• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERTUMBUHAN, AKUMULASI, DAN KEBIJAKAN EKONOMI

Yoseb Boari, S.E., M.Si Universitas Ottow Geissler Papua

Pengantar

Dalam dunia ekonomi, pertumbuhan adalah konsep yang sangat penting. Pertumbuhan ekonomi merujuk pada peningkatan atau perkembangan dalam ukuran ekonomi suatu negara atau wilayah dalam periode waktu tertentu. Peningkatan ini umumnya diukur dengan indikator-indikator seperti Produk Domestik Bruto (PDB) atau Pendapatan Nasional Bruto. Pertumbuhan ekonomi adalah salah satu tujuan utama yang dikejar oleh banyak negara karena dapat membawa kemakmuran, lapangan kerja, dan kesempatan ekonomi yang lebih baik bagi penduduknya.

Namun, konsep pertumbuhan ekonomi tidak hanya sekadar peningkatan angka dalam statistik ekonomi. Ini melibatkan sejumlah faktor kompleks yang dapat memengaruhi arah dan tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara. Faktor-faktor ini mencakup Sumber Daya Manusia (SDM), Sumber Daya Alam (SDA), Sumber Daya Modal, dan inflasi. Masing-masing faktor ini memiliki peran penting dalam membentuk ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang faktor-faktor ini adalah kunci untuk merencanakan kebijakan ekonomi yang efektif dan berkelanjutan.

46

Dalam pengantar ini, kita akan menjelajahi konsep pertumbuhan ekonomi serta faktor-faktor yang dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Kita akan memahami mengapa Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan kuantitas yang memadai sangat penting, bagaimana pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) yang bijak dapat memengaruhi pertumbuhan, mengapa Sumber Daya Modal merupakan komponen kunci dalam mendorong produksi, dan mengapa inflasi menjadi faktor penting dalam perkembangan ekonomi.

Penting untuk memahami bahwa pertumbuhan ekonomi adalah hasil dari interaksi kompleks antara faktor-faktor ini, dan pemahaman yang mendalam tentang mereka akan membantu kita merencanakan kebijakan ekonomi yang berkelanjutan. Mari kita jelajahi lebih lanjut faktor-faktor tersebut, yaitu Sumber Daya Manusia (SDM), Sumber Daya Alam (SDA), Sumber Daya Modal, dan inflasi, untuk memahami dampak dan perannya dalam pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan

Pertumbuhan merujuk pada peningkatan atau perkembangan dalam ukuran ekonomi suatu negara atau wilayah dalam suatu periode waktu tertentu. Ini biasanya diukur dengan menggunakan indikator-indikator seperti Produk Domestik Bruto (PDB) atau Pendapatan Nasional Bruto.

1. Teori Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi menggambarkan peningkatan dalam produksi total barang dan jasa dalam suatu ekonomi selama periode waktu tertentu. Pertumbuhan ini bisa diukur secara tahunan, kuartalan, atau dalam periode lainnya. Ketika pertumbuhan ekonomi terjadi, itu berarti bahwa masyarakat atau negara tersebut telah menghasilkan lebih banyak barang dan jasa daripada sebelumnya.

47

Pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang mengakibatkan peningkatan barang dan jasa yang dihasilkan dalam masyarakat dan peningkatan kesejahteraan masyarakat (Sukirno, 2000). Menurut Arsyad (1999), pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai peningkatan Produk Domestik Bruto/Pendapatan Nasional Bruto tanpa memandang apakah peningkatan tersebut lebih besar atau lebih kecil dari tingkat pertumbuhan penduduk atau apakah terjadi perubahan struktur ekonomi atau tidak.

Pertumbuhan ekonomi dianggap sebagai indikator penting dalam evaluasi kesejahteraan ekonomi suatu negara karena pertumbuhan yang stabil dan berkelanjutan dapat menciptakan peluang ekonomi yang lebih baik, lapangan kerja, dan pendapatan bagi penduduknya. Namun, penting untuk dicatat bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu mencerminkan distribusi pendapatan yang merata atau kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi sering dipertimbangkan bersama dengan indikator lain seperti indeks ketimpangan ekonomi, tingkat pengangguran, dan indeks kesejahteraan untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang keadaan ekonomi suatu negara.

Pertumbuhan ekonomi dapat digerakkan oleh berbagai faktor, termasuk investasi dalam infrastruktur, peningkatan produk-tivitas, peningkatan investasi dalam riset dan pengembangan, stabilitas kebijakan ekonomi, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, pemerintah dan organisasi ekonomi internasional sering bekerja untuk mempromosikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

48 a. Teori Neoklasik

Teori Neoklasik, yang juga dikenal sebagai model pertumbuhan ekonomi Solow-Swan, pertama kali diperkenalkan oleh Adam Smith dan kemudian dijelaskan kembali oleh Robert Solow dan T. W.

Swan. Teori ini menyatakan bahwa terdapat tiga faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, yaitu sumber daya modal, tenaga kerja, dan kemajuan teknologi. Teori ini juga mengasumsikan bahwa peningkatan jumlah pekerja dapat meningkatkan pendapatan per individu. Namun, tanpa perkembangan teknologi modern, peningkatan tersebut tidak akan memberikan dampak positif pada pertumbuhan ekonomi suatu negara.

b. Teori Klasik

Teori klasik telah berkembang sejak abad ke-18.

Tokoh utama di balik teori ini adalah Adam Smith, yang berpendapat bahwa perekonomian suatu negara akan mencapai puncaknya ketika menerapkan sistem liberal yang terdiri dari dua elemen pokok, yaitu pertumbuhan populasi dan produksi.

Namun, pandangan ini kemudian ditentang oleh David Ricardo. David Ricardo berpendapat bahwa pertumbuhan populasi tidak berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi suatu negara, melainkan hanya menyebabkan peningkatan angkatan kerja, yang pada akhirnya dapat mengakibatkan penurunan upah pekerja. Teori ekonomi klasik muncul sebagai tonggak pertama dalam pengembangan pemikiran ekonomi, digunakan sebagai salah satu disiplin ilmu. Teori ini muncul sebagai respons terhadap kelemahan dan keterbatasan dari teori ekonomi sebelumnya.

49 c. Teori Historis

Teori ini dikembangkan oleh banyak pakar ekonomi, seperti Karl Bucher, Werner Sombart, dan Frederich List, yang memiliki sudut pandang yang beragam namun tetap berfokus pada aktivitas ekonomi masyarakat. Menurut Karl, hubungan antara produsen dan konsumen memiliki dampak pada perkembangan ekonomi negara, yang secara alamiah terjadi di dalam masyarakat, perkotaan, dan seluruh dunia. Di sisi lain, Werner Sombart mengkategorikan peran masyarakat dalam pertumbuhan ekonomi mulai dari tahap ekonomi yang tertutup, kemudian berkembang menjadi pertumbuhan industri, dan akhirnya mencapai tahap kapitalis.

2. Faktor-Faktor yang dapat Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi suatu negara adalah hal yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Dalam konteks ini, kita akan menjelajahi beberapa faktor utama yang memiliki peran penting dalam membentuk arah dan kecepatan pertumbuhan ekonomi. Faktor-faktor tersebut mencakup Sumber Daya Manusia (SDM), Sumber Daya Alam (SDA), Sumber Daya Modal, dan inflasi. Masing-masing faktor memiliki dampak yang berbeda pada ekonomi, dan pemahaman yang mendalam tentang mereka adalah kunci untuk merencanakan kebijakan ekonomi yang efektif dan berkelanjutan. Berikut kita akan melihat bagaimana faktor-faktor ini dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu negara dan mengapa pengelolaan dan pemahaman yang baik tentang mereka sangat penting dalam upaya mencapai pertumbuhan ekonomi yang stabil dan berkelanjutan.

50

a. Sumber Daya Manusia (SDM)

Sumber Daya Manusia (SDM) adalah salah satu faktor yang mampu memengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu negara, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya.

1) Pentingnya Sumber Daya Manusia (SDM):

SDM merujuk pada populasi manusia suatu negara, terutama dalam konteks ini, tenaga kerja. Pentingnya SDM dalam pertumbuhan ekonomi adalah karena SDM adalah sumber daya yang aktif dalam menciptakan, mengembangkan, dan menerapkan inovasi, teknologi, dan kapasitas kerja yang diperlukan untuk memproduksi barang dan jasa. Oleh karena itu, kualitas dan jumlah SDM sangat relevan dalam menentukan sejauh mana suatu negara dapat menghasilkan dan memperoleh pendapatan ekonomi.

2) Kualitas dan Kuantitas SDM:

a) Kualitas SDM: Merujuk pada tingkat pendidikan, keterampilan, dan pengetahuan yang dimiliki oleh tenaga kerja suatu negara. SDM yang berkualitas tinggi cenderung lebih produktif, dapat mengadopsi teknologi yang lebih maju, dan dapat berkontribusi pada inovasi dan pengembangan industri yang lebih efisien. Oleh karena itu, investasi dalam pendidikan, pelatihan, dan pengembangan kualitas SDM sangat penting untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

51

b) Kuantitas SDM: Merujuk pada jumlah penduduk dan angkatan kerja dalam suatu negara. Kuantitas SDM yang besar dapat memberikan keuntungan dalam hal potensi pasar domestik yang besar dan tenaga kerja yang melimpah. Namun, pengelolaan jumlah tenaga kerja harus sesuai dengan pertumbuhan ekonomi untuk mencegah masalah pengangguran atau ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan tenaga kerja.

SDM merupakan faktor kunci yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu negara karena kualitas dan jumlah tenaga kerja yang baik dapat meningkatkan produktivitas, daya saing, dan kapasitas inovasi ekonomi negara tersebut. Oleh karena itu, investasi dalam pendidikan dan pelatihan SDM adalah strategi penting dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

b. Sumber Daya Alam (SDA)

Jumlah sumber daya alam yang dimiliki oleh suatu negara, terutama negara berkembang, tidak selalu menjamin perkembangan ekonominya. Namun, pemanfaatan sumber daya alam yang efisien dan efektif dapat memengaruhi kemajuan ekonomi. Ini berarti bahwa hanya memiliki banyak sumber daya alam belum cukup untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang positif. Negara yang kaya akan sumber daya alam seperti logam, minyak, gas alam, dan lainnya mungkin berpikir bahwa mereka secara otomatis akan mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat. Namun, hal ini tidak selalu terjadi.

Mengapa? Ada beberapa alasan:

52

1) Ketergantungan pada Sektor Tertentu:

Negara-negara yang sangat mengandalkan ekspor sumber daya alam seringkali sangat rentan terhadap fluktuasi harga pasar global.

Jika harga komoditas tersebut turun, ekonomi negara tersebut dapat terpukul parah.

2) Masalah Manajemen: Kekayaan sumber daya alam bisa menjadi kutukan jika tidak dikelola dengan baik. Korupsi, pengrusakan lingkungan, dan manajemen yang buruk dapat merusak potensi ekonomi.

3) Ketergantungan Pada Pasar Eksternal: Negara yang bergantung pada ekspor sumber daya alam dapat terkena dampak ketidakstabilan ekonomi global atau perubahan kebijakan luar negeri yang mempengaruhi perdagangan.

Namun, pemanfaatan sumber daya alam yang efisien dan efektif dapat memengaruhi kemajuan ekonomi. Secara efisiensi berarti menggunakan sumber daya alam dengan cara yang paling hemat biaya dan produktif, sehingga menghasilkan lebih banyak output ekonomi dari setiap unit sumber daya yang digunakan.

Sementara secara efektivitas berarti menggunakan sumber daya alam dengan cara yang mendukung tujuan ekonomi jangka panjang, seperti diversifikasi ekonomi, pengurangan ketimpangan, dan pembangunan infrastruktur.

Ketika suatu negara mampu mengelola sumber daya alamnya dengan baik, termasuk melindungi lingkungan, mempromosikan inovasi, dan

53

memastikan manfaatnya tersebar merata di masyarakat, maka sumber daya alam tersebut dapat menjadi sumber daya yang berharga untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Dengan demikian, kepemilikan sumber daya alam adalah langkah awal, tetapi pengelolaan yang bijak dan efisien dari sumber daya tersebut adalah faktor yang lebih penting dalam mendorong kemajuan ekonomi suatu negara.

c. Sumber Daya Modal

Pentingnya modal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, yang berkontribusi pada peningkatan hasil produksi, terkait dengan pengelolaan modal yang ada serta investasi baik dari dalam maupun luar negeri.

Modal dalam hal ini mengacu pada sumber daya finansial yang digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa. Modal dapat berupa uang tunai, fasilitas fisik seperti pabrik dan mesin, teknologi, serta sumber daya manusia yang terampil. Modal ini diperlukan untuk memulai, mengembangkan, dan menjalankan bisnis serta proyek-proyek yang mendukung pertumbuhan ekonomi.

Pentingnya modal terletak pada fakta bahwa dengan adanya modal yang cukup, suatu negara dapat:

1) Meningkatkan Produksi: Modal memungkinkan perusahaan untuk memperluas kapasitas produksi, meningkatkan efisiensi, dan menghasilkan lebih banyak barang dan jasa.

54

2) Mendorong Inovasi: Investasi dalam penelitian dan pengembangan (R&D) serta teknologi baru memungkinkan penciptaan produk baru dan proses produksi yang lebih efisien.

3) Menciptakan Lapangan Kerja: Peningkatan produksi melalui investasi modal dapat menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan mengurangi tingkat pengangguran.

4) Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Jangka Panjang: Pengelolaan modal yang baik dan investasi yang tepat dapat memberikan kontribusi signifikan pada pertumbuhan ekonomi jangka panjang suatu negara.

Cara modal dikelola dan diinvestasikan memiliki dampak besar pada pertumbuhan ekonomi.

Terdapat beberapa aspek penting dalam hal ini:

1) Pengelolaan Modal yang Bijak: Negara perlu memastikan bahwa modal yang ada digunakan secara efisien dan efektif. Ini termasuk memastikan bahwa infrastruktur yang ada berfungsi dengan baik, birokrasi yang efisien, dan regulasi yang mendukung investasi.

2) Investasi Dalam Pembangunan Infrastruktur:

Investasi dalam pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, pelabuhan, dan energi dapat meningkatkan konektivitas dan efisiensi ekonomi.

55

3) Investasi dalam Pendidikan dan Pelatihan SDM: Investasi dalam pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia (SDM) adalah bentuk investasi modal yang penting.

SDM yang terampil dan terlatih dapat meningkatkan produktivitas dan inovasi.

4) Investasi Asing Langsung: Investasi dari luar negeri (investasi asing langsung) dapat membawa modal baru dan teknologi ke suatu negara, yang dapat membantu menggerakkan pertumbuhan ekonomi.

5) Investasi Dalam R&D: Investasi dalam penelitian dan pengembangan teknologi baru juga merupakan bagian penting dari pengelolaan modal yang berkontribusi pada inovasi dan pertumbuhan.

Dengan kata lain, pengelolaan modal yang bijak dan investasi yang tepat dapat membantu suatu negara memaksimalkan potensinya dalam hal pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan sektor swasta untuk berinvestasi dengan cerdas dan mengelola modal dengan baik untuk mencapai tujuan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

d. Inflasi

Faktor krusial yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi suatu negara adalah inflasi. Kenaikan harga barang dapat mengurangi daya beli penduduk dan memiliki potensi dampak pada Produk Domestik Bruto (PDB).

56

Inflasi mengacu pada peningkatan umum dan berkelanjutan dalam harga barang dan jasa dalam suatu ekonomi selama periode waktu tertentu. Inflasi adalah faktor krusial dalam pertumbuhan ekonomi karena memiliki dampak yang signifikan pada berbagai aspek ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Dampak Inflasi pada Daya Beli Penduduk:

Inflasi dapat berdampak pada daya beli penduduk.

Ketika harga barang dan jasa terus naik, pendapatan masyarakat mungkin tidak cukup untuk membeli barang dan jasa yang sama seperti sebelumnya. Ini dapat menyebabkan penurunan daya beli, yang berarti masyarakat harus menghabiskan lebih banyak uang untuk memenuhi kebutuhan mereka, meningkatkan ketidakpastian finansial, dan mengurangi kemampuan untuk menabung atau berinvestasi. Oleh karena itu, inflasi yang tinggi dapat merugikan masyarakat dengan pendapatan tetap, seperti pensiunan atau pekerja dengan upah yang tidak berubah.

Dampak Inflasi pada Produk Domestik Bruto (PDB):

PDB adalah ukuran nilai semua barang dan jasa yang dihasilkan dalam suatu negara dalam satu periode waktu tertentu. Inflasi dapat mempengaruhi PDB dalam dua cara utama:

a. Efek Inflasi pada Harga Output: Jika inflasi disebabkan oleh kenaikan biaya produksi, maka produsen mungkin akan mengalami peningkatan harga barang dan jasa mereka. Ini dapat meningkatkan nilai PDB karena harganya lebih tinggi, tetapi jika tingkat inflasi sangat tinggi dan tidak terkendali, hal ini dapat menciptakan ketidakpastian ekonomi.

57

b. Efek Inflasi pada Pengeluaran Konsumen dan Investasi: Inflasi yang tinggi dapat menyebabkan masyarakat dan perusahaan enggan untuk berbelanja dan berinvestasi karena mereka tidak yakin tentang nilai uang mereka di masa depan.

Ini dapat mengurangi permintaan konsumen dan investasi perusahaan, yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi.

Mengelola Inflasi:

Pemerintah dan bank sentral suatu negara bertanggung jawab untuk mengelola inflasi. Mereka dapat menggunakan kebijakan moneter, seperti mengatur suku bunga dan mengendalikan jumlah uang beredar, untuk mencoba menjaga inflasi tetap pada tingkat yang stabil dan terkendali. Tujuannya adalah untuk mencapai keseimbangan antara menghindari inflasi yang terlalu tinggi yang dapat merugikan masyarakat dan menghindari deflasi (penurunan umum harga) yang juga dapat berdampak negatif pada ekonomi.

Dalam rangka mencapai pertumbuhan ekonomi yang sehat dan berkelanjutan, mengelola inflasi dengan bijak adalah langkah penting bagi pemerintah dan bank sentral. Hal ini memungkinkan masyarakat untuk memper-tahankan daya beli mereka dan menciptakan lingkungan ekonomi yang stabil untuk investasi dan pertumbuhan.

Akumulasi

Akumulasi, dalam konteks ekonomi, mengacu pada proses pengumpulan atau penimbunan sumber daya ekonomi atau aset yang dapat digunakan untuk produksi di masa depan. Konsep ini merupakan salah satu elemen penting dalam pemahaman pertumbuhan ekonomi dan

58

perkembangan ekonomi suatu negara. Akumulasi berarti pengumpulan faktor-faktor produksi yang dapat meningkatkan produktivitas dan produksi di masa mendatang. Berikut adalah beberapa komponen akumulasi yang umumnya dipertimbangkan dalam ekonomi:

1. Akumulasi Modal (Investasi): Akumulasi modal mengacu pada peningkatan dalam kapital fisik dan finansial suatu negara. Kapital fisik melibatkan investasi dalam infrastruktur, pabrik, mesin, peralatan, dan semua barang modal yang digunakan dalam produksi. Kapital finansial melibatkan pengumpulan dana melalui tabungan, investasi, atau pembiayaan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

2. Akumulasi Manusia (Pendidikan dan Pelatihan):

Akumulasi manusia adalah peningkatan dalam pengetahuan, keterampilan, dan kapasitas manusia yang digunakan dalam proses produksi. Ini termasuk investasi dalam pendidikan formal, pelatihan, dan pengembangan keterampilan. Semakin terampil dan terlatih tenaga kerja, semakin besar kontribusi mereka terhadap pertumbuhan ekonomi.

3. Akumulasi Teknologi: Akumulasi teknologi melibatkan pengembangan, peningkatan, dan penyebaran teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas dalam berbagai sektor ekonomi. Ini bisa berupa inovasi, penelitian dan pengembangan (R&D), serta transfer teknologi dari luar negeri.

4. Akumulasi Sumber Daya Alam: Beberapa negara memiliki sumber daya alam yang kaya seperti minyak, gas, logam, atau tanah subur. Akumulasi sumber daya alam berarti pengelolaan dan

59

penggunaan sumber daya ini secara efisien untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Ini mencakup praktik berkelanjutan dan konservasi untuk menjaga sumber daya alam dalam jangka panjang.

5. Akumulasi Pengetahuan dan Kapasitas Institusi:

Pengetahuan dan kapasitas institusi yang kuat juga merupakan bagian dari akumulasi. Pengetahuan yang dibagikan dan diterapkan di dalam masyarakat serta lembaga-lembaga yang dapat mengatur dan mendukung aktivitas ekonomi berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Akumulasi ini penting karena berkontribusi pada peningkatan produktivitas dan kapasitas ekonomi suatu negara. Dengan peningkatan ini, ekonomi dapat menghasilkan lebih banyak barang dan jasa yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, dan meningkatkan kesejahteraan.

Peran akumulasi dalam pertumbuhan ekonomi menyoroti pentingnya kebijakan ekonomi yang mendorong investasi, pendidikan, inovasi, dan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan. Dalam banyak kasus, negara dan pemerintah memiliki peran penting dalam mendorong akumulasi ini melalui kebijakan fiskal, moneter, pendidikan, dan lingkungan usaha yang mendukung.

Kebijakan Ekonomi

Kebijakan ekonomi adalah seperangkat langkah, strategi, aturan, dan keputusan yang diambil oleh pemerintah atau otoritas ekonomi suatu negara untuk mengatur dan mempengaruhi aktivitas ekonomi dalam suatu wilayah.

Tujuan dari kebijakan ekonomi adalah untuk mencapai berbagai tujuan ekonomi dan sosial, seperti

60

pertumbuhan ekonomi yang stabil, penciptaan lapangan kerja, kontrol inflasi, distribusi pendapatan yang adil, dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Kebijakan ekonomi dapat mencakup berbagai aspek, termasuk:

1. Kebijakan Moneter: Ini mencakup pengaturan jumlah uang beredar, tingkat suku bunga, dan operasi bank sentral untuk mengendalikan inflasi, stabilitas mata uang, dan pertumbuhan ekonomi. Kebijakan Moneter adalah tindakan pemerintah untuk memperbaiki kondisi ekonomi dengan mengendalikan jumlah uang yang beredar. Untuk mengatasi krisis ekonomi yang masih berlangsung, selain harus merapikan sektor riil, hal yang tak kalah penting adalah memperbaiki sejumlah kesalahpahaman terkait masalah uang (Latifah, 2015).

Kebijakan moneter dapat digolongkan menjadi dua, yaitu: Kebijakan moneter ekspansif (Monetary expansive policy) dan Kebijakan Moneter Kontraktif (Monetary contractive policy) Ada empat instrument utama yang digunakan untuk mengatur jumlah uang yang beredar: Operasi pasar terbuka (Open Market Operation), Fasilitas diskonto (Discounto Rate), Rasio cadangan wajib (Reserve Requirement Ratio), Imbauan Moral (Moral Persuasion) (Latifah, 2015).

Apabila diperhatikan, krisis ekonomi yang menimpa Indonesia dan daerah lain pada hakikatnya dipicu oleh dua faktor utama yang semuanya berhubungan dengan permasalahan uang. Pertama, permasalahan mata uang, di mana nilai mata uang suatu negara saat ini selalu terikat dengan mata uang negara lain (contohnya, rupiah terhadap dolar AS), bukan hanya pada nilai intrinsiknya sendiri, sehingga stabilitas

61

nilai mata uang tersebut selalu terpengaruh ketika nilai mata uang tertentu mengalami fluktuasi.

Kedua, realitas bahwa uang tidak hanya berfungsi sebagai alat tukar, melainkan juga menjadi komoditas yang diperdagangkan di pasar valuta asing dan menghasilkan keuntungan berupa bunga atau riba dari setiap transaksi peminjaman atau penyimpanan uang (Karim, 2001).

2. Kebijakan Fiskal: Ini mencakup pengaturan pengeluaran dan penerimaan pemerintah, termasuk anggaran belanja publik, pajak, subsidi, dan kebijakan lain yang mempengaruhi kondisi fiskal suatu negara. Menurut Wolfson sebagaimana dikutip Suparmoko (1997), kebijakan fiskal (fiscal policy) merupakan pengambilan langkah-langkah oleh pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kebijakan pendapatan dan pengeluaran pemerintah, penggunaan sumber daya, serta penetapan harga barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan. Sedangkan Samuelson dan Nordhaus (1997) menyatakan bahwa kebijakan fiskal adalah Proses pengembangan sistem perpajakan dan pengeluaran masyarakat sebagai bagian dari usaha untuk meredakan fluktuasi siklus bisnis, serta berkontribusi dalam menjaga pertumbuhan ekonomi yang stabil, tingkat penggunaan tenaga kerja yang tinggi, dan mencegah inflasi yang tinggi dan tidak stabil.

3. Kebijakan Perdagangan: Ini berkaitan dengan regulasi impor, ekspor, tarif, kuota, dan perjanjian perdagangan internasional yang mempengaruhi perdagangan barang dan jasa.