• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh: Efry Syafira Octary NIM. 1113018200027

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Oleh: Efry Syafira Octary NIM. 1113018200027"

Copied!
232
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Identifikasi Masalah

Pembatasan masalah

Perumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

KAJIAN TEORI

Konsep Pendidikan Inklusi

Ketiga pendapat di atas menekankan bahwa pendidikan inklusif adalah pendidikan yang memungkinkan semua peserta didik, apapun kondisinya, untuk belajar bersama dalam satu lingkungan atau satu kelas. Ketiga pendapat tersebut juga didukung oleh Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 70, Pasal 1 Tahun 2009, yang menyatakan bahwa pendidikan inklusif adalah sistem pendidikan yang memberikan kesempatan kepada seluruh peserta didik penyandang disabilitas dan berpotensi untuk memperoleh pendidikan. menerima pendidikan. kecerdasan dan/atau bakat khusus untuk ikut serta dalam proses belajar mengajar di lingkungan pendidikan bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya.11. 11 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif (Pensif) Bagi Siswa Penyandang Disabilitas dan Potensi Intelegensi dan/atau Bakat Khusus.

17 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif (Pensif) Bagi Siswa Penyandang Disabilitas dan Potensi Intelegensi dan/atau Bakat Khusus. 20 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif (Pensif) Bagi Siswa Penyandang Disabilitas dan Potensi Intelegensi dan/atau Bakat Khusus. 70 Tahun 2009 tentang pendidikan inklusif bagi peserta didik penyandang disabilitas dan mempunyai potensi kecerdasan dan/atau bakat khusus.

Pengelolaan Pendidikan Inklusi

Sama halnya dengan pendidikan pada umumnya, RPP di kelas inklusif bersifat klasikal, artinya dirancang dan diperuntukkan bagi seluruh siswa secara bersama-sama, baik siswa berkebutuhan khusus maupun siswa normal. Kegiatan selanjutnya adalah kegiatan dasar dimana guru harus menyampaikan materi pembelajaran berdasarkan metode dan pendekatan yang telah dibuat agar dapat menular kepada siswa. Hal ini berbeda dengan penjelasan penilaian pada siswa reguler, berdasarkan ketentuan umum bahwa siswa berkebutuhan khusus di kelas inklusi menggunakan kurikulum yang sama dengan siswa lainnya.

Selain itu, penilaian terhadap siswa berkebutuhan khusus juga dapat dimodifikasi dengan mempertimbangkan potensi, hambatan dan kebutuhan siswa yang terlibat sehingga pelaksanaan penilaian dapat diukur secara obyektif dan dilakukan secara adil sesuai dengan kondisi yang ada. 48 Hamid Muhammad, Pedoman Kurikulum 2013 Penerapan Kurikulum Bagi Siswa Berkebutuhan Khusus di Sekolah Inklusi, (Jakarta, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2014), hal. Khususnya bagi siswa berkebutuhan khusus, keselamatan menjadi hal yang penting untuk diperhatikan mengingat mereka memiliki banyak keterbatasan dalam melakukan berbagai aktivitas di dalam kelas.

Penelitian yang Relevan

Penelitian ini membahas tentang tahapan pelaksanaan pendidikan inklusif, kurikulum yang digunakan di sekolah, pengajaran yang dilaksanakan di sekolah, dan prestasi yang dicapai siswa berkebutuhan khusus. Chita Faradilla A, Program Studi Keguruan Pendidikan Anak Usia Dini, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta 2013 dengan judul “Penerapan Pendidikan Inklusif dalam Pembelajaran TK Kelompok A (Studi Kasus di Komimo Playschool Yogyakarta)”. Penelitian ini membahas tentang komposisi kelas di sekolah, cara guru memperlakukan anak berkebutuhan khusus, sistem penerimaan siswa baru, pelaksanaan pembelajaran, peran kepala sekolah dan guru dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif, faktor pendukung penyelenggaraan pendidikan inklusif, dan cara mengatasi. hambatan dalam implementasi pendidikan inklusif.

Kamal Fuadi, Program Studi Manajemen Pendidikan, Fakultas Tarbiyah dan Pendidikan Guru, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2011, dengan judul “Analisis Kebijakan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di Provinsi DKI Jakarta”. Penelitian ini membahas tentang kebijakan pemerintah DKI Jakarta mengenai pendidikan inklusif, hal-hal yang dilakukan pemerintah yang merupakan langkah-langkah kebijakan serta model pendidikan inklusif dalam penyelenggaraannya di lingkungan Dinas Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini membahas secara luas kebijakan pendidikan inklusif di Jakarta, sedangkan penulis hanya akan mengkaji satu sekolah di Jakarta Selatan.

Kerangka Pikir

METODELOGI PENELITIAN

  • Metode Penelitian
  • Sumber Data
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Kisi-kisi Instrumen
  • Pemeriksaan atau Pengecekan Keabsahan Data
  • Teknik Analisis Data

3 Jabatan khusus bagi siswa berkebutuhan khusus di kelas 4 Pengaturan ruang kelas ditentukan oleh sekolah. 6 Alokasi waktu belajar bagi siswa berkebutuhan khusus 7 Perlakuan khusus terhadap guru kelas atau guru mata pelajaran. Apakah ada perlakuan khusus dari guru kelas terhadap siswa berkebutuhan khusus selama pelaksanaan proses pembelajaran?

Format RPP di sekolah, wali kelas menyesuaikan hanya untuk siswa berkebutuhan khusus, disesuaikan dengan GPK. Apakah ada perlakuan khusus dari guru kelas terhadap siswa berkebutuhan khusus selama pelaksanaan proses pembelajaran? Selama pelaksanaan proses pembelajaran, adakah perlakuan khusus guru kelas atau guru lapangan studi terhadap siswa berkebutuhan khusus?

Tabel 3.6 Scoring
Tabel 3.6 Scoring

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Profil Sekolah

SD Citra Alam merupakan sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Citra Nurul Falah Khaled Azmi, dimana didalamnya tidak hanya terdapat Sekolah Dasar (SD) namun juga terdapat beberapa jenjang pendidikan yaitu Kelompok Bermain (PG), Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Menengah Pertama (SMP). (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Pendiri sekolah ini berpendapat bahwa setiap anak dilahirkan unik dan berhak memperoleh pendidikan yang layak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sekolah hadir dengan melihat realita yang ada saat ini bahwa saat ini anak-anak belajar bukan untuk hidupnya melainkan belajar untuk sekolah.

Hal ini terlihat dari apa yang dipelajari anak di sekolah, nampaknya sangat jauh dari kenyataan yang mereka alami. Mereka tidak dapat memahami apa yang mereka pelajari dan tidak dapat menghubungkannya dengan pengalaman langsung yang akan mereka hadapi di masa depan. Kondisi yang terus-menerus seperti ini pada akhirnya mengakibatkan anak tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan berpengetahuan namun kurang bijaksana, tidak produktif, dan mempunyai kesempatan untuk mengejar kehidupan di masa depan saja namun tidak peduli dengan alam lingkungannya.

Terkait perkembangan tersebut, Kepala Sekolah SD Citra Alam mengungkapkan bahwa pendidikan di sekolah merupakan solusi atas permasalahan yang muncul di tanah air, pihak sekolah juga menawarkan solusi di bidang pendidikan dengan melihat segmen pasar yang tidak dilirik oleh sekolah formal lainnya. 59 Hal yang ditawarkan adalah yang pertama berbasis alam, yang kedua adalah sekolah inklusif, kemudian yang ketiga adalah pendidikan karakter, dimana karakter ini nantinya akan membentuk jati diri pribadi, kemudian identitas keluarga dan berkembang membentuk jati diri bangsa. Tawaran lainnya adalah memperkuat sistem antara sistem pendidikan nasional dengan sistem pendidikan di Citra Alam Folkeskole yang kemudian menjalin kerja sama dengan memperhatikan hal-hal yang tidak terpikirkan oleh sekolah lain. Dan hal ini menyebabkan Citra Alam Folkeskole mengalami perkembangan yang signifikan, baik sebagai sekolah sebagai lembaga maupun sebagai lembaga formal yang mampu berbicara di tingkat yang lebih tinggi, baik secara nasional maupun internasional.

Bahkan, pihak sekolah baru-baru ini menjadi pembicara di Kementerian Pendidikan Nasional terkait metode pembelajaran High Order Thinking System (HOTS) dan menjadi narasumber di Rusia. Sekolah tersebut juga diyakini sebagai sekolah utama bagi beberapa sekolah dan menjadi sekolah percontohan bagi sekolah alam yang tergabung dalam National Natural School Network (JSAN). Kini SD Citra Alam mempunyai 316 siswa dengan 17 siswa berkebutuhan khusus.

Awalnya pihak sekolah membatasi jumlah siswa berkebutuhan khusus di setiap kelas sekitar 2 atau 3 orang, namun karena banyaknya animo masyarakat maka pihak sekolah menyesuaikan dengan kebutuhan yang ada.

Visi Sekolah

Terlihat bahwa visi yang ditetapkan oleh pihak sekolah sudah baik, namun sayangnya belum ada kepastian waktu kapan visi tersebut akan terwujud.Tidak hanya itu, ada baiknya dijelaskan pada kalimat pertama bahwa visi tersebut adalah lembaga pendidikan. Segala program dan kegiatan di sekolah dapat dikatakan berkaitan dengan visi.

Misi Sekolah

Tujuan Sekolah

Untuk mengembangkan kesadaran dan kepekaan siswa terhadap lingkungan, selain mendesain sekolah seolah-olah berada di luar ruangan, pihak sekolah juga melaksanakan program tahunan yaitu berkemah, dimana siswa diajak untuk sejenak merasakan kehidupan di luar ruangan. hari, yang akan memberi mereka insentif terkait lingkungan dan alam.

Profil Departemen Inklusi

Visi Departemen Inklusi

Rumusan visi terlalu banyak dan bervariasi sehingga tidak praktis dan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip pembuatan visi lembaga, sebaiknya visi tersebut ditulis dalam satu paragraf atau tidak dalam bentuk poin-poin, seperti yang terjadi saat ini di Ovitek. Selain itu, yang terbaik adalah mencantumkan kerangka waktu yang jelas kapan visi tersebut akan tercapai. Namun secara umum, program yang dirancang oleh departemen inklusi dapat dikatakan mengacu pada visi yang ada.

Apalagi berkaitan dengan visi untuk memberikan perubahan positif kepada peserta didik berkebutuhan khusus, hal ini diwujudkan dengan program kecakapan hidup, dimana program ini bertujuan untuk menggali, mengembangkan dan mengeluarkan potensi-potensi yang dimiliki peserta didik dalam kaitannya dengan kecakapan hidup. sehingga dapat memberikan kontribusi yang baik dalam interaksi sosial di masyarakat. Program kecakapan hidup terdiri dari tujuh program, yaitu kecakapan mental, kecakapan komunikasi, kecakapan sosial, kecakapan emosional, kecakapan akademik, kecakapan motorik, dan pembentukan karakter.

Misi Departemen Inklusi

Sehubungan dengan misinya sebagai alat komunikasi dan mitra terpercaya bagi orang tua, departemen mewajibkan semua dokter layanan primer melengkapi laporan harian yang menjelaskan aktivitas yang dilakukan siswa dalam satu hari, sehingga orang tua dapat mengetahui aktivitasnya dengan lebih baik. aktivitas anak-anak. Terkait misinya menjadi wadah diskusi para guru dalam menangani ABK, pihak departemen selalu mengadakan rapat koordinasi rutin dengan seluruh GPK yaitu dua kali dalam sebulan. Meskipun misinya adalah menyediakan tempat bagi orang tua untuk mencari guru pembimbing, departemen membuat sistem rekrutmen calon GPK dan melakukan proses seleksi yang terdiri dari beberapa tahapan.

Pernyataan misi ini harus berupa pernyataan visi karena pernyataan tersebut menunjukkan apa yang ingin dicapai departemen, bukan langkah apa yang akan diambil.

Deskripsi, Analisis, dan Interpretasi Data

  • Pengelolaan Kurikulum dan Pembelajaran
  • Pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM)
  • Pengelolaan Peserta Didik Berkebutuhan Khusus
  • Pengelolaan Sarana dan Prasarana

Hanya pembelajaran bagi siswa berkebutuhan khusus yang sepenuhnya diserahkan kepada GPK oleh guru kelas dengan materi yang telah disesuaikan sebelumnya. Tidak ada program khusus dalam IEP yang dibuat oleh GPK yang menjelaskan program non-akademik bagi siswa berkebutuhan khusus. Guru kelas membuat berbagai jenis instrumen yang disesuaikan dengan kemampuan siswa, baik untuk siswa berkebutuhan khusus maupun siswa reguler.

Di kelas ini terdapat beberapa pembelajaran yang instrumennya dibedakan sesuai dengan kemampuan siswa berkebutuhan khusus. Bagaimana dengan instrumen atau soal tes dan ujian yang diberikan kepada siswa berkebutuhan khusus?

Gambar 4.1 LP kelas 5 SD Citra Alam                                    Sumber: Dokumen Guru Kelas
Gambar 4.1 LP kelas 5 SD Citra Alam Sumber: Dokumen Guru Kelas

Gambar

Tabel 3.6 Scoring
Gambar 4.1 LP kelas 5 SD Citra Alam                                    Sumber: Dokumen Guru Kelas
Gambar 4.2 LP kelas 3 SD Citra Alam  Sumber: Dokumen Guru Kelas
Tabel 4.1 Hasil Observasi Kelas 3A  No Aspek yang di observasi  Hasil
+2

Referensi

Dokumen terkait

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2018 Tentang Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah dan Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Anak Usia