• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

keefektifan tinggi. Hasil perhitungan Ketuntasan Belajar Siswa (KBS ) pada kelas kontrol. Jumlah siswa yang memperoleh nilai diatas KKM sebanyak 10 siswa dengan jumlah responden sebanyak 13 siswa diperoleh nilai KBs sebesar 76% dengan tingkat keefektifan sedang. Dari hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa tingkat keefektivan pembelajaran menggunakan model Problem Based Learning (PBL) lebih tinggi dibandingkan dengan proses pembelajaran non Problem Based Learning (PBL) Artinya; model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 13 .

model pembelajaran yang beragam agar peserta didik dapat efektif dan efisisen dalam belajar, sehingga dapat berdampak positif terhadap hasil belajar yang dilakukan, khususnya dalam proses belajar di dalam kelas.

Selain itu Guru harus pandai dalam memposisikan penggunaan metode atau model pembelajaran agar waktu yang digunakan efisien sehingga membuat siswa senang dalam belajar.

Dalam penelitian ini model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) merupakan suatu inovasi yang baru dalam pembelajaran, khususnya pada pelajaran matematika. Beberapa hal yang diselidiki dalam penelitian ini adalah apakah model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) efektif terhadap kemampuan berfikir kreatif siswa dan perbedaannya denganmetode pembelajaran konvensional.

Mengingat pentingnya tentang kemampuan berfikir kreatif dimana siswa mengorganisasikan pemikirannya dalam menemukan jawaban dari permasalahan yang dihadapinya, maka diperlukan suatu inovasi dalam pembelajaran yang efektif terhadap aspek tersebut, sehingga sumber daya manusia Indonesia dapat menghadapi segala bentuk perubahan dan perkembangan dalam era globalisasi. Berikut ini akan disampaikan pembahasan dari hasil penelitian yang telah dianalisis.

Penelitian dilaksanakan pada tanggal 22November 2017 sampai dengan tanggal 13Desember 2017 di MTs Riadhul Ulum Ampenan.

Adapun yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah pendidik matematika MTs Riadhul Ulum Ampenan yaitu Sawal‟udin, S.Pd, M.Si dan siswa

kelas IX A dan IX B MTs Riadhul Ulum Ampenan yang jumlahnya masing-masing 13 orang. Pelaksanaan peneliti ini dilakukan pada dua kelas yakni kelas IXA sebagai kelas eksperimen dan kelas IXB sebagai kelas kontrol.

Setelah dilakukan uji hipotesis dengan uji-t pada taraf signifikan 5%

diperoleh bahwathitung ttabelyaitu 3.365 2.064 dengan demikian H1 ditolak dan Haditerima. Dengan demikian hipotesis bahwa “Pembelajaran problem based learning (PBL)efektifterhadap kemampuan berfikir kreatif siwa kelas IX MTs Riadhul Ulum Ampenan” dapat diterima.

Hal ini dapat dilihat dari rata-rata kelas eksperimen adalah 81.77 sedangkan rata-rata kelas kontrol adalah 75.15 perbedaan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor guru, siswa dan metode yang digunakan dalam pembelajaran dan keterlaksanaan RPP dalam pembelajaran berlangsung.

Pada kelas eksperimen disebabkan beberapa faktor diantaranya adalah siswa, guru dan metode yang digunakan dalam pembelajaran.

Siswa antusiasme dalam belajar sangat tinggi, siswa aktif dalam belajar.

Faktor guru juga dapat mempengaruhi yaitu guru mampu menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, guru sebagai vasilitator, dimana pembelajaran sangat dominan oleh siswa yang aktif dalam pembelajaran.

Sedangkan pada metode yang digunakan oleh guru adalah metode problem based learning (PBL) yaitu metode pembelajaran yang dirancang untuk meningkatkan pembelajaran dengan mewajibkan siswa untuk mempelajari

materi pelajaran sambil memecahkan masalah. Sehingga menjadi salah satu faktor yang mendukung pada kelas eksperimen.

Sedangkan pada kelas kontrol disebabkan beberapa faktor yaitu siswa antusiasme dalam belajar sangat kurang, disebabkan karena siswa kurang aktif dalam belajar, banyak siswa yang bicara sendiri ketika pembelajaran berlangsung. faktor guru juga mempengaruhi disebabkan oleh, guru masih menggunakan pembelajaran konvesional yaitu metode ceramah dan pemberian tugas, sehingga membuat siswa merasa bosan ketika berada dalam kelas. Selain itu metode yang digunakan juga masih metode konvesional yaitu metode ceramah tanpa menggunakan metode lain sehingga membuat pembelajaran di kelas kontrol tidak menarik.

Selain itu, dapat dilihat dari lembar analisis observasi keterlaksanaan RPP.

Analisis lembar observasi keterlaksanaan RPP juga memperlihatkan bahwa proses belajar siswa pada kelas eksperimen berlangsung sangat baik. Hal ini dilihat dari keriteria keterlaksanaan RPP pada kelas eksperimen dengan kategori sangat baik. Proses pembelajaran pada kelas eksperimen pertemuan pertama tidak semua langkah pembelajaran terlaksana dimana persentase keterlasanaan RPP sebesar 84%. Hal ini dapat dilihat dari item tahapan rencana pembelajaran yang terlewati yaitu mengajukan pertanyaan untuk menguji pemahaman sebelumnya, hal ini tidak dilakukan karena masih dalam pertemuan awal.

Persentase keterlaksanaan RPP pertemuan kedua kelas eksperimen terlaksana 84% masih sama pada pertemuan pertama. Hal ini dapat dilihat

dari item tahapan rencanapembelajaran yang terlewati yaitu meminta siswa menyimpulkan materi yang dipelajari serta meminta siswa dalam menyampaikan rangkuman dari kegiatan yang telah dilakukan hal ini tidak dilakukan karena waktu yang sedikit dan masih dengan respon pada pertemuan pertama. Presentase keterlaksanaan RPP pertemuan ketiga kelas eksperimen terlaksana 89%. Hal ini dapat dilihat dari item tahapan rencana pembelajaran yang terlewati yaitu tidak memberikan siswa mengecek jawabannya dikarenakan soal yang diberikan pada pertemuan ketiga diselesaikan dengan cara seksama. Persentase keterlaksanaan RPP pertemuan ketiga kelas eksperimen terlaksana 94%. Hal ini dapat dilihat dari item tahapan rencana pembelajaran yang terlewati yaitu pada tahap menutup pelajaran.Guru tidak mengimpormasikan materi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya karena materi sudah selesai.

Kategori persentase menunjukkan bahwa setiap pertemuan yang dilakukan dalam proses pembelajaran Problem Based Learning (PBL) adalah sangat baik, dimana siswa mampu dalam mengorganisasikan pemikirannya dengan sangat baik dan siswa mengikuti secara optimal kegiatan - kegiatan yang disajikan oleh guru mulai dari perencanaan, persiapan pelaksanaan pembelajaran hingga menutup pelajaran.

Pembelajaran Berbasis Masalah adalah pembelajaran dengan ciri utamanya meliputi pengajuan pertanyaan atau masalah, memusatkan pada keterkaitan antar disiplin, penyelidikan autentik, kerja sama, menghasilkan

karya atau alat peraga. 54 pembelajaran ini diasarkan pada anggapan dasar bahwa situasi teka-teki atasa masalah yang tidak terdefinisi secara ketat akan merangsang rasa ingin tahu peserta didik sehingga melibatkan mereka secara inkuiri (Arends dalam Riyanto).

Oleh karena itu, dengan menggunakan Pembelajaran Berbasis Masalah diharapkan akan memperoleh gambaran kemampuan siswa berfikir kreatif. Pada dasarnya seringkali kita menemukan bahwa kebanyakan guru di dalam proses belajar mengajar selalu menggunakan metode ceramah atau metode ekspositori dan hanya media papan tulis saja yang digunakan, sehingga membuat para siswa menjadi cepat bosan, mengantuk, dan hanya mencatat saja. Akibatnya tidak jarang yang asalnya menyenangi pelajaran matematika kemudian kembali tidak menyenanginya. Untuk itu perlu digunakan berbagia metode pembelajaran yang relavan dengan materi yang diajarkan.

Penelitian di atas, sejalan dengan tujuan pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yang dimana penekanan utama proses belajaran menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terletak pada kemampuan siswa untuk memecahkan masalah dan mencari jawaban mereka sendiri, lalu diakhiri dengan memberikan jawaban atau solusi atas permasalahan yang tersaji. Hal ini juga selaras dengan maksud dan pengertian dari pembelajaran yang berbasis Problem Based Learning (PBL) seperti yang diungkapkan oleh Arends (dalam Trianto)

54Ibid., h. 287

“Pembelajaran Berbasis Masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran dimana siswa mengerjakan permasalahan yang otentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berfikir tingkat tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri. Pembelajaran Berbasis Masalah adalah suatu model pembelajaran yang dirancang dan dikembangkan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memecakan masalah.

Penelitian di atas juga sejalan dengan Kelebihan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yaitu Model Problem Based Learning (PBL)lebih mengembangkan keterampilan kritis dan keterampilan kreatif dan mempunyai inisiatif untuk belajar secara mandiri,aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya model Problem Based Learning (PBL) menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan sendiri terhadap sebuah konsep dan mampu mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. Penelitian di atas membedakan antara kemampuan berfikir kreatif kelas eksperimen dan kelas kontrol, dimana kelas eksperimen yang diberi perlakuan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) lebih mampu mengembangkan kemampuan intelektualnya hal ini ditinjau dari nilai rata-rata kelas eksperimen lebih besar dari kelas kontrol.

Proses berlangsungnya kegiatan pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada penelitian ini adalah dimana penekanan utama dalam proses belajar terletak pada kemampuan siswa untuk memecahkan masalah dengan cara mereka sendiri, kemudian mengidentifikasi dengan cermat dan teliti, lalu di akhiri dengan memberikan jawaban atau solusi atas permasalahan yang tersaji.Prosespembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada penelitian ini juga sangat baik dalam membantu meningkatkan kemampuan berfikir kreatif siswa, hal ini ditinjau dariketerlibatan siswa dalam setiap proses belajar, dilihat dari kategori keterlaksanaan RPP bahwa siswa mengikuti kegiatan pembelajaran pada setiap pertemuan secara optimal. Hal ini mengakibatkan siswa mampu mengembangkan kemampuanberfikir kreatif yang dimilikinya.

Sebagai metode pembelajaran yang berorientasi pada pemecahan masalah , model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) mendorong peneliti menyajikan bahan pelajaran tidak dalam „bentuk jadi‟ dengan tujuan merangsang beragam pertanyaan atau bahkan keraguan.

Selanjutnya Peneliti mendorong siswa untuk mengamati dan menemukan masalahnya. Berikut adalah rangkaian aktivitas yang dilakukan siswa dalam memecahkan maasalah dengan cara mereka sendiri : Siswa menemukan masalah sendiri atau mempunyai keinginan sendiri untuk memecahkan masalah, kemudian masalah dirumuskan seoperasional mungkin, sehingga terlihat kemungkinannya untuk diselesaikan. Siswa mengolah data lalu menarik kesimpulan.

Titik tekan utama pada proses pembelajaran yang dilakukan pada penelitian ini sudah tidak lagi berpusat kepada guru, tetapi pada pengembangan kemampuan berfikir kreatif siswa yaitu mengembangkan kemampuan siswa dalam mengemukan ide – idenya. Tugas guru hanya lebih kepada membimbing serta mengontrol ataupun sebagai fasilitator.

Proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yang dilakukan pada penelitian ini pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antar siswa, interaksi siswa dengan guru maupun interaksi siswa dengan lingkungan. Pembelajaran sebagai proses interaksi artinya menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar.

Hal inilah yang membuat siswa aktif didalam keingintahuannya tentang materi atau permasalahan yang tersaji.

Keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran akan membuat suasana belajar begitu menyenangkan. Menurut Penjelasan Dwy Tyas Utami (Panduan PAKEM PKn SD) , Proses pembelajaran yang demikian akan banyak memberikan hal positif salah satunya adalah membantu siswa memunculkan potensinya. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dikaji peneliti mengenai kemampuan berfikir kreatiif siswa terkhusus pembelajaran matematika yakni meningkatkan kemampuan berfikir kreatif siswa yang dimana siswa dapat mengemukakan ide – ide atau gagasannya dalam upaya menyelesaikan suatu permasalahan – permasalahan yang tersaji melalui model pembelajarn Problem Based Learning (PBL).

Aktivitas belajar siswa dengan menggunakan modelProblem Based Learning (PBL)lebih cenderung senang mencari dan memecahkan soal dengan bekerja sama dan masing-masing siswa dapat mempertahankan pendapatnya. Dari masing-masing pendapat siswa, ditemukan berbagai macam ide-ide kreatif dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Ide kreatif yang mereka ajukan dikembangkan dengan menerapkannya dalam menyelesaikan soal-soal yang ada di LKS. Dengan demikian langkah- langkah pembelajaran dalam model Problem Based Learning (PBL)sangat efektif dalam meningkatkan kemampuan berfikir kreatif siswa.

BAB V KESIMPULAN

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dalam penelitian ini dengan menggunakan uji-t diperoleh ttabel = 2,179 dan thitung = 2,043 maka diketahui nilai thitung(2,179) > ttabel (2,043) dengan dk yang besarnya dk = n1 + n2 – 2 dengan taraf signifikansinya 5%. Karena thitung lebih besar dari ttabel pada taraf sisgnifikan 5% maka H0 ditolak dan H1 diterima.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa “ model Problem Based Learning (PBL)efektif dalam meningkatkan kemampuan berfikir kreatif siswa pada pembelajaran matematika kelas IXMTs Riadhul Ulum tahun pelajaran 2017/2018.”

B. SARAN

Berdasarkan hasil penelitian ini, maka peneliti memberikan saran kepada guru mata pelajaran Matematika dan siswa sebagai bahan/acuan dalam meningkatkan prestasi belajar.

1. Bagi Kepala MTsRiadhul Ulum Ampenan agar lebih menekankan kepada guru yang belum dan sudah sertifikasi untuk meningkatkan kualitas mengajar.

2. Bagi guru, agar dapat meningkatkan kualitas mengajar dengan menggunkan model-model pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kualitas peserta didik.

73

3. Bagi siswa, agar dapat meningkatkan belajar dan lebih memperhatikan guru yang mengajar di kelas. Karena keberhasilan peserta didik tidak hanya bergantung pada guru saja tetapi juga berdasarkan kemauan yang kuat dari diri kita sendiri selaku siswa yang diajar.

Jakarta: Prenada Media Grup, 2012.

Agama RI Al-Qur’an Dapertemen. Jakarta: Pene Pundi Aksara, 2015.

Boeree, G. George. Metode Pembelajaran dan Pengajaran. Jokjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010

Citriadin, Yudi. Dasar-Dasar Pendidikan. Mataram, 2014.

Cahyaningsi, U dan Ghufron, A. “Pengaruh Penggunaan Model Problem Based Learning Terhadap Krakter Kreatif dan Berfikir Kritis dalam Pembelajaran Matematik” Vol. 15, Nomor. 1, Oktober 2017, hlm.45

Didi, Suryadi dan Erman Tatang. Eksplorasi Matematika Pembelajaran Pemecahan Masalah. Jakarta: Karya Duta Wahana, 2011.

D.H, Jonessen. Learning to solve problem: A handbook for designing problem- solvin learning environments. New York, NY: Routledge, 2011

Fitri, Rahma dkk.’’ Penerapan Strategi The Firing Line Pada Pembelajaran Matematika Siswa Kelas XI Ips Sma Negeri 1 Batipuh’’,Jurnal Pendidikan Matematika, 2014.

Herdian. Berfikir Kritis dan Kreatif dalam Pembelajaran Matematika. Jakarta:

Rineka Cipta,2010.

Hairunnas. Pengaruh Metode pembelajaran Problem Based Leaning terhadap kemampuan Aktivitas. Pada Materi Pokok Peluang siswa kelas XI SMA Negeri 1 Langgudu Kab.Bima Tahun Pelajaran. 2012

Indriati, dkk. Jurnal Pendidikan Matematika. Volume 3 No.1, Juni Palembang:

Program Stud Pendidikan Matematika Program Pasca Sarjana UNSRI, 2009.

Iskandar, Dahlan. Psikologi Pendidikan/Sebuah Oriantasi Baru. Cipayung: Gaung Persada Press, 2010.

Jamudin. Penerapan pendekatan Problem Based Learning Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa. Materi Pada Konsep Persamaan Linier Satu Variable (PLSV) siswa kelas VII MTs NW Miftahussa’adah Lingkok Godak tahun pelajaran 2013.

Astuti, Mulya, Alfira. Statistika Penelitian. Mataram: Insan Madani Publishing, 2016.

Muijs, Daniel dan Reynolds, David. Effective Teaching Teori dan Aplikasi.

Jakarta: Pustaka Pelajar, 2013.

Mulyoto Suharno, “Pendekatan Kooperatif dalam Pembelajaran Matematika ditinjau dari Kreativitas siswa”, [Jurnal Teknodika]. Vol. 2, Nomor 4, November 2017, hlm. 45

Rusman. Seri Manajemen Bermutu Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: PT Raja Grafindo, 2010.

Roestiya.. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta, 2012.

R Evans, James. Berfikir Kreatif, dalam Pengembalian Keputusan dan Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara, 2010.

Sugiyono. metode pembelajaran kuantitatif kualitatif dan R&D.

Bandung:Alfabeta, 2016.

Sudarman, Momon. Mengembangkan Keterampilan Berfikir Kreatif. Jakarta:

Rajawali Pers, 2013.

Samani, Muchlas dkk. Konsep dan Pendidikan Karakter. Bandung: Remaja Rosada, 2012

Suparman, “Peningkatan Kemampuan Berfikir Kreatif Siswa Melalui Penerapan Model Problem Based Learning (PBL)”, Daring, Vol. 3, Nomor 2, November 2017, hlm. 45.

Trianto. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Kontruktivistik.

Jakarta: Prestasi Pustaka, 2011.

Triyanto. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: PT Bumi Aksara,2014.

Tomy, “Meningkatkan Kemampuan Berfikir Kreatif Siswa dengan Menggunakan Pembelajaran Berbasis Masalah”, Jurnal Matematika. Vol. 1, Nomor 1, Oktober 2017, hlm.22

Yatim, Riyanto. Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2014.

Utami, Munandar. Pengembangan kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2012.

Yenny, Putri, Pratiwi. Pengaruh model Problem Based Learning Terhadap Kemampuan Berfikir Kritis. Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Selong Pada Materi Pokok Limit Tahun Pelajaran 2012”..

Uno, B. Hamzah dan Mohamad, Nurdin. Belajar dengan Pendekatan PAILKEM.

Jakarta: PT Bumi Aksara, 2015

Standar Kompetensi : 4. Memahami peluang kejadian sederhana

Kompetensi Dasar

Materi Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

Indikator Pencapaian Kompetensi

Penilaian

Alokasi Waktu

Sumber Belajar Teknik Bentuk Contoh Instrumen

4.1 Menentu- kan ruang sampel suatu percobaan

Peluang Mendiskusikan pengertian ruang sampel, dan titik sampel suatu percobaan.

Menjelaskan pengertian ruang sampel dan titik sampel suatu percobaan.

Tes lisan Daftar pertanyaan

Kalau satu mata uang dilambungkan satu kali, maka:

a. apa sajakah titik sampelnya?

b. apakah ruang sampelnya?

1x40 menit Buku teks, lingkungan, dadu, mata uang, kartu bridge, kartu bernomor

Mendiskusikan untuk menentukan ruang sampel suatu percobaan dengan mendata titik sampelnya

Menentukan ruang sampel suatu percobaan dengan mendata titik sampelnya.

Tes tertulis Isian singkat Dua dadu dilambungkan satu kali.

Titik sampelnya adalah . Ruang sampelnya adalah .

1x40 menit

4.2 Menentu- kan pelu- ang suatu kejadian sederhana

Peluang Menentukan peluang masing-masing titik sampel pada ruang sampel suatu percobaan misal melambungkan uang logam, dadu

Menghitung peluang masing-masing titik sampel pada ruang sampel suatu percobaan

Tes tertulis Isian singkat Sebuah dadu dilambungkan satu kali. Peluang muncul mata 4 adalah

2x40 menit Buku teks, lingkungan, dadu, mata uang, kartu bridge, kartu bernomor

Mencari nilai peluang

suatu kejadian Menghitung nilai peluang suatu kejadian.

Tes tertulis Uraian Dua buah dadu dilambungkan satu kali. A adalah kejadian muncul jumlah mata dadu sama dengan 9. Berapakah peluang terjadinya peristiwa A?

4x40 menit

Tekun ( diligence )

Tanggung jawab ( responsibility )

Keterangan:

Sesuai Standar Proses, pelaksanaan kegiatan pembelajaran terdiri atas kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup. Dalam silabus ini pada kolom kegiatan pembelajaran hanya berisi kegiatan inti.

Mengetahui,

Kepala MTs MTs Riadhul Ulum

( Roby Hidayat, S.Pd ) NIP. -

Selasa, 15 November 2017 Guru Mapel Matematika.

(Sawal’udin, S.Pd, M.Si

NIP . -

Materi Pokok : Peluang

Sub Materi Pokok : 1. Peluang Suatu Kejadian 2. Peluang Suatu Kejadian Alokasi Waktu : 6 40 Menit (3 Pertemuan) A. Kompetensi Inti

KI 1 : Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya

KI 2 : Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan ala

m dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya

KI 3 : Memahami dan menerapkan pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata

KI 4 : Mengolah, menyaji, dan menalar dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori

B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi

Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi 1.1 Menghargai dan menghayati

ajaran agama yang dianutnya

1.1.1 Menunjukkan sikap bersyukur terhadap karunia Allah atas kesempatan mempelajari kegunaan matematika dalam kehidupan sehari- hari melalui belajar pola bilangan.

1.1.2 Berdoa sebelum memulai proses pembelajaran.

1.2 Menunjukkan sikap logis, kritis, analitik, konsisten, dan teliti, bertanggung jawab, dan tidak mudah menyerah dalam memecahkan masalah

1.2.1 Menunjukkan sikap ingin tahu yang ditandai dengan bertanya kepada siswa lain atau guru.

1.2.2 Menunjukkan sikap bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugas dari guru.

1.3 Memahami peluang kejadian sederhana

1.3.1 Menentukan ruang sampel suatu percobaan 1.3.2 Menentukan konsep titik sampel suatu

kejadian tunggal C. Tujuan Pembelajaran

1. Peserta didik dapat menjelaskan definisi peluang 2. Peserta didik menyebutkan sifat dasar peluang

6. Peserta didik dapat melakukan percobaan menentukan dengan peluang dua kejadian saling asing

7. Peserta didik dapat melakukan percobaan dengan dua kejadian

8. Peserta didik dapat melakukan percobaan dengan peluang kejadian saling bebas 9. Peserta didik dapat melakukan percobaan dengan menggunakan permutasai 10.Peserta didik dapat melakukan percobaan dengan menggunakan kombinasi D. Materi Pembelajaran

1. Peluang Suatu Kejadian a. Definisi Peluang

Misalnya S adalah ruang sampel dari suatu percobaan dengan setiap anggota S memiliki kesempatan muncul yang sama. Andaikan A adalah suatu kejadian dengan , maka peluang kejadian A adalah

P (A) =

) (

) (

S n

A n

Dengan :

p (A) : Peluang kejadian A

n (A) : Banyak anggota dalam kejadian A

n (S) : Banyak anggota dalam himpunan ruang sampel b. Sifat dasar peluang

Untuk setiap kejadain dari ruang sampel . 1.

2. maka 3. Jika maka 4.

c. Kisaran Nilai Peluang

Jika Kejadian A dalam ruang sampel S selalu terjadi maka n(A) = n(S), sehingga peluang kejadian A adalah :

P (A) =

d. Frekuensi Harapan Suatu Kejadian

e. Peluang Komplemen Suatu Kejadian 1.

2.

f. Peluang Dua Kejadian Saling Asing

1. Peluang gabungan dua kejadian (kejadian A atau kejadian B) dapat ditentukan denga rumus :

a.

2. Peluang gabungan dua kejadian saling asing (Kejadai A atau kejadian B dimana A dan B saling asing), maka :

a.

g. Peluang Kejadian Saling Bebas

Jika kejadian A tidak memengaruhi terjadinya kejadaian B dan sebaliknya atau terjadi atau tidaknya kejadaian A tidak tergantung pada terjadi atau tidaknya kejadian B. Maka Rumusnya adalah :

1.

h. Peluang menggunakan Permutasi dan Kombinasi 1. Permutasi

n

atau n , dengan P(n.r) atau 2. Kombinasi

n atau n atau atau C (n,r) atau [ E. Metode Pembelajaran

Model : Problem Based Learning Metode : Ceramah , dan tanyajawab.

F. Media Pembelajaran

1. LKK (Lembar Kerja Kelompok)

2. Referensi lain yang relevan H. Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan Pertama

Kegiatan Deskripsi Alokasi

Waktu Pendahuluan 1. Guru menyiapkan fisik dan psikis siswa dengan menyapa dan

memberi salam serta memeriksa kehadiran peserta didik 2. Guru menyampaikan cakupan materi dan tujuan pembelajaran 3. Guru membuat kesepakatan dengan peserta didik terkait

kegiatan yang akan dilakukan (termasuk di dalamnya tentang pembagian kelompok kerja peserta didik).

4. Guru menampilkan beberapa permasalahan dalam kehidupan terkait materi pembelajaran.

5. Apersepsi: dengan tanya jawab guru melihat pemahaman siswa pada materi sebelumnya.

10 Menit

Inti Menemukan Fakta

1. Guru membagikan LKK pada setiap kelompok, kemudian setiap kelompok mengerjakan LKK yang diberi guru dengan menggunakan langkah PBL

65 Menit

Menemukan Masalah

2. Guru mendampingi siswa saat berdiskusi, kemudian setiap kelompok menganalisis masalah yang ditemukan berdasarkan fakta-fakta yang diketahui

Menemukan Gagasan

3. Guru mendampingi peserta didik saat berdiskusi, kemudian setiap kelompok mencari berbagai alternative penyelesaian untuk pemecahan masalah tersebut

Menemukan Solusi

4. Guru mendampingi peserta didik saat berdiskusi, kemudian setiap kelompok menyeleksi berbagai alternative jawaban.

Jawaban yang dipilih adalah jawaban yang paling efisien Menemukan Penerimaan

5. Guru mendampingi peserta didik saat berdiskusi, dan peserta didik mengerjakan penyelesaian salah satu jawaban yang dipilih tersebut hingga ditemukan hasil jawabannya

6. Guru mengklarifikasi jawaban peserta didik dan Setiap kelompok mempersentasikan jawaban-jawaban dari kelompok masing-masing

Dokumen terkait