BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
D. Pembahasan
118
lebih intens di bandingkan sebelumnya.
119
(PISEW) guna mempercepat pembangunan ekonomi masyarakat dengan berbasis pada Sumber Daya Lokal untuk mengurangi kesenjangan antar wilayah, pengentasan kemiskinan, meningkatkan perbaikan terhadap pengelolaan Pemerintah Daerah, baik di Tingkat Kabupaten, Kecamatan, maupun Desa.
Hal tersebut terlihat dari pembangunan fisik desa yang mengalami kemajuan, seperti pembangunan jalan dan jembatan semi permanen.
Pembangunan ini sangat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat.
Berdasarkan hasil penggalian data dari informan, bahwa realisasi program PNPM PISEW di Desa Lasiai tergolong cepat dibandingkan dengan desa yang lainnya. Dimana program PNPM PISEW di rampungkan pada tahun 2009, sedangkan ke 12 desa lainnya rampung ditahun 2010.
Selain karena sumber daya manusia maupun alam yang mendukung pelaksanaan pembangunan infrastruktur juga karena adanya dukungan masyarakat yang ikut berperan aktif dalam pelaksanaannya. LSM yang menjadi pelaksana dan penanggung jawab dari pembangunan infrastruktur benar-benar memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk ikut berperan aktif dalam mengawasi pembangunan, dimana kondisi masyarakat yang sebagian besar selain berprofesi sebagai petani juga berprofesi sebagai pegawai juga ikut membantu pengawasan seperti ikut aktif dalam rapat planning maupun memberikan masukan berupa saran dan kritik selama proses pembangunan berlangsung.
120
Meskipun pengerjaan tergolong cepat namun kualitas fisik bangunan tidak memenuhi bestek bangunan, seperti yang terjadi pada pembuatan rabat beton dan talud yang seharusnya dapat bertahan selama minimal 5 tahun, sudah mengalami kerusakan dalam waktu 2 tahun, hal tersebut disebabkan komitmen LSM selaku pelaksana teknis kurang memperhatikan kualitas pembangunan.
2. Desa Biroro
Implementasi PNPM PISEW di Desa Biroro dengan 5 program yaitu pengerasan jalan, pembangunan rabat beton, pembuatan talud, pembangunan draniase dan pengadaan air bersih. Adapun dalam pelaksanaan kegiatan yang menjadi faktor penghambat pada saat kegiatan dilaksanakan adalah sumber daya alam yang jarak penyedia bahan baku dan lokasi pengerjaan cukup jauh, dimana jarak dari ibu kota adalah 13 Km dari desa biroro, sedangkan lokasi pengerjaan masih harus memasuki dusun biroro sehingga kegiatan harus dilakukan secara bertahap.
Kondisi sosial ekonomi juga ikut mempengaruhi pelaksanaan pembangunan infrastruktur pada desa Biroro , dimana masyarakat desa yang umumnya berprofesi sebagai petani kurang memusatkan perhatian untuk berpartisipasi terhadap pembangunan infrastruktur secara optimal. Hal ini didukung dengan stigma masyarakat bahwa program pembangunan adalah proyek pemerintah sehingga tanggungjawab pelaksanaan dibebankan pada LSM selaku pelaksana tehnis sekaligus penanggungjawab pembangunan.
121
Selain itu, karena keterbatasan sumber daya manusia yang mampu ikut berperan aktif atau terlibat baik dalam diskusi perencanaan usulan maupun memberikan masukan dan saran, membuat LSM musiman berkesempatan mengerjakan program PNPM PISEW. Munculnya LSM musiman tersebut ikut mempengaruhi kualitas pengerjaan. Selain belum berpengalaman dalam hal pembangunan, komitmen untuk memperhatikan kualitas dan mutu pengerjaan infrastruktur tidak begitu di utamakan apalagi tanpa pengawasan dari masyarakat setempat secara optimal.
3. Desa Bongki Lengkese
Realisasi usulan program yang masuk dalam perengkingan dengan 9 kegiatan yang diadakan di desa Bongki Lengkese seperti pembentukan jalan dan pengerjaan rabat beton. Pengerjaan pengembangan infrastruktur Desa Bongki Lengkese tidak jauh berbeda dengan Desa Biroro. Desa Bongki Lengkese juga mengalami kemajuan pada bidang fisik.
Jika di tinjau dari sumber daya manusia, masyarakat di Desa Bongki Lengkese sebenarnya banyak memiliki sumber daya manusia yang mampu mengelola dan menjalankan program pengembangan infrastruktur. Namun, selain sumber daya manusia, pembangunan infrastruktur juga dipengaruhi oleh komitmen pelaksana. Pada desa Bongki Lengkese terlihat, jumlah sumur bor tidak berimbang dengan jumlah masyarakat pengguna serta jumah dan kualitas air belum memadai sehingga masyarakat masih sulit memperoleh air bersih untuk
122
kebutuhan sehari-hari .disamping itu, bebapa dusun dengan sawah tadah hujan belum memperoleh pebangunan irigasi sehingga masih suit dikelolah oleh petani setempat.
Secara umum implementasi Program Nasional Pembrdayaan Masyarakat pembangunan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wiayah pada Kecamatan Sinjai Timur sudah sesuai dengan prosedur. Namun secara kualitas dalam hal jumlah maupun ketahanan fisik bangunan belum optimal. Berdasarkan observasi peneliti di Kecamatan Sinjai Timur dan didukung oleh beberapa informan yang terkait, maka peneliti memperoleh beberapa kendala seperti;
pertama, pembangunan infrastruktur secara kuantitas sudah terpenuhi sesuai dengan usulan namun untuk penggunaannya masih jauh dari harapan masyarakat. Dimana jumlah infrastruktur yang dibangun diratakan untuk setiap desa padahal luas wilayah setiap desa berbeda.
Seperti Desa Sanjai dan Desa Salohe, perbandingan luas wilayah antara 8,20 Km2 dan 3,22 Km2. Namun daftar usulan yang masuk perengkingan untuk Desa Sanjai 4 program dengan 9 kegiatan sementara Desa Salohe yang masuk dalam daftar usulan sebanyak 13 program dengan 15 kegiatan.
Jika ditinjau dari aspek luas wilayah tentunya desa Sanjai jauh lebih banyak membutuhkan pembangunan infrastruktur. Dimana akses jalan dan fasilitas pengembangan wilayah masih minim dibandingkan desa Salohe. Belum lagi jumlah penduduk, jika kuantitas fasilitas umum yang dibangun tidak berimbang antara jumlah fasilitas yang akan di
123
gunakan dengan masyarakat pengguna seperti pengadaan sumur bor.
Kedua, pengadaan infrastruktur masih ada yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Ada desa yang difasilitasi dengan pembangunan irigasi padahal sudah memiliki tanggul yang memudahkan pengairan sedangkan desa yang membutuhkan irigasi justru memperoleh pembangunan jalan serta jembatan.
Ketiga, secara kualitas pembangunan infrastruktur masih jauh dari perkiraan, dimana fasilitas infrastruktur yang seharusnya dapat digunakan selama 5 tahun, dalam jangka 3 tahun sudah mengalami kerusakan hal tersebut disebabkan karena pelaksanaan pembangunan tidak sesuai dengan bestek bangun, seperti yang terjadi di Desa Kaloling.
Kerusakan jalan sudah terlihat padahal akses jalan ke desa kaloling tergolong jarang digunakan karena berada di bagian paling belakang desa.
Keempat, komitmen pelaksana belum maksimal yang terlihat dalam pembangunan infrastruktur yang telah masuk dalam daftar perengkingan masyarakat di wilayah desa tersebut tidak sepenuhnya bekerja secara optimal, sehingga pembangunan tidak tepat lokasi.
Misalnya lokasi yang paling tepat dibangun posyandu yaitu lokasi yang mudah di akses masyarakat malah di bangun di wilayah bagian depan desa, sehingga masyarakat yang tidak memiliki kendaraan harus berjalan jauh. Dengan kata lain dibeberapa lokasi pembangunan infrastruktur pelaksana tidak memperhatikan kondisi wilayah.
Kelima, fasilitator kecamatan yang bertanggungjawab
124
mensurvey setiap usulan dari desa sebelum dirangking tidak melakukan observasi secara mendalam, seperti mengunjungi langsung desa maupun dusun, sehingga pada saat perengkingan, usulan yang seharusnya masuk dalam daftar prioritas justru berada pada perengkingan terbawah. Namun dari hasil pembangunan infrastruktur dan pengembangan wilayah PNPM PISEW juga banyak memberikan manfaat kepada masyarakat di Kecamatan Sinjai Timur.
Setiap pelaksanaan kegiatan pembangunan dipastikan ada kendala baik itu dari pelaksana, penanggung jawab program, maupun masyarakat. Pada pekerjaan Pembangunan yang direncanakan di desa terkadang dalam pelaksanaanya kekurangan dan ketidakcocokan dengan keinginan Masyarakat, sehingga mengalami permasalahan. Namun hal tersebut tidak berarti suatu pekerjaan tersebut terkendala. Permasalahan yang timbul biasanya adalah pada teknis pelaksanaannya.
Pelaksanaan semua anggaran yang telah tertuang dalam program PNPM PISEW sering kali mengalami hambatan. Banyak rencana yang dilaksanakan masih mengalami kekurangan pembiayaan- pembiayaan. Namun hal tersebut diselesaikan dengan baik walaupun dana yang dipergunakan kurang. Maka untuk mengatasinya menggunakan langkah-langkah pendekatan dengan berbagai pihak dalam masyarakat agar ditutupi dengan swadaya dan sharing sesama masyarakat untuk menemukan solusi yang saling menguntungkan.
Adapun peran dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah dirasakan banyak
125
memberikan manfaat berdasarkan hasil pemantauan atau survei dilapangan banyak memberikan manfaat diantaranya yaitu:
a. Jalan pergerasan/rabat beton.
b. Lebih Dapat Meningkatkan Pendapatan / Income Penduduk.
c. Lebih Mendesak dirasakan Kebutuhannya.
d. Lebih Banyak Menciptakan Peluang Kerja.
e. Lebih Sesuai Dengan Kegiatan Swadaya Masyarakat Desa.
f. Menambah Produksi pertanian
g. Meningkatkan dan merangsang peningkatan produksi hasil tambak.
h. Meningkatakan hasil produksi perkebunan dan mempermudah pengangkutan hasil guna dipasarkan.
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Pembangunan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah cukup banyak memberikan manfaat bagi masyarakat Sinjai Timur diantaranya adalah kemudahan bagi masyarakat yang disebabkan oleh infrastruktur desa yang semakin baik, seperti jalan yang dapat dilalui, memiliki gedung pelayanan dasar masyarakat seperti posyandu, ataupun sarana prasarana kantor desa dan sarana prasarana sosial dan umum.
Namun demikian pengerjaannya secara kualitas belum optimal.
Hal ini disebabkan kurangnya kesadaran dan komitmen pelaksana melaui pemanfaatan sumber daya yang ada dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.
126 BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian maka diperoleh kesimpulan bahwa implementasi pembangunan infrastruktur di Kecamatan Sinjai Timur yaitu:
1. Pembangunan sarana jalan di setiap desa di Kecamatan Sinjai Timur sangat membantu masyarakat, apalagi dibeberapa desa akses transportasi yang kurang layak karena kondisi jalan yang sulit untuk dilalui dan beberapa jalan antara desa hanya dapat ditempuh dengan beberapa kendaraan tertentu seperti motor, dikarenakan kondisi jalan yang kecil hanya berupa jalan setapak, berlumpur, dan berada pada tepi jurang yang dapat mengancam nyawa para pengguna jalannya. Namun kualitas jalan yang di bangun belum memenuhi standar, karena jalanan yang seharusnya bisa digunakan minimal 5 tahun, saat ini sudah mulai mengalami kerusakan seperti retak-retak di bagian bibir jalan dan mulai berlubang.
2. Beberapa desa di Kecamatan Sinjai Timur masih membutuhkan tambahan sumur bor dengan kualitas air yang lebih banyak dan layak konsumsi, saat ini jumlah sumur bor yang dibangun belum memenuhi kebutuhan masyarakat yang jumlahnya jauh lebih banyak.
Misalkan satu sumur bor digunakan oleh dua dusun dengan kadar air yang tidak berimbang dengan masyarakat pengguna.
127
3. Titik kelemahan dari pembangunan posyandu dibeberapa desa yaitu lokasi pembangunan yang kurang strategis dan dijangkau oleh beberapa warga yang bermukim jauh dari ibu kota desa, sehingga terkadang masyarakat yang terlambat tiba di pustu dan harus menunggu keesokan harinya. Namun meskipun demikian pembangunan posyandu sudah sangat membantu dalam pelayanan kesehatan masyarakat di desa ini. Bahkan, saat ini fungsi posyandu yang dibangun tidak semata-mata menjadi posyandu lagi, tetapi sudah meningkat menjadi Puskesmas Pembantu (Pustu). Berkat adanya posyandu ini, sudah ada bidan yang bersedia tinggal di desa, dan ini memudahkan pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya membantu untuk persalinan ibu hamil, bayi, dan balita.
4. Pembuatan drainase dinilai sangat membantu masyarakat dalam mengatasi banjir di musim penghujan. Apalagi wilayah Kecamatan Sinjai Timur terletak pada geografis yang rendah dibandingkan Kecamatan Sinjai Barat dan Kabupaten Bulukumba. Sehingga adanya drainase mengurangi kekhawatiran masyarakat setiap kali memasuki musim penghujan.
5. Pembuatan irigasi
Masyarakat di pedesaan sangat merasakan betul manfaat dibangunnya sarana irigasi ini. Hal ini dibuktikan dengan kondisi lahan pertanian disejumlah desa sebelum dibangunnya irigasi, terutama lahan pertanian warga berupa sawah tadah hujan yang
128
hanya bisa diolah 1 kali dalam setahun. Hadirnya bangunan irigasi telah menyediakan air yang cukup bagi lahan pertanian warga sepanjang tahun. Sehingga sawah dapat diolah 2 kali setahun.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis dapat memberikan saran yaitu:
1. Sebaiknya pembangunan fasilitas jalan lebih memperhatikan segi ketahanan fisik atau kualitas jalan, dimana akses jalan poros utama di Kecamatan Sinjai Timur digunakan oleh 13 desa, sehingga jika tidak terbangun sesuai standar pembangunan maka akan rusak sebelum waktunya.
2. Pembangunan sumur bor sebaiknya diperhitungkan berdasarkan jumlah masyarakat dan luas desa, serta memperhatikan kadar dan kualitas air karena sumur bor saat ini tidak berimbang dengan jumlah masyarakat pengguna.
3. Pembangunan posyandu sebaiknya dilakukan di lokasi-lokasi yang mudah dijangkau oleh masyarakat. Misalnya berada di tengah desa sehingga mudah dijangkau masyarakat yang bermukim jauh.
4. Pembangunan drainase/talud sebaiknya dibuat sedikit lebih tinggi dan luas karena Kecamatan Sinjai Timur teletak pada daerah yang lebih rendah di bandingkan dengan Kecamatan lainnya di Kabupaten Sinjai. Sehingga jika musim penghujan datang, wilayah Sinjai Timur memiliki potensi menjadi daerah genangan air.
129
5. Irigasi sebaiknya dibangun pada desa-desa yang lebih banyak sawah tadah hujan serta kualitas/ketahanan fisik bangunan dapat menjadi perhatian bagi pelaksana.
130
DAFTAR PUSTAKA
Agustiono, L. 2006. Dasar-Dasar Kebijakan Publik. Bandung. CV Alfabeta.
Becker, H. S. 1960. Notes on the Concept of the Commitment.In America Journal of Ociology. V66, pp 32-40
Ermaya. 2004. Kebijakan Fiscal Pemerintah Jurnal Ekonomi Volume 9, Nomor 1, April 2003: 44. Jakarta. Jurnal Ekonomi
Handoko, T. Hani. 2000. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia, Edisi Kedua. Yogyakarta. BPFE.
Haris, S. 2005. Desentralisasi dan Otonomi Daerah. Jakarta. LIPI PRESS.
Islamy, M.I. 2004. Prinsip-Prinsip Perumusan Kebijakan Negara. Ed.2.
Jakarta. PT. Bumi Aksara.
Kunarjo. 2002. Konsep Implementasi Manajemen Pembangunan Indonesia. Jakarta. PT. Gramedia.
Namawi, H dkk. 1996. Penelitian Terapan. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.
Nugroho, R. 2006. Kebijakan Publik untuk Negara – Negara Berkembang:
Model-Model Perumusan, Implementasi, dan Evaluasi. Jakarta.
PT. Elex Media Komputindo.
Solihin. Abd Wahab. 2001. Hubungan Antara Kebijakan Fiscal dengan Pertumbuhan EkonomiVol. 4, No.1, Maret 2002: 46 - 55. Jakarta.
Jurnal Makro Ekonomi.
Subarsono. 2008. Pembagian Pendekatan Pertumbuhan Ekonomi.
Pengantar Ekonomi Makro dan Mikro. Yogyakarta. BPFE.
Sugiyono. 2007. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung. CV Alfabeta Sumarnonugroho. 1991. Kesejahteraan Sosial. Yogyakarta. Hanindita
Graha Widya.
Ulum dkk, 2007. Model-Model Kesejahteraan Sosial Islam.Yogyakarta.
PMI-Dakwah UIN Sunan Kalijaga.
Usaman, H dkk. 2003. Metodologi Penelitian Sosial. jakarta. PT. Bumi Aksara.
131
Porter et al. 1974. Organizational Commitment, Job Satisfaction and turn over among Psychiatric Technicians. Journal of Applied Psychology, no. 59, pp. 603-609.
Wahab, S.A. 2005. Analisis Kebijaksanaan: Dari Formulasi ke Implementasi Kebijaksanaan Negara. Ed.2. Jakarta. Bumi Aksara.
Widarta. 2005. Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah. Bantul. Pondok Swaedukasi.
Peraturan perundangan:
Kepmen Nomor 25/Kep/25/kep/menko /kesra/vii/2007 tentang pedoman umumprogram nasional pemberdayaan masyarakat mandiri (pnpmmandiri)MENkokgjlkjgsgosgosg
Surat Penetapan Lokasi Kegiatan PNPM Mandiri Tahun 2008; Nomor B.177/MENKO/ KESRA/10/2007
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang kesejahteraan social Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Undang-Undang Nomor Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional
Undang-Undang Nomor Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
Sumber Internet
Bima. 2014. Pnpm-Pisew-Kabupaten-Bima-Serap-Dana-17-milyar.html.
(Diakses pada Tanggal 21 Maret 2014 pukul 13.00)
Cinderawati. 2013. PNPM Mandiri. www.pnpmmandiri.org/index.php.
(Diakses pada Tanggal 23 Maret 2014 pukul 10.00)
http://www.pnpm-pisew.org/ Percepatan Pnpm Pisew 2014. (Diakses pada Tanggal 23 Maret 2014 pukul 13.00)
132
http://pnpm-pisew.blogspot.com/2010/08/3. Mekanisme-Pelaksanaan- PNPM-PISEW.html. (Diakses pada Tanggal 23 Maret 2014 pukul 13.00)
Issuu. Bappeda. 2012. Forientasi dan Workshop PNPM PISEW Kabupaten Banjar.html. (Diakses pada Tanggal 17 April 2014 pukul 01.00)
Lesliewaruwu. 2012. Sistematika Pedoman PNPM PISEW. html. (Diakses pada Tanggal 22 April 2014 pukul 01.00)
Radarbangka. 2014. Implementasi PNPM Menuju Perubahan Sosial.html.
(Diakses pada Tanggal 25 April 2014 pukul 15.00)
Via. 2012. Orientasi dan Workshop PNPM PISEW 2012.html. (Diakses pada Tanggal 27 April 2014 pukul 13.00)
Wasistiono S. 2003. Kapita Selekta. (Http. //www.policy.hu/Suharto /naskah/pdf/islamnegarakesejahteraan.pdf. (Diakses pada Tanggal 29 April 2014 pukul 17.00)
Wiki. 2014. PNPM PISEW. www://id. wikipedia.org/wiki/.(Diakses pada Tanggal 29 April 2014 pukul 17.00)