• Tidak ada hasil yang ditemukan

Terapi jiwa melalui puasa

B. Ayat-Ayat Psikis dalam Al-Quran

2. Terapi jiwa melalui puasa

mental, dan ucapan-ucapan positif untuk menyuntik aura dengan energi yang dahsyat. Energy ruhani shalat dapat membantu membangkitkan harapan, menguatkan tekad, meninggikan cita-cita, dan juga melepaskan kemampuan yang luar biasa yang menjadikan seseorang lebih siap menerima ilmu, pengetahuan, himah, serta sanggup melaksanakan tugas- tugas kepahlawanan yang hebat.

Aspek Kebersamaan. Islam menyarankan agar shalat- shalat fardhu dapat dilaksanakan secara berjamaah. Disamping berpahala lebih banyak, ternyata secara psikologis berjamaah atau kebersamaan akan memberikan aspek terapeutik. Akhir- akhir ini berkembang terapi yang disebut terapi kelompok yang tujuan utamanya adalah menimbulkan suasana kebersamaan.

Beberapa ahli psikologi berpendapat bahwa perasaan keterasingan dari orang lain adalah penyebab utama terjadi-nya gangguan jiwa. Rutinitas shalat berjamaah akan memunculkan sense in-group, rasa keterlibatan, rasa kebersamaan sehingga menepis perasaan terasing dari orang lain, dan menisbikan stres.82

2. Terapi jiwa melalui puasa

82Henny Narendrani Hidayati dan Andri Y, Psikologi Agama, (Jakarta: Uin Press, 2007), h. 33

131





[2]

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. al-Baqarah[2]: 183)

Puasa dalam bahasa Indonesia berarti menahan makan dan minum. Sedangkan dalam bahasa Arab puasa berasal dari kata Shiyam dari akar kata :Shama-yashumu-shauman- shiyaman artinya menahan dari makan dan minum, berkata- kata kotor dan melakukan perbuatan jelek. Menurut terminologi shiyam atau puasa, berarti: menahan diri dari makan, minum dan berjima‟ mulai terbit fajar hingga terbenam matahari.83Puasa adalah sarana menstabilkan makanan dan minuman dan sebagai pelaksanaan perintah dari Allah SWT.

Dalam ayat diatas dnyatakan bahwa berpuasa khususnya di bulan Ramadhan diwajibkan bagi orang beriman

83Jaya,Yahya. Spiritualisasi Islam, (Jakarta: Ruhama, 1994), h. 75

132 supaya keimanannya bertambah. Keimanan dan ketakwaan manusia kadang naik kadang turun (tidak stabil). Disinilah puasa akan berperan mempebaharui jiwa manusia yang semakin gersang dan bergelimang dengan dosa-dosa yang menutupi kepekaan hatinya untuk melakukan kebaikan.

Dengan puasa hati ditempa kembali, kepekaan sosial ditumbuhkan dan rasa solidaritas ditumbuhkan kembali, membimbing atau mengendalikan hawa nafsu dan menahan diri dari dorongan-dorongan naluri yang bersifat negatif, atau dalam istilah psikologi disebut self-control.84 Menurut Zakiah Darajat, peranan puasa dalam menciptakan kesehatan mental cukup besar, baik sebagai media psikoterapi, sebagai pencegahan, ataupun sebagai alat bina kesehatan.85

Dua aspek dalam diri manusia yang tidak pernah lepas dari pelaksanaan puasa, pertama aspek fisikal, dan yang kedua aspek psikologis. Pada aspek fisikal seorang muslim yang berpuasa akan senantiasa menahan dari makan dan minum.

Sedangkan pada aspek psikologis, seorang muslim yang berpuasa mematuhi peraturan dan perintah berhubungan

84Rahman, Hikmah Puasa Tinjauan Ilmu Kesehatan, (Jakarta: Al- Mawardi Prima, 2001), h. 5-6

85Sudirman Tebba, Sehat Lahir Batin, h. 95

133 dengan sifat tercela, seperti; berdusta, takabbur, mengumpat, hasad, iri hati, dan riya‟.

Sifat-sifat tercela yang bersarang dalam hawa nafsu dan keinginan yang berpusat di perut dan yang ditunggangi oleh sifat-sifat syaitan menjadi sasaran asasi dalam ibadah puasa.

Seorang muslim yang berpuasa berusaha dan berjuang mati- matian untuk menekan, menahan, menindas dan mengendalikan hawa nafsu, terutama dari sifat-sifat tercela.86

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa ibadah puasa bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan fisik atau jasmani.

Pada saat seseorang melaksanakan ibadah puasa, maka terjadi pengurangan jumlah makanan yang masuk ke dalam tubuhnya sehingga kerja beberapa organ tubuh seperti hati, ginjal, dan lambung terkurangi. Puasa memberikan kesempatan kepada metabolisme (pencernaan) untuk beristirahat beberapa jam sehingga efektivitas fungsionalnya akan selalu normal dan semakin terjamin. Di samping memberikan kesempatan kepada metabolisme (pencernaan) untuk beristirahat beberapa jam, puasa juga memberikan kesempatan kepada otot jantung untuk memperbaiki vitalitas dan kekuatan sel-selnya.87

86Jaya,Yahya. Spiritualisasi Islam, h. 90

87Rahman, Hikmah Puasa Tinjauan Ilmu Kesehatan, (Jakarta: Al- Mawardi Prima, 2001), h. 136

134 Disamping bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan fisik atau jasmani, puasa bermanfaat pula bagi kesehatan psikis. Cott (Ancok & Suroso, 1995), seorang ahli jiwa bangsa Amerika, menyebutkan bahwa pernah dilakukan eksperimen untuk menyembuhkan gangguan kejiwaan dengan cara berpuasa. Eksperimen tersebut dilaku-kan oleh Nicolayev, seorang guru besar pada The Moscow Psychiatric Institute.

Subyek penelitian dibagi menjadi dua kelompok yang sama besar baik usia maupun berat ringannya penyakit yang diderita.

Kelompok pertama diberi pengobatan dengan ramuan obat- obatan, sedangkan kelompok kedua diperintahkan untuk berpuasa selama 30 hari. Hasil eksperimen tersebut menyimpulkan bahwa pasien-pasien yang tidak bisa disembuhkan dengan terapi medik ternyata bisa disembuhkan dengan cara berpuasa, selain itu kemungkinan pasien untuk tidak kambuh lagi setelah 6 tahun kemudian ternyata tinggi dengan terapi melalui puasa. Cott juga menyebutkan bahwa penyakit susah tidur (insomnia), dan rasa rendah diri juga dapat disembuhkan dengan cara melakukan puasa. 88

Rasulullah bersabda: berpuasalah, niscaya kalian sehat!

88Djamaludin Ancok, Fuat Nashori, Psikologi Islami, (Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 2001), cet ke-4, h. 58

135 Penelitian ilmiah mengatakan bahwa sistem pertahanan tubuh orang yang berpuasa lebih baik daripada orang yang tidak berpuasa, terutama pada kinerja otot, hati, pencernaan dan pernapasan. Puasa juga membuat orang yang melaksanakannya memiliki kondisi kejiwaan yang lebih stabil, kecerdasan yag tinggi, perasaan lebih dekat kepada Sang Pencipta, senang melakukan ibadah, lebih mengasihi dan bersimpati kepada orang lain dan merasa lepas dari berbagai tekanan.89

Hikmah di balik pelaksanaan ibadah puasa meliputi penguatan iman dan pemantapannya. Dengan keimanan yang tertanam dalam diri seorang muslim, maka ia akan merasa dikawal dan diawasi sehingga kemauan untuk melakukan perbuatan tercela dan maksiat mampu dihindari. Puasa mendidik kemauan agar selalu kuat dan tabah untuk melakukan kebajikan.90 Seorang muslim yang berpuasa harus punya keyakinan bahwa ia selalu dikawal dan diawasi oleh Allah SWT. Dengan demikian apabila ia berniat untuk melakukan suatu pelanggaran terhadap ketentuan puasa, maka ia selalu ingat bahwa ia sedang berpuasa. Jika seseorang menyakiti

89Zaghlul Raghib al-Najar, Buku Induk Mukjizat Ilmiah Hadis Nabi, terj. Yodi Indrayadi, (Jakarta: Zaman, 20010) h. 371

90T. A. Lathief Rousydiy, Puasa Hukum dan Hikmahnya, (Medan:

Rimbow, 1993), h. 28

136 hatinya atau merugikan pribadinya, maka kemarahannya dibendung dan keyakinannya senantiasa bersama Allah SWT.

Seorang yang berpuasa secara kontinyu melatih dirinya supaya selalu dalam kesabaran dan ketaqwaan kepada Allah SWT.91

Puasa yang diamalkan dengan penuh perhitungan, keimanan dan ketaqwaan akan melahirkan kejujuran, keikhlasan dan kesabaran yang akhirnya akan mendatangkan anugerah sebagai orang yang bertaqwa dan mencapai kondisi psikologis yang nyaman, damai, dan memiliki kesehatan mental yang baik. Puasa dengan dorongan iman, taqwa dan penuh perhitungan merupakan puasa hakiki yang melahirkan solidaritas dan dapat pula memaklumi perasaan orang-orang fakir dan miskin.

Maka seorang mukmin yang berpuasa akan menghadapi hidupnya di hari itu dengan psikologis yang lebih lapang, bersikap lebih toleran dan tolong-menolong, lebih mampu beradaptasi dengan alam lingkungannya, serta lebih mampu

91Dadang Hawari, Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa, (Yogjakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, 1996), h. 211-213

137 menahan pelbagai interaksi dan perbincangan sesama manusia.92

Dengan demikian, psikoterapi puasa dapat dijadikan sebagai metode baru dalam kesehatan mental. Psikoterapi Puasa juga merupakan suatu langkah bagi usaha manusia dalam mensimilarkan antara sains modern dengan kemajuan yang membelakangi dimensi spiritual, sehingga pakar-pakar sains dan ilmu pengetahuan, tanpa agama melahirkan kegersangan dan kegoncangan psikologis manusia. Dengan demikian psikoterapi puasa yang esensial dari teori dan metode psikoterapi Islam dapat membantu menumbuhkembangkan kesehatan mental dan kepribadian, serta menjadi realitas bagi kepentingan spiritual manusia dalam menghadapi rintangan dan tantangan zaman yang semakin sulit.93

92Jamal Elzaki, Buku Induk Mukjizat Kesehatan Ibadah, terj. Dedi Slamet Riyadi, h. 241

93Khairunnasihin, Puasa Sebagai Sarana Penyucian Jiwa, http://khairunnas.tripod.com/artikel/id3.html. diakses pada tanggal 2-10- 2014

138





:[7]

13 )

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) mesjid, Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang- orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-„Araf [7]: 31)

Tidak ada yang lebih membahayakan umat manusia daripada sikap berlebih-lebihan, karena berlebih-lebihan merupakan bahaya dan perbuatan yang merugikan. Tetapi Allah juga melarang tindakan yang menyusahkan dan menyengsarakan dengan membatasi konsumsi makanan karena ini merupakan kebakhilan dan membahayakan.94 Oleh karena itu Allah mewajibkan kita untuk berpuasa karena didalam puasa terdapat hikmah yang sangat besar.

3. Terapi jiwa melalui dzikir dan doa