Eka Puspitawati, S.P., M.Si., PhD.
Universitas Pertamina
Variabel Kunci Ekonomi Makro
Ilmu ekonomi umumnya dibagi dalam dua cabang ilmu, yakni ilmu ekonomi mikro (mikroekonomi) dan ilmu ekonomi makro (makroekonomi). Ilmu ekonomi mikro membicarakan perilaku dari individu hingga pasar-pasar individual atau industri. Contoh dari cakupan ilmu ekonomi mikro adalah pasar komoditi tertentu (pasar beras, pasar pakaian, pasar mobil listrik, pasar jasa ojek, dan lain-lain) dan industri yang bisa terdiri atas kumpulan dari pasar komoditi yang identik (industri makanan, industri real estate, industri migas dan lain sebagainya). Di dalam ekonomi mikro dipelajari sebab dan akibat dari perubahan harga-harga relatif, misalnya perubahan harga beras relatif terhadap harga jagung, dan lain-lain.
Sementara itu ilmu ekonomi makro mempelajari perilaku menyeluruh dan total suatu perekonomian. Problem ekonomi makro yang khas, misalnya perilaku tingkat harga seperti yang diukur dalam Indeks Harga Konsumen (IHK).
Di samping itu masalah yang mengundang perhatian berbagai pihak, baik pemerintah, perusahaan maupun masyarakat umum, inflasi, pengangguran, resesi dan pertumbuhan ekonomi merupakan masalah yang dipelajari dalam ekonomi makro.
68
Variabel kunci utama ekonomi makro terdiri atas 3, yaitu (1) kerja, (2) output atau pertumbuhan ekonomi atau GDP, dan (3) tingkat harga atau inflasi. Ketiganya seringkali menjadi pokok bahasan dalam berbagai topik dan isu makroekonomi.
Kerja
Kerja (employment) menunjukkan jumlah pekerja dewasa (penduduk usia kerja) yang mempunyai pekerjaan sipil penuh. Bekerja adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh seseorang dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan, paling sedikit 1 jam (tidak terputus) dalam seminggu yang lalu (Badan Pusat Statistik, 2023).
Tiap negara memiliki ukuran yang berbeda-beda tentang arti pekerja dewasa. Indonesia, Singapura dan Malaysia memasukkan kategori penduduk usia kerja 15 tahun atau lebih. Sedangkan Amerika Serikat mengkategorikan umur 16 tahun ke atas sebagai pekerja dewasa.
Istilah kerja (employment) tidak akan terlepas dari pengangguran (unemployment). Istilah pengangguran menunjukkan jumlah orang dewasa yang tidak mempunyai pekerjaan dan sedang aktif mencari pekerjaan. Tingkat pengangguran yang biasanya dituliskan dengan simbol U (unemployment) adalah pengangguran yang dinyatakan sebagai persentase dari angkatan kerja.
Jika dituliskan dalam suatu persamaan, maka tingkat pengangguran adalah:
πππππππ‘ πππππππππ’πππ π = πππππππππ’πππ
π΄ππππ π‘ππ πΎ πππππ₯100 Istilah angkatan kerja mengacu pada jumlah orang sipil dewasa yang mempunyai pekerjaan (employed), ditambah dengan yang menganggur. Badan Pusat
69
Statistik (BPS) (2023) mendefinisikan penduduk yang termasuk angkatan kerja di Indonesia adalah penduduk usia kerja (15 tahun dan lebih) yang bekerja, atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja, dan pengangguran. Sedangkan penduduk yang termasuk bukan angkatan kerja adalah penduduk usia kerja (15 tahun dan lebih) yang masih sekolah, mengurus rumah tangga, pensiunan atau melaksanakan kegiatan lainnya selain kegiatan pribadi.
Output
Output total suatu negara biasanya diukur dengan PDB (Produk Domestik Bruto) atau Gross National Product (GNP). PDB mengukur nilai pasar total dari output negara bersangkutan, yang dinyatakan dalam nilai mata uang negara bersangkutan. Sedangkan untuk perbandingan dengan negara-negara lain, maka PDB biasanya diukur dengan mata uang US $ (Dollar Amerika).
PDB dapat diukur berdasarkan harga-harga yang sedang berlaku, yang disebut PDB atau GNP nominal (Nominal GNP atau Current Dollar GNP). Perubahan PDB nominal disebabkan oleh dua faktor, yaitu (1) perubahan kuantitas output fisik, dan (2) perubahan harga pasar dari masing-masing komoditi yang dihasilkan.
PDB juga bisa diukur berdasarkan harga konstan, yang disebut PDB atau GNP riil (Real GNP atau Constant Dollar GNP). Perubahan PDB riil disebabkan oleh satu faktor saja, yaitu perubahan kuantitas output fisik.
Output total itu biasanya ditandai dengan simbol Y, yang menunjukkan PDB riil, yang menunjukkan suatu ukuran dari jumlah keseluruhan output yang dihasilkan oleh perekonomian suatu negara.
70 Inflasi
Tingkat harga dapat diukur dari indeks harga-harga dalam ekonomi suatu negara. Sedangkan tingkat inflasi dalam satu tahun adalah persentase perubahan indeks harga dari tahun ke tahun. Jika tingkat inflasi diukur dengan indeks harga, maka rumusnya adalah sebagai berikut:
πππππππ‘ πΌπππππ π
=πΌπππππ βππππ π‘πβπ’π πππ β πΌπππππ βππππ π‘πβπ’π ππππ’ πΌπππππ βππππ π‘πβπ’π ππππ’ π₯100
Permintaan Agregat
Salah satu cara untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan perubahan tingkat harga dan output atau produk nasional adalah dengan menggunakan konsep permintaan dan penawaran. Konsep permintaan pada makroekonomi berbeda dengan di mikroekonomi. Pada ekonomi mikro, permintaan meliputi satu output untuk satu perusahaan sampai pada satu industri. Sedang pada ekonomi makro, konsep permintaan meliputi jumlah seluruh output dalam suatu perekonomian (negara atau daerah otonom).
Konsep permintaan dan penawaran dalam ekonomi makro berbeda dengan konsep yang terdapat dalam ekonomi mikro. Pada ekonomi mikro, penawaran dan permintaan meliputi satu output, sedang pada ekonomi makro, konsep penawaran dan permintaan meliputi jumlah seluruh output.
Kurva permintaan agregat (aggregate demand - AD) pada umumnya bersudut negatif, turun dari kiri atas ke kanan bawah, seperti dalam Gambar 1. Permintaan agregat menunjukkan hubungan antara jumlah semua output yang diminta oleh konsumen dan tingkat harga output tertentu. Makin tinggi tingkat harga, maka makin
71
kecil jumlah output yang diminta oleh masyarakat.
Jumlah output yang diminta oleh masyarakat ini merepresentasikan produk nasional riil.
Gambar 1 Kurva Permintan Agregat yang Menunjukkan Hubungan Tingkat Harga dan Produk Nasional Riil untuk
Ekonomi Keseluruhan. Sumber: Mankiw (2022)
Tingkat harga yang meningkat berarti harga semua komoditi meningkat. Hal ini menimbulkan dua konsekuensi. Tingkat harga yang berubah berarti perubahan harga-harga komoditi dan harga-harga faktor produksi, termasuk gaji dan upah. Sehingga naiknya tingkat harga tidak harus berarti berkurangnya daya beli masyarakat.
Faktor yang menyebabkan kurva permintaan agregat berslope negatif dijelaskan sebagai berikut: Jika harga- harga semua barang naik, perusahaan-perusahaan memerlukan lebih banyak uang untuk membayar gaji dan upah, dan untuk membeli faktor-faktor produksi.
Rumah tangga juga memerlukan lebih banyak uang untuk membeli barang-barang kebutuhan mereka.
Dengan asumsi ceteris paribus, peningkatan kebutuhan uang ini menyebabkan kekurangan uang, yang berakibat
0 Y0 Y0
p0
p0 p
AD
PRODUK NASIONAL RIIL
TINGKAT HARGA
72
pada naiknya suku bunga uang; pengusaha dan masyarakat (rumah tangga) akan mengurangi pembelian barang-barang kapital, seperti mesin-mesin, rumah, dan lain-lain yang sensitif terhadap tingkat bunga. Akhirnya, secara agregat hal ini menyebabkan berkurangnya permintaan akan output negara tersebut.
Penawaran Agregat
Kurva penawaran agregat atau (aggregate supply β AS) menunjukkan hubungan antara output keseluruhan yang ditawarkan oleh produsen dan tingkat harga output tersebut. Makin tinggi harga output, makin besar jumlah output yang ditawarkan oleh para produsen.
Penawaran agregat dapat pula memperlihatkan hubungan antara tingkat harga dengan total persediaan perusahaan. Hubungan antara variabel tingkat harga dengan total output atau total persediaan perusahaan tersebut biasanya bernilai positif atau berbanding lurus.
Secara teoritis, terdapat tiga kemungkinan bentuk kurva penawaran seperti ditunjukkan dalam Gambar 2.
Masing-masing dari ketiga kemungkinan itu adalah relevan pada suatu periode waktu tertentu.
73
Gambar 2 Kurva Penawaran Agregat dalam Tiga Range Mazhab. Sumber: Mankiw (2022)
Berdasarkan Gambar 2, daerah di sebelah kiri Y0, kurva penawaran agregat berbentuk horizontal (range Keynesian). Produk nasional dapat ditingkatkan tanpa naiknya tingkat harga. Hal ini bisa terjadi pada waktu depresi, dimana terdapat berbagai sumberdaya yang tidak terpakai penuh. Sumber daya ini dapat digerakkan untuk meningkatkan produk nasional tanpa pengaruh yang berarti pada tingkat harga. Range tersebut juga menggambarkan kondisi ekonomi di jangka sangat pendek, dimana harga kaku (sticky). Bagian ini ditemukan oleh John Maynard Keynes, sehingga kurva penawaran agregat tersebut diberi nama range Keynesian (segmen 1).
Bentuk horizontal dari kurva penawaran agregat Keynesian merupakan akibat dari dua kekuatan.
Pertama, dalam masyarakat bersangkutan masih terdapat sumber daya yang belum dimanfaatkan, sehingga output dapat ditingkatkan tanpa mengakibatkan naiknya harga-harga ke atas. Kedua, harga-harga itu relatif kaku untuk bergerak ke bawah, sehingga harga-harga itu tidak jatuh, walaupun terdapat
Y1 Y Y0
0
P AS
Range Intermadiate Range Keynesian
Range Klasik
74
kelebihan penawaran (excess supply) dalam pasar tenaga kerja dan pasar komoditi.
Pada tingkat pendapatan nasional Y1 kurva penawaran agregat berbentuk vertikal. Ini berarti bahwa produk nasional tidak bisa lagi ditambah, karena sudah mencapai maksimum. Keadaan ini bisa terjadi jika seluruh sumberdaya sudah dimanfaatkan secara penuh (full employment). Apabila permintaan agregat bertambah, produk nasional tetap, dan tidak bisa ditingkatkan, dengan akibat tingkat harga akan naik.
Bagian vertikal dari kurva penawaran agregat pada Gambar 2 disebut range klasik (segmen 3) yang merupakan penemuan dari ahli-ahli ekonomi klasik.
Mereka memang menganalisis keadaan ekonomi pada pemanfaatan sumberdaya secara penuh (full employment) di jangka panjang (long run). Kurva AS di bagian ini disebut juga LRAS (long run aggregate supply).
Di antara Y0 dan Y1 terdapat keadaan βintermediateβ, dimana produk nasional masih dapat ditingkatkan.
Tetapi meningkatnya produk nasional tetap diikuti oleh kekurangan-kekurangan dalam output, sehingga dalam range ini akan terdapat kelebihan permintaan (excess demand), yang mendorong naiknya tingkat harga. Bagian kurva penawaran agregat antara Y0 dan Y1 ini disebut range intermediate (segmen 2).
Gambar 2 menunjukkan tiga kondisi perekonomian, yaitu situasi depresi, situasi pemanfaatan sumberdaya secara penuh (full employment) dan situasi pertumbuhan ekonomi yang biasa. Karena ketiga situasi itu terjadi pada perioda waktu jangka pendek yang berbeda-beda, maka kurva penawaran agregat jangka pendek dapat mengambil salah satu bentuk yang disebut dalam Gambar 2, tergantung dari situasi ekonomi yang sedang dialami oleh negara bersangkutan.
75 Keseimbangan Pendapatan Riil
Keseimbangan pendapatan riil pada makroekonomi ditunjukkan dari bertemunya antara permintaan agregat (AD) dan penawaran agregat (AS). Pertemuan keduanya menunjukkan keseimbangan makro, dimana terjadi harga keseimbangan (P*) dan pendapatan nasional keseimbangan (Y*) seperti ditunjukkan dalam Gambar 3.
Titik E merupakan titik keseimbangan (equilibrium) makroekonomi. Kondisi tersebut menunjukkan posisi pendapatan nasional atau GDP suatu negara dengan tingkat harga atau tingkat inflasi tertentu.
Gambar 3 Keseimbangan Pendapatan Riil Pertemuan antara Permintaan Agregat (AD) dan Penawaran Agregat (AS) Jika pendapatan nasional keseimbangan (Y*) lebih kecil dari full employmentnya (Pf), maka secara makro hal ini ditangkap sebagai munculnya pengangguran (unemployment). Ini karena kondisi sumberdaya yang termanfaatkan secara penuh (full employment) tidak tercapai. Oleh karenanya, kondisi keseimbangan pendapatan riil memperlihatkan bagaimana tiga variabel
76
kunci utama makroekonomi (kerja, output atau pertumbuhan ekonomi atau GDP, dan tingkat harga / inflasi) saling memengaruhi dan berinteraksi.
Kondisi full employment yang tidak tercapai dapat menjadi signal terjadinya resesi ekonomi. Secara nyatanya, resesi yang merupakan penurunan signifikan dalam kegiatan ekonomi. Hal tersebut dicerminkan dari adanya penurunan dalam data PDB riil, pendapatan riil, ketenagakerjaan, produksi industri, dan grosir-penjualan ritel dan berlangsung lebih dari 3-6 bulan.
Perubahan Permintaan Agregat: Pergerakan Sepanjang Kurva Versus Pergeseran Kurva
Di dalam makroekonomi perubahan kurva permintaan agregat (AD) dan penawaran agregat (AS) jamak terjadi.
Perubahan kurva AD dan AS berarti pula pembahasan tentang perubahan pendapatan nasional. Terdapat melalui dua konsep untuk menjelaskan keduanya, yaitu pergerakan sepanjang kurva dan pergeseran kurva.
77
Gambar 4 Pergerakan Sepanjang Kurva Permintaan Agregat Konsep pergerakan sepanjang kurva untuk kurva permintaan agregat, dapat dijelaskan dari sisi pengeluaran secara makro. Jika pengeluaran yang diinginkan (aggregate expenditure = AE) meningkat, peningkatan ini dapat disebabkan oleh respon terhadap perubahan pendapatan nasional (national income = Y), dan dapat pula disebabkan oleh keinginan berbelanja yang ditingkatkan pada setiap tingkat pendapatan.
Peningkatan pengeluaran (βAE) yang merupakan respon terhadap perubahan pendapatan nasional (βY)
78
digambarkan dengan pergerakan sepanjang kurva.
Sedangkan peningkatan pengeluaran pada setiap tingkat pendapatan, digambarkan dengan pergerakan kurva pengeluaran agregat. Ini merupakan respons terhadap perubahan proporsi pendapatan nasional yang ingin dibelanjakan pada setiap tingkat pendapatan (Gambar 4). Perubahan pengeluaran karena perubahan pendapatan disebut marginal propensity to expenditure (πππΈ = βπ΄πΈ βπβ ). Pada gilirannya, di pasar riil, pergerakan sepanjang kurva AE ini merefleksikan pergerakan sepanjang permintaan agregat (AD).
Konsep pergesaran kurva permintaan agregat dapat dijelaskan dari adanya perubahan (pergeseran) pengeluaran agregat (aggregate expenditure = AE) dari AE ke AE1. Jika pengeluaran agregat (AE) meningkat, maka peningkatan tersebut akan menggeser seluruh fungsi pengeluaran agregat (βAE) ke atas. Perubahan yang tetap menunjukan penambahan pengeluaran yang sama pada setiap tingkat pendapatan. Pergeseran fungsi pengeluaran agegat sejajar dengan fungsi pengeluaran agregat semula (Gambar 5).
79
Gambar 5 Pergeseran Kurva Permintaan Agregat
Semua pergeseran fungsi pengeluaran agregat (dari AE ke AE1) tersebut akan meningkatkan keseimbangan pendapatan nasional (Y ke Y1). Jika pergeseran pengeluaran yang diinginkan pada tingkat pendapatan semula melebihi pendapatannya, hal ini akan menyebabkan pendapatan meningkat. Sebagaimana halnya pendapatan yang meningkat, pengeluaran juga meningkat, tetapi peningkatan pengeluaran ini masih lebih rendah daripada peningkatan pendapatan.
80
Peningkatan pendapatan terus terjadi sampai pengeluaran sama dengan pendapatan. Dengan kata lain, pergeseran ke atas dari fungsi pengeluaran menyebabkan pergerakan sepanjang fungsi baru, sampai arus pengeluaran yang ditingkatkan sama dengan pendapatan nasional. Pada gilirannya, di pasar riil, pergeseran AE ini merefleksikan pergeseran permintaan agregat (AD) dan akan mengakibatkan perubahan tingkat harga (P). Seberapa besar perubahan harga akan sangat tergantung dari respon penawaran agregat (AS).
Jika terjadi sebaliknya, yaitu penurunan pengeluaran agregat (AE), maka akan menyebabkan fungsi pengeluaran agregat bergeser ke bawah. Hal ini akan mengakibatkan keseimbangan pendapatan nasional menurun, yang juga merefleksikan adanya penurunan permintaan agregat.
Faktor Penyebab Pergeseran Permintaan Agregat Pergeseran fungsi pengeluaran agregat dapat terjadi secara langsung dan secara tidak langsung. Pergeseran pengeluaran agregat secara langsung dibentuk dari variabel-variabel penyusun dari pengeluaran agregat (AE). Komponen pengeluaran agregat (AE) meliputi pengeluaran-pengeluaran atau belanja-belanja secara makro seperti konsumsi, investasi, dan belanja pemerintah. Dalam perekonomian terbuka pengeluaran tersebut termasuk kegiatan ekspor dan impor.
Komponen-komponen tersebut yang mengakibatkan persegesaran pengeluaran agregat secara langsung.
Pergeseran fungsi pengeluaran agregat secara tidak langsung disebabkan oleh faktor-faktor atau variabel yang tidak langsung memengaruhi fungsi AE. Tabungan, pajak dan impor merupakan variabel-variabel yang secara tidak langsung memengaruhi AE. Pengaruhnya adalah melalui konsumsi terlebih dahulu. Perubahan
81
pada kedua variabel tersebut dapat mengakibatkan perubahan pada marginal propensity to consume (MPC).
Perubahan marginal propensity to consume dari disposable income (DI) atau pendapatan nasional akan merubah sudut dari fungsi pengeluaran agregat (AE).
Perubahan pajak akan mengakibatkan pergeseran kurva AE yang merubah sudut miring kurva pengeluaran agregat atau dikatakan pergeseran AE tidak sejajar.
Jika tabungan meningkat, maka konsumsi rumah tangga akan turun, sehingga fungsi pengeluaran agregat bergeser ke bawah dan pendapatan nasional akan turun.
Sebaliknya, jika tabungan menurun, maka konsumsi rumah tangga meningkat. Meningkatnya konsumsi akan menggeser fungsi pengeluaran agregat ke atas, sehingga pendapatan nasional meningkat.
Sebaliknya untuk pajak, peningkatan pajak menyebabkan disposable income turun, sehingga pengeluaran untuk konsumsi turun. Penurunan konsumsi ini menyebabkan fungsi pengeluaran agregat bergeser ke bawah, akibatnya pendapatan nasional turun. Hal yang sebaliknya terjadi apabila pajak mengalami penurunan.
Keinginan masyarakat untuk mengkonsumsi barang- barang dalam jumlah yang lebih banyak dapat pula menggeser kurva permintaan agregat ke atas dan sebaliknya. Keinginan masyarakat ini akan memengaruhi belanja masyarakat secara nasional yang dipresentasikan dalam variabel konsumsi. Perubahan keinginan masyarakat dapat disebabkan oleh meningkatnya jumlah penduduk, meningkatnya pendapatan, selera dan lain sebagainya (Gambar 6).
Anggaplah AD0 merupakan kurva permintaan agregat awal. Kurva itu lalu bergeser ke kanan menjadi AD1. Pendapatan nasional telah naik dari Y0 menjadi Y1,
82
namun tingkat harga tetap Po. Dengan demikian jika AD0 bergeser ke AD1 pada range Keynesian maka output berubah sedang tingkat harga tetap.
Sewaktu AD bergeser lagi ke kanan menjadi AD2, produksi nasional naik menjadi Y2 dan tingkat harga pun naik menjadi P2 Demikian pula pada waktu AD bergeser lagi ke kanan menjadi AD3. Produksi nasional naik lagi menjadi Y3 dan tingkat harga juga naik menjadi P3 (AD2
dan AD3 memotong AD pada range intermediate; output bertambah dan tingkat harga pun naik).
Gambar 6 Pengaruh Pergeseran Kurva Permintaan Agregat Sumber: Mankiw (2022)
Setelah AD bergeser lagi ke kanan menjadi AD4, telihatlah bahwa produk nasional tetap saja pada Y3, tetapi tingkat harga telah naik menjadi P4. Kurva AD memotong AS pada range klasik, dimana output tidak bertambah, tetapi tingkat harga naik.
Pergeseran AD disebabkan oleh faktor-faktor pembentuk dari kurva AD itu sendiri. Pada pasar barang dan jasa, faktor pembentuk kurva AD dapat didekati dari sisi penerimaan pendapatan nasional dan dari pengeluaran pendapatan nasional.
Y Y3
Y2
Y1
Y0
P0
AS
P2
P3
P4
P
0
AD0 AD1 AD2 AD3 AD4
83 1. Pendekatan Penerimaan
Dari pendekatan penerimaan, pendapatan nasional membedakan empat komponen utama dari βfactor incomeβ, yaitu: (a) rent, yang berarti bayaran bagi jasa-jasa tanah dan faktor-faktor lain yang disewa;
(b) wages and salaries yang berarti pembayaran bagi jasa tenaga kerja; serta (c) interest (bunga) dan (d) profit, keduanya merupakan bayaran untuk jasa modal (capital). Untuk tujuan memperoleh barang- barang modalnya, sebuah perusahaan membutuhkan uang. Hal ini dimungkinkan oleh mereka yang mau meminjamkan uang pada perusahaan, atau mereka yang mau memberikan uangnya dengan risiko hilang sebagai pemilik perusahaan.
Interest didapatkan oleh mereka yang meminjamkan uangnya pada perusahaan, dan profit didapatkan oleh mereka yang memiliki perusahaan- perusahaan. Sebagian profit dikeluarkan sebagai dividen kepada pemilik perusahaan, sisanya ditahan untuk digunakan oleh perusahaan. Yang pertama disebut distributed profit dan yang kedua disebut undistributed profit. Perlu disadari bahwa dalam komponen-komponen dari sisi pendapatan (factor payment), masih termasuk pajak di mana pajak tersebut harus dibayarkan kepada pemerintah oleh penerima βfactor paymentβ tersebut.
Seluruh komponen dari penerimaan pendapatan nasional yang mengalami peningkatan, akan mengakibatkan peningkatan pada pendapatan nasional (output) juga. Jika hal ini terjadi, maka AD akan bergeser ke kanan atas (Gambar 6).
84 2. Pendekatan Pengeluaran
Komponen pengeluaran agregat dapat dibedakan menjadi beberapa kategori. Empat kategori utama adalah pengeluaran konsumsi, penanaman modal (investasi), pengeluaran pemerintah dan ekspor bersih.
Pengeluaran konsumsi (C)
Konsumsi mencakup semua barang dan jasa yang dihasilkan dan dijual kepada rumah tangga sepanjang tahun, kecuali rumah sebagai tempat tinggal yang dianggap sebagai barang investasi. Aktor utama pengeluaran konsumsi adalah rumah tangga.
Konsumsi mencakup jasa-jasa seperti potong rambut, perawatan kesehatan, konsultasi hukum;
barang yang tidak tahan lama seperti makanan segar, surat kabar, dan barang yang tahan lama seperti mobil, televisi, dan lain-lain. Kelompok pengeluaran untuk barang dan jasa ini menunjukkan output ekonomi yang dipakai langsung untuk memuaskan keinginan dari para konsumen.
Konsumsi untuk barang dan jasa ini biasanya diberi simbol C.
Pengeluaran Investasi (I)
Investasi adalah produksi barang-barang bukan untuk konsumsi sekarang. Perbedaan utama konsumsi dan investasi adalah dari kapan dinikmatinya manfaat (benefit) dari pengeluaran yang dilakukan. Jika pengeluaran atau belanja yang dilakukan saat ini, namun manfaat atau hasilnya baru bisa dinikmati di masa yang akan datang (tidak bersamaan waktunya saat belanja), maka hal ini masuk dalam investasi. Pengeluaran investasi dapat dilakukan oleh perusahaan dan rumah tangga.
Contohnya adalah sebuah rumah tangga yang
85
melakukan pembelian emas untuk kemudian langsung dipakai sebagai perhiasan, maka ia melakukan kegiatan konsumsi. Namun jika si rumah tangga melakukan pembelian emas kemudian disimpan dan baru akan dijual kembali dengan mengharap kenaikan harga di masa yang akan datang, maka ia melakukan investasi.
Dalam ekonomi makro, perusahaan dapat menanamkan modal baik dalam bentuk barang- barang persediaan (inventaris) maupun dalam bentuk barang modal seperti tanaman dan peralatan.
Umumnya semua perusahaan menyimpan stok dari barang input dan output mereka sendiri atau disebut inventaris. Persediaan barang input memungkinkan proses produksi dapat berlangsung terus sesuai dengan yang direncanakan, meskipun persediaan input yang diperoleh dari perusahaan lain mengalami fluktuasi. Persediaan barang output memungkinkan perusahaan memenuhi pesanan meskipun kadang- kadang terjadi fluktuasi dalam penjualan output.
Selanjutnya, semua kegiatan produksi menggunakan barang modal, seperti peralatan, mesin-mesin, dan bangunan pabrik. Jumlah total dari barang-barang modal dalam perekonomian dinamakan persediaan modal (capital stock). Kegiatan menghasilkan barang- barang modal baru adalah suatu kegiatan investasi.
Pengeluaran Pemerintah (G)
Apabila pemerintah membuat barang-barang dan jasa yang dibutuhkan oleh rumah tangga seperti jalan dan pengendali lalu lintas udara, terpakai untuk aktifitas yang berguna. Hal ini tentu saja menambah jumlah nilai output sebagaimana halnya terjadi pada perusahaan swasta yang menghasilkan truk dan pesawat terbang yang memakai jalan dan
86
lalu lintas udara. Pengeluaran pemerintah untuk kegiatan yang produktif diberi simbol G.
Ada suatu kekecualian penting dari ketentuan bahwa semua pengeluaran pemerintah termasuk dalam pendapatan nasional. Jika suatu badan pemerintah memberi tunjangan kesejahteraan bagi seorang ibu yang suaminya gugur di medan perang, pendapatan ditransfer pada penerimaan tunjangan kesejahteraan, tetapi pemerintah tidak menerima bahkan tidak mengharapkan menerima jasa pasar apapun dari ibu tersebut sebagai bayaran terhadap tunjangan kesejahteraan tersebut. Pengeluaran pemerintah ini sama sekali tidak menambah, baik pada faktor-faktor employment ataupun pada total output. Pembayaran-pembayaran pemerintah terhadap rumahtangga yang bukan untuk membayar jasa-jasa faktor produksi, dinamai pembayaran transfer pemerintah, atau secara sederhana disebut transfer payment. Pembayaran semacam itu secara langsung tidak mengakibatkan peningkatan pendapatan nasional. Pengeluaran pemerintah yang merupakan bagian dari pendapatan nasional tidak mencakup transfer payment (Tr).
Perekonomian tertutup (closed economy) adalah suatu perekonomian yang tidak memperhitungkan perdagangan luar negeri. Saat ini tidak ada satu negara pun yang tidak ada perdagangan luar negerinya.
Sehingga perhitungan ekonomi yaang tidak memasukan perdagangan luar negeri hanya suatu penyederhanaan saja. Dalam suatu ekonomi tertutup, pendapatan nasional sama (Gross National Product GNP) dengan aggregate expenditure (AE) yang diperlukan untuk membeli output konsumsi, investasi dan belanja pemerintah atau dapat ditulis sebagai berikut:
GNP = AE = C + I + G