BAB I PENDAHULUAN
B. Kajian Teori
8. Pembelajaran Berbasis Pesantren
ukur dengan berapa banyak hafalan dan mengerjakan ujian tulis di kelas dapat di demonstraikan oleh siswa.51
Dalam penyelengaraan pendidikan sehingga yang muncul uniform sentra listik kurikulum, model hafalan dan monolog, materi ajar yang banyak serta kurang menekankan pada pembentukan karakter bangsa. Materi pelajaran pendidikan agama Islam itu secara keseluruhan dalam lingkup alquran dan al hadist, keimanan, akhlak, fiqih, ibadah, dan sejarah, segaligus menggambarkan ruang lingkup pendidikan agama Islam mencangkup perwujudan, keserasian, dan keseimbangan hubungan dengan Allah Swt, diri sendiri, sesama manusia, makhluk lainya maupun lingkunganya (hablum minallah wa hablum minanas).
Berdasarkan beberapa definisi tersebut sudah jelas bahwa Pendidikan Agama Islam merupakan usaha sadar dalam rangka mempersiapkan perserta didik untuk menyakini, memahami dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan pengajaran atau pelatihan yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam antara lain Al- Qur’an dan Akhlak.
bertahan di tengah modernisasi. Pada awalnya dunia pesantren terlihat tidak mau menerima modernisasi sehingga pernah terjadi jarak antara pesantren dan dunia luar.
Seiring dengan berjalanan bangsa kita, ketika lembaga-lembaga sosial yang lain belum berjalan secara fungsional pesantren teklah menjadi pusat kegiatan masyarakat dalam kegiatan belajar agama, bela dri, mengobati orang sakit, dan masih banyak lainnya. Tegasnya pesantren menjadi pendidikan yang unik, tidak saja karena keberadaannya yang sangat lama, tetapi juga karena budaya, metode dan model pendidikan yang diterapkan oleh pesantren sangat khas.
Disamping itu pesantren juga memiliki jaringan sosial yang kuat dengan masyarakat dan sesama pesantren, karena sebagian besar pengasuh pesantren tidak hanya sama dalam pola fikirnya, paham keagamaannya, namun mereka mereka memiliki hubungan kekerabatan yang erat.
Pada perkembangannya pesantren mulai memasukkan ilmu-ilmu umum sebagai salah satu bentuk pengembangan wawasan warga pesantren dari orientasi ke-akhiratan menjadi berimbang dengan kehidupan duniawi. Penyelenggaraan pendidikan formal, yaitu madrasah dan sekolah umum, ‘hidup’ dalam satu atap pesantren. Dengan kata lain pendidikan formal diselenggarakan dalam lingkar budaya pesantren. Hal ini berimbas pada para lulusannya yang tidak lagi hanya dibekali ilmu- ilmu agama sehingga mereka bisa memasuki sekolah-sekolah formal yang lebih tinggi tingkatannya dalam sistem pendidikan nasional.
Secara umum, potret pesantren adalah sebuah asrama pendidikan islam tradisional dimana para siswanya tinggal bersama dan belajar ilmu-ilmu keamaan dibawah bimbingan seorang guru yang lebih di kenal dengan sebutan kiyai. Peranan kiayi dan santri sangat penting dalam menjaga tradisi keagamaan.
Model pesantren dapat digolongkan menjadi tiga model, yaitu: pertama, model pesantren tradisional yang masih mempertahankan sistem salafiyahnya, dan menolak kurikulum dari luar. Tetapi pesantren dengan model ini masih banyak diminati masyarakat, karena sejumlah pesantren yang telah diseleksi masyarakat sudah mulai kurang budaya dan moral, sehingga masyarakat melihat kembali pada model asli pendidikan salafiyah tersebut.
Kedua, model pesantren yang sudah sedikit mengikuti modernisasi, dalam model pesantren ini disamping menerima kurikulum salafiyah pesanten ini menerima kurikulum umum juga. Tetapi karena tuntutan kehidupan sosial terlalu dituruti akhirnya tanpa di sadarikarateristik dari pesantren ini biasanya akan hilang . karena sistem kurikulum aslinya hilang, karena pesantren terlalu menuruti kurikulum Departemen Agama ataupun Departemen Pendidikan Sosial. Ketiga, model pesantren yang mengikuti proses perubahan modernisasi tanpa menghilangkan kurikulum yang salafi. Ada pendidikan umum, tetapi tidak sepenuhnya sama dengan kurikulum Departemen Agama.
Sebagai lembaga pendidikan yang yang mempunyai ciri-ciri tersendiri, pesantren memiliki tradisi yang berbeda dengan lembaga- lembaga yang lain. Pesantren pada dasarnya adalah senbuah lembaga pendidikan keagamaan islam, walaupun ia mempunyai fungsi yang lain dan tidak kalah penting dengan fungsi pendidikan tersebut. Ditengah- tengah sistem pendidikan nasional yang selalu berubah-ubah dalam rentang waktu yang tidak lama, pandangan masyarakat terhadap pesantren dari hari-kehari tampaknya semakin besar.
Kemampuan pesantren dalam menggembangkan diri dan mengembangkan masyarakat sekitarnya, ini di karenakan adanya potensi yang dimiliki oleh pondok pesantren. potensi-potensi itu meliputi tiga aspek. Pertama, pondok pesantren aktif selama 24 jam, dengan pola 24 jam tersebut, baik pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan, sosial kemasyarakatan, atau sebagai lembaga pengembangan potensi umat.
Kedua, pondok pesantren secara umum berpengaruh pada masyarakat. Pondok pesantren banyak tumbuh dan berkembang di daerah pedesaaan, karena memang tuntutan masyarakat yang ingin menghendaki berdirinya pondok pesantren. Dengan demikian pondok pesantren dan keterkaitan dengan masyarakat merupakan hal yang sangat penting bagi satu sama lain. Ketiga, pondok pesantren di percaya masyarakat.
Kecenderungan masyarakat menyekolahkan anaknya ke pondok pesantren tentu saja di dasari oleh kepercayaan mereka terhadap
pembinaan yang di lakukan oleh pondok pesantren yang lebih mengutamakan pendidikan agama.
Pola pendidikan dan pengajaran di pondok pesantren erat kaitannya dengan tipologi pondok pesantren. Metode pengajaran dapat di artikan sebagai cara yang di tempuh guru unuk menyampaikan ajaran sampai ke tujuan. Kata “metode” berasal dari istilah Yunani “meta” yang berarti “melalui”, dan “hodos” yang berarti “jalan yang dilalui”. Jadi, metode berarti jalan yang dilalui. Dalam bahasa Arab metode diungkapkan dengan istilah Thoriqoh yang menurut Al-Jurjani berarti
“sesuatu yang memungkinkan untuk sampai dengan benar kepada tujuan yang dihadapkan”52
Pendapat lain mengatakan bahwa metode berasal bahasa latin
“meta” yang berarti melalui, dan “hodos” yang berarti jalan atau ke atau cara ke. Sedangkan menurut menurut istilah adalah suatu sistem atau cara yang mengatur suatu cita-cita.53 Metode sebagai penyelidikan berlangsung menurut suatu rencana tertentu, istilah ini mula-mula berarti
“suatu jalan yang harus ditempuh”54 Berangkat dari pemikiran dan kondisi pondok pesantren yang ada, maka ada beberapa sistem pengajaran pondok pesantren yaitu:
52 Edi Suharto, Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat. (Bandung: PT. Refika Pratama.
2006), 138.
53 Ahmadi & Uhbiyati. Ilmu pendidikan. (Jakarta: Rineka Cipta. 1991), 123.
54 Khoiron Rosyadi, Pendidikan Profetik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), 85.
a) Sistem Pembelajaran Pesantren Tradisional
Pemahaman sistem yang sersifat tradisional berangkat dari pola pengajaran yang sangat sederahana dan sejak semula timbulnya dalam mengkaji kitab-kitab agama yang di tulis oleh para ulama’
pada zaman abad pertengahan yang di kenal dengan istilah kitab kuning. Adapun sistem pendidikan dan pengajaran yang bersifat tradisional antara lain:
1) Metode Sorogan
Sorogan berasal dari kata sorog (bahasa jawa), yang berarti menyodorkan, metode sorogan adalah suatu metode dimana setiap santri menyodorkan kitabnya kepada kyai untuk di baca di hadapan kyai tersebut, kalau dalam membaca, mengartikan dan memahami terdapat kesalahan maka kesalahan tersebut akan langsung di perbaiki oleh kyai.55
Metode sorogan ini secara umum merupakan sistem pengajaran yang bersifat individual. Dimana seorang santri datang bersama-sama akan tetapi pelaksanaanya menghadap kyai satu- persatu sesuai dengan gilirannya. Sistem pengajaran ini merupakan bagian yang paling sulit dari keseluruhan pendidikan Islam tradisional, sebab selain menuntut kesabaran juga kedisiplinan bagi pribadi murid itu sendiiri, meskipun demikian metode pengajaran ini termasuk metode yang sangat bermakna
55 Mastuhu, Dinamika Sistem pendidikan Pesantren, (Jakarta: INIS. 1994), 6.
karena santri akan merasakan hubungan khusus ketika pembacaan kitab dilakukan di hadapan kyai.
Dengan metode pengajaran seperti ini, maka seorang kyai dapat mengetahui secara langsung kemampuan setiap individu santri dalam penguasaan pelajaran yang telah di berikan oleh kyai. Oleh karena itu dengan pengajaran yang seperti ini di harapkan santri dapat membaca, mengartikan, mengerti, memahami dan mengamalkan isi kandungan kitab yang telah di pelajarinya.56
2) Metode Wetonan
Wetonan berasal dari kata wektu (bahasa jawa), yang berarti waktu, sebab pengajian tersebut di berikan pada waktu tertentu, yaitu sebelum atau sesudah melakukan sholat fardu, metode ini dilakukan dengan cara kyai membaca suatu kitab dalam waktu tertentu, kemudian santri mendengarkan dan menyimak tentang bacaan kyai, kemudian santri membaca secara bergiliran apa yang telah di bacakan oleh kyai.57
3) Metode Bandongan
Bandongan artinya belajar secara kelompok yang di ikuti oleh seluruh santri, biasanya kyai membacakan teks-teks kitab yang berbahasa arab, menterjemahkannya ke dalam bahasa lokal,
56Departemen Agama RI. Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah, Pertumbuhan dan Perkembangannya, (Jakarta: Ditjen Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI. 2003), 38.
57 Ibid., 39.
dan sekaligus menjelaskan makna yang terkandung dalam kitab tersebut.58
Ketiga pola pengajaran ini berlangsung semata-mata tergantung kepada kyai sebab segala sesuatu yang berhubungan dengan waktu, tempat dan materi pengajaran (kurikulum) terletak pada kyai atau ustad yang menentukan keberhasilan proses belajar mengajar di pondok pesantren, sebab otoritas kyai sangat dominan memimpin pondok itu.
b) Sistem Pembelajaran Pesantren Modern
Di dalam perkembangannya pondok pesantren tidaklah semata-mata tumbuh atas pola lama yang bersifat tradisional dengan tiga pola pengajaran diatas, melainkan dilakukan suatu inovasi dalam pengembangan suatu sistem. Disamping pola tradisional yang termasuk ciri pondok pesantren salafiah, maka gerakan khalafiyah telah memasuki derap perkembangan pondok pesantren.59
Ada beberapa sistem yang diterapkan dalam pendidikan dan pengajaran yang bersifat modern di pondok pesantren diantaranya :
1) Sistem Klasikal
Pola penerapan sistem klasikal ini adalah dengan pendirian sekolah-sekolah baik kelompok yang mengelola
58 Muhaimin, Konsep Pendidikan Islam. (Malang: CV Romadloni, 2007), 67.
59 M. Bahri Ghazali, Pesantren Berwawasan Lingkungan. (Jakarta: Prasasti, 2003), 30.
pengajaran agama maupun ilmu yang dimasukkan dalam kategori ilmu dalam arti termasuk kedalam disiplin ilmu kauni (ijtihadi merupakan hasil perolahan manusia) yang berbeda dengan agama yang sifatnya tauqifi.60
Pengajaran klasikal diatas, kalau dalam masa sekarang sering kita sebut sebagai pondok pesantren moderen, dimana didalamnya terdapat sekolah umum sebagai lembaga formal yang berada dibawah naungan Departemen pemeritah. Baik Departemen Agama (DEPAG) atau Dinas Pendidikan Nasional (DIKNAS).
2) Kursus-kursus
Pola pengajaran yang ditempuh melalui kursus ini ditekankan pada pengembangan keterampilan berbahasa inggris, disamping itu diadakan keterampilan tangan yang menjurus kepada terbinanya kemampuan psikomotorik seperti, kursus menjahit, mengetik komputer, dan sablon. Pengajaran sistem ini mengarah pada terbentuknya santri yang memiliki kemampuan praktis guna terbentuknya santri-santri yang mandiri menopang ilmu-ilmu agama yang dituntut dari Kyai melalui pelajaran sorogan, wetonan, Sebab pada umumnya santri tidak tergantung pada pekerjaan dimasa mendatang
60 Ibid., 30.
melainkan harus mampu menciptakan lapangan pekerjaan sesuai dengan kemampuan mereka.
3) Pelatihan
Disamping sistem pengajaran klasikal dan kursus- kursus, dilaksanakan juga sistem pelatihan yang menekankan pada kemampuan psikomotorik. pola pelatihan yang dikembangkan adalah termasuk menumbuhkan kemampuan praktis seperti, pelatihan pertukangan, perkebunan, perikanan, manajemen koperasi, dan kerajinan-kerajinan yang mendukung terciptanya kemandirian intergratif. hal ini erat kaitannya dengan kemampuan yang lain yang cenderung lahirnya santri intelek dan ulama yang mumpuni.61
61 Ibid., 32.
BAB III
METODE PENELITIAN