B. Ayat-Ayat Psikis dalam Al-Quran
3. Terapi jiwa melalui dzikir dan doa a. Dzikir
138
:[7]
13 )
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) mesjid, Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang- orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-„Araf [7]: 31)
Tidak ada yang lebih membahayakan umat manusia daripada sikap berlebih-lebihan, karena berlebih-lebihan merupakan bahaya dan perbuatan yang merugikan. Tetapi Allah juga melarang tindakan yang menyusahkan dan menyengsarakan dengan membatasi konsumsi makanan karena ini merupakan kebakhilan dan membahayakan.94 Oleh karena itu Allah mewajibkan kita untuk berpuasa karena didalam puasa terdapat hikmah yang sangat besar.
3. Terapi jiwa melalui dzikir dan doa
139 Secara umum dzikrullah adalah perbuatan mengingat Allah dan keagungannya dalam bentuk yang meliputi hampir semua ibadah, perbuatan baik, berdoa, membaca Al Quran, mematuhi orang tua, menolong teman yang dalam kesusahan dan menghindarkan diri dari kejahatan dan perbuatan dzalim.
Dalam arti khusus dzikrullah adalah menyebut nama Allah sebanyak-banyaknya dengan memenuhi tatatertib, metode, rukun dan syarat sesuai yang diperintah oleh Allah dan rosulnya.95Berdzikir menimbulkan efek ketenangan badi yang melakukannya. Sebagimana firman Allah
[13]
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (QS. Ar Rad [13] : 28)
Menurut M. Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah, ketentraman itu bersemi di dada mereka dikarenakan dzikrullah yakni mengingat Allah, atau karena ayat-ayat Allah yakni Al-
95Abdul Muiz, Makna Dzikir Bagi Kehidupan Muslim, (Buletin Jumat: Suara Quran, 2013)
140 Quran yang sangat mempesona kandungan dan redaksinya.
Sungguh! Camkanlah bahwa dengan hanya mengingat Allah hati menjadi tentram.96
Para ulama berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud dzikrillah dalam ayat ini. Ada yang memahaminya dalam arti Al-Quran, ada juga yang memahaminya dalam arti zikir secara umum, baik berupa ayat Al-Quran ataupun selainnya. Bahwa zikir bisa mengantar pada ketenangan jiwa, tentu saja apabila zikir itu dimaksudkan untuk mendorong hati mneuju kessadaran tentang kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. bukan sekedar ucapa dengan lidah. 97
Kita dapat berkesimpulan bahwa kehidupa manusia betapapun mewahnya tidak akan menyenangkan jika tidak dibarengi dengan ketentraman hati, sedangkan ketentraman hati baru dapat dirasakan bila manusia yakin dan percaya bahwa ada sumber yang tidak bisa dikalahkan yang selalu mendampingi dan memberi harapan.98
Ilmu modern telah menetapkan bahwa kesuksesan hidup di dunia merupakan buah hasil bagi ketenangan jiwa. Hal
96M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Jakarta: Penerbit Lentera Hati, 2002), vol. 6, h. 587
97M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran Tentang Zikir dan Doa, (Jakarta: Lentera Hati, 2006), h. 121-122
98M. Quraish Shihab, Wawasan Al0Quran Tentang Zikir dan Doa, h. 126.
141 ini menjadi obsesi bagi kebanyakan orang sakit saat kini yang sedang tertimpa kerusakan. Sedangkan, kegelisahan jiwa adalah sebagai pertanda dan presenden buruk untuk masa sekarang.99
Tidak ada obat yang lebih baik untuk mengobati hati selain dzikir. Kebanyakan para ulama menganjurkanpengobatan baik melalui pendekatan dan memasukan dzikir kepada Allah sebagai hal yang pokok.100
Nabi Isa AS, pernah mengingatkan “ Janganlah kalian berkumpul tanpa mengingat Allah, karena berkumpul tanpa mengingat Allah itu akan mengeraskan hati.” Semakin banyak lidah digunakan mengingat Allah, akan menjadi semakin lembut hatinya, dikaruniai dengan perasaan sayang, rahmat dan cinta.101
Dzikir dibagi tiga:pertama,Dzikir dengan lisan (dzikr bil al-lisan), yakni membaca atau mengucapkan kalimat- kalimat takbir, tahmid, dan tahlil dengan bersuara.Kedua,Dzikir dalam hati (dzikr bi al-qalb), yakni membaca atau mengucapkan kalimat-kalimat takbir, tahmid,
99Muhammad Kamil Abdushshamad, Mukjizat Ilmiah dalam Al- Quran, (Jakarta: Akbar 2004) cet ke 5, hal 310.
100Hamza Yusuf, Hatiku Surgaku, (Ciputat: Penerbit Lentera Hati, 2009), h. 292
101Hamza Yusuf, Hatiku Surgaku, h. 272
142 dan tahlil dengan membatin, tanpa mengeluarkan suara.
Sebagian ulama menafsirkan dzikir dalam hati ni, adalah bertafakkur merenungi keMahabenaran dan keMahabesaran Allah SWT dengan penuh keyakinan dan perasaan tulus.
Ketiga,Dzikir dengan panca indra atau anggotabadan(dzikr bi al-jawarih), yakni menundukkan seluruh anggota badan kepada Allah SWT dengan cara melaksanakan segala perintah dan meninggalkan segala larangan-Nya. Tentang dzikir dengan panca indra ini, sebagian ulama tasawuf memiliki pengertian dan konsep yang berdeda, yakni melalui tujuh penjuru panca indra:
- Dzikir kedua mata dengan menangis
- Dzikir kedua telingan dengan mendengarkan hal-hal yang baik
- Dzikir lidah dan mulut dengan mengucapkan puji-pujian - Dzikir hati dengan penuh rasa takut dan harap kepada
Allah SWT
- Dzikir ruh dengan menyerah kepada Allah dan rela atas segala keputusan-Nya
- Dzikir badan dengan memenuhi berbagai kewajiban
143
- Dzikir kedua tangan dengan bersedekah.102
Pengungkapan dzikir tersebut merupakan kalimat tafakkur atas penciptaan Allah berupa gerak nafas dzikir seluruh mahluk-Nya baik yang tidak terlihat. Penghayatan dzikir ini sesuai dengan firman Allah:
(191 : [3]
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka”. (QS. Ali Imran [3]: 191).
b. Do‟a
102Dadang Hawari, Doa dan Dzikir Sebagai Pelengkap Terapi Medis, (Bandung: Raja Grafindo, 2005), h. 92
144 Do‟aberasal dari bahasa Arab, du‟a.Kata tersebut dalam sistem kata bahasa Arab berbentuk masdar yang bermakna mencari, meminta dan memohon.103Doa dalam istilah agamawan adalah permohonan hamba terhadap Tuhannya agar memperoleh anugerah pemeliharaan dan pertolongan, baik untuk pemohon maupun orang lain. Doa itu harus beriringan dengan keyakinan dan penuh pengharapan, yaitu sikap yang memastikan diri bahwa sesuatu yang dilakukannya akan berhasil. Salah satu ayat yang populer dalam konteks doa ialah firman Allah
] :[
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-
103Muhammad Ismail Ishak, Ensiklopedi Do‟a dan Dzikir, (Jakarta:
ALIFBATA, 2007), h. 1
145
Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.(QS. Al- Baqarah [2]: 186)
Dalam hal ini, seorang muslim yakin bahwa doanya pasti didengar oleh Allah SWT dan dikabulkan-Nya apa yang menjadi harapannya.104Doa senantiasa dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa, apabila doa itu disertai dengan kerendahan hati dan suara yang lembut. Orang yang congkak dan tidak mau bermohon dan meminta bantuan kepada Allah SWT dianggap sebagai orang yang hina dan akan diazab di neraka Jahannam.
Ia merupakan sebab yang paling utama dalam melenyapkan perkara yang tidak dikehendaki dan dalam memperoleh apa yang diminta. Akan tetapi pengaruhnya bisa berbeda-beda baik karena lemahnya doa yang dipanjatkan, karena doa tersebut tidak disukai Allah seperti mengandung permusuhan didalamnya atau karena lemahnya hati orang yang berdoa.105
Doa adalah obat yang paling baik dan merupakan musuh segala bencana. Doa akan melenyapkan penyakit sekaligus menyembuhkannya, mencegah datangnya penyakit
104 M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran tentang Dzikir dan Doa, h. 179
105Ibnu al Qayyim al-Jauzi, Siraman Rohani bagi Orang yang Mendambakan Ketenangan Hati, (Jakarta:PT. Lentera Basritama, 2000), h.
18-19
146 sekaligus menghilangkannya. Ia adalah senjata orang beriman.106 Al Isra: 82
[17 ]
“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”. (QS. Al-Isra [17]: 82)
Menurut Dadang Hawari, dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menyatakan bahwa berdoa dan berdzikir merupakan bentuk komitmen keagamaan seseorang yang merupakan unsur penyembuh penyakit atau sebagai psikoterapeutik yang mendalam. Doa dan dzikir merupakan terapi psikoreligius yang dapat membangkitkan rasa percaya diri dan optimisme yang paling penting selain obat dan tindakan medis.107
106Ibnu al Qayyim al-Jauzi, Siraman Rohani Bagi Orang yang Mendambakan Ketenangan Hati, h. 20
107SandiSetiawan,http://setiawansandisijalu.blogspot.com/2014/01/
makalah-psikologi-agama-tentang-dzikir.html. diakses tanggal 2-10-2014.
147 Harus diingat bahwa kalaupun apa yang dimohonkan tidak sepenuhnya tercapai, namun dengan doa tersebut seseotag telah hidup dalam suasana optimisme, harapan, dan hal ini tidak diragukan lagi akan memberikan dampak yang sangat baik dalam kehidupannya. Karena itu jika doa tidak menghasilkan apa yang diminta, paling tidak manfaatnya adalah ketenangan batin si pendoa karena ia telah hidup dalam harapan.108 Berkaitan dengan itu , doa dan dzikir merupakan komitmen keimanan seseorang. Doa adalah permohonan yang dimunajatkan ke kehadirat Allah SWT. Dzikir adalah mengingat Allah SWT dengan segala sifat-sifat-Nya.
4. Terapi Jiwa Melalui Zakat dan Sedekah