BAB I PENDAHULUAN
A. Motorik Halus
3. Perkembangan Motorik Halus
Perkembangan motorik anak mempunyai pola perkembangan yang sama. Hukum cephalocaudal mengatakan bahwa perkembangan terjadi dari kepala lalu menyebar ke semuabagian tubuh sampai kaki. Sementara itu hukum proximodistal mengatakan bahwa perkembangan gerak dari pusat sumbu ke ujungnya, atau dari bagian yang dekat sumbu pusat tubuh menuju bagian yang lebih jauh.15 Dengan demikian perkembangan fisik motorik anak dapat diramalkan, apakah normal atau mengalami hambatan. Meskipun mengikuti pola yang sama, akan tetapi ada perbedaan laju perkembangan antara anak satu dengan anak yang lainnya. Oleh karena itu, ada dua individu yang sama persis, baik dalam pertumbuhan fisik maupun perkembangan motoriknya.
Perkembangan motorik bergantung pada kematangan otot- otot dan syaraf. Oleh karena itu, anak akan sulit menjunjukkan sesuatu keterampilan motorik bila yang bersangkutan belum mengalami kematangan. Terdapat berbagai cara anak belajar keterampilan motorik, yaitu trial and error, meniru dan
15Ahmad Susanto, Pendidikan Anak Usia Dini, (kosep dan Teori), (Jakarta:
Bumi Aksara, 2017), hlm. 13
pelatihan yang memberikan hasil yang berbeda. Oleh karena itu, diperlukan perhatian yang sangat besar terhadap metode atau cara yang di gunakan anak untuk belajar keterampilan motorik.16
Perkembangan fisik merupakan hal yang menjadi dasar bagi kemajuan perkembangan berikutnya. Ketika fisik berkembang dengan baik memungkinkan anak untuk dapat lebih mengembangkan keterampilan fisiknya, dan eksplorasi lingkungannya dengan tanpa bantuan dari orang lain.
Perkembangan fisik anak ditandai dengan perkembangan motorik.17
1) Tahapan Perkembangan Motorik Halus Anak Usia Dini Pada permendikbud nomor 137 tahun 2014 di jabarkan tentang tingkat pencapaian perkembangan anak.
Standar tingkat pencapaian motorik halus anak usia dini terdapat pada tabel berikut.18
16Ismi Hanif Ullinuha, “Upaya Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Kolase Pada Anak Kelompok A di RA Masjid Al-Azhar Permata Puri Semarang Tahun Ajaran 2018/2019, (Skripsi, FTK UINW, Semarang, 2019), hlm. 6-7.
17Ahmad susanto, Perkembangan..., hlm 33-34.
18Aghnaita, “Perkembangan Fisik Motorik Anak 4-5 Tahun Pada Permendikbud no 137 Tahun 2014 (Kajian Konsep Perkembangan Anak)”, Pedidikan Anak. Vol. 3 Nomor. 2, Desember 2017, hlm. 219-234.
Tabel 2.1
5-6 Tahun 1. Menggambar sesuai gagasan 2. Meniru objek
3. Melakukan eksplorasi dengan berbagai media dan kegiatan
4. Menggunakan alat tulis dan alat makan dengan benar 5. Menggunting sesuai dengan pola
6. Menempel gambar denga tepat mengekspresikan diri melalui gerakan menggambar secara rinci
2) Fungsi Motorik Halus
Motorik halus memiliki fungsi sebagai alat untuk mengembangkan keterampilan gerak kedua tangan, melatih koordinasi kecepatan tangan dan gerakan mata dan yang terakhir untuk melatih penguasaan emosi.
Berdasarkan defini dari beberapa ahli tentang motorik halus, tujuan motorik halus adalah untuk membantu mengembangkan aspek perkembangan anak, diantaranya aspek perkembangan kognitif, aspek perkembangan bahasa, aspek perkembangan sosial. Pada hakikatnya seluruh perkembangan harus saling terkait atau dengan kata lain tidak bisa dipisahkan. Kegiatan yang biasanya melibatkan terjadinya motorik halus seperti meremas, menggambar, melukis, menulis dan lain-lain.19
19Novan Ardy Wiyani, Konsep..., hlm. 112.
3) Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Motorik Anak
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan motorik individu antara lain:20
a) Perkembangan Sistem Saraf
Sistem saraf sangat berpengaruh dalam perkembangan motorik karena sistem saraflah yang mengontrol aktivitas motorik pada tubuh manusia.
b) Kondisi Fisik
Karena perkembangan motorik sangat erat kaitannya dengan fisik tensu saja sangat berpengaruh pada perkembangan motorik seseorang.
c) Motivasi yang Kuat
Seseorang yang punya motivasi yang kuat untuk menguasai keterampilan motorik tertentu biasanya telah punya mosal besar untuk meraih prestasi.
d) Lingkungan yang Kondusif
Perkembangan motorik seorang individu kemungkinan besar berjalan optimal jika lingkungan
20 Heri Rahyubi, Teori-teori Belajar dan Aplikasi Pembelajaran Motorik, (Bandung: Nusa Media, 2016), hlm. 225.
tempat tinggalnya beraktivitas mendukung dan kondusif
e) Aspek Psikologi
Hanya seseorang yang kondisi psikologisnya baiklah yang mampu meraih keterampilan motorik yang baik pula.
f) Usia
Usia sangat berpengaruh pada aktivitas motorik seseorang.
g) Jenis Kelamin
Laki-laki tentu lebih cepat, terampil dan cepat daripada perempuan. Contohnya dalam hal olahraga sepak bola, volley, tinju, karate, tenis dan lain-lain.
h) Bakat dan potensi
Anak akan dengan mudah diarahkan pada suatu keterampilan jika anak tersebut memiliki bakat dan potensi dalam hal tersebut.21
4) Tujuan Perkembangan Motorik Halus
Menurut Piaget, masa kanak-kanak akhir berbeda dalam tahap operasi konkret dalam berfikir(usia 7-12
21Ibid hlm. 227
tahun), dimana konsep awal masa kanak-kanak merupakan konsep yang samar dan tidak jelas. Anak menggunakan operasi mental untuk memecahkan masalah yang aktual.
Anak mampu menggunakan kemampuan mentalnya untuk memecahkan masalah yang bersifat konkret.22
B.Kolase
1. Pengertian Kolase
Kata kolase, yang dalam bahasa inggris “collage” berasal dari kata “coller” dalam bahasa prancis, yang berarti “merekat”
selanjutnya kolase dipahami sebagai sebuah teknik seni menempel berbagai macam materi selain cas, seperti kertas, kain kaca, logam dan sebagainya. Atau di kombinasikan dengan menggunakan cat atau teknik lainnya.23 Kolase adalah karya aplikasi yang dibuat dengan menggabungkan tekhnik melukis (lukisan tangan) dengan menempel bahan-bahan tertentu.24
Kegiatan kolase merupakan jenis karya yang memiliki nilai dan seni. Dalam karya kolase juga terdapat unsur seni lukis.
22 Bambang Sujiono, dkk, Modul Metode Pengembangan Fisik, (Universitas Terbuka PGTK), 1.11.
23Syakir M, Sri V. R, Kreasi kolase, Montaze, Mozaik Sederhana, (Jakarta:
Erlangga, 2013) hlm. 8.
24Pratya Puspita Dewi, “Peningkatan Kreativitas Melalui Kegiatan Kolase Pada Anak Usia Kelompok B2 di TK ABA Keringan Kacamatan Turi Kabupaten Kabupaten Sleman, (Skripsi, FIP UNY, Yogyakarta, 2014), hlm. 27.
Kegiatan kolase digemari oleh anak usia dini karena mampu memberikan kesan dua dimensi. Harapannya hasil dari kegiatan tersebut dapat mengembangkan motorik halus anak sesuai harapan.25