• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengenalan Instrumentasi Laboratorium untuk Mahasiswa

N/A
N/A
Petrus Valentinus Silaen 19820061

Academic year: 2024

Membagikan "Pengenalan Instrumentasi Laboratorium untuk Mahasiswa"

Copied!
213
0
0

Teks penuh

(1)

BUKU PENGENALAN INSTRUMENTASI UNTUK MAHASISWA

Book · December 2023

DOI: 10.17605/OSF.IO/P62X8

CITATIONS

0

READS

11,432

16 authors, including:

Fajar Husen

Medical Laboratory Technology Department of Bina Cipta Husada College of Heal…

40PUBLICATIONS   76CITATIONS    SEE PROFILE

Nuniek Ratnaningtyas Universitas Jenderal Soedirman 53PUBLICATIONS   198CITATIONS   

SEE PROFILE

All content following this page was uploaded by Fajar Husen on 23 December 2023.

The user has requested enhancement of the downloaded file.

(2)

v

(3)

P E N G E N A L A N

INSTRUMENTASI

LABORATORIUM

UNTUK MAHASISWA

Yuri Pradika, S.Si., M.Sc.

I G. A. Ayu Satwikha Dewi, S.Tr.Kes., M.Kes Adelia Febriyossa, S.Si., M.Si Tedy Febriyanto, S.ST., M.Bmd.

Seftiwan Pratami Djasfar, S.Si., M.Si Zakarias Adrianto Mautuka, S.T., M.Si

Farida Noor Irfani, S.Si., M.Biomed.

Nur Hayati, S.Si., M.Si.

Fajar Husen, S.Si., M.Si. & Prof. Dr. Nuniek Ina Ratnaningtyas, MS.

Euis Tia Istianah, S.Tr.AK., M. Biomed.

Hanny Siti Nuraeni, S.ST., M.Biomed.

Anak Agung Ayu Eka Cahyani, S.Si., M.Kes.

Asvia Rahayu., S.ST., M.Biomed.

Dra. Dewi Sulistyawati., M.Sc. & dr. Ratna Herawati Prabowo, M.Biomed.

(4)

UNTUK MAHASISWA Penulis:

Yuri Pradika, S.Si., M.Sc., I G. A. Ayu Satwikha Dewi, S.Tr.Kes., M.Kes, Adelia Febriyossa, S.Si., M.Si., Tedy Febriyanto, S.ST., M.Bmd.., Seftiwan Pratami Djasfar, S.Si., M.Si., Zakarias Adrianto Mautuka, S.T., M.Si., Farida Noor Irfani, S.Si., M.Biomed., Nur Hayati, S.Si., M.Si., Fajar Husen, S.Si., M.Si. & Prof. Dr.

Nuniek Ina Ratnaningtyas, MS., Euis Tia Istianah, S.Tr.AK., M. Biomed., Hanny Siti Nuraeni, S.ST., M.Biomed., Anak Agung Ayu Eka Cahyani, S.Si., M.Kes., Asvia Rahayu., S.ST., M.Biomed., Dra. Dewi Sulistyawati., M.Sc. & dr.

Ratna Herawati Prabowo, M.Biomed.

ISBN: 978-623-09-7021-4 Tebal: ix + 203 hlm., 21 x 14 cm Desember 2023

Editor: Aulia Mutiara Hikmah, S.Si., M.Si.

Penata Letak: Fiana Astika Penata Sampul: Alwi Viandika

Penerbit:

PT. ADIKARYA PRATAMA GLOBALINDO

Dusun Tegalsari RT 001/RW 004, Desa Jumoyo, Kec. Salam Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah

HP/WA: 08989999951, Email: [email protected] Website: www.adpraglobalindo.my.id

ANGGOTA IKAPI

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang

Dilarang memperbanyak isi buku ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa izin tertulis dari penerbit.

(5)

v

Kata Pengantar

Demi memajukan pendidikan, kami persembahkan

buku referensi dengan judul “Pengenalan Instrumentasi

Laboratorium untuk Mahasiswa”.

Kami panjatkan syukur yang sebanyak-banyaknya kepada Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan yang memberikan limpahan karunia dan berkah-Nya yang begitu besar sehingga buku ini dapat diproses dan berjalan dengan lancar.

Buku ini disusun sebagai bekal dasar kepada Mahasiswa untuk dapat mengenal dan memahami instrumen apa saja yang digunakan selama melakukan analisis di dalam laboratorium. Dari penjelasan instrumen sederhana hingga instrumen modern dipaparkan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca. Harapan kami adalah ilmu-ilmu yang disediakan oleh buku ini dapat dimengerti dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi pembaca.

Namun, penulis menyadari buku ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu, pembaca dapat memberikan kritik dan masukin yang membangun agar penulisan buku selanjutnya dapat lebih baik lagi.

Penulis

(6)

vi

(7)

vii Daftar Isi

Halaman Sampul ... i

Kata Pengantar ... v

Prakata ... v

Bab 1 Dasar-dasar Instrumentasi Laboratorium ... 1

Isi materi ... 1

Daftar Pustaka ... 10

Biodata Penulis ... 11

Bab 2 Neraca Analitis dan Alat Gelas ... 12

Isi materi ... 12

Daftar Pustaka ... 22

Biodata Penulis ... 25

Bab 3 Oven dan Autoklaf ... 26

Isi materi ... 26

Daftar Pustaka ... 38

Biodata Penulis ... 40

Bab 4 Waterbath, Incubator dan Pemanas ... 41

Isi materi ... 41

Daftar Pustaka ... 52

Biodata Penulis ... 53

(8)

viii

Bab 5 Mikroskop ... 54

Isi materi ... 54

Daftar Pustaka ... 67

Biodata Penulis ... 68

Bab 6 Viscometer, Densitometer, dan Centrifuge ... 69

Isi materi ... 69

Daftar Pustaka ... 80

Biodata Penulis ... 82

Bab 7 Turbidimeter dan pH Meter ... 83

Isi materi ... 83

Daftar Pustaka ... 95

Biodata Penulis ... 99

Bab 8 Spektrofotometer Serapan Atom (AAS) ... 100

Isi materi ... 100

Daftar Pustaka ... 113

Biodata Penulis ... 114

Bab 9 Kromatografi (KLT, HPLC, GC-MS dan LC-MS) ... 115

Isi materi ... 115

Daftar Pustaka ... 129

Biodata Penulis ... 130

Bab 10 Alat Analyzer ... 132

Isi materi ... 132

Daftar Pustaka ... 147

(9)

ix

Biodata Penulis ... 148

Bab 11 Alat ELISA ... 149

Isi materi ... 149

Daftar Pustaka ... 159

Biodata Penulis ... 161

Bab 12 Alat Elektroforesis DNA dan Protein ... 162

Isi materi ... 162

Daftar Pustaka ... 172

Biodata Penulis ... 174

Bab 13 Polymerase Chain Reaction (PCR) ... 175

Isi materi ... 175

Daftar Pustaka ... 185

Biodata Penulis ... 187

Bab 14 Mikrotom dan Alat Sitohistoteknologi ... 188

Isi materi ... 188

Daftar Pustaka ... 201

Biodata Penulis ... 203

(10)

1

BAB 1

DASAR-DASAR INSTRUMENTASI LABORATORIUM

Yuri Pradika, S.Si., M.Sc.

[email protected] A. Instrumentasi Laboratorium

Bidang instrumentasi laboratorium terus berkembang dengan pesat seiring dengan kemajuan teknologi. Hal ini dapat membantu dalam pemahaman lebih dalam tentang fenomena alam, pengembangan obat-obatan, desain bahan baru, dan banyak lagi sehingga perlu pemahaman tentang instrumentasi laboratorium.

Instrumentasi laboratorium adalah bidang atau disiplin ilmu yang berkaitan dengan pengembangan, penggunaan, pemeliharaan, dan perawatan alat dan peralatan yang digunakan dalam eksperimen, pengujian, analisis, dan penelitian ilmiah di berbagai disiplin ilmu (Limpraptono & Faradisa, 2016). Istilah instrumentasi dalam banyak konteks digunakan bersamaan dengan istilah instrumen karena "instrumen" adalah alat atau perangkat, sementara "instrumentasi" adalah bidang atau disiplin ilmu yang berkaitan dengan penggunaan instrumen untuk mencapai pengukuran dan pengendalian yang diperlukan.

Instrumen laboratorium mencakup berbagai macam peralatan, dari yang sederhana seperti alat gelas, termometer hingga yang kompleks seperti Transmission Electron Microscope (TEM) dan spektrometer nuklir resonansi magnetik (NMR).

(11)

2

Beberapa poin penting yang harus dipahami mahasiswa sebagai pengantar tentang instrumentasi laboratorium:

1. Jenis Instrumen Laboratorium: Instrumen laboratorium memiliki banyak jenis dan cara kerja yang spesfik sesuai jenis instrumen. Beberapa contoh instrumen laboratorium yaitu kromatografi, spektrofotometer, mikroskop, blood gas analyzer, hematologi analyzer dan banyak lagi.

2. Prinsip Dasar Instrumen Laboratorium: Setiap instrumen laboratorium beroperasi berdasarkan prinsip dasar tertentu.

Mahasiswa harus memahami prinsip-prinsip dasar ini untuk menggunakan instrumen dengan benar dan memahami data yang dihasilkan.

3. Kalibrasi dan Pengukuran: Instrumen laboratorium sering memerlukan kalibrasi yang akurat untuk memastikan hasil yang tepat. Pengukuran yang akurat dalam instrumen sangat penting dalam penelitian ilmiah dan analisis.

4. Pemeliharaan dan Perawatan Instrumen Laboratorium:

Instrumen laboratorium memerlukan pemeliharaan dan perawatan yang teratur untuk memastikan kinerjanya tetap optimal dan menghindari kerusakan (Jufriyah dkk., 2019).

Beberapa hal yang perlu dilakukan yaitu pembersihan, kalibrasi ulang, dan perbaikan jika diperlukan.

B. Tujuan Instrumentasi Laboratorium

Saat ini instrumentasi laboratorium menjadi hal penting untuk dipelajari oleh mahasiswa. Pengenalan instrumentasi laboratorium ini dapat membantu mahasiswa mengetahui cara penggunaan alat yang baik dan benar sehingga dapat menimalisir kesalahan di laboratorium (Lase, 2021). Dasar-dasar instrumentasi

(12)

3

laboratorium ini dapat membantu mahasiswa kedepannya untuk melakukan penelitian sehingga data yang didapatkan akan benar, selain itu ketika memasuki dunia kerja nanti sudah memahami prinsip instrumen yang ada di laboratorium. Ada beberapa tujuan utama mempelajari instrumentasi laboratorium bagi mahasiswa yaitu:

1. Memahami Prinsip Dasar: Mahasiswa mampu memahami prinsip dasar dari alat-alat laboratorium, termasuk cara kerja, prinsip-prinsip operasi alat, dan dasar-dasar ilmiah di balik alat tersebut. Hal ini dapat membantu pengembangan pemahaman yang kuat tentang dasar ilmiah di bidang masing-masing.

2. Keterampilan Praktis: Mahasiswa mampu memperoleh keterampilan praktis dalam penggunaan instrumen laboratorium.

Keterampilan praktis ini dapat berupa cara pengoperasian alat dengan aman dan efisien, cara pemeliharaan, dan cara perawatan alat.

3. Penelitian dan Analisis: Pembelajaran tentang instrumentasi laboratorium dapat membantu mahasiswa dalam mempersiapkan diri untuk melakukan penelitian dan analisis ilmiah. Instrumen laboratorium ini dapat digunakan sebagai sarana untuk melakukan eksperimen, menguji hipotesis, dan mengumpulkan data yang digunakan untuk penelitian.

4. Peningkatan Keahlian Teknis: Mahasiswa mampu mengembangkan keahlian teknis yang dibutuhkan dalam penggunaan instrumen laboratorium. Hal ini seperti teknik pengukuran yang akurat, kalibrasi, analisis data, dan pelaporan hasil.

5. Persiapan Karir: Pengetahuan dan pemahaman tentang instrumentasi laboratorium merupakan kompetensi yang

(13)

4

berharga bagi mahasiswa dalam persiapan karir, yang mana memiliki peluang yang lebih baik untuk mencari pekerjaan dalam industri, penelitian, atau laboratorium klinis.

6. Pengembangan Kreativitas: Mahasiswa dapat mengembangkan kreativitas dengan menggunakan instrumentasi laboratorium.

Hal ini dapat dilakukan dengan merancang eksperimen mereka sendiri atau mengembangkan metode analisis yang inovatif. Ini memungkinkan mereka untuk mengembangkan pemikiran kreatif dan berkolaborasi dalam penelitian ilmiah.

7. Keselamatan dan Etika: Mahasiswa mampu memahami tentang etika penelitian, keselamatan kerja, dan penanganan bahan kimia yang aman. Ini penting untuk mencegah kecelakaan dan memastikan integritas penelitian.

Dengan demikian, tujuan utama dari mempelajari instrumentasi laboratorium adalah untuk memberikan mahasiswa dasar yang kuat dalam penggunaan instrumen laboratorium dan mempersiapkan mahasiswa untuk berkontribusi dalam penelitian dan industri. Selain itu, mempelajari instrumentasi laboratorium dapat membuka berbagai peluang untuk pengembangan pribadi, kontribusi ilmiah, dan persiapan untuk karir di berbagai bidang ilmu pengetahuan.

C. Jenis-jenis Instrumentasi Laboratorium

Instrumentasi laboratorium terdiri dari berbagai instrumen atau peralatan yang digunakan dalam berbagai disiplin ilmu untuk analisis, eksperimen, pengukuran, dan pengamatan. Berikut ini adalah pengantar beberapa instrumen laboratorium yang akan dibahas lebih lanjut dalam buku ini.

(14)

5 1. Alat Gelas

Alat Gelas di laboratorium memiliki berbagai fungsi, tergantung dari jenis alat yaitu sebagai alat pengukuran, pencampuran, penyimpanan, pengolahan, percobaan, pengamatan, pemanasan, pengenceran, dan lain-lain. Beberapa contoh alat gelas yaitu erlenmeyer, gelas beker, tabung reaksi, pipet ukur, cawan petri, labu ukur, dan banyak lagi.

2. Neraca Analitik

Neraca Analitik adalah alat laboratorium yang berfungsi untuk mengukur massa zat atau bahan dengan akurasi yang tinggi.

3. Oven

Oven adalah alat laboratorium yang berfungsi untuk memanaskan, mensterilkan, mengeringkan suatu alat atau untuk menghilangkan kelibahan air atau pelarut dari sampel atau bahan kimia (Kahar, 2022).

4. Autoklaf

Autoklaf adalah alat laboratorium yang digunakan untuk mensterilkan alat atau bahan dari mikroorganisme dengan menggunakan panas dan tekanan uap.

5. Waterbath

Waterbath adalah alat laboratorium yang digunakan untuk memanaskan atau mempertahankan suhu konstan dari air atau cairan khusus dalam wadah dengan waktu yang sudah ditentukan (Aba ddk., 2022).

6. Incubator

Incubator adalah alat yang digunakan untuk menjaga kondisi lingkungan yang stabil dan sesuai untuk pertumbuhan dan

(15)

6

perkembangan mikroorganisme, sel atau kultur biologis dalam waktu tertentu.

7. Pemanas

Pemanas adalah alat yang digunakan untuk meningkatkan suhu sesuai kebutuhan dengan mengubah energi listrik menjadi energi panas.

8. Mikroskop

Mikroskop adalah alat yang digunakan untuk melihat benda atau objek kecil yang tidak bisa dilihat dengan mata langsung sehingga dilakukan perbesaran untuk melihat objek lebih jelas, rinci, dan detail.

9. Viskometer

Viskometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur viskositas atau ketebalan cairan.

10. Densitometer

Densitometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur kerapatan atau kepadatan suatu bahan.

11. Centrifuge

Centrifuge adalah alat yang digunakan untuk pemisahan partikel atau komponen dalam suatu campuran berdasarkan massa jenis.

12. Turbidimeter

Turbidimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur kekeruhan suatu cairan atau larutan.

13. pH Meter

pH Meter adalah alat yang digunakan untuk mengukur tingkat keasamaan atau kebasaan dari suatu cairan.

(16)

7 14. Spektrofotometer dan AAS

Spektrofotometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur sejauh mana cahaya diserap oleh suatu zat sebagai fungsi dari panjang gelombang cahaya.

AAS adalah alat yang digunakan menganalisis unsur secara kuantitatif berdasarkan penyerapan cahaya dengan panjang gelombang tertentu oleh atom logam dalam keadaan bebas (Skoog dkk., 2004).

15. Kromatografi

Kromatografi adalah metode pemisahan yang didasarkan distirubusi komponen-komponen dalam fase diam dan fase gerak. Beberapa jenis kromatografi yang umum yaitu kromatografi lapis tipis, kromatografi kolom, kromatografi gas, kromatografi cair kinerja tinggi, dan lain-lain.

16. Alat Analyzer

Alat Analyzer adalah alat laboratorium yang berfungsi yang untuk mengukur, menganalisis, atau menguji komponen atau sifat suatu sampel dengan tingkat akurasi dan ketelitian tertentu.

Kegunaan alat ini tergantung pada jenis alatnya dan aplikasi spesifiknya. Beberapa alat analyzer diantaranya yaitu elektrolit analyzer, chemical analyzer, dan hematologi analyzer.

17. Alat ELISA (Enzyme-Linked Immunoabsorbent Assay)

Alat ELISA adalah alat laboratorium yang digunakan untuk mendeteksi dan mengukur konsentrasi dari antigen atau antibodi dalam suatu sampel dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi (Hudaini dkk., 2020).

18. Alat Elektroforesis

Alat Elektroforesis adalah alat yang digunakan untuk memisahkan molekul-molekul bermuatan berdasarkan

(17)

8

pergerakan di dalam medan listrik (Pratiwi, 2001). Pergerakan molekul tersebut didasarkan oleh ukuran, besar muatan, bentuk, dan sifat kimia. Beberapa aplikasi utama elektroforesis yaitu elektroforesis DNA dan elektroforesis protein.

19. Alat PCR (Polymerase Chain Reaction)

PCR adalah alat yang digunakan untuk menggandakan jumlah molekul DNA pada target tertentu dengan cepat dan spesifik dan menganalisis molekul DNA baru yang berkomplemen dengan molekul DNA target melalui enzim dan oligonukleotida sebagai primer dalam suatu thermocycle (Widayat dkk., 2019).

20. Alat Mikrotom

Mikrotom adalah alat yang digunakan untuk memotong tipis atau irisan suatu sampel biologis menjadi potongan- potongan sangat tipis seragam sesuai dengan ketebalan yang diinginkan sehingga dapat dilihat dengan mikroskop (Pratiwi &

Manan, 2015).

.

(18)

9

DAFTAR PUSTAKA

Aba, M.U.N., Muslihun, & Tukan, W.Y.L. (2022). Rancang Bangun Alat Water Bath Dilengkapi Indikator Level Air Berbasis Arduino Mega2560. Medika Trada: Jurnal Teknik Elektromedik Polbitrada, 3(2), 22-28.

Hudaini, F., Santosa, B., & Kartika, A.I. (2020). Variasi Waktu Pembacaan Setelah Stop Solution Terhadap Nilai Absorbansi Anti Hbs Metode Elisa. Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS), 7(2), 107-111.

Jufriyah, Mar’ah, I., & Isharyudono. (2019). Pemeliharaan dan Penyimpanan Peralatan Laboratorium. Jurnal Pengelolaan Laboratorium Pendidikan, 1(1), 26-32.

Kahar, F. (2022). Buku Ajar Instrumentasi Dasar. Purbalingga: Eureka Media Aksara.

Lase, N.K. (2021). Analisis Pengetahuan Mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi IKIP Gunungsitoli Tentang Peralatan Laboratorium dan Fungsinya. Jurnal Pendidikan MINDA, 2(2), 104-115.

Limpraptono, F.Y., & Faradisa, I.S. (2016). Pengembangan Instrumentasi Remote Berbasis Green Technology. Seminar Inovasi dan Aplikasi Teknologi di Industri (SENIATI). Institut Teknologi Nasional Malang.

Pratiwi, R. (2001). Mengenal Metode Elektroforesis. Oseana, XXVI (1), 25-31.

Pratiwi, H.C., & Manan, A. (2015). Teknik Dasar Histologi Ikan Gurami (Osphronemus gouramy). Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, 7(2), 153-158.

Skoog, D.A., West, D.M., Holler, J., Stanley, R., & Crouch, S.R.

(2004). Fundamentals of Analytical Chemistry. Belmont:

Thomson-Brooks Cole.

(19)

10

Widayat, Agustini, T.W., Suzery, M., Al-Baarri, A.N., Putri, S.R., &

Kurdianto. (2019). Real Time-Polymerase Chain Reaction (RT- PCR) sebagai Alat Deteksi DNA Babi dalam Beberapa Produk Non-Pangan. Indonesia Journal of Halal, 1(2), 26-33.

(20)

11

BIODATA PENULIS

Yuri Pradika, S.Si., M.Sc., lahir pada 14 Juni 1994 di Kerinci, Jambi. Penulis menempuh Pendidikan S-1 kimia di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Kota Yogyakarta. Kemudian melanjutkan studi S-2 Kimia di Universitas Gadjah Mada. Saat ini penulis bekerja sebagai dosen tetap di STIKes Kesetiakawanan Sosial Indonesia. Penulis dapat dihubungi

melalui surat elektronik

[email protected].

(21)

12

BAB 2

NERACA ANALITIS DAN ALAT GELAS

I Gusti Agung Ayu Satwikha Dewi, S.Tr.Kes., M.Kes.

[email protected]

A. Neraca Analitis

Naraca analitis adalah alat yang digunakan untuk mengukur atau menentukan komposisi suatu sampel secara akurat atau mendapatkan nilai besaran fisis massa. Setiap nilai terukur pada sistem pengukuran pasti memiliki nilai ketidakpastian.

Ketidakpastian merupakan nilai yang menyatakan besar simpangan hasil pengukuran terhadap nilai yang sebenarnya (Rahmah &

Salsabila, 2022). Alat ini memungkinkan Anda mengukur jumlah zat tertentu dalam sampel dengan akurasi tinggi (Sutra & Mais, 2019).

Neraca analitis umumnya digunakan dalam bidang kimia, laboratorium farmasi, dan banyak bidang ilmiah lainnya yang memerlukan pengukuran berat badan yang sangat akurat (Handayani, 2022). Terdapat dua jenis neraca analitik yaitu:

1. Timbangan analitik mekanik (mechanical analytical balance) 2. Timbangan analitik elektronik (electronical analytical baance)

Neraca analitik digital merupakan salah satu neraca yang memiliki tingkat ketelitian tinggi, neraca ini mampu menimbang zat atau benda sampai batas 0,0001 gram (Mahode, 2018). Hal ini memungkinkan bahan diukur dalam jumlah yang sangat kecil

(22)

13

dengan presisi tinggi. Kesetimbangan ini umumnya digunakan dalam berbagai jenis analisis, seperti analisis kuantitatif untuk menentukan konsentrasi suatu zat dalam larutan atau sampel padat (Rinawati et al., 2016).

Neraca analitik digital lebih sering digunakan saat ini, karena memiliki kemudahan dalam penggunaan, efesien waktu, efektif, praktis, bahkan beberapa sudah memiliki fiture kalibrasi yang memungkinkan pengguna dapat melakukan kalibrasi sendiri (Andaru, 2019).

Gambar 2.1 Neraca Analitis (Yusnia, 2022) Komponen neraca analitik terdiri atas:

1. LCD digunakan untuk menampilkan hasil penimbangan 2. Menu Function untuk menentukan sistem konversi yang

digunakan saat akan mengukur.

(23)

14

3. Power digunakan untuk menghidupkan atau mematikan timbangan.

4. Tare digunakan untuk mengatur keseimbangan agar kembali keposisi netral (nol).

5. Print Function untuk mencetak hasil penimbangan

6. Waterpass digunakan untuk menentukan posisi balance plate atau pelat keseimbangan

7. Feet Adjust Level digunakan untuk mengatur kerataan timbangan

8. Sample Pan digunakan untuk meletakan sampel atau bahan yang akan ditimbang.

9. Up/ Right/ Left Windbreak digunakan sebagai pelindung dari angin dan debu saat melakukan penimbangan. (Sainsteel, 2022) (Yusnia, 2022)

Beberapa hal yang perlu diperhatikan bekerja dengan neraca ini adalah:

1. Neraca analitik digital adalah neraca yang sangat peka, karena itu bekerja dengan neraca ini harus secara halus dan hati-hati.

2. Sebelum mulai menimbang persiapkan semua alat bantu yang dibutuhkan dalam penimbangan

3. Neraca diatur supaya kondisinya dalam keadaan stabil dan horizontal(dengan mengatur water pass ketepatan titik keseimbangan di neraca)

4. Neraca harus disimpan dalam lemari khusus neraca 5. Letakkan terpisah jauh dari bahan kimia (gas) 6. Tidak terkena cahaya matahari

7. Tidak terkena angin yang berlebihan 8. Letakkan di atas meja beton

9. Pintu neraca harus dalam keadaan tertutup

(24)

15

10. Pemberian beban tidak boleh melebihi mutan yang diperbolehkan

11. Meletakkan anak timbangan harus dengan pinset

12. Selesai menimbang kembalikan ke posisi nol dan semua bahan dikeluarkan dan dibersihkan

B. Alat Gelas

Alat-alat gelas yang berada di laboratorium merupakan gelas boroksilikat. Gelas jenis ini dapat dipanaskan hingga suhu tinggi dan dapat direndam pada air dingin dan es tanpa adanya keretakan atau pecah. Gelas boroksilikat tidak bereaksi dengan bahan kimia sehingga cocok digunakan sebagai alat gelas laboratorium.

Alat-alat gelas juga ada yang berbahan porselin dan plastik dengan sifat yang berbeda terhadap panas. Bahan porselin tahan panas dan tidak tembus cahaya, sedangkan bahan plastik bersifat tidak tahan panas atau lentur dan tembus cahaya. Berikut adalah beberapa contoh alat gelas yang ada di laboratorium:

Tabel 2.1 Contoh alat gelas yang ada di Laboratorium

No Nama Ukuran Fungsi Gambar

1 Beaker Glass

50ml, 100ml, 250ml, 1000ml, 5000ml

Sebagai penampung larutan atau sampel sementara suatu zat atau cairan

(Dokumen Pribadi, 2023)

(25)

16

No Nama Ukuran Fungsi Gambar

2 Tabung Erlenm eyer

50ml, 100ml, 250ml, 500ml

Untuk mengukur volume bahan kimia cair dengan ketelitian rendah

(Dokumen Pribadi, 2023)

3 Cawan Petri

Untuk pembuatan kultur media dan pembiakan bakteri

(Dokumen Pribadi, 2023)

4 Gelas Ukur

10ml, 25ml, 50ml, 100ml

Untuk mengukur volume cairan

(Dokumen Pribadi, 2023)

5 Corong Gelas

Alat bantu untuk memindahkan larutan ke wadah yang lain dan sebagai alat kertas saring

(26)

17

No Nama Ukuran Fungsi Gambar

(Dokumen Pribadi, 2023)

6 Labu Ukur

25ml- 100ml

Untuk membuat suatu larutan dengan volume yang diketahui

(Dokumen Pribadi, 2023)

7 Pipet Tetes

Memindahkan suatu larutan atau cairan teets demi tetes

(Dokumen Pribadi, 2023)

8 Tabung Reaksi

Kecil, medium dan panjang

Untuk melakukan uji biokimia dan menumbuhkan mikroba

(Dokumen Pribadi, 2023)

(27)

18

No Nama Ukuran Fungsi Gambar

9 Buret 25ml, 50ml, 100ml

Untuk meneteskan sejumlah reagen cair dalam eksperimen yang memerlukan presisi, pada eksperimen titrasi

(Dokumen Pribadi, 2023)

10 Lumpa ng dan Alu

Untuk menghaluskan dan menggerus bahan

(Dokumen Pribadi, 2023)

11 Pipet Ukur

1ml, 2ml, 5ml, 10ml, dsb

Untuk memindahkan cairan dalam volume kecil

(Dokumen Pribadi, 2023)

12 Pipet Gondo k

2ml, 5ml, 10ml, 25ml

Untuk memindahkan cairan dalam volume kecil dan hanya satu ukuran yang berbeda pada masing pipet

(Dokumen Pribadi, 2023)

(28)

19

No Nama Ukuran Fungsi Gambar

13 Gelas Arloji

Digunakan sebagai tempat menimbang bahan kimia berupa pasta, padatan atau bubuk

(Dokumen Pribadi, 2023)

14 Desikat or

Untuk menghilangkan air dan kristal hasil pemurnian

(Dokumen Pribadi, 2023)

15 Konden sor destilasi

digunakan dalam sistem destilasi untuk mengubah uap menjadi air (Ridhuan

& Juniawan, 2014)

(Bukalapak, 2023) 16 Labu

alas bulat

50 mL 100 mL 200 mL 300 mL 500 mL

Untuk proses destilasi

(UPT Laboratorium PIM, 2016)

(29)

20

No Nama Ukuran Fungsi Gambar

17 Labu destilasi

50 mL 100 mL 250 mL 500 mL 1000 mL 2000 mL

Untuk memisahkan antara 2 zat atau lebih dengan memfokuskan pada perbedaan titik didih (Labor, 2022)

(Yuwono, 2022) 18 Labu

kjeldahl

50 mL 100 mL 200 mL 300 mL

Untuk destruksi bahan makanan dalam proses penentuan kadar protein khususnya makanan berbentuk padat

(CV. General Labora, 2016) 19 Corong

pisah

50 mL 125 mL 250 mL 500 mL 1000 mL

Digunakan dalam ekstraksi cair-cair untuk memisahkan komponen-komponen dalam suatu campuran antara dua fase pelarut dengan densitas berbeda yang tak bercampur

(Alibaba, 2023)

Teori pengenalan alat-alat laboraturium bertujuan untuk mengetahui fungsi dan alat alat di laboraturium (Zuhra et al., 2021).

Penggunaan alat-alat gelas akan berjalan dengan baik apabila seorang prktikum mengetahui alat dan fungsi gelas yang baik (Eliyarti et al., 2020).

Alat gelas harus disimpan dalam keadaan bersih dan berada pada tempat semula (Jufriyah et al., 2009). Pembersihan alat kaca

(30)

21

dilakukan dengan cara pencucian umum yaitu dengan air mengalir dan sedikit detergen, pada saat pencucian alat kaca gunakan sarung tangan dan alat bantu lain, misalnya sikat tabung (Djuhriah, 2023).

Jika pada alat kaca terdapat noda agak kuat melekat noda ini dapat dihilangkan dengan bubuk pencucian yang sesuai, alat gelas yang telah bersih perlu dikeringkan di rak pengering, setellah kering ditempatkan di tempat semula, untuk alat gelas penyimpanannya dipisahkan dengan alat logam (Ekawatiningsih Prihatuti Wika Rinawati, 2020).

(31)

22

DAFTAR PUSTAKA

Alat Labor. (2022). Fungsi Labo Destilasi. Diakses 31 Oktober 2023 dari https://www.alatlabor.com/article/detail/332/ fungsi- labu-destilasi

Alibaba. (2023). Corong Pemisah Berbentuk Pir Kaca Amber, Lab

1000Ml. Diakses 31 Oktober 2023.

https://indonesian.alibaba.com/product-detail/Lab-1000ml- Amber-Glass-Pear-Shaped-1600259949097.html

Blogkimia. (2022). Fungsi Labu Destilasi dan Cara Menggunakannya di Laboratorium. Diakses 31 Oktober 2023 dari https://blogkimia.com/fungsi-labu-destilasi/

Bukalapak. (2023). Kondensor Liebig400 mm – Alat Destilasi. Diakses

31 Oktober dari

https://www.bukalapak.com/p/industrial/peralatan-medis- laboratori/m6tmxf-jual-kondensor-liebig-400-mm-alat- destilasi

CV General Labora. (2016). Kjedahl Flask/ Labu Jeldhal. Diakses 31 Oktober 2023 dari https://www.generallabora.com/produk- 118--kjeldahl-flask-labu-jeldhal-.html

Ekawatiningsih Prihatuti Wika Rinawati. (2020). Manajemen Pelayanan Makanan dan Minuman. UNY Press.

Eliyarti, E., Rahayu, C., & Zakirman, Z. (2020). Deskripsi Pengetahuan Awal Alat Praktikum Materi Koloid Dalam Perkuliahan Kimia Dasar Mahasiswa Teknik. Dalton : Jurnal Pendidikan Kimia Dan Ilmu Kimia, 3(1).

Fallon, A., & Engel, C. (2008). Hypertensive disorders of pregnancy. The Practising Midwife, 11(9), 1-27. Diakses 24 Juni 2016 dari https://www.practisingmidwife.co.uk

Handayani, I. N. (2022). Pelatihan Gerakan Sadar Inspeksi dan Pemeliharaan Pencegahan Peralatan di UPT Laboratorium Kesehatan Daerah Kota Tangerang. International Journal of

(32)

23

Community Service Learning, 6(1).

https://doi.org/10.23887/ijcsl.v6i1.39213

Hyprowira. (2017). Ketahui Bagian-bagian Neraca Analitik. Diakses 31 Oktober 2023 dari https://hyprowira.com/blog/bagian- bagian-neraca-analitik

Jufriyah, J., Mar’ah, I., & Isharyudono, K. (2009). Pemeliharaan Dan Penyimpanan Peralatan Laboratorium Kimia. Jurnal Pengelolaan Laboratorium Pendidikan, 1(1).

Mahode, A. A. (2018). Pedoman Teknik Dasar Untuk Laboratorium Kesehatan. In Journal of Chemical Information and Modeling (Vol. 53, Issue 1).

OCS Lab Equipment: round Bottom Flask."Diarsipkan 2011-10-07 di Wayback Machine. Department of Chemistry. University of Nevada.

Rahmah, F., & Salsabila, F. F. (2022). Uji Kalibrasi Alat Ukur Massa pada Neraca Analitik Menggunakan Metode Perbandingan Langsung. STRING (Satuan Tulisan Riset Dan Inovasi Teknologi), 7(1).

Ridhuan, K., & Juniawan, I. G. A. (2014). Pengaturan Pendinginan pada Kondensor untuk Alat Destilasi Asap Cair. Turbo : Jurnal Program Studi Teknik Mesin, 3(2).

Rinawati, Hidayat, D., Suprianto, R., & Dewi, P. S. (2016).

Penentuan Kandungan Zat Padat (Total Dissolve Solid Dan Total Suspended Solid)Di Perairan Teluk Lampung. Analit:

Analytical and Environmental Chemistry, 1(1).

Silab UGM. (2023). Labu Alas Bulat. Diakses 31 Oktober 2023 dari https://silab.ugm.ac.id/fo/home/detail/4950#:~:text=Fung si%20Utama,digunakan%20untuk%20proses%20destilasi.

Sutra, F. M., & Mais, R. G. (2019). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Financial Distress dengan Pendekatan Altman Z-Score pada Perusahaan Pertambangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2015-2017. Jurnal

(33)

24

Akuntansi Dan Manajemen, 16(01).

https://doi.org/10.36406/jam.v16i01.267

UPT Laboratorium PIM. (2016). Labu Alas Bulat. Diakses 31

Oktober 2023 dari

https://www.facebook.com/1657195431222813/photos/lab u-alas-bulat-rounded-bottom-flaskmempunyai-alas-bulat-dan- leher-panjang-dan-l/1682845081991181/

Widianto, E. (2023). Pengertian Timbangan Analitik, Fungsi, Cara Kerja, dan Manfaatnya. Diakses 31 Oktober 2023 dari https://bloglab.id/pengertian-timbangan-analitik/

Yusnia. (2022). Timbangan Analtik: Pengertian, Jenis, Fungsi, Bagian-

bagian. Diakses 31 Oktober 2023 dari

https://lsi.fleischhacker-asia.biz/timbangan-analitik/

Zuhra, F., Nurhayati, N., & Septiani, S. (2021). Pengenalan Alat- Alat Laboratorium Ipa Untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Siswa Di Era New Normal. JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri), 5(2).

(34)

25

BIODATA PENULIS

I Gusti Agung Ayu Satwikha Dewi, S.Tr.Kes., M.Kes., lahir di Denpasar tahun 1995. Jenjang Pendidikan DIII ditempuh di Poltekkes Denpasar, lulus tahun 2017. Pendidikan DIV ditempuh di Poltekkes Surabaya, lulus tahun 2018, S2 Ilmu Laboratorium Klinis, lulus tahun 2022 di Universitas Muhammadiyah Semarang. Saat ini bekerja sebagai Dosen Program Studi Teknologi Laboratorium Medis di Universitas Bali Internasional. Beberapa buku yang sudah di terbitkan seperti Buku Prediksi Soal UKOM Ahli TLM tahun 2023. E-mail: [email protected].

(35)

26

BAB 3

OVEN DAN AUTOKLAF

Adelia Febriyossa, S.Si., M.Si.

[email protected]

A. OVEN

Merupakan salah satu instrumen yang paling banyak digunakan di laboratorium. Oven laboratorium biasa digunakan untuk proses sterilisasi, pemanasan, dan pengeringan alat atau media yang ada di laboratorium. Untuk proses sterilisasi alat atau media selain oven juga bisa menggunakan Autoklaf. Perbedaannya adalah sterilisasi menggunakan oven dikenal sebagai sterilisasi kering (Dry Heat) sedangkan autoklaf merupakan sterilisasi basah (Steam Heat).

A.1. Fungsi Oven

Oven laboratorium memiliki fungsi dan peran penting pada kegiatan di laboratorium yang mana salah satunya berperan dalam membantu mensterilkan seluruh alat-alat berbahan gelas dan media dalam menunjang kegiatan praktikum. Sedangkan fungsi oven laboratorium adalah untuk proses pemanasan, sterilisasi hingga pengeringan alat-alat gelas dan yang lainnya di laboratorium. Selain itu oven laboratorium juga dapat mensterilisasi dan memanaskan media, bahan kimia hingga pelarut organik.

(36)

27

Pada umumnya oven di setiap laboratorium memiliki fungsi dan peran yang sama. Seperti contoh di laboratorium kimia dan biologi oven digunakan untuk mensteril dan mengeringkan alat-alat berbahan gelas (Cawan petri, tabung reaksi, beaker glass, gelas ukur dan lainnya). Pada laboratorium farmasi, oven digunakan untuk mensteril dan mengeringkan semua alat dan media serta pelarut organik agar terbebas dari kontaminasi.

A.2. Prinsip dan Cara Kerja Oven

Oven laboratorium merupakan peralatan yang digunakan dalam sterilisasi kering. Prinsip penggunaan oven laboratorium adalah memanfaatkan udara kering dengan suhu tinggi atau dikenal sebagai Dry Heat. Udara kering pada oven sangat membantu dalam proses sterilisasi alat dan media.

Rogers (2012) memaparkan sterilisasi kering ini butuh waktu pemaparan lebih lama dan suhu lebih tinggi dibandingkan sterilisasi menggunakan metode basah. Hal ini kurang efisien tetapi sangat berguna dalam menghilangkan air pada peralatan yang terbuat dari logam. Peralatan yang terbuat dari logam apabila di sterilisasi menggunakan metode sterilisasi basah akan menyebabkan peralatan tersebut mudah berkarat dan tumpul (Misra dan Misra, 2012).

Sterilisasi kering biasanya digunakan pada peralatan laboratorium yang tidak dapat basah dan tidak akan meleleh, terbakar atau berubah bentuk jika terkena suhu tinggi. Ikenganyia dkk (2017) menyebutkan jenis peralatan yang dapat disterilisasi kering sebagai berikut:

1. Peralatan terbuat dari bahan kaca (Glassware) seperti cawan petri/petridish, pipet, tabung reaksi, botol kultur.

2. Peralatan terbuat dari bahan logam seperti skalpel, gunting, pinset, mata pisau (blades), spatula.

(37)

28

Penggunaan oven laboratorium pada suhu yang sangat tinggi selama beberapa jam juga mampu membunuh atau menghilangkan agen yang menjadi penyebab kontaminasi pada media. Adanya suhu tinggi atau panas yang dikeluarkan dari dalam oven berperan dalam penyerapan tiap-tiap permukaan alat atau media yang sedang disterilisasi. Saat telah terserap, selanjutnya panas akan merambat ke seluruh permukaan dengan suhu yang stabil. Dengan suhu tinggi, diharapkan oven mampu membunuh mikroorganisme seperti bakteri dan spora jamur yang terdapat pada alat ataupun media.

Sejalan dengan pernyataan Alkhadim (2018) pada prinsipnya oven laboratorium bekerja menggunakan konduksi panas dengan terlebih dahulu memanaskan permukaan bagian luar peralatan, kemudian menyerap panas dan memindahkannya ke bagian tengah alat. Menurut Bhojwani dan Dantu (2013) oven yang digunakan harus memiliki kipas yang terpasang di dalamnya dengan tujuan agar sirkulasi udara panas berjalan baik. Peralatan yang disterilisasi dianjurkan tidak terlalu banyak agar kinerja oven dapat maksimal.

Cara kerja oven laboratorium dimulai dari tahap pengeringan hingga pemanasan. Periode pemanasan oven untuk sterilisasi peralatan laboratorium dilakukan sekitar satu sampai dua jam atau hingga suhu sterilisasi yang dibutuhkan telah tercapai. Sesuai Ikenganyia dkk (2017) rekomendasi temperatur dan durasi oven pengering untuk sterilisasi peralatan laboratorium adalah waktu 45 menit untuk suhu 160 °C, suhu 170 °C dibutuhkan waktu 18 menit, suhu 180 °C dibutuhkan waktu 7,5 menit, dan suhu 190 °C dibutuhkan waktu 1,5 menit. Sebelum melakukan sterilisasi alat laboratorium sebaiknya dilapisi dengan lapisan aluminium foil atau kertas. Hal ini bertujuan menghindari kontaminasi dari satu alat ke alat lainnya ketika berada di dalam oven tersebut (Gambar 1.1).

(38)

29

Namun, Misra dan Misra (2012) tidak menyarankan untuk menggunakan kertas apabila suhu sterilisasi diatas 170 °C. Hal ini dikhawatirkan kertas dapat terurai pada suhu tersebut. Disebutkan oleh Putri et al (2017) dalam penelitiannya tentang pengaruh suhu dan durasi sterilisasi menggunakan panas kering terhadap viskositas media gel alginat yang mana suhu dan durasi mempengaruhi sifat fisik basis gel alginat yang dihasilkan. Semakin lama durasi sterilisasi panas kering dengan suhu tinggi, maka resiko degradasi warna pada media juga semakin besar karena adanya reaksi hidrolisis asam dan basa yang terjadi selama proses sterilisasi berlangsung.

Gambar 2.1 Sterilisasi kering menggunakan oven laboratorium (Wulandari et al., 2022)

A.3. Jenis – Jenis Oven

Oven yang sering digunakan di laboratorium memiliki banyak tipe dan jenis. Beberapa oven laboratorium yang banyak digunakan adalah sebagai berikut (Jenis-jenis Oven Laboratorium SOP):

a. Forced Convection Oven

Oven yang bekerja dengan memanfaatkan aliran udara panas dan dialirkan secara elektrik. Peralatan laboratorium yang dapat disterilisasi dan dikeringkan menggunakan oven ini adalah Erlenmeyer, Cawan petri, Labu ukur, Pipet.

(39)

30 b. Gravity Oven

Oven jenis ini dimanfaatkan untuk kebutuhan industri seperti pemanggangan dan pengeringan dikarenakan memiliki tingkat keseragaman suhu yang rendah. Udara alami yang dihasilkan oleh oven ini bersumber dari rak baja berbahan stainless dalam mencapai keseragaman suhu.

c. Microwave Oven

Microwave oven laboratorium ini memiliki bentuk yang hampir sama Microwave oven lainnya hanya saja fungsinya berbeda yang mana oven ini dapat melakukan proses pemanasan dan pengeringan menggunakan gelombang mikro sehingga dapat menghasilkan panas yang lebih merata.

d. Universal Drying Oven

Oven jenis ini seringkali dikenal dengan Moisture Extraction Oven yang dapat digunakan untuk proses pengeringan cepat.

e. Vacuum Oven

Digunakan untuk proses pengeringan atau mensterilisasi alat-alat laboratorium berbahan gelas yang berukuran kecil dan tidak terlalu besar.

A.4. Bagian-Bagian Oven

Oven laboratorium memiliki bagian-bagian beserta fungsi yang hampir sama seperti oven pada umumnya. Bagian-bagian oven laboratorium terdiri dari: tombol on/off, temperatur, timer on/off, timer alarm, lampu indikator alarm, pengatur katup, pembuka oven dan kartu petunjuk penggunaan oven. Adapun penjabaran dan fungsi masing-masingnya dijelaskan sebagai berikut (Jenis-jenis Oven Laboratorium SOP):

a. Tombol On/Off

Berfungsi untuk menghidupkan dan mematikan oven.

(40)

31 b. Temperatur

Berfungsi mengatur dan memilih suhu yang diinginkan. Pada bagian ini terdapat tombol untuk naik dan turun suhu oven.

c. Timer On/Off

Berfungsi mengatur saklar secara otomatis dengan cara menambah atau menguranginya.

d. Timer Alarm

Berfungsi untuk mengatur alarm pengingat saat melakukan pemanasan atau sterilisasi alat.

e. Lampu Indikator Alarm

Berfungsi untuk memberi tanda jika proses sterilisasi telah selesai dilakukan.

f. Pengatur Katup

Berfungsi mengatur keluar masuknya udara pada saat proses pengeringan. Penggunaannya adalah dengan menggeser ke atas atau bawah katup.

g. Pembuka Oven

Berfungsi untuk membuka dan menutup oven dengan cara dengan cara menggeser ke bawah, lalu kemudian di tarik keluar.

h. Kartu Petunjuk Penggunaan Oven

Berfungsi menampilkan informasi pengaturan penggunaan oven.

A.5. Perawatan Oven

Oven merupakan instrumen laboratorium yang paling banyak digunakan. Biasanya oven digunakan untuk air penguapan atau sisa pelarut sampel sebelum di analisis. Beberapa oven laboratorium dapat mencapai suhu yang sangat tinggi yang dapat membahayakan penggunanya. Selain itu, sampel atau peralatan gelas yang dibilas

(41)

32

dengan tidak bersih juga dapat berbahaya saat pengeringan oleh oven. Oleh karena itu, agar oven laboratorium tidak menimbulkan bahaya bagi pengguna dan dapat digunakan dalam jangka panjang, maka dilakukan perawatan oven. Adapun langkah perawatan oven laboratorium sebagai berikut (Kansas State EH&S Oven SOP):

a) Perlunya pengguna mengetahui sifat sampel atau alat yang akan disterilisasi dan dipanaskan di oven. Bahan yang mudah melunak sebelum mencapai suhu leleh jangan dibiarkan meleleh di oven.

b) Perubahan suhu yang terlalu cepat menyebabkan kerusakan pada sampel atau ledakan alat. Jika memungkinkan usahakan turunkan suhu perlahan dan jangan cepat mematikan oven saat sampel masih dalam suhu tinggi.

c) Sebaiknya oven laboratorium ditempatkan di bawah lemari asam dikarenakan gas yang berasal dari dalam oven dapat mengalami kebocoran sehingga dapat tersebar di dalam ruangan.

d) Jangan menggunakan oven untuk mensterilisasi atau memanaskan bahan kimia yang mudah menguap.

e) Jangan mengeringkan alat berbahan gelas yang dibilas dengan pelarut organik tanpa dibilas aquadest setelahnya.

f) Jangan menggunakan termometer air raksa untuk mengukur suhu dalam oven laboratorium. Jika termometer rusak atau pecah, maka matikan oven segera dan tutup pintu atau ventilasi.

g) Jangan mengeluarkan sampel atau alat yang masih panas dari dalam oven hingga suhu sampel atau alat mendekati suhu kamar.

h) Gunakan sarung tangan tebal anti panas untuk mengeluarkan sampel atau alat yang telah disterilisasi dari dalam oven.

i) Berhati-hati saat membuka oven. Keluarkan sampel atau alat dari oven secara perlahan. Jangan berdiri di dekat pintu oven agar terhindar dari tumpahan panas media atau pecahan alat.

(42)

33

j) Baca buku Petunjuk Keselamatan Laboratorium untuk informasi tambahan.

B. AUTOKLAF

Autoklaf merupakan alat laboratorium yang diketahui sangat penting dan dibutuhkan dalam proses sterilisasi. Untuk setiap alat dan media yang telah selesai digunakan harus dibersihkan dan disterilisasi lagi agar tidak mempengaruhi hasil praktikum atau penelitian berikutnya. Sterilisasi menggunakan autoklaf ini dikenal sebagai sterilisasi basah karena menggunakan uap air bertekanan tinggi (15 psi, suhu 121 °C, waktu 15 menit). Sterilisasi alat atau media dengan uap bertekanan tinggi merupakan prosedur paling baik dalam menghancurkan atau memusnahkan semua bentuk kehidupan mikroba.

B.1. Fungsi Autoklaf

Autoklaf paling banyak digunakan dalam bidang mikrobiologi dengan prinsip menggunakan uap bertekanan dan suhu tinggi.

Fungsi Autoklaf adalah sebagai wadah atau alat untuk sterilisasi.

Sterilisasi adalah proses mematikan mikroorganisme pada alat dan bahan sehingga bebas dari seluruh bentuk kehidupan (Syah, 2016).

Saat autoklaf diisi dengan alat atau media, maka akan bersentuhan langsung dengan uap bertekanan dan suhu tinggi yang dihasilkan dari dalam autoklaf selama jangka waktu tertentu. Tekanan yang dihasilkan berfungsi sebagai sarana untuk mencapai suhu tinggi yang diperlukan untuk membunuh mikroorganisme dengan cepat.

Panas lembab berperan dalam menghancurkan mikroorganisme melalui denaturasi enzim dan protein struktural. Empat parameter yang terkait dengan sterilisasi basah menggunakan autoklaf adalah uap, tekanan, suhu, dan waktu. Untuk alat laboratorium berbahan

(43)

34

logam dan gelas dapat disterilisasi hingga berkali-kali sehingga bisa digunakan berulang. Sedangkan bahan plastik hanya mampu bertahan 1 hingga 2 kali proses sterilisasi tergantung pada stabilitas hidrolitik dan ketahanan material (Sastri, 2022). Diketahui sterilisasi uap panas menghasilkan lebih tinggi degradasi matriks polimer bahan dibandingkan sterilisasi panas kering karena adanya kombinasi hidrolitik dan degradasi termal matriks polimer (Fuentes et al., 2022).

B.2. Prinsip dan Cara Kerja Autoklaf

Prinsip autoklaf adalah mensterilisasi peralatan laboratorium dengan sterilisasi basah (Steam Heat) menggunakan uap bertekanan tinggi. Untuk proses sterilisasi basah digunakan uap yang berasal dari air di dalam autoklaf yang dipanaskan, kemudian melibatkan suhu dan tekanan. Ada empat kriteria utama menjalankan fungsi autoklaf yaitu uap, suhu, tekanan, dan waktu (Misra dan Misra, 2012). Menurut Gupta & Shukshith (2016) suhu dan tekanan yang dibutuhkan pada proses sterilisasi autoklaf dengan suhu tinggi dengan periode waktu singkat lebih banyak disukai dibandingkan sterilisasi dengan suhu lebih rendah dan waktu yang lebih lama.

Sterilisasi basah umumnya dilakukan pada suhu 121 °C (250

°F) dan 134 °C (273 °F) dengan tekanan 15–30 psi (1,0–2,0 bar) dan rentang waktu 10 dan 60 menit tergantung pada alat dan bahan serta jenis mikroorganisme yang akan disterilisasi (Wulandari et al., 2022). Gupta & Shukshith (2016) menjelaskan umumnya suhu dan tekanan yang digunakan untuk sterilisasi autoklaf adalah 121 °C/15 psi dengan waktu 15 menit. Hal yang perlu diperhatikan adalah waktu sterilisasi dimulai setelah autoklaf mencapai suhu 121 °C dan tekanan 15 psi bukan dihitung setelah menekan tombol “On”.

Ikenganyia dkk (2017) menguatkan pernyataan Gupta & Shukshith

(44)

35

(2016) bahwa suhu 121 °C dan tekanan 15 psi dengan waktu 15 menit diketahui sangat efektif dalam membunuh bakteri dan spora jamur. Sebagai tambahan informasi, sebaiknya jangan meninggalkan media kultur mikroorganisme terlalu lama di dalam autoklaf karena dapat mengakibatkan perubahan susunan kimia pada media sehingga menyebabkan kualitasnya menurun. Selain itu, proses sterilisasi media yang terlalu lama dapat menyebabkan penguraian gula, degradasi vitamin dan asam-asam amino serta inaktifasi sitokinin dan perubahan pH (Pelczar and Chan, 2005).

Metode sterilisasi basah dengan autoklaf digunakan terutama untuk sterilisasi media, cairan dan peralatan laboratorium. Peralatan laboratorium yang dapat disterilisasi dengan autoklaf adalah sebagai berikut (Bhojwani dan Dantu, 2013):

1. Peralatan yang terbuat dari plastik berkualitas baik seperti Teflon FEP, Polypropylene, Polyallomer, Polytetra luoroethylene (PTFE).

2. Peralatan yang terbuat dari kaca seperti beker glass, cawan petri dan pipet.

Adapun proses kerja sterilisasi autoklaf yaitu dimulai saat Autoklaf disambungkan pada arus listrik lalu tekan tombol “On”.

Selanjutnya air yang ada pada Autoklaf lama-kelamaan akan mendidih dan mendesak udara pada Autoklaf sehingga berubah menjadi uap. Kondisi ini dipertahankan sampai tekanan meningkat dengan cara katup Autoklaf ditutup untuk meningkatkan tekanan.

Proses sterilisasi mulai berlangsung saat suhu dan tekanan telah mencapai angka 121 °C/15 psi lalu timer akan mulai menghitung mundur. Setelah proses sterilisasi selesai, sumber arus listrik dipadamkan dan tekanan dibiarkan turun perlahan hingga mencapai 0 psi. Autoklaf tidak boleh dibuka sebelum mencapai 0 psi.

(45)

36

Selanjutnya alat dan bahan dikeluarkan dari dalam autoklaf dan siap untuk digunakan (Syah, 2016).

B.3. Bagian-Bagian Autoklaf

Autoklaf memiliki bagian-bagian beserta fungsi yang perlu diketahui oleh penggunanya (Gupta & Shukshith, 2016). Bagian- bagian autoklaf terdiri dari: tombol on/off, termometer, timer, elemen panas (Heater), katup uap, klep pengaman, pengatur tekanan (Pressure Gauge), batas tambahan air dan kartu petunjuk penggunaan oven. Adapun fungsinya dijelaskan sebagai berikut:

a. Tombol On/Off

Berfungsi untuk menghidupkan dan mematikan autoklaf.

b. Temperatur

Berfungsi sebagai pengaturan suhu autoklaf saat sterilisasi.

c. Timer On/Off

Berfungsi mengatur lamanya proses sterilisasi yang akan bekerja otomatis saat sumber arus listrik dipasang ke Autoklaf.

d. Elemen Panas

Berfungsi mengubah energi listrik menjadi energi kalor yang tersusun atas kumparan atau lilitan kawat tembaga.

e. Katup Uap

Berfungsi untuk mengatur dan melepaskan uap saat sterilisasi berlangsung atau over pressure terjadi.

f. Klep Pengaman

Berfungsi menghisap udara atau uap pada autoklaf. Saat sterilisasi selesai, maka uap panas akan segera hilang.

g. Pengatur Tekanan

Berfungsi untuk menunjukkan tekanan autoklaf saat sterilisasi.

(46)

37 h. Batas Penambahan Air

Berfungsi untuk menentukan batas pengisian air.

i. Kartu Petunjuk Penggunaan Autoklaf

Berfungsi menampilkan informasi tentang penggunaan autoklaf.

B.4. Perawatan Autoklaf

Sterilisasi basah menggunakan autoklaf banyak digunakan oleh pengguna laboratorium. Prinsip penggunaan autoklaf dengan menggunakan uap, panas dan tekanan tinggi menjadikan pengguna autoklaf beresiko terpapar bahaya yang sangat besar (Gupta &

Shukshith, 2016). Pengguna disarankan memakai Alat Pelindung Diri (APD) yang tepat seperti sarung tangan tahan panas, pelindung mata dan jas laboratorium.

Agar autoklaf tidak menimbulkan bahaya bagi penggunanya dan dapat digunakan dalam jangka Panjang, maka dilakukan perawatan terhadap autoklaf yaitu sebagai berikut:

1. Pengguna harus memeriksa autoklaf secara berkala agar saat dioperasikan tidak menimbulkan bahaya dan kerusakan.

2. Jangan menempatkan wadah tertutup di dalam autoklaf karena wadah tersebut dapat meledak saat sterilisasi.

3. Cairan yang akan di autoklaf disarankan berada di dalam wadah dua kali lebih besar dari volume yang akan di autoklaf (Jika mensterilisasi sebanyak 1 liter media, maka ukuran wadah penampung adalah 2 liter/lebih dari 1 liter).

4. Tutup wadah harus sedikit longgar. Untuk wadah bertutup ulir, tutup dapat dikencangkan dengan tangan lalu dikendurkan lagi sebanyak satu setengah putaran.

(47)

38

5. Jangan mengautoklaf barang yang mengandung pelarut atau bahan kimia yang mudah menguap, korosif (fenol, trikloroasetat asam, eter, kloroform) atau bahan radioaktif lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Alkhadim, S. A. S. (2018). Hot air oven for sterilization: definition and working principle. SSRN Electronic Journal, 1-7.

Bhojwani, S.S. and P.K. Dantu. (2013). Plant Tissue Culture: and Introductory Text. Springer, India.

Fuentes, J.M., Arrieta, M.P., Boronat, T & Ferrandiz, S. (2022).

Effects of Steam Heat and Dry Heat Sterilization Processes on 3D Printed Commercial Polymers Printed by Fused Deposition Modeling. Polymers. Vol 14, 855.

Gupta, N.V. and Shukshith K.S. (2016). Qualification of Autoklaf.

International Journal of PharmTech Research 9(4), 220-226.

Ikenganyia, E.E., M.A.N. Anikwe, T. E. Omeje, and J. O. Adinde (2017). Plant Tissue Culture Regeneration and Aseptic Techniques. Asian Journal of Biotechnology and Bioresource Technology. 1(3), 1-6.

Misra, A.N. and M. Misra. (2012). Sterilization Techniques in Plant Tissue Culture. Fakir Mohan University. Balasore.

Pelczar, M.J & Chan, E.C.S. (2005). Dasar-Dasar Mikrobiologi.

Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Putri, D.C.A., Dwiastuti, R & Tuliani, S.H. (2017). Pengaruh Suhu Dan Durasi Sterilisasi Metode Panas Kering Terhadap Viskositas Dan Daya Sebar Basis Gel Alginat. Pharmaceutical Journal Of Indonesia. vol 2(2): 57–61.

(48)

39

Rogers, W. J. (2012). Steam and Dry Heat Sterilization of Biomaterials and Medical Devices. Sterilization of Biomaterials and Medical Devices. vol 20–55.

Sastri, V.R. (2022). Plastics in Medical Devices (Third Edition). Elsevier Science.

Syah, I.S.K. (2016). Penentuan Tingkatan Jaminan Sterilitas Pada Autoklaf Dengan Indikator Biologi Spore Strip. Farmaka. vol 14 no 1.

Wulandari, S., Nisa, Y.S., Taryono, Indarti, S & Sayekti, R.R.S.

(2022). Sterilisasi Peralatan Dan Media Kultur Jaringan.

Agrinova: Journal of Agrotechnology Innovation. vol 4 (2), 16-19.

Kansas State EH&S Oven SOP: https://www.k- state.edu/safety/lab/labsafety/topics/labequipment/laborat oryOven.html . Diakses 15/9/23.

Jenis-jenis Oven Laboratorium SOP:

https://andarupm.co.id/jenis-jenis-oven-laboratorium/ . Diakses 7/9/2022.

(49)

40

BIODATA PENULIS

Adelia Febriyossa, S.Si., M.Si., lahir di Padang, Sumatera Barat, 05 Februari 1992.

Jenjang Pendidikan S1 ditempuh di Universitas Andalas, Kota Padang Sumatera Barat lulus tahun 2013 mengambil jurusan Biologi konsentrasi Ilmu Mikrobiologi. Kemudian, melanjutkan Pendidikan S2 di Institut Teknologi Bandung, Kota Bandung Jawa Barat dengan jurusan yang sama dan lulus pada tahun 2017. Pernah menjadi Dosen Analis Teknologi Laboratorium Medis dan menjabat sebagai Kepala Laboratorium di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kesetiakawanan Sosial Indonesia Jakarta pada tahun 2019 hingga 2022. Selama mengajar, aktif melakukan riset dan menulis karya ilmiah serta mempublikasikannya di jurnal- jurnal ilmiah nasional. Sering juga mengikuti seminar dan pelatihan tentang kepenulisan ilmiah maupun non ilmiah. Saat ini telah bertugas sebagai Dosen Biologi di Jurusan Biologi Universitas Negeri Medan, Sumatera Utara. Jika ingin berdiskusi lebih lanjut dapat dihubungi melalui surel ([email protected]) atau WhatsApp (+62-852-7483-7703).

(50)

41

BAB 4

WATERBATH, INCUBATOR DAN PEMANAS

Tedy Febriyanto, S.ST., M.Bmd.

[email protected]

A. Waterbath

Waterbath yang biasa juga disebut dengan penangas air adalah sebuah alat pemanas air yang berfungsi untuk menciptakan suhu yang stabil dan biasa digunakan pada inkubasi dalam analisis mikrobiologi, sebagai bahan peleburan substrat, penguapan ekstrak, serta sebagai alat yang dapat memanaskan sehingga mempercepat kelarutan (Saputra, 2017).

Waterbath adalah suatu alat di laboratorium berupa bak yang diisi air atau cairan tertentu yang mampu menjaga suhu tetap stabil dalam kondisi dan jangka waktu tertentu. Waterbath juga digunakan untuk mereaksikan zat pada suhu diatas suhu ruang dan meningkatkan aktivitas enzim (Saputra, 2017).

(51)

42

Gambar 4.1 Water Bath (Nuha ABA, 2022)

Waterbath atau penangas air merupakan suatu alat yang digunakan untuk melindungi suatu sampel dari kerusakan sebelum dilakukan pengujian atau penelitian dengan cara menempatkan sampel pada linkungan air yang suhunya dikontrol. Sampel yang diinkubasi biasanya seperti plasma, serum darah, reagen, dan beberapa enzim (Salim & Pudji, 2012).

Prinsip kerja alat ini adalah mengubah energi listrik menjadi energi panas. Energi panas didistribusikan ke dalam air pada bak, yang kemudian digunakan untuk memanaskan larutan. Kelebihan dari alat waterbath ini antara lain, tidak memakan waktu yang terlalu lama untuk mendapatkan hasil pemeriksaan, dapat melakukan pemeriksaan hingga 8-10 sampel sekaligus, dan memiliki ririko terjadinya kecelakaan kerja yang relatif rendah di laboratorium (Kurniyawati et al., 2019).

(52)

43

Water bath atau penangas air ini bisa digunakan untuk memanaskan hingga suhu serendah 100°C dan menguapkan zat atau larutan pada suhu yang tidak terlalu tinggi (Ramadani et al., 2023)

Waterbath terdiri dari bagian bagian antara lain:

a. Pengatur suhu

b. Pengamanan ketinggian air atau cairan

c. Penangas air dapat dilengkapi dengan penggerak motor sehingga dapat berfungsi sebagai alat pengaduk

d. Elemen pemanas listrik

e. Tangas uap yang memiliki satu hingga enam buah lubang untuk menaruh/meletakkan benda benda yang akan diuapkan.

Pengoperasian dari alat waterbath menurut (Ramadani et al., 2023) adalah :

1) Dimasukkan air ke dalam bak atau bejana.

2) Diatur suhu yang diinginkan dan nyalakan water bath.

3) Diletakkan benda yang akan dipanaskan ke dalam air (untuk tangas air) letakkan benda pada salah satu lubang (untuk tangas uap), ingat untuk menutup sisa lubang yang tidak terpakai.

Agar bisa tetap berfungsi normal, setiap peralatan harus dirawat dengan baik. Untuk pemeliharaan Waterbath dapat dilakukan dengan cara berikut ini:

(53)

44

1) Dibersihkan alat menggunakan kain bersih yang dibasahi air kemudian di lap dengan kain kering sekali kali setiap selesai mengoperasikan alat.

2) Jangan biarkan steker atau colokan terkena cipratan air karena dapat menyebabkan sengatan listrik (bahaya) atau kerusakan pada perangkat.

3) Air atau cairan tertentu dapat diganti atau ditambah setiap 2 bulan sekali.

B. Incubator

Incubator atau inkubator merupakan alat yang diperlukan dalam pengeraman mikroba agar tumbuh pada media atau substrat.

Sebelum mikroba tersebut digunakan, biasanya harus dibiakkan terlebih dahulu. Pada titik tertentu, mikroba memerlukan waktu dan suhu yang tepat untuk berkembang biak. Bakteri di inkubasi atau di kembangbiakkan dengan menggunakan alat inkubasi bakteri yang disebut inkubator (Ramadani et al., 2023).

(54)

45

Gambar 4.2 Incubator (Widodo, 2016)

Biasanya, selama penelitian mikrobiologi, mikroorganisme harus diinkubasi pada suhu terkontrol dan terkendali di dalam inkubator. Kontrol suhu dan opsi pengatur waktu dan kontrol suhu disertakan dalam alat ini. Inkubator bekerja dengan cara memasukkan atau menyimpan kultur murni mikroorganisme kemudian mengatur suhunya, yang biasanya hanya dapat diatur di atas suhu tertentu. Misalnya, Inkubator produksi Heraeus B5042, beroperasi pada suhu antara 10°C dan 70°C. Karena bakteri tidak dapat tumbuh atau berkembang biak pada suhu ruang inkubasi yang diatas 100°C, maka harus berhati hati saat menyimpan bakteri di dalamnya. Paramecium, amoeba, dan banyak berbagai bakteri lainnya dapat disimpan dalam inkubator ini untuk dikultur atau dikembangbiakkan (Fuady, 2022).

(55)

46

Inkubator digunakan untuk merangsang pertumbuhan bakteri pada media atau substrat tertentu. Dalam proses inkubasi bakteri, pengaturan waktu sangatlah penting karena setiap spesies bakteri memerlukan waktu yang berbeda beda untuk berkembang biak. Misalnya, jika suatu bakteri membutuhkan waktu 24 jam untuk berkembang biak, memberikan waktu lebih lama dari itu dapat menyebabkan bakteri tersebut mati (Aisyah & Dwiyanto, 2023).

Prosedur pengoperasian penggunaan inkubator menurut (Ramadani et al., 2023) adalah :

1) Dihubungkan steker atau colokan dengan sumber listrik.

2) Dinyalakan inkubator dengan menekan tombol On/Off yang terletak di sisi bagian ujung kiri bawah alat hingga muncul tampilan pada alat tersebut.

3) Diatur suhu dengan menekan tombol “activation key

disebelah kiri tampilan suhu, ditentukan suhu atau temperatur yang di inginkan dengan cara memutar tombol kontrol, putar ke kanan untuk menaikkan temperatur, ke kiri untuk menurunkan temperatur, setelah diperoleh pengaturan temperatur yang

(56)

47

diinginkan, dan ditekan tombol putar kontrol agar pengaturan tersimpan.

4) Disesuaikan kecepatan kipas dengan menekan

activation key” di kanan layar, ditentukan kecepatan yang diperlukan dengan memutar kenop kontrol.

Rotasi ke kanan jika ingin menambah kecepatan, dan ke kiri jika ingin menurunkan derajat kecepatan.

Ditekan tombol putar kontrol agar pengaturan tersimpan.

5) Diatur rotasi udara dalam alat incubator dengan menekan tombol “activation key” pada bagian kanan tampilan air flap, ditentukan rotasi udara yang diperlukan dengan cara memutar kenop turn kontrol ke kanan dan ke kiri untuk mengatur rotasi udara gas di dalam tungku, setelah mencapai pengaturan rotasi yang diinginkan ditekan tombol turn kontrol agar pengaturan tersimpan.

6) Diatur waktu dengan menekan “activation key” pada bagian kiri tampilan Timer, kemudian ditentukan waktu yang diinginkan untuk pengeraman/ inkubasi.

Diputar kenop turn kontrol ke kanan jika ingin menambahkan dan ke kiri jika ingi mengurangi waktu

Gambar

Gambar 2.1 Neraca Analitis (Yusnia, 2022)   Komponen neraca analitik terdiri atas:
Gambar 2.1 Sterilisasi kering menggunakan oven laboratorium  (Wulandari et al., 2022)
Gambar 4.1 Water Bath (Nuha ABA, 2022)
Gambar 4.2 Incubator (Widodo, 2016)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan penggunaan laboratorium matematika sebagai sumber belajar mahasiswa di Jurusan Pendidikan Matematika IAIN

Mahasiswa mengerti konsep sistem instrumentasi cerdas dengan berdasar pada teknologi.. soft computing : fuzzy logic dan

Uji keterbacaan buku ajar dalam penelitian ini dilakukan dengan tahapan antara lain: (1) membagikan draf buku ajar matematika dasar untuk fisika kepada mahasiswa

Penelitian ini berhasil membangun sebuah aplikasi yang dapat digunakan untuk melakukan instrumentasi secara otomatis, membangkitkan CFG, menghitung cyclomatic

Mata kuliah ini menjelaskan mengenai konsep dasar sistem instrumentasi elektronik, definisi istilah, dan teknik perancangan rangkaian pengkondisi sinyal. Dengan menggabungkan

Fungsi dan prinsip kerja dari masing-masing alat laboratorium sangat penting untuk diketahui agar hasil yang didapatkan dapat maksimal.. Alat-alat dalam laboratorium memiliki

materisebelum mengikuti praktikum laboratorium anatomi.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara persepsi mahasiswa tentang kegiatan