BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan
52
Pada tabel penghitungan presentasi persepsi materi belajar dengan menggunakan skala likert berupa STS, TS, S, dan SS pada masing-masing jumlah item pernyataan maka total skor materi belajar pada persepsi positif memperoleh skor 333 dengan presentase 38,2%. Sedangkan total skor materi belajar persepsi negatif memperoleh skor 668 dengan presentase 66,8%.
53
Program studi IPA Biologi UIN Mataram periode ganjil 2021-2022. Angket online menunjukkan bahwa terdapat 25 pernyataan dalam angket yang diberikan kepada mahasiswa 105 responden. 25 pernyataan tersebut memperoleh persentase yang berbeda tergantung pada aspek yang dilakukan pengujian. Angket penelitian tersebut dapat dilihat pada Lampiran 1.
Hal tersebut diketahui dengan melihat respon persepsi mahasiswa terhadap setiap pernyataan-pernyataan yang tertera pada lembar angket partisipasi, aksesibilitas, dan materi belajar. Pernyataan-pernyataan mengenai persepsi mahasiswa baik partisipasi positif maupun partisipasi negatif dapat diperoleh melalui empat kategori yaitu sangat baik, cukup baik, tidak baik, dan sangat tidak baik. Pemberian kategori ini didasarkan pada presentase yang dihasilkan dari masing-masing aspek yang diteliti. Dalam penelitian ini aspek yang diteliti yaitu partisipasi, aksesibilitas, dan materi belajar. Ketiga aspek ini dipilih karena dapat merepresentasikan persepsi seorang individu terhadap pembelajaran daring. Ketiga aspek tersebut telah menghasilkan data yang dibutuhkan peneliti yang di kelola melalui SPSS 20.
1. Persepsi mahasiswa terhadap pembelajaran daring di masa pandemi covid-19 melalui pendekatan partisipasi
Partispasi adalah keikutsertaan individu dalam situasi baik secara mental, pikiran atau emosi dan perasaan yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditentukan dan ikut bertanggung jawab terhadap kegiatan pencapaian
54
tujuan tersebut.56 Keterlibatan mahasiswa ini dapat diartikan sebagai sesuatu yang menunjukkan peran aktif dari seorang mahasiswa dalam melakukan suatu pembelajaran. Pernyataan-pernyataan mengenai partisipasi mahasiswa baik partisipasi positif maupun partisipasi negatif masing-masing terdiri dari tiga indikator yaitu perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi. Partisipasi dapat diartikan seperti keikusertaan mahasiswa ketika pembelajaran berlangsung yang dapat ditunjukkan perilaku berupa fisik dan psikologinya. Partisipasi mahasiswa tersebut mengindikasikan keikutsertaan individu untuk ikut bertanggung jawab terhadap tercapainya tujuan pembelajaran.57
Berdasarkan analisis deskriptif pada aspek partisipasi menunjukkan pada pernyataan nomor 1 yaitu ”Saya terlebih dahulu mempersiapkan perangkat yang dibutuhkan”, jawaban responden yaitu bahwa mahasiswa tidak ada yang menjawab sangat tidak setuju, 14 orang (13,3%) menjawab tidak setuju, 69 orang (65,7%) menjawab setuju, dan 22 orang (21,0%) menjawab sangat setuju. Hal ini memperlihatkan bahwa presentase mahasiswa yang menjawab setuju dan sangat setuju lebih banyak daripada mahasiswa yang menjawab sangat tidak setuju dan tidak setuju.
Persepsi mahasiswa pada soal nomor 1 berpersepsi positif. Pernyataan nomor 2 yaitu “Saya memasuki ruang meeting/belajar daring sesuai
56 Syamsuddin Adam dalam Prasetya, Pustaka Pelajar Stein dalam Catanese, 1992, 2008, h. 318
57 Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2006)
55
jadwal dan tepat waktu”, jawaban responden dalam hal ini adalah bahwa tidak ada mahasiswa yang menjawab sangat tidak setuju, 12 orang (11,4%) menjawab tidak setuju, 67 orang (63,8%) menjawab setuju, dan 26 orang (24,8%) menjawab sangat setuju.
Pernyataan nomor 3 yaitu “Saya mengikuti kelas secara daring dengan fokus tanpa mengerjakan kegiatan lain”, menghasilkan jawaban yakni terdapat 4 orang (3,8%) menjawab sangat tidak setuju. 60 orang (57,1%) menjawab tidak setuju, 33 orang (31,4%) menjawab setuju, dan 8 orang (7,6%) menjawab sangat setuju. Pernyataan soal nomor 4 yaitu
“Saya selalu memperhatikan Dosen ketika menyampaikan materi”, hasil
jawaban responden yakni tidak ada mahasiswa yang menjawab sangat tidak setuju, 28 orang (26,7%) menjawab tidak setuju, 60 orang (57,1%) menjawab setuju, dan 33 orang (16,2%) menjawab sangat setuju.
Pernyataan nomor 5 “Saya mudah memahami materi yang disampaikan Dosen”, jawaban responden yaitu terdapat 2 orang (1,9%) menjawab sangat tidak setuju, 48 orang (45,7%) menjawab tidak setuju, 54 orang (51,4%) menjawab setuju, dan 1 orang (1,0%) menjawab sangat setuju. Pernyataan nomor 6 yaitu “Saya aktif menyampaikan tanggapan ketika pembelajaran daring berlangsung”, jawaban responden yaitu terdapat 5 orang (4,8%) menjawab sangat tidak setuju, 35 orang (33,3%) menjawab tidak setuju, 52 orang (49,5%) menjawab setuju, dan 13 orang (12,4%) menjawab sangat setuju.
56
Pernyataan nomor 7 yaitu “Saya menyampaikan pertanyaan ketika ada yang saya tidak mengerti”, jawaban responden yakni terdapat 2 orang (1,9%) menjawab sangat tidak setuju, 7 orang (6,7%) menjawab tidak setuju, 74 orang (70,5%) menjawab setuju, dan 22 orang (21,4%) menjawab sangat setuju.
Hasil skor angket partisipasi terhadap 7 pernyataan menunjukkan bahwa mahasiswa sebagian besar berpartisipasi aktiv dalam perkuliahan daring selama pandemi Covid-19, data juga menunjukkan bahwa terdapat sejumlah mahasiswa sebagai subjek aktiv karena hasil data menunjukkan bahwa perespsi mahasiswa terhadap pembelajaran daring berkaitan dengan partisipasi lebih banyak menjawab setuju dan sangat setuju dibandingkan jawaban sangat tidak setuju dan tidak setuju.
Berdasarkan penilaian partisipasi mahasiswa terhadap pembelajaran daring, mahasiswa lebih banyak menjawab setuju dan sangat setuju yaitu sebanyak 76,28%, dibandingkan dengan mahasiswa yang menjawab sangat tidak setuju dan tidak setuju hanya 31%. Sehingga dapat diketahui partisipasi mahasiswa Tadris IPA Biologi pada semester ganjil terhadap pembelajaran daring adalah persepsi dengan partisipasi positif. Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang membahas mengenai keterlibatan dan respon mahasiswa dalam pembelajaran daring, salah satunya yaitu Sinaga yang menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran daring kurang berjalan dengan baik, karena respon yang diberikan
57
mahasiswa yaitu lebih menyukai pembelajaran tatap muka secara langsung. Namun tak menampik kenyataan bahwa pembelajaran daring ini sangatlah membantu proses pembelajaran di saat pandemi seperti sekarang ini.58 Mulyana dkk (2020) juga menyatakan bahwa mahasiswa akan selalu berusaha untuk mengikuti pembelajaran daring walaupun keadaan yang dialami sangat sulit, sehingga dapat dikatakan bahwa mahasiswa memiliki keterlibatan penuh dalam pembelajaran daring.59 2. Persepsi mahasiswa terhadap pembelajaran daring di masa pandemi
covid-19 melalui pendekatan aksesibilitas
Aksesibilitas adalah pemenuhan fasilitas baik berupa barang atau jasa yang tujuannya dapat menghasilkan sebuah kenyamanan dalam melakukan sebuah aktivitas. Aksesibilitas juga merupakan kemudahan mengakses tujuan yang dapat memberikan kenyamanan beraktivitas.60 Dalam penelitian ini, aksesibilitas terhadap pembelajaran daring yang ingin dilihat adalah mahasiswa mendapatkan akses/fasilitas seperti sarana dan prasarana yang digunakan sebagai pendukung ketika pembelajaran daring berlangsung. Aksesibilitas tersebut dapat berupa media pembelajaran seperti HP/PC, kemudahan mendapatkan kuota atau
58Sinaga, S. E. N. S. 2020. “Analisis Respon Mahasiswa Terhadap Pembelajaran Online di STAIN Sultan Abdurrahman Kepri”. TANJAK: Journal of Education and Teaching, 1(2), h.
137-145.
59 Mulyana, M., Rainanto, B. H., Astrini, D., & Puspitasari, R. 2020. “Persepsi Masa Pandemi Covid-19”. STEAM Engineering, 2(1), h. 23-30.
60 Widyonarso, E. S., & Yuliastuti, N. (2014). “Tingkat Aksesibilitas Fasilitas Sosial Berdasarkan Konsep Unit Lingkungan Di Perumnas Banyumanik Kota Semarang”. Jurnal Ruang, 2(4), h. 351 360.
58
jaringan internet seperti WiFi, jenis aplikasi yang dapat mendukung pembelajaran, dan lain lain. Aksesibilitas mahasiswa terhadap pembelajaran daring mengindikasikan bahwa pemenuhan dukungan baik berupa barang atau jasa ketika belajar berlangsung melalui daring.
Salah satu aspek yang dapat dinyatakan apakah tingkat aksesibilitas itu tinggi atau rendah dapat dilihat dari banyaknya sistem jaringan yang tersedia pada daerah tersebut.61 Semakin banyak sistem jaringan yang tersedia pada daerah tersebut maka semakin mudah aksesibilitas yang didapat, begitu pula sebaliknya semakin rendah tingkat aksesibilitas yang didapat maka semakin sulit daerah itu dijangkau dari daerah lainnya.62
Agar pengguna atau mahasiswa dapat mencari sesuatu yang dibutuhkan dapat dengan cepat, tepat dan sesuai sasaran, teknologi informasi dan komunikasi sangatlah membantu mencari informasi yang dibutuhkan. Ditambah perkembangan jaringan internet yang telah masuk sampai ke daerah-daerah memudahkan mahasiswa mencari dan mengakses informasi yang tersebar di dunia tanpa harus pergi ke suatu tempat. Menurut Susanti, akses mempunyai pengaruh yang kuat terhadap tingkat partisipasi mahasiswa dalam pembelajaran melalui media internet.
Pengertian akses terhadap media terkait erat dengan aspek ketersediaan
61 Bintarto, 1989, Interaksi Desa-Kota dan Permasalahannya, Jakarta: Ghalia Indonesia
62 Ali, Mohammad. (2010). Metodologi dan Aplikasi. Riset Pendidikan. Bandung Pustaka.
Cendikia Utama
59
dan kemudahan memperoleh atau menggunakan media.63 Pernyataan- pernyataan mengenai aksesibiltas mahasiswa baik aksesibiltas positif maupun partisipasi negatif masing-masing terdiri dari dua indikator yaitu kemudahan mengakses internet serta ketersediaan media pembelajaran daring.
Berdasarkan analisis deskriptif pada aspek aksesibilitas menunjukkan pada pernyataan nomor 1 yaitu “Menurut saya aplikasi yang digunakan dalam pembelajaran daring saat ini dapat menunjang keefektifan dalam proses pembelajaran secara daring” bahwa jawaban responden terdapat 1 orang (1,0%) menjawab sangat tidak setuju, 19 orang (18,1%) menjawab tidak setuju, 62 orang (59,0%) menjawab setuju, dan 23 orang (21,9%) menjawab sangat setuju. Pernyataan nomor 2 yaitu “Saya memiliki internet yang memadai untuk mengikuti kelas secara daring”, jawaban responden yakni terdapat 9 orang (8,6%) menjawab tidak setuju, 42 orang (40,0%) menjawab setuju, 48 orang (45,7%) menjawab setuju, dan 6 orang (5,7%) menjawab sangat setuju.
Pernyataan nomor 3 yaitu “Saya lebih sering menggunakan provider biasa dari pada WiFi”, jawaban responden yakni terdapat 4 orang (3,8%) menjawab sangat tidak setuju. 32 orang (30,5%) menjawab tidak setuju, 53 orang (50,5%) menjawab setuju, dan 16 orang (15,2%) menjawab sangat setuju. Pernyataan soal nomor 4 yaitu “Saya
63 Susanti, “Pengaruh Faktor Internal Mahasiswa terhadap Partisipasi Mahasiswa dalam
Tuton Jurnal Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh”, Volume 8, Nomor 1, Maret 2007, 68 - 82
60
memperoleh kuota internet dari kampus”, jawaban responden yakni terdapat 28 orang (26,7%) menjawab sangat tidak setuju, 52 orang (49,5%) menjawab tidak setuju, 20 orang (19,0%) menjawab setuju, dan 5 orang (4,8%) menjawab sangat setuju.
Pernyataan nomor 5 yaitu “Sebaiknya kampus memberikan kuota internet setiap bulan untuk menunjang pembelajaran secara daring”, jawaban responden yakni terdapat 36 orang (34,3%) menjawab sangat tidak setuju, 54 orang (51,4%) menjawab tidak setuju, 12 orang (11,4%) menjawab setuju, dan 3 orang (2,9%) menjawab sangat setuju.
Pernyataan nomor 6 yaitu “Saya sering kehabisan paket data ketika pembelajaran daring berlangsung” jawaban responden yaitu terdapat 3 orang (2,9%) menjawab sangat tidak setuju, 3 orang (2,9%) menjawab tidak setuju, 21 orang (20,0%) menjawab setuju, dan 78 orang (74,3%) menjawab sangat setuju.
Pernyataan nomor 7 yaitu “Saya sering tertinggal materi dikarenakan kendala signal”, jawaban responden yakni terdapat 2 orang (1,9%) menjawab sangat tidak setuju, 11 orang (10,5%) menjawab tidak setuju, 44 orang (41,9%) menjawab setuju, dan 48 orang (45,7%) menjawab sangat setuju. Pernyataan nomor 8 terdapat 4 orang (3,8%) menjawab sangat tidak setuju, 13 orang (12,4%) menjawab tidak setuju, 48 orang (45,7%) menjawab setuju, dan 40 orang (38,1%) menjawab sangat setuju. Pernyataan nomor 8 yaitu “Saya lebih senang menggunakan
61
handphone daripada PC/Laptop untuk mengikuti kelas”, jawaban responden yakni terdapat 4 orang (3,8%) menjawab sangat tidak setuju, 13 orang (12,4%) menjawab tidak setuju, 48 orang (45,7%) menjawab setuju, dan 40 orang (45,7%) menjawab sangat setuju.
Hasil skor angket aksesibilitas terhadap 8 pernyataan menunjukkan bahwa mahasiswa sebagian besar memperoleh aksesibilitas berupa sarana dan prasarana yang memadai dalam hal menunjang pembelajaran daring selama pandemi covid-19. Hal ini terbukti dari presentase dari masing- masing pernyataan bahwa banyak yang berpersepi positif. Keadaan jaringan harus menjadi prioritas mahasiswa demi kenyamanan pada saat pembelajaran daring berlangsung.
Berdasarkan penilaian aspek aksesibilitas mahasiswa terhadap pembelajaran daring, mahasiswa lebih banyak menjawab setuju dan sangat setuju yaitu sebanyak 65,87%, dibandingkan dengan mahasiswa yang menjawab sangat tidak setuju dan tidak setuju hanya 39,12%.
Sehingga dapat diketahui partisipasi mahasiswa Tadris IPA Biologi pada semester ganjil terhadap pembelajaran daring adalah persepsi dengan partisipasi positif. Hal ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Ajuan Tuhuteru, (2020) yang menyatakan fasilitas jaringan merupakan hal yang utama dalam pembelajaran sistem online, karena berkaitan dengan kelancaran proses pembelajaran. Keberadaan mahasiswa yang jauh dari pusat kota maupun jauh dari jangkaun jaringan
62
provider tentunya membuat mahasiswa tidak dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan lancar. Ketidakstabilan jaringan menjadi suatu hambatan bagi mahasiswa dalam mengikuti pembelajaran online.
Akibatnya selama belajar dari rumah banyak mahasiswa yang lebih memilih untuk melakukan kegiatan lain (bekerja) daripada mengikuti perkuliahan online.64 Mulyono (2020) juga menambahkan bahwa selain terkendala oleh signal, biaya paket data yang digunakan juga mahal untuk pembelajaran daring.65 Pada penggunaan media belajar seperti hape atau laptop, mahasiswa lebih senang menggunakan smartphone dalam hal ini hape sebagaimana penelitian yang telah dilakukan oleh Yosi Intan, P.G.
dan Asep Amaludin dimana penggunaan hape lebih banyak diminati sebagai sarana pendukung pada pelaksanaan pembelajaran daring. Dalam hal ini, sebagai sarana dalam pemanfaatan teknologi, gadget memiliki kontribusi bear dalam dunia Pendidikan, termasuk di dalamnya adalah pencapaian tujuan pembelajaran daring.66
64 Ajuan Tuhuteru, “Ale Rasa Beta Rasa: Covid-19 dan Pembelajaran Daring Mahasiswa FISK IAKN Ambon”, Jurnal Emik, Vol.3, No.1, (2020), hal.113-114.
65 Mulyono, W. D. “Respon Mahasiswa Terhadap Pembelajaran Daring Pada Mahasiswa Atas Penggunaan Aplikasi Perkuliahan Daring Saat Wabah Covid-19” JAS-PT (Jurnal Analisis Sistem Pendidikan Tinggi Indonesia), 4 (1), (2020), h. 47-56
66 Yosi Intan P.G dan Asep Amaludin, “Pemanfaatan Teknologi Pembelajaran Dalam Jaringan di Masa Pandemi Covid-19”, Jurnal Madaniyah, Vol. 11, No.7, (2021), h. 114
63
3. Persepsi mahasiswa terhadap pembelajaran daring di masa pandemi covid-19 melalui pendekatan materi belajar
Materi pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan oleh pengajar maupun mahasiswa untuk menunjang pembelajaran yang berisi informasi, contoh-contoh, dan instruksi yang menfasilitasi mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar. Materi belajar juga merupakan segala sesutau yang dipergunakan dalam pembelajaran yang berisi instruksi, penjelasan, contoh-contoh, serta tujuan yang akan dicapai. Berdasarkan penjabaran diatas tentang materi belajar, maka dapat disimpulkan bahwa materi belajar adalah segala sesuatu yang dipergunakan dalam pembelajaran sebagai fasilitas untuk mendapatkan pengalaman belajar.
Materi belajar berfungsi sebagai sebuah kerangka untuk mencapai tujuan yang diinginkan seperti tercapainya kompetensi atau subkompetensi dengan beragam aturan di dalamnya. Materi belajar mencoba menginternalisasi pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus di aplikasikan mahasiswa dengan tujuan terpenuhinya standar kompetensi yang telah diberlakukan. Materi belajar dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui materi belajar yang sesuai dengan ketercapaian kompetensi dan subkomptensi, dalam hal ini mengacu pada pembelajaran daring di masa pandemic covid-19 seperti tercapainya indikator, dan lain sebagainya. Hasil pengolahan data dari ketiga aspek tersebut adalah sebagai berikut :
64
Berdasarkan hasil data yang telah dianalisis didapat temuan penelitian sebagai dengan hasilnya materi belajar yang digunakan dalam perkuliahan online dirasa belum maksimal membantu mahasiswa dalam proses pembelajaran. Mereka menilai disatu sisi materi ajar sangat praktis dipergunakan dalam perkuliahan karena dapat diunduh dan dibaca dimana saja. Tetapi disisi lain, mahaiswa sering mengalami masalah dalam mempergunakannya seperti bila mereka mengalami kesulitan dalam memahami materi, instruksi, dan sebagainya maka mereka lebih merasa kesulitan untuk mencari jalan keluarnya.
Pernyataan-pernyataan mengenai aksesibiltas mahasiswa baik aksesibiltas positif maupun partisipasi negatif masing-masing terdiri dari tiga indikator yaitu materi pembelajaran daring sebagai pendukung aktivitas perkuliahan, materi pembelajaran serta instruksi-instruksi dalam materi pembelajaran daring lebih mudah dipahami.
Berdasarkan analisis deskriptif pada aspek materi belajar menunjukkan pada pernyataan nomor 1 yaitu “Pembelajaran lebih efektif melalui pembelajaran daring di bandingkan tatap muka”, jawaban responden yaitu terdapat 36 orang (34,3%) menjawab sangat tidak setuju, 57 orang (54,3%) menjawab tidak setuju, 8 orang (7,6%) menjawab setuju, dan 4 orang (3,8%) menjawab sangat setuju. Pernyataan nomor 2 yaitu “Bila mahasiswa mengalami kesulitan terhadap materi belajar, akan lebih mudah diselesaikan dengan pembelajaran daring di bandingkan
65
tatap muka”, jawaban responden yaitu terdapat 29 orang (27,6%) menjawab sangat tidak setuju, 54 orang (51,4%) menjawab setuju, 17 orang (16,2%) menjawab setuju, dan 5 orang (4,8%) menjawab sangat setuju.
Pernyataan nomor 3 yaitu “Dalam menjawab soal-soal yang diberikan Dosen akan lebih mudah dikerjakan melalui perkuliahan daring”, jawaban responden yaitu terdapat 9 orang (8,6%) menjawab sangat tidak setuju, 20 orang (19,0%) menjawab tidak setuju, 56 orang (53,3%) menjawab setuju, dan 20 orang (19,0%) menjawab sangat setuju.
Pernyataan soal nomor 4 yaitu “Pembelajaran daring memang didesain untuk membantu mahasiswa mempermudah memahami materi-materi perkuliahan”, jawaban responden yaitu terdapat 6 orang (5,7%) menjawab sangat tidak setuju, 46 orang (43,8%) menjawab tidak setuju, 48 orang (45,7%) menjawab setuju, dan 5 orang (4,8%) menjawab sangat setuju.
Pernyataan nomor 5 yaitu “Dengan perkuliahan daring akan membuat mahasiswa lebih yakin menghadapi ujian sebagai tolak ukur pemahaman materi”, jawaban responden yaitu terdapat 9 orang (8,6%) menjawab sangat tidak setuju, 50 orang (47,6%) menjawab tidak setuju, 41 orang (39,0%) menjawab setuju, dan 5 orang (4,8%) menjawab sangat setuju. Pernyataan nomor 6 yaitu “Bila saya mengusulkan, saya akan mengusulkan perkuliahan sebaiknya menggunakan pembelajaran daring daripada tatap muka”, jawaban responden yaitu terdapat 29 orang (27,6%)
66
menjawab sangat tidak setuju, 58 orang (55,2%) menjawab tidak setuju, 14 orang (13,3%) menjawab setuju, dan 4 orang (3,8%) menjawab sangat setuju.
Pernyataan nomor 7 yaitu “Materi-materi yang diberikan dalam pembelajaran daring sudah sesuai dengan kebutuhan mahasiswa dalam pembelajaran daring” jawaban responden yaitu terdapat 3 orang (2,9%) menjawab sangat tidak setuju, 36 orang (34,3%) menjawab tidak setuju, 63 orang (60,0%) menjawab setuju, dan 3 orang (2,9%) menjawab sangat setuju. Pernyataan nomor 8 yaitu “Pemahaman terhadap materi akan lebih mudah dengan pembelajaran daring daripada tatap muka”, jawaban responden yaitu terdapat 22 orang (21,0%) menjawab sangat tidak setuju, 68 orang (64,8%) menjawab tidak setuju, 14 orang (13,3%) menjawab setuju, dan 1 orang (1,0%) menjawab sangat setuju.
Pernyataan nomor 9 yaitu “Respon atau tanggapan Dosen atau Server sudah memadai untuk mahasiswa memahami materi”, jawaban responden yakni terdapat 4 orang (3,8%) menjawab sangat tidak setuju, 42 orang (40,0%) menjawab tidak setuju, 54 orang (51,4%) menjawab setuju, dan 5 orang (4,8%) menjawab sangat setuju. Pernyataan nomor 10 yaitu “Instruksi pembelajaran akan lebih mudah dengan dengan perkuliahan daring dibandingkan tatap muka”, jawaban responden yakni terdapat 22 orang (21,0%) menjawab sangat tidak setuju, 68 orang
67
(64,8%) menjawab tidak setuju, 11 orang (10,5%) menjawab setuju, dan 4 orang (3,8%) menjawab sangat setuju.
Hasil skor angket materi belajar terhadap 10 pernyataan menunjukkan bahwa dari segi materi belajar lebih efektif menggunakan pembelajaran daring daripada pembelajaran tatap muka. Serta pembelajraan daring didesain untuk memudahkan para responden dalam mengerti tentang materi yang diberikan. Proses pembelajaran daring baru berlangsung selama masa pandemi Covid-19, dari segi persiapan bahan- bahan pembelajaran perkuliahan banyak yang belum disiapkan, baik dari segi materi yang harus diajarkan dan juga dari segi mahasiswa/i sendiri yang kurang merespon pada saat perkuliahan daring berlangsung (mahasiswa tidak aktif). Dari segi pemahaman, adakalanya karena penjelasan yang disampaikan pada saat kuliah daring berbeda dengan pada saat kuliah tatap muka, jika dengan sistem pembelajaran secara langsung mahasiswa/i dapat dengan mudah mendengarkan dan berkomunikasi terkait dengan materi yang disampaikan oleh Dosen sedangkan pada saat pembelajaran daring adakalanya tidak tersampaikan dengan maksimal dikarenakan waktu yang terbatas.
Berdasarkan penilaian aspek materi belajar mahasiswa terhadap pembelajaran daring, mahasiswa lebih banyak menjawab sangat tidak setuju dan tidak setuju yaitu sebanyak 66,8%, dibandingkan dengan mahasiswa yang menjawab setuju dan sangat setuju hanya 38,2%.
68
Sehingga dapat diketahui materi belajar mahasiswa Tadris IPA Biologi pada semester ganjil terhadap pembelajaran daring adalah persepsi dengan materi belajar hasilnya negatif. Hal ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Evita Muslima Isnanda Putri, dimana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa berpendapat bahwa mereka merasa sulit memahami materi secara daring.
Menurutnya, perubahan pola pembelajaran yang semula tatap muka kemudian berubah menjadi pola pembelajaran daring memerlukan adaptasi yang relatif sulit dimana mahasiswa dituntut untuk mencoba memahami materi yang bahkan sebelumnya belum diterima.67
Selanjutnya, materi pembelajaran daring juga memiliki kendala seperti instruksi dan tugas yang diberikan Dosen tidak dapat dikerjakan sepenuhnya oleh mahasiswa diakibatkan oleh keterbatasan waktu seperti penelitian yang sebelumnya yang telah dilakukan oleh Aan Widiyono yang menunjukkan bahwa perkuliahan daring kurang optimal dari segi pemahaman materi karena banyaknya tugas yang diberikan kepada mahasiswa. Oleh karena itu, pada dasarnya sistem pembelajaran online/daring ini lebih membutuhkan tanggung jawab, kemandirian, dan ketekunan pribadi dari diri mahasiswa sendiri.68
67 Evita Muslima Isnanda Putri, “Learnig From Home dalam Perspektif Persepsi Mahasiswa Era Pandemi Covid-19”, Prosiding Seminar Nasional Hardiknas, Vol. 1, No. 4, (2020), h.21.
68 Aan Widiyono., “Efektivitas Perkuliahan Daring (Online) pada Mahasiswa PGSD di Saat Pandemi Covid-19”, Jurnal Pendidikan , Vol. 8, No. 2, (2020), h. 169
69
Berdasarkan kendala diatas, Nur Hadi Waryanto menyatakan penyebab ada kendala dalam sistem pembelajaran online karena memang pembelajaran sistem ini terdapat kekurangan yaitu:
a. Kurangnya interaksi antara dosen dan anak didik sehingga memperlambat
values dalam proses belajar.
b. Proses belajar mengajar cenderung ke arah pelatihan daripada pendidikan.
c. Berubahnya peranan pendidik dari semula menguasai teknik pembelajaran konvensional harus beralih ke teknik pembelajaran online.
d. Anak didik yang tidak mempunyai motivasi yang tinggi cenderung gagal.
e. Tidak semua tempat tersedia akses internet yang baik.69
69 Nur Hadi Waryanto, “On-line Learning Sebagai Salah Satu Inovasi Pembelajaran”, Jurnal Matematika, Vol. 5, No.2, (2006), h.22
70 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Pada aspek partisipasi tingkat partisipasi mahasiswa cukup antusias mengikuti pembelajaran daring dan mahasiswa dalam hal ini juga menyukai pembelajaran berbasis online tersebut. Pada aspek ini persepsi mahasiswa dalam hal ini menghasilkan persepsi positif dengan presentase 76,28%. Pada aspek aksesibilitas mahasiswa memiliki kendala dalam jaringan, baik kondisi geografis atau pemenuhan kuota serta lebih senang menggunakan media hape daripada laptop/PC. Dalam aspek ini persepsi mahasiswa terhadap aspek aksesibilitas memiliki persepsi negatif dengan presentase 65,87%. Pada aspek materi belajar, mahasiswa kurang bisa menangkap materi belajar menggunakan pembelajaran daring, mahasiswa lebih menyukai pembelajaran tatap muka. Pada aspek ini mahasiswa memiliki persepsi negatif terhadap materi belajar pada pembelajaran daring dengan presentase 66,8%.
Dengan mengetahui preferensi mahasiswa, diharapkan para dosen terutama pihak Tadris IPA Biologi dapat memanfaatkan berbagai media dan menemukan strategi yang tepat untuk meningkatkan ketertarikan mahasiswa dalam mengikuti pembelajaran daring.