• Tidak ada hasil yang ditemukan

Neraca Satelit Pariwisata Daerah (NESPARDA) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2021

N/A
N/A
Nurul Aini

Academic year: 2024

Membagikan "Neraca Satelit Pariwisata Daerah (NESPARDA) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2021"

Copied!
112
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Neraca Satelit Pariwisata Daerah (NESPARDA) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2021 iii

SAMBUTAN

KEPALA DINAS PARIWISATA DAN KEBUDAYAAN PROVINSI JAWA BARAT Assalamualaikum Wr. Wb, Sampurasun…

Pembangunan pariwisata merupakan upaya untuk mengembangkan dan memanfaatkan objek dan daya tarik pariwisata yang terwujud, baik dalam keindahan alam, keanekaragaman flora dan fauna, serta tradisi kesenian dan budaya yang perlu kita lestarikan.

Statistik Kepariwisataan merupakan bagian dari pembangunan pariwisata di Jawa Barat, karena pada hakekatnya statistik Pariwisata dapat memprediksi kepariwisataan lingkup perkembangan, kendala, kinerja, juga dapat memprediksi kemajuan pariwisata di masa mendatang. Oleh karena itu, dengan terbitnya publikasi Neraca Satelit Pariwisata Daerah (Nesparda) Jawa Barat Tahun 2021 ini merupakan hal yang dapat dimanfaatkan oleh para perencana dan pengambil keputusan untuk melaksanakan dan mengevaluasi pembangunan pariwisata yang ada di Provinsi Jawa Barat.

Sebagai lembaga yang bertanggung jawab terhadap pembangunan Bidang Pariwisata dan Kebudayaan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tentu dalam pelaksanaan membutuhkan keterlibatan serta dukungan dari unsur Pentahelix atau Stakeholder Pariwisata yang berhubungan dengan tata nilai, sistem serta pola lingkungan budaya.

Neraca Satelit Pariwisata Daerah (Nesparda) Provinsi Jawa Barat Tahun 2021 merupakan seperangkat neraca yang berisikan data tentang peran kegiatan pariwisata dalam tatanan ekonomi daerah. Melalui publikasi ini dilakukan analisis yang dapat menjelaskan dampak pembangunan pariwisata terhadap perekonomian dalam bentuk metode kualitatif. Konsepnya menyediakan perangkat analisis yang menyeluruh (comprehensive), kompak (compact), saling terkait (inteconnected), konsisten (consistent) dan terkontrol (controllable) yang terkait dengan Kepariwisataan. Dengan sistem ini dapat dilakukan analisis yang dapat menjelaskan dampak pembangunan pariwisata terhadap perekonomian Provinsi Jawa Barat serta mengetahui peranan sektor-sektor pendukung yang dapat di manfaatkan untuk perencanaan dan pengembangan pariwisata di Provinsi Jawa Barat.

(3)

Kami menyambut baik upaya penyusunan Neraca Satelit Pariwisata Daerah Provinsi Jawa Barat ini dan memberikan penghargaan kepada pihak-pihak yang membantu penyusunannya dengan harapan dapat digunakan oleh para penggunanya dengan optimal, efisien dan efektif. Hasil ini kiranya dapat diperkaya sesuai dengan kebutuhan informasi dan analisisnya, khususnya bagi dukungan penentuan kebijakan, dan evaluasi program kepariwisataan di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota melalui kerjasama yang berkesinambungan antar instansi terkait, baik Pemerintah maupun non Pemerintah.

Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat dan instansi lainnya yang turut membantu dalam penyusunan selama kegiatan, sehingga Provinsi Jawa Barat mampu menghasilkan indikator kepariwisataan yang terangkum dalam Neraca Satelit Pariwisata Daerah Provinsi Jawa Barat. Kiranya kerjasama ini dapat berlanjut dimasa datang secara berkesinambungan.

Bandung, Desember 2021

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat

Dr. H. Dedi Taufik, M.Si NIP. 19671011 199303 1 009

(4)

Neraca Satelit Pariwisata Daerah (NESPARDA) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2021 v

TIM PENYUSUN

Pengarah : Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat

Penanggung Jawab : Kepala Bidang Pemasaran Tim Ahli Dinas Pariwisata dan

Kebudayaan Provinsi Jawa Barat : Tim Ahli Badan Pusat Statistik :

Pengarah : Dyah Anugrah Kuswardani, MA.

Ketua : Samiran, S.Si.,MT.

Anggota :

1. Drs. Agus Praptono, M.Stat.

2. Ir. Dudung Supriyadi, MM.

3. Yuni Anggorowati, SST.,MAP.

4. Ir. Enung Rohaeti

5. Yan Yan Gustiana, SST.,MStat.

6. Siswanita U.,Ssi.,MT.

7. Azif Rifa’i, SST.,MT.

(5)

DAFTAR ISI

Sambutan ... ii

Tim Penyusun ... v

Daftar Isi ... vi

Daftar Tabel ... ix

Daftar Gambar ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Permasalahan ... 5

1.3 Tujuan ... 5

1.4 Ruang Lingkup Kegiatan ... 5

1.5 Metodologi ... 6

1.6 Tenaga Ahli ... 7

1.7 Tahapan Kegiatan ... 9

1.8 Institusi Terkait Penyusunan Neraca Satelit Pariwisata Daerah .. 11

BAB II PEMAHAMAN NESPARDA ... 13

A. Kerangka Umum Nesparda ... 13

1. Pengertian Dasar Nesparda ... 13

2. Pemahaman Supply dan Demand ... 15

B. Model Pengukuran Dampak Pariwisata ... 23

1. Model Input Output ... 23

2. Pengukuran Dampak Ekonomi Pariwisata... 25

BAB III PENYUSUNAN NESPARDA DAN SUMBER DATA ... 29

A. Penyusunan Pola dan Struktur Pengeluaran Wisatawan ... 29

1. Jumlah Wisatawaan ... 29

2. Struktur Pengeluaran... 29

B. Penyusunan Struktur Investasi Pariwisata Pemerintah dan Dunia Usaha ... 32

C. Penyusunan Struktur Penjelasan Konsumsi Pemerintah Pada Fungsi Pariwisata ... 34

(6)

Neraca Satelit Pariwisata Daerah (NESPARDA) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2021 vii

BAB IV ANALISIS KINERJA PARIWISATA ... 35

A. Akomodasi ... 36

1. Perkembangan Hotel dan Akomodasi Lainnya ... 36

2. Sebaran Hotel dan Akomodasi Lainnya ... 39

B. Indikator Hotel Bintang dan Nonbintang ... 41

1. Perkembangan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel ... 41

2. Rata-rata Lama Menginap Tamu Hotel ... 44

C. Perkembangan Wisata Nusantara ... 45

1. Jumlah Perjalanan yang Dilakukan Penduduk Jawa Barat .... 45

2. Karakteristik Demografi ... 47

3. Maksud Kunjungan ... 49

4. Akomodasi Yang Digunakan ... 50

5. Lama Bepergian dan Lama Menginap ... 51

D. Perkembangan Wisatawan Mancanegara ... 52

1. Kedatangan Tamu Mancanegara ... 53

2. Profil Wisatawan Mancanegara ... 56

BAB V ANALISIS NERACA SATELIT PARIWISATA ... 59

A. Analisa Pengeluaran Pariwisata ... 59

1. Struktur Pengeluaran Wisatawan Nusantara ... 59

1.1. Pengeluaran Wisatawan Nusantara dari Jawa Barat... 63

1.2. Pengeluaran Wisatawan Nusantara dari Luar Jawa Barat ... 68

2. Nilai dan Struktur Investasi Pariwisata di Jawa Barat ... 73

3. Nilai dan Struktur Pengeluaran Pemerintah Terkait Pariwisata di Jawa Barat ... 78

4. Peranan Pariwisata dan Perekonomian ... 82

4.1. Dampak Ekonomi Pariwisata Daerah ... 85

4.2. Dampak Pengeluaran Pariwisata Terhadap Produksi Barang Dan Jasa ... 87

4.3. Dampak Pengeluaran Pariwisata Terhadap PDRB ... 90 4.4. Dampak Pengeluaran Pariwisata Terhadap Kompensasi

(7)

Tenaga Kerja ... 93 4.5. Dampak Pengeluaran Pariwisata Terhadap Penyerapan

Tenaga Kerja ... 96 5. Raingkasan Dampak Ekonomi Pariwisata ... 98

(8)

Neraca Satelit Pariwisata Daerah (NESPARDA) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2021 ix

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 2.1. Ilustrasi Tabel Input-Output untuk Sistem Perekonomian dengan

Tiga Sektor Produksi

24 Tabel 4.1. Jumlah Perusahaan Hotel dan Akomodasi lainnya di Jawa Barat

Tahun 2018 – 2020

36 Tabel 4.2. Banyaknya Hotel Berbintang dan Akomodasi Lainnya Dirinci

Menurut Klasifikasi Hotel di Jawa Barat Tahun 2018 – 2020

37 Tabel 4.3. Banyaknya Kamar dan Tempat Tidur pada Hotel Berbintang dan

Akomodasi Lainnya Dirinci Menurut Klasifikasi Hotel di Jawa Barat Tahun 2019 – 2020

38

Tabel 4.4. Jumlah Hotel Berbintang dan Akomodasi Lainnya Menurut Kabupaten/Kota di Jawa Barat, Tahun 2020

40 Tabel 4.5. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel di Jawa Barat, Tahun 2008-

2010

42 Tabel 4.6. Tingkat Penghunian Kamar Hotel di Jawa Barat yang Dirinci

Menurut Bulan Tahun 2018-2020

44 Tabel 4.7. Rata-rata Lama Tamu Menginap pada Hotel Bintang dan

Nonbintang di Jawa Barat Tahun 2019 - 2020

45 Tabel 4.8. Distribusi Wisatawan Nusantara ke Jawa Barat Menurut Provinsi

Asal Tahun 2019 - 2020

46 Tabel 4.9. Distribusi Wisatawan Nusantara yang ke Jawa Barat Menurut

Provinsi Asal dan Jenis Kelamin, Tahun 2019 – 2020

47 Tabel 4.10. Distribusi Wisatawan Nusantara yang ke Provinsi Jawa Barat

Menurut Provinsi Asal dan Kelompok Umur, Tahun 2019 - 2020

48 Tabel 4.11. Distribusi Wisatawan Nusantara yang ke Provinsi Jawa Barat

Menurut Provinsi Asal dan Maksud Kunjungan Utama, Tahun 2019 - 2020

49

Tabel 4.12. Distribusi Wisatawan Nusantara yang ke Jawa Barat Menurut Provinsi Asal dan Akomodasi Utama yang Digunakan, Tahun 2019- 2020

50

Tabel 4.13. Rata-rata Lama Bepergian, Wisatawan Nusantara yang ke Jawa Barat Menurut Provinsi Asal, Tahun 2019 - 2020

51 Tabel 4.14. Banyaknya Wisman yang Berkunjung Langsung dan Tidak

Langsung ke Jawa Barat, Tahun 2019 - 2020

54 Tabel 4.15. Banyaknya Wisman yang bekunjung ke Jawa Barat Dirinci Menurut

Kebangsaan, Tahun 2019 - 2020

55 Tabel 4.16. Profil Wisatawan Mancanegara yang Berkunjung ke Jawa Barat,

Tahun 2019 - 2020

56

(9)

Halaman Tabel 5.1. Pengeluaran Wisatawan Nusantara ke Jawa Barat Menurut Sektor

Ekonomi Provinsi Jawa Barat Tahun 2019-2020 (Miliar Rupiah)

60 Tabel 5.2. Pengeluaran Wisatawan Nusantara Asal Jawa Barat ke Jawa Barat

Menurut Sektor Ekonomi Provinsi Jawa Barat Tahun 2019-2020 (Miliar Rupiah)

63

Tabel 5.3. Pengeluaran Wisatawan Nusantara dari Luar Jawa Barat ke Jawa Barat Menurut Sektor Ekonomi Provinsi Jawa Barat Tahun 2019- 2020 (Miliar Rupiah)

69

Tabel 5.4. Nilai Investasi Pariwisata Menurut Kelompok Barang Modal di Jawa Barat Tahun 2019-2020 (Juta Rupiah)

74 Tabel 5.5. Nilai Pengeluaran Pemerintah Terkait Pariwisata Menurut Industri

di Jawa Barat Tahun 2019-2020 (Juta Rupiah)

79 Tabel 5.6. Nilai Transaksi Ekonomi Kegiatan Pariwisata Jawa Barat Tahun

2019-2020

83 Tabel 5.7. Dampak Ekonomi Pariwisata Jawa Barat, Tahun 2019-2020 86 Tabel 5.8. Dampak Pengeluaran Pariwisata terhadap Output, Tahun 2019-

2020 (Miliar Rupiah)

88 Tabel 5.9. Dampak Pengeluaran Pariwisata terhadap PDRB Jawa Barat, Tahun

2019-2020 (Miliar Rupiah)

90 Tabel 5.10. Dampak Pengeluaran Pariwisata terhadap Kompensasi Tenaga

Kerja, Tahun 2019 - 2020 (Miliar Rupiah)

94 Tabel 5.11. Dampak Pengeluaran Pariwisata terhadap Penyerapan Tenaga

Kerja, Tahun 2019—2020

96

(10)

Neraca Satelit Pariwisata Daerah (NESPARDA) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2021 xi

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 2.1. Klasifikasi Penduduk yang Melakukan Perjalanan Mancanegara 21 Gambar 4.1. Perkembangan TPK Hotel di Jawa Barat Januari-Desember 2020 43 Gambar 5.1. Pengeluaran Wisnus yang datang ke Provinsi Jawa Barat Tahun

2019-2020

62 Gambar 5.2. Struktur Pengeluaran Wisnus Asal Jawa Barat Tahun 2019-2020 65 Gambar 5.3. Pengeluaran Wisnus Asal Provinsi Jawa Barat di Sektor Industri

Pengolahan Tahun 2019-2020

66 Gambar 5.4. Pengeluaran Wisnus dari Luar Provinsi Jawa Barat di Sektor

Transportasi dan Pergudangan Tahun 2019-2020

67 Gambar 5.5. Pengeluaran Wisnus dari Luar Provinsi Jawa Barat di Sektor

Lainnya Tahun 2019-2020

68 Gambar 5.6. Struktur Pengeluaran Wisnus dari Luar Jawa Barat Tahun 2019-

2020

70 Gambar 5.7. Pengeluaran Wisnus dari Luar Provinsi Jawa Barat di Sektor

Industri Pengolahan Tahun 2019-2020

71 Gambar 5.8. Pengeluaran Wisnus dari Luar Provinsi Jawa Barat di Sektor

Transportasi dan Pergudangan Tahun 2019-2020

72 Gambar 5.9. Pengeluaran Wisnus dari Luar Provinsi Jawa Barat di Sektor

Lainnya Tahun 2019-2020

73 Gambar 5.10. Struktur Investasi Pariwisata Menurut Kelompok Barang Modal di

Jawa Barat Tahun 2019-2020 (Persen)

76 Gambar 5.11. Struktur Pengeluaran Pemerintah Terkait Pariwisata Menurut

Industri di Jawa Barat Tahun 2019-2020 (Persen)

81 Gambar 5.12. Dampak Ekonomi Pariwisata Jawa Barat, Tahun 2019 (Miliar

Rupiah)

99 Gambar 5.13. Dampak Ekonomi Pariwisata Jawa Barat, Tahun 2020 (Miliar

Rupiah)

100

(11)
(12)

Neraca Satelit Pariwisata Daerah (NESPARDA) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2021 1

BAB I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Industri pariwisata merupakan salah satu industri terbesar dan merupakan sektor jasa dengan tingkat pertumbuhan paling pesat di dunia saat ini. Bersama dengan industri teknologi dan informasi, industri pariwisata diperkirakan menjadi prime mover perekonomian abad 21. Organisasi pariwisata dunia, dalam hal ini United Nations World Tourism Organization (UNWTO) memperkirakan pada tahun 2020 internasional turis akan mencapai 1,6 Miliar. Secara total, tingkat pertumbuhan kunjungan wisatawan diperkirakan 4,1 persen per tahun. Untuk wilayah Asia Timur dan Pasifik diperkirakan dapat dicapai pertumbuhan yang lebih tinggi yaitu 6,5 persen. Bahkan di negara tertentu pertumbuhan yang jauh lebih tinggi dapat tercapai.

Pariwisata merupakan salah satu sektor yang memiliki potensi besar untuk mendukung perekonomian suatu Negara. Berbagai lokasi wisata dengan beragam budaya yang melekat dapat ditemukan di berbagai daerah yang dapat menarik perhatian pengunjung, baik wisatawan lokal maupun asing. Perkembangan pariwisata saat ini menjadi fenomena global dengan melibatkan jutaan manusia yang bergerak dikalangan industri pariwisata. Pariwisata dianggap mempunyai keunggulan karena mayoritas berada di sektor jasa, selain itu pariwisata merupakan komoditas yang paling berkelanjutan dan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat.

Pertambahan pendapatan masyarakat, ditambah dengan sarana jalan serta akses terhadap moda angkutan yang memadai telah berdampak pada pesatnya perkembangan kegiatan pariwisata di Jawa Barat. Dinamika yang terjadi ternyata juga menciptakan berbagai pola perjalanan yang bervariasi dari waktu ke waktu. Ini merupakan peluang sekaligus tantangan bagi pengembangan kepariwisataan di Jawa Barat.

(13)

Angka estimasi WTO mengenai perkembangan pariwisata sudah tentu sangat menggiurkan pelaku usaha pariwisata. Potensi itu tak boleh hanya dibiarkan menjadi peluang liar yang sulit ditangkap. Oleh sebab itu banyak negara terutama di Asia Pasifik berpacu dan berbenah diri untuk membangun industri pariwisatanya.

Namun kenyataan berkata lain, November 2021 UNWTO merilis pertumbuhan kunjungan wisatawan tahun 2020 untuk wilayah asia timur dan pasifik sebesar -84 persen. Tentunya ini tidak seindah perkiraan bahwa wisatawan Asia Timur dan Pasifik akan tumbuh sekitar 6,5% di tahun 2020. Hal tersebut diakibatkan dampak dari pandemi Covid-19 sejak kuartal kedua tahun 2020. Di tengah pandemi yang masih terus menghantui, dibutuhkan inovasi dan strategi yang tepat dan produktif untuk membuat pasar pariwisata menggeliat kembali, karena sampai dengan November 2021 pertumbuhan sektor pariwisata utk wilayah Asia Timur dan Pasifik masih terkontraksi sebesar -95 persen.

Namun demikian melihat potensi pariwisata di Jawa Barat, industri ini merupakan salah satu peluang pemulihan ekonomi yang menjanjikan. Potensi wisata alam dan suhu udara yang mendukung, serta animo masyarakat terhadap objek wisata di Jawa Barat merupakan daya tarik yang cukup kuat. Dengan didukung infrastruktur jalan dan pembangunan fasilitas pendukung pariwisata serta pesona kuliner Jawa Barat yang khas dan beragam maka industri pariwisata masih merupakan potensi ekonomi yang besar bagi pemulihan ekonomi Jawa Barat.

Menangani industri pariwisata memang lebih rumit karena melibatkan multi sektor. Industri pariwisata melibatkan hampir semua sektor ekonomi baik yang tergolong tourism characteristic industry seperti hotel dan restoran, maupun tourism connected industry yaitu industri yang sepintas tak berkaitan dengan industri pariwisata namun sebagian demand nya berasal dari pariwisata. Jumlah industri yang terkait dan menerima dampak multiplier dari pariwisata pun sangat banyak.

Terkait perkembangan pariwisata Jawa Barat, Jabar Explore 2020 merupakan salah satu event yang dapat mengembangkan potensi pariwisata serta seni dan budaya di wilayah Provinsi Jawa Barat. Kegiatan Jabar Explore 2020 ini merupakan program yang sangat tepat bagi pengembangan pariwisata Jawa Barat karena di

(14)

Neraca Satelit Pariwisata Daerah (NESPARDA) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2021 3 dalamnya terdapat promosi seni dan budaya serta eksplorasi desa wisata. Hal

tersebut juga didukung oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, yang menyatakan pihaknya akan mengembangkan sektor pariwisata di Jawa Barat dengan mengedepankan konsep kultural dan ecotourism atau wisata berbasis alam.

Dengan makin giatnya promosi dari masing-masing Dinas Pariwisata Daerah dibantu dengan instansi terkait untuk mengenalkan daerah serta tempat-tempat wisata lainnya, serta didukung oleh prasarana dan sarana yang ada, maka diharapkan jumlah pergerakan wisatawan nusantara semakin meningkat.

Dengan adanya kegiatan perjalanan wisata, diharapkan akan tercipta konsumsi wisatawan di dalam negeri. Konsumsi atau belanja wisatawan tersebut menjadi faktor pendorong bagi pengembangan sarana dan prasarana pariwisata yang pada akhirnya menuju pada perkembangan pariwisata khususnya dan perekonomian pada umumnya. Nilai ekonomi dari hasil penjualan jasa pariwisata kadang kala tidak dapat diukur secara nyata dalam bentuk nominal langsung, Nilai ekonomi tersebut seringkali terkesan hanya langsung berhubungan dengan para pelaku pariwisata itu sendiri. Namun sesungguhnya nilai ekonomi dari kegiatan pariwisata tidak hanya dinikmati oleh suatu sektor tersendiri, tapi juga dinikmati oleh berbagai sektor. Sebagai contoh, seorang wisatawan membeli sebuah cendera mata, maka yang akan menikmati rantai dari pembelian tersebut adalah penjual, pembuat cendera mata, distributor dan bahkan pembuat bahan baku cendera mata tersebut yang dalam kegiatan ekonomi dikelompokkan dalam industri. Dengan meningkatnya jumlah konsumsi wisatawan, tentu akan semakin besar dampak ekonomi yang dinikmati, dan semakin banyak sektor yang terkait.

Untuk melihat keterkaitan antar sektor serta dampak ekonomi yang diciptakan oleh kegiatan pariwisata, dibutuhkan data yang akurat, terpercaya, terkini, dan konsisten yang meliputi aspek-aspek yang terkait dengan dunia pariwisata. Di samping itu, agar terlihat asas manfaat untuk masyarakat luas, perlu penyajian informasi yang jelas dan menyeluruh dalam bentuk laporan yang mudah dipahami. Hal ini sejalan dengan dinamika masyarakat sekarang ini, di mana

(15)

tuntutan transparansi dan akuntabilitas publik menjadi suatu keharusan. Dengan adanya informasi pariwisata yang komprehensif, masyarakat dan dunia usaha diharapkan akan lebih memberikan perhatiannya dan bersedia bekerja sama dengan pemerintah untuk meningkatkan sektor pariwisata di Jawa Barat.

Untuk dapat menjawab tantangan tersebut, maka perlu disusun suatu sistem yang dapat memperlihatkan peranan pariwisata secara komprehensif. Neraca Satelit Pariwisata Daerah atau yang disingkat dengan Nesparda adalah suatu sistem neraca terpadu sektor pariwisata yang mampu menjawab tuntutan tersebut. Kajian dan analisis hasil pembangunan kepariwisataan yang selama ini baru mencakup sebagian aspek dan dilakukan secara terpisah-pisah, diharapkan pada masa mendatang menjadi kajian yang lebih menyeluruh dan konsisten dengan diterapkannya metode Nesparda yang dilakukan berkesinambungan.

Nesparda merupakan kegiatan yang bertujuan agar dapat tersusun informasi pariwisata dan kegiatan yang terkait pariwisata secara lengkap, baik dari sisi permintaan maupun penawaran. Nesparda merupakan suatu konsep dan metode tampilan informasi kuantitatif sektor pariwisata yang menyediakan perangkat analisis yang menyeluruh (comprehensive), kompak (compact), saling berkait (interconnected), konsisten (consistent) dan terkontrol (controllable). Sistem ini terbilang ampuh dan handal dalam menjawab tantangan penyediaan informasi kuantitatif dan kualitatif yang dapat digunakan untuk mengkaji dan mengevaluasi pelaksanaan kebijakan kepariwisataan pada masa lalu serta sekaligus menjawab tantangan dan permasalahan pariwisata di masa datang.

Mengingat hal-hal tersebut di atas, penyusunan Nesparda menjadi sangat penting untuk dilakukan, mengingat kebutuhan mendesak baik dalam menetapkan arah kebijakan dan program pembangunan pariwisata maupun kebutuhan analisis yang lebih luas mengenai kinerja sektor pariwisata dan dampaknya terhadap perekonomian di Jawa Barat.

(16)

Neraca Satelit Pariwisata Daerah (NESPARDA) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2021 5 1.2. Permasalahan

Permasalahan pokok dalam menjawab tantangan di atas adalah bagaimana menyusun dan membentuk sistem dan kerangka informasi kuantitatif kepariwisataan Jawa Barat yang akurat, handal, konsisten, dan komprehensif, mencakup aspek mikro dan makro ekonomi, serta akomodatif terhadap rekomendasi Badan-Badan Dunia seperti UNWTO dan World Travel and Tourism Council (WTTC). Dalam perumusan masalah tersebut, maka perlu untuk melengkapi data dasar, seperti jumlah wisatawan nusantara, tenaga kerja , investasi baik langsung maupun tidak langsung terkait dengan kegiatan pariwisata, pajak pariwisata dan promosi yang dilakukan pemerintah serta pengeluaran dunia usaha untuk pariwisata atau yang terkait.

1.3. Tujuan

Kegiatan ini meliputi penyusunan Nesparda dan melengkapi data-data pokok yang akan digunakan dalam menyusun tabel-tabel dalam Nesparda, serta mempertajam analisis tentang pariwisata. Nesparda disusun dalam bentuk set data kuantitatif dan kualitatif yang berfungsi sebagai kerangka dasar pengembangan subsistem informasi untuk melihat kegiatan kepariwisataan dalam dimensi sektor ekonomi dan wilayah. Adapun tujuan Nesparda disusun adalah untuk mengembangkan data dan informasi daerah di bidang kepariwisataan serta untuk melihat perencanaan atau kontribusi pariwisata terhadap perekonomian daerah.

Dari hasil tersebut diharapkan dapat dibuat kebijakan yang tepat dan terarah.

1.4. Ruang Lingkup Kegiatan

Ruang lingkup kegiatan Penyusunan Nesparda mencakup kegiatan pariwisata yaitu dari sisi permintaan yang mencakup konsumsi wisatawan, investasi, dan pengeluaran konsumsi pemerintah menyebabkan tarikan dampak kepada sisi penawaran. Karena adanya keterbatasan pengeluaran wisatawan hanya mencakup wisatawan nusantara yang melakukan wisata di Jawa Barat, baik yang berasal dari Jawa Barat maupun dari provinsi lain.

(17)

1.5. Metodologi

Metodologi Penyusunan Nesparda

1) Pengumpulan data mengenai jumlah wisatawan diperoleh dari data sekunder, yaitu dari Publikasi Statistik Wisatawan Nusantara 2020. Pada publikasi tersebut metode yang digunakan untuk menghitung jumlah wisatawan adalah dengan memanfaatkan Big Data melalui Mobile Positioning Data (MPD). Data konsumsi wisatawan diperoleh dari data primer dan data sekunder. Data primer merupakan hasil Survei Wisatawan yang dilaksanakan pada tahun 2021 di tujuh Kabupaten Kota destinasi wisata utama Jawa Barat antara lain Kabupaten Bogor , Kabupaten Cianjur , Kabupaten Bandung, Kabupaten Garut, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Pangandaran dan Kota Bandung, sedangkan data sekunder konsumsi wisatawan yang digunakan adalah data hasil survei Wisnus konvensional 2019-2020 dan Survei Digital Wisnus 2020.

2) Data Investasi Pariwisata dan Konsumsi Pemerintah fungsi pariwisata diperoleh dari data sekunder dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Barat dan Dinas Pariwisata Kabupaten/Kota se Provinsi Jawa Barat.

3) Dalam mengukur dampak atau peranan pariwisata terhadap perekonomian digunakan model Input Ouput. Model ini menggunakan Tabel Input Output (I-O) yang berupa suatu matriks yang menyajikan informasi tentang transaksi barang dan jasa serta saling keterkaitan antar satuan kegiatan ekonomi dalam suatu wilayah dan periode tertentu. Permintaan akhir yang terdiri dari konsumsi wisatawan, investasi sektor pariwisata dan pengeluaran pemerintah terkait kegiatan kepariwisataan di dalam Tabel I- O 2016 merupakan faktor eksogen yang mendorong penciptaan nilai produksi barang dan jasa. Selanjutnya masing-masing struktur pengeluaran dari permintaan akhir tersebut diklasifikasikan kembali mengikuti klasifikasi sektor I-O dan mengalikannya dengan koefisien multiplier Leontief untuk memperoleh dampaknya.

(18)

Neraca Satelit Pariwisata Daerah (NESPARDA) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2021 7 1.6. Tenaga Ahli

Untuk melaksanakan kegiatan penyusunan Nesparda Tahun Anggaran 2021, telah disiapkan suatu Tim Tenaga Ahli dari berbagai disiplin ilmu terkait, yaitu ahli metodologi dan design survey, ahli neraca daerah, ahli analisis statistik, ahli statistik pariwisata, serta dibantu oleh tenaga operator komputer dan sekretariat/administrasi. Tim bertugas melaksanakan semua kegiatan pekerjaan mulai dari perencanaan sampai laporan akhir, dan setiap anggota tim memberikan kontribusinya sesuai tugas dan keahliannya. Tim dipimpin oleh seorang ketua yang bertugas secara langsung mengkoordinasikan seluruh kegiatan masing-masing anggota. Adapun rincian tugas untuk masing-masing tenaga ahli adalah sebagai berikut:

A. Tenaga Ahli Metodologi dan Desain Survey

1. Mempelajari desain survey yang digunakan saat ini 2. Mempelajari alur pengumpulan data investasi

3. Mempelajari kendala lapangan dalam pengumpulan data investasi

4. Mempelajari berbagai referensi terkait sebagai bahan pertimbangan teoritis penentuan desain metodologi

5. Mempelajari kemungkinan/alternatif kemudahan teknik pengumpulan data di lapangan

6. Menyusun metodologi dan desain survey dalam rangka pencacahan investasi terkait parwisata

B. Tenaga Ahli Neraca

1. Mempelajari kerangka nesparda yang digunakan saat ini 2. Melakukan pengidentifikasian data-data yang diperlukan

3. Melakukan simulasi penyusunan nesparda dengan menggunakan tabel I-O 4. Mempelajari berbagai referensi terkait sebagai bahan pertimbangan

penyusunan nesparda dengan adanya variabel-variabel tambahan 5. Mempelajari kemungkinan/alternatif metoda penyusunan nesparda

(19)

6. Mengumpulkan data-data yang diperlukan sebagai bagian dari sisi permintaan dari nesparda, seperti investasi, pengeluaran pemerintah di bidang pariwisata

7. Melakukan pengolahan dan penyusunan dampak pariwisata terhadap perekonomian daerah

8. Bersama tim menyusun nesparda C. Tenaga Ahli Analisis Statistik

1. Mempelajari konsep dan definisi yang digunakan

2. Menginventarisir semua variabel dan karakteristik yang dikumpulkan pada penyusunan data investasi dan variabel lainnya

3. Mempelajari series data yang ada untuk setiap variabel yang diteliti 4. Melakukan pengolahan data hasil pengumpulan data investasi 5. Melakukan penyusunan tabulasi

6. Menyajikan tabel hasil akhir pengolahan

7. Melakukan analisa terhadap hasil yang diperoleh, baik hasil tenaga kerja maupun sisi permintaan pariwisata seperti konsumsi wisatawan, investasi pariwisata serta konsumsi pemerintah pada fungsi pariwisata.

8. Bersama tim melakukan penyusunan nesparda D. Tenaga Ahli Statistik Pariwisata

1. Identifikasi data dan informasi

2. Mempelajari berbagai referensi terkait sebagai bahan teoritis pengumpulan data

3. Study literatur informasi bidang pariwisata baik di dalam maupun luar negeri 4. Mempelajari kerangka nesparda yang digunakan saat ini

5. Penyusunan kuesioner dan buku pedoman

9. Melakukan analisa terhadap hasil yang diperoleh, baik hasil tenaga kerja maupun sisi permintaan pariwisata seperti konsumsi wisatawan, investasi pariwisata serta konsumsi pemerintah pada fungsi pariwisata.

6. Pembahasan hasil survei

(20)

Neraca Satelit Pariwisata Daerah (NESPARDA) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2021 9 Ketua Tim bertugas mengkoordinasikan seluruh kegiatan sesuai dengan

tahapan yang telah disusun dan bertanggung jawab terhadap keseluruhan kegiatan baik teknis maupun administrasi. Sementara itu, operator komputer bertugas mengidentifikasi dan inventarisasi data dan informasi serta pengolahan data dan tabulasi. Adapun sekretariat bertugas membantu kelancaran pelaksanaan pekerjaan dan bertanggung jawab langsung kepada ketua tim.

1.7. Tahapan kegiatan

A. Perencanaan dan persiapan 1) Studi literatur

Sebagai awal dari kegiatan ini dilakukan studi literatur dari Tourism Satellite Account (TSA) Indonesia 2016-2019 dan publikasi Nearca Satelit Pariwisata Nasional 2017 yang telah disusun oleh BPS RI.

2) Penyusunan variabel dan kerangka tabel pokok Nesparda

Variabel-variabel dan data pokok yang diperlukan dalam penyusunan Nesparda, terutama data pengeluaran wisatawan dan investasi, diinventarisir dan dikumpulkan pada tahap ini. Data-data tersebut merupakan data primer dan data sekunder hasil survei yang telah dilakukan. Selain itu juga menyusun kerangka tabel pokok dan data penunjang yang diperlukan.

3) Penyusunan daftar isian

Untuk memperoleh data primer maupun sekunder maka akan disusun kuesioner sebagai alat kumpul data beserta pedoman cara pengisiannya yang didahului dengan menginventarisir item-item yang diperlukan.

B. Pelaksanaan lapangan

Pengumpulan data lapangan dalam hal ini data konsumsi wisatawan, dilakukan oleh petugas yang telah dilatih dengan menggunakan kuesioner yang telah terstruktur.

C. Pengolahan

1) Pengolahan Data Konsumsi Wisatawan

Petugas lapangan langsung melakukan input data pada sistem yang telah disediakan. Pada proses pelaksanaan lapangan, pengawas langsung

(21)

melakukan pemeriksaan berupa editing, coding dan validasi untuk selanjutnya dilakukan input data oleh petugas.

2) Pengolahan Data Investasi Pariwisata

Data Investasi yang dikumpulkan adalah data Penanaman Modal Asing dan Penanaman Modal Dalam Negeri yang termasuk KBLI Kegiatan Pariwisata.

Data investasi juga termasuk data belanja modal pada Dinas Pariwisata se Jawa Barat. Data-data tersebut diagregasi untuk kemudian diklasifikasikan ke dalam 52 lapangan usaha sesuai Tabel I-O untuk kemudian dilakukan penghitungan dampak terhadap output industri pariwisata.

3) Pengolahan Data Konsumsi Pemerintah Fungsi Pariwisata

Data APBD pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan baik di Kabupaten Kota maupun Provinsi Jawa Barat diagregasi dengan data APBN Fungsi Pariwisata lalu diklasifikan menjadi data Konsumsi Pengeluaran Pemerintah dengan klasifikasi Tabel I O.

4) Pengolahan Nesparda

Pengolahan pada tahap ini menggunakan Tabel Input Ouput. Data permintaan akhir dari pariwisata yang telah dikumpulkan pada tahap awal, diklasifikasikan kembali sesuai struktur sektor di Tabel I-O. Dengan menggunakan model dan persamaan matriks yang ada, maka akan diperoleh dampak pariwisata terhadap komponen perekonomian Jawa Barat.

5) Pembahasan hasil

Sebelum dilakukan analisis perlu dilakukan pembahasan tabel-tabel hasil studi, baik untuk data primer maupun data sekunder, serta hasil nesparda secara keseluruhan, untuk lebih mencermati data menurut berbagai karakteristik.

6) Analisis dan penyajian

Sebagai output akhir kegiatan ini akan dilakukan analisis dari hasil tabel- tabel olahan yang sudah selesai dibahas dalam bentuk laporan.

(22)

Neraca Satelit Pariwisata Daerah (NESPARDA) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2021 11 1.8. Institusi Terkait Penyusunan Nesparda

Kerja sama antar institusi/lembaga pemerintah sangat diperlukan dalam melakukan penyusunan Nesparda ini. Dalam penyusunan Nesparda ini, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat dibantu oleh Tim dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat. Adapun tim utama dalam penyusunan Nesparda ini adalah Badan Pusat Statistik, terutama yang bertanggung jawab secara teknis dalam penyusunan Statistik Pariwisata dan Neraca. Di lain pihak Dinas Pariwisata dan Kebudayaan bertanggung jawab dalam mengorganisasi sumber dana dan data pengeluaran konsumsi pemerintah fungsi parwisata dan data investasi pariwisata.

Kedua tim ini melakukan diskusi secara reguler khususnya untuk memecahkan masalah teknis seperti bagaimana mendapatkan sumber data, konsep dan definisi serta kerangka Nesparda.

Di dalam struktur organisasi BPS, terdapat tim Statistik Pariwisata dan tim Input-Output yang bertanggung jawab dalam penyusunan Tabel I-O. Tabel yang digunakan dalam penyusunan Nesparda kali ini adalah tabel I-O 2016. Sebagian dari tim penyusunan tabel I-O terlibat juga dalam penyusunan Nesparda ini, sehingga Tabel I-O tersebut dapat langsung diimplementasikan ke dalam Nesparda.

(23)
(24)

Neraca Satelit Pariwisata Daerah (NESPARDA) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2021 13

BAB II

PEMAHAMAN NESPARDA

A. KERANGKA UMUM NESPARDA 1. Pengertian Dasar Nesparda

Berbeda dengan sifat dan jenis industri konvensional seperti pertanian, manufaktur dan sebagainya, industri pariwisata sangat sulit untuk dijelaskan secara tepat, bahkan dalam pemilihan ukuran-ukuran statistiknya. Nesparda sebagai salah satu neraca satelit memang dirancang untuk menyajikan informasi yang sangat spesifik, sehingga area penting seperti halnya pariwisata dapat dianalisis secara lebih detail.

Neraca Satelit Pariwisata Daerah (Nesparda) merupakan seperangkat neraca yang berisikan data tentang peran kegiatan pariwisata dalam tatanan ekonomi daerah. Disebut sistem karena terdiri dari berbagai elemen neraca, di mana satu dengan lainnya saling berkaitan dan saling mempengaruhi, yang digambarkan melalui keterkaitan berbagai jenis transaksinya. Secara spesifik, Nesparda berisikan data tentang perilaku pariwisata dalam melakukan transaksi ekonomi dengan berbagai institusi ataupun pelaku-pelaku ekonomi domestik dalam bentuk neraca dan matriks.

Dengan demikian, perangkat Nesparda yang akan disajikan dalam kajian di sini hanya berisikan informasi tentang hubungan antara kegiatan pariwisata dengan kegiatan proses produksi barang dan jasa, dalam wilayah ekonomi Jawa Barat.

Hubungan tersebut merupakan interaksi antara pelaku pariwisata dengan produsen pariwisata, maupun antar produsen pariwisata itu sendiri. Beberapa analisis akan diturunkan dari perangkat tersebut, di antaranya analisis tentang nilai tambah yang diturunkan ataupun analisis tentang dampak pariwisata terhadap kegiatan ekonomi di sektor riil.

Hubungan transaksi antara pelaku pariwisata (fungsi konsumsi) dengan pelaku ekonomi (fungsi produksi) regional tersebut dalam konteks makro disebut sebagai interaksi antara “Supply” dan “Demand”. Apabila pada keseimbangan makro

(25)

Supply” harus sama dengan “Demand”, maka hukum ini tidak berlaku sepenuhnya bagi kegiatan ekonomi pariwisata. Tidak semua produk kegiatan ekonomi tersebut langsung dikonsumsi habis oleh pariwisata, karena ada kegiatan di luar pariwisata yang juga mengkonsumsi produk tersebut.

Selanjutnya Nesparda menggambarkan semua kegiatan dan transaksi ekonomi yang berhubungan dengan barang-barang dan jasa pariwisata, pada sisi permintaan (demand) yang kemudian berdampak berupa tarikan permintaan (demand pull) pada terhadap sisi produksi (supply). Dari sisi produksi, produsen pariwisata yang terdampak meliputi hotel, restoran, transportasi, biro perjalanan, rekreasi dan hiburan, obyek pariwisata, serta kegiatan penunjang seperti persewaan, money changer, industri kerajinan, pusat pertokoan dan sebagainya. Sementara dari sisi permintaan/konsumen terdapat aktifitas ekonomi dalam bentuk konsumsi yang dilakukan oleh para wisatawan. Wisatawan itu terdiri dari wisatawan lokal atau warga Jawa Barat yang berwisata di dalam wilayah Jawa Barat (local tourism), warga Jawa Barat yang berwisata ke luar Jawa Barat namun masih di dalam wilayah nusantara (domestic outbound tourism), warga Jawa Barat yang berwisata keluar negeri (international outbound tourism), warga luar Jawa Barat, namun masih warga Indonesia, yang berwisata di dalam wilayah Jawa Barat (domestic inbound tourism/wisnus), dan wisatawan mancanegara yang berwisata di dalam wilayah Jawa Barat (international inbound tourism/wisman).

Sebagai suatu sistem data yang komprehensif, cakupan Nesparda meliputi:

(1) struktur ekonomi yang terdampak permintaan sektor pariwisata, (2) struktur pengeluaran wisatawan dan besarannya, (3) struktur investasi pariwisata dan kontribusinya dalam investasi daerah, (4) struktur pekerja di sektor pariwisata dan kontribusinya pada pekerja daerah dan (5) peran sektor pariwisata pada perekonomian daerah.

Struktur neraca yang akan disajikan dalam Nesparda disini adalah keterkaitan “Demand” pariwisata terhadap “Supply” pariwisata, yang merupakan dampak pengganda tabel Input-Output akibat tarikan permintaan terhadap pariwisata. Hubungan tersebut menggambarkan transaksi langsung dan tidak

(26)

Neraca Satelit Pariwisata Daerah (NESPARDA) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2021 15 langsung yang terjadi antara “Supply” dengan “Demand”. Tabel Input-Output juga

akan menghitung dampak kegiatan pariwisata terhadap tatanan ekonomi, khususnya yang berkaitan dengan kegiatan di sektor riil (multiplier effect). Kegiatan ekonomi yang terdampak adalah yang layanan/produknya memang sebagian besar ditujukan bagi permintaan wisatawan, baik dalam negeri (wisnus), termasuk wisatawan lokal Jawa Barat, maupun luar negeri (wisman).

2. Pemahaman Supply dan Demand

Meskipun mengacu pada konsepsi yang sama, Supply (penyediaan atau penawaran) dan Demand (permintaan) bagi kegiatan pariwisata mempunyai arti yang lebih spesifik. Interaksi ini lebih menggambarkan tentang keseimbangan transaksi ekonomi antara industri pariwisata dengan wisatawan dalam upaya pemenuhan kebutuhannya. Meningkatnya jumlah wisatawan secara luar biasa dalam satu dekade terakhir memberikan dampak bagi pertumbuhan industri pariwisata, baik secara kuantitas maupun kualitas. Demikian hal nya saat pandemi Covid-19 melanda seluruh dunia, dampak negatif yang etrjadi terhadap pariwisata menyebabkan penurunan kinerja ekonomi terutama pada wilayah dengan potensi pariwisat yang cukup besar.

Dari sisi penyediaan produk jasa pariwisata, terdapat berbagai aktivitas seperti hotel, restoran, transportasi, agen perjalanan, rekreasi dan hiburan, objek wisata, serta kegiatan penunjang seperti persewaan, money changer, pusat industri kerajinan, pusat pertokoan, dan sebagainya. Sedangkan sisi permintaan atau “tourist demand” merupakan permintaan akan barang dan jasa oleh wisatawan untuk tujuan dikonsumsi langsung yang jenisnya merupakan produk yang dihasilkan oleh industri pariwisata tersebut.

2.1. Penyediaan/Penawaran (Supply) Parwisata

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, usaha pariwisata meliputi tiga belas jenis usaha utama, yaitu: daya tarik wisata, kawasan pariwisata, jasa transportasi wisata, jasa perjalanan wisata,

(27)

penyediaan makanan dan minuman, penyediaan akomodasi, penyelenggaraan kegiatan hiburan dan rekreasi, penyelenggaraan pertemuan/insentif/ konferensi/

dan pameran, jasa informasi pariwisata, jasa konsultasi pariwisata, wisata tirta, serta spa. Sedangkan yang dimaksud dengan usaha adalah kegiatan menghasilkan barang atau jasa untuk dijual dalam suatu lokasi tertentu, mempunyai catatan administrasi tersendiri dan ada salah satu orang yang bertanggung jawab.

Penjelasan terkait 13 usaha utama dalam usaha pariwisata berdasarkan UU No.10 Tahun 2009 sebagai berikut:

Usaha daya tarik wisata adalah usaha yang kegiatannya mengelola daya tarik wisata alam, daya tarik wisata budaya, dan daya tarik wisata buatan/binaan manusia.

Usaha kawasan pariwisata adalah usaha yang kegiatannya membangun dan/atau mengelola kawasan dengan luas tertentu untuk memenuhi kebutuhan pariwisata.

Usaha jasa transportasi wisata adalah usaha khusus yang menyediakan angkutan untuk kebutuhan dan kegiatan pariwisata, bukan angkutan transportasi reguler/umum.

Usaha jasa perjalanan wisata adalah usaha biro perjalanan wisata dan usaha agen perjalanan wisata. Usaha biro perjalanan wisata meliputi usaha penyediaan jasa perencanaan perjalanan dan/atau jasa pelayanan dan penyelenggaraan pariwisata, termasuk penyelenggaraan perjalanan ibadah. Usaha agen perjalanan wisata meliputi usaha jasa pemesanan sarana, seperti pemesanan tiket dan pemesanan akomodasi serta pengurusan dokumen perjalanan.

Usaha jasa makanan dan minuman adalah usaha jasa penyediaan makanan dan minuman yang dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan untuk proses pembuatan dapat berupa restoran, kafe, jasa boga, dan bar/kedai minum.

(28)

Neraca Satelit Pariwisata Daerah (NESPARDA) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2021 17 Usaha penyediaan akomodasi adalah usaha yang menyediakan pelayanan

penginapan yang dapat dilengkapi dengan pelayanan pariwisata lainnya. Usaha penyediaan akomodasi dapat berupa hotel, vila, pondok wisata, bumi perkemahan, persinggahan karavan, dan akomodasi lainnya yang digunakan untuk tujuan pariwisata.

Usaha penyelenggaraan kegiatan hiburan dan rekreasi merupakan usaha yang ruang lingkup kegiatannya berupa usaha seni pertunjukan, arena permainan, karaoke, bioskop, serta kegiatan hiburan dan rekreasi lainnya yang bertujuan untuk pariwisata.

Usaha penyelenggaraan pertemuan, perjalanan insentif, konferensi, dan pameran adalah usaha yang memberikan jasa bagi suatu pertemuan sekelompok orang, menyelenggarakan perjalanan bagi karyawan dan mitra usaha sebagai imbalan atas prestasinya, serta menyelenggarakan pameran dalam rangka menyebarluaskan informasi dan promosi suatu barang dan jasa yang berskala nasional, regional, dan internasional.

Usaha jasa informasi pariwisata adalah usaha yang menyediakan data, berita, feature, foto, video, dan hasil penelitian mengenai kepariwisataan yang disebarkan dalam bentuk bahan cetak dan/atau elektronik.

Usaha jasa konsultan pariwisata adalah usaha yang menyediakan saran dan rekomendasi mengenai studi kelayakan, perencanaan, pengelolaan usaha, penelitian, dan pemasaran di bidang kepariwisataan.

Usaha jasa pramuwisata adalah usaha yang menyediakan dan/atau mengoordinasikan tenaga pemandu wisata untuk memenuhi kebutuhan wisatawan dan/atau kebutuhan biro perjalanan wisata.

(29)

Usaha wisata tirta merupakan usaha yang menyelenggarakan wisata dan olahraga air, termasuk penyediaan sarana dan prasarana serta jasa lainnya yang dikelola secara komersial di perairan laut, pantai, sungai, danau, dan waduk.

Usaha spa adalah usaha perawatan yang memberikan layanan dengan metode kombinasi terapi air, terapi aroma, pijat, rempah-rempah, layanan makanan/minuman sehat, dan olah aktivitas fisik dengan tujuan menyeimbangkan jiwa dan raga dengan tetap memperhatikan tradisi dan budaya bangsa Indonesia.

2.2. Permintaan (Demand)

Konsep yang digunakan dalam penyusunan Nesparda adalah permintaan pariwisata dan bukan konsumsi pariwisata karena Nesparda mencoba untuk mencakup lebih banyak kegiatan pariwisata. Wisatawan yang tercakup dalam Nesparda terdiri dari lima kelompok, yaitu: wisatawan lokal (wislok), wisatawan domestic inbound, Wisatawan International Inbound, Wisatawan domestic outbound, dan Wisatawan International outbound. Sisi permintaan tersebut juga mencakup investasi dan promosi di sektor pariwisata yang dilakukan oleh pemerintah dan swasta. Konsep dan definisi lima kelompok wisatawan tersebut adalah sebagai berikut:

Wisatawan Lokal (Local Tourism) adalah penduduk Jawa Barat yang melakukan perjalanan dalam wilayah geografis Jawa Barat (perjalanan dalam provinsi), secara sukarela, kurang dari 6 bulan dan bukan untuk tujuan bersekolah atau bekerja (memperoleh upah/gaji) serta sifat perjalanannya bukan rutin, dengan kriteria:

▪ Mereka yang melakukan perjalanan ke obyek wisata komersial, tidak memandang apakah menginap atau tidak menginap di hotel/penginapan komersial serta apakah perjalanannya lebih atau kurang dari 100 km pulang pergi (PP)

▪ Mereka yang melakukan perjalanan bukan ke obyek wisata komersial tetapi menginap di hotel/penginapan komersial, walaupun jarak perjalanannya kurang dari 100 km PP.

(30)

Neraca Satelit Pariwisata Daerah (NESPARDA) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2021 19

▪ Mereka yang melakukan perjalanan bukan ke obyek wisata komersial dan tidak menginap di hotel/penginapan komersial tetapi jarak perjalannya lebih dari 100 km PP.

Wisatawan domestik yang berwisata ke Jawa Barat (Domestic Inbound Tourism) adalah penduduk Indonesia (tidak termasuk penduduk Jawa Barat) yang melakukan perjalanan dalam wilayah geografis Jawa Barat, secara sukarela, kurang dari 6 bulan dan bukan untuk tujuan bersekolah atau bekerja (memperoleh upah/gaji) serta sifat perjalanannya bukan rutin, dengan kriteria:

▪ Mereka yang melakukan perjalanan ke obyek wisata komersial, tidak memandang apakah menginap atau tidak menginap di hotel/penginapan komersial serta apakah perjalanannya lebih atau kurang dari 100 km pulang pergi (PP)

▪ Mereka yang melakukan perjalanan bukan ke obyek wisata komersial tetapi menginap di hotel/penginapan komersial, walaupun jarak perjalanannya kurang dari 100 km PP

▪ Mereka yang melakukan perjalanan bukan ke obyek wisata komersial dan tidak menginap di hotel/penginapan komersial tetapi jarak perjalannya lebih dari 100 km PP.

Wisatawan Mancanegara yang berwisata ke wilayah Jawa Barat (International Inbound Tourism) sesuai dengan rekomendasi World Tourism Organization (WTO) dan International Union Office Travel Organization (IUOTO) batasan/definisi wisatawan mancanegara adalah setiap orang yang mengunjungi suatu negara di luar tempat tinggalnya, didorong oleh satu atau beberapa keperluan tanpa bermaksud memperoleh penghasilan di tempat yang dikunjungi. Wisman pada dasarnya dibagi dalam dua golongan:

▪ Wisatawan (Tourist), yaitu pengunjung yang tinggal di negara yang dituju paling sedikit 24 jam, akan tetapi tidak lebih dari 6 (enam) bulan, dengan tujuan (a) berlibur, rekreasi dan olah raga, (b) bisnis, mengunjungi teman

(31)

dan keluarga, misi, menghadiri pertemuan, konferensi, kunjungan dengan alasan kesehatan, belajar, dan keagamaan.

▪ Pelancong (Excursionist), yaitu pengunjung yang tinggal di negara yang dituju kurang dari 24 jam, termasuk cruise passenger yang berkunjung ke suatu negara dengan kapal pesiar untuk tujuan wisata, lebih atau kurang dari 24 jam tetapi tetap menginap di kapal bersangkutan.

Wisatawan penduduk Jawa Barat yang berwisata keluar Jawa Barat tetapi masih wilayah nusantara (domestic outbound tourism) adalah penduduk Jawa Barat yang mengunjungi daerah (provinsi) lain didorong oleh satu atau beberapa keperluan tanpa bermaksud memperoleh penghasilan di tempat yang dikunjungi.

Wisatawan Domestic outbound terdiri atas wisatawan (tourist) dan pelancong (excursionist).

Wisatawan penduduk Jawa Barat yang berwisata ke Luar Negeri (international outbound tourism) adalah penduduk Jawa Barat yang melakukan perjalanan ke luar negeri bukan untuk bekerja atau memperoleh penghasilan di luar negeri dan tinggal tidak lebih dari 6 bulan dengan maksud kunjungan antara lain: (a) Berlibur, (b) Pekerjaan/bisnis, (c) Kesehatan, (d) Pendidikan, (e) Misi/pertemuan/kongres, (f) Mengunjungi teman/keluarga, (g) Keagamaan, (h) Olahraga dan (i) Lainnya.

(32)

Neraca Satelit Pariwisata Daerah (NESPARDA) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2021 21 Gambar 2.1.

Klasifikasi Penduduk yang Melakukan Perjalanan Mancanegara

Wisatawan penduduk Jawa Barat yang berwisata ke Luar Negeri (international outbound tourism) adalah penduduk Jawa Barat yang melakukan perjalanan ke luar negeri bukan untuk bekerja atau memperoleh penghasilan di luar negeri dan tinggal tidak lebih dari 6 bulan dengan maksud kunjungan antara lain: (a) Berlibur, (b) Pekerjaan/bisnis, (c) Kesehatan, (d) Pendidikan, (e) Misi/pertemuan/kongres, (f) Mengunjungi teman/keluarga, (g) Keagamaan, (h) Olahraga dan (i) Lainnya.

Perwakilan konsuler Imigran tetap

Imigran sementara Diplomat

Tidak termasuk dalam statistik

pariwisata Wisatawan

(Tourist)

Pelancong (Excursionist) Maksud

kunjungan Berlibur

Bisnis Kesehatan

Belajar Misi/

pertemuan/

kongres Mengunjungi

teman atau keluarga Keagamaan

Olahraga

Lainnya

Orang yang Melakukan Perjalanan

Termasuk dalam statistik pariwisata

Bukan penduduk Indonesia

WNI yang tinggal di luar negeri

>6 bulan Awak kapal/

pesawat bukan penduduk

Indonesia

Penumpang kapal pesiar

Pengunjung kurang dari 24 jam

Awak kapal/

pesawat

Pekerja yg tinggal di perbatasan

Nomaden Penumpang

transit Pengungsi Anggota

angkatan bersenjata

(33)

2.3. Jenis-Jenis Tabel/Subneraca Nesparda

Ada 10 (sepuluh) jenis tabel ikhtisar dan tabel subneraca yang digunakan sebagai bagian analisis dalam kerangka Neraca Satelit Pariwisata yang direkomendasikan oleh WTO. Tabel-tabel standar ini disusun sedemikian rupa agar kinerja sektor pariwisata dan posisinya dalam ekonomi makro daerah dapat dijelaskan secara terukur dan memadai. Namun demikian struktur tabel-tabel tersebut berbeda dengan sepuluh tabel yang direkomendasikan oleh WTO, karena keterbatasan data di Jawa Barat dan adanya perbedaan klasifikasi dari produk pariwisata. Sebagai contoh data same day visitors tidak tersedia secara rinci.

Berdasarkan hasil kajian data yang tersedia dan kemungkinan pengembangan data dalam jangka pendek, tabel-tabel yang dapat disusun adalah kesepuluh tabel dimaksud yang dapat dilihat pada Lampiran. Sedangkan penjelasan masing-masing format tabel adalah sebagai berikut:

Tabel 1, menggambarkan struktur pengeluaran wisatawan lokal di Jawa Barat menurut jenis produk barang.

Tabel 2, menggambarkan struktur pengeluaran wisatawan lokal keluar Jawa Barat menurut jenis produk barang dan jasa yang dikonsumsi

Tabel 3, menggambarkan struktur pengeluaran wisatawan Nusantara ke Jawa Barat menurut jenis produk barang dan jasa yang dikonsumsi

Tabel 4, menggambarkan struktur pengeluaran wisatawan Mancanegara ke Jawa Barat menurut jenis produk barang dan jasa yang dikonsumsi

Tabel 5, merupakan penggabungan dari tabel 1, tabel 2 dan tabel 3 yang menggambarkan struktur pengeluaran seluruh wisatawan (wisman, wisnus dan outbound) menurut jenis produk barang dan jasa yang dikonsumsi dan jenis wisatawannya.

Tabel 6, memperlihatkan struktur pembentukan modal tetap bruto (investasi fisik) yang merupakan bagian dari investasi yang direalisasikan untuk menunjang kegiatan pariwisata. Investasi fisik tersebut dilakukan oleh pemerintah (pusat dan daerah) maupun swasta (nasional dan asing) dalam bentuk bangunan hotel, restoran, mesin dan peralatan, alat angkutan, dan barang modal penunjang lainnya.

(34)

Neraca Satelit Pariwisata Daerah (NESPARDA) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2021 23 Tabel 7, memperlihatkan struktur pengeluaran konsumai pemerintah (pusat dan

daerah) yang digunakan untuk fungsi pariwisata.

Tabel 8, menggambarkan nilai transaksi ekonomi kegiatan pariwisata Jawa Barat Tahun 2019-2020, yang terdiri dari Pengeluaran konsumsi wisatawan baik yang berasal dari Jawa Barat maupun yang dari luar Jawa Barat; Pengeluaran Konsumsi Pemerintah serta Investasi Pariwisata

Tabel 9, menggambarkan dampak ekonomi pariwisata terhadap ekonomi agregat Jawa Barat 2019-2020.

Tabel 10, Dampak pengeluaran pariwisata terhadap output produksi barang dan jasa Jawa Barat 2019-2020

Tabel 11, Dampak pengeluaran pariwisata terhadap Produk Domestik Regional Bruto Jawa Barat 2019-2020

Tabel 12, Dampak pengeluaran pariwisata terhadap kompensasi tenaga kerja Jawa Barat 2019-2020

Tabel 13, Dampak pengeluaran pariwisata terhadap penyerapan tenaga kerja Jawa Barat 2019-2020

Tabel 14, Neraca Satelit Pariwisata Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2019 Tabel 15, Neraca Satelit Pariwisata Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2020

B. MODEL PENGUKURAN DAMPAK PARIWISATA 1. Model Input Output

Pariwisata dengan segala aspeknya dapat memberikan dampak kepada berbagai aspek kehidupan, baik secara ekonomi maupun non ekonomi. Secara ekonomi, dampak pariwisata menjadi potensi besar dalam penerimaan devisa negara dari konsumsi wisatawan mancanegara terhadap produk barang dan jasa nasional. Wisatawan nusantara tidak kalah pentingnya memberi porsi besar dalam penciptaan ekonomi nasional maupun regional.

Model Input-Output dapat digunakan untuk mengukur dampak pariwisata terhadap perekonomian suatu provinsi. Model ini didasarkan pada keterkaitan antar sektor ekonomi yang memiliki asumsi homogenitas (kesatuan output),

(35)

proporsionalitas (hubungan linear input dan output) dan aditivitas. Tabel Input Output (I-O) berupa suatu matriks yang menyajikan informasi tentang transaksi barang dan jasa serta saling keterkaitan antar satuan kegiatan ekonomi dalam suatu wilayah dan periode tertentu. Kerangka dasar Tabel I-O menggambarkan transaksi produksi barang dan jasa yang dapat dilihat dari dua sisi. Sisi pertama (kolom) menunjukkan struktur input sektor-sektor ekonomi, komposisi nilai tambah yang dihasilkan dan struktur permintaan akhir (final demand) terhadap barang dan jasa.

Sisi kedua (baris) menunjukkan distribusi (alokasi) output barang dan jasa untuk proses produksi, final demand dan impor. Permintaan akhir dalam hal ini mencakup konsumsi rumahtangga, konsumsi pemerintah, investasi dan ekspor barang dan jasa. Secara umum kerangka Tabel I-O dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel I-O yang digunakan dalam mengukur dampak pariwisata pada publikasi ini adalah Tabel I-O up dated karena tidak tersedia Tabel I-O Jawa Barat tahun 2020. Beberapa masalah timbul ketika struktur sisi penyediaan (supply) pariwisata tidak sesuai dengan struktur yang ada di Tabel I-O. Perbedaan tersebut muncul karena hasil dari penghitungan pengeluaran wisatawan tidak dimanfaatkan dalam kompilasi tabel I-O sehingga menyebabkan beberapa ketidak-konsistenan antara sisi permintaan dan penawaran.

Tabel 2.1.

Ilustrasi Tabel Input-Output untuk Sistem Perekonomian dengan Tiga Sektor Produksi

Alokasi Output

Permintaan Antara

Permintaan Akhir

Jumlah Output Sektor Produksi

1 2 3

Input Antara

Sektor Produksi

1 X11 X12 X31 F1 X1

2 X21 X22 X32 F2 X2

3 X31 X23 X33 F3 X3

Input Primer V1 V2 V3

Jumlah Input X1 X2 X3

Struktur Input

(36)

Neraca Satelit Pariwisata Daerah (NESPARDA) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2021 25 Dalam analisis dampak pariwisata terhadap kinerja ekonomi Jawa Barat,

permintaan akhir yang terdiri dari (1) pengeluaran wisatawan lokal, wisatawan domestik atau wisatawan nusantara (wisnus), wisatawan mancanegara dan pre &

post trip dari wisatawan Jawa Barat yang ke luar Jawa Barat dan ke luar negeri, (2) investasi sektor pariwisata yang dilakukan oleh pemerintah dan swasta; dan (3) pengeluaran konsumsi pemerintah fungsi pariwisata, menjadi faktor eksogen yang mendorong penciptaan nilai produksi barang dan jasa. Pengeluaran dari wislok dan pre & post trip wisatawan outbound adalah bagian dari konsumsi rumahtangga, pengeluaran untuk investasi sektor pariwisata adalah bagian dari pembentukan modal tetap dan pengeluaran konsumsi pemerintah fungsi pariwisata merupakan bagian dari pengeluaran konsumsi pemerintah.

Dalam pengukuran dampak pariwisata tersebut, masing-masing struktur pengeluaran dari permintaan akhir tersebut diklasifikasikan kembali mengikuti klasifikasi sektor dari I-O dan dampaknya diperoleh dengan mengalikannya dengan koefisien multiplier Leontief (dikenal matriks A).

2. Pengukuran Dampak Ekonomi Pariwisata

Secara rinci dampak ekonomi yang ditimbulkan dari kegiatan pariwisata dipresentasikan oleh dampak dari pariwisata dalam menciptakan output atau nilai produksi, nilai tambah (PDRB), kompensasi tenaga kerja, dan penyerapan tenaga kerja. Dengan model IO dampak kepariwisataan dapat dihasilkan sebagai berikut:

Dampak Terhadap Output

Pengeluaran konsumsi pariwisata akan berdampak terhadap penciptaan nilai produksi barang dan jasa sektoral. Hubungan antara konsumsi kepariwisataan dengan nilai output dapat diformulasikan sebagai berikut:

Xi = (I-Ad)-1. Ci ...(1) di mana:

Xi = output yang diciptakan akibat konsumsi kepariwisatawaan.

(I-Ad)-1 = invers matriks berfungsi sebagai koefisien regresi dalam model.

(37)

Ci = konsumsi kepariwisataan, mencakup 1) konsumsi wisatawan

2) investasi pariwisata dan 3) konsumsi pemerintah fungsi pariwisata i = 1, 2, 3, 4, 5.

Persamaan (1) mendasarkan hubungan linier antara permintaan akhir, dalam hal ini konsumsi pariwisata dengan output. Semakin besar jumlah permintaan terhadap produk barang dan jasa maka output yang harus disediakan harus bertambah mengikuti matriks pengganda sebagai koefisien regresinya. Persamaan di atas menghasilkan nilai output barang dan jasa setiap sektor akibat dari konsumsi pariwisata. Dapat diketahui dampak output akibat masing-masing komponen konsumsi pariwisata terhadap sektor-sektor ekonomi. Misalkan, pengeluaran wisman di Jawa Barat akan berdampak terhadap penambahan nilai produksi barang dan jasa. Demikian pula akibat wisnus dan wislok, investasi pariwisata dan pengeluaran pemerintah untuk pengembangan pariwisata.

Dampak Terhadap Nilai Tambah Bruto (Produk Domestik Regional Bruto) Nilai tambah bruto merupakan bagian dari nilai output sektor ekonomi.

Sebagai balas jasa atas faktor produksi, nilai tambah bruto mencakup upah dan gaji, surplus usaha, penyusutan, pajak tak langsung dan subsidi. Sebagaimana model IO untuk menghasilkan nilai output akibat konsumsi pariwisata, nilai tambah yang diciptakan juga berbanding lurus dengan permintaan atau konsumsi kepariwisataan.

Formulasi yang menunjukkan hubungan tersebut adalah sebagai berikut:

Vi = v (I-Ad)-1. Ci

= v . Xi ...(2) di mana:

Vi = nilai tambah bruto karena dampak konsumsi kepariwisataan

v = matriks diagonal koefisien nilai tambah bruto, yaitu rasio antara nilai tambah bruto sektor tertentu dengan outputnya.

i = 1) konsumsi wisatawan, 2) investasi pariwisata dan 3) konsumsi pemerintah fungsi pariwisata.

(38)

Neraca Satelit Pariwisata Daerah (NESPARDA) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2021 27 Persamaan (2) menunjukkan hubungan searah antara nilai tambah bruto

dengan nilai outputnya. Ini juga berarti bahwa terdapat hubungan antara konsumsi kepariwisataan (antara lain pengeluaran wisman, wisnus, wislok, investasi pariwisata dan lainnya) dengan penciptaan nilai tambah sektor-sektor ekonomi.

Dampak Terhadap Upah/Gaji (Kompensasi Tenaga Kerja)

Salah satu komponen nilai tambah bruto adalah upah/gaji. Dari model IO dapat diturunkan hubungan antara faktor-faktor tersebut dengan kepariwisataan.

Hubungan tersebut dapat disajikan sebagai berikut:

Vji = vj (I-Ad)-1. Ci

= vj.Xi ...(3) di mana:

Vji = Upah/gaji akibat konsumsi kepariwisataan.

vj = matriks diagonal koefisien upah/gaji, yaitu rasio antara upah/gaji sektor tertentu dengan outputnya.

j = upah dan gaji,

i = 1) konsumsi wisatawan, 2) investasi pariwisata dan 3) konsumsi pemerintah fungsi pariwisata.

Persamaan (3) ini mengindikasikan adanya keterkaitan antara konsumsi kepariwisataan dengan upah/gaji para pekerja sektor-sektor ekonomi dari aktivitas ekonomi tersebut.

Dampak Terhadap Kesempatan Kerja

Dalam setiap aktivitas ekonomi dan produksi, dibutuhkan sejumlah faktor produksi, di antaranya yang penting adalah tenaga kerja. Dalam hubungan yang sederhana, setiap unit produk yang dihasilkan akan membutuhkan input tenaga kerja. Dengan demikian, pengeluaran wisatawan terhadap barang dan jasa akan dapat dihitung pula dampaknya pada kesempatan kerja. Hubungan tersebut dapat diformulasikan sebagai berikut :

Li = l (I-Ad)-1. Ci

= l. Xi ...(4)

(39)

di mana:

Li = Jumlah tenaga kerja yang diciptakan oleh konsumsi kepariwisataan.

l = matriks diagonal koefisien tenaga kerja, yaitu rasio antara jumlah tenaga kerja sektor tertentu terhadap outputnya.

i = 1) konsumsi wisatawan, 2) investasi pariwisata dan 3) konsumsi pemerintah fungsi pariwisata.

(40)

Neraca Satelit Pariwisata Daerah (NESPARDA) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2021 29

BAB III

PENYUSUNAN NESPARDA DAN SUMBER DATA

A. Penyusunan Pola dan Struktur Pengeluaran Wisatawan

Dalam menyusun Nesparda dibutuhkan berbagai jenis data baik yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan sektor pariwisata maupun data makro.

Jenis data dalam Nesparda pada umumnya berupa data kuantitatif yang bisa dipakai untuk mengukur kinerja sektor pariwisata dalam suatu perekonomian daerah yang diperoleh dari berbagai survei.

1. Jumlah Wisatawan

Jumlah wisatawan menggunakan data dari Publikasi Statistik Wisatawan Nusantara 2020 yang dipublikasikan oleh BPS RI. Penghitungan jumlah wisnus menggunakan data Mobile Positioning Data (MPD) yang dilaksanakan oleh BPS RI.

Sejak tahun 2016, Badan Pusat Statistik (BPS) telah mulai melakukan eksplorasi pemanfaatan Big Data melalui Mobile Positioning Data (MPD) sebagai sumber data lain dalam penyusunan statistik pariwisata secara umum. Pemanfaatan MPD terus dilakukan pengembangan dan kini turut dimanfaatkan sebagai penyusun Statistik Wisatawan Nusantara 2020. Sesuai perkembangan teknologi, ketersediaan Big Data terbukti berpeluang untuk dijadikan sumber data pendukung dalam penyusunan statistik resmi.

2. Struktur Pengeluaran Wisatawan Lokal dan Nusantara

Penghitungan data pengeluaran wislok dan wisnus dilakukan dengan survei wisatawan di lokasi wisata dengan metode wawancara langsung kepada responden wisatawan. Pengeluaran yang dicatat dalam pengumpulan data wisatawan nusantara adalah seluruh pengeluaran yang dilakukan oleh wisatawan yang

(41)

melakukan perjalanan di wilayah Jawa Barat. Adapun rincian tentang pengeluaran yang ditanyakan mencakup biaya-biaya untuk :

1. Akomodasi

2. Makan dan minum

3. Angkutan, baik angkutan darat, angkutan air, angkutan udara maupun jasa penunjang angkutan

4. Sewa kendaraan 5. Jasa perbaikan 6. Paket perjalanan

7. Pemandu wisata (pramuwisata) 8. Pertunjukan seni

9. Museum dan jasa kebudayaan 10. Olahraga

11. Jasa hiburan rekreasi 12. Jasa pariwisata lainnya 13. Cinderamata atau oleh-oleh 14. Belanja

15. Lain-lain

Semua rincian biaya di atas adalah seluruh pengeluaran yang dilakukan oleh wisatawan selama melakukan perjalanan, baik yang dibayar sendiri maupun yang dibayar oleh pihak lain. Di sini juga termasuk kewajiban-kewajiban yang harus dibayar oleh wisatawan yang melakukan perjalanan dan sudah menikmati barang atau jasa selama dalam perjalanan namun pembayaran atas barang atau jasa tersebut dilakukan setelah selesai melakukan perjalanan. Bahkan secara konsep pengeluaran perjalanan juga termasuk pengeluaran yang dilakukan sebelum melakukan perjalanan tetapi akan digunakan dalam perjalanan. Dalam hal ini termasuk juga pengeluaran yang dilakukan setelah melakukan perjalanan yang masih berkaitan dengan perjalanan yang telah dilakukan.

Rincian pengeluaran wisatawan selanjutnya dipetakan menjadi klasifikasi lapangan usaha pada Tabel I O yang bersesuaian, sebagai berikut :

(42)

Neraca Satelit Pariwisata Daerah (NESPARDA) Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2021 31 Gambar 3.1.

Peta Rincian Jenis Pengeluaran Wisatawan ke Klasifikasi Tabel Input Output

(43)

B. Penyusunan Struktur Investasi Pariwisata Pemerintah dan Dunia Usaha Investasi merupakan suatu kegiatan menanamkan modal pada berbagai kegiatan ekonomi dengan harapan memperoleh manfaat dan benefit pada masa yang akan datang dari kegiatan ini. Dalam proses produksi barang dan jasa kegiatan investasi sangat dibutuhkan untuk mendukung kegiatan produksi pada lingkup mikro maupun keberlangsungan pembangunan ekonomi suatu daerah dalam lingkup makro. Dari informasi yang tersedia menunjukkan bahwa kecenderungan besaran investasi semakin meningkat dari waktu ke waktu, sejalan dengan pembangunan yang dilakukan di berbagai bidang.

Struktur dan pola investasi akan sangat mempengaruhi keberhasilan kegiatan pembangunan di suatu daerah atau di suatu bidang ekonomi. Studi empiris menunjukkan hampir dipastikan bahwa hasil pembangunan di suatu daerah dan sektor, contohnya pariwisata, akan berpengaruh pada output pembangunan yang dihasilkan. Selain dari itu sumber investasi apakah dari dana domestik atau dana luar daerah juga berpengaruh dalam pembentukan output suatu kegiatan ekonomi.

Sumber dana investasi dapat terjadi dari surplus usaha yang terbentuk dari proses produksi, yang akhirnya merupakan tabungan dan inilah yang merupakan sumber dana utama investasi.

Menurut konsep, investasi dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu investasi finansial dan investasi non finansial. Investasi finansial merupakan investasi dalam bentuk kepemilikan instrumen finansial seperti uang tunai, emas, tabungan, deposito, saham dan sejenisnya. Sedangkan investasi non finansial atau yang sering disebut dengan investasi fisik lebih menekankan pada realisasi wujud dari investasi non finansial tersebut, seperti bangunan, kendaraan, mesin-mesin, peralatan dan sebagainya. Untuk selanjutnya yang dimaksudkan dengan investasi dalam kaitannya dengan sektor pariwisata di sini adalah investasi fisik saja.

Secara konsep dan definisi yang dimaksud dengan investasi di sektor pariwisata adalah pengeluaran dalam rangka pembentukan modal yang dilakukan oleh institusi atau sektor ekonomi yang bertujuan mendukung kegiatan pariwisata baik secara langsung maupun tidak langsung. Pelaku atau institusi ekonomi tersebut

Gambar

Tabel  I-O  yang  digunakan  dalam  mengukur  dampak  pariwisata  pada  publikasi ini adalah Tabel I-O up dated karena tidak tersedia Tabel I-O Jawa Barat  tahun  2020
Tabel di atas memperlihatkan pengeluaran pemerintah yang berhubungan  dengan pembinaan kepariwisataan (jasa Pendidikan) baik yang dilakukan kepada  pelaku usaha pariwisata maupun masyarakat secara umum pada tahun 2019-2020  masing-masing sebesar 178,32 mil

Referensi

Dokumen terkait

3.3.2 Proses Penyusunan Laporan Realisasi Anggaran Sekretariat Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan Peraturan Mentri Dalam Negeri Nomor 55 Tahun

Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Jawa Barat Dibentuk melalui Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 24 Tahun 2012 Tentang Pembentukan Organisasi Satuan

menyetujui untuk dilakukan pengesahan atas dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebagai dasar pelaksanaan anggaran

Peraturan Gubernur Nomor 48 Tahun 2021 tentang Penjabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2022 (Berita Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat

Satuan Kerja Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Jawa Barat pada Tahun 2013 memperoleh anggaran dana bersumber dari APBN dengan Program Peningkatan Diversifikasi dan

DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI SULAWESI BARAT RENCANA KERJA (RENJA) TAHUN ANGGARAN 2021 PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI BARAT DINAS PERHUBUNGAN Jl H Abd Malik Pattana Endeng Rangas Baru

Renstra Badan Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2018-2023 disajikan dengan sistematika: Pendahuluan, Gambaran Pelayanan Perangkat Daerah, Permasalahan dan

DAFTAR ALOKASI DANA TRANSFER KE DAERAH DAN DANA DESA TAHUN ANGGARAN 2021 PROVINSI GORONTALO i... DAFTAR ALOKASI DANA TRANSFER KE DAERAH DAN DANA DESA TAHUN ANGGARAN 2021