• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengelolaan Pendidikan Inklusi

BAB II KAJIAN TEORI

2. Pengelolaan Pendidikan Inklusi

Agar mendapatkan hasil yang baik dan mencapai tujuan maka sudah seharusnya guru menyusun prinsip-prinsipnya dalam proses pembelajaran.

Terlebih dalam pendidikan inklusi, karena peserta didik yang diajar bukan peserta didik biasa melainkan anak-anak berkebutuhan khusus yang memiliki banyak kriteria berbeda. Prinsip pembelajaran inklusi terdiri dari prinsip umum dan prinsip khusus. Bani Delphie menyebutkan

Prinsip umum pembelajaran meliputi motivasi, konteks, keterarahan, hubungan sosial, belajar sambil bekerja, individualisasi, menemukan, dan prinsip memecahkan masalah. Prinsip khusus disesuaikan dengan karakterisktik spesifik dari setiap penyandang kelainana siswa.

Misalnya untuk anak tunanetra menggunakan prinsip kekonkritan, prinsip pengalaman yang menyatu, dan prinsip belajar sambil melakukan. Siswa tunarungu menggunakan prinsip keterarahan wajah, siswa tunalaras memerlukan prinsip yang meliputi kebutuhan dan keaktifan, kebebasan yang mengarah, pemanfaatan waktu luang dan kompensasi, kekeluargaan dan kepatuhan terhadap orang tua, setia kawan dan idola, serta perlindungan. Sedangkan untuk siswa tunagrahita diperlukan prinsip yang berkaitan dengan bentuk-bentuk atensi yang meliputi waktu atensi, fokus, dan selektivitas, memperkuat daya ingatan atau memori, dan sebagainya.35

Penjelasan tentang prinsip umum dan khusus pada prinsip pembelajaran inklusi dapat dilihat pada pendapat Tarmasnyah, yaitu:

a) Prinsip Umum

1. Motivasi: senantiasa harus memberikan motivasi kepada siswa, agar tetap memiliki gairah dan semangat yang tinggi dalam belajar.

2. Konteks: dalam pembelajaran hendaknya memanfaatkan sumber yang ada dilingkungan sekitar. Hindari pengulangan materi pembelajaran.

3. Keterarahan: pusatkan tujuan secara jelas, menyiapkan alat yang sesuai serta mengembangkan strategi pembelajaran yang tepat.

4. Hubungan sosial: kembangkan strategi pembelajaran yang mampu mengoptimalkan interaksi sosial antar warga belajar.

5. Belajar sambil bekerja: berikan kesempatan untuk melakukan praktik atau percobaan penelitian/pengamatan.

35Bandi Delphie, Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus dalam Setting Pendidikan Inklusi, (Bandung: Refika Aditama, 2006), h. 154.

6. Individual: mengenali kemampuan dan karakteristik setiap anak secara mendalam, sehingga masing-masing anak mendapat perhatian yang sesuai.

7. Menemukan: upayakan anak terlibat secara aktif untuk menentukan pemecahan masalah yang dihadapinya.

8. Pemecahan masalah: ajukan berbagai permasalahan yang ada dilingkungan sekitar, anak dilatih untuk merumuskan, mencari data, menganalisis, dan memecahkannya sesuai dengan kemampuannya.

b) Prinsip Khusus

1. Gangguan penglihatan: belajar bagi anak dengan gangguan penglihatan, terutama melalui pendengaran dan perabaan, gunakan benda-benda konkrit dalam pelaksanaan pembelajaran.

Buku bicara (kaset rekaman) sangat membantu dalam pengayaan materi pelajaran. Upayakan anak mengalami apa yang dijelaskan oleh guru dan jelaskan hubungan-hubungannya.

2. Gangguan pendengaran/komunikasi: dalam komunikasi dengan anak yang mengalami gangguan pendengaran hendaknya dilakukan dengan keterarah wajahan, membaca bibir atau melihat gerak bibir dalam memberikan penjelasan hendakanya berhadapan dalam posisi sejajar. Bagi anak dengan gangguan pendengaran tetap harus diperkenalkan dengan bunyi atau sumber bunyi. Hal ini untuk membiasakan pendengaran ke arah sumber suara karena mereka lebih peka menggunakan sarana visual, maka dalam pembelajaran hendaknya menggunakan komunikasi yang merangsang penglihatannya demikian juga alat peraga yang konkrit.

3. Keberbakatan: anak cerdas atau anak berbakat materi pembelajaran harus diberikan lebih cepat maka harus dilakukan pencepatan, selain pencepatan juga dilakukan pengayaan.

4. Mental intelektual: kasih sayang adalah prinsip utama yang harus diberikan kepada anak dengan gangguan mental intelektual karena adanya gangguan yang disebabkan oleh faktor neorolugis, maka harus diberikan layanan habilitasi.

5. Gangguan fisik-motorik: yang perlu diperhatikan dalam memberikan layanan kepada anak-anak dengan gangguan fisik motorik adalah pelayanan medis, pendidikan, sosial secara terpadu dan berkesinambungan dalam institusi habilitasi atau rehabilitasi.

6. Gangguan penyesuaian sosial: yang diperlukan bagi mereka adalah aktifitas, atau kegiatan terutama dalam mengisi waktu luangnya. Kegiatan yang sesuai dengan norma-norma budaya masyarakat setempat. Berikan kebebasan namun yang terarah dan terprogram. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah menegakkan disiplin dan kepatuhan, sehingga dapat mengembalikan mereka dalam kehidupan dimasyarakat. Guru

atau pembina dalam hal ini harus menjadi tauladan, atau panutan bagi anak-anak yang mengalami gangguan penyesuaian sosial.

Kembangkan bakat dan minatnya terutama yang berhubungan dengan pelajaran. Mereka haus akan kasih sayang, maka berikanlah kasih sayang kepada mereka. Berikan perhatian, motivasi dan pujian apabila apa yang dikerjakannya hal-hal yang positif.36

Pendapat di atas menjelaskan bahwa prinsip pembelajaran terbagi menjadi dua, yang pertama ialah prinsip umum, dan prinsip tersebut berlaku bagi seluruh peserta didik baik normal maupun tidak normal atau berkebutuhan khusus. Dimana pada prinsip umum guru harus dapat memotivasi peserta didiknya, memanfaatkan sumber yang ada dalam proses pembelajaran, memiliki tujuan yang jelas dan mengembangkan strategi pembelajaran, dapat mengoptimalkan interaksi sosial peserta didik, membimbing peserta didik untuk melakukan penelitian dan percobaan, mengenali karakteristik peserta didiknya, dan melatih peserta didik untuk dapat memecahkan masalah yang ada pada lingkungannya. Sedangkan pada prinsip khusus, karena di dalam kelas inklusi terdapat anak berkebutuhan khusus yang mengalami perbedaan baik itu hambatan fisik, intelektual, sosial, emosional, mental, maka guru yang mengajar di kelas harus menerapkan prinsip khusus sesuai dengan kondisi yang dialami oleh peserta didik.

b. Pengelolaan Kelas Inklusi

1) Pengelolaan Kelas Secara Akademik

Dalam melakukan pengelolaan kelas inklusi dibagi menjadi tiga bagian besar yaitu perencanaan, pelaksanaan serta pengawasan dan penilaian.

a. Perencanaan Pembelajaran Inklusi

Perencanaan merupakan sebuah proses yang dilakukan apabila kita akan memulai sebuah kegiatan, dengan perencanaan yang baik

36Tarmansyah, Inklusi Pendidikan untuk Semua, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Jendral Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan, 2007), h.191-194.

maka tujuan dari setiap kegiatan akan mudah untuk dicapai. Begitu pula dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas, dimana perencanaan sangat dibutuhkan agar setiap rangkaian kegiatan pembelajaran di dalam kelas dapat tersampaikan kepada peserta didik.

Menurut Wina Sanjaya, perencanaan pembelajaran adalah Proses pengambilan keputusan hasil berpikir secara rasional

tentang sasaran dan tujuan pembelajaran tertentu, yakni perubahan perilaku serta rangkaian kegiatan yang harus dilaksanakan sebagai upaya pencapaian tujuan tersebut dengan memanfaatkan segala potensi dan sumber belajar yang ada.

Hasil akhir dari proses pengambilan keputusan tersebut adalah tersusunnya dokumen yang berisi tentang hal-hal di atas sehingga selanjutnya dokumen tersebut dapat dijadikan sebagai acuan dan pedoman dalam melaksankan proses belajar.37

Sama halnya dengan pendapat di atas, Lukmanul Hakim juga menjelaskan perencanaan pembelajaran merupakan suatu ide dari orang yang merancangnya, tentang bentuk-bentuk pelaksanaan proses pembelajaran yang akan dilaksanakan dan untuk mengkomunikasikan ide tersebut dituangkan dalam bentuk perencanaan tertulis.38

Dari kedua pendapat di atas dapat dilihat bahwa konteks perencanaan dalam pembelajaran erat kaitannya dengan pembuatan tujuan dan langkah proses belajar yang dibuat ke dalam bentuk tertulis untuk dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran.

Adapun dalam perencanaan pembelajaran kita sudah sering kali mendengar istilah RPP atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.

RPP merupakan rencana yang menggambarkan prosedur dan manajemen pembelajaran untuk mencapai satu atau lebih kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan dijabarkan

37Wina Sanjaya, Perencanaan Pembelajaran dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta: Kencana Pernada Media Group, 2011), h. 28-29.

38Lukmanul Hakim, Perencanaan Pembelajaran, (Bandung, CV Wacana Prima, 2009), h.1.

dalam silabus.39 RPP harus disusun dan dikembangkan secara profesional. Ada relevansi yang sangat kuat antara silabus dan RPP, pada silabus terdapat poin penting yang dapat kita masukkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yaitu kompetensi dasar, materi pokok, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu dan sumber pembelajaran. Sedangkan pada RPP terlebih dahulu guru harus memperhatikan konsep sebelum menguraikan materi ajar.

Rencana pembelajaran sangatlah penting perannya dalam proses pembelajaran, karena menjadi salah satu acuan penting berhasil tidaknya pembelajaran yang dilaksanakan. RPP tidak akan hanya memberi kesempatan menyajikan pembelajaran yang lebih baik, namun yang terpenting adalah adanya kesempatan untuk melakukan refleksi atas apa yang telah dibelajarkan selama ini.

Sama dengan pendidikan pada umumnya, RPP di kelas inklusi bersifat klasikal artinya dibuat dan diperuntukkan bagi semua peserta didik secara bersama, baik peserta didik berkebutuhan khusus maupun peserta didik normal. Oleh karena itu RPP di kelas inklusi pada dasarnya sama dengan rencana pembelajaran yang umum baik berkaitan dengan elemen yang terkandung di dalamnya, struktur, maupun cara pengembangannya. Untuk mewadahi pengaturan pelaksanaan pembelajaran bagi peserta didik berkebutuhan khusus maka perlu dibuatkan catatan tambahan pada RPP umum yang dibuat oleh guru seperti contohnya bagi peserta didik yang mengalami tunanetra ditambahkan catatan tentang penggunaan media globe timbul dan bentuk tulisan braile.

b. Pelaksanaan Pembelajaran Inklusi

Guru sebagai perancang pembelajaran selain bertugas membuat rancangan program pembelajaran juga sebagai pelaksana

39Nuriah, “Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Pada Materi Relasi Dan Fungsi SMP Kelas VIII “, Jurnal Pendidikan.

pembelajaran yang bertugas melakukan pembelajaran dengan menyajikan dan mengelola kelas sesuai program yang dirancang untuk dapat mencapai kompetensi yang telah ditetapkan.

Pelaksanaan pembelajaran diorganisasikan ke dalam beberapa kegiatan yaitu pendahuluan, inti, dan penutup. Pada kegiatan pendahuluan guru harus dapat menyiapkan fisik dan psikis peserta didik untuk siap belajar, adapun kegiatan pendahuluan dapat dilakukan dengan meminta peserta didik untuk duduk tenang dikursi masing-masing, memberi salam, berdoa, menanyakan kabar peserta didik, melakukan apersepsi, serta menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Kegiatan selanjutnya ialah kegiatan inti dimana guru harus menyampaikan materi pelajaran berdasarkan dengan metode dan pendekatan yang telah dirancang sehingga dapat tersampaikan kepada peserta didik. Kegiatan ini merupakan suatu proses pembentukan pengalaman dan kemampuan peserta didik. Kegiatan selanjutnya pada pelaksanaan pembelajaran ialah kegiatan penutup dimana pada kegiatan tersebut guru memberikan kesempatan terhadap siswa untuk bertanya, kemudian memberikan kesimpulan terhadap materi yang telah disampaikan, juga memberikan penilaian bagi peserta didik.

Proses pelaksanaan pembelajaran pada umunya sama, hanya saja pada sekolah pelaksana pendidikan inklusi pelaksanaan pembelajaran terlihat sedikit berbeda, karena guru perlu memperhatikan cara pembelajaran khusus yang harus dilakukan untuk mengoptimalkan proses dan hasil pembelajaran pada peserta didik berkebutuhan khusus. Penggunaan alat dan media menjadi sangat penting dalam pelaksanaan pembelajaran, seperti contoh bagi peserta didik yang mengalami tunanetra maka dibutuhkan globe dan peta timbul, bagi peserta didik yang mengalami tunarungu dibutuhkan aktivitas visual dan gerak serta menyajikan seluruh informasi dalam bentuk yang bisa dilihat. Tidak hanya

penggunaan media dan alat, pelaksanaan pembelajaran inklusi juga sangat dipengaruhi oleh Guru Pendamping Khusus (GPK). Dimana GPK memiliki tugas penting bagi peserta didik berkebutuhan khusus, adapun tugas dan fungsi pokok GPK yaitu:

a) Melakukan identifikasi dan assesmen peserta didik.

b) Membuat profil peserta didik.

c) Menangani peserta didik dengan kegiatan belajar mengajar yang fleksibel dan akomodatif.

d) Membuat program pembelajaran individual.

e) Menjalin kerjasama dengan sekolah, orangtua, pusat sumber/SLB, masyarakat.

f) Membuat catatan perkembangan peserta didik secara berkesiambungan.

g) Membantu mempersiapkan media pembelajaran dan bahan ajar bagi peserta didik berkebutuhan khusus.

h) Membuat program kerja dan melaporkan pada sekolah induk.40 Karena keterbatasan jumlah guru pendamping khusus maka terdapat beberapa kriteria yang dapat menjadikan seseorang menjadi guru pendamping khusus, yaitu:

a) Guru SLB yang mendapat tugas tambahan sebagai guru pendamping khusus.

b) Guru kelas dan guru mata pelajaran yang telah terlatih dan diberi tugas tambahan sebagai guru pendamping khusus.

c) Tenaga pendidik khusus dari pusat sumber.

d) Tenaga professional dari klinik (terapis, psikolog, pedagog).41 Guru pendamping khusus tidak berdiri di kelas dan mereka mengajar peserta didik berkebutuhan khusus, mereka tetap melaksanakan tugas kependidikan sekaligus berperan untuk menjaga peserta didik berkebutuhan khusus, serta memastikan program yang ditujukan bagi peserta didik berkebutuhan khusus yang didampinginya terlaksana.

40Deded Koswara, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Berkesulitan Belajar Spesifik, (Jakarta: Luxima, 2013), h. 150.

41Ibid, h. 149

c. Pengawasan dan Penilaian Pembelajaran Inklusi

Dalam proses pendidikan, pengawasan atau yang biasa disebut dengan supervisi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam upaya peningkatan prestasi dan mutu sekolah. Pengawasan adalah suatu usaha agar suatu kegiatan atau aktivitas dapat tercapai sesuai dengan yang direncanakan atau diprogramkan.42

Senada dengan pendapat diatas, Zaitun Nuralisa juga mengungkapan bahwa pengawasan atau supervisi pendidikan merupakan usaha memberikan layanan kepada stakeholder pendidikan, terutama kepada guru-guru baik secara individu maupun secara kelompok dalam usaha memperbaiki kualitas, proses, dan hasil pembelajaran.43

Dari kedua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pengawasan merupakan proses penting yang dilakukan oleh pihak tertentu untuk melihat sejauh mana kegiatan yang telah dilakukan, dengan begitu maka akan diketahui apa yang harus diperbaiki guna meningkatkan kualitas. Adapun dalam lingkup pendidikan dan pembelajaran biasanya proses pengawasan dilakukan oleh kepala sekolah kepada guru, staf, maupun speserta didik.

Untuk melakukan pengawasan, terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan, yaitu:

1. Penentuan standar, yang dimaksud dengan standar adalah patokan-patokan mengenai keberhasilan dan kegagalan suatu kegiatan.

2. Mengadakan pengukuran, pengukuran dilakukan terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan.

3. Membandingkan hasil pengukuran dengan standar yang telah dilakukan, dengan ini akan diketahui selisih antara hasil pengukuran dengan standar yang telah ditentukan.

42Ali Imron, Proses Manajemen Tingkat Satuan Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2013), h. 138.

43Zaitun Nuralisa, “Supervisi Akademik untuk Meningkatkan Kemampuan Pedagogik Guru pada SMK Negeri 1 Masjid Raya Aceh Besar”, Jurnal Pendidikan, h. 83.

4. Mengadakan perbaikan, perbaikan tersebut dilakukan berdasarkan selisih minus hasil perbandingan pengukuran dengan standar.44

Langkah di atas dapat menjadi pedoman kepala sekolah untuk melakukan pengawasan sehingga akan didapatkan hasil yang nantinya berguna untuk membuat bahan evaluasi.

Dalam dunia pendidikan, untuk mengukur sejauh mana kemampuan seorang peserta didik serta menilai efektif atau tidaknya sebuah proses pembelajaran maka dilakukan penilaian.

Penilaian atau yang bisa disebut juga dengan pengukuran merupakan istilah generik yang merujuk pada penentuan sistematis tentang hasil atau karakteristik sesuatu dengan menggunakan beberapa jenis perangkat penilaian.45

Sebagai suatu proses pelaksanaan penilaian harus terencana dan terarah sesuai dengan tujuan yang direncanakan. Oleh karena itu dalam melakukan penilaian guru harus memerhatikan prinsip- prinsip sebagai berikut:

1) Mengacu ke kemampuan

Penilaian kelas perlu disusun dan dirancang untuk mengukur apakah peserta didik telah menguasai kemampuan sesauai dengan target yang ditetapkan, materi yang dinilai harus terkait dengan tahapan materi yang telah diajarkan, materi penugasan atau ulangan harus benar-benar merefleksikan setiap kemampuan yang ditargetkan untuk dikuasai peserta didik.

2) Berkelanjutan

Rangkaian aktivitas penilaian kelas yang dilakukan oleh guru melalui pemberian tugas, ulangan harian, ulangan tengah semester, dan sebagainya merupakan proses yang berkesinambungan dan berkelanjutan selama satu tahun ajaran.

3) Didaktis

Alat yang akan digunakan untuk penilaian kelas berupa tes maupun non tes harus dirancang baik isi, format, maupun tata

44Opcit, h. 140-141.

45Muhammad Yaumi, Prinsip-Prinsip Desain Pembelajaran, (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2013), h. 174.

letak dan tampilannya agar peserta didik menyenangi dan menikmati kegiatan penilaian.

4) Menggali informasi

Penilaian kelas yang baik harus dapat memberikan informasi yang cukup bagi guru untuk mengambil keputusan dan umpan balik. Oleh karena itu bentuk soal dan penugasan yang terbuka seperti soal uraian dan pemecahan masalah sangat dianjurkan untuk ulangan harian, sebaliknya bentuk soal yang tertutup seperti pilihan ganda dan uraian terstuktur lebih dianjurkan untuk penilaian yang materinya bersifat luas dan komprehensif seperti pada ulangan akhir semester.

5) Melihat yang benar dan yang salah

Dalam melaksanakan penilaian guru hendaknya melakukan analisis terhadap hasil penelitian dan kerja peserta didik secara seksama untuk melihat adanya kesalahan yang secara umum terjadi pada peserta didik sekaligus melihat hal-hal positif yang diberikan peserta didik.46

Agar tujuan dari penilaian dapat tercapai maka guru harus menggunakan berbagai metode dan teknik penilaian sehingga dapat memilih dan melaksanakan dengan tepat metode dan teknik yang dianggap paling sesuai dengan tujuan dan proses pembelajaran, serta pengalaman belajar yang telah ditetapkan. Adapun metode yang dimaksud ialah penialaian tertulis baik soal pilihan maupun uraian, tes praktik, penilaian produk, penilaian proyek, peta perkembangan, evaluasi diri, penilaian afektif dan portofolio.47

Berbeda dengan penjelasan penilaian bagi peserta didik regular, berdasarkan pada ketentuan umum bahwa peserta didik berkebutuhan khusus yang ada di kelas inklusi menggunakan kurikulum yang sama dengan peserta didik lainnya. Hanya saja terdapat penyesuaian yang perlu dilakukan seperti prinsip, pendekatan dan karakteristik peserta didik berkebutuhan khusus untuk mempertimbangkan penilaian yang akan dilakukan seperti yang dijelaskan oleh Hamid Muhammad, yaitu:

46Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guru, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), h. 190-191.

47Ibid, h. 19.

a) Prinsip penilaian meliputi: sahih, obyektif, adil, terpadu, terbuka, menyeluruh dan berkesinambungan, sistematis, beracuan kriteria, akuntabel dan edukatif.

b) Pendekatan penilaian meliputi: pendekatan acuan patokan dan ketuntasan belajar.

c) Karakteristik penilaian meliputi: belajar tuntas, otentik, berkesinambungan, berdasarkan acuan kriteria dan menggunakan teknik penilaian bervariasi.48

Selain itu penilaian pada peserta didik berkebutuhan khusus juga dapat dimodifikasi dengan mempertimbangkan potensi, hambatan dan kebutuhan peserta didik inklusi agar pelaksanaan penilaian dapat diukur secara obyektif dan berlangsung secara adil sesuai dengan kondisi yang ada. Seperti contohnya jika guru melakukan ujian bernyanyi atau membaca puisi, maka peserta didik berkebutuhan khusus yang mengalami tunarungu atau mengalami gangguan komunikasi dapat diminta untuk menghasilkan membuat syair atau puisi namun tetap pada materi yang sama hanya saja menggunakan parameter yang berbeda.

Pada dasarnya buku penilaian hasil belajar bagi peserta didik berkebutuhan khusus mengikuti cara dan ketentuan umum, dimana terdapat informasi tambahan mengenai kondisi peserta didik, selain itu informasi pencapaian hasil belajar secara naratif-deskriptif terutama pada materi atau kompetensi yang dimodifikasi. Namun dalam bukunya, Siti Aminah menjelaskan setelah guru memberikan penilaian kepada anak tentang prestasi yang dicapainya di sekolah seyogyanya guru harus melapor kepada orangtua peserta didik tentang segala sesuatu yang dicapainya di sekolah, format ini disebut dengan IEP (Individual Educational Programme).49 Dimana IEP tersebut juga dilakukan oleh orangtua peserta didik

48Hamid Muhammad, Kurikulum 2013 Pedoman Pelaksanaan Kurikulum bagi Peserta didik Berkebutuhan Khusus di Sekolah Inklusi, (Jakarta, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2014), h. 42.

49Siti Aminah, Anak Berkebutuhan Khusus dan Pendidikan Inklusif, (Jakarta: Uhamka Press, 2016), h. 99.

layaknya apa yang dilakukan oleh guru di sekolah hal tersebut memudahkan koordinasi antara guru dengan orangtua mengenai perkembangan anak.

Lebih jauh Rahmasari mengungkapkan bahwa Program Pendidikan Individual (PPI) atau Indivilized Educational Program (IEP) merupakan suatu kurikulum atau suatu program pembelajaran yang didasarkan kepada gaya, kekuatan dan kebutuhan-kebutuhan khusus anak dalam belajar.50 Ini menunjukkan bahwa PPI atau IEP adalah program pembelajaran yang didasarkan kepada setiap kebutuhan individu (anak), dengan adanya PPI atau IEP maka seluruh pihak yang ada di sekolah dapat memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh peserta didik berkebutuhan khusus dan hal itu pun akan mempengaruhi perkembangannya. Adapun langkah-langkah dalam pembuatan IEP menurut Rahmasari ialah:

1. Kerja sama guru dan orang tua 2. Penjelasan dan persetujuan

3. Asessmen (menilai) kebutuhan khusus anak 4. Pembentukan tim PPI

5. Mengembangkan tujuan jangka panjang dan pendek

6. Pengembangan IEP merancang metode dan prosedur pembelajaran

7. Menetapkan materi pembelajaran

8. Melakukan evaluasi kemajuan belajar anak51

Sedangkan untuk kenaikan kelas, kelulusan dan perolehan ijazah sama halnya dengan sekolah pada umumnya mengikuti prosedur dan ketentuan yang berlaku, peserta didik inklusi juga dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan sekolah memiliki kewajiban untuk memfasilitasi untuk dapat melanjutkan sekolahnya.

50Rahmasari Dwimarta, “Rancangan IEP (Individualized Educational Program) Bagi Anak Berkebutuhan Khusus Pada Pendidikan Inklusif”, Jurnal Pendidikan, 2015, h. 223.

51Ibid, h. 235.

2) Pengelolaan Kelas Secara Adminsitratif

Pengelolaan secara administratif dilakukan dengan menata ruang kelas dimana situasi di dalam kelas dilengkapi dengan berbagai perlengkapan yang dapat memudahkan proses belajar peserta didik inklusi, membuat mereka merasa nyaman dan aman sehingga pembelajaran dikatakan efektif.

Pada pelaksanaannya sekolah yang menyelenggarakan pendidikan inklusi harus memperhatikan bagaimana penataan ruang kelasnya seperti pada pintu masuk dan ruang kelas dengan lantai yang sejajar sehingga memudahkan kursi roda dapat keluar masuk, kemudian pembuatan guiding block dan simbol braille untuk mempermudah peserta didik tunanetra, penyediaan display visual untuk memudahkan peserta didik tunarungu, kursi dan meja dibuat dari bahan yang kuat serta ringan dan bersifat movable, formasi tempat duduk peserta didik dapat dibuat secara bergantian atau bervariasi sesuai dengan kebutuhan seperti contohnya formasi U, formasi lingkaran, formasi setengah lingkaran, formasi tapal kuda, dan sebagainya.

Penempatan peserta didik berkebutuhan khusus juga sebaiknya diperhatikan misalnya menempatkannya pada baris depan kelas, atau di dekat guru agar memudahkan komunikasi dan penyampian materi, tidak hanya itu mereka juga sebaiknya di dekatkan dengan peserta didik normal dengan tujuan memberikan pengalaman belajar bagi peserta didik.

Selain itu dalam bukunya Hamid Muhammad menyebutkan bahwa penataan dan perlatan kelas juga memperhatikan aspek keamanan peserta didik inklusi, diantaranya:

a) Sudut-sudut dinding, papan tulis, meja, kursi, almari dan peralatan lainnya tidak dibuat runcing/tajam.

b) Meminimalkan tempat yang curam dan tangga.

c) Meminimalkan peralatan yang menjorok yang membahayakan bagi tunanetra.

Dokumen terkait