• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan Kinerja Keuangan

Dalam dokumen Inovasi dari Hati (Halaman 167-175)

Pembahasan Utama

Pencapaian kinerja Perusahaan ditandai dengan peningkatan yang menggembirakan pada beberapa fokus keuangan.

Perusahaan mencatat pertumbuhan kredit sebesar 12,4%

menjadi Rp176,4 triliun pada tahun 2014 dibandingkan dengan posisi tahun 2013 sebesar Rp157,0 triliun.

Peningkatan kredit ini mampu mendukung peningkatan total aset sehingga bertumbuh sebesar 6,5% menjadi Rp233,2 triliun pada tahun 2014 dibandingkan dengan posisi tahun 2013 sebesar Rp218,9 triliun.

Perusahaan juga mencatat peningkatan simpanan dari nasabah sebesar 6,7% menjadi Rp174,7 triliun pada tahun 2014 dibandingkan posisi tahun 2013 sebesar Rp163,7 triliun. Peningkatan simpanan dari nasabah ini didukung oleh pertumbuhan tabungan yaitu sebesar 11,2%, tumbuh di atas rata-rata industri yaitu sebesar 5,9%.

Dari segi hasil usaha, penghasilan bunga bersih meningkat sebesar 5,6% menjadi Rp10,7 triliun pada tahun 2014 dibandingkan dengan tahun 2013 sebesar Rp10,1 triliun.

Kenaikan penghasilan bunga bersih ini menghasilkan marjin bunga bersih (NIM) meningkat sebesar 2 bps menjadi 5,36% (2013: 5,34%).

Biaya operasional meningkat sebesar 5,2% menjadi Rp6,8 triliun pada tahun 2014 dibandingkan dengan tahun 2013 sebesar Rp6,5 triliun. Peningkatan biaya operasional tersebut jauh di bawah inflasi 2014 yaitu sebesar 8,4%.

Kondisi global mempengaruhi kinerja Perusahaan Pada tahun 2014, Perusahaan mengalami penurunan laba bersih sebesar 45,3% menjadi Rp2,3 triliun dibandingkan dengan tahun 2013 sebesar Rp4,3 triliun. Penurunan perolehan laba bersih Perusahaan pada tahun 2014 terutama tercatat pada penurunan pendapatan selain bunga yang disebabkan oleh diberlakukannya peraturan bancassurance dan peningkatan beban pembentukan CKPN. Hal ini secara langsung dipengaruhi oleh perlambatan perekonomian global, diantaranya terkait dengan penurunan harga beberapa komoditas dunia (batubara, karet, dan kelapa sawit), yang berdampak pada sektor pertambangan dan sektor terkait di Indonesia. Selain faktor tersebut, perekonomian Indonesia juga diwarnai oleh kenaikan inflasi, pencabutan subsidi BBM, dan Pemilihan Umum yang berlangsung pada tahun 2014 juga memberikan dampak siklis yang secara historis kenaikan inflasi juga menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi 2014 yaitu sebesar 5,0% (2013:

5,6%)

menurunnya pertumbuhan ekonomi Amerika dan Cina yaitu sebesar 2,4% dan 7,4%, menyebabkan peningkatan defisit neraca perdagangan Indonesia sebesar USD1,9 miliar dan berimbas pada mengetatnya likuiditas yang tersedia di pasar. Peningkatan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 1,75% pada tahun 2013 dan 0,25% pada tahun 2014 mengakibatkan penurunan LDR industri sebesar 0,6%

dari tahun 2013 dan meningkatnya biaya bunga industri Indonesia sebesar 1,2% menjadi 7,0% sejak tahun 2013.

Faktor-faktor ini mengakibatkan guncangan di industri perbankan Indonesia, dimana kredit bermasalah pada industri perbankan juga mengalami peningkatan sebesar 39 bps menjadi 2,2% dari posisi 2013 sebesar 1,8%.

Terlepas dari kondisi tersebut, Perusahaan menutup tahun 2014 dengan mempertahankan posisi sebagai bank terbesar kelima dari sisi aset, kredit dan dana nasabah. Untuk mendukung pertumbuhan bisnis, Perusahaan melakukan sejumlah inisiatif dan akan meneruskan pengembangan untuk mendukung tahap pertumbuhan selanjutnya.

Perluasan jangkauan jaringan elektronik

Perusahaan terus berusaha untuk memberikan pelayanan terbaik kepada lebih dari 4 juta nasabahnya yaitu didukung dengan 964 kantor cabang, 3.272 ATM, 666 CDM dan 195 SST dengan total 15.003 karyawan yang tersebar di seluruh Indonesia. Selama tahun 2014, Perusahaan telah menambah 8 Digital Lounge yang melayani nasabah di tempat-tempat strategis sehingga total Digital Lounge yang dimiliki Perusahaan adalah sebanyak 21 cabang. Selain itu, Perusahaan juga memiliki 20 buah kas mobil untuk menjangkau daerah layanan yang lebih luas.

Strategi 2015

Perusahaan akan memberikan penekanan pada kualitas pembiayaan berdasarkan risk appetite yang akan dituangkan ke dalam strategi bisnis. Perusahaan juga tetap berfokus “Becoming A Leading Digital Bank”, dengan mengembangkan jaringan-jaringan elektronik.

Perusahaan akan melanjutkan peningkatan inisiatif- inisiatif khusus antara lain optimalisasi cabang, perbaikan Service Level Agreement (SLA) atas pencairan kredit, dan pengembangan produk yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

Industri (per Desember 2014) CIMB Niaga

Bank Lain (per Desember 2014)

Perusahaan mengalami kenaikan sebesar 2 bps menjadi 5,4% pada tahun 2014.

Kenaikan tersebut terutama didukung oleh peningkatan pendapatan bunga bersih sebesar 5,6% yang sejalan dengan pertumbuhan kredit Perusahaan sebesar 12,4%.

bank lain adalah sebesar 5,1% pada tahun 2014.

Marjin pendapatan bunga bersih secara rata-rata industri perbankan mengalami penurunan sebesar 65 bps menjadi 4,2%

dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 4,9 %.

Rasio Dana Murah (Current Account and Saving Account) - % Rasio Dana Murah mengalami peningkatan

sebesar 88 bps pada tahun 2014 menjadi 44,9% dibandingkan dengan posisi tahun lalu sebesar 44,0%.

Giro dan Tabungan meningkat masing- masing sebesar 6,6% dan 11,2%. Rasio dana murah Perusahaan juga lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata bank lain.

Rasio Dana Murah bank lain mengalami penurunan sebesar 1,6% menjadi 44,2%

dibandingkan dengan posisi sebelumnya sebesar 45,9%.

Hal yang sama juga terjadi pada rasio dana murah yang secara industri mengalami penurunan sebesar 3,4% menjadi 52,8%

pada tahun 2014.

Rasio Kredit Bermasalah – Bruto (Non Performing Loan – Gross) - % Rasio Kredit Bermasalah Perusahaan

meningkat menjadi 3,9% dibandingkan dengan posisi tahun lalu sebesar 2,2%. Hal ini disebabkan terutama karena penurunan kualitas kredit perbankan korporat dan perbankan komersial yang diakibatkan oleh kondisi perekonomian global yang tidak stabil sehingga mempengaruhi sektor perekonomian tertentu seperti pertambangan.

Rasio Kredit Bermasalah bank lain juga mengalami peningkatan sebesar 27 bps pada tahun 2014 menjadi 2,4% dibandingkan dengan posisi tahun lalu sebesar 2,2%.

Secara industri, rasio kredit bermasalah mengalami peningkatan sebesar 39 bps menjadi 2,2% dibandingkan tahun sebelumnya yaitu sebesar 1,8%.

Rasio Kredit terhadap Dana Pihak Ketiga (Loan to Deposit) - % Rasio Kredit terhadap Dana Pihak Ketiga

pada tahun 2014 mengalami kenaikan sebesar 5,0% menjadi 99,5% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan kredit yang disalurkan Perusahaan sebesar 12,4%, dengan kontribusi paling besar adalah kredit Perbankan Korporat yang tumbuh 26,2%.

Rasio Kredit terhadap Dana Pihak Ketiga pada bank lain mengalami peningkatan sebesar 2,0% menjadi 101,8%.

Secara industri, rasio kredit terhadap dana pihak ketiga mengalami penurunan sebesar 29 bps menjadi 89,4% pada tahun 2014.

2012 2013 2014

6,3 5,8

5,1

5,9 5,3 5,4

5,5 4,9 4,2

2012 2013 2014

47,1 43,5 45,9 44,0 44,2 44,9

57,2 56,2 52,8

2012 2013 2014

2,2 2,3 2,2 2,2 2,4 3,9

1,9 1,8 2,2

2012 2013 2014

101,195,0 99,7 94,5 101,899,5

83,6 89,7 89,4

Rasio Kecukupan Modal (Capital Adequacy Ratio) - % Rasio Kecukupan Modal Perusahaan

mengalami kenaikan sebesar 22 bps menjadi 15,6% pada tahun 2014, dimana posisi modal Perusahaan masih berada di atas kewajiban penyediaan modal minimum primer dan sekunder menurut BI sebesar 12%.

Rasio Kecukupan Modal bank lain juga mengalami kenaikan sebesar 41 bps menjadi 16,1% pada tahun 2014.

Sedangkan secara industri, rasio kecukupan modal meningkat sebesar 1,4% menjadi 19,6% dibandingkan posisi tahun lalu sebesar 18,1%.

Rasio Kredit per Cabang - (dalam Rp miliar) Rasio Kredit per Cabang Perusahaan

mengalami kenaikan sebesar Rp40 miliar menjadi Rp311 miliar per cabang pada 2014 dibandingkan dengan tahun lalu. Hal ini menunjukkan produktivitas cabang dalam memberikan kredit meningkat apabila dibandingkan dengan prduktivitas tahun lalu.

Rasio Kredit per Cabang bank lain juga mengalami kenaikan namun tidak terlalu signifikan menjadi sebesar Rp201 miliar per cabang.

Sedangkan secara industri, rasio kredit per cabang meningkat sebesar Rp7 miliar menjadi Rp184 miliar per cabang.

Rasio Dana Murah per Cabang - (dalam Rp miliar) Rasio Dana Murah per Cabang Perusahaan

mengalami kenaikan sebesar Rp14 miliar menjadi Rp138 miliar pada 2014 dibandingkan dengan tahun lalu. Hal ini menunjukkan peningkatan pada produktivitas cabang dalam menghimpun dana murah dari masyarakat.

Rasio Dana Murah per Cabang bank lain juga mengalami kenaikan menjadi Rp87 miliar pada tahun 2014.

Sedangkan secara industri, rasio dana murah per cabang mengalami penurunan menjadi Rp109 miliar per cabang seiring dengan perlambatan pertumbuhan dana murah industri.

2012 2013 2014

16,6 15,2 15,7 15,4 16,1 15,6

17,4 18,1 19,6

2012 2013 2014

142 246 174 271 201 311

163 177 184

2012 2013 2014

66 80 87

111 124 138

111 111 109

Industri (per Desember 2014) CIMB Niaga

Bank Lain (per Desember 2014)

Kas dan Setara Kas Bersih 31.446 31.542 25.618 0,3 (18,8)

Efek-Efek dan Obligasi Pemerintah – Bersih 14.262 20.037 22.310 40,5 11,3

Kredit yang Diberikan – Kotor 145.399 156.984 176.383 8,0 12,4

Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (3.754) (4.075) (6.109) 8,5 50,1

Kredit yang Diberikan – Bersih 141.645 152.909 170.274 8,0 11,4

Aset Tetap – Bersih 1.661 2.068 2.485 24,5 20,2

Aset lain-lain – Bersih 8.398 12.310 12.475 46,6 1,3

Total Aset 197.412 218.866 233.162 10,9 6,5

Giro 35.758 36.793 39.225 2,9 6,6

Tabungan 29.893 35.233 39.166 17,9 11,2

Deposito 85.364 91.711 96.332 7,4 5,0

Total Simpanan dari Nasabah 151.015 163.737 174.723 8,4 6,7

Simpanan dari Bank Lain 3.220 806 2.067 (75,0) 1,6x

Efek-efek yang diterbitkan dan Pinjaman

Subordinasi 7.112 8.939 8.774 25,7 (1,9)

Pinjaman yang diterima 6.227 8.591 8.815 38,0 2,6

Liabilitas lain-lain 7.186 10.907 10.335 51,8 (5,2)

Total Liabilitas 174.760 192.980 204.714 10,4 6,1

Total Ekuitas 22.652 25.886 28.448 14,3 9,9

Total Liabilitas dan Ekuitas 197.412 218.866 233.162 10,9 6,5

Sampai dengan akhir tahun 2014, Perusahaan mencatatkan pertumbuhan aset sebesar 6,5% dengan total Rp233,2 triliun dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2013: Rp218,9 triliun), pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan kredit sebagai pendorong utama yakni sebesar Rp19,4 triliun atau meningkat sebesar 12,4% pada tahun 2014.

Pertumbuhan aset tersebut memperkokoh Perusahaan sebagai bank terbesar ke-5 di Indonesia dari sisi aset. Selain didorong oleh pertumbuhan kredit yang semakin membaik, Perusahaan juga mencatatkan pertumbuhan dana dari simpanan nasabah sebesar Rp11,0 triliun atau tumbuh 6,7% dibandingkan tahun sebelumnya dengan deposito berjangka sebagai penyumbang terbesar yaitu 55,1% dari total simpanan dari nasabah di tahun 2014.

KREDIT

Pada tahun 2014, jumlah kredit yang diberikan oleh Perusahaan – kotor mencapai Rp176,4 triliun. Jumlah tersebut meningkat sebesar 12,4% dibandingkan dengan pencapaian di tahun 2013 yaitu sebesar Rp157,0 triliun, sehingga menempatkan Perusahaan sebagai bank terbesar ke-5 dari sisi pemberian kredit. Ekspansi kredit ini dilakukan melalui inovasi produk-produk baru yang kompetitif, dengan tetap mengupayakan peningkatkan kualitas kredit yang diberikan.

Kredit Berdasarkan Jenis Mata Uang

Selama tahun 2014, komposisi kredit yang disalurkan dalam mata uang Rupiah dan mata uang asing adalah masing-masing sebesar 81,1% dan 18,9% atau mengalami perubahan apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2013: Rupiah 83,5% dan mata uang asing 16,5%).

Kredit dalam mata uang Rupiah tercatat sebesar Rp143,1 triliun atau meningkat sebesar 9,2% dibandingkan tahun sebelumnya (2013: Rp131,1 triliun). Sedangkan untuk kredit dalam mata uang asing tercatat sebesar Rp33,3 triliun atau meningkat sebesar 28,3% (2013: Rp25,9 triliun). Kenaikan nilai tukar mata uang asing yang terjadi pada tahun 2014 memberikan dampak terhadap peningkatan kredit mata uang asing dalam setara rupiah.

Komposisi Kredit Berdasarkan Jenis Mata Uang (%)

2014 2013

2012 83,9

16,1 16,5 18,9

81,1

83,5 Valas

Rupiah

KREDIT BERDASARKAN JENIS MATA UANG DAN JENIS SUKU BUNGA

Rp triliun 2012 2013 2014 Perubahan (%)

2012-2013 2013-2014

Rupiah 122,0 131,1 143,1 7,4 9,2

Suku Bunga Tetap 15,8 19,3 19,7 21,5 2,1

Suku Bunga Mengambang 106,2 111,8 123,4 5,2 10,4

Valas 23,4 25,9 33,3 10,7 28,6

Suku Bunga Tetap 0,9 0,8 0,9 15,2 12,5

Suku Bunga Mengambang 22,5 25,1 32,4 11,8 29,1

Total 145,4 157,0 176,4 8,0 12,4

Komposisi Kredit Berdasarkan Geografis (%)

Jakarta: 61,4 Jawa Timur: 10,0 Sumatera: 9,2 Jawa Tengah: 6,7 Jawa Barat: 6,0 Indonesia Timur: 2,6 Lainnya: 4,1

Rincian Kredit Berdasarkan Geografis KREDIT BERDASARKAN GEOGRAFIS

Rp triliun 2012 2013 2014 Perubahan (%)

2012-2013 2013-2014

Jakarta 94,1 95,4 108,4 1,5 13,6

Jawa Timur 10,3 15,0 17,6 45,7 17,2

Sumatera 13,0 14,7 16,3 13,2 10,4

Jawa Tengah 8,9 9,7 11,8 8,7 21,6

Jawa Barat 9,7 10,4 10,6 6,4 2,6

Indonesia Timur 4,7 4,4 4,7 (6,2) 6,2

Lainnya 4,7 7,4 7,0 57,7 (4,0)

Total 145,4 157,0 176,4 8,0 12,4

Kredit Berdasarkan Jenis Penggunaannya

Pertumbuhan kredit Perusahaan yang mencapai 12,4%

tidak lain adalah berkat kontribusi dari kredit modal kerja dan kredit investasi. Tercatat penyaluran kredit modal kerja Perusahaan selama tahun 2014 mencapai Rp86,4 triliun atau meningkat 18,3% apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2013: Rp73,1 triliun), dan untuk kredit investasi mencapai Rp47,3 triliun atau meningkat 11,5%

apabila dibandingkan dengan tahun 2013 sebesar 42,4 triliun. Sedangkan untuk kredit konsumsi meningkat 2,8%

menjadi Rp42,7 triliun (2013: Rp41,5 triliun).

Kredit modal kerja memberikan kontribusi terbesar terhadap total kredit yang diberikan Perusahaan selama tahun 2014 yaitu sebesar 49,0%, kemudian diikuti oleh kredit investasi dengan kontribusi 26,8% dan kredit konsumsi menyumbangkan 24,2% dari total kredit Perusahaan.

Kredit Berdasarkan Jenis Penggunaan (Rp Triliun)

2014 2013

2012 40,6

67,6

37,2 41,5

73,1 42,4

42,7 86,4 47,3

145,4 157,0 176,4

Investasi Modal Kerja Konsumsi Total Kredit Berdasarkan Geografis

Berdasarkan wilayah penyebarannya, distribusi penyaluran kredit Perusahaan terbesar terdapat di pulau Jawa dengan porsi penyaluran kredit sebesar 84,2% terhadap total kredit yang diberikan Perusahaan selama tahun 2014 dengan area Jakarta sebagai wilayah dengan kontribusi terbesar mencapai 61,4%, diikuti oleh daerah Jawa Timur dengan jumlah presentase penyaluran kredit sebesar 10,0%.

Kredit Berdasarkan Jenis Penggunaan (Rp Triliun)

2014 2013

2012 40,6

67,6

37,2 41,5

73,1 42,4

42,7 86,4 47,3

145,4 157,0 176,4

Investasi Modal Kerja Konsumsi Total

restoran, hotel dan administrasi sebesar 21,6% (2013:

20,0%), diikuti oleh sektor perindustrian sebesar 16,8%

(2013: 14,8%) dan sektor jasa usaha sebesar 15,9% (2013:

17,4%).

Hotel & Administrasi: 21,6 Perindustrian: 16,8 Jasa Usaha: 15,9 Perumahan: 12,7 Konsumsi: 11,1 Pertanian: 9,4 Lainnya: 12,5

Rincian Kredit Berdasarkan Sektor Ekonomi KREDIT BERDASARKAN SEKTOR EKONOMI

Rp triliun 2012 2013 2014 Perubahan (%)

2012-2013 2013-2014 Perdagangan, Restoran, Hotel & Administrasi 26,8 31,4 38,2 17,1 21,8

Perindustrian 21,6 23,2 29,5 7,2 27,4

Jasa Usaha 24,1 27,4 28,0 13,3 2,4

Perumahan 20,6 21,9 22,5 6,6 2,4

Pertanian 9,7 12,4 16,5 28,5 32,7

Konsumsi 16,6 19,5 19,7 17,7 0,6

Lainnya 26,0 21,2 22,0 (18,6) 4,3

Total 145,4 157,0 176,4 8,0 12,4

Kredit Berdasarkan Segmentasi

Berdasarkan segmentasi usaha, perbankan korporat yang mewakili 31,4% dari total kredit yang disalurkan oleh Perusahaan tumbuh 26,2% menjadi Rp55,4 triliun di tahun 2014 dibandingkan tahun 2013 sebesar Rp43,9 triliun. Diikuti oleh perbankan konsumer yang memberikan kontribusi terhadap total kredit Perusahaan 28,3% yang meningkat sebesar 4,4% menjadi Rp50,0 triliun (2013: Rp47,9 triliun).

Komposisi Kredit Berdasarkan Segmentasi (%)

Perbankan Korporat: 31,4 Perbankan Komersial: 20,5 Perbankan UMKM: 19,8 Perbankan Konsumer: 28,3

Rincian Kredit berdasarkan Segmentasi KREDIT BERDASARKAN SEGMENTASI*

Rp miliar 2012 2013 2014 Perubahan (%)

2012-2013 2013-2014

Perbankan Korporat 43,5 43,9 55,4 0,9 26,2

Perbankan Komersial 30,3 34,1 36,1 12,6 5,7

Perbankan UMKM 27,5 31,1 34,9 13,1 12,2

Perbankan Konsumer 44,1 47,9 50,0 8,6 4,4

Total 145,4 157,0 176,4 8,0 12,4

*Termasuk alokasi Syariah

Perbankan komersial mengalami pertumbuhan sebesar 5,7% pada 2014 menjadi Rp36,1 triliun (2013:Rp34,1 triliun) dengan kontribusi sebesar 20,5% dari seluruh portofolio kredit, diikuti dengan perbankan UMKM yang tumbuh

sebesar 12,2% menjadi Rp34,9 triliun dibandingkan tahun sebelumnya (2013: Rp31,1 triliun) dengan kontribusi sebesar 19,8% dari seluruh portofolio kredit.

Pelemahan pada perkonomian global berdampak pada menurunnya kualitas kredit dari beberapa sektor ekonomi khususnya pada sektor yang terkait dengan pertambangan.

Sampai dengan akhir tahun 2014, tercatat rasio kredit bermasalah pada sektor pertambangan meningkat sebesar 1,0% menjadi 2.5% (2013 : 1,5%). Penurunan kualitas kredit pada sektor pertambangan juga diikuti oleh penurunan kualitas kredit sektor pengangkutan, pergudangan dan komunikasi yang meningkat sebesar 1,2% menjadi sebesar 3,2% (2013 : 2,0%) dan sektor konstruksi yang mencapai 4,6% atau meningkat sebesar 0,5% apabila dibandingkan dengan tahun lalu yaitu sebesar 4,1%.

Rasio NPL Industri (%)

2014 2013

2012

4,1 1,8

2,0

1,5

4,6 2,2

3,2

2,5 3,6

1,9

2,1

1,2

Konstruksi

Transportasi, Pergudangan dan Komunikasi

Pertambangan Total Industri

Penurunan kualitas kredit pada beberapa sektor ekonomi tersebut secara langsung berdampak pada kualitas kredit yang diberikan oleh Perusahaan. Total kredit bermasalah (non performing loan atau NPL) mengalami peningkatan sebesar Rp3,4 triliun menjadi Rp6,9 triliun di tahun 2014 (2013: Rp3,5 triliun). Hal tersebut berakibat rasio kualitas kredit bermasalah Perusahaan meningkat, sebagaimana ditunjukan oleh rasio NPL gross sebesar 3,9% di tahun 2014 (2013: 2,2%).

Dari sisi segmentasi usaha, NPL rasio perbankan konsumer membaik dari 1,7% ditahun 2013 menjadi 1,6% di tahun 2014, namun NPL perbankan korporat dan perbankan komersial mengalami peningkatan masing-masing menjadi sebesar 7,3% (2013: 3,5%) dan 3,3% (2013: 1,9%), diikuti oleh perbankan UMKM sebesar 2,4% (2013: 2,2%).

Rasio NPL (%)

2014 2013

2012 Korporat

Komersial UMKM Konsumer

3,5 2,2

3,4 2,3

7,3 3,9

1,9

1,7 3,3

2,2

2,0 2,4

1,7

1,5 1,6

Total

Komposisi Kredit Berdasarkan Segmentasi (%)

Lancar: 91,8

Dalam perhatian khusus: 4,3 Kurang lancar: 0,4 Diragukan: 1,7 Macet: 1,8

Komposisi Kredit Bermasalah erdasarkan Sektor Ekonomi KOMPOSISI KREDIT BERMASALAH

BERDASARKAN SEKTOR EKONOMI

2012 2013 2014 Perubahan (%)

Rp miliar % Rp miliar % Rp miliar % 2012-2013 2013-2014

Perdagangan, restoran, hotel dan administrasi 540 16,4 541 15,5 1.928 28,0 0,2 2,6x

Jasa usaha 272 8,3 439 12,6 1.223 17,8 61,5 1,8x

Perindustrian 1.015 30,9 833 23,8 1.094 15,9 (18,0) 31,4

Pertambangan 148 4,5 194 5,6 921 13,3 31,0 3,7x

Perumahan 412 12,5 515 14,7 561 8,2 25,2 8,9

Pengangkutan, pergudangan dan komunikasi 408 12,4 500 14,3 494 7,2 22,4 (1,2)

Konsumsi 215 6,6 257 7,2 252 3,7 20,1 (2,0)

Listrik, gas dan air 106 3,2 80 2,3 204 3,0 (24,8) 1,6x

Konstruksi 9 0,3 19 0,6 109 1,6 1,2x 4,6x

Jasa pelayanan sosial 149 4,5 100 2,9 67 1,0 (32,6) (33,7)

Pertanian 13 0,4 19 0,5 28 0,3 41,6 48,0

Total 3.287 100,0 3.497 100,0 6.881 100,0 6,4 93,7

Dari sisi sektor ekonomi, total kredit bermasalah dari sektor perdagangan, restoran dan hotel memberikan kontribusi tertinggi sebesar 28,0% di tahun 2014 (2013: 15,5%) , diikuti oleh sektor jasa usaha sebesar 17,8% (2013: 12,6%).

Rp8,4 triliun dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2013:

Rp5,0 triliun). Hal tersebut menyebabkan rasio kredit yang mengalami penurunan nilai meningkat dari 3,2% di tahun 2013 menjadi 4,8% di tahun 2014.

Cadangan kerugian penurunan nilai selama tahun 2014 adalah sebesar Rp6,1 triliun atau meningkat dari tahun sebelumnya (2013: 4,1 triliun).

*Termasuk selisih kurs karena penjabaran mata uang asing

Saldo Des 13 Pembentukan Saldo Des 14

Cadangan

Penerimaan Kembali kredit Hapus

Buku Lainnya*

4.075

(1.157)

(526)

6.109

Penentuan penurunan nilai kredit yang diberikan tersebut dapat dilakukan secara individual (Individual Assessment) dan kolektif (Collective Assessment).

Kredit tidak signifikan OS< Rp15 miliar

Bukti objektif penurunan

nilai

Bukti objektif penurunan

nilai

Persetujuan Impairment Committee

Kredit Collective Assessment

Kredit Individual Assessment Kredit signifikan

OS≥Rp15 miliar

Tidak

Tidak

Ya Ya

Dalam dokumen Inovasi dari Hati (Halaman 167-175)