26
untuk pengobatan secara baik, seseorang tentu akan melihat hasil yang menakjubkan. Dalam masalah ini ada sesuatu yang harus dipahami dan dipelajari yakni segala macam zikir, ayat dan obat bermanfaat untuk penyembuhan. Akan tetapi, terkabulnya doa sangat ditentukan oleh kekuatan serta kemauan keras orang yang bersangkutan. Datangnya kesembuhan sangat dipengaruhi oleh pelakunya. 32
D. Pendekatan-Pendekatan dalam Psikoterapi
27
- suatu metoda perlakuan terhadap penyakit psikologis atau emosional.35
2. Behavioristik
Teori behavioral menganggap bahwa pada dasarnya manusia bersifat mekanistik dan hidup dalam alam yang deterministik. Perilaku manusia adalah hasil respon terhadap lingkungan dengan kontrol yang terbatas melalui interaksi ini kemudian berkembang pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. Tokoh utama dalam terapi ini adalah Ivan Pavlov dengan classical conditioning. Teori ini tidak lain adalah pengaruh dari pemikiran objektif- natularistik dalam psikologi. Pendekatan ini memandang manusia dari sudut perilaku yang tampak, yang bisa di observasi dan dikuatifikasi.36
Dalam konsep behavioral, perilaku manusia merupakan hasi dari proses belajar, sehingga dapat diubah dengan memanipulasi kondisi-kondisi belajar.
Asumsinya bahwa gangguan tingkah laku itu diperoleh melalui hasil belajar yang keliru dan karenanya harus diubah melalui proses belajar, sehingga dapat lebih sesuai. Inti dari pendekatan behavior therapy adalah manusia bertindak secara otomatis karena membentuk asosiasi (hubungan sebab-akibat atau aksi-reaksi).
Misalnya pada kasus fobia ular, penderita fobia mengasosiasikan ular sebagai sumber kecemasan dan ketakutan karena waktu kecil dia penah melihat orang yang ketakutan terhadap ular. Dalam hal ini, penderita telah belajar bahwa "ketika saya melihat ular maka respon saya adalah perilaku ketakutan".37
Tujuan utama konseling behavioral adalah menghilangkan tingkah laku yang salah (maladaptive) dan menggantikannya dengan tingkah laku baru yang lebih sesuai. Secara rinci tujuan tersebut adalah untuk:
- Menghapus pola-pola perilaku maladptif klien dan membantu mereka mempelajari tingkah laku yang lebih konstruktif,
- Mengubah tingkah laku maladptif klien,
- Menciptakan kondisi-kondisi baru yang memungkinkan terjadinya proses belajar ulang.
35 Sunardi, P & Assjari, M. Teori Konseling, h. 57
36 Subandi, Psikologi Islam, h. 74
37 Corey, Gerald. Konseling dan Psikoterapi, (Jakarta: PT Refika Aditama, 2009), h. 66
28
Fungsi terapis adalah melaksanakan asesmen dan penilaian secara terus menerus, menetapkan sasaran perubahan perilaku dan bagaimana mengajarkan untuk mencapainya, peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi, serta membantu mengembangkan tujuan-tujuan pribadi dan sosialnya. 38
Nilai benar dan salah dalam psikologi ini sesungguhnya adalah sesuatu yang tidak memiliki dasar ilmiah. Dalam pandangan psikologi ini, manusia tak ubahnya lempung yang bentuknya sepenuhnya tergantung pada pengaruh lingkugan atau rentetan stimuli yang mengenainya. Jadi, dengan demikian konsep benar dan salah sudah seharusnya disingkirkan dari wilayah studi tentang tingkah laku manusia.39
3. Humanistik
Humanistik adalah aliran dalam psikologi yang muncul tahun 1950an sebagai reaksi terhadap behaviorisme dan psikoanalisis. Aliran ini secara eksplisit memberikan perhatian pada dimensi manusia dari psikologi dan konteks manusia dalam pengembangan teori psikologis. Aliran humanistik ini sangat mementingkan nilai-nilai kemanusiaan pada diri seseorang yang mana tampak juga dipengaruhi oleh kondisi budaya masyarakat Barat yang sangat mengagungkan nilai-nilai individu.40
Permasalah ini dirangkum dalam lima postulat Psikologi Humanistik dari James Bugental (1964), sebagai berikut:
- Manusia tidak bisa direduksi menjadi komponen-komponen.
- Manusia memiliki konteks yang unik di dalam dirinya.
- Kesadaran manusia menyertakan kesadaran akan diri dalam konteks orang lain.
- Manusia mempunyai pilihan-pilihan dan tanggung jawab.
- Manusia bersifat intensional, mereka mencari makna, nilai, dan memiliki kreativitas.41
Pendekatan Humanistic Therapy menganggap bahwa setiap manusia itu unik dan setiap manusia sebenarnya mampu menyelesaikan masalahnya
38 Subandi, Psikologi Islam, h. 75
39 Audith M. Turmudhi, Membangun Paradigma Psikologi Islam, (Yogyakarta: SIPRESS, 1994), h. 11
40 Subandi, Psikologi Islam, h. 76
41 Prabowo, Hendro & B.P. Riyanti. Psikologi umum 2. (Jakarta: Universitas Gunadarma, 1998), hlm 103
29
sendiri. Setiap manusia dengan keunikannya bebas menentukan pilihan hidupnya sendiri. Oleh karena itu, dalam terapi humanistik, seorang psikoterapis berperan sebagai fasilitator perubahan saja, bukan mengarahkan perubahan. Psikoterapis tidak mencoba untuk mempengaruhi klien, melainkan memberi kesempatan klien untuk memunculkan kesadaran dan berubah atas dasar kesadarannya sendiri.
Membantu individu menyadari diri yang sesungguhnya dan memecahkan masalah mereka dengan intervensi terapis yang minimal (client-centered therapy). Terapi tersebut percaya bahwa karakteristik terapi yang penting untuk kemajuan dan eksplorasi diri klien yaitu empati, kehangatan, dan ketulusan.42
4. Kognitif
Terapi Kognitif (Cognitive Therapy) punya konsep bahwa perilaku manusia itu dipengaruhi oleh pikirannya. Oleh karena itu, pendekatan Cognitive Therapy lebih fokus pada memodifikasi pola pikiran untuk bisa mengubah perilaku.
Pandangan Cognitive Therapy adalah bahwa disfungsi pikiran menyebabkan disfungsi perasaan dan disfungsi perilaku. Tokoh besar dalam cognitive therapy antara lain Albert Ellis dan Aaron Beck.
Tujuan utama dalam pendekatan Cognitive adalah mengubah pola pikir dengan cara meningkatkan kesadaran dan berpikir rasional. Prinsip utama dari terapi ini adalah fokus pada kemampuan pasien untuk mengembangkan cara berpikir melalui cognitive style. Tujuannya adalah mengajarkan pada pasien bagaimana menerapkan pola piker dan perilaku yang tepat, sehingga dapat membantu mereka membuang pemikiran yang menyimpang atau maladaptif.43 5. Pendekatan Terapi Kelompok dan Keluarga
Terapi kelompok adalah teknik yang memberikan kesempatan bagi individu untuk menggali sikap dan perilakunya dalam interaksi dengan orang lain yang memiliki masalah serupa. Sedang terapi keluarga adalah bentuk terapi khusus yang membantu pasangan suami istri, atau hubungan orang tua-anak, untuk
42 Feist, Jess & Gregory J. Fest.Teori kepribadian, edisi 7 buku 1. (Jakarta: Salemba Humanika, 2011), h.145
43 Corsini, R.J. &Wedding, D. Current Psychotherapies. Edisi 9. (Belmont: Brooks/Cole, 2011), h. 98- 99
30
mempelajari cara yang efektif, untuk hubungan satu sama lain dan untuk menangani berbagi masalahnya.44
Dari berbagi pendekatan terapi di atas, tidak satupun menyebutkan pendekatan terapi ukhrawi. Freud bahkan dalam The Future of an Ilusion menganggap bahwa orang yang memeluk suatu agama berarti ia telah menderita delusi, ilusi dan obsesional neurosis yang berasal dari ketidakmampuan manusia dalam menghadapi kekuatan insting dari dalam dirinya sendiri. Agama merupakan kumpulan neurosis yang disebabkan oleh kondisi serupa dengan kondisi yang menimbulkan neurosis pada anak-anak.45
Dalam islam sangat dianjurkan untuk shalat berjamaah karena ditinjau dari aspek psikologi kebersamaan itu sendiri memberikan aspek terapeutik. Terapi kelompok ini bertujuan untuk menimbulkan suasana kebersamaan tadi. Beberapa ahli psikoterapi pun berpendapat bahwa perasaan keterasingan dari orang lain adalah penyebab utama terjadinya gangguan jiwa. Dengan sholat berjamaah yang dianjurkan agama ini perasaan terasing dari orang lain itu dapat hilang.46
6. Pendekatan Psiko-Religius
Dengan pendekatan ini dimaksudkan menjadikan keimanan dan pengalaman ajaran agama sebagai media bagi individu untuk menjaga kesehatan mental, mencegah gangguan mental dan menyembuhkan gangguan atau sakit mental.
Melalui berbagai cara yang diajarkan oleh setiap agama seperti penghayatan akan cinta dan kasih sayang Tuhan kepada manusia.47
7. Pendekatan Psikoterapi Qurani
Umat Islam memiliki Al-Quran yang adalah petunjuk bagi manusia, yang diturunkan oleh Allah SWT. dan Allah menciptakan manusia sudah barang tentu tahu persis siapa itu manusia, apa dan siapa yang baik dan buruk, dan apa yang semestinya dilakukan manusia. Kitab Allah yang autentik ini didalamnya terkandung keterangan mengenai manusia. Tugas para psikolog muslimlah untuk
44 Gunarsa, S.D,dkk. Konseling dan Psikoterapi. (Jakarta: Gunung Mulia, 2007), h. 33
45 Mujib, A. Nuansa-Nuansa Psikologi Islam.(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), h. 5
46 Djamaludin Ancok, Psikologi Islami, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995), cet ke-2, h. 100
47 Sa’adi, Nilai Kesehatan Mental Islam Dalam Kebatinan Kawruh Jiwa Suryomentaram, (Jakarta:
Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, 2010), h. 86
31
mendeskripsikan sifat-sifat manusia dan nilai-nilai moral menurut Al-Quran.
Konsep manusia Qurani ini atau teori tentang manusia yang diturunkan dari Al-Quran itu harus diverifikasi dengan menggunakan metodologi ilmiah.
Membangun Psikoterapi berdasarkan Al-Quran secara keilmuan jelas mungkin, sedangkan secara imani jelas harus. Untuk itu pengetahuan tentang psikoterapi harus didialogkan dengan pemahaman tentang Al-Quran, karena kedua sumber itu bisa saling menjelaskan.48
Dalam hal psikoterapi dapat disimpulkan bahwa metode psikoterapi dan ajaran psikologi di barat belum mencapai tingkatan yang dituntut di timur. Medrad Boss, seorang filosof Swiss yang terkenal pernah mengatakan bahwa dipandang dari sudut ajaran-ajaran dan tingkah laku guru-guru timur, metode-metode dan tujuan- tujuan psikoterapi, psikologi barat tidaklah memadai. Menurut Boss, jika dibandingkan dengan tingkat peurnian diri yang dituntut oleh latihan-latihan dari timur, maka analisa latihan barat yang paling baik sekalipun tidak lebih dari suatu kursus pengantar saja bagi timur.49