• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ontologi Kehidupan Pemuda

2. IDEOLOGI KEHIDUPAN PEMUDA

“Tauhid menyatakan bahwa alam adalah sebuah totalitas kreasi harmoni”

Oleh:

Ahmad Giri Ainuddin Muhammadi26

pengetahuan metodologis; 8) pengetahuan observatif (observable); 9) menghargai asas eksplanatif (penjelasan); 10) menghargai asas keterbukaan dan dapat diulang kembali; 11) menghargai asas skeptikisme yang radikal; 12) melakukan pembuktian bentuk kausalitas (causality); 13) mengakui pengetahuan dan konsep yang relative (bukan absolut); 14) mengakui adanya logika-logika ilmiah; 15) memiliki berbagai hipotesis dan teori-teori ilmiah; 16) memiliki konsep tentang hukum-hukum alam yang telah dibuktikan; 17) pengetahuan bersifat netral atau tidak memihak; 18) menghargai berbagai metode eksperimen, dan 19) melakukan terapan ilmu menjadi teknologi27.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa karakter pengetahuan adalah sebagai sebuah fenomena yang dapat menjelaskan diri sendiri secara ilmiah, tidak berpihak dan memiliki kemanfaatan sesuai dengan logikanya sendiri.

1. Pemuda

Pemuda atau generasi muda adalah orang-orang yang rentang waktu hidupnya hampir sama, yakni sejak lahir sampai kira-kira umur 30 (40) tahun.

Zakiah Daradjat memberi pengertian generasi muda dengan memandang dari segi pengertian luas dan pengertian sempit. Beliau mengatakan bahwa generasi muda dalam arti luas, mencakup umur anak dan remaja, mulai dari lahir sampai mencapai kematangan dari segala segi (jasmani, rohani, sosial, budaya, dan ekonomi). Pengertian yang lebih populer dalam pandangan masyarakat ramai (pengertian sempit) bahwa generasi muda adalah masa muda (remaja dan awal masa dewasa).

Sedangkan Widarso Gondodiwirjo & Dardji Darmodihardjo yang memandang dari segi kepentingan pembinaannya merumuskan pengertian generasi muda secara lebih mendalam dan terperinci. Secara umum mereka kelompokkan kepada dua tinjauan: Pertama, berdasarkan kelompok umur dan tinjauan dari berbagai segi, meliputi: segi biologis, segi budaya atau dilihat secara fungsional, segi kekaryaan, segi sosial, untuk kepentingan perencanaan modern digunakaan istilah “sumber-sumber daya manusia muda” dan dari sudut ideologis- politis. Kedua, sesuai dengan corak dan aspek kemanusiaannya. Generasi muda dapat dilihat melalui berbagai segi peninjauan28, al.:

27Muhammad Adib, Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), 69

28Muzakkir “Generasi Muda dan Tantangan Abad Modern serta Tanggung Jawab Pembinaannya”, Jurnal al-Ta’dib, vol. 8 No. 2, 2015: 111

a. Sebagai insan biologis, secara biologis masa muda dapat dianggap berakhir pada saat pubertas (12-15 tahun). Ada juga yang beranggapan bahwa 15-21 tahun masih termasuk dalam masa muda biologis. Objek peninjauan dalam segi ini adalah perkembangan jasmani baik pertumbuhan tubuh secara fisik maupun fungsional.

b. Sebagai insan budaya, secara kultural masa muda dianggap berakhir pada umur 21 tahun, karena ketika itu kemantapan mental sudah tercapai. Yang dimaksudkan dalam hal ini adalah perkembangan manusia sebagai insan yang bermoral pancasila, bertenggang rasa, bersopan santun, beradat, bertradisi, bertanggung jawab, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

c. Sebagai insan intelek, ditinjau dari segi ini masa muda dianggap berakhir pada waktu tamat dari Perguruan Tinggi (umur 25 tahun), dengan kemampuan berpikir sebagai objek peninjauan.

d. Sebagai insan kerja dan profesi, sebagai insan kerja dalam arti berpenghasilan dengan status tenaga kerja pembantu, masa mudanya berkisar antara 14–22 tahun. Sebagai insan profesi umumnya berkisar antara 21 sampai 35 tahun.

e. Sebagai insan ideologis, secara ideologis masa muda seseorang berkisar di antara umur 18 sampai 40 tahun. Dalam masa itulah dimungkinkan pembinaan pandangan seseorang terhadap berbagai aspek kehidupan.

Berdasar tinjauan tersebut, jelaslah bahwa generasi muda adalah mereka yang rentang waktu hidupnya sejak lahir hingga mencapai kematangan dari segala segi (maksimal berusia 40 tahun).

2. Agama dan Ideologi

Banyak ahli menyebutkan agama berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu “a”

artinya tidak dan “gama” berarti kacau. Maka “agama” berarti tidak kacau (teratur).

Dengan demikian agama itu adalah peraturan, yaitu peraturan yang mengatur keadaan manusia, maupun mengenai sesuatu yang gain, mengenai budi pekerti dan pergaulan hidup bersama29. Agama disebut Hadikusuma dalam Bustanuddin Agus sebagai ajaran yang diturunkan oleh Tuhan untuk petunjuk bagi umat dalam menjalani kehidupannya30. Ada juga yang menyebut agama sebagai suatu ciri kehidupan sosial manusia yang universal dalam arti bahwa semua masyarakat

29Faisal Ismail, Paradigma Kebudayaan Islam: Studi Kritis dan Refleksi Historis (Jogyakarta: Titian Ilahi Press: 1997), 28

30Bustanuddin Agus, Agama dalam Kehidupan Manusia: Pengantar Antropologi Agama (Jakarta: PT.

Raja Grafindo Persada: 2006), 33

mempunyai cara-cara berpikir dan pola-pola perilaku yang memenuhi untuk disebut agama” yang terdiri dari tipe-tipe simbol, citra, kepercayaan dan nilai-nilai spesifik dengan nama makhluk manusia menginterpretasikan eksistensi mereka yang di dalamnya juga mengandung komponen ritual31.

Ada beberapa istilah lain dari agama, antara lain religi, religion (Inggris), religie (Belanda), religio/relegare (Latin), dan dien (Arab). Kata religion dan religie adalah berasal dari bahasa induk dari kedua bahasa tersebut, yaitu bahasa Latin

religio” dari akar kata “relegare” berarti mengikat32. Menurut Cicero, relegare berarti melakukan sesuatu perbuatan dengan penuh penderitaan, yakni jenis laku peribadatan yang dikerjakan berulang-ulang dan tetap. Lactancius mengartikan bahwa relegare sebagai mengikat menjadisatu dalam persatuan bersama33. Dalam Bahasa Arab, agama dikenal dengan kata al-din dan al-milah. Kata al-din sendiri mengandung berbagai arti. Ia bisa berarti al-mulk (kerajaan), al-khidmat (pelayanan), al-izz (kejayaan), al-dzull (kehinaan), al-ikrah (pemaksaan), al-ihsan (kebajikan), al-adat (kebiasaan), al-ibadat (pengabdian), al-qahr wa al-sulthan (kekuasaan dan pemerintahan), al-tadzallulwa al-khudu (tunduk dan patuh), al- thaát (taat), al-islam al-tauhid (penyerahan dan mengesakan Tuhan)34.

Dari pengertian di atas, maka religiusitas dalam Islam menyangkut lima hal yakni aqidah, ibadah, amal, akhlak dan pengetahuan. Aqidah menyangkut keyakinan kepada Allah, Malaikat, Rasul dan seterusnya. Ibadah menyangkut pelaksanaan hubungan antar manusia dengan Allah SWT. Amal menyangkut pelaksanaan hubungan manusia dengan sesame makhluk. Akhlak merujuk pada spontanitas tanggapan atau perilaku seseorang atau rangsangan yang hadir padanya, sementara ihsan merujuk pada situasi di mana seseorang merasa sangat dekat dengan Allah Ta’ala. Ihsan merupakan bagian dari akhlak. Bila akhlak positif seseorang mencapai tingkatan yang optimal, maka ia memperoleh berbagai pengalaman dan penghayatan keagamaan, itulah ihsan dan merupakan akhlak tingkat tinggi. Selain keempat hal di atas ada lagi hal penting harus diketahui dalam religiusitas Islam yakni pengetahuan keagamaan seseorang35.

Di dalam pembahasan ilmu, ideologi merupakan ilmu gagasan yang mempelajari tentang asal usul ide yang berkaitan dengan hidup bermasyarakat.

Kajian dari ideologi dapat diambil dari akar filsafat dan agama. Memahami ideologi, terdapat tiga aliran, yaitu: 1) pendekatan melalui aliran ideologi yang

31Ishomuddin, Pengantar Sosiologi Agama (Jakarta: Ghalia Indonesia: 2002), 29

32Dadang Kahmad, Sosiologi Agama (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya: 2002), 13

33Faisal Ismail, Paradigma Kebudayaan Islam: Studi Kritis dan Refleksi Historis (Jogyakarta: Titian Ilahi Press: 1997), 28

34Dadang Kahmad, Op. Cit, 13

35Jalaluddin, Psikologi Agama (Jakarta: PT. Raja Grafindo Oersada, 2002), 247-249

didasarkan pada asumsi tentang bagaimana manusia mendapatkan pengetahuan;

2) pendekatan yang didasari oleh aspek psikologis yang menjadi ranah (domain) ideologi; dan 3) pendekatan historis berdasarkan kronologi pada waktu-waktu dicetuskannya konsep ideologi tersebut36.

Berdasarkan asumsi ketiga aliran tersebut, maka pengertian ideologi dapat dikelompokkan secara umum menjadi 2 (dua)37, yaitu: 1) ideologi sebagai seperangkat nilai dan aturan tentang kebenaran yang dianggap alamiah, universal dan menjadi rujukan bagi tingkah laku manusia, termasuk dalam kelompok aliran rasionalisme-idealis; dan 2) ideologi sebagai studi yang mengkaji tentang bagaimana ide-ide tentang berbagai hal diperoleh manusia dari pengalaman serta tertata dalam untuk dapat membentuk kesadaran dan mempengaruhi tingkah laku manusia.

Dalam kehidupan bermasyarakat, suatu ideologi perlu mengandung tiga dimensi penting, yaitu realita, idealisme, dan fleksibilitas38. Ketiga dimensi ini diharapkan dapat memelihara relevansinya yang tinggi terhadap perkembangan aspirasi masyarakat dan tuntutan perubahan zaman. Kehadiran dimensi ini saling berkaitan, mengisi dan memperkuat suatu ideologi yang tahan uji dari masa ke masa.

Ideologi ditinjau dari dimensi realita mengandung makna bahwa nilai-nilai dasar yang terkandung di dalam dirinya bersumber dari nilai-nilai riil yang hidup didalam masyarakat. Ketika ideologi ini lahir, masyarakat dapat merasakan dan menghayati bahwa nilai-nilai dasar itu adalah milik mereka bersama. Dimensi idealisme, suatu ideologi perlu mengandung cita-cita yang ingin dicapai dalam berbagai kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kehadiran dimensi ini diharapkan agar masyarakat dapat memahami dan mengetahui ke arah mana ideologi tersebut membangun kehidupan bermasyarakat.39