BAB 3 BUDAYA
A. Ontologi Hjrah dan Penguasaan Bahasa Arab
BAB 3
fenomena tersebut bisa diketahui bahwa gerakan hijrah merupakan sebuah gerakan yang dilakukan secara masif.
Hijrah berasal dari bahasa Arab hajara, yang berarti meninggalkan atau berpindah dari satu tempat yang lain. Sedangkan secara istilah, hijrah adalah peristiwa berpindahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah untuk menyelamatkan diri dari tekanan kaum kafir Quraisy. Adapun “hijrah” yang saat ini dimaknai oleh para kaum muda Muslim lebih pada perubahan sikap, gaya hidup dan tata cara berpakaian yang sesuai syari’at Islam. Kaum muda Muslim yang telah berhijrah sering identik dengan perubahan yang signifikan dalam hal berpakaian.
Jika dahulu sebelum hijrah kerap memakai jeans belel dan pakaian ketat, maka setelah berhijrah ia berubah menjadi seorang individu yang lebih syar’i, dengan mengenakan kerudung yang panjang dan lebar menutup dada bahkan tak jarang hingga menjuntai hingga lutut. Beberapa diantaranya, memadu padankan kerudung tersebut dengan gamis yang longgar, bahkan bercadar. Sedangkan kaum lelakinya kebanyakan mulai memanjangkan jenggot dan memendekkan celananya di atas mata kaki, karena takut isbal.
Perubahan berikutnya yang juga terdapat dalam fenomena hijrah adalah penggunaan istilah-istilah yang diambil dari bahasa Arab. Karena mereka menganggap bahwa bahasa Arab adalah “bahasa agama Islam”. Sedikit demi sedikit mereka menggunakan bahasa Arab dalam percakapan dan postingan- postingan media sosial mereka. Beberapa kata yang sering digunakan adalah ukhti untuk menyebut saudara perempuan, akhi untuk menyebut saudara laki-laki, ana untuk menyebut saya, anta/antum untuk menyebut kamu/kalian, na’am/la untuk menyatakan iya/tidak. Juga beberapa istilah tambahan lain seperti fillah dalam kata ukhti fillah dan akhi fillah.
Pada realitanya, dalam agama Islam bahasa Arab merupakan hal yang penting. Bahasa Arab mutlak diperlukan seseorang yang ingin mendalami dan mempelajari agama Islam. Agama Islam memiliki dua sumber pokok yaitu al-Qur’an dan Hadist yang keduanya menggunakan bahasa Arab. Bahkan salah seorang Amir al-Mu‟minin Umar bin al-Khattab r.a. berkata: “hendaklah kamu sekalian tamak dalam mempelajari bahasa Arab karena bahasa Arab merupakan bahagian dari agamamu”.
Maka, sudah sepatutnya bagi setiap kaum muda yang berhijrah ingin memahami agama Islam dan mendekatkan diri kepada Allah dengan mempelajari bahasa Arab.
Buku-buku atau kitab-kitab sumber pengetahuan Islam, terutama yang lebih luas dan lebih lengkap pada umumnya masih ditulis dalam bahasa Arab. Al-Qur’an dan Hadits semuanya memakai bahasa Arab. Kitab-kitab para ulama mengenai
berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam masih banyak yang ditulis dalam bahasa tersebut.
1. Kaum muda Hijrah
Di kota Bandung terdapat suatu komunitas keagamaan yang bernama
“Gerakan Pemuda Hijrah” atau yang sekarang lebih dikenal dengan The Shift.
Gerakan ini didirikan oleh ustad Hanan Attaki, alumnus Universitas AL-Azhar Kairo Mesir. Anggota dari komunitas ini adalah pemuda dan pemudi yang berusia 20 – 30 tahun. Komunitas ini menjadi wadah bagi anak-anak muda yang ingin berhijrah dan ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah. Agenda rutin dari komunitas The Shift ini adalah kajian-kajian keislaman. Karena beranggotakan anak-anak muda, maka materi-materi kajian yang disampaikan dikemas dengan ringan dan santai.
Kajian-kajian keislaman dalam komunitas The Shift diadakan setiap hari senin, rabu dan sabtu. Pada hari senin kajian bertemakan mengenai sejarah Islam dan terkadang kajian bertemakan kehidupan setelah kematian. Kajian pada hari senin ini disampaikan oleh ustadz Rahmat Baequni; hari rabu, kajian membahas mengenai bagaimana cara menyikapi hidup di dunia dan meraih surga di akhirat biasanya disampaikan oleh founder The Shift, yaitu ustadz Tengku Hanan Attaqi;
hari sabtu, kajian disampaikan oleh ustadz Evie Effendi. Biasanya beliau menyampaikan ceramah dengan lucu dan seringkali menggunakan bahasa Sunda yang gaul dan mudah dipahami oleh jama’ah yang mayoritas berusia muda. Tak ketinggalan, terdapat pula kajian khusus akhwat (putri) yang bernama Ladies Day.
Semua tema yang disampaikan dalam kajian ini adalah tema-tema kewanitaan seperti cara berpakaian yang baik, muslimah idaman dan kiat menjadi wanita shalihah, kajian ini disampaikan oleh ustadzah Haneen.
2. Konsep Hijrah
Sejak turunnya wahyu, Nabi Muhammad SAW mulai berdakwah kepada keluarga dan sahabat-sahabat dekatnya. Dakwah tersebut beliau lakukan secara sembunyi-sembunyi selama 3 tahun. Pada tahun 613 M beliau mulai berdakwah secara terang-terangan. Seiring dengan bertambahnya waktu, pengikut agama Islam menjadi semakin banyak. Hal ini menjadi sebuah ancaman bagi para penguasa Makkah. Maka, mereka pun mulai melancarkan berbagai serangan dan tipu muslihat untuk melenyapkan dakwah Islam, bahkan mereka bermaksud hendak membunuh Nabi Muhammad SAW. Hingga pada akhirnya, pada 622 M, Nabi Muhammad mengungsi ke Madinah (kota yang terletak 200 mil di utara Mekkah).
Peristiwa ini sering dikenal dengan peristiwa hijrah.
Kata hijrah sendiri berasal dari akar kata hajara – yahjuru – hajran yang berarti memutuskan dan meninggalkan (pergi). Ia diartikan dengan memutuskan, karena adanya hubungan sillaturrahmi yang terputus antara dua orang muslim. Ia juga diartikan dengan meninggalkan, karena perginya dari suatu tempat menuju tempat yang lain. Ragib al-Isfahani mengungkapkan bahwa istilah hijrah memiliki 3 macam pengertian: pertama, meninggalkan negeri yang berpenduduk kafir menuju negeri yang berpenduduk muslim. Sebagaimana hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah dari Mekkah menuju Madinah; kedua, meninggalkan syahwat, akhlak yang buruk dan dosa-dosa menuju pada kebaikan yang diperintahkan oleh Allah SWT; ketiga, menundukkan hawa nafsu (mujahadah al-nafs) untuk menggapai martabat kemanusiaan yang hakiki. Dengan demikian, terdapat dua hal penting terkait makna hijrah adalah pindahnya Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya dari Mekkah menuju Madinah dan berpindahnya tingkah laku yang buruk menjadi tingkah laku yang lebih baik.
Menurut Munawwir Khalil, hijrah dari suatu tempat yang tidak aman untuk beribadah dan beragama tetap disyariatkan bagi umat muslim. Bahkan, hijrah dalam batasan meninggalkan yang buruk menuju pada sesuatu yang baik merupakan kewajiban bagi umat muslim sepanjang hayatnya dan hijrah ini berlaku sepanjang masa. Berdasarkan wawancara dengan beberapa anggota komunitas The Shift, penulis menemukan bahwa konsep hijrah menurut mereka terbagi menjadi 3, yaitu: hijrah fisik, hijrah pemikiran dan hijrah spiritual. Dalam memaknai hijrah, para informan sepakat memaknai hijrah sebagai perubahan ke arah yang lebih baik. Umumnya, para informan mementingkan perubahan fisik terlebih dahulu dalam berhijrah. Para ikhwan dan akhwat dalam komunitas The Shift berkeyakinan bahwa berpenampilan syar’i ialah suatu kewajiban dari Allah SWT dan bepenampilan syar’i adalah identitas bagi kaum Muslimin yang membedakannya dengan penganut agama lain.
Bagi para akhwat (perempuan) mereka merubah penampilan fisik mereka dengan menggunakan gamis dan hijab syar’i. Bagi para akhwat, perubahan fisik ini juga termasuk kepada make-up. Setelah berhijrah, mereka biasanya lebih mengutamakan brand halal dan biasanya mereka menggunakan make-up dengan sederhana agar tidak menarik perhatian kaum lelaki. Bahkan, terkadang mereka menutup mukanya dengan masker.
Sedangkan bagi para ikhwan, penggunaan celana cingkrang dimulai dengan pemahaman atas hadist nabi yang melarang isbal. Setelah mereka mengetahui dan memahami mengenai hadist tersebut, mereka akan melipat ujung celana mereka, kemudian ketika sudah terbiasa, mereka akan memotong ujung
celana mereka, atau bahkan membeli celana yang baru dengan gaya cingkrang.
Para ikhwan juga mulai menumbuhkan jenggot, karena mereka beranggapan itu merupakan sunnah Nabi Muhammad SAW.
Dalam hal hijrah pemikiran, para anggota kommunitas The Shift lebih memusatkan pikirannya kepada akhirat, karena mereka berkeyakinan bahwa kehidupan di dunia adalah kehidupan yang sementara. Untuk membuat pikiran selalu berpikir mengenai akhirat, mereka aktif mengikuti kajian-kajian keislaman secara rutin, pengajian, merutinkan membaca al-Qu’an dan hadist, serta sering melihat ceramah-ceramah di sosial media seperti youtube, instagram dan facebook.
Informasi yang mereka dapat untuk menunjang hijrah pemikiran ini, kerap kali bersumber dari kajian dan pengajian online. Ketika ingin memublikasikan atau menyuarakan pemikiran keislaman mereka, anggota komunitas The Shift ini mayoritas menggunakan media online. Jadi, bisa ditemukan postingan-postingan di laman media sosial mereka berisi petuah-petuah kehidupan, penggalan video ceramah dari ustad Hanan Attaqi, ustad Abdus Somad, Ustad Adi Hidayat, ustad Muzammil Hasballah, dan ustad Taqy Malik. Mereka juga gemar menuliskan caption yang bernuansa keislaman dalam setiap postingan yang mereka buat.
Dalam hal hijrah spritual, para anggota The Shift ini berkeyakinan bahwa tujuan hiup adalah akhirat. Menjadi orang yang lebih baik, mereka wajib memperbaiki ibadah, memperbaiki hubungan spritual dengan sang Khaliq. Menurut mereka, setelah berhijrah, mereka merasa semakin dekat dengan Allah. Ketika beribadah mereka lebih mengutamakan hal yang wajib daripada yang sunnah, seperti shalat dan puasa. Dalam hal shalat, untuk memperbaiki kebiasaan shalat subuh yang sebelumnya selalu terlewat karena gemar begadang, maka diadakanlah gerakan shalat subuh berjama’ah di masjid-masjid. Dengan berusaha istiqamah mengikuti kegiatan ini diharapkan nantinya anggota bisa sering bangun subuh, shalat tepat waktu hingga akhirnya bisa memiliki kebiasaan shalat subuh berjama’ah.
Menurut mereka hijrah spritual juga bersumber dari permasalahan kehidupan mereka. Ketika mendapatkan masalah dan tidak menemukan solusi yang tepat, mereka tidak lagi marah-marah dan putus asa seperti dulu sebelum berhijrah. Sekarang mereka mengahadapinya dengan penuh sabar dan tawakkal, menyerahkan segalanya pada Allah. Menurut mereka dengan berusaha melibatkan dan menghadirkan Allah dalam setiap lini kehidupan membuat hidup mereka lebih tenang dan tentram.
3. Motif Berhijrah
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan, penulis menemukan bahwa motif atau alasan anggota The Shift berhijah adalah adanya dorongan dari masa lalu, teman dan masa depan. Salah satu contoh dorongan masa lalu yang dialami oleh informan adalah ia mengalami putus cinta atau patah hati dengan pacarnya. Ia menyadari jika seorang manusia terlalu bergantung pada seseorang maka suatu saat ia bisa jadi mengalami penolakan. Berbeda halnya, jika ia bergantung pada Allah SWT. Ia menyadari jika Allah SWT adalah sebaik-baiknya tempat bergantung dan Allah SWT tidak akan pernah meninggalkannya. Oleh karena itu, ia merasa sadar dan terpanggil untuk berhijrah.
Ada juga anggota The Shift yang berhijrah karena teman dan lingkungannya negatif dan merusak dirinya. Akhirnya ia memilih untuk berhijrah dan masuk pada komunitas The Shift yang menurutnya bisa menuntunnya berjalan menuju surga- Nya. Salah satu informan berhijrah karena dorongan temannya, yaitu pada awalnya, teman yang sudah lebih dahulu berhijrah mengajaknya untuk ikut kajian dan melihat video-video ceramah yang disampaikan oleh ustad Hanan Attaki dan ustad Evi Effendi. Karena tertarik, lama-kelamaan ia mengikuti kajian-kajian tersebut dan lambat laun ia memutuskan untuk berhijrah.
Dorongan yang terakhir adalah dorongan masa depan. Informan mengungkapkan jika ia berhijrah sebagai sarana memperbaiki diri dan belajar ilmu agama yang dapat membuatnya menjadi salah seorang agen perubahan yang baik di masa yang akan datang. Ada juga yang berhijrah karena ingin menikah, karena ia berkeyakinan bahwa jika seorang lelaki yang baik akan mendapatkan wanita yang baik. Karena ia ingin mendapatkan seorang calon istri salihah, maka ia harus memantaskan diri terlebih dahulu menjadi seorang lelaki yang baik atau salih, oleh karenanya ia memantapkan dirinya untuk berhijrah dan mengikuti komunitas The Shift.