OVEN DAN AUTOKLAF
A. OVEN
Merupakan salah satu instrumen yang paling banyak digunakan di laboratorium. Oven laboratorium biasa digunakan untuk proses sterilisasi, pemanasan, dan pengeringan alat atau media yang ada di laboratorium. Untuk proses sterilisasi alat atau media selain oven juga bisa menggunakan Autoklaf. Perbedaannya adalah sterilisasi menggunakan oven dikenal sebagai sterilisasi kering (Dry Heat) sedangkan autoklaf merupakan sterilisasi basah (Steam Heat).
A.1. Fungsi Oven
Oven laboratorium memiliki fungsi dan peran penting pada kegiatan di laboratorium yang mana salah satunya berperan dalam membantu mensterilkan seluruh alat-alat berbahan gelas dan media dalam menunjang kegiatan praktikum. Sedangkan fungsi oven laboratorium adalah untuk proses pemanasan, sterilisasi hingga pengeringan alat-alat gelas dan yang lainnya di laboratorium. Selain itu oven laboratorium juga dapat mensterilisasi dan memanaskan media, bahan kimia hingga pelarut organik.
27
Pada umumnya oven di setiap laboratorium memiliki fungsi dan peran yang sama. Seperti contoh di laboratorium kimia dan biologi oven digunakan untuk mensteril dan mengeringkan alat-alat berbahan gelas (Cawan petri, tabung reaksi, beaker glass, gelas ukur dan lainnya). Pada laboratorium farmasi, oven digunakan untuk mensteril dan mengeringkan semua alat dan media serta pelarut organik agar terbebas dari kontaminasi.
A.2. Prinsip dan Cara Kerja Oven
Oven laboratorium merupakan peralatan yang digunakan dalam sterilisasi kering. Prinsip penggunaan oven laboratorium adalah memanfaatkan udara kering dengan suhu tinggi atau dikenal sebagai Dry Heat. Udara kering pada oven sangat membantu dalam proses sterilisasi alat dan media.
Rogers (2012) memaparkan sterilisasi kering ini butuh waktu pemaparan lebih lama dan suhu lebih tinggi dibandingkan sterilisasi menggunakan metode basah. Hal ini kurang efisien tetapi sangat berguna dalam menghilangkan air pada peralatan yang terbuat dari logam. Peralatan yang terbuat dari logam apabila di sterilisasi menggunakan metode sterilisasi basah akan menyebabkan peralatan tersebut mudah berkarat dan tumpul (Misra dan Misra, 2012).
Sterilisasi kering biasanya digunakan pada peralatan laboratorium yang tidak dapat basah dan tidak akan meleleh, terbakar atau berubah bentuk jika terkena suhu tinggi. Ikenganyia dkk (2017) menyebutkan jenis peralatan yang dapat disterilisasi kering sebagai berikut:
1. Peralatan terbuat dari bahan kaca (Glassware) seperti cawan petri/petridish, pipet, tabung reaksi, botol kultur.
2. Peralatan terbuat dari bahan logam seperti skalpel, gunting, pinset, mata pisau (blades), spatula.
28
Penggunaan oven laboratorium pada suhu yang sangat tinggi selama beberapa jam juga mampu membunuh atau menghilangkan agen yang menjadi penyebab kontaminasi pada media. Adanya suhu tinggi atau panas yang dikeluarkan dari dalam oven berperan dalam penyerapan tiap-tiap permukaan alat atau media yang sedang disterilisasi. Saat telah terserap, selanjutnya panas akan merambat ke seluruh permukaan dengan suhu yang stabil. Dengan suhu tinggi, diharapkan oven mampu membunuh mikroorganisme seperti bakteri dan spora jamur yang terdapat pada alat ataupun media.
Sejalan dengan pernyataan Alkhadim (2018) pada prinsipnya oven laboratorium bekerja menggunakan konduksi panas dengan terlebih dahulu memanaskan permukaan bagian luar peralatan, kemudian menyerap panas dan memindahkannya ke bagian tengah alat. Menurut Bhojwani dan Dantu (2013) oven yang digunakan harus memiliki kipas yang terpasang di dalamnya dengan tujuan agar sirkulasi udara panas berjalan baik. Peralatan yang disterilisasi dianjurkan tidak terlalu banyak agar kinerja oven dapat maksimal.
Cara kerja oven laboratorium dimulai dari tahap pengeringan hingga pemanasan. Periode pemanasan oven untuk sterilisasi peralatan laboratorium dilakukan sekitar satu sampai dua jam atau hingga suhu sterilisasi yang dibutuhkan telah tercapai. Sesuai Ikenganyia dkk (2017) rekomendasi temperatur dan durasi oven pengering untuk sterilisasi peralatan laboratorium adalah waktu 45 menit untuk suhu 160 °C, suhu 170 °C dibutuhkan waktu 18 menit, suhu 180 °C dibutuhkan waktu 7,5 menit, dan suhu 190 °C dibutuhkan waktu 1,5 menit. Sebelum melakukan sterilisasi alat laboratorium sebaiknya dilapisi dengan lapisan aluminium foil atau kertas. Hal ini bertujuan menghindari kontaminasi dari satu alat ke alat lainnya ketika berada di dalam oven tersebut (Gambar 1.1).
29
Namun, Misra dan Misra (2012) tidak menyarankan untuk menggunakan kertas apabila suhu sterilisasi diatas 170 °C. Hal ini dikhawatirkan kertas dapat terurai pada suhu tersebut. Disebutkan oleh Putri et al (2017) dalam penelitiannya tentang pengaruh suhu dan durasi sterilisasi menggunakan panas kering terhadap viskositas media gel alginat yang mana suhu dan durasi mempengaruhi sifat fisik basis gel alginat yang dihasilkan. Semakin lama durasi sterilisasi panas kering dengan suhu tinggi, maka resiko degradasi warna pada media juga semakin besar karena adanya reaksi hidrolisis asam dan basa yang terjadi selama proses sterilisasi berlangsung.
Gambar 2.1 Sterilisasi kering menggunakan oven laboratorium (Wulandari et al., 2022)
A.3. Jenis – Jenis Oven
Oven yang sering digunakan di laboratorium memiliki banyak tipe dan jenis. Beberapa oven laboratorium yang banyak digunakan adalah sebagai berikut (Jenis-jenis Oven Laboratorium SOP):
a. Forced Convection Oven
Oven yang bekerja dengan memanfaatkan aliran udara panas dan dialirkan secara elektrik. Peralatan laboratorium yang dapat disterilisasi dan dikeringkan menggunakan oven ini adalah Erlenmeyer, Cawan petri, Labu ukur, Pipet.
30 b. Gravity Oven
Oven jenis ini dimanfaatkan untuk kebutuhan industri seperti pemanggangan dan pengeringan dikarenakan memiliki tingkat keseragaman suhu yang rendah. Udara alami yang dihasilkan oleh oven ini bersumber dari rak baja berbahan stainless dalam mencapai keseragaman suhu.
c. Microwave Oven
Microwave oven laboratorium ini memiliki bentuk yang hampir sama Microwave oven lainnya hanya saja fungsinya berbeda yang mana oven ini dapat melakukan proses pemanasan dan pengeringan menggunakan gelombang mikro sehingga dapat menghasilkan panas yang lebih merata.
d. Universal Drying Oven
Oven jenis ini seringkali dikenal dengan Moisture Extraction Oven yang dapat digunakan untuk proses pengeringan cepat.
e. Vacuum Oven
Digunakan untuk proses pengeringan atau mensterilisasi alat-alat laboratorium berbahan gelas yang berukuran kecil dan tidak terlalu besar.
A.4. Bagian-Bagian Oven
Oven laboratorium memiliki bagian-bagian beserta fungsi yang hampir sama seperti oven pada umumnya. Bagian-bagian oven laboratorium terdiri dari: tombol on/off, temperatur, timer on/off, timer alarm, lampu indikator alarm, pengatur katup, pembuka oven dan kartu petunjuk penggunaan oven. Adapun penjabaran dan fungsi masing-masingnya dijelaskan sebagai berikut (Jenis-jenis Oven Laboratorium SOP):
a. Tombol On/Off
Berfungsi untuk menghidupkan dan mematikan oven.
31 b. Temperatur
Berfungsi mengatur dan memilih suhu yang diinginkan. Pada bagian ini terdapat tombol untuk naik dan turun suhu oven.
c. Timer On/Off
Berfungsi mengatur saklar secara otomatis dengan cara menambah atau menguranginya.
d. Timer Alarm
Berfungsi untuk mengatur alarm pengingat saat melakukan pemanasan atau sterilisasi alat.
e. Lampu Indikator Alarm
Berfungsi untuk memberi tanda jika proses sterilisasi telah selesai dilakukan.
f. Pengatur Katup
Berfungsi mengatur keluar masuknya udara pada saat proses pengeringan. Penggunaannya adalah dengan menggeser ke atas atau bawah katup.
g. Pembuka Oven
Berfungsi untuk membuka dan menutup oven dengan cara dengan cara menggeser ke bawah, lalu kemudian di tarik keluar.
h. Kartu Petunjuk Penggunaan Oven
Berfungsi menampilkan informasi pengaturan penggunaan oven.
A.5. Perawatan Oven
Oven merupakan instrumen laboratorium yang paling banyak digunakan. Biasanya oven digunakan untuk air penguapan atau sisa pelarut sampel sebelum di analisis. Beberapa oven laboratorium dapat mencapai suhu yang sangat tinggi yang dapat membahayakan penggunanya. Selain itu, sampel atau peralatan gelas yang dibilas
32
dengan tidak bersih juga dapat berbahaya saat pengeringan oleh oven. Oleh karena itu, agar oven laboratorium tidak menimbulkan bahaya bagi pengguna dan dapat digunakan dalam jangka panjang, maka dilakukan perawatan oven. Adapun langkah perawatan oven laboratorium sebagai berikut (Kansas State EH&S Oven SOP):
a) Perlunya pengguna mengetahui sifat sampel atau alat yang akan disterilisasi dan dipanaskan di oven. Bahan yang mudah melunak sebelum mencapai suhu leleh jangan dibiarkan meleleh di oven.
b) Perubahan suhu yang terlalu cepat menyebabkan kerusakan pada sampel atau ledakan alat. Jika memungkinkan usahakan turunkan suhu perlahan dan jangan cepat mematikan oven saat sampel masih dalam suhu tinggi.
c) Sebaiknya oven laboratorium ditempatkan di bawah lemari asam dikarenakan gas yang berasal dari dalam oven dapat mengalami kebocoran sehingga dapat tersebar di dalam ruangan.
d) Jangan menggunakan oven untuk mensterilisasi atau memanaskan bahan kimia yang mudah menguap.
e) Jangan mengeringkan alat berbahan gelas yang dibilas dengan pelarut organik tanpa dibilas aquadest setelahnya.
f) Jangan menggunakan termometer air raksa untuk mengukur suhu dalam oven laboratorium. Jika termometer rusak atau pecah, maka matikan oven segera dan tutup pintu atau ventilasi.
g) Jangan mengeluarkan sampel atau alat yang masih panas dari dalam oven hingga suhu sampel atau alat mendekati suhu kamar.
h) Gunakan sarung tangan tebal anti panas untuk mengeluarkan sampel atau alat yang telah disterilisasi dari dalam oven.
i) Berhati-hati saat membuka oven. Keluarkan sampel atau alat dari oven secara perlahan. Jangan berdiri di dekat pintu oven agar terhindar dari tumpahan panas media atau pecahan alat.
33
j) Baca buku Petunjuk Keselamatan Laboratorium untuk informasi tambahan.