• Tidak ada hasil yang ditemukan

Realitas Aksiologis

Pengenalan yang baik dan mendalam tentang ontologi dan epistemologi pengetahuan, mendorong manusia mampu menghindarkan diri dari prasangka buruk, sesat pikir atau salah tafsir, karena sadar diri akan kekuatan dan kelemahan pengetahuan itu sendiri. Kesadaran diri merupakan wujud pengetahuan yang hakiki, membimbing manusia hingga tidak membiarkan ruh intelektual dikuasai oleh kelemahannya sendiri53. Pada hakikatnya, filsafat itu adalah cara berpikir filosofis ketimbang sebagai tubuh pengatahuan (Dewey54).

Cara berpikir filosofis, tentu bersifat mendasar-menyeluruh-reflektif-kritis-postulatif, karena hal itu bukan hanya dimaksudkan untuk penguasaan pengetahuan ilmiah akan tetapi yang lebih penting adalah dapat memberi makna kepada kehidupannya secara personal.

53 Aholiab Watloly, Sosio-Epistemologi: Membangun Pengetahuan Berwatak Sosial (Yogyakarta: Kanisius, 2013), 31

54 Dewey dalam Aholiab Watloly, Sosio-Epistemologi …, 85

1. Untuk apa pengetahuan `realitas hidayah' berupa ilmu itu dipergunakan

Adapun yang menjadi tujuan sumbangan `keilmuan' tentang `realitas hidayah' adalah ingin membuktikan bahwa tindakan individu (dalam Teori Weber) ketika diterapkan dalam masyarakat Islam, adalah memang benar karena atas dasar perhitungan untung rugi bagi dirinya ataukah karena sebab yang lain (cause effect).

2. Kaitan antara cara penggunaan ilmu pengetahuan dengan kaidah-kaidah moral Tujuan normatif utama dalam mencuatkan kajian tentang `realitas hidayah' adalah ingin melihat secara obyektif bagaimana `hidayah' berproses dalam ranah kehidupan manusia. Dengan harapan temuan ini menjadi bahan renungan bahwa untuk menjadi manusia lebih baik tidak hanya menunggu takdir, tetapi harus berjuang setiap saat dan tidak ada henti-hentinya.

3. Penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral

Pemilihan atas kajian pada fenomena `realitas hidayah', didasarkan pada pemikiran bahwa gaya hidup `pasrah, nrima ing pandum dan gumunan' pada masyarakat Jawa pada umumnya, mayoritas Muslim, perlu dibalik menjadi

`kreatif, tidak mudah puas dan realistis'.

Untuk memenuhi ketercukupan pengetahuan tentang fenomena “realitas hidayah” dalam konteks yang lebih bervariasi, maka kajian perlu dilanjutkan oleh penulis lain. Misalnya, para mahasiswa program Magister yang mengikuti Mata Kuliah Filsafat Ilmu dan beberapa dosen yang menekuni bidang ini, sebagaimana dalam bab-bab berikut ini.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Affandi, Arief, Islam Demokrasi Atas Bawah: Polemik Strategi Perjuangan Ummat Model Gus Dur dan Amin Rais (Jogjakarta, Pustaka Pelajar, 1996)

Anwar, M. Syafi'I, Pemikiran dan Aksi Islam Indonesia: sebuah kajian politik tentang Cendekiawan Muslim Orde Baru (Jakarta: Paramadina, 1995) Arkoun, Mauhammad, Rethinking Islam, Terjemah Yudi W. Aswin dan Lathifatul

Khuluq (Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 1996)

Berger, Peter L., Langit Suci, Agama sebagai Realitas Sosial (Jakarta: LP3ES, 1991)

Berger, Peter L. dan Luckman, Tafsir Sosial atas Kenyataan, Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan, Penerjemah Hasan Basari (Jakarta: LP3ES, 1990), xiv

Blumer, Herbet “Society as Symbolic Interaction” in Herbert Blumer, Symbolic Interaction (Englewood Cliffs, N.J: Prentice-Hall, 1969)

--- “The Methodological Position of Symbolic Interactionism” in Herbert Blumer, Symbolc Interaction (Engglewood N.J.: Prentice-Hall, 1969 Dahrendorf, Ralf, b) Konflik dan Konflik dalam Masyarakat Industri, sebuah analisis

kritis, terj. Ali Mandan (Jakarta: Rajawali Pers, 1986)

Geertz, Clifford, Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa (Jakarta:

Pustaka Jaya, 1989)

---, Kebudayaan dan Agama (Jogjakarta: Kanisius, 1992)

Giddens, Anthony dan David Held, Perdebatan Klasik dan Kontemporer mengenai Kelompok Kekuasaan dan Konflik (Jakarta: Rajawali Pers, 1987)

Gordon, Scott, The History and Philosophy of Social Science (London and New York: Routledge, 1991)

Ka'bah, Rifyal, dkk., Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia (Bandung: Mizan, 1979)

Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi (Bandung: Mizan, 1991) Lewis, J. David and Smith, Richard L, American Sociology and Pragmatism:

Mead, Chicago Sociology, and Symbolic Interaction (Chicago: University of Chicago Press, 1980)

Ma'arif, Ahmad Syafi'I, Membumikan Islam (Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 1995) Meltzer, Bernard “Maed’s Social Psychology”, in J. Manis and B. Metlzer (eds.),

Symbolic Interaction: A Reader in Social Psychology, 3rd ed. (Boston: Allyn and Bacon, 1964/1978)

Rahmat, Jalaluddin, Islam Alternatif (Bandung: Mizan, 1995)

Poloma, Margaret M, Sosiologi Kontemporer (Jakarta: Rajawali Pers, 1992)

Ritzer, George, Contemporary Sociological Theory (New York: Alfred A. Knof, 1988)

Ritzer, George, Sosiologi Berparadigma Ganda, Terjemah Alimandan (Jakarta, Rajawali Pers, 1992)

Ronald, Robertson, Agama: Dalam Analisa dan Interpretasi Sosiologi (Jakarta:

Rajawali Pers, 1980)

Shihab, Alwi, Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka dalam Agama (Bandung, Mizan, 1998

Suriasumantri, Jujun S. Filasafat Ilmu: sebuah Pengantar Populer Keterkaitan Ilmu, Agama dan Seni (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1993 dan 2017) Watloly, Aholiab, Sosio-Epistemologi: Membangun Pengetahuan Berwatak Sosial

(Yogyakarta: Kanisius, 2013)

Zuhri, Endang Syaifuddin, Wawasan Islam (Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 1986)

BAGIAN 2

AGAMA DAN DUNIA PEMUDA BAB 1

PEMUDA

1. PEMUDA DALAM PENDIDIKAN ISLAM

“bagaimana menjadi negara yang beradab, damai, dan berbudaya”

Oleh:

Devi Laraswati1

Pendahuluan

Sesuai dengan undang-undang nomor 40 tahun 2009, tentang pemuda yang menjadi salah satu komponen perintis pergerakan kebangsaan di Indonesia.

Pemuda berperan aktif sebagai ujung tombak dalam mengantarkan bangsa dan negara Indonesia yang merdeka, bersatu, dan berdaulat. Selain itu pemuda mempunyai fungsi strategis sehingga perlu dikembangkan potensi dan perannya melalui penyadaran, pemberdayaan dan pengembangan sebagai bagian dari pembangunan nasional. Bahwa untuk mewujudkan pembangunan nasional diperlukan pemuda yang berakhlak mulia, sehat tangguh, cerdas, mandiri dan profesional. Pemuda merupakan warga negara Indonesia yang memasuki periode penting dalam pertumbuhan dan perkembangan, yaitu mereka yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun.

Pendidikan Islam pada hakikatnya adalah upaya seseorang untuk mengembangkan potensi tauhid, agar dapat mewarnai kualitas kehidupan pribadi berdasarkan atas al-quran dan sunnah. Pendidikan bertujuan membantu perkembangan manusia menjadi lebih baik, karena pada dasarnya manusia lahir dalam keadaan fitrah dan bertauhid2. Pemeliharaan Allah atas manusia tidak terbatas pada kelompok tertentu, tetapi memperhatikan segala ciptaan-Nya, karena itulah di sebut Rabb al-‘Alamin3.

Sedangkan pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Seperti yang terdapat di dalam Undang-

1Devi Laraswati (F52918009), alumni S1 Pendidikan Agama Islam (PAI) Skripsi, Belajar Perspektif Barat dan Islam (STAI Al Azhar, 2015)

2Cahabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 1996), 25.

3Jamali Sahrodi, Membedah Nalar Pendidikan Islam, Pengantar Ke Arah Ilmu Pendidikan Islam (Yogyakarta: Pustaka Rihlah Group, 2005), 42.

undang No. 20 Tahun 2003 BAB II Dasar Fungsi dan Tujuan Pendidikan Pasal 3, tentang tujuan pendidikan nasional. Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab4. Hal ini maksudnya adalah tujuan utama pendidikan adalah membentuk generasi mendatang melalui berbsgsi usaha pembelajaran dan penelitian, sehingga terbentuklah suatu anak bangsa yang saleh dan berkualitas.