• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengelolaan Peserta Didik Berkebutuhan Khusus

Dalam dokumen Oleh: Efry Syafira Octary NIM. 1113018200027 (Halaman 99-108)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Deskripsi, Analisis, dan Interpretasi Data

3. Pengelolaan Peserta Didik Berkebutuhan Khusus

GPK lebih termotivasi untuk terus memberikan yang terbaik.80 Dengan demikian pengawasan dan penilaian kinerja yang dilakukan oleh kepala departemen inklusi secara keseluruhan sudah baik, adapun proses tindak lanjut yang dilakukan juga menggambarkan bahwa pihak departemen tidak membiarkan sebuah masalah berlarut sehingga tindakan harus dilakukan pada saat itu juga. Dengan begitu GPK akan lebih cepat dan mudah mengetahui apa yang menjadi kekurangan dan kelebihannya sehingga dapat meningkatkan kinerjanya.

Pengawasan yang dilakukan oleh kepala departemen inklusi sudah baik terlebih didukung oleh kerjasama dengan koordinator lapangan, hal tersebut dibuktikan dengan observasi yang dilakukan oleh peneliti yang menunjukkan bahwa kepala departemen inklusi dibantu dengan koordinator lapangan secara konsisten selalu melakukan pengawasan pembelajaran baik secara harian, sidak, maupun tantrum.

Hal tersebut dibuktikan dengan hasil wawancara GPK yang mengungkapkan bahwa keduanya secara bergantian keliling kelas untuk memastikan kehadiran GPK, kemudian bagi koordinator lapangan ditugaskan untuk membantu GPK apabila terjadi tantrum pada peserta didik. Dengan adanya pengawasan tersebut GPK merasa sangat terbantu karena akan lebih mudah memberikan penanganan bagi peserta didik.81 Hal tersebut memperlihatkan bahwa kerjasama antara pihak departemen inklusi dengan GPK begitu kuat hal tersebut dilakukan untuk mewujudkan lingkungan inklusi di sekolah.

Untuk itu diperlukan pengelolaan bagi para peserta didik berkebutuhan khusus. Berikut merupakan daftar peserta didik berkbutuhan khusus:

Tabel 4.7

Data Peserta Didik Berkebutuhan Khusus Sekolah Dasar Citra Alam

No Nama Jenis Kebutuhan

Jenis Pendampingan 1 Afyasyifa Cantiq

Rajasa

Slow

Learner/Lamban Belajar

Full Pendampingan

2 Aryadyaksa Wirasena Autis Semi

Pendampingan 3 Audrey Destyarni

Putri

ADHD/Attention Deficit Hyperactivity Disorder

Semi

Pendampingan 4 Daffa Mulia Putra ADHD/Attention

Deficit Hyperactivity Disorder

Full Pendampingan

5 Davin Iqbal

Anjasmoro

Gifte/Anak Berbakat Semi

Pendampingan 6 Faiz Maliq Mulia ADHD/Attention

Deficit Hyperactivity Disorder

Semi

Pendampingan 7 Farhan Ilham Madia Tuna Ganda

(Speech

Delay/Keterlambatan Bicara,

ADHD/Attention Deficit Hyperactivity Disorder, Autis)

Full Pendampingan

8 Muhammad Fakhri Zarifin

Slow

Learner/Lamban Belajar

Semi

Pendampingan 9 Julian Prameswara

Nugroho

PDD

NOS/Pervasive Develompmental Disorder Not

Otherwise Specified

Semi

Pendampingan

10 Laatuzigh Kilaki Azhar

Slow

Learner/Lamban Belajar

Semi

Pendampingan

11 Muhammad Hilmi Al Fauzi

ADHD/Attention Deficit Hyperactivity Disorder

Semi

Pendampingan 12 Nan Zerlina Keilana ADHD/Attention

Deficit Hyperactivity Disorder

Semi

Pendampingan 13 Nolan Rasyad Putra Slow

Learner/Lamban Belajar

Semi

Pendampingan

14 Reyhan Ahmad

Subroto

ADHD/Attention Deficit Hyperactivity Disorder

Semi

Pendampingan 15 Risyad Muhammad

Razan

Slow

Learner/Lamban Belajar

Semi

Pendampingan

16 Naufal Hanif

Abdullah

Autis Semi

Pendampingan 17 Khairana Ghassani Slow

Learner/Lamban Belajar

Semi

Pendampingan

Dapat diketahui bahwa jumlah seluruh peserta didik berkebutuhan khusus di Sekolah Dasar Citra Alam ialah tujuh belas orang dengan lima jenis kebutuhan yaitu terdiri dari enam peserta didik yang mengalami slow learner, tujuh orang peserta didik mengalami ADHD, dua orang peserta didik mengalami autis, satu orang peserta didik mengalami gifted, satu orang peserta didik mengalami PPD NOS, dan satu orang peserta didik mengalami tuna ganda (Speech Delay, ADHD, dan Autis).

Salah satu GPK mengungkapkan gejala yang dialami oleh peserta didik berkebutuhan khusus yaitu:

1. Slow learners atau yang disebut dengan kesulitan belajar mereka memiliki prestasi belajar yang rendah atau sedikit di bawah rata-rata dari pada anak umumnya, pada salah satu atau seluruh area akademik. Gejalanya dapat berupa sulitnya mengenal huruf dan angka serta menulis, sehingga tidak dapat memahami materi pelajaran.

2. Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) memiliki aktivitas motorik berlebih dan ketidakmampuan untuk memfokuskan perhatian.

3. Autisme gejalanya ialah anak lebih suka menyendiri, tidak ada atau sedikit kontak mata, sulit berbicara, kata yang digunakan tidak sesuai dengan artinya, mengoceh tanpa arti berulang-ulang dengan bahasa yang tidak dimengerti orang lain.

4. Speech delay atau yang biasa disebut keterlambatan bicara merupakan bagian dari tuna grahita, gejalanya ditandai dengan sulitnya seorang anak dalam mengekspresikan keinginan atau perasaan kepada orang lain, tidak mampu dalam berbicara secara jelas, dan kurangnya penguasaan kosa kata yang membuat anak tersebut berbeda dengan anak lain sesusianya.

5. Pervasive developmental disorder not otherwise specified (PDD- NOS), merupakan bagian dari autis, gejalanya tidak sebanyak seperti pada autis umum, dimana gangguan yang terjadi lebih ringan, sehingga anak-anak ini masih bisa bertatap mata, ekspresi wajah tidak terlalu datar, dan masih bisa diajak bergurau.

6. Gifted atau yang biasa disebut dengan anak berbakat, ciri-ciri anak gifted ialah memiliki pemikiran yang kritis, memiliki kemampuan di atas rata-rata, mampu menerima dan menguasai informasi dengan cepat, dan memiliki kreativitas yang tinggi.82

Adapun dari jumlah keseluruhan peserta didik dapat diketahui bahawa sebagian besar peserta didik mengalami ADHD dan Slow Learner. Dengan pendampingan satu orang guru pembimbing khusus (GPK) setiap satu peserta didik, mereka akan diarahkan mencapai program-program baik akademik maupaun non akademik dengan menyesuaikan kebutuhan mereka yang nantinya ditujukan agar mereka dapat hidup lebih baik dan mandiri.

Seluruh peserta didik akan mengikuti serangkaian tes yang diberikan oleh sekolah pada awal pendaftaran, yaitu tes akademik, tes bakat, dan tes psikologi. Adapun tes psikologi dilaksanakan langsung oleh psikolog sekolah, hasil tes tersebut akan dikoordinasikan kepada kepala sekolah dan menjadi bahan acuan pembuatan program. Dari hasil tes tersebut psikolog dan departemen inklusi akan melakukan koordinasi untuk menentukan jumlah peserta didik yang dirasa memerlukan pendampingan. Informasi tersebut nantinya akan diberikan kepada orang tua peserta didik berikut dilampirkan hasil tesnya, kemudian kepala sekolah akan melakukan koordinasi dengan departemen inklusi dan orang tua peserta didik untuk

82Wawancara Pribadi dengan GPK, Jakarta, 11 Januari 2011

menyediakan GPK. Pada pelaksanaannya, terdapat tiga jenis pendampingan yang diberikan oleh GPK terhadap peserta didiknya, yaitu:

1) Full Pendampingan, jenis pendampingan ini menuntut GPK untuk membuat materi baru yang berbeda jauh dari yang guru kelas siapkan, pendampingan pun dilakukan secara penuh baik di kelas maupun di luar kelas, dari mulai membacakan soal, mengulang materi, hingga menjawab pertanyaan.

2) Semi Pendampingan, pada jenis pendampingan ini GPK tetap berada di kelas untuk menemani proses belajar terutama dalam mengulang materi yang tidak dimengerti oleh peserta didik berkebutuhan khusus, pada saat ujian pun tugas GPK ialah memeriksa hasil kerja peserta didik berkebutuhan khusus pada waktu 30 menit terakhir.

3) Lepas Pendampingan, dimana jenis pendampingan ini peserta didik berkebutuhan khusus dianggap sudah mampu mandiri, sehingga pada proses belajar pun GPK hanya melihat dari belakang kelas dan membantu apabila peserta didik berkebutuhan khusus merasa kesulitan, dan pada saat ujian GPK hanya menunggu di luar.83

Berdasarkan jenis pendampingan tersebut, terdapat tiga orang peserta didik yang membutuhkan pendampingan dengan jenis full pendampingan, sedangkan yang lain semi pendampingan. Hal tersebut dikarenakan kondisi atau kebutuhan yang dialami peserta didik dirasa tidak begitu berat sehingga GPK tidak perlu mengawasi secara penuh hanya saja pada proses pembelajaran di kelas GPK tetap melakukan pengawasan secara penuh.

Sedangkan untuk program sekolah, tidak ada program khusus bagi peserta didik berkebutuhan khusus. Semua program yang di sekolah antara lain ialah MOS (Masa Orientasi Sekolah), Fieldtrip, Pekan Ramadhan Edukatif, Camping, Environment Day, Islamic Day, National Day, dan Perayaan Akhir Tahun dirancang dan ditujukkan bagi seluruh peserta didik

83Wawancara Pribadi dengan Koordinator Lapangan Departemen Inklusi , Jakarta, 4 Februari 2017

tanpa terkecuali bagi peserta didik berkebutuhan khusus.84 Adapun proses perancangan program dituangkan di dalam rapat yang dipimpin oleh kepala sekolah, rapat perancangan program dilakukan pada awal semester, yang diikuti oleh psikolog, guru kelas, team teaching, departemen inklusi;

baik kepala departemen, koordinator lapangan, koordinator kurikulum dan administrasi, serta guru pembimbing khusus. Pada kesempatan itu mereka membicarakan program bersama yang berlaku bagi seluruh peserta didik di sekolah. Meski demikian, bagi peserta didik berkebutuhan khusus program yang telah ditetapkan akan disesuaikan kembali pada saat pelaksanaan dengan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan peserta didik.

Meski tidak memiliki program khusus bagi peserta didik berkebutuhan khusus, GPK menjadikan pelaksanaan IEP sebagai sebuah program bagi peserta didik yang didampinginya, dan sebagai sebagai upaya untuk merubah kriteria yang melekat pada diri peserta didik, sekolah melakukan berbagai macam kegiatan pembiasaan yang dicantumkan dalam IEP. Baik itu mengenai akademik, yaitu dengan memberikan pendalaman materi bagi peserta didik. Maupun non akademik, diantaranya ialah dengan melatih emosi, motorik, dan toilet training. Adapun pelaksanaan IEP tersebut disesuaikan dengan kondisi dan situasi, yaitu dapat dilakukan pada jam pelajaran berlangsung atau setelah proses pembelajaran selesai. Upaya- upaya tersebut dilakukan untuk mengejar ketertinggalan para peserta didik berkebutuhan khusus, serta untuk melatih kemampuan sehingga dapat dikatakan mandiri.

Berdasarkan hasil observasi dan temuan di lapangan, upaya yang dilakukan sekolah khususnya oleh GPK sudah sangat baik, hal tersebut dibuktikan dengan konsistennya GPK melaksanakan kegiatan yang menjadi target bagi masing-masing peserta didik guna membantunya menjadi mandiri. Adapun upaya yang dilakukan tersebut didasarkan atas hasil tes dan persetujuan dari orang tua peserta didik. GPK juga akan

84Wawancara Pribadi dengan Kepala Sekolah, Jakarta, 10 Januari 2017

memberikan laporan kepada orang tua mengenai kegiatan yang dilakukan peserta didik setiap harinya.

Berkaitan dengan penilaian bagi peserta didik berkebutuhan khusus, GPK memiliki aturan-aturan sendiri yang telah dibuat oleh departemen inklusi, adapun indikator penilaian yang perlu diperhatikan oleh GPK yaitu:85

a. Konsisten/Mandiri, jika peserta didik mampu melakukan aktivitas/kegiatan tanpa bantuan guru pendamping atau orang lain, melakukan aktivitas/kegiatan tanpa instruksi guru pendamping atau orang lain, dan mampu melakukan aktivitas/kegiatan tanpa ada pendampingan jarak dekat (namun pendampingan/pemantauan jarak jauh).

b. Cukup Konsisten, jika peserta didik mampu melakukan aktivitas/kegiatan tanpa bantuan guru pendamping atau orang lain, namun belum konsisten, melakukan aktivitas/kegiatan tanpa instruksi guru pendamping atau orang lain, namun belum konsisten, kemudian Peserta didik masih perlu diingatkan dan diberikan motivasi, dan pendampingan yang dilakukan jarak sedang atau jarak jauh.

c. Dibantu Minimal, jika peserta didik mampu melakukan aktivitas/kegiatan dengan sedikit bantuan guru pendamping atau orang lain, mampu melakukan aktivitas/kegiatan dengan instruksi guru pendamping atau orang lain, GPK sedikit mengarahkan/memberikan instruksi untuk mempermudah peserta didik dlam mengerjakan aktivitas/kegiatan.

d. Dibantu Maksimal, jika peserta didik mampu melakukan aktivitas/kegiatan dengan bantuan penuh guru pendamping atau orang lain, mampu melakukan aktivitas/kegiatan dengan instruksi guru pendamping atau orang lain, mampu melakukan aktivitas/kegiatan dengan pendampingan jarak dekat, dan sebagian

85Dokumen SOP GPK

besar proses kegiatan atau seluruhnya diarahkan oleh guru pendamping.

Keempat indikator di atas menjadi landasan bagi GPK untuk menilai peserta didiknya. Lebih lanjut GPK mengungkapkan bahwa indikator tersebut yang menjadi tolak ukur penilaian dalam perancangan IEP. Adapun hasil penilaian GPK nantinya akan dikoordinasikan dengan guru kelas masing-masing, karena pada dasarnya pengisian nilai rapor merupakan wewenang guru kelas sehingga GPK hanya menyerahkan hasil penilaiannya kepada guru kelas untuk dianalisis dan menjadi bahan pertimbangan penilaian.

Sistem penilaian yang diterapkan oleh GPK sudah sangat baik, hal ini dibuktikan dengan indikator penilaian tersebut merupakan bagian dari IEP yang menjadi acuan para GPK untuk mencapai target-target tertentu bagi peserta didiknya, dengan begitu penggunaan indikator penilaian sangat membantu GPK untuk menilai sejauh mana perkembangan yang dialami oleh peserta didiknya.

Berbeda dengan GPK, guru kelas memiliki tugas lebih dibanding GPK yaitu menilai seluruh peserta didik di kelas tanpa terkecuali peserta didik berkebutuhan khusus. Untuk melakukan penilaian bagi peserta didik, guru kelas menggunakan instrumen sebagai alat penilaiannya, baik berupa ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, maupun tugas-tugas khusus. Salah satu guru kelas mengungkapkan bahwa secara keseluruhan dalam satu kelas guru selalu membuat tiga jenis bentuk instrumen, yaitu: 86

- Instrumen dalam bentuk tinggi - Instrumen dalam bentuk sedang - Instrumen dalam bentuk rendah

Adapun bagi peserta didik berkebutuhan khusus apabila mereka tidak bisa mengikuti ketiga jenis instrumen tersebut maka guru kelas akan berkoordinasi dengan GPK untuk membuat instrumen yang sesuai dengan

86Wawancara Pribadi dengan Guru Kelas, Jakarta, 10 Januari 2017

apa yang telah diajarkan oleh GPK kepada peseta didik berkebutuhan khusus.

Pada prosesnya penilaian bagi peserta didik berkebutuhan khusus dilakukan oleh guru kelas masing-masing, guru kelas menjelaskan bahwa penilaian bagi mereka dilakukan dengan meminta pendapat dan pandangan dari GPK serta hasil dari penilaian IEP sehingga tidak melihat hanya dari satu sisi.87 Guru kelas sebagai penilai hasil belajar peserta didik tentunya memiliki standar khusus dalam penilaiannya ditambah peserta didik yang dinilai merupakan peserta didik berkebutuhan khusus.

Berdasarkan hasil temuan, bagi peserta didik berkebutuhan khusus yang dianggap sudah bisa mandiri atau semi pendampingan khususnya di kelas tinggi (kelas 5), guru kelas menyamakan proses penilaian hanya mengubah level beberapa mata pelajaran hal tersebut dikarenakan ada beberapa orang tua yang memikirkan penilaian di bidang akademik. Lain halnya dengan proses penilaian yang dilakukan oleh guru kelas rendah (kelas 3) dimana peserta didik berkebutuhan khusus mendapatkan full pendampingan sehingga bentuk instrumen yang dibuat pun sangat jauh berbeda dengan teman-teman di kelasnya. Untuk penilaian bagi mereka pun selain berkoordinasi dengan GPK, guru kelas menilai dari seberapa usaha yang mereka lakukan dalam proses pembelajaran, adapun bentuk penilaian dibuat dalam bentuk deskripsi.

Dengan begitu dapat diketahui bahwa proses penilaian yang dilakukan oleh guru kelas sudah cukup baik, hal tersebut dibuktikan dengan adanya berbagai macam instrumen yang dibuat dan disesuaikan dengan kondisi peserta didik. Tidak hanya itu, penilaian juga tidak dilakukan sendiri melainkan meminta pandangan dan hasil dari penilaian GPK karena pada praktiknya GPK yang lebih mengetahui bagaimana keseharian peserta didiknya, dan tentunya lebih memahami dibanding dengan guru kelas.

Namun adanya perbedaan mengenai bentuk instrumen menambah tugas

87Ibid

guru, selain itu terlalu banyak instrumen yang dibuat akan mempersulit guru untuk melihat ketercapaian yang ada pada tujuan pembelajaran.

Dalam dokumen Oleh: Efry Syafira Octary NIM. 1113018200027 (Halaman 99-108)

Dokumen terkait