• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Kepemimpinan

BAB I PENDAHULUAN

3. Kompetensi Sosial

2.3 Kepemimpinan

2.3.1 Pengertian Kepemimpinan

Kepemimpinan merupakan salah satu aspek yang sangat menentukan berhasil tidaknya suatu organisasi dalam mencapai tujuan- tujuan yang telah ditetapkan. Kepemimpinan menyentuh berbagai segi kehidupan manusia seperti cara hidup, kesempatan berkarya, bermasyarakat bahkan bernegara. Oleh karena itu, usaha sadar untuk semakin mendalami berbagai segi kepemimpinan yang efektif perlu dilakukan secara terus menerus.Hal ini disebabkan karena keberhasilan suatu organisasi sangat tergantung pada mutu kepemimpinan.Sehingga wajar bila dikatakan bahwa mutu kepemimpinan dalam organisasi memainkan peran yang sangat dominan dalam keberhasilan organisasi tersebut.

Covey dalam Suprihanto (2003) mengemukakan bahwa pemimpin yang berhasil di abad 21 adalah yang mempunyai visi, keberhasilan serta kerendahan hati untuk terus menerus belajar dan mengasah kecakapan dan emosionalnya. Hal ini disebabkan seorang pemimpin yang cerdas bukanlah suatu jaminan untuk dapat memimpin suatu unit organisasi secara efektif dan efisien.

Kepemimpinan diartikan sebagai kemampuan dan keterampilan seseorang yang menduduki jabatan sebagai pemimpin satuan kerja untuk memengaruhi perilaku pegawai(Rivai, 2011). Menurut Supriadi (2003) pemimpin adalah seorang yang memiliki keterampilan untuk memengaruhi

atau menggerakkan perilaku orang lain agar mampu berkerja secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan organisasi. Sedangkan Colloms dalam Timpe (2002), menyatakan bahwa efektivitas seorang pemimpin tergantung dari ciri pribadi individu, ciri dari tugas yang dibebankan dan tempat individu itu dalam hierarki organisasi.

Siagian (2012) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk memengaruhi orang lain (para pegawai) sehingga para pegawai mau melakukan kehendak pemimpin, meskipun secara pribadi hal itu mungkin tidak disenanginya. Hal ini mengandung makna: pertama, pemimpin dalam organisasi, kedua, kepengikutan sebagai elemen penting dalam menjalankan kepemimpinan, ketiga, kemampuan mengubah egosentrisme para pegawai menjadi organisasi sentrisme.

Disimpulkan bahwa kepemimpinan memiliki makna, yaitu: pertama, sebagai suatu proses untuk mengarahkan dan memengaruhi aktivitas- aktivitas para pegawai, kedua, memberi visi, rasa gembira, kegairahan, cinta, kepercayaan, semangat, obsesi dan konsistensi kepada para pegawai dan ketiga, menggunakan simbol-simbol, memberikan perhatian, menunjukkan contoh atau tindakan nyata, menghasilkan para pahlawan para semua level organisasi dan memberikan pelatihan secara efektif kepada para pegawai.

Secara operasional peranan kepemimpinan yang efektif adalah dengan cara meningkatkan disiplin yang tinggi, dalam arti ketaatan dan

kepatuhan dalam waktu dan kerja maksimal, serta kepatuhan terhadap ketentuan lainnya, dimana pemimpin dan bawahan diikat dalam kelompok secara bersama-sama mematuhi sistem instrumen tersebut, agar tercapai tujuan organisasi.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, dapat ditarik pemahaman bahwa keberhasilan seorang pemimpin pada dasarnya harus memiliki 4 kompetensi yaitu:

1. Kecerdasan

2. Kedewasaan dan keleluasaan berhubungan (komunikasi) 3. Motivasi diri dan dorongan berprestasi

4. Memiliki sifat hubungan kemanusiaan (Hablun minan-nas).

Suatu hal yang sangat strategi dalam membangun kinerja adalah kepemimpinan dalam suatu organisasi atau institusi.Dalam suatu studi yang luas tentang kepemimpinan, Shoemaker (1999) menyatakan bahwa kepemimpinan bukanlah popularitas, bukan kekuasaan, bukan kebijaksanaan dalam perencanaan jangka panjang. Dalam bentuk yang paling sederhana, kepemimpinan hanyalah menyelesaikan sesuatu dengan bantuan orang lain, pendengar, berorientasi tugas, mempunyai rasa strategis, berhasrat memahami, memberikan empati dan mau bekerjasama yang menuju peningkatan produktivitas (kinerja).

Kepemimpinan merupakan suatu kemampuan individu untuk mengayomi kelompok, masyarakat dan menyelesaikan masalah yang lebih efektif, efisien, dan berdayaguna, sehingga setiap individu

dipengaruhi oleh karakter, kepribadian, pengalaman, pengetahuan, serta situasi dan kondisi yang dihadapinya dalam suatu proses untuk memerankan kepemimpinan dalam organisasi sebagai penggerak, dinamisator segala sumber daya yang dimiliki organisasi, berperan sebagai pemimpin dalam organisasi yang memiliki tugas manajemen untuk menggerakkan orang lain atau kelompok, guna mencapai tujuan organisasi, serta berperan sebagai seorang pemimpin yang baik, berkewajiban membina hubungan pribadi (human relation) secara vertikal dan horizontal serta memiliki kemampuan dan kemauan berkomunikasi secara baik dan luwes.

Kepemimpinan adalah suatu proses dimana individu memengaruhi kelompok untuk mencapai tujuan umum (Northouse, 2003). Pengertian ini dipertajam oleh Dessler (2003)bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk menanamkan keyakinan dan memeroleh dukungan dari anggota organisasi untuk mencapai tujuan organisasi.Kepemimpinan itu ada pada diri pemimpin/manajer. Dari aspek karakteristik dibedakan antara karakteristik pemimpin (leader) dengan karkateristik manajer. Luthans (2002) menegaskan bahwa karakteristik pemimpin di Abad XXI adalah:

innovates (menciptakan sesuatu yang baru); an original (asli dari pemimpin); develops (mengembangkan); focuses on people (terkonsentrasi pada manusia); inspires trust (menghidupkan rasa percaya); longrange perspective (memiliki prespektif jangka panjang);

asks what and why (ia menanyakan apa dan mengapa); eye on the

horizon (berpandangan sama pada sesamanya); originates (memiliki keaslian); challenges the status quo (menentang kemapanan); own person (mengakui tanggung jawab ada pada pemimpin); does the right thing (mengerjakan yang benar).

Pemimpin memiliki karakteristik selalu memiliki upaya untuk menciptakan hal yang baru (selalu berinovasi). Gagasan-gagasan yang dimiliki oleh pemimpin merupakan gagasan sendiri tidak meniru ataupun menjiplak. Pemimpin selalu berupaya untuk mengembangkan apa yang ia lakukan. Ia percaya pada bawahan, dan selalu menanamkan kepercayaan pada anggota organisasi. Gagasannya memiliki perspektif jangka panjang, menentang status quo, dan tidak puas dengan apa yang ada. Ia bertanggung jawab atas apa yang dilakukan oleh bawahannya, dan ia mengerjakan yang benar.

Setiap pemimpin memiliki gaya kepemimpinan, Luthans (2002) mengemukakan ada kalanya pemimpin tidak memberi kesempatan pada bawahannya untuk bertanya ataupun minta penjelasan (authoritarian), ada kalanya pemimpin memberi kesempatan bawahan untuk berdiskusi, bertanya (democratic), dan ada kalanya pemimpin itu membiarkan kondisi yang ada terserah pada bawahan (laissez-fair). Berikut studi dilakukan oleh The Ohio State Leadership Study, pada akhir Perang Dunia Kedua, temuan penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan ditujukan pada penyelesaian tugas atau orientasi pada sasaran (Initiating structure), dan pengakuan terhadap kebutuhan individu dan hubungan (consideration).

Selanjutnya penelitian dilanjutkan oleh The Early Michigan Leadership Study menunjukkan bahwa kepemimpinan itu adalah perhatian terhadap karyawan (employee-centered) dan juga perhatiannya terhadap proses produksi (production-centered).

Yuki, et al (2002) mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah sebuah proses dan ada tiga variabel kunci dalam kepemimpinan meliputi:

a. Karakteristik pemimpin

Menentukan karakteristik pemimpin, Yuki mencantumkan beberapa faktor seperti trait yang berisikan motivasi dan kepribadian dari pemimpin.Lalu faktor skills mencakup keterampilan konseptual, sosial dan teknikal ada juga faktor perilaku, integritas, kepercayaan diri dan optimisme.

b. Karakteristik pengikut

Pengikut juga memiliki faktor trait.Tapi faktor trait dalam hal ini adalah kebutuhan dan konsep diri. Faktor lainnya adalah kepercayaan diri dan optimisme, skills, kepercayaan pada pemimpin, komitmen akan tugas, dan kepuasan atas pekerjaan demikian pula kepuasan atas pemimpin.

c. Karakteristik situasi

Karakteristik situasi dapat dilihat dari faktor tipe dan ukuran organisasi, posisi kekuatan dan kekuasaan, struktur tugas dan kompleksitas, serta ketidakpastian lingkungan sekitar.

Sejumlah besar penelitian empiris mengenai kepemimpinan yang efektif telah berusaha untuk mengidentifikasi jenis perilaku yang meningkatkan kinerja individu dan kolektif.Metode penelitian yang paling umum telah menjadi bidang studi survei dengan kuesioner deskripsi perilaku.Dalam setengah abad terakhir, ratusan penelitian survei telah meneliti hubungan antara perilaku kepemimpinan dan berbagai indikator efektivitas kepemimpinan (Bass, 1985; Yuki, 2002).

Masalah utama dalam penelitian dan teori tentang kepemimpinan yang efektif telah kurangnya kesepakatan tentang yang kategori perilaku yang relevan dan bermakna bagi para pemimpin. Hal ini sangat sulit untuk membandingkan dan mengintegrasikan hasil dari penelitian yang menggunakan set yang berbeda dari kategori perilaku. Telah ada proliferasi membingungkan taksonomi pada perilaku kepemimpinan (Bass, 1985; Yuki, 2002). Kadang-kadang istilah yang berbeda telah digunakan untuk merujuk pada jenis yang sama dari perilaku. Di lain waktu, istilah yang sama telah didefinisikan secara berbeda oleh berbagai teori. Apa yang diperlakukan sebagai kategori perilaku umum oleh satu teori dipandang sebagai dua atau tiga kategori yang berbeda dengan teori lain. Apa yang dimaksud dengan konsep kunci dalam satu taksonomi tidak ada dari yang lain. Taksonomi yang berbeda telah muncul dari disiplin ilmu penelitian yang berbeda, dan sulit untuk menerjemahkan dari satu set konsep yang lain.