• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelaporan

Dalam dokumen 1. Buku Analisis Masalah Kemiskinan (Halaman 90-94)

RESPONS MASYARAKAT TERHADAP MEKANISME

B. Optimalisasi Peran Pelaksana Program BPNT

6. Pelaporan

Pelaporan pelaksanaan program BPNT ditujukan kepada Menteri Koordinator yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pembangunan manusia dan kebudayaan, menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang dalam negeri dan Tim Koordinasi Bantuan Sosial Pangan Pusat (Ditjen Penanganan Fakir Miskin Kementerian Sosial RI, 2019). Pelaporan pelaksanaan BPNT, biasanya terkait ketidaksesuaian program yang dibuat oleh pemerintah dan kebutuhan yang diperlukan oleh masyarakat, kurang terkoordinirnya bantuan sosial baik yang dilakukan perseorangan maupun kelompok masyarakat peduli dan lain sebagainya, sehingga penumpukan bantuan sosial. Sedangkan di lain pihak, masih banyak yang belum mendapatkan bantuan. Untuk mengatasi hambatan seperti di atas, maka diperlukan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) sebagai koordinator/manajer pelaksana kegiatan kesejahteraan sosial sekaligus pelaksana lapangan di tingkat Kecamatan, untuk membantu camat dalam melaksanakan kesejahteraan sosial di Kecamatan (PMK, 2020).

Kemitraan antara pemerintah dan masyarakat dalam usaha kesejahteraan sosial sudah terjalin sejak lama, baik secara perorangan maupun kelompok/kelembagaan yang peduli dalam usaha kesejahteraan sosial. Namun dari banyaknya tugas yang diemban oleh para pendamping TKSK ini, sering kali dalam menjalankan peran di lapangan terdapat perbedaan dan tumpang-tindih nomenklatur sehingga mengakibatkan peran yang dilakukan oleh masing-masing menjadi tumpang-tindih dan kurang jelas perbedaannya.

Studi yang dilakukan penulis menemukan bahwa dinas sosial tidak ada rencana yang ditetapkan untuk mengawasi proses penyaluran BPNT karena semua hanya tergantung pada laporan yang dirangkum oleh pendamping sosial. Sebagaimana yang disampaikan oleh informan mengenai mekanisme pelaporan ke Dinas Sosial.

“Mekanisme laporan yang dibuat oleh pendamping, kami merangkum seluruh laporan dari anggota KPM yang berada di Kelurahan kemudian diselidiki di tempat kejadian perkara apakah laporan dari anggota KPM benar adanya, selanjutnya laporan tersebut kami rangkum dan kami serahkan ke dinas untuk diselidiki dan ditindak lanjuti,” (Wawancara dengan Kepala Suku Dinas Sosial Kota Administrasi Jakarta Timur, 25 April 2022).

Penulis juga menanyakan mengenai keluhan yang sering terdengar dari KPM.

“Mengenai hal tersebut, kami belum memiliki bukti yang kuat apakah laporan dari KPM itu benar adanya, namun kami akan tetap menyelidiki apakah laporan dari KPM itu benar dialami dan kami akan memaksimalkan pengawasan, serta pendampingan pada saat penyaluran, sehingga tidak terjadi penyimpangan dalam pemanfaatan dana bantuan ini” (Wawancara dengan Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat Kelurahan Cawang, Jakarta Timur, 1 Maret 2022).

Dari wawancara di atas, penulis menyimpulkan bahwa jika ditinjau dari sudut pandang penerapan rencana, maka terlihat jelas bahwa dinas sosial tidak sepenuhnya siap dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya terutama sebagai sebuah organisasi. Hal ini, terbukti dengan tidak adanya rencana yang ditetapkan oleh dinas sosial itu sendiri.

Prinsip kerja dari dinas sosial dalam pengawasan penyaluran BPNT bertumpu pada pemerintah pusat dan pemerintah provinsi.

Selain itu, jarangnya dinas sosial untuk turun langsung ke lapangan dan memantau kegiatan pada saat proses penyaluran dikarenakan tidak adanya anggaran yang diperuntukan dalam kegiatan turun lapangan, jadi hanya mengandalkan pendamping sosial untuk membuat laporan selama proses penyaluran di setiap bulannya. Namun terkadang, jika dari dinas sosial kebetulan berada di tempat pada saat penyaluran, maka dari dinas sosial juga melakukan pemantauan untuk pelaporan.

Sedangkan hal tersebut, belum bisa menjawab keluhan dari masyarakat tentang ketidaktepatan jumlah sembako yang diterima oleh KPM.

Dari hasil studi yang penulis lakukan di dinas sosial, menyatakan bahwa peran dari dinas sosial kurang signifikan karena tidak ada rencana

yang telah ditetapkan untuk mengawasi penyaluran BPNT. Semua mengandalkan pendamping sosial yang melaporkan kegiatan selama proses penyaluran. Dalam penyaluran BPNT ada pendamping sosial atau seseorang yang diberi tugas, fungsi dan kewenangan oleh Kementerian Sosial atau dinas sosial provinsi atau kabupaten/kota selama jangka waktu tertentu untuk melakukan pendampingan pelaksanaan program bantuan. Tugas pendamping sosial ini, nantinya akan diawasi pada saat proses penyaluran terutama pada agen penyalur BPNT, mengingat banyaknya keluhan dari KPM pada saat penyaluran jumlah sembako yang diterima tidak sesuai dengan yang ditetapkan pemerintah. Tugas pendamping sosial saat pemanfaatan, yaitu menampung pengaduan dari anggota KPM dan melaksanakan pelaporan ke dinas sosial, namun dari uraian tugas pendamping saat pemanfaatan tersebut, sesuai fakta yang terjadi di lapangan masih saja terdengar keluhan dari beberapa KPM bahwa bantuan yang diberikan tidak tepat jumlah. Pengawasan yang dilakukan oleh dinas sosial melalui pendamping sosial, tidak nampak jelas karena pada saat penyaluran beberapa KPM mengatakan bahwa dari pendamping sosial sangat jarang pula turun langsung untuk mengawasi proses penyaluran tersebut.

Dari Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Semester II Tahun 2021 disebutkan bahwa penetapan dan penyaluran Bansos program PKH, sembako/BPNT, dan Bantuan Sosial Tunai tidak sesuai ketentuan, sehingga merugikan negara hingga Rp6,93 triliun. Akibat penyaluran yang tidak sesuai ketentuan ini, maka yang menerima manfaat tak tepat sasaran. Sebab, ada beberapa Bansos yang diberikan kepada orang yang dilaporkan sudah meninggal. Secara rinci, kesalahan penyaluran Bansos yang merugikan negara adalah berikut: (1) Keluarga Penerima Manfaat PKH, Sembako/BPNT dan BST yang tidak ada di Data Terpadu Kesejahteraan Sosial Oktober 2020. Selain itu, tidak ada diusulan Pemda yang masuk melalui aplikasi Sistem Kesejahteraan Sosial-Next Generation (SIKS-NG); (2) KPM yang bermasalah di tahun 2020 namun masih ditetapkan sebagai penerima Bansos di tahun 2021; (3) KPM dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK) invalid; (4) KPM yang sudah dinonaktifkan; (5) KPM yang dilaporkan meninggal; dan (6) KPM Bansos ganda (Kemensos, 2021).

Berdasarkan hasil studi dan analisis data yang telah penulis lakukan di bab-bab sebelumnya, maka pada bab ini dapat ditarik kesimpulan dan rekomendasi, serta implikasinya. Studi ini, diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran atau masukan kepada Kemensos selaku pengelola bantuan sosial pangan untuk pengambilan kebijakan terkait penanganan masalah sosial dalam rangka mempercepat proses recoverey ekonomi masyarakat selama pandemi Covid-19. Studi ini juga memberikan kontribusi pada pengembangan literatur dan menjadi upaya rintisan guna menyelidiki faktor-faktor yang memengaruhi terhadap optimalisasi peran pelaksana program bantuan dengan menggunakan teori peran organisasi publik berkaitan dengan tugas dan fungsi, di mana dua hal itu tidak dapat dipisahkan dalam pelaksanaan pekerjaan.

Dalam dokumen 1. Buku Analisis Masalah Kemiskinan (Halaman 90-94)

Dokumen terkait