BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
test perkembangan motorik halus pada anak usia dini kelas B di Kelompok Bermain setelah melakukan kegiatan finger painting pada masing-masing indikator, yaitu: (1) Menggambar sesuai dengan gagasannya dengan nilai rata-rata 18; (2) Meniru bentuk dengan nilai rata-rata 23; (3) Melakukan eksplorasi dengan berbagai media dan kegiatan dengan nilai rata-rata 19; (4) Mengggunakan alat tulis dengan baik dan benar dengan nilai rata-rata 33; (5) Menggunting sesuai dengan pola rata-rata dengan nilai 20; (6) Menempel gambar dengan tepat dengan nilai rata-rata 18; dan (7) Mengekspresikan diri melalui gerakan gambar secara rinci dengan nilai 15.
Kemampuan motorik halus pada anak Di Kelas B Pahlawan di Desa Galung Lombok Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar sebelum diberikan perlakuan berupa kegiatan finger painting, ditemukan sebagian anak yang masih belum mampu untuk menulis namanya sendiri, ketika melakukan kegiatan finger painting ada anak yang tidak mau menyentuh finger painting tersebut, dengan alasan dia tidak mau bermain kotor-kotoran. Selanjutnya, masih ada anak yang belum bisa menggunting mengikuti pola yang telah ada dikertas.
Ada anak yang ketika menyentuh adonan finger painting selalu membersihkan dengan menggunakan tissue setiap saat.
Berdasarkan pada hasil pre-test di atas, dapat dilihat bahwa kemampuan motorik halus pada anak sebelum diberikan perlakuan yaitu belum berkembang dengan maksimal. Hal tersebut dikarenakan kurangnya stimulus yang diberikan oleh pendidik dan orangtuanya yang dimana segala kegiatan belajarpun terbatas dan kurang kreatif, sehingga mengakibatkan perkembangan motorik halus yang seharusnya didapatkan sesuai dengan usia anak tidak dapat berkembang dengan baik. Salah satu upaya yang dapat dilakukan agar kemampuan motorik halus pada anak bisa berkembang yakni dengan memberikan stimulus berupa kegiatan bermain atau permainan. Bermain adalah sebuah sarana yang dapat mengembangkan anak secara optimal, karena bermain berfungsi sebagai kekuatan, pengaruh terhadap perkembangan dan melalui bermain pula dapat memberikan pengalaman yang penting dalam dunia anak.1
Montolalu berpendapat bahwa, bermain bagi perkembangan anak dapat mempengaruhi perkembangan diantaranya adalah perkembangan fisik, dorongan komunikasi, penyaluran energi emosional yang terpendam, penyaluran bagi kebutuhan dan keinginan, sumber belajar, rangsangan bagi kreativitas,
1 Sofia Hartati, Perkembangan Belajar Pada Anak Usia Dini (Jakarta: Depdiknas, Dirjen PT, Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan Dan Ketenagaan PT, 2005).
perkembangan wawasan diri, belajar bermasyarakat, standar moral, belajar bermain sesuai dengan peran jenis kelamin, perkembangan ciri kepribadian yang diinginkan.2
Kegiatan bermain atau permainan ialah suatu kebutuhan yang sangat erat kaitannya dengan anak, secara sadar atau tidak sadar anak akan belajar banyak hal dan pada akhirnya dapat tercapai apa yang pernah dilakukannya. Melalui bermain anak dapat mempelajari hal-hal yang nyata sehingga daya cipta, imajinasi, dan kreativitas dan fisik motorik anak dapat berkembang dengan baik. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kegiatan kemampuan motorik halus anak yakni dengan kegiatan finger painting.
Dunia anak tidak bisa lepas dari kegiatan bermain, karena dengan bermain anak-anak bisa belajar hal-hal yang baru dan perkembangan fisik motorik, bahasa, kognitif, moral, logika matematika, dan sosial emosional dapat distimulasi secara baik. Saat bermain, anak-anak tidak hanya menggunakan motorik kasarnya saja akan tetapi juga motorik halusnya.3 Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Moeslichatoen dalam Mutia yang mengatakan bahwa metode bermain merupakan kegiatan yang dapat membantu mengembangkan kreativitas dan fisik motorik anak, yaitu melakukan kegiatan yang mengandung kelenturan seperti:
menggambar, menyusun, dan melukis dengan jari (finger painting).4 Finger painting atau melukis jari merupakan pengalaman yang menarik dan mengesankan untuk anak.
2 Montolulu, Bermain Dan Permainan Anak (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007).
3 Sari Budiyah Febria dan Raihana, “Pengaruh Permainan Tradisional Engklek Terhadap Perkembangan Motorik Kasar Anak Usia 5-6 Tahun,” Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini:
Generasi Emas 4, no. 1 (2021): 9,
https://journal.uir.ac.id/index.php/generasiemas/article/view/6743 (Diakses 3 Januari 2022).
4 Rizki Wahyuni, dan Erdiyant, “Meningkatkan Motorik Halus Anak Melalui Finger Painting Menggunakan Tepung Singkong,” Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Undiksha 1, no. 1 (2020): 30.
Maka dari itu, peneliti ingin memberikan perlakuan berupa kegiatan finger painting dengan tujuan untuk dapat meningkatkan kemampuan motorik halus di kelas B Kelompok Bermain Pahlawan di Desa Galung Lombok Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar.
2. Gambaran Kemampuan Motorik Halus Setelah Melakukan Kegiatan Finger painting Kelas B Di Kelompok Bermain Pahlawan Di Desa Galung Lombok Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar Penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa melalui kegiatan finger painting terhadap perkembangan motorik halus pada anak usia dini kelas B di Kelompok Bermain Pahlawan di Desa Galung Lombok Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar mengalami peningkatan yang signifikan. Hasil data tersebut menghasilkan nilai tertinggi yaitu sebesar 35, nilai terendah yaitu sebesar 25 dan nilai rata-rata yaitu sebesar 28,16. Peneliti melakukan penilaian post-test dengan perlakuan berupa kegiatan finger painting sebanyak 4 kali karena dianggap sudah cukup untuk dilakukan sampai pada penilaian akhir dalam penelitian ini. Pemberian perlakuan pertama dilakukan pada tanggal 16 Maret 2023, perlakuan kedua dilakukan pada tanggal 17 Maret 2023, perlakuan ketiga dilakukan pada tanggal 18 Maret 2023, dan perlakuan keempat dilakukan pada tanggal 20 Maret 2023.
Pemberian perlakuan menggunakan kegiatan finger painting, anak-anak begitu antusias untuk mengetahui apa yang ingin dimainkan, hal ini pula menimbulkan banyak anak yang begitu tidak sabar untuk bertanya. Sebagian dari anak yang saya jadikan sampel mengetahui apa nama permainan ini dan cara memainkannya, akan tetapi ada juga anak yang bertanya nama permainan, dan bagaimana cara memainkannya. Anak-anak begitu aktif memainkannya dengan melukiskan jari di atas kertas sesuai dengan imajinasinya masing-masing.
Kegiatan finger painting pada dasarnya lebih memfokuskan pada gerakan- gerakan yang menggunakan otot-otot kecil ketika bermain, seperti menempelkan tangannya dengan adonan finger painting pada kertas hvs, anak mampu mewarnai bentuk hasil karyanya sesuai dengan kreativitasnya, anak mampu memegang pensil dengan baik dan benar, anak mampu menempel gambar apel dan pisang pada kertas hvs, dan anak mampu menggunting kertas karton berwarna sebagai bingkai finger painting.
Perkembangan motorik halus kelas B di Kelompok Bermain di Desa Galung Lombok Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar mengalami peningkatan setelah melakukan kegiatan finger painting. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Rizki Wahyuni dan Erdiyanti bahwa setelah diberikan perlakuan berupa kegiatan finger painting, kemampuan motorik halus pada anak mengalami peningkatan dengan kategori baik dibandingkan dengan penilaian sebelumnya yang berada pada kategori kurang baik. Hal ini dibuktikan setelah diberikan perlakuan bahwa kegiatan finger painting yaitu anak mampu menggunakan jari tangan kanan dan kiri dapat dapat mengambil cat tepung singkong dan menggoreskannya di atas kertas, anak melihat ketika sedang mengambil cat air, anak mampu menggerakkan ujung jari-jari dan telapak tangan kanan/kiri kedepan, kebelakang dan mendekatkan kelima jari tangan kanan/kiri sehingga dapat menyatu, anak dapat memutar telapak tangan kanan dan kiri, memiliki capaian perkembangan pada penilaian yaitu berkembang sangat baik (BSB) dengan ketuntasan kemampuan perkembangan baik (90%, 85%, 80%) dan cukup (70%). 5
5 Rizki Wahyuni dan Erdiyanti, “Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Anak Melalui Finger Painting Menggunakan Tepung Singkong.” Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Undiksha 1, no. 1 (2020): 42.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa melalui kegiatan finger painting pada hasil penilaian penilaian post-test mengalami peningkatan kemampuan motorik halus di kelas B Kelompok Bermain Pahlawan di Desa Galung Lombok Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar jika dibandingkan dengan nilai pre-test sebelum anak diberikan perlakuan berupa kegiatan finger painting.
3. Perbedaan Rata-Rata Kemampuan Motorik Halus Sebelum dan Setelah Melakukan Kegiatan Finger painting Kelas B Di Kelompok Bermain Pahlawan Di Desa Galung Lombok Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar
Perbedaan rata-rata kemampuan motorik halus di Kelas B Kelompok Bermain Pahlawan di Desa Galung Lombok Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar sebelum dan setelah diberikan perlakuan berupa kegiatan finger painting mengalami peningkatan. Adapun perbedaan nilai rata-rata hasil pre-test memperoleh nilai sebesar 14,3 dan hasil rata-rata post-test memperoleh nilai sebesar 28,16 dengan selisih nilai rata-rata sebesar 13,86. Hal ini membuktikan bahwa terjadi peningkatan yang signifikan terhadap perkembangan motorik halus.
Peningkatan tersebut terjadi karena, pada saat sebelum diberikan perlakuan anak belum diajarkan secara langsung bagaimana cara memainkan kegiatan finger painting dan peneliti menyiapkan adonan warna finger painting dan kertas hvs sebagai tempat mengoleskan warna. Dengan kegiatan finger painting yang nantinya akan dibandingkan setelah diberikan perlakuan. Pada proses sebelum diberikan perlakuan peneliti hanya melakukan satu kali penilaian pre-test pada saat anak melakukan kegiatan. Sedangkan setelah diberikan perlakuan berupa kegiatan finger painting, peneliti memberikan perlakuan sebanyak empat kali yang kemudian dilakukan penilaian post-test.
Dalam proses pemberian perlakuan di hari pertama menggunakan kegiatan finger painting, anak sangat antusias untuk mengetahui dan memainkan permainan tersebut. Terlihat masih ada anak yang bertanya apa nama permainan
tersebut, bagaimana bentuk dan cara memainkannya karena iya baru pertama kali melihat dan memainkan permainan finger painting. Anak-anak sangat semangat dan antusias saat melakukan kegiatan finger painting. Selama dalam pemberian perlakuan pertama, kedua, ketiga, dan keempat. Peneliti mengajarkan secara langsung cara memainkan kegiatan finger painting dan Langkah pertama yang dilakukan peneliti adalah menjelaskan dan mengenalkan alat-alat yang digunakan untuk bermain finger painting dan bagaimana cara menggunakannya, dengan adanya pengarahan dari peneliti bertujuan untuk membangkitkan minat anak serta mengajak anak untuk memperhatikan pembelajaran yang akan disampaikan, sehingga secara perlahan-lahan dan tanpa mereka sadari anak akan mengikuti alur permainan dan pembelajaran serta mengikuti dan mengerti tentang kegiatan apa yang akan dilaksanakan dengan pemberian rangsangan atau pancingan dari kegiatan pembelajaran.
Maka dari itu, peneliti hanya memberikan perlakuan sebanyak empat kali dan setiap melakukan kegiatan finger painting peneliti mendemonstrasikan dan membimbing anak terlebih dahulu bagaimana cara untuk mengoleskan cat warna yang baik dan benar yang sudah disediakan sebelumnya. Tahap ini mengajarkan anak mengembangkan dan mengenalkan berbagai warna dan bentuk, meningkatkan daya imajinasi dan kreativitas anak, meningkatkan koordinasi mata dan tangan, melatih konsentrasi, serta dapat dijadikan sebagai media mengekspresikan emosi anak.
Penelitian ini tentunya mengikuti instrument penelitian yang telah ditentukan berdasarkan pada indikator dan capaian yang diamati selama penelitian. Adapun indikator yang dinilai serta capaian yang diamati adalah sebagai berikut: 1) Indikator pertama yaitu menggambar sesuai dengan gagasannya dengan capaian yang diamati yaitu anak mampu menggambar sesuai
gagasannya (kreativitasnya) dengan menggunakan berbagai macam warna; 2) Indikator kedua yaitu meniru bentuk dengan capaian yang diamati yaitu anak mampu mewarnai bentuk hasil karya yang telah ada seperti gambar pohon dan buah (apel dan pisang); 3) Indikator ketiga yaitu melakukan ekplorasi dengan berbagai media dan kegiatan dengan capaian yang diamati yaitu anak mampu menempelkan tangannya pada kertas hvs yang telah disediakan, anak mengetahui cat warna finger painting yang dipilih; 4) Indikator keempat yaitu menggunakan alat tulis dengan baik dan benar dengan capaian yang diamati yaitu anak dapat memegang pensil dengan baik antara ibu jari dan jari telunjuk, anak mampu menulis namanya sendiri; 5) Indikator kelima yaitu menggunting sesuai dengan pola dengan capaian yang diamati yaitu anak mampu menggunting kertas karton berwarna sebagai bingkai finger painting; 6) Indikator keenam yaitu menempelkan gambar dengan tepat dengan capaian yang diamati yaitu anak mampu menempelkan gambar apel dan pisang pada hasil karyanya; 7) Indikator ketujuh yaitu mengekspresikan diri melalui gerakan gambar secara rinci dengan capaian yang diamati yaitu anak mampu meningkatkan kreativitasnya dengan menggunakan berbagai gambar finger painting.
Penelitian yang dilakukan terdapat perbedaan berupa peningkatan nilai rata-rata kemampuan motorik halus anak sebelum melakukan kegiatan finger painting dan menunjukkan bahwa terdapat peningkatan yang signifikan yang diperoleh setelah melakukan kegiatan finger painting. Sehingga kegiatan finger painting sangat efektif untuk digunakan dijadikan sebagai media dalam meningkatkan kemampuan motorik halus pada anak.
Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa setelah diberikan kegiatan berupa kegiatan finger painting terhadap kemampuan motorik halus pada anak mengalami peningkatan dari sebelumnya. Hal ini dikarenakan ketika pada saat
melakukan kegiatan finger painting anak-anak tidak secara langsung meningkatkan koordinasi mata dan tangan, meningkatkan indera peraba, meningkatkan kemampuan berbahasa, membantu anak untuk berkonsentrasi dan focus, memperkenalkan warna-warna dasar, meningkatkan kepercayaan diri, meningkatkan kreativitas dan imajinasi anak, melatih keberanian, serta membantu mengungkapkan emosi. Sejalan dari penjelasan diatas, didukung oleh Lilis Maghfuroh dengan hasil penelitiannya yang mengatakan bahwa setelah kegiatan finger painting mengalami peningkatan terhadap kemampuan motorik halus pada anak. Melalui kegiatan finger painting, anak dapat mengembangkan motorik halusnya karena kegiatan ini dapat melatih koordinasi mata dan tangan, jenis kegiatan ini dilakukan dengan cara mengoleskan adonan cat warna menggunakan jari tangan di atas bidang gambar.6 Kegiatan finger painting digunakan sebagai kegiatan alternatif guna menggantikan krayon agar kegiatan menggambar lebih menarik untuk anak.
Adapun kendala-kendala yang dialami oleh peneliti selama proses penelitian dari awal sampai akhir, diantaranya sebagai berikut: (1) Beberapa anak mengalami kesulitan saat mengoleskan adonan finger painting; (2) Masih banyak yang belepotan dan keluar dari pola; (3) Anak-anak terkadang susah untuk diarahkan, pada awalnya susah diajak untuk berkumpul dikarenakan ia malu dan menarik diri untuk ikut bergabung bermain; dan (4) Anak-anak merasa jijik dan tidak mau memegang adonan finger painting. Berdasarkan pemaparan penjelasan di atas, sehingga dapat disimpukan bahwa kegiatan finger painting dapat meningkatkan perkembangan motorik halus pada anak di Kelas B Kelompok Bermain Desa Galung Lombok Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar.
6 Lilis Maghfuroh & Kiki Chayaning Putri, “Pengaruh Finger painting terhadap perkembangan motoric halus anak usia prasekolah di TK Sartika I Lamongan”
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan pada hasil penelitian skripsi yang telah dilakukan dengan judul “Peningkatan Kemampuan Motorik Halus melalui Kegiatan finger painting di Kelompok Bermain Pahlawan Di Desa Galung Lombok Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar”. Maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Gambaran kemampuan motorik halus sebelum melakukan kegiatan finger painting di Kelompok Bermain Pahlawan di Desa Galung Lombok Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar diperoleh nilai tertinggi sebesar 20, nilai terendah sebesar 10 dan nilai rata-rata sebesar 14,5.
2. Gambaran kemampuan motorik halus setelah melakukan kegiatan finger painting di Kelompok Bermain Pahlawan di Desa Galung Lombok Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar terdapat peningkatan dengan nilai tertinggi sebesar 35, nilai terendah sebesar 25 dan nilai rata- rata sebesar 28,16.
3. Terdapat perbedaan rata-rata peningkatan kemampuan motorik motorik halus setelah melakukan kegiatan finger painting di Kelompok Bermain Pahlawan di Desa Galung Lombok Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari nilai rata-rata antara pre-test dan post-test. Nilai rata-rata pre-test yaitu sebesar 14,3 sedangkan nilai rata-rata post-test yaitu sebesar 28,16. Maka, dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan terhadap kemampuan motorik halus di Kelompok Bermain Pahlawan setelah diberikan perlakuan berupa kegiatan finger painting.
B. Implikasi Penelitian
Berdasarkan pada hasil penelitian skripsi yang telah dilakukan dengan judul “Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Finger Painting di Kelompok Bermain Di Desa Galung Lombok Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar”. Maka dapat diberikan implikasi penelitian, sebagai berikut:
1. Sebagai penambah ilmu pengetahuan bagi semua kalangan terutama kepada orang tua dan guru di Kelompok Bermain Pahlawan dengan menggunakan kegiatan finger painting menjadi pilihan yang tepat dalam menstimulasi segala aspek perkembangan terutama motorik halus pada anak.
2. Kepada Kepala Sekolah agar menyediakan fasilitas yang dapat digunakan untuk perkembangan anak.
3. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi atau menambah wawasan bagi peneliti yang akan mengkaji hal yang sama.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Rudiyanto. Perkembangan Motorik Kasar Dan Motorik Halus Anak Usia Dini. Lampung: Darussalam Press Lampung, 2016.
Aprina, Ahmad Husein Ritonga, Yusria. “Penggunaan Finger Painting Untuk Mengembangkan Motorik Halus Anak Usia 5-6 Tahun Di Taman Kanak- Kanak Halimatusadiah Kota Jambi” (2018): 15.
Betri Oktovia. “Pengaruh Kegiatan Finger Painting Terhadap Kemampuan Menulis Anak Di Tkn Pembina Kabupaten Tanah Datar,” 2018.
Dahlia , Ismawati, Herawati, Suci Ramadani, Patiung. “Deteksi Dini Pencapaian Perkembangan Anak Usia 3-4 Tahun Berdasarkan Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini.” Indonesian Journal Of Early Childhood Education: NANAEKE 2, no. 1 (2019): 27.
Departemen Pendidikan Nasional. Pengembangan Fisik Motorik Di Taman Kanak-Kanak. Jakarta: Dirgen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, 2007.
Desi Pristiwanti, Bai Badariah, Sholeh Hidayat, Ratna Sari Dewi. “Pengertian Pendidikan.” Jurnal Pendidikan Dan Konseling 4, no. 2 (2022): 7912.
https://doi.org/10.31004/jpdk.v4i6.9498.
Durri Andriani. Metode Penelitian. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka, 2017.
Elizabeth Hurlock. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga, 1998.
Endang, Sukanti. Perkembangan Motorik. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta, 2007.
Evivani Maria dan Renti Oktaria. “Permainan Finger Painting Untuk Pengembangan Kemampuan Motorik Halus Anak Usia Dini.” Jurnal Warna:
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Anak Usia Dini 5, no. 1 (2020): 26.
Fitri andriani. Psikologi Perkembangan Dan Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta : PT Fajar Interpratama Mandiri, 2016.
Hanafi, Tendri. “Penerapan Finger Painting Dalam Meningkatkan Motorik Halus Anak Usia 5-6 Tahun.” Al-Miskawaih: Journal Of Science Education 1, no. 1 (2022): 161.
Harini, Turmudi dan Sri. Metode Statistika: Pendekatan Teoritis Dan Aplikatif.
Malang: UIN Maliki Press, 2008.
Harsismanto J, Fredrika L, Padila P, Andri J. “Pengaruh Intervensi Finger Painting Terhadap Peningkatan Perkembangan Motorik Halus Anak Prasekolah.” Jurnal Keperawatan Silampari 1, no. 1 (2020): 474.
Hatia Gay, Bahran Taib, Dan Haryati. “Penerapan Kegiatan Meronce Berbahan Alam Untuk Meningkatkan Motorik Halus Pada Anak Usia 5-6 Tahun.”
Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 3, no. 1 (2020): 35.
Jumilah, Sean Marta Efastri, dan Siti Fadilah. “Upaya Meningkatkan Kreativitas Anak Melalui Permainan Finger Painting Usia 5-6 Tahun Di TK Harapan Bunda Pekanbaru.” Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 2, no. 1 (2018): 34–36.
http://journal.unilak.ac.id/index.php/paud-lectura/article/view/1989 (Diakses online 4 Desember 2022).
Kadek Sri Wuri Handayani, Ida Bagus Surya Manuaba, Luh Ayu Tirtayani.
“Pengaruh Finger Painting Terhadap Kemampuan Motorik Halus Anak Usia Dini Kelompok B2 Di Tk Ganesha.” Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 6, no.
3 (2018): 354.
Kementrian Agama RI. Al-Quran Dan Terjemahannya, n.d.
Lia Istiana, Nuhenti Dorlina Simatupang. “Jurnal Pengaruh Permainan Finger Painting Terhadap Kreativitas Anak Usia Dini Kelompok B Di Paud Melati.”
Universitas Negeri Surabaya, n.d.
Maria Evivani, dan Renti Oktaria. “Permainan Finger Painting Untuk Pengembangan Kemampuan Motorik Halus Anak Usia Dini.” Jurnal Warna : Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Anak Usia Dini 5, no. 1 (2020): 26–27.
Melinda. “Pengaruh Melukis Menggunakan Tehnik Finger Painting Terhadap Keterampilan Motorik Halus Pada Taman Kanak-Kanak.” Universitas pendidikan Indonesia, 2013.
Miratul Hayati. “Peningkatan Keterampilan Motorik Halus Melalui Kegiatan Finger Painting.” Jurnal Education 10, no. 1 (2018): 390–391.
Montolulu. Bermain Dan Permainan Anak. Jakarta: Universitas Terbuka, 2007.
Montuhalu. Bermain Dan Permainan Anak. Jakarta : Universitas Terbuka, 2010.
Nasional, Departemen Pendidikan. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, 2003.
Octaviana, Anita. “Upaya Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Melalui Kegiatan Di Kober Rofa Sukadana Lampung Timur.” Jurnal Edukasi AUD 6,
no. 2 (2020): 82–83. https://jurnal.uin-
antasari.ac.id/index.php/jurnalaud/article/view/3811 (Diakses online 4 Desember 2022).
Permendikbud. “Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan No. 137 Tahun 2014 Tentang Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA).,”
2014.
PERMENDIKBUD. Undang-Undang Republik Indonesian No. 58 Tahun 2009 Tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini, 2009.
Rizki Wahyuni dan Erdiyanti. “Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Anak
Melalui Finger Painting Menggunakan Tepung Singkong.” Jurnal Pendidikan
Anak Usia Dini 1, no. 1 (2020): 39.
https://journal.student.uny.ac.id/index.php/pgpaud/article/view/581 ((Diakses online 5 Februari 2023).
Rizki Wahyuni, dan Erdiyanti. “Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Anak Melalui Finger Painting Menggunakan Tepung Singkong.” Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 1, no. 1 (2020): 29.
Samsuddin. Pembelajaran Motorik Di Taman Kanak-Kanak. Jakarta: Prenada Media Grop, 2013.
Sari Budiyah Febria dan Raihana. “Pengaruh Permainan Tradisional Engklek Terhadap Perkembangan Motorik Kasar Anak Usia 5-6 Tahun.” Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini: Generasi Emas 4, no. 1 (2021): 9.
https://journal.uir.ac.id/index.php/generasiemas/article/view/6743 (Diakses 3 Januari 2022).
Siregar, Syofian. Statistika Deskriptif Untuk Penelitian: Dilengkapi Perhitungan Manual Dan Aplikasi SPSS Versi 17. Edisi I. Depok: PT RajaGrafindo Persada, 2016.
Sitorus, Masganti. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Prenada Media Grop, 2017.
Slamet Suyanto. Penilaian Pengembangan Fisik Motorik. Bandung: Mizan, 2009.
Sofia Hartati. Perkembangan Belajar Pada Anak Usia Dini. Jakarta: Depdiknas, Dirjen PT, Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan Dan Ketenagaan PT, 2005.
Sudaryono. METODOLOGI PENELITIAN: Kualitatif, Kuantitatif, Dan Mix Method. 2nd ed. Depok: Rajawali Pers, 2019.
Sudaryono. Statistik I: Statistik Deskriptif Untuk Penelitian. Yogyakarta: CV ANDI OFFSET, 2021.
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D. Bandung:
Alfabeta, 2015.
Sujana, I Wayan Cong. “Fungsi Dan Tujuan Pendidikan Indonesia.” Jurnal Pendidikan Dasar: ADI WIDYA 4, no. 1 (2019): 31.
Sukarini, Sri. “Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Melalui Kegiatan Menggambar Dengan Teknik Finger Painting Pada Anak Kelompok B2 Di TK Negri Pembina Sentul.” Jurnal Pendidikan Anak 9, no. 2 (2022): 2579.
Sumadi Suryabrata. Metode Penelitian. Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2014.
Sumantri. Model Pengembangan Keterampilan Motorik Anak Usia Dini.
Jakarta:Depdiknas, 2005.
Sumardi, Sima Mulyadi, dan Anisa Rosidah Sopa. “Meningkatkan Keterampilan