BAB IV PAPARAN DATA DAN HASIL PENELITIAN
A. Paparan Data
3. Pelaksanaan Kewirausahaan di SMK NU
dengan yang lainnya. Hubungan kerjasama yang harmonis diperoleh apabila keterkaitan kerja unit-unit kerja dan kesadaran akan kebersamaan yang dapat menumbuhkan sikap perilaku saling bahu membahu dapat dikembangkan.
c) Dorongan (motivating)
Sedangkan dorongan atau motivasi kerja diperlukan untuk meningkatkan semangat kerja. Kemampuan dan keterampilan kerja yang tinggi tidak dengan sendirinya menghasilkan produktivitas yang tinggi. Kemampuan tersebut perlu disertai dengan kemauan atau semangat kerja yang tinggi, sehingga keaktifan kerja para pelaksana berkembang . mereka tidak hanya bekerja bila ada perintah saja tetapi mereka berupaya semaksimal mungkin memanfaatkan kemampuan dan keterampilannya.
Berdasarkan teori dalam manajemen pendidikan, ada beberapa teknik yang bisa digunakan oleh kepala sekolah dalam memotivasi bawahnnya, diantaranya yakni: pertama, kepala sekolah harus mampu memberikan dorongan positif kepada bawahan. Kedua, kepala sekolah harus mampu menciptakan perubahan yang kuat. Ketiga, kepala sekolah harus mampu membangun harga diri bawahan. Keempat, kepala sekolah harus mampu membangkitkan orang lemah
menjadi kuat, dan kelima, kepala sekolah harus mendorong bawahan agar menghindari sikap menunda-nunda.51
d) Memimpin (leading)
Memimpin berarti menggerakkan orang lain agar dapat melaksanakan fungsi dan tugasnya. Oleh karena itu kepala sekolah harus dapat menerapkan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan perkembangan atau situasi dan kondisi.
4) Pengendalian
Pengendalian adalah proses untuk mengukur dan menilai pelaksanaan tugas apakah telah sesuai dengan rencana. Jika dalam prosesnya tersebut terdapat penyimpangan, maka akan segera dikendalikan sesuai dengan rencana yang disusun.
Dengan adanya pengendalian diharapkan agar tujuan dapat dicapai dengan target yang telah ditetapkan.
Veerabhadrappa Havinal berpendapat ada beberapa hal yang perlu dilakukan dalam kegiatan pengendalian, yakni:52
a) Establishment of standards :
The first step in control process is the setting up of standards of performance. A standard acts as a reference line or a basis of actual performance.
Standards should be set precisely and in quantitative terms.
b) Measuring and comparing actual performance with standards :
51Husnaini Usman, Manajemen Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan, (Jakarta Timur: PT Bumi Aksara, 2011), 70.
52Veerabhadrappa Havinal, Manajement and Entrepreneurship, … 88-89.
The second step in the control process is measuring the actual performance of individuals, group or units and comparing it with the standards.
c) Taking corrective action :
The final step in the control process is taking corrective action so that deviations may not occur again and the objectives of the organization are achieved. This will involve taking certain decisions by the management like re- planning or redrawing of goals or standards, reassignment or classification of duties.
Berdasarkan kutipan diatas, ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam tahap pengendalian, yakni:53
a) Pembentukan standar
Langkah pertama dalam proses pengendalian adalah menentukan standar kinerja. Standar kinerja ini merupakan haluan dan acuan dalam pelaksanaan organisasi.
b) Mengukur kinerja
Langkah kedua dalam pengendalian yakni mengukur sejauh mana pekerjaan telah dilaksanakan. Apakah sudah berjalan sebagaimana mestinya dan memenuhi standar, ataukah tidak.
c) Mengambil tindakan korektif
Langkah terakhir dalam pengendalian yakni adalah mengambil tindakan korektif sehingga penyimpangan tidak terjadi lagi dan tujuan organisasi tercapai. Langkah terakhir ini dilakukan dengan cara mengatur ulang manajemen seperti
53Veerabhadrappa Havinal, Manajement and Entrepreneurship, … 88-89.
perencanaan ulang, menentukan ulang standar dan tujuan, serta penugasan kembali kepada masing-masing anggota organisasi.
Sudah sewajarnya apabila kewirausahaan menjadi urusan setiap para pengelola pendidikan. Lebih-lebih dalam menghadapi kondisi krisi kehidupan bangsa yang berkepanjangan, kewirausahaan menjadi kebutuhan mendesak untuk segera melingkup kehidupan kerja kepala sekolah sebagai top leader dalam sebuah lembaga pendidikan. Beberapa kondisi berikut memperkuat kebutuhan manajemen kewirausahaan di sekolah: 54
1. Saat ini semakin tumbuh dan berkembang pesaing-pesaing Sekolah, terutama Sekolah yang telah memiliki beberapa keunggulan, antara lain sistem pendidikan (kurikulum) yang terpadu, suasana pendidikan yang informal, sistem belajar sehari penuh (full day school) dan menyenangkan, pola evaluasi dilengkapi dengan porto-folio, profesionalitas guru yang handal, sarana dan prasarana dan fasilitas pendidikan yang mencukupi.
2. Ketidakpercayaan atas metode tradisional dalam manajemen organisasi dan proses pendidikan yang dianggap masih amat typical. Di samping sistem pendidikan yang masih birokratik, profesionalisasi manajemen yang dilakukan kepala sekolah saat ini masih belum memadai. Osborne dan Gaebler menyarankan untuk mewirausahakan birokrasi, yakni dengan mentrasformasikan semangat kewirausahaan ke dalam sector public, yang diantaranya ke dalam lembaga pendidikan. Proses pendidikan yang berlangsung di sekolah saat ini kebanyakan masih monoton dan kurang bervariasi. Guru-gurunya belum memiliki agenda inovasi yang memadai. Sekalipun agenda inovasi itu telah mereka miliki, tidak sedikit mereka menemui berbagai hambatan dan kesulitan dalam melaksanakannya.
54Tim Penulis, Manajemen Pendidikan, …. 353.
3. Terdapat diantara guru-guru atau pegawai yang pintar dan memiliki ide-ide brilian, lebih suka memilih menjadi seorang wirausaha. Banyak diantara mereka yang keluar dari statusnya sebagai seorang guru untuk beralih menjadi seorang wirausaha. Ataupun, sekalipun statusnya tetap sebagai seorang guru ataupun pegawai negeri, sering pekerjaan pokoknya terabaikan karena kewirausahaannya itu. Maka agar persoalan tersebut dapat dikurangi, alangkah baiknya agar peran perorangan dalam bisnis mereka itu diimbangi dengan dikembangkannya program entrepreneurship dalam institusi pendidikan.
Kampus ataupun sekolah merupakan terminal utama generasi muda terdidik untuk masuk menjadi tenaga kerja terdidik. Sekolah menjadi gerbang sebelum memasuki dunia kerja. Perguruan tinggi ataupun sekolah merupakan tempat terakhir penggemblengan entrepreneur. Untuk memastikan lulusannya menjadi warga negara yang mampu mengembangkan diri secara mandiri.55
Noels dalam Edward Edgar mengatakan “…The students in the sample had all taken an entrepreneurship education programme and were graduates in entrepreneurship, management or another discipline. Noel’s findings at least partially confirmed the assumption that the entrepreneurship graduates were more likely to launch businesses and had a higher level of intention and a more developed perception of self-efficacy than students in the other two group.”56
Dalam kutipan diatas Noels yang merupakan pakar kewirausahaan turut memberikan argumennya tentang betapa pentingnya kegiatan kewirausahaan diberikan kepada siswa.
Seorang siswa yang telah mendapatkan pendidikan kewirausahaan disekolah, lebih memungkinkan untuk menjadi seorang pribadi
55Kaswan dan Ade Sadikin Akhyadi, Social Entrepreneurship, (Bandung: Alfabeta, 2015), 5.
56Alain Fayolle and Heinz Klandt, International Entrepreneurship Education : Issues and Newness, (United Kingdom: Eward Edgar Publishing, 2006), 78.
yang mandiri, memiliki niat dan kemauan untuk lebih maju dalam memulai bisnis secara mandiri.
Maka dengan mempertimbangkan kondisi-kondisi yang ada tersebut sudah sewajarnya apabila lembaga pendidikan di Indonesia mengoptimalisasikan misi pendidikannya yakni harus dapat menciptakan sebuah pendidikan entrepreneurship yang dapat membangun manusia-manusia masa depan yang mampu mengubah kotoran dan rongsokan menjadi emas.
Implementasi manajemen kewirausahaan disekolah bertujuan untuk membentuk manusia secara utuh (holistic), sebagai insan yang memiliki karakter, pemahaman dan keterampilan sebagai wirausaha. Pada dasaranya, pendidikan kewirausahaan dapat di imlementasikan secara terpadu dengan kegiatan-kegiatan pendidikan disekolah.
Kagiatan kewirausahaan disekolah dapat dilakukan dengan berbagai cara, yakni pendidikan kewirausahaan yang merupakan bagian dalam kurikulum intra sekolah, yang biasanya diberikan dalam bidang studi kewirausahaan. Dalam pelaksanaan kewirausahaan dalam kurikulum intra ini, pendidikannya tidak hanya menekankan kepada aspek teori saja. Namun siswa juga diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk mempraktekkan kegiatan kewirausahaan secara utuh.
Selain diimplementasikan dalam kurikulum intra sekolah, kegiatan kewirausahaan siswa juga dapat dilaksananakan dalam kegiatan pengembangan diri melalui program ekstra kurikuler.
Pengenbangan diri merupakan kegiatan pendidikan diluar mata pelajaran sebagai bagian integral dari kurikulum sekolah. Kegiatan pengembagan diri merupakan upaya pembentukan karakter wirausaha dan kepribadian peserta didik yang dilakukan untuk mengembangkan bakat, minat, kreativitas, kompetensi, dan kebiasaan dalam kehidupan, kemampuan kehidupan social, perencanaan karir, kemampuan pemecahan masalah, dan kemandirian.
Pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan terprogram dan tidak terprogram. Kegiatan terprogram direncanakan secara khusus dan diikuti oleh peserta didik sesuai kebutuhan dan kondisi pribadinya. Kegiatan tidak terprogram dilaksanakan secara langsung oleh pendidik dan tenaga kependidikan yang diikuti oleh semua peserta didik. Dalam program pengembangan diri, perencanaan dan pelaksanaan pendidikan kewirausahaan dapat dilakukan melalui pengintegrasian kedalam kegiatan sehari-hari sekolah misalnya kegiatan business day (bazaar, karya peserta didik), dan lain-lain.
Hal penting yang patut dipahami para kepala sekolah dalam praktik manajemen kewirausahaan di sekolahnya adalah tuntutan
untuk mengubah pola manajemen konvensional menjadi pola manajemen entrepreneurial.
Ada beberapa cara yang dapat diambil oleh kepala sekolah dalam mewujudkan hal tersebut, yakni:
Tabel 1.1
Perubahan Pola Manajemen Konvensional Menuju Pola Manajemen Entrepreneurial57
Manajemen Konvensional Manajemen Entrepreneurial
Sentralistik Desentralistik
Pendekatan birokratik Pendekatan professional Keputusan terpusat Keputusan partisipatif
Pendelegasian Pemberdayaan
Organisasi hierarkis Organisasi dasar
Subordinasi Otonomi
Orientasi pada aparat Orientasi kastemer/pelanggan
Ruang gerak kaku Ruang gerak luwes
Diatur Motivasi diri
Overregulasi Deregulasi
Mengontrol Mempengaruhi
Digerakkan aturan Digerakkan visi/misi
Peran fasilitator Peran katalisator
Informasi terpribadi Informasi terbagi Individual yang cerdas Teamwork yang cerdas
Menghindari resiko Mengendalikan resiko Menggunakan uang:
Semuanya dan belanja Efisiensi dan investasi
Melalui tabel diatas, kepala sekolah hendaklah dapat mengidentifikasi pola-pola manajemen yang biasanya ditaklukkan.
Jika memang dalam beberapa hal kepala sekolah itu masih menunjukkan pola-pola manajemen konvensional, hendaknya ia dapat mengubahnya (melatih diri) menjadi pola-pola manajemen yang bersifat entrepreneurial.
57Tim Penulis, Manajemen Pendidikan, 357.
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode merupakan hal yang sangat krusial dalam aktivitas penelitian, karena dengan metode yang baik dan sesuai, akan dapat mencapai tujuan penelitian yang ideal, dengan metode pula peneliti dapat menggunakan aturan- aturan baku (sistem dan metode) dari masing-masing disiplin ilmu yang digunakan.
Dari uraian di atas jelaslah bahwa dalam suatu penelitian metode dan prosedur merupakan suatu cara untuk melakukan sebuah penelitian ilmiah dengan tujuan yang telah ditetapkan. Di samping itu metode juga merupakan sarana untuk menganalisa hasil penelitian. Sebab keberhasilan suatu penelitian tergantung pada tehnik pengumpulan data yang dipakai dalam penelitian. Terdapat beberapa hal yang perlu dijelaskan dalam kaitannya dengan metodologi yang akan digunakan dalam penelitian. Beberapa hal tersebut antara lain:
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif digunakan sebagai prosedur mengidentifikasi dan mendeskripsikan fenomena-fenomena yang terjadi pada latar yang bersifat alamiah. Bogdan dan Taylor menjelaskan bahwa pendekatan kualitatif merupakan suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif yaitu berupa tulisan atau perkataan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.1
1Lexy Meleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Karya, 2008), 4.
Penelitian ini berusaha mengungkapkan secara mendalam dan alamiah terhadap fenomena yang terjadi pada latar penelitian secara induktif untuk menemukan makna dan arti. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif descriptive, dimana manusia adalah sebagai sumber data utama dan hasil penelitiannya merupakan kalimat-kalimat atau pernyataan yang sesuai dengan keadaan sebenarnya (alami).
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian studi kasus. Yang mana peneliti bermaksud ingin mengungkap secara mendalam tentang implementasi manajemen manajemen kewirausahaan di SMK Nahdatul Ulama.
B. Lokasi Penelitian
Lokasi merupakan tempat dilaksanakannya penelitian. Dalam hal ini peneliti memiliki SMK Nahdatul Ulama di Kabupaten Bondowoso dengan pertimbangan:
1. SMK Nahdatul Ulama merupakan salah satu lembaga pendidikan di Kabupaten Bondowoso yang masih terhitung baru, namun lembaga ini sudah mampu bersaing dengan lembaga-lembaga lain yang ada di Bondowoso, khususnya dalam bidang kewirausahaanya.
2. SMK Nahdatul Ulama sudah mengimplementasikan manajemen kewirausahaan dengan berbagai macam program yang sudah ada, berupaya untuk menanamkan dan mengembangkan jiwa kewirausahaan siswa.
Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrument utama (kunci). Sedangkan instrument selain manusia dapat pula digunakan, tapi fungsinya hanya sebagai pendukung dan pembantu penelitian. Sebagai instrument penelitian, seorang peneliti harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut: 1) responsif, dapat menyesuaikan diri, menekankan keutuhan, mendasarkan diri atas perluasan pengetahuan, memproses data dengan cepat, dapat memanfaatkan kesempatan untuk mengklarifikasi serta biasa memanfaatkan kesempatan untuk mencari respon, 2) kualitas yang diharapkan, 3) peningkatan kemampuan peneliti sebagai instrument kunci.2
Kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif cukup signifikan. Dia sebagai perencana, pelaksana pengumpul data, analisis, penafsir data, dan pada akhirnya dia menjadi pelapor hasil penelitian. Oleh karena itu, agar dia dapat melakukan peran semua itu secara maksimal dan tidak mendapat hambatan, dia harus menginformasikan kehadirannya di lapangan kepada subyek penelitian. Apakah dia hadir secara terang-terangan menginformasikan perannya sebagai peneliti atau secara sembunyi- sembunyi.3
Sebagai penelitian yang ilmiah dan objektif, peneliti harus sedapat mungkin menghindari subjektifitas dan memperhatikan fakta-fakta yang ada dan menjaga terjadinya penyimpangan antara data dan kesimpulan penelitian,
2Lexy Meleong, Metode Penelitian Kualitatif, …. 121-124.
3Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Program Pascasarjana, (Jember: STAIN Jember), 19.
karena penelitian ini bersifat ilmiah tanpa ada usaha utuk merugikan, merendahkan salah satu pihak.
D. Subjek penelitian
Teknik sampling adalah merupakan teknik pengambilan sampel.
Dalam penelitian kualitatif, teknik sampling yang sering digunakan adalah purposive sampling dan snowball sampling. Dalam penelitian ini penentuan subjek penelitian menggunakan teknik purposive sampling yaitu, pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan bahwa orang tersebut dianggap paling tahu tentang objek/situasi sosial yang akan diteliti.
Dalam penelitian ini informan yang dipilih adalah
a. Kepala SMK Nahdatul Ulama Kabupaten Bondowoso, yakni Daris Wibisono Setiawan, S.S., M.Pd
b. Manajer Unit Produksi Aswaja, yakni Ibu Wiwin Junaidah, S.Pi c. Wakil Kepala bagian kurikulum, yakni Bapak Muhammad Susanto.
Dalam penelitian kualitatif ini peneliti hadir langsung ke lokasi penelitian yaitu sekolah-sekolah yang telah ditetapkan dalam penelitian ini, dan bertemu dengan informan dan kehadirannya diketahui statusnya sebagai peneliti oleh informan karena membawa surat pengantar dari instansi yang berwenang. Walaupun demikian peneliti menempatkan diri sebagai pihak luar yang bertindak meneliti sendiri sehingga melakukannya dengan hati-hati, selektif dan sungguh-sungguh dalam menjaring data sesuai kondisi lapangan.
Adapun peran peneliti adalah sebagai partisipasi pasif yaitu peneliti hadir di lokasi penelitian tetapi tidak ikut terlibat dalam kegiatan.4
E. Sumber data
Lofland mengemukakan bahwa dalam penelitian kualitatif, sumber data utamanya adalah berupa kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamati, atau yang diwawancarai dan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. 5
Sumber data dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua yaitu, manusia dan non manusia. Sumber data manusia berfungsi sebagai subjek atau informan kunci (key informants). Sedangkan sumber data non manusia berupa dokumen yang relevan dengan fokus penelitian, seperti gambar, foto, catatan rapat atau tulisan yang ada kaitannya dengan fokus penelitian. Data yang dihimpun dalam penelitian ini tentunya data yang berhubungan dengan fokus masalah, yaitu data-data yang terkait dengan implementasi manajemen kewirausahaan siswa mulai dari perencanaan, pengorganisasian, upaya yang dilakukan sekolah hingga tahap evaluasinya.
Data tersebut berupa data tertulis yaitu data/berkas manajemen kewirausahaan, data tertulis dari hasil Wawancara dengan informan. Data lain adalah yang didapatkan dari hasil pengamatan atau hasil observasi yang dilakukan peneliti secara langsung pada subjek penelitian, serta dokumentasi foto kegiatan penelitian.
4Lexy Meleong, Metode Penelitian Kualitatif, …. 174.
5Lexy Meleong, Metode Penelitian Kualitatif, …. 157.
Adapun teknik pengumpulan data yang diperoleh dari beberapa subjek penelitian sebagaimana yang tersebut di atas sebagai berikut:
1. Observasi
Observasi adalah pengamatan langsung secara sistematis terhadap gejala dan fenomena yang diselidiki. Dalam pelaksanaan penelitian ini menggunakan pengamatan terbuka diketahui oleh subjek, begitu juga sebaliknya para subjek dengan sukarela memberikan kesempatan kepada peneliti untuk mengamati peristiwa yang terjadi dan mereka menyadari bahwa ada orang yang mengamati hal yang dilakukan mereka. 6Atau disebut dengan observasi terus terang. Peneliti dalam melakukan pengumpulan data menyatakan terus terang kepada subjek penelitian, bahwa ia sedang melakukan penelitian.7
Melalui metode observasi data yang diperoleh sebagai berikut:
a. Pada tanggal 30 Januari 2016 peneliti melakukan observasi tentang praktik kewirausahaan kelas APXA di SMK Nahdlatul Ulama, yang meliputi kegiatan produksi dan pemasaran.
b. Pada tanggal 6 Februari 2016 peneliti melakukan observasi tentang praktik kewirausahaan kelas APXA di SMK Nahdlatul Ulama, yang meliputi kegiatan produksi dan pemasaran.
6Lexy Meleong, Metode Penelitian Kualitatif, …. 176.
7Sugiono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung : Alfabeta, 2012), 66.
c. Pada tanggal 6 Februari 2016 peneliti melakukan observasi tentang sarana dan prasarana penunjang pelaksanaan kewirausahaan di SMK Nahdlatul Ulama.
2. Wawancara/ interview
Wawancara merupakan teknik utama dalam metodologi kualitatif. Melalui teknik ini banyak data yang berhasil diperoleh dari informan sehubungan dengan pertanyaan-pertanyaan pada fokus penelitian. Teknik wawancara (interview) yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara tidak terstruktur ( structure interview).
Jenis wawancara ini termasuk dalam kategori in-depth interview, dimana pelaksanaannya lebih bebas, terbuka dan pihak yang diajak wawancara dimintai sebuah pendapat serta ide-idenya. 8
Melalui wawancara data yang diperoleh adalah data utama untuk mengetahui bagaimana implementasi manajemen kewirausahaan di SMK Nahdlatul Ulama Kabupaten Bondowoso. Adapun pihak yang peneliti wawancarai, sebagai berikut:
a. Melakukan wawancara dengan bapak Daris Wibisono, S.S., M.Pd selaku kepala SMK Nahdlatul Ulama pada tanggal 20 Januari 2016.
Data yang peneliti kumpulkan yakni:
1) Proses perencanaan kewirausahaan di SMK Nahdlatul Ulama
8Sugiono, Memahami Penelitian Kualitatif, …. 73.
2) Pengorganisasian ke wirausahaan di SMK Nahdlatul Ulama yang meliputi proses pembentukan struktur organisasi dan proses pembagian tugas kepada masing-masing personel
3) Pelaksanaan kewirausahaan di SMK Nahdlatul Ulama, yang meliputi segala proses yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam menggerakkan seluruh personil
4) Pengawasan kewirausahaan di SMK Nahdlatul Ulama, yang meliputi standar pengawasan dan kesenjangan yang ditemui dalam pelaksanaan manajemen kewirausahaan.
b. Melakukan wawancara dengan ibu Wiwin Junaidah selaku Manager Unit Produksi Aswaja pada tanggal 2 Februari 2016. Data yang peneliti kumpulkan yakni:
1) Tujuan dari diterapkannya manajemen kewirausahaan di SMK Nahdlatul Ulama
2) Jenis-jenis program kewirausahaan dan proses kegiatannya 3) Sarana-sarana penunjang manajemen kewirausahaan di SMK
Nahdlatul Ulama
4) Proses kejasama dengan pihak eksternal
c. Melakukan wawancara dengan bapak Muhammad Susanto selaku Waka Kurikulum SMK Nahdlatul Ulama pada tanggal 28 Januari 2016. Data yang peneliti kumpulkan yakni:
1) Hal-hal yang menjadi pertimbangan dalam menentukan jenis program kewirausahaan
2) Jenis-jenis program kewirausahaan dan proses kegiatannya 3) Sarana-sarana penunjang manajemen kewirausahaan di SMK
Nahdlatul Ulama.
3. Dokumentasi
Dokumentasi adalah setiap pernyataan tertulis yang disusun oleh seseorang atau lembaga untuk keperluan pengujian suatu peristiwa atau menyajikan akunting.9 Metode ini digunakan untuk mempelajari berbagai sumber dokumentasi, terutama yang berada di lingkungan obyek penelitian, yaitu SMK Nahdatul Ualama’, dalam hubungannya dengan manajemen Kewirausahaan. Dokumen yang dijadikan bahan kajian antara lain dokumen tentang semua program kegiatan manajemen kewirausahaan di SMK NU.
Metode dokumentasi ini merupakan kegiatan pengumpulan data yang berupa foto-foto, buku-buku, jurnal, dan sebagainya yang diperoleh saat wawancara maupun observasi dilakukan. Adapun beberapa dokumentasi terkait manajemen kewirauhsaan di SMK Nahdlatul Ulama, yakni:
a. Dokumentasi fasilitas penunjang kewirausahaan SMK Nahdlatul Ulama
b. Dokumentasi struktur organisasi kewirausahaan SMK Nahdlatul Ulama
9Lexy Meleong, Metode Penelitian Kualitatif, …. 216.
c. Dokumentasi uraian tugas pokok dan fungsi organisasi kewiwrausahaan SMK Nahdlatul Ulama
d. Dokumentasi program kerja unit produksi Aswaja
e. Dokumentasi perjanjian kerjasama kewirausahaan dengan pihak eksternal
intisari rekam yang kemudian diproses melalui perencanaan, pengetikan atau pengaturan kembali. Yakni dengan menggunakan tiga langkah:11
1. Reduksi Data
Mereduksi data berarti merangkum memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya.
Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya.12
Dapat di artikan bahwa reduksi data merupakan proses analisis untuk menggolongkan, mengarahkan, mengorganisasikan data, memilah data yang di anggap perlu dan relevan, memfokuskan pada informasi yang penting dan membuang data yang di anggap tidak penting, sehingga kesimpulan akhir dapat di rumuskan, menyeleksi data secara ketat, membuat ringkasan dan rangkuman inti, ini semua merupakan kegiatan dari reduksi data. Dengan demikian reduksi data ini akan berlangsung secara terus menerus selama penelitian berlangsung.
Pada penelitian yang kami laksanakan, data mengenai implementasi manajemen kewirausahaan di SMK Nahdlatul Ulama yang diperoleh dari wawancara, observasi dan dokumentasi masih bersifat komplek, sehingga perlu dipilih data-data yang penting dan membuang data-data yang tidak perlu.
12 Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif , 247.
Data yang diperoleh dari hasil wawancara yakni:
a. Perencanaan kewirausahaan di SMK Nahdlatul Ulama Kabupaten Bondowoso Tahun 2015/2016, yang meliputi:
1) Analisis kebutuhan kewiraushaan di SMK Nahdlatul Ulama 2) Rencana jenis program kewirausahaan
3) Proses identifikasi pengerahan sumber daya yang ada 4) Rencana kerjasama dengan pihak eksternal
5) Indikator keberhasilan kewirausahaan di SMK Nahdlatul Ulama b. Pengorganisasian kewirausahaan di SMK Nahdlatul Ulama
Kabupaten Bondowoso Tahun 2015/2016.
1) Struktur organisasi manajemen kewirausahaan 2) Pembagian tugas masing-masing personil
c. Pelaksanaan kewirausahaan di SMK Nahdlatul Ulama Kabupaten Bondowoso Tahun 2015/2016.
1) Menjalin komunikasi dan kerjasama antar personil tim 2) Strategi untuk memberikan motivasi kepada personil 3) Negosiasi dengan pihak eksternal
d. Pengendalian kewirausahaan di SMK Nahdlatul Ulama Kabupaten Bondowoso Tahun 2015/2016.
1) Standar pengawasan kegiatan kewirausahaan di SMK Nahdlatul Ulama Kabupaten Bondowoso
2) Kesenjangan antara standar yang telah di tetapkan dengan realita di lapangan.