undang No. 20 Tahun 2003 BAB II Dasar Fungsi dan Tujuan Pendidikan Pasal 3, tentang tujuan pendidikan nasional. Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab4. Hal ini maksudnya adalah tujuan utama pendidikan adalah membentuk generasi mendatang melalui berbsgsi usaha pembelajaran dan penelitian, sehingga terbentuklah suatu anak bangsa yang saleh dan berkualitas.
adalah calon-calon yang dapat diterima sebagai tenaga kerja yang diambil antara 18-22 tahun. Keempat, dari ideologis politik, maka generasi muda adalah calon pengganti dari generasi terdahulu, dalam hal ini berumur antara 18-30 tahun, dan kadang-kadang sampai umur 40 tahun. Kelima, dari segi umur, lembanga dan ruang lingkup tempat, diperoleh 3 kategori yaitu: Siswa (usia antara 6-18 tahun) masih ada dibangku sekolah; Mahasiswa (usia antara 18-25 tahun) masih ada di Universitas atau perguruan tinggi; Pemuda, diluar lingkungan sekolah ataupun perguruan tinggi (usia antara 15-30 tahun). Berdasarkan pengelompokan di atas, maka yang dimaksud pemuda adalah golongan manusia berusia muda antara 15- 30 tahun7.
Pendidikan Islam Islam secara umum, para ahli pendidikan Islam memberikan batasan yang sangat bervariatif, di antaranya adalah:
1) Muhammad Fadhil al-Jamaly, mendefinisikan bahwa pendidikan Islam sebagai upaya mengembangkan, mendorong serta mengajak peserta didik hidup lebih dinamis dengan berdasarkan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia. Dengan proses tersebut diharapkan akan terbentuk pribadi peserta didik yang sempurna, baik berkaitan dengan potensi akal, perasaan maupun perbuatannya8.
2) Ahmad D. Marimba mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan atau pemimpin secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama (insan kamil)9.
3) Ahmad Tafsir mendefinisikan bahwa pendidikan Islam sebagai bimbingan yang diberikan oleh seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam10.
4) Hery Noer Aly memberi pengertian bahwa pendidikan Islam adalah proses yang dilakukan untuk menciptakan manusia seutuhnya, beriman dan bertakwa kepada Tuhan serta mampu mewujudkan eksistensinya sebagai khalifah Allah di muka bumi berdasarkan ajaran alquran dan sunnah. Tujuan dalam konteks ini berarti terciptanya insan kamil serta proses pendidikan tanpa akhir atau selama hayat dikandung badan11. Berdasarkan pendapat-pendapat ilmuan di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam merupakan suatu sistem yang memungkinkan seseorang
7 Wahyu, Wawasan Ilmu Sosial Dasar (Surabaya: Usaha Naional, 1986), 69-70.
8 Muhammad Fadhil Al-Jamaly, Nahwa Tarbiyat Mukminat (1977), 3
9 Ahmad D. Marimba, Pengantarm Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: Al-Ma’arif, 1989), 19
10 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Pespektif Islam (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992), 32
11 Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), 5
(peserta didik) dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan ideologi Islam dan pendidikan Islam. Hal itu lebih banyak ditunjukan kepada perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan, baik bagi keperluan pribadi diri sendiri maupun keperluan orang lain.
Sedangkan pendidikan dalam konteks Islam pada umumnya mengacu kepada term al-tarbiyah, al-ta’lim dan al-ta’dib. Dari tiga istilah tersebut term yang populer digunakan dalam prakteknya adalah term al-tarbiyah. Sedangkan term al- ta’dib dan al-ta’lim jarang digunakan12.
1. Al-Tarbiyah
Kata al-tarbiyah dalam bahasa Arab, rabba, yarbu, tarbiyah: memiliki makna “tumbuh” “berkembang”, tumbuh (nasya’a) dan menjadi besar artau dewasa (tara’ra’a). Artinya, pendidikan (tarbiyah) merupakan usaha untuk menumbuhkan dan mendewasakan peserta didik, baik secara fisik, pisikis, sosial, maupun spiritual. Qurtubi seperti yang dikutip oleh Sahrodi13 mengatakan bahwa rabb merupakan suatu gambaran yang diberikan perbandingan antara Allah sebagai pendidik dan manusia sebagai peserta didik. Allah mengetahui dengan baik kebutuhan-kebutuhan mereka yang dididik, sebab Ia adalah Pencipta mereka.
Tarbiyah dapat juga diartikan dengan “proses transformasi ilmu pengetahuan dari pendidik (rabbani) kepada peserta didik agar ia memiliki sikap dan semangat tinggi dalam memahami dan menyadari kehidupannya sehingga terbentuk ketakwaan, budi pekerti, dan kepribadian yang luhur”14. Sebagaimana terdapat dalam ayat al-Qur’an berikut:
“ … dan rendahkanlah dirimu terharap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua mendidikku waktu kecil”.15
Jadi lafadz “tarbiyah” dalam al-Qur’an dimaksudkan sebagai proses pendidikan. Namun makna tarbiyah dalam al-Qur’an tidak terbatas pada aspek kognitif berupa pengetahuan untuk selalu berbuat baik kepada kedua orang tua akan tetapi pendidikan juga meliputi aspek afektif yang direalisasikan sebagai apresiasi atau aspek sikap terhadap keduanya, dengan cara menghormati mereka. Lebih dari itu konsep tarbiyah bisa juga sebagai tindakan untuk berbakti
12 Abdul Halim, Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoris dan Praktis (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), 25
13 Jamali Sahrodi, Membedah Nalar Pendidikan Islam, Pengantar Ke Arah Ilmu Pendidikan Islam.
Yogyakarta: Pustaka Rihlah Group, 2005), 35
14 Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana, 2006), 13
15 QS. Al-Isra’/17: 24
bahkan sampai kepedulian untuk mendoakannya supaya mereka mendapatkan rahmat dari Allah Yang Maha Kuasa.
2. Al-Ta’dib
Berasal dari kata addaba, yuaddibu, ta’diiban yang mempunyai arti antara lain: membuatkan makanan, melatih akhlak yang baik, sopan santun, dan tata cara pelaksanaan sesuatu yang baik. Kata addaba yang meruapakan asal kata dari ta’dib disebut juga muallim, merupakan sebutan orang yang mendidik dan mengajar anak sedang tumbuh dan berkembang16. Ta’dib lazimnya diterjemahkan dengan pendidikan sopan santun. Ta’dib yang seakar dengan adab memiliki arti pendidikan, peradaban atau kebudayaan. Artinya orang yang berpendidikan dan berkualitas dapat diraih melalui pendidikan17, sebagaimana sabda Rasulullah saw:
“ … dan dari anas bin malik berkata: Rasulullah SAW bersabda:
muliakanlah anak-anakmu dan baguskanlah akhlak mereka”.18
3. Al-Ta’lim
Al-Ta’lim merupakan kata benda bantuan (mashdar) yang berasal dari akar kata ‘allama. Istilah tarbiyah diterjemahkan dengan pendidikan, sedangkan ta’lim diterjemahkan dengan pengajaran19. Di dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa Allah mengajarkan menusia apa yang tidak diketahuinya. Sebagaimana firman Allah dalam beberapa ayat al-Quran berikut:
“ … yang mengajar manusia dengan perantara kalam”20.
“ … dan Dia (Allah) mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda- benda) seluruhnya”21.
Jika, kata ta’lim/’allama dalam al-Qur’an ditunjukan sebagai proses pembelajaran, pemberian informasi dan pengetahuan kepada peserta didik.
Berdasar atas pengertian di atas maka dalam konsep tarbiyah, ta’lim, ta’dib dapat diartikan memiliki titik penekanan yang berbeda, akan tetapi dilihat dari unsur kandungannya terdapat keterkaitan yang saling mengikuti satu sama lain. Dalam ta’lim titik tekannya adalah penyampaian ilmu pengetahuan yang benar, pemahaman, pengertian, tanggung jawab dan penanaman amanah kepada
16 Munardji, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: PT Bina Ilmu, 2004), 4-5
17 Mustofa Rahman, Pendidikan Islam dalam Perspektif Al-Qur’an (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2001), 17
18 Abu ‘Abdllah Muhammad bin Yazid al-Qazwiny Ibn Majah, Sunan Ibn Majah (Riyad: Maktabah al- Ma’arif. t.t), Pdf
19 Mustofa Rahman, Pendidikan Islam ..., Op.Cit., 60
20 QS. Al-‘Alaq/96: 4
21 QA. Al-Baqarah/2: 31
anak. Oleh karena itu ta’lim disini mencakup aspek-aspek pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan seseorang dalam kehidupannya dan pedoman perilaku yang baik. Sedangkan pada tarbiyah, titik tekannya difokuskan pada bimbingan anak supaya berdaya (punya potensi) dan tumbuh kelengkapan dasarnya, serta dapat berkembang secara sempurna. Yaitu perkembangan ilmu dalam diri manusia dan pemupukan akhlak yakni pengalaman dalam mendidik pribadi. Adapun ta’dib titik tekannya adalah pada penguasaan ilmu yang benar dalam diri seseorang agar menghasilkan kemantapan amal dan tingkahlaku yang baik.
Dengan pemaparan ketiga konsep di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa ketiganya mempunyai tujuan dalam dunia pendidikan yang menghantarkan anak didik menjadi yang “seutuhnya”, perfect man, sehingga mampu mengarungi kehidupan ini dengan baik.