Ekonomi Pariwisata Daerah
Kegiatan pariwisata secara langsung maupun tidak langsung akan memberikan dampak ekonomi dan sosial baik bagi masyarakat sekitar maupun bagi sektor-sektor ekonomi lainnya. Seperti telah diuraikan pada bagian sebelumnya, pengukuran kinerja pariwisata adalah dengan menggunakan total nilai transaksi ekonomi yang diciptakan karena adanya kegiatan pariwisata. Transaksi ekonomi pariwisata sendiri dibentuk oleh keseimbangan antara supply dan demand dari barang dan jasa dalam kaitan pariwisata.
Untuk mengukur peranan ekonomi pariwisata atau dampak kegiatan pariwisata terhadap keseluruhan ekonomi Jawa Barat, digunakan multiplier input- output berdasarkan Tabel Input-Output Jawa Barat tahun 2016. Aspek ekonomi yang diukur adalah peranan pariwisata dalam produksi barang dan jasa, PDRB, pendapatan masyarakat, dan kesempatan kerja. Karena transaksi ekonomi pariwisata dilakukan oleh pihak-pihak yang menkonsumsi pariwisata secara independen (wisatawan, pemerintah, dan investor), maka memungkinkan dilakukan proses penghitungan secara parsial untuk masing-masing pihak tersebut. Tabel 5.7 di bawah ini menampilkan dampak ekonomi pariwisata Jawa Barat tahun 2019 dan 2020.
Tabel 5.7.
Dampak Ekonomi Pariwisata Jawa Barat, Tahun 2019-2020
Tahun Uraian
Dampak terhadap Produksi Barang &
Jasa (miliar Rp)
Dampak terhadap PDRB (miliar Rp)
Dampak terhadap Kompensasi Tenaga Kerja
(miliar Rp)
Dampak terhadap Penyerapan
Tenaga Kerja (ribu
orang)
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
2019
Nilai Ekonomi
Jawa Barat 4.140.186,34 2.124.043,62 4.140.186,34 22.064 Nilai Ekonomi
Parwisata 399.479,67 210.827,35 81.375,22 2.359 1. Pengeluaran
wisatawan 395.362,41 208.817,00 80.535,22 2.339 2. Pengeluaran
pemerintah untuk pariwisata
655,76 394,15 237,59 7
3. Investasi sektor pariwisata
3.461,50 1.616,20 602,41 14
Peranan Pariwisata
(%) 9,65 9,93 1,97 10,69
1. Pengeluaran
wisatawan 9,55 9,83 1,95 10,60
2. Pengeluaran pemerintah untuk pariwisata
0,02 0,02 0,01 0,03
3. Investasi sektor
pariwisata 0,08 0,08 0,01 0,06
2020
Nilai Ekonomi
Jawa Barat 4.057.100,22 2.088.038,74 4.057.100,22 21.675 Nilai Ekonomi
Parwisata 281.086,25 150.852,65 50.862,19 2.059 1. Pengeluaran
wisatawan 276.855,68 148.801,82 50.019,91 2.039 2. Pengeluaran
pemerintah untuk pariwisata
563,13 338,48 204,03 6
3. Investasi sektor
pariwisata 3.667,43 1.712,35 638,25 15
Neraca Satelit Pariwisata Daerah (NESPARDA) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2021 87 Tahun Uraian
Dampak terhadap Produksi Barang &
Jasa (miliar Rp)
Dampak terhadap PDRB (miliar Rp)
Dampak terhadap Kompensasi Tenaga Kerja
(miliar Rp)
Dampak terhadap Penyerapan
Tenaga Kerja (ribu
orang)
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Peranan Pariwisata
(%) 6,93 7,22 1,25 9,50
1. Pengeluaran
wisatawan 6,82 7,13 1,23 9,41
2. Pengeluaran pemerintah untuk pariwisata
0,01 0,02 0,01 0,03
3. Investasi sektor pariwisata
0,09 0,08 0,02 0,07
Catatan : Tidak termasuk wisatawan mancanegara.
Terkait dampak ekonomi pariwisata di Jawa Barat yang ditampilkan pada Tabel 5.7 di atas, pengeluaran wisatawan, pengeluaran pemerintah untuk pembangunan pariwisata, dan investasi di bidang kepariwisataan adalah bagian dari permintaan akhir. Timbulnya pengeluaran-pengeluaran di sektor kepariwisataan tersebut akan berdampak positif pada penciptaan sejumlah variabel makro ekonomi, di samping dampak negatif seperti meningkatnya impor dan dampak non ekonomi. Dengan menggunakan tabel I-O, permintaan akhir tersebut diklasifikasikan kembali mengikuti klasifikasi sektor dalam tabel I-O dan dampaknya diperoleh dengan mengalikannya dengan matriks pengganda (matriks kebalikan Leontief).
4.2. Dampak Pengeluaran Pariwisata Terhadap Produksi Barang dan Jasa Output sektor produksi terbentuk karena permintaan domestik dan luar wilayah. Untuk menghasilkan output komoditas sektor-sektor ekonomi tersebut, diperulkan input antara (Intermediate input) berupa bahan-bahan dan jasa untuk proses produksi, termasuk jasa faktor produksi. Dorongan permintaan terhadap produk barang dan jasa akan menciptakan perubahan nilai produksi. Permintaan atau pengeluaran wisatawan, pengeluaran pemerintah untuk pariwisata, dan
investasi di sektor pariwisata, akan berdampak pada penciptaan output di seluruh sektor ekonomi. Dampak yang ditimbulkan secara ekonomi adalah dampak langsung berupa konsumsi barang dan jasa, serta dampak tak langsung berupa interaksi antar sektor yang terjadi akibat perubahan output barang dan jasa yang dikonsumsi.
Tabel 5.8.
Dampak Pengeluaran Pariwisata terhadap Output, Tahun 2019-2020 (Miliar Rupiah)
Tahun Kode
I-O Lapangan Usaha Pengeluaran
Wisatawan
Pengeluaran
Pemerintah Investasi
2019
I-12 Industri Batubara dan
Pengilangan Migas 22.208,31 4,67 48,63
I-13 Industri Makanan dan
Minuman 8.070,87 13,12 2,07
I-15 Industri Tekstil dan Pakaian
Jadi 12.234,00 6,85 42,15
I-19 Industri Kimia, Farmasi dan
Obat Tradisional 10.852,69 8,70 63,76
I-25 Industri Alat Angkutan 9.030,03 3,08 706,27 I-33
Perdagangan Besar dan Eceran, Bukan Mobil dan Sepeda Motor
10.003,04 15,43 160,07
I-34 Angkutan Rel 12.431,03 0,06 0,37
I-35 Angkutan Darat 38.027,06 11,76 98,76
I-36 Angkutan Laut 10.539,54 0,00 0,00
I-38 Angkutan Udara 49.336,54 1,17 1,45
I-39
Pergudangan dan Jasa Penunjang Angkutan, Pos dan Kurir
9.916,42 0,97 8,59
I-40 Penyediaan Akomodasi 14.219,19 5,53 1,69
I-41 Penyediaan Makan Minum 9.159,41 4,81 4,40
I-48 Jasa Perusahaan 76.911,63 19,50 37,16
I-52 Jasa Swasta Lainnya 17.704,72 3,41 6,11
16 Sektor Lainnya 84.717,91 556,70 2.280,00
JUMLAH 395.362,41 655,76 3.461,50
2020
I-12 Industri Batubara dan
Pengilangan Migas 13.203,37 4,01 51,52 I-15 Industri Tekstil dan Pakaian
Jadi 34.420,75 5,88 44,66
I-19 Industri Kimia, Farmasi dan
Obat Tradisional 6.258,82 7,47 67,56
I-23 Industri Barang dari Logam,
Komputer, Barang 4.371,27 6,32 225,62
Neraca Satelit Pariwisata Daerah (NESPARDA) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2021 89 Tahun Kode
I-O Lapangan Usaha Pengeluaran Wisatawan
Pengeluaran
Pemerintah Investasi Elektronik, Optik dan
Peralatan Listrik
I-25 Industri Alat Angkutan 3.720,56 2,64 748,29 I-28 Ketenagalistrikan 6.102,65 15,01 69,58 I-33 Perdagangan Besar dan
Eceran, Bukan Mobil dan Sepeda Motor
7.602,93 13,25 169,59 I-35 Angkutan Darat 26.531,96 10,10 104,64
I-38 Angkutan Udara 36.793,90 1,01 1,54
I-39
Pergudangan dan Jasa Penunjang Angkutan, Pos dan Kurir
7.829,43 0,84 9,11 I-40 Penyediaan Akomodasi 11.670,97 4,75 1,79 I-42 Jasa Informasi dan
Komunikasi Swasta 4.996,96 8,37 30,51
I-48 Jasa Perusahaan 17.161,92 16,74 39,38 I-51 Jasa Kesehatan dan
Kegiatan Sosial Swasta 6.477,17 27,53 2,78 I-52 Jasa Swasta Lainnya 53.893,55 2,93 6,47 16 Sektor Lainnya 35.819,46 436,28 2.094,41
JUMLAH 276.855,68 563,13 3.667,43
Catatan : Tidak termasuk wisatawan mancanegara.
Pengeluaran konsumsi wisatawan memberikan dampak pada penciptaan output Jawa Barat sebesar 395.362,41 miliar rupiah pada tahun 2019. Nilai tersebut menurun sebesar 118.506,73 miliar rupiah (29,97 persen) pada tahun 2020, yaitu menjadi sebesar 276.855,68 miliar rupiah. Sedangkan pengeluaran pemerintah untuk pariwisata mendorong terciptanya output Jawa Barat sebesar 655,76 miliar rupiah di tahun 2020 dan menurun sekitar 14,12 persen di tahun 2020, yakni menjadi sebesar 563,13 persen. Sebaliknya, kegiatan investasi pariwisata memberikan dampak terhadap penciptaan output yang meningkat, yaitu dari sebesar 3.461,50 miliar rupiah di tahun 2019 menjadi sebesar 3.667,43 miliar rupiah di tahun 2020, atau naik sekitar 5,95 persen. Hal itu sejalan dengan tetap naiknya realisasi investasi di bidang kepariwisataan pada tahun 2020.
Apabila dilihat berdasarkan jenis lapangan usahanya, secara keseluruhan kegiatan pariwisata Jawa Barat di tahun 2019 memberikan dampak penciptaan
output terbesar pada industri Jasa Perusahaan, Angkutan Udara, dan Angkutan darat, yakni masing-masing sebesar 76.968,29 miliar rupiah, 49.339,16 miliar rupiah, dan 38.137,58 miliar rupiah. Sedangkan pada tahun 2020, dampak penciptaan output terbesar dirasakan oleh industri Jasa Lainnya, Angkutan Udara, dan Industri Tekstil dan Pakaian Jadi dengan nilai berturut-turut sebesar 53.902,95 miliar rupiah, 36.796,45 miliar rupiah, dan 34.471,29 miliar rupiah.
4.3. Dampak Pengeluaran Pariwisata Terhadap PDRB
Salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi suatu wilayah dalam periode tertentu adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), baik atas dasar harga konstan maupun harga berlaku. PDRB atas dasar harga berlaku dapat digunakan untuk melihat pergeseran dan struktur ekonomi. Sedangkan PDRB atas dasar harga konstan digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun. Secara konsep, PDRB atau Nilai Tambah Bruto (NTB) merupakan bagian dari output, yaitu merupakan nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi atau jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi. Besarnya NTB yang dihasilkan biasanya sejalan dengan nilai output yang dihasilkan oleh sektor-sektor ekonomi.
Demikian pula dengan permintaan produk pariwisata akan memberi perubahan pula pada besarnya NTB seluruh unit usaha.
Tabel 5.9.
Dampak Pengeluaran Pariwisata terhadap PDRB Jawa Barat, Tahun 2019-2020 (Miliar Rupiah)
Tahun Kode
I-O Lapangan Usaha Pengeluaran Wisatawan
Pengeluaran
Pemerintah Investasi
2019
I-12 Industri Batubara dan
Pengilangan Migas 11.816,25 2,48 25,87 I-15 Industri Tekstil dan
Pakaian Jadi 4.736,77 2,65 16,32
I-19 Industri Kimia, Farmasi dan
Obat Tradisional 4.334,50 3,47 25,47
I-25 Industri Alat Angkutan 4.601,87 1,57 359,93
Neraca Satelit Pariwisata Daerah (NESPARDA) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2021 91 Tahun Kode
I-O Lapangan Usaha Pengeluaran Wisatawan
Pengeluaran
Pemerintah Investasi I-32 Perdagangan Mobil,
Sepeda Motor dan Reparasinya
4.204,51 4,18 23,79 I-33 Perdagangan Besar dan
Eceran, Bukan Mobil dan Sepeda Motor
7.088,74 10,93 113,43
I-34 Angkutan Rel 5.198,87 0,03 0,16
I-35 Angkutan Darat 19.504,22 6,03 50,66
I-38 Angkutan Udara 21.653,19 0,52 0,64
I-39 Pergudangan dan Jasa Penunjang Angkutan, Pos dan Kurir
6.059,98 0,60 5,25 I-40 Penyediaan Akomodasi 9.111,23 3,55 1,08 I-41 Penyediaan Makan Minum 4.200,39 2,20 2,02 I-42 Jasa Informasi dan
Komunikasi Swasta 5.215,47 6,42 18,96 I-48 Jasa Perusahaan 45.778,85 11,60 22,12 I-52 Jasa Swasta Lainnya 12.015,85 2,31 4,14
16 Sektor Lainnya 43.296,31 335,61 946,36
JUMLAH 208.817,00 394,15 1.616,20
2020
I-12 Industri Batubara dan
Pengilangan Migas 7.025,04 2,13 27,41 I-15 Industri Tekstil dan
Pakaian Jadi 13.327,05 2,28 17,29
I-19 Industri Kimia, Farmasi dan
Obat Tradisional 2.499,73 2,98 26,98
I-25 Industri Alat Angkutan 1.896,07 1,35 381,34 I-32
Perdagangan Mobil, Sepeda Motor dan
Reparasinya 2.404,41 3,59 25,21
I-33
Perdagangan Besar dan Eceran, Bukan Mobil dan Sepeda Motor
5.387,88 9,39 120,18
I-35 Angkutan Darat 13.608,34 5,18 53,67
I-38 Angkutan Udara 16.148,39 0,44 0,67
I-39
Pergudangan dan Jasa Penunjang Angkutan, Pos
dan Kurir 4.784,61 0,51 5,56
Tahun Kode
I-O Lapangan Usaha Pengeluaran Wisatawan
Pengeluaran
Pemerintah Investasi I-40 Penyediaan Akomodasi 7.478,41 3,05 1,15 I-42 Jasa Informasi dan
Komunikasi Swasta 3.289,45 5,51 20,08 I-43 Jasa Perantara Keuangan
Selain Bank Sentral 2.175,87 4,02 29,09
I-48 Jasa Perusahaan 10.215,01 9,97 23,44
I-51 Jasa Kesehatan dan
Kegiatan Sosial Swasta 3.497,76 14,87 1,50 I-52 Jasa Swasta Lainnya 36.576,51 1,99 4,39
16 Sektor Lainnya 18.487,30 271,23 974,37
JUMLAH 148.801,82 338,48 1.712,35
Catatan : Tidak termasuk wisatawan mancanegara.
Aktivitas pariwisata Jawa Barat tahun 2019 memberikan dampak terhadap penciptaan nilai tambah bruto Jawa Barat sebesar 210.827,35 miliar rupiah yang berasal dari dampak pengeluaran wisatawan sebesar 208.817,00 miliar rupiah (99,05 persen), pengeluaran konsumsi pemerintah sebesar 394,15 miliar rupiah (0,19 persen), dan investasi di bidang pariwisata sebesar 1.616,20 miliar rupiah (0,77 persen).
Penurunan kinerja ekonomi Jawa Barat di tahun 2020 akibat Pandemi Covid- 19 pun memberikan pengaruh pada menurunnya dampak ekonomi pariwisata terhadap penciptaan nilai tambah bruto di tahun tersebut. Dampak ekonomi pariwisata terhadap PDRB Jawa Barat di tahun 2020 adalah sebesar 150,852,65 miliar rupiah atau menurun sekitar 28,45 persen dari tahun 2019. Dampak tersebut merupakan pengaruh dari pengeluaran konsumsi wisatawan sebesar 148.801,82 miliar rupiah (98,64 persen), pengeluaran pemerintah untuk pariwisata sebesar 338,48 miliar rupiah (0,22 persen), dan investasi untuk pariwisata sebesar 1.712,35 miliar rupiah (1,14 persen).
Dampak penciptaan nilai tambah bruto Jawa Barat terbesar di tahun 2019 diterima oleh industri Jasa Perusahaan (45.812,58 miliar rupiah), Angkutan Udara (21.654,35 miliar rupiah), dan Angkutan Darat (19.560,91 miliar rupiah). Sedangkan di tahun 2020, dampak penciptaan nilai tambah bruto terbesar adalah pada industri
Neraca Satelit Pariwisata Daerah (NESPARDA) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2021 93 Jasa Lainnya (36.582,88 miliar rupiah), Angkutan Udara (16.149,51 miliar rupiah), dan
Angkutan darat (13.667,19 miliar rupiah).
4.4. Dampak Pengeluaran Pariwisata Terhadap Kompensasi Tenaga Kerja Meningkatnya permintaan akhir pada suatu sektor akan memberikan dampak terhadap penambahan output atau produksi suatu barang dan jasa di sektor tersebut. Hal itu akan mengakibatkan meningkat pula jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk memproduksi barang dan jasa tersebut. Penambahan jumlah tenaga kerja akan berdampak pada bertambahnya nilai upah/gaji sebagai balas jasa yang diberikan dalam proses produksi yang harus dibayarkan.
Peningkatan upah/gaji inilah yang dinamakan tambahan pendapatan rumah tangga.
Pengaruh sektor yang berhubungan dengan kepariwisataan terhadap upah/gaji dapat diukur dari analisis input-output.
Adanya aktivitas pariwisata dipercaya akan menciptakan lapangan pekerjaan, yang selanjutnya akan menciptakan upah/gaji berupa balas jasa pekerja. Secara konsep, upah/gaji adalah balas jasa yang diterima oleh pekerja yang didasarkan pada latar belakang pendidikan, kemampuan (skill), kompetensi pekerjaan maupun sektor usahanya.
Dalam memproduksi barang dan jasa, faktor tenaga kerja merupakan bagian penting dari proses produksi di samping barang modal dan teknologi. Tingkat upah dapat pula mencerminkan pendapatan yang diterima oleh masyarakat yang pada akhirnya mempengaruhi perekonomian nasional/regional melalui konsumsi.
Upah/gaji dalam model ini merupakan bagian dari nilai tambah berupa balas jasa faktor tenaga kerja. Permintaan terhadap produk barang dan jasa dalam kegiatan pariwisata berdampak pula terhadap permintaan upah/gaji di setiap sektor ekonomi. Sesuai dengan asumsi linearitas pada model Input-output, perubahan upah/gaji akan sejalan dengan perubahan nilai output yang dihasilkan. Tabel 5.10 berikut ini menunjukkan dampak kompensasi tenaga kerja yang diterima sebagai akibat dari adanya aktivitas pariwisata di Jawa Barat.
Tabel 5.10.
Dampak Pengeluaran Pariwisata terhadap Kompensasi Tenaga Kerja, Tahun 2019 - 2020 (Miliar Rupiah)
Tahun Kode
I-O Lapangan Usaha Pengeluaran
Wisatawan
Pengeluaran
Pemerintah Investasi
2019
I-12 Industri Batubara dan
Pengilangan Migas 2.622,06 0,55 5,74
I-15 Industri Tekstil dan Pakaian Jadi 2.332,99 1,31 8,04 I-23
Industri Barang dari Logam, Komputer, Barang Elektronik, Optik dan Peralatan Listrik
1.455,13 1,49 42,95 I-25 Industri Alat Angkutan 2.299,58 0,78 179,86 I-32 Perdagangan Mobil, Sepeda
Motor dan Reparasinya 2.127,05 2,12 12,04
I-33 Perdagangan Besar dan Eceran,
Bukan Mobil dan Sepeda Motor 2.664,56 4,11 42,64
I-34 Angkutan Rel 5.183,00 0,03 0,16
I-35 Angkutan Darat 4.922,13 1,52 12,78
I-38 Angkutan Udara 6.289,40 0,15 0,18
I-39
Pergudangan dan Jasa Penunjang Angkutan, Pos dan Kurir
2.443,81 0,24 2,12
I-40 Penyediaan Akomodasi 2.359,18 0,92 0,28
I-41 Penyediaan Makan Minum 1.692,41 0,89 0,81
I-42 Jasa Informasi dan Komunikasi
Swasta 1.795,31 2,21 6,53
I-48 Jasa Perusahaan 24.666,75 6,25 11,92
I-52 Jasa Swasta Lainnya 2.948,61 0,57 1,02
16 Sektor Lainnya 14.733,26 214,46 275,36
JUMLAH 80.535,22 237,59 602,41
2020
I-12 Industri Batubara dan
Pengilangan Migas 1.558,88 0,47 6,08
I-15 Industri Tekstil dan Pakaian Jadi 6.563,95 1,12 8,52 I-23
Industri Barang dari Logam, Komputer, Barang Elektronik, Optik dan Peralatan Listrik
881,55 1,28 45,50
I-25 Industri Alat Angkutan 947,47 0,67 190,56
I-32 Perdagangan Mobil, Sepeda
Motor dan Reparasinya 1.216,39 1,82 12,75
I-33 Perdagangan Besar dan Eceran,
Bukan Mobil dan Sepeda Motor 2.025,23 3,53 45,17
I-35 Angkutan Darat 3.434,23 1,31 13,54
I-38 Angkutan Udara 4.690,47 0,13 0,20
I-39
Pergudangan dan Jasa Penunjang Angkutan, Pos dan Kurir
1.929,49 0,21 2,24
I-40 Penyediaan Akomodasi 1.936,40 0,79 0,30