• Tidak ada hasil yang ditemukan

RUANG LINGKUP ILMU EKONOMI MAKRO

Alamsyah Agit, SE., M.Si

Institut Agama Islam DDI Sidenreng Rappang

Definisi Ekonomi Makro

Konsep dari ekonomi makro mengcakup banyak aspek dari ekonomi mikro dalam skala yang lebih besar, sebagaimana dalam ekonomi mikro yang banyak membahas mengenai proses terjadinya bisnis, yang meliputi produksi, konsumsi, dan distribusi, termasuk bagaimana manusia memenuhi kebutuhan dengan keterbatasan sumber daya. Secara definitif, ekonomi makro diartikan sebagai cabang ilmu ekonomi yang mempelajari mengenai perilaku, struktur, dan keputusan-keputusan dalam ekonomi secara keseluruhan. Hal ini meliputi analisis fenomena ekonomi dalam skala besar yang diantaranya adalah pertumbuhan ekonomi, inflasi, pengangguran, kebijakan moneter dan fiskal (Hulsmann, 2012). Ekonomi makro berfokus pada tren dan pola dalam ekonomi, serta bagaimana kebijakan pemerintah dan faktor eksternal dapat mempengaruhi kinerja ekonomi secara keseluruhan.

Ekonomi makro memiliki ruang lingkup dan fokus pembahasan yang sangat luas, sebagaimana ekonomi makro umumnya merupakan bagian penting dari negara, yang membahas mengenai kebijakan, strategi moneter dan fiskal, hubungan antar negara, dan komponen-

24

komponen penting lainnya yang dapat berpengaruh secara signifikan terhadap bagaimana suatu negara dapat mencapai kinerja ekonomi yang baik. Salah satu tujuan utama dari ekonomi makro adalah untuk memahami dan menjelaskan fenomena ekonomi dalam skala besar, aspek-aspek ini umumnya berhubungan erat dengan kehidupan orang banyak, atau secara simpel seluruh warga pada suatu negara. Diantaranya pertumbuhan ekonomi yang menggambarkan peningkatan kapasitas produksi serta berdampak pada peningkatan standar hidup dan pengurangan pengangguran. Selain itu, inflasi sebagai sebuah fenomena yang menunjukkan adanya peningkatan harga secara berkelanjutan dan dapat berdampak pada daya beli masyarakat secara umum. Kebijakan, seperti kebijakan moneter juga merupakan pembahasan utama dalam ekonomi makro, sebagaimana kebijakan ini berkaitan erat dengan pengaturan pasokan uang dan tingkat suku bunga yang bertujuan untuk mencapai kestabilan harga dan mendukung pertumbuhan ekonomi, selain itu, berbagai komponen seperti pengeluaran pemerintah dan pajak juga menjadi bagian penting dalam kebijakan moneter.

Beberapa hal pokok yang menjadi inti pembahasan dalam lingkup ekonomi makro, komponen-komponen ini bersifat universal dan tidak hanya bersifat individual, aspek-aspek dalam ekonomi makro dapat berpengaruh terhadap suatu wilayah, golongan, maupun perekonomian suatu negara secara menyeluruh, adapun beberapa hal yang dibahas dalam ekonomi makro adalah sebagai berikut:

1. Pertumbuhan Ekonomi. Dalam ekonomi makro, dipelajari bagaimana terjadinya perubahan dalam produksi total barang dan jasa, serta bagaimana faktor- faktornya dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.

25

2. Inflasi. Makro ekonomi membahas mengenai kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan secara berkelanjutan, dalam prosesnya makro ekonomi berupaya untuk mengetahui dan mengatasi penyebab dari inflasi.

3. Pengangguran. Ekonomi makro membahas mengenai permasalahan yang berkaitan dengan pengangguran, termasuk penyebab tingginya pengangguran dan dampak dari tingginya tingkat pengangguran.

4. Pendapatan Nasional. Salah satu topik yang dibahas dalam ekonomi makro adalah bagaimana total pendapatan yang dihasilkan suatu negara dan darimana sumber-sumber pendapatan tersebut, termasuk diantaranya adalah upah, keuntungan dan pajak.

5. Kebijakan. Kebijakan ekonomi merupakan salah satu pembahasan utama dalam ekonomi makro, terutama kebijakan moneter dan fiskal, sebagaimana berbagai kebijakan ini mengarahkan perekonomian suatu negara.

Urgensi Ekonomi Makro

Ilmu ekonomi makro berfokus pada masalah-masalah ekonomi dalam skala yang besar, dalam konteks ilmu ekonomi, ekonomi makro bertujuan untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang operasi dan kinerja ekonomi dalam skala global, mengcakup suatu negara bahkan hubungan antar negara. Isu-isu yang dibahas dalam ekonomi makro sangat penting terutama dalam hal kenegaraan, isu-isu ini diantaranya adalah isu kritis seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, pengangguran, dan kebijakan moneter serta kebijakan fiskal (Haldane &

Turrell, 2018). Pengetahuan dan informasi yang berkaitan dengan isu-isu tersebut, dapat menjadi

26

sumber referensi dalam merumuskan strategi yang efektif dalam mengelolah ekonomi, memastikan stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi di suatu negara. Selain itu, berbagai hal krusial seperti faktor eksternal, diantaranya perubahan kebijakan, krisis keuangan, dan peristiwa ekonomi global, dapat mempengaruhi ekonomi domestik. Pemahaman akan hal dinamis seperti ini, dapat digunakan individu, perusahaan, dan pemerintah dalam merusmukan keputusan yang tepat dan terukur serta dapat memberi dampak secara umum.

Ekonomi makro tentu memiliki banyak komponen dan sub bidang pembahasan, pentingnya mempelajari ekonomi makro dijelaskan oleh (Syverson, 2019) yang menyatakan bahwa beberapa alasan ekonomi makro merupakan bidang ilmu yang penting untuk dipelajari adalah sebagai berikut:

1. Pengambilan Keputusan. Ekonomi makro merupakan bidang ilmu yang membantu dalam merancang dan menerapkan kebijakan yang tepat, hal ini terutama dalam hal kebijakan yang berkaitan dengan moneter dan fiskal yang berperan penting dalam mengatur pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan mengurangi pengangguran.

2. Stabilitas Ekonomi. Siklus ekonomi dan kebijakan ekonomi merupakan yang berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dan menghindari volatilitas berlebihan yang berpotensi menyebabkan krisis ekonomi, pemahaman ini menjadi salah satu aspek penting dalam ekonomi makro.

27

3. Pasar Tenaga Kerja. Makroekonomi penting, terutama dalam konteks tenaga kerja, yang diantaranya mengcakup dinamika pasar tenaga kerja, pengangguran, upah, dan kebijakan yang mengarah pada ketenagakerjaan.

4. Distribusi Pendapatan. Ekonomi makro memberikan pemahaman mendalam tentang distribusi pendapatan dan kekayaan dalam masyarakat serta bagaimana dampak kebijakan ekonomi terhadap kesejangan ekonomi.

5. Pertumbuhan dan Pembangunan. Ekonomi makro mempelajari tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi jangka panjang, serta pembangunan yang berperan penting dalam meningkatkan standar hidup masyarakat secara umum.

6. Teknologi dan Inovasi. Ekonomi makro mengeksplorasi bagaimana teknologi dan inovasi tercipta serta bagaimana dampaknya serta kontribusinya terhadap kegiatan ekonomi dalam skala besar yang berkaitan dengan perekonomian pada suatu negara.

Ekonomi makro sebagaimana cabang ilmu lainnya merupakan sebuah cabang ilmu yang penting dan berkontribusi secara signifikan pada ilmu ekonomi, dan praktik ekonomi dalam kehidupan sehari-hari. Ekonomi makro memberikan pemahaman yang mendalam mengenai bagaimana ekonomi suatu negara beroperasi dalam skala besar dan dampaknya pada kehidupan orang banyak. Pemahaman akan konsep-konsep makro seperti PDB, inflasi, pengangguran, dan kebijakan moneter serta fiskal (Lee, 2016). Semua informasi yang berkaitan dengan aspek-aspek ini dapat membantu pembuat kebijakan dalam merumuskan kebijakan yang

28

bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, mengendalikan inflasi, dan menciptakan lapangan sebagai solusi untuk mengurangi pengangguran. Lebih jauh, masalah-masalah ekonomi seperti pengelolaan siklus bisnis, pengurangan kemiskinan, dan peningkatan standar hidup merupakan pembahasan pokok dalam makroekonomi.

Ruang Lingkup Ekonomi Mikro 1. Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi adalah peningkatan kapasitas produksi ekonomi suatu wilayah atau negara yang diukur berdasarkan kenaikan nilai barang dan jasa yang dihasilkan, biasanya diukur dalam Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB) selama periode tertentu. Pertumbuhan ekonomi mengindikasikan peningkatan kesejahteraan ekonomi dan kemampuan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan penduduknya (Halim, 2020). Pertumbuhan ekonomi merupakan faktor kunci dalam perekonomian karena berperan penting dalam meningkatkan standar hidup, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat basis pendapatan pemerintah yang dapat digunakan untuk membiayai layanan publik. Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan memungkinkan negara untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan mengatasi berbagai masalah sosial. Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang kuat dapat membantu negara dalam mengelola dan membayar utang-utangnya, serta mendorong inovasi dan kemajuan teknologi yang berujung pada peningkatan produktivitas dan daya saing di pasar global. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi adalah fondasi yang mendukung pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

29

Pertumbuhan ekonomi merupakan topik yang luas dan meliputi berbagai aspek. Berikut adalah beberapa poin pembahasan utama dalam pertumbuhan ekonomi (Purba, 2020):

a. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi: Analisis terhadap bagaimana faktor- faktor seperti Foreign Direct Investment (FDI), ekspor, utang luar negeri, dan nilai GDP mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

b. Peran FDI dalam Pertumbuhan Ekonomi:

Pentingnya FDI sebagai sumber modal dari luar negeri bagi negara berkembang di ASEAN, termasuk Indonesia, untuk mendukung keberlangsungan pertumbuhan ekonominya.

c. Kontribusi Ekspor terhadap Pertumbuhan Ekonomi: Bagaimana peningkatan ekspor dapat meningkatkan kapasitas produksi, akses ke pasar internasional, pendapatan devisa, penyerapan tenaga kerja, dan pendapatan negara.

d. Dampak Utang Luar Negeri: Pengaruh utang luar negeri terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia dan bagaimana negara berkembang menggunakan utang untuk mengatasi kesenjangan tabungan atau investasi dan ketimpangan neraca pembayaran.

e. Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi: Kontribusi investasi, termasuk FDI, terhadap pertumbuhan ekonomi dari sisi permintaan dan penawaran, serta dampak jangka panjangnya terhadap produksi nasional.

30

f. Tantangan dalam Memenuhi Kebutuhan Modal:

Hambatan yang dihadapi negara berkembang, seperti Indonesia, dalam memenuhi kebutuhan modal untuk pertumbuhan ekonomi, termasuk rendahnya tingkat produktivitas dan tingginya konsumsi, serta upaya pemerintah dalam mencari modal.

g. Peningkatan Standar Hidup: Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dapat meningkatkan standar hidup masyarakat dengan cara menyediakan lebih banyak barang dan jasa.

Dengan adanya pertumbuhan, pendapatan per kapita cenderung meningkat, yang memungkinkan individu untuk menikmati tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi.

h. Penciptaan Lapangan Kerja: Pertumbuhan ekonomi seringkali dikaitkan dengan peningkatan investasi dan ekspansi bisnis, yang pada gilirannya menciptakan lebih banyak lapangan kerja. Hal ini penting untuk mengurangi tingkat pengangguran dan meningkatkan kesempatan kerja bagi penduduk.

i. Pendanaan untuk Layanan Publik: Pemerintah mengandalkan pertumbuhan ekonomi untuk menghasilkan pendapatan tambahan melalui pajak tanpa harus menaikkan tarif pajak.

Pendapatan yang lebih tinggi ini dapat digunakan untuk membiayai layanan publik seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.

j. Kemampuan untuk Mengatasi Utang: Negara dengan pertumbuhan ekonomi yang kuat memiliki kemampuan yang lebih baik untuk membayar utang-utangnya. Rasio utang terhadap PDB yang lebih rendah menunjukkan

31

posisi fiskal yang lebih sehat, yang dapat meningkatkan kepercayaan investor dan menurunkan biaya pinjaman.

k. Peningkatan Inovasi dan Teknologi:

Pertumbuhan ekonomi seringkali mendorong investasi dalam penelitian dan pengembangan, yang dapat menghasilkan inovasi dan kemajuan teknologi. Hal ini tidak hanya meningkatkan efisiensi dan produktivitas tetapi juga membuka peluang pasar baru dan meningkatkan daya saing ekonomi.

2. Inflasi

Inflasi adalah fenomena ekonomi yang ditandai dengan kenaikan harga-harga komoditi secara umum dan berkelanjutan. Inflasi tidak hanya terbatas pada kenaikan harga satu atau dua barang, tetapi harus meluas ke sebagian besar barang dan jasa dalam suatu ekonomi. Kenaikan harga ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan, biaya produksi yang meningkat, kebijakan moneter yang ekspansif, atau peningkatan jumlah uang yang beredar (Fadilla

& Purnamasari, 2021). Tingkat inflasi yang stabil dan terkendali sering dianggap sebagai indikator kesehatan ekonomi, menandakan bahwa permintaan konsumen berada pada level yang sehat dan ekonomi sedang berkembang. Inflasi mempengaruhi kebijakan moneter yang ditetapkan oleh bank sentral, yang menyesuaikan suku bunga untuk mengendalikan pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas harga.

Selain itu, inflasi berdampak pada pendapatan dan konsumsi dengan mempengaruhi daya beli masyarakat, yang pada gilirannya mempengaruhi perilaku konsumen dan keputusan investasi. Inflasi juga memainkan peran dalam penyesuaian gaji dan

32

upah, mempengaruhi nilai riil utang, dan berdampak pada daya saing ekspor dan impor suatu negara.

Oleh karena itu, pengelolaan inflasi yang baik adalah kunci untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan stabilitas ekonomi makro.

Inflasi merupakan komponen penting dalam perekonomian, sehingga penting untuk memahami inflasi secara mendalam, adapun pembahasan pokok dalam konteks inflasi meliputi beberapa poin utama (Arjunita, 2016):

a. Definisi Inflasi: Inflasi adalah peningkatan umum dan berkelanjutan pada harga barang dan jasa yang terjadi ketika permintaan melebihi penawaran.

b. Fenomena Inflasi: Inflasi adalah fenomena moneter yang hanya mempengaruhi tingkat harga dalam kondisi full-equilibrium, dan perubahan moneter hanya akan mengubah perekonomian secara nominal.

c. Dampak Inflasi: Inflasi yang tinggi dapat menurunkan pendapatan riil, menurunkan standar hidup, dan meningkatkan kemiskinan.

Di sisi lain, inflasi yang terlalu rendah dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang lambat dan tingginya angka pengangguran.

d. Kebijakan Moneter dan Inflasi: Perubahan dalam interest rate dapat mempengaruhi inflasi dan jumlah uang beredar. Tingkat suku bunga yang rendah dapat direspon dengan peningkatan inflasi dan jumlah uang beredar pada periode berikutnya.

33

e. Hubungan Suku Bunga dan Inflasi: Terdapat hubungan antara tingkat inflasi, jumlah uang beredar, dan tingkat suku bunga. Peningkatan inflasi dan jumlah uang beredar seringkali diikuti dengan peningkatan tingkat suku bunga untuk menurunkan inflasi.

f. Dampak Iklim Moneter Terhadap Inflasi:

Perubahan moneter dapat meningkatkan aktivitas ekonomi dan tingkat harga melalui tingkat bunga dan inflasi. Perubahan jumlah uang beredar akan mempengaruhi tingkat bunga, yang selanjutnya berpengaruh terhadap investasi dan pendapatan nasional.

g. Pentingnya Stabilitas Harga: Stabilitas harga yang tercermin dari tingkat inflasi yang terkendali penting untuk menjaga kesejahteraan masyarakat dan mencegah inflasi secara umum, terutama karena inflasi dapat menentukan daya beli masyarakat dan tingkat konsumsi, yang kembali berpengaruh terhadap produksi.

3. Pengangguran

Pengangguran didefinisikan sebagai angkatan kerja yang belum dan sedang mencari pekerjaan. Kondisi ini terjadi ketika jumlah penawaran tenaga kerja melebihi permintaan tenaga kerja, mengakibatkan surplus penawaran tenaga kerja di pasar tenaga kerja. Ketidakseimbangan dan ketidakcocokan antara permintaan dan penawaran lapangan kerja menciptakan pengangguran (Soleh, 2017). Selain itu, pengangguran juga diartikan sebagai penduduk yang memasuki usia kerja (15 – 65 tahun) yang sedang mencari kerja, mempersiapkan usaha, putus asa, dan sudah punya pekerjaan tapi belum memulai bekerja. Pengangguran ini tidak hanya menjadi

34

beban dan penghambat dalam pertumbuhan perekonomian suatu negara, tetapi juga dijadikan sebagai salah satu indikator dari pasar tenaga kerja yang ada.

Pengangguran memiliki peran penting dalam perekonomian suatu negara karena merupakan salah satu indikator utama yang digunakan untuk mengukur kesehatan ekonomi. Tingkat pengangguran yang tinggi sering kali dianggap sebagai tanda adanya masalah dalam perekonomian, karena menunjukkan bahwa tenaga kerja yang tersedia tidak dimanfaatkan secara efisien.

Pengangguran juga menjadi fokus perhatian karena memiliki dampak langsung terhadap pendapatan individu dan keluarga, serta konsumsi dan permintaan agregat dalam perekonomian. Ketika orang tidak bekerja, mereka tidak memiliki pendapatan dari pekerjaan, yang berarti mereka memiliki lebih sedikit uang untuk dibelanjakan, yang pada gilirannya dapat mengurangi permintaan barang dan jasa, dan ini dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi. Pengangguran juga dapat dijadikan sebagai alat untuk menilai efektivitas kebijakan pemerintah dalam menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Tingkat pengangguran yang rendah sering kali dianggap sebagai prestasi pemerintah dalam mengelola ekonomi. Pembahasan pokok dalam pengangguran dapat dijelaskan dalam beberapa poin sebagai berikut (Franita & Fuady, 2019):

a. Definisi Pengangguran: Pengangguran diartikan sebagai keadaan di mana individu yang termasuk dalam angkatan kerja ingin mendapatkan pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya.

35

b. Dampak Pengangguran: Peningkatan jumlah pengangguran berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi suatu negara.

c. Penyebab Pengangguran: Beberapa penyebab pengangguran meliputi minimnya lapangan pekerjaan, kurangnya keahlian para pencari kerja, inflasi, ledakan penduduk, dan kelangkaan investasi.

d. Tingkat Pengangguran: Tingkat pengangguran merupakan hal penting, sebagaimana potensi dan kapabilitas masing-masing wilayah dalam menciptakan lapangan kerja.

e. Dampak Sosial dan Ekonomi: Pengangguran meningkatkan jumlah kemiskinan, kriminalitas, dan masalah sosial lainnya seperti gelandangan dan pengamen.

f. Dampak Mental: Pengangguran dapat menurunkan kepercayaan diri, menimbulkan keputusasaan, dan depresi.

g. Dampak Politik dan Keamanan: Pengangguran dapat menyebabkan ketidakstabilan politik dan meningkatkan tindak kejahatan.

h. Tanggung Jawab Pemerintah: Pemerintah dan masyarakat bertanggung jawab untuk menanggulangi pengangguran dengan meningkatkan kegiatan ekonomi dan kemandirian daerah.

i. Jenis-Jenis Pengangguran: Terdapat tiga jenis pengangguran, yaitu pengangguran terselubung, setengah menganggur, dan pengangguran terbuka

36 4. Pendapatan Nasional

Pendapatan nasional adalah ukuran total pendapatan yang diperoleh oleh penduduk suatu negara dalam periode waktu tertentu, biasanya dihitung per tahun. Ini mencakup pendapatan yang dihasilkan dari semua aktivitas ekonomi di dalam negeri, termasuk upah, sewa, bunga, dan keuntungan yang diperoleh oleh individu, perusahaan, dan pemerintah. Pendapatan nasional dapat diukur melalui berbagai metode, seperti Produk Domestik Bruto (PDB), Pendapatan Nasional Bruto (PNB), dan Pendapatan Nasional Bersih (PNN), yang masing-masing memiliki definisi dan metode perhitungan yang sedikit berbeda (Hamzah &

Agustien, 2019). PDB mengukur nilai total barang dan jasa yang dihasilkan dalam suatu negara, PNB menambahkan pendapatan yang diperoleh dari luar negeri dan mengurangi pendapatan yang dikirim ke luar negeri, sedangkan PNN mengambil PNB dan mengurangkan penyusutan (depresiasi) aset.

Pendapatan nasional sering digunakan sebagai indikator kesejahteraan ekonomi suatu negara dan sebagai dasar untuk perbandingan ekonomi antarnegara serta perencanaan dan kebijakan ekonomi.

Pendapatan nasional memegang peranan krusial dalam perekonomian karena berfungsi sebagai barometer kesehatan ekonomi suatu negara. Sebagai agregat dari total pendapatan yang dihasilkan oleh warga negara, perusahaan, dan pemerintah, pendapatan nasional mencerminkan kemampuan ekonomi untuk menghasilkan barang dan jasa.

Pertumbuhan pendapatan nasional menandakan ekspansi ekonomi dan peningkatan standar hidup, sedangkan stagnasi atau penurunan dapat

37

mengindikasikan masalah ekonomi seperti resesi.

Data pendapatan nasional juga menjadi dasar bagi pembuat kebijakan dalam merancang strategi fiskal dan moneter, menentukan alokasi anggaran, dan mengukur efektivitas intervensi ekonomi. Selain itu, pendapatan nasional berperan dalam menarik investasi asing dengan menunjukkan potensi pasar dan stabilitas ekonomi. Dengan demikian, pendapatan nasional adalah indikator penting yang membantu dalam pengambilan keputusan ekonomi, baik oleh pemerintah maupun sektor swasta.

Pembahasan pokok dalam pendapatan nasional dapat diringkas dalam beberapa poin berikut (Hasan et.al, 2023):

a. Definisi Pendapatan Nasional: Pendapatan nasional adalah jumlah dari semua pendapatan yang diperoleh penduduk suatu negara dalam satu tahun, termasuk pendapatan campuran, upah, keuntungan, bunga, sewa, dan sumber pendapatan lainnya.

b. Sejarah Konsep: Konsep pendapatan nasional pertama kali diusulkan oleh Sir William Petty pada tahun 1665. Namun, ekonom modern memiliki pandangan yang berbeda, menganggap output barang atau jasa tahunan sebagai indikator utama aktivitas ekonomi.

c. Pengukuran Pendapatan Nasional: Pendapatan nasional dapat diukur menggunakan indikator seperti Produk Domestik Bruto (PDB) atau Produk Nasional Bruto (GNP), yang mengukur nilai semua tenaga kerja dan produk yang dibuat di dalam dan oleh penduduk suatu negara, termasuk di luar negeri, dalam periode waktu tertentu.

38

d. Pentingnya Pendapatan Nasional: Data pendapatan nasional digunakan untuk membuat ramalan tentang perekonomian negara di masa yang akan datang, membantu para pelaku bisnis merencanakan kegiatan ekonomi mereka di masa depan, dan menyusun strategi ekonomi untuk pembangunan negara.

e. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi: Konsumsi, tabungan, investasi, serta permintaan dan penawaran agregat adalah beberapa faktor yang biasanya berdampak pada pendapatan nasional.

f. Metode Penghitungan: Ada tiga metode utama untuk menghitung pendapatan nasional, salah satunya adalah pendekatan pendapatan, yang menghitung nilai seluruh pendapatan yang diperoleh dalam suatu negara.

5. Kebijakan Ekonomi

Definisi Kebijakan ekonomi adalah tindakan- tindakan yang diambil oleh pemerintah atau otoritas moneter untuk mempengaruhi ekonomi suatu negara. Kebijakan ekonomi bertujuan untuk mencapai tujuan-tujuan makroekonomi seperti pertumbuhan ekonomi yang stabil, tingkat pengangguran yang rendah, inflasi yang terkendali, dan keseimbangan neraca pembayaran. Ada dua jenis utama kebijakan ekonomi (1) Kebijakan Fiskal, ini adalah kebijakan yang berkaitan dengan pengeluaran pemerintah dan penerimaan pajak.

Kebijakan fiskal dapat bersifat ekspansif atau kontraktif. Kebijakan fiskal ekspansif melibatkan peningkatan pengeluaran pemerintah dan/atau pengurangan pajak untuk merangsang pertumbuhan ekonomi. Hal ini sering digunakan selama periode resesi untuk meningkatkan permintaan agregat.

39

Kebijakan fiskal kontraktif melibatkan pengurangan pengeluaran pemerintah dan/atau peningkatan pajak untuk mendinginkan ekonomi yang terlalu panas dan mengendalikan inflasi; (2) Kebijakan Moneter, ini adalah kebijakan yang diatur oleh bank sentral yang berkaitan dengan pengelolaan pasokan uang dan tingkat suku bunga. Kebijakan moneter juga dapat bersifat ekspansif atau kontraktif.

Kebijakan moneter ekspansif melibatkan penurunan suku bunga dan/atau peningkatan pasokan uang untuk merangsang pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan investasi. Kebijakan moneter kontraktif melibatkan peningkatan suku bunga dan/atau pengurangan pasokan uang untuk mengendalikan inflasi dan mendinginkan ekonomi (Setiawan, 2018).

Kebijakan moneter adalah usaha dalam mengendalikan keadaan ekonomi makro agar dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan melalui pengaturan jumlah uang yang beredar dalam perekonomian. Tujuan utama dari kebijakan moneter adalah untuk mencapai kestabilan harga dan mengendalikan inflasi. Bank Sentral atau Otoritas Moneter berusaha mengatur keseimbangan antara persediaan uang dengan persediaan barang agar inflasi dapat terkendali, tercapai kesempatan kerja penuh, dan kelancaran dalam pasokan/distribusi barang (Turmudi, 2019). Instrumen kebijakan moneter yang digunakan antara lain adalah suku bunga, giro wajib minimum, intervensi di pasar valuta asing, dan sebagai tempat terakhir bagi bank- bank untuk meminjam uang apabila mengalami kesulitan likuiditas. Kebijakan moneter dapat digolongkan menjadi dua, yaitu kebijakan moneter ekspansif, yang bertujuan untuk menambah jumlah uang yang beredar, dan kebijakan moneter