5.2 DASAR LINGKUNGAN
5.2.1 Perhutanan Sosial
Data yang terkait dengan dasar sosial terdiri dari izin perhutanan sosial yang berlaku. Perhutanan sosial dimaksudkan untuk mendorong keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan hutan, dan pada saat yang sama memberikan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat. Skema kehutanan masyarakat terdiri dari:
Hutan Tanaman Rakyat (HTR), yang memungkinkan pemanfaatan kayu dan komoditas perkebunan (mis. perkebunan karet) di kawasan hutan produksi;
Hutan kemasyarakatan (HKm), yang memungkinkan pemanfaatan kayu dan komoditas agroforestri (mis. kopi) di kawasan hutan produksi;
Hutan desa (HD), yang memungkinkan pemanfaatan kayu di kawasan hutan produksi atau produk hutan non - kayu di hutan lindung. Hutan desa dikelola oleh pemerintah desa; dan
Hutan Adat (HA), yang memungkinkan pemanfaatan kayu di kawasan hutan produksi, atau hasil hutan non - kayu di hutan lindung.
Alokasi pemerintah untuk perhutanan sosial disebut Peta Indikatif dan Areal Perhutanan Sosial (PIAPS), dan di Provinsi Kalimantan Timur, PIAPS mencakup 239.972 ha. Wilayah - wilayah dalam PIAPS yang telah memiliki izin perhutanan sosial di Provinsi Kalimantan Timur dirangkum dalam Tabel
27 Berdasarkan peta indikatif perhutanan sosial (Peta Indikatif dan Areal Perhutanan Sosial [PIAPS]), Kementerian Lingkungan
14. Kemajuan dan tantangan dalam skema perhutanan sosial di Provinsi Kalimantan Timur dijelaskan dalam bagian berikut.
Tabel 14 Wilayah dengan izin perhutanan sosial di Provinsi Kalimantan Timur.
Wilayah
Perhutanan Sosial (hektar) Hutan
Tanaman Rakyat
Hutan
Kemasyarakatan Hutan Desa Hutan Adat
Kemitraan Hutan
Total
Balikpapan - 1.400 - - - 1.400
Berau 1.096 - 68.126 - 225 69.447
Kutai Barat 989 - 8.405 49 9.443
Kutai Kartanegara
1.501 - - - 1.147 2.648
Kutai Timur 4.058 590 21.023 - 3.846 29.517
Mahakam Hulu - 28.380 - 96 2.934
Paser - - - 0
Hasil Akhir 7.644 1.990 125.934 49 5.314 140.931
Dari PIAPS ini, 19.583 Ha (sekitar 8%) tumpang tindih dengan konsesi kelapa sawit. Fakta ini menunjukkan bahwa akan ada masalah tumpang tindih izin yang berkaitan dengan implementasi perhutanan sosial. Kecuali untuk Kota Bontang, semua kabupaten dan kota di Provinsi Kalimantan Timur memiliki alokasi untuk perhutanan sosial. Alokasi terbesar (80.887,04 ha) terletak di Kutai Kartanegara, sedangkan yang terkecil (61,69 ha) terletak di Bontang. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar komunitas sasaran untuk perhutanan sosial adalah di Kutai Kartanegara dan Kabupaten Berau.
Izin perhutanan sosial dikeluarkan oleh KLHK berdasarkan rekomendasi (keputusan) dari kabupaten.
Oleh karena itu, kapasitas untuk menetapkan izin perhutanan sosial perlu diberdayakan (terutama di Kutai Kartanegara yang memiliki PIAPS terbesar). Hal ini dapat menciptakan tantangan / hambatan, karena kapasitas untuk lisensi perhutanan sosial terletak pada Balai Perhutanan Sosial & Kemitraan Lingkungan (BPSKL) Wilayah Kalimantan di Banjar Baru. Badan ini menargetkan 185.268 ha kawasan perhutanan sosial di Kalimantan Timur. Namun, badan ini hanya memiliki beberapa petugas untuk melakukan tujuan tersebut di seluruh Kalimantan. Hambatan kedua yang diprediksi dalam membangun hutan adat, di mana masyarakat adat perlu diakui oleh keputusan dari Bupati / Kabupaten. Sejauh ini, di Kalimantan Timur, hanya Paser dan Kutai Barat yang memiliki pengakuan resmi dalam bentuk peraturan daerah (keputusan). Dalam menghadapi situasi ini, lisensi perhutanan sosial akan difokuskan pada Hutan Desa, bukan Hutan Adat. Hutan Desa tidak memerlukan pengakuan formal terhadap kelompok adat, meskipun dalam praktiknya hutan desa dioperasikan oleh kelompok adat, masyarakat adat.
5.2.2 Kebakaran Hutan
Banyaknya kasus kebakaran hutan di Indonesia terutama disebabkan oleh faktor manusia. Kerentanan ekosistem hutan terhadap kebakaran menyebabkan kebakaran terjadi setiap tahun di Kalimantan Timur. Hal ini kadang diperparah oleh periode kekeringan yang berkepanjangan, seperti peristiwa El
Niño - Osilasi Selatan (ENSO) yang dapat menyebabkan kebakaran skala besar yang parah meliputi wilayah – wilayah tertentu. ENSO adalah peningkatan suhu permukaan laut di sekitar khatulistiwa Samudera Pasifik, terutama sekitar Chili dan Peru, yang diikuti oleh penurunan suhu permukaan air di beberapa wilayah perairan Indonesia. Dampaknya adalah terjadinya kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia.
Selain berdampak pada hutan, kebakaran menciptakan asap dan kabut yang mempengaruhi kesehatan masyarakat secara nasional dan regional. Hal ini telah menyebabkan signifikan atribusi negatif untuk Indonesia dari negara - negara tetangga dan secara global.
Di Kalimantan Timur, api diterapkan dalam praktik pertanian dan pastoralisme (api buatan manusia), sedangkan terjadinya kebakaran hutan alam (rezim api alami) merupakan unsur - unsur penting dalam proses ekosistem alami. Berdasarkan alasan di atas, kebakaran merupakan bagian dari sistem penggunaan lahan tradisional yang berkelanjutan dan produktif. Aplikasi api yang berlebihan karena perubahan penggunaan lahan yang cepat menyebabkan penghancuran produktivitas, daya dukung, keanekaragaman hayati dan tutupan vegetasi. Variabilitas iklim seperti kekeringan ekstrim periodik yang disebabkan oleh fenomena ENSO menambah parahnya dampak kebakaran (Global Forest Monitoring Center, 2000)28.
Kebakaran terjadi di seluruh zona penggunaan lahan administratif, dan berkaitan dengan beberapa faktor pemicu yang dijelaskan di atas, khususnya pembukaan lahan untuk tanaman perkebunan dan pertanian. Kebakaran terjadi setiap tahun di Kalimantan Timur, tetapi periode kekeringan yang berkepanjangan, seperti peristiwa ENSO, dapat menyebabkan kebakaran skala besar yang merusak wilayah tertentu. Faktor penyebab kebakaran itu kompleks dan tidak antropogenik secara eksklusif, penggunaan api untuk pembukaan lahan tampaknya menjadi penyebab utama terdekat. Api digunakan untuk pembukaan lahan skala besar, misalnya untuk perkebunan kayu pulp dan kelapa sawit, serta oleh petani untuk membersihkan lahan dan membakar limbah pertanian (Schweithelm, 1998, Boonyanuphap et al. 2001). Kawasan yang sebelumnya telah ditebang menjadi sangat rentan terhadap pembakaran, karena penebangan meninggalkan biomassa mati, yang berfungsi sebagai bahan bakar untuk pembakaran (Lennertz dan Panzer, 1983). Kebakaran gambut dihubungkan dengan pembukaan dan drainase area gambut untuk penanaman, termasuk untuk perkebunan kelapa sawit dan kayu.
Pada tahun 1982 hingga 1983, kebakaran menghancurkan sekitar 3,5 juta ha hutan di Kalimantan Timur. Pada tahun 1997 hingga 1998, setelah peristiwa El Nino yang berkepanjangan, kebakaran dilaporkan telah membakar sekitar 5 juta ha atau 25 persen hutan di provinsi tersebut. Yulianti et al (2012)29 menyatakan bahwa pada tahun 2004, Kalimantan Timur memiliki jumlah titik panas tertinggi (5.440 kebakaran) dibandingkan dengan provinsi lain di Kalimantan. Ditemukan bahwa kebakaran aktif di seluruh Kalimantan pada tahun 2002, 2004, 2006, dan 2009 terjadi ketika total tiga bulan curah hujan terkering (Agustus, September, dan Oktober) kurang dari 100 milimeter (Putra et al, 2011 dikutip di Yulianti et al., 2012).
Kebakaran hutan (dan kebakaran lahan) dianggap sebagai pemicu deforestasi dan dapat berkontribusi pada risiko pembalikan. Data seri waktu dari 2010 hingga 2017 menunjukkan tren peningkatan jumlah titik api (kejadian kebakaran) dari 2010 hingga 2015. Sebagian besar kebakaran terjadi pada tahun
28 http://gfmc.online/intro/About1.html
29 Yulianti, N., Hayasaka, H., Usup, A. 2012. Tren Kebakaran Hutan dan Gambut Terbaru di Indonesia. Dasawarsa Terbaru
2015, tetapi tahun - tahun berikutnya menunjukkan penurunan jumlah titik api yang signifikan. Data ini diringkas dalam Tabel 15.
Tabel 15 Data seri waktu kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Timur.
Wilayah
Jumlah Titik Panas
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 Hasil Akhir
Balikpapan 3 2 1 5 10 46 4 2 73
Berau 259 367 502 353 882 1633 214 190 4400
Bontang 20 6 9 6 18 53 15 4 131
Kutai Barat 151 298 557 459 1021 2469 86 68 5109
Kutai
Kartanegara 505 489 576 486 1302 3389 706 127 7580
Kutai Timur 459 412 483 410 898 2560 1050 131 6403
Mahakam Hulu 99 101 111 93 170 349 57 24 1004
Paser 68 376 302 148 845 2178 59 36 4012
Penajam Paser
Utara 11 117 65 21 119 612 27 4 976
Samarinda 6 7 2 5 5 26 14 2 67
Hasil Akhir 1581 2175 2608 1986 5270 13315 2232 588 29755 Berdasarkan tabel di atas, kita dapat melihat peningkatan jumlah titik panas pada tahun 2014 (5.270 titik panas) hingga 2015 (13.315 titik panas), yang disebabkan oleh fenomena ENSO yang memperpanjang musim kemarau dan mengurangi curah hujan. Jumlah titik panas akan seiring dengan peningkatan jumlah kebakaran lahan.
Berdasarkan tahun - tahun di mana data tutupan lahan tersedia, rata - rata luas hutan yang terbakar tahunan adalah 15.552 ha, dengan variasi substansial antar tahun. Dengan demikian pada tahun 2006, 2009, 2014 dan 2015 area hutan yang terbakar lebih besar dari 20.000 ha, sedangkan pada 2011, 2013, dan 2016 area tersebut kurang dari 5.000 ha. Sejalan dengan peningkatan jumlah titik panas, total lahan yang terbakar pada tahun 2014 dan 2015 jauh lebih tinggi dari tahun sebelum dan sesudahnya. Data terbakar tutupan lahan disusun dalam Tabel 16.
Tabel 16 Tutupan lahan terbakar di Kalimantan Timur periode 2006 - 2016 (ha)
Tutupan Lahan 2006 2009 2011 2012 2013 2014 2015 2016
Hutan Primer 403 562 113 326 197 1,041 775 13
Hutan Sekunder 26.059 21.188 8.322 12.046 8.445 21.914 19.207 3.808 Hutan Tanaman 2.719 2.970 2.110 1.473 1.691 5.198 5.209 1.985 Perkebunan 7.142 8.195 1.487 1.592 2.069 14.181 14.548 2.669 Tanah pertanian 8.813 13.195 5.663 6.205 1.258 4.562 4.528 2.048 Semak belukar 57.707 43.800 12.112 18.673 17.575 37.131 35.608 8.219 Sabana & Tanah
Kosong
4.971 4.826 1.302 2.466 1.591 3.488 7.643 4.560
Jumlah 107.814 94.736 31.108 42.781 32.826 87.515 87.519 23.301
5.3 DASAR SOSIAL
5.3.1 Demografi, Mata Pencaharian dan Keanekaragaman Sosial Budaya
5.3.1.1 Demografi
Kalimantan Timur memiliki populasi sekitar 3,5 juta (2016) yang termasuk kelompok etnis seperti Dayak dan Kutai asli, serta Jawa, Cina, Banjar, Bugis, dan keturunan Melayu (Tabel 17). Bugis dan Melayu, yang sebagian besar Muslim, mendominasi bagian selatan dan sebagian besar wilayah pesisir provinsi;
bagian utara dan barat laut adalah rumah bagi minoritas Kristen dan masyarakat adat. Masyarakat di daerah terpencil sering mempraktikkan gaya hidup tradisional atau adat, yang diatur oleh hukum adat.
Mayoritas orang di daerah pedesaan mempraktikkan peladangan.
Kepadatan populasi di Kalimantan Timur adalah 27,13 orang / km2, dan sekitar 6,11% dari populasi Kalimantan Timur dikategorikan miskin pada tahun 2016. Distribusi kemiskinan condong ke daerah pedesaan, di mana 10,1% dari populasi diklasifikasikan sebagai miskin, dibandingkan dengan 4% dari populasi perkotaan.
Tabel 17 Kelompok etnis di Kalimantan Timur pada 2010.
Suku Populasi (2010)30 Persentase (2010)
Jawa 1.069.605 30,24
Bugis 735.819 20,81
Banjar 440.453 12,45
Dayak 351.437 9,94
Kutai 275.696 7,80
Toraja 78.251 2,21
Paser 67.015 1,89
Sunda 55.659 1,57
Madura 46.823 1,32
Buton 44.193 1,25
Lainnya 371.552 10,51
Total 3.536.503 100,00
Sumber: http://bps.kaltim.go.id (2010).
Kalimantan Timur memiliki pusat - pusat perdagangan distribusi, serta kantor - kantor pemerintah. Ini telah menarik imigran dari pulau - pulau lain di Indonesia dan dari luar Indonesia. Beberapa imigran menetap dan tinggal di daerah pesisir Kalimantan Timur dan di sepanjang sungai - sungai utamanya.
Imigran etnis yang dominan di Provinsi Kalimantan Timur adalah Jawa, Bugis dan Banjar. Daerah
30Aris Ananta, Evi Nurvidya Arifin, M. Sairi Hasbullah, Nur Budi Handayani, dan Agus Pramono. 2015. Demografi Etnis Indonesia.
Institut Studi Asia Tenggara dan BPS - Statistik Indonesia
dataran tinggi Kalimantan Timur kaya akan sumber daya alam hutan, yang telah lama menjadi sumber mata pencaharian bagi kelompok etnis asli. Kelompok etnis yang dominan adalah Dayak dan Kutai.
Kelompok Dayak secara tradisional merupakan peladang berpindah atau masyarakat berburu yang diperintah oleh lembaga adat. Budidaya peladangan terjadi terutama di hutan sekunder dengan sejarah panjang penggunaan lahan, oleh karena itu metode pertanian ini relatif berkelanjutan. Selama berabad - abad, masyarakat Dayak telah terlibat dalam sistem kompleks pengelolaan hutan lestari, menggunakan pengetahuan tradisional untuk mengolah sejumlah besar sumber daya di lahan yang relatif kecil (Crevello, 2003; 2004).
Sistem penanaman dan siklus rotasi pada petak lahan bervariasi per kelompok. Bagi banyak masyarakat Dayak - misalnya Benuaq - perburuan di hutan alam adalah sumber mata pencaharian utama. Kelompok lain seperti Kenyah memiliki tradisi panjang dalam menanam talas dan padi tanpa irigasi di daerah rawa. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, banyak masyarakat Dayak telah mengadopsi metode pertanian lain dan telah pindah ke pemukiman yang lebih permanen, karena perubahan demografis sebagai akibat dari program pemerintah sebelumnya, mobilitas penduduk dan pertumbuhan. Perubahan ireversibel yang disebabkan oleh industri pertambangan dan penebangan meninggalkan tanda permanen pada tradisi Dayak. Selain itu, konversi hutan yang cepat menjadi perkebunan karet dan kelapa sawit yang besar telah membuat praktik pertanian tradisional tidak mungkin dilakukan di banyak daerah.
Saat ini, umaq (beras non - irigasi) masih ditanam oleh beberapa komunitas Dayak, sementara perburuan dan pengumpulan hasil hutan non - kayu (NTFP) - yaitu madu, lilin, kacang - kacangan dan sarang burung - juga bertahan (worldagroforestry, 2004). Selain itu, simpukng (kebun hutan adat) masih penting dalam sistem pertanian tradisional, meskipun industri pertambangan dan penebangan mengancam keberadaan mereka. Simpukng adalah hutan sekunder yang dikelola secara kolektif di mana masyarakat Dayak menanam buah - buahan, rotan, bambu dan kayu. Baik dimiliki oleh keluarga atau dimiliki secara komunal oleh komunitas yang lebih besar. Penggunaan hutan ini tunduk pada aturan adat. Aturan - aturan ini mengatur pembagian kerja berdasarkan gender dan juga berfungsi untuk mencegah eksploitasi hutan yang berlebihan (Mulyoutami et al, 2009).
Data dari Biro Statistik menunjukkan bahwa populasi Provinsi Kalimantan Timur tumbuh dari 3.275.844 orang pada tahun 2013 menjadi 3.575.449 pada tahun 2017, atau sebesar 2,3% per tahun. Statistik juga menunjukkan bahwa jumlah orang miskin meningkat dari 193.710 orang pada 2013 menjadi 220.170 orang pada 2017. Namun, dibandingkan dengan total populasi Provinsi Kalimantan Timur, persentase orang miskin tetap relatif sama (5,9% pada 2013 menjadi 6,1% di 2017).
5.3.1.2 Mata Pencaharian
Berdasarkan kontribusi sektor ekonomi terhadap produk domestik bruto (makro - ekonomi), struktur ekonomi Provinsi Kalimantan Timur terdiri dari: 31
Penambangan dan Penggalian (44,91%);
Industri dan Pengolahan (20,72%);
Lainnya (13,43%);
31 Berdasarkan statistik Provinsi Kalimantan Timur 2015, diuraikan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2013 - 2018.
Konstruksi (8,26%);
Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (7,62%); dan
Grosir, eceran, perbaikan mobil dan motor (5,06%).
Struktur ini menunjukkan bahwa sektor pertambangan dan penggalian merupakan kontribusi dominan terhadap perekonomian Provinsi Kalimantan Timur, sementara pertanian, kehutanan, dan perikanan hanya menyumbang 7,62%. Penambangan diidentifikasi sebagai pemicu deforestasi di Kalimantan Timur, namun merupakan sektor ekonomi yang signifikan bagi perekonomian provinsi. Oleh karena itu, konteks penambangan sebagai pemicu deforestasi perlu dieksplorasi untuk intervensi lebih lanjut dalam ERP. Pencabutan izin operasi penambangan aktif akan mengakibatkan penghentian produktivitas penambangan yang mempengaruhi ekonomi makro Kalimantan Timur. Masyarakat lokal mungkin terlibat dalam posisi entry level (misalnya, pembantu rumah tangga, tukang kebun, dan pembantu umum) dalam operasi penambangan, sehingga ada potensi hilangnya mata pencaharian masyarakat lokal yang terlibat dalam industri ini (misalnya, karyawan, vendor, dan kontraktor pihak ketiga). Setelah penghentian operasi penambangan karena pencabutan izin, rencana penutupan tambang (dirumuskan oleh perusahaan pertambangan) akan digunakan sebagai pedoman dalam menangani risiko lingkungan dan sosial.
Pada tingkat ekonomi mikro, diasumsikan bahwa sebagian besar penduduk desa terlibat dengan sektor pertanian. Kecuali untuk pertanian subsisten, pertanian seringkali digabungkan dengan kebutuhan ekspansi. Oleh karena itu, pertanian dipandang sebagai salah satu pemicu deforestasi dalam ERP.
Signifikansi ekonomi dari pertanian ditunjukkan oleh Nilai Tukar Petani32 yang mencerminkan kekuatan ekonomi penduduk desa (yaitu, petani). Nilai Tukar Petani disusun dalam Tabel 18.
Tabel 18 Nilai Tukar Petani dalam sub - sektor pertanian 33.
Komoditas
Ketentuan Perdagangan /Nilai
Tukar Petani Perubahan
2014 2015
Tanaman Pangan 96,41 95,29 -1,12
Hortikultura 96,65 93,28 -3,37
Perkebunan milik masyarakat 102,24 102,99 0,75
Ternak 104,02 102,79 -1,23
Perikanan 101,46 98,38 -3,07
Ketentuan Perdagangan Kumulatif 99,93 98,61 -1,32
Tabel ini menunjukkan tren penurunan Ketentuan Perdagangan petani. Tanaman pangan dan hortikultura menunjukkan nilai kurang dari 100, yang menunjukkan defisit pendapatan petani sehubungan dengan komoditas ini. Mengimbangi defisit dapat mencakup perubahan dari komoditas tanaman pangan dan hortikultura menjadi perkebunan, peternakan dan perikanan. Meskipun tidak ada jaminan bahwa eksploitasi pertanian lebih lanjut dapat mengatasi defisit ini, ada risiko ekspansi lahan pertanian yang dapat dilakukan oleh para petani ini. Atau, petani mungkin perlu mengoptimalkan
32Untuk Ketentuan Perdagangan, 100 dianggap sebagai titik impas. Nilai di bawah 100 menunjukkan defisit dalam kapasitas ekonomi petani.
pendapatan melalui strategi intensifikasi pertanian, atau dari mengoptimalkan sub - sektor kehutanan.
Oleh karena itu, peningkatan ketergantungan pada sektor kehutanan (produk kayu dan non - kayu) perlu diantisipasi.
Ketahanan pangan adalah salah satu target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Provinsi Kalimantan Timur (RPJMD) 2013 - 2018. Prestasi pada ketahanan pangan disajikan di Tabel 19.
Tabel 19 Target dan pencapaian untuk ketahanan pangan di Provinsi Kalimantan Timur.
Target Target Tahunan
Pencapaian (rata-rata tahunan
2012–2016)
% dari Pencapaian
Target Rasio pemenuhan makanan
(beras)
72% 54% 75%
Produksi Beras 438.135 ton 421.359 ton 96%
Ketersedian pangan di seluruh daerah
82,41% 79,26% 96%
Produktivitas komoditas pertanian
utama 4.06 ton/ha 4.43 ton/ha 109%
Jumlah fasilitator pertanian 877 823 94%
Jumlah fasilitator perikanan 67 104 155%
Pencapaian Keseluruhan 104%
Tabel ini menunjukkan pencapaian keseluruhan lebih dari 100% pada target pembangunan provinsi yang relevan dengan ketahanan pangan. Ini menunjukkan bahwa, terlepas dari rendahnya perdagangan komoditas tanaman pangan dan hortikultura, Provinsi Kalimantan Timur memiliki ketahanan pangan yang kuat. Produktivitas komoditas pertanian utama menunjukkan bahwa kekuatan ketahanan pangan bergantung pada aspek pertanian ini. Akses ke bantuan teknis (disediakan oleh fasilitator pertanian) tampaknya cukup di 94% dari 877 fasilitator yang ditargetkan. Data ini hanya menunjukkan statistik para fasilitator, dan tidak mencerminkan cakupan geografis. Fasilitator mungkin terbatas (atau tidak tersedia) di daerah terpencil. Di Kalimantan Timur, ketahanan pangan mungkin masih terkait dengan praktik peladangan. Karena fluktuasi yang tinggi dari harga pasar tanaman tahunan dan harga karbon, REDD+ harus memasukkan peladangan dan praktik mata pencaharian tradisional (seperti berburu, menangkap ikan, pengumpulan NTFP, dll.) dalam strategi pembangunan keseluruhan untuk memastikan pendapatan subsisten dari berbagai sumber, serta ketahanan pangan jangka panjang34, REDD+ mungkin menawarkan lahan pertanian baru sebagai bagian dari mekanisme manfaat bersama, tetapi rumah tangga miskin mungkin tidak memiliki cukup modal untuk berpartisipasi, dan masih akan dipaksa untuk mengumpulkan produk hutan untuk keperluan subsisten35.
Aspek lain yang relevan dengan mata pencaharian adalah akses ke pasar dan akses ke bantuan keuangan atau perbankan. Akses ke pasar bergantung pada sektor transportasi untuk memastikan bahwa produk dapat dikirimkan dengan cara yang efisien biaya, dan nilai dalam rantai pasar didistribusikan secara proporsional. Pada 2015 rasio jalan ke daerah adalah 111,72 km jalan / 1000
34 Loaiza, T.; Nehren, U.; Gerold, G. 2015. REDD+ dan insentif: Analisa peningkatan pendapatan di masyarakat yang bergantung pada hutan di Cagar Biosfer Yasuní, Ekuador. Appl. Geogr. 62, 225–236
35 Bayrak & Marafa (2016). Sepuluh Tahun REDD+: Tinjauan Kritis Dampak REDD+ pada Komunitas yang Bergantung pada Hutan. Lestari, 8, 620.
km2. Ini di bawah standar nasional jalan 115 km / 1000 km2. Kondisi ini ditunjukkan oleh fakta bahwa 15 kecamatan di Provinsi Kalimantan Timur belum terjangkau oleh infrastruktur jalan yang memadai (hanya 56,73% jalan dalam kondisi baik). Implikasinya adalah tingginya biaya logistik untuk mengangkut barang ke dan dari kecamatan - kecamatan tersebut yang merupakan kondisi yang menyebabkan harga barang dari kecamatan - kecamatan ini relatif lebih mahal dibandingkan dengan daerah lain. Oleh karena itu, ada risiko penurunan Ketentuan Perdagangan di area ini. Meskipun dalam beberapa kasus (mis, Kabupaten Mahakam Ulu) pembatasan akses dapat dikaitkan dengan konservasi / perlindungan hutan, masalah ini terutama dikaitkan dengan kondisi dan ketersediaan akses (jalan, transportasi sungai, dll).
Jumlah lembaga keuangan (bank) meningkat dari 386 pada 2010 menjadi 666 pada 2015 (14%
meningkat setiap tahun). Komposisi lembaga keuangan di Kalimantan Timur terutama terdiri dari bank pemerintah (252), diikuti oleh bank swasta (213) dan bank provinsi (141). Sisanya adalah bank asing (10). Masalah yang relevan dengan ERP dapat mencakup kurangnya kredibilitas dan / atau jaminan penduduk desa / masyarakat adat untuk mengajukan permohonan bantuan keuangan, dan kurangnya perwakilan bank di daerah terpencil. Masalah yang berkaitan dengan mata pencaharian dan ERP dirangkum dalam Tabel 20.
Tabel 20 Ringkasan masalah mata pencaharian yang relevan dengan ERP.
Sumber Mata Pencaharian
Ringkasan Masalah Relevansi dengan ERP Potensi Risiko Penghasilan dari
pemanenan kayu
Sebagian besar keuntungan untuk pemegang lisensi / perusahaan swasta
Perlunya meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam mengelola kawasan hutan (mis, Hutan
kemasyarakatan)
Kurangnya kapasitas untuk praktik manajemen terbaik (mis, HCV, PHPL, RIL) di antara komunitas lokal dan pemegang lisensi
HHBK Belum dioptimalkan
sebagai mekanisme penghasil
pendapatan
Sumber potensial mata pencaharian alternatif
Biaya produksi dan transportasi mungkin lebih tinggi di daerah terpencil.
Ini akan menciptakan kerugian kompetitif di pasar
Pertanian Kapasitas ekonomi yang menurun di kalangan petani (Nilai Tukar Petani yang rendah)
Intensifikasi pertanian dan peningkatan akuakultur untuk mendukung kapasitas ekonomi
Biaya produksi dan transportasi mungkin lebih tinggi di daerah terpencil.
Ini akan menciptakan kerugian kompetitif di pasar
Kurangnya kapasitas untuk memastikan praktik terbaik (mis. praktik ramah lingkungan) Akses dukungan
keuangan
Kurangnya kredibilitas atau agunan untuk memenuhi syarat pinjaman dari bank
Perbankan hijau dan mekanisme pembagian manfaat yang memastikan penerimaan dukungan keuangan di komunitas lokal / oleh masyarakat adat yang berpartisipasi dalam ERP
Perencanaan bisnis yang tidak akurat yang menyebabkan kerugian bagi usaha komunitas Kendala dan
keterlambatan pembayaran pinjaman (angsuran)
5.3.2 Komunitas Hutan dan Lokal
Lahan yang digunakan oleh pemukiman adat dan pedesaan adalah tumpang tindih antara penggunaan saat ini dengan peruntukan kawasan hutan dan konservasi (mis, beberapa penggunaan lahan adat dan pedesaan masih terjadi di luar wilayah ini). Tanah yang digunakan oleh pemukiman adat dan pedesaan di Kalimantan Timur dapat dikategorikan secara kualitatif36 sebagai berikut:
Area pemukiman untuk area perumahan;
Pertanian / Budidaya yang biasanya melibatkan peladangan;
Area cadangan termasuk hutan adat, tanah desa, kuburan, tanah gereja dan cadangan kayu;
dan
Kawasan konservasi seperti hutan adat dan hutan primer.
Pertumbuhan populasi agregat tahunan pedesaan dan perkotaan yang ditunjukkan dalam laporan ini (2,3% per tahun) menunjukkan bahwa pertumbuhannya kecil dan tidak akan berdampak besar pada hutan dan sumber daya alam. Namun, pertanian subsisten yang dilakukan oleh masyarakat pedesaan masih dianggap sebagai mata pencaharian paling aman dan berkelanjutan37; jadi pertanian subsisten / pertanian dapat berkontribusi terhadap deforestasi dan degradasi hutan (6% area gundul dari 2006 hingga 2015). Oleh karena itu, pertanian subsisten (bukan pertumbuhan populasi) perlu dipertimbangkan sebagai pemicu deforestasi yang perlu ditangani dalam ERP.
pertambangan dan ekstraktif adalah pemicu ekonomi utama (kontributor utama bagi perekonomian provinsi). Akibatnya, risiko deforestasi dapat dikaitkan dengan industri ini. Selain itu, konflik dapat dipicu oleh sektor pertambangan, serta oleh sektor kehutanan dan perkebunan (terutama perkebunan kelapa sawit).
Program Karbon Hutan Berau menunjukkan bahwa mempromosikan keamanan penguasaan hutan dapat membantu memperkuat pengelolaan kawasan hutan. Ini dapat dicapai dengan melakukan penyelesaian konflik, membangun kawasan lindung masyarakat, memperkuat mekanisme manajemen kolaboratif, dan membantu memantau operasi konsesi kehutanan / perkebunan. Keamanan penguasaan hutan memperkuat hak - hak masyarakat adat dan memungkinkan mereka untuk mempraktikkan kearifan lokal mereka untuk mengelola tanah. Hal tersebut berpotensi mencegah perampasan tanah oleh orang luar.
5.3.3 Konflik dan Sengketa Penguasaan Tanah dan Sumber Daya Alam
5.3.3.1 Rencana Spasial Tata Ruang Kalimantan Timur
ERP menargetkan emisi berbasis lahan dari perhutanan dan perkebunan di Provinsi Kalimantan Timur.
Konsekuensinya, ERP akan menangani masalah penguasaan lahan dalam Komponen 1, 3, 4, dan 5.
Referensi utama untuk penguasaan lahan adalah rencana tata ruang provinsi yang diresmikan dalam
36 Samsoedin, Wijaya & Sukiman (2010). Konsep Lansekap dan Pengelolaan Lahan Suku Dayak Kenyah di Kalimantan Timur Jurnal Analisa Kebijakan Kehutanan Vol. 7 No. 2, Agustus 2010: 145 - 168.
37 Sponsel, L.E.; Headland, T.N.; Bailey, R.C. Perspektif antropologis tentang penyebab, konsekuensi dan solusi dari deforestasi. Dalam Deforestasi Tropis: Dimensi Manusia; Sponsel, L.E., Headland, T.N., Bailey, R.C., Eds.; Columbia University Press: New York, NY, USA