• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ombudsman RI mengawasi penyelenggaraan PPDB

Dalam dokumen Laporan Tahunan Ombudsman RI 2023 (Halaman 117-120)

Pemantauan langsung di lapangan.

Rapat Koordinasi dengan pemangku kepentingan (stakeholders).

Penanganan Laporan dengan metode Respon Cepat Ombudsman (RCO).

Kajian Sistemik di Perwakilan Ombudsman.

Posko Pengaduan Pelayanan PPDB di Perwakilan Ombudsman RI.

Investigasi Atas Inisiatif Sendiri (IAPS).

Penanganan Laporan secara Reguler (LM).

Sosialisasi kegiatan Pengawasan oleh Ombudsman.

Melalui Surat Edaran Ketua Ombudsman Nomor 2 Tahun 2023 tentang Pengawasan Penerimaan Peser- ta Didik Baru Tahun 2023, Ombudsman kembali me- lakukan pengawasan proses PPDB 2023 di tingkat Pusat maupun di daerah oleh Kantor Perwakilan Ombudsman di 34 (tiga puluh empat) Provinsi. Peng- awasan terhadap pelaksanaan PPDB tidak hanya di sekolah tetapi juga di lingkungan madrasah.

Pada 2023 Ombudsman menerima 295 peng- aduan dan angka tersebut berpotensi bertambah.

Pada 2021 jumlah pengaduan yang diteirma adalah 321 dan 2022 sejumlah 340.

A. Temuan Umum

1. Kebijakan Pemerataan Akses Pendidikan

Belum ada dokumen perencanaan yang meng- gambarkan rencana pemerataan akses pendi- dikan. Sehingga belum ada strategi penyediaan satuan pendidikan dalam rangka pemerataan ak- ses pendidikan.

2. Koordinasi Antar Pemangku Kepentingan Koordinasi lintas stakeholders dalam PPDB be-

lum optimal. Hal itu, misalnya, terjadi antara Ditjen Bangda Kemendagri, Ditjen Dukcapil Kemendagri, Kemsos/Dinsos untuk DTKS, Polri, KemenPUPR, Kemenkominfo, dan seterusnya. Sehingga keten- tuan PPDB tidak optimal dilaksanakan.

3. Minimnya Jumlah Satuan Pendidikan

Ini faktor utama permasalahan satuan Pendidikan, mengingat jumlah ketersediaan (supply) tidak sei-

ring dengan jumlah kebutuhan (demand). Jika jum- lah tidak ditambah, maka berpotensi akan terjadi permasalahan berulang.

4. Pengawasan Pelaksanaan PPDB

Tidak optimalnya pengawasan menjadi salah satu pemicu berulangnya permasalahan. Mekanisme pembinaan tidak optimal.

5. Minimnya Sosialisasi

Sosialisasi regulasi dari pusat ke daerah dan ke pa- nitia penyelenggara yang tidak optimal mengaki- batkan tidak standarnya pelaksanaan PPDB. Sosia- lisasi ke Masyarakat yang tidak optimal berpotensi menyebabkan berbagai kecurangan terjadi.

Jumlah Pengaduan

2021

321

2022

340

2023

295

Ombudsman RI Perwakilan Provinsi Kalimantan Barat Tariyah bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mempawah, El-Zuratman. Dalam kegiatan Penguatan Pengawasan Pelayanan Publik di Bidang Pendidikan di Aula Dinas Pendidikan Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Mempawah, pada 15 November 2023.

2 9 J a n u a r i 2 0 2 3 • 119

118 PENCEGAHAN MALADMINISTRASI PENCEGAHAN MALADMINISTRASI 119

B. Temuan Khusus

Temuan PPDB Sekolah 1. Belum optimalnya pengumuman pendaftaran, dikarenakan:

» Belum semua pemda memiliki sumber daya yang memadai (anggaran, SDM/ kepanitiaan, sarpras).

» Belum semua pemerintah daerah menyediakan Aplikasi daring PPDB.

» Keterbatasan media pengumuman pendaftaran.

2. Pada tahap pengumuman penetapan PPDB, satuan pendidikan menetapkan penambahan/pengurangan rombongan belajar dan ketiadaan integrasi data CPD dengan dinas terkait (Dinsos/ Disdukcapil) 3. Pada tahap pendaftaran

» Terjadi praktik pungutan liar pada tahap daftar ulang.

» Belum semua pendaftaran dilakukan via daring.

» Masih ada pengumuman luring

Saran Perbaikan a. Jangka Pendek

1. Perbaikan regulasi PPDB. Terutama pada mekanisme pelibatan dan koordinasi antar pemangku kepentingan di tingkat K/L/D, optimalisasi pelaksanaan setiap jalur seleksi (zonasi, afirmasi, prestasi dan perpindahan orang tua), dan menambah kapasitas daya tampung dalam rombongan belajar.

2. Penguatan peran Kepala Daerah dan Inspektorat Daerah dalam pengawasan dan penanganan masalah dalam penyelenggaraan PPDB.

3. Optimalisasi mekanisme pengawasan dalam pelaksanaan PPDB. Dalam hal: pengelolaan Pengaduan; dan mekanisme evaluasi dan penindakan atas kecurangan dalam PPDB.

4. Optimalisasi sosialisasi dan edukasi. Khususnya kepada masyarakat guna mendukung PPDB yang obyektif, transparan dan akuntabel.

5. Melakukan upaya meminimalisir favoritisme satuan pendidikan. Antara lain pemerataan akses dan penerapan standar pelayanan, dan pemerataan pembagian kuota jalur undangan perguruan tinggi kepada satuan Pendidikan.

6. Melakukan penjajakan kerja sama dengan sekolah swasta guna pemerataan satuan pendidikan.

via papan pengumuman meski telah terhubung internet.

» Terjadi error pada aplikasi dan sistem Dapodik.

4. Pada pengelolaan pengaduan

» Mekanisme pengelolaan pengaduan belum sesuai UU Pelayanan Publik.

» Penyediaan kanal pengaduan dan petugas yang kompeten belum optimal.

» Belum mengedepankan asas penyelesaian pengaduan yang cepat dan tuntas, sehingga terjadi pelanggaran berulang.

5. Pada tahap pengawasan

» Terdapat penanganan pelanggaran yang belum optimal.

» Pelaksanaan evaluasi dari Kemdikbud/Inspektorat dan dari Pemda/ Inspektorat belum optimal.

» Ketiadaan pengaturan dan pembagian wewenang dalam pengawasan baik di tingkat pusat maupun daerah.

Temuan Optimalisasi Seleksi Jalur PPDB

1. Zonasi

» Rentan blankspot dan

ketidaksesuaian titik koordinat.

» Adanya manipulasi dan pemalsuan dokumen kependudukan.

» Tidak semua penyelenggara melakukan pembagian zonasi (menentukan zonasi hanya dari titik domisili ke titik sekolah, padahal zonasi dapat diartikan luas).

» Belum ada mekanisme validasi dalam seleksi zonasi.

2. Afirmasi

» Pada umumnya kuota afirmasi Kepala Perwakilan Ombudsman RI Papua Barat menyerahkan Laporan Kajian PPDB kepada Bupati Manokwari.

Kepala Perwakilan Ombudsman RI Jawa Tengah, Siti Farida (tengah) dan Kepala Keasistenan Pemeriksaan Laporan,

b. Jangka Panjang

1. Penyusunan Peta Jalan Pengembangan Satuan Pendidikan di Indonesia,

setidaknya mencakup pemetaan kebutuhan, standarisasi pelayanan Pendidikan, penyediaan dan

pemerataan akses serta kualitas satuan Pendidikan, pemerataan distribusi dan jaminan kualitas tenaga pendidik, dan penganggaran.

2. Penguatan peran pengawas dan penindakan atas pelanggaran (pelibatan kepala daerah dan penegak hukum/Polri).

3. Pemerataan akses internet khususnya di daerah remote atau 3T.

4. Penyusunan mekanisme pengelolaan pengaduan yang baku saat proses PPDB.

terpenuhi dengan orang yang berhak.

» Masih ada satuan pendidikan yang tidak memahami bahwa afirmasi tidak hanya bagi warga miskin tapi juga ada kuota untuk disabilitas.

» Tidak adanya sinkronisasi data calon peserta didik dengan DTKS di Dinas Sosial, sehingga CPD yg memiliki KIP atau PKH tidak dapat mengikuti seleksi afirmasi.

3. Prestasi

» Standarisasi nilai dalam raport antar sekolah tidak sama.

» Belum ada ketentuan yang mengatur mekanisme. verifikasi dan validasi atas prestasi non akademik

» Masih ditemukan adanya penggunaan sertifikat palsu.

4. Perpindahan Orang Tua

» Belum ada ketentuan yang mengatur jangka waktu

pemberlakuan SK pindah orang tua, selain juga ditemukan ada yang masih menggunakan SK Pindah tahun 2010.

Temuan PPDB Madrasah 1. Proses PPDB

» Belum semua Kanwil/Kantor Kemenag memiliki sumber daya yang memadai (anggaran, SDM/

kepanitiaan, sarpras).

» Tidak adanya aplikasi daring yang disediakan Kemenag.

» Sebagian besar pendaftaran melalui luring.

» Terjadi kendala dalam proses verifikasi.

2. Mekanisme koordinasi yang belum optimal karena ketiadaan ketentuan yang mengatur koordinasi antar madrasah dan kanwil/ kantor Kementerian

Agama

3. Terjadi praktik pungutan liar pada proses daftar ulang dengan modus pungutan uang seragam, sumbangan pembangunan, dan lainnya, dengan nominal Rp1 – Rp5 juta

4. Pengaduan dan Pengawasan

» Belum optimal pengelolaan pengaduan.

» Belum optimal penanganan pelanggaran PPDB.

» Masih adanya praktik titip siswa.

» Belum optimal pengawasan oleh Kantor Kemenag, Kanwil, Ditjen Pendis dan Itjen Kemenag.

» Masih adanya favoritisme madrasah.

Tujuan PPDB adalah mendorong

Dalam dokumen Laporan Tahunan Ombudsman RI 2023 (Halaman 117-120)

Dokumen terkait