• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peta GIS Kampung Karangan, 2019

Dalam dokumen BAHUGA dalam tradisi Lampung (Halaman 146-154)

Etnografi Mesir Ilir Marga Buay Bahuga

Peta 7. Peta GIS Kampung Karangan, 2019

yang jelas kita sama Pak Ratu Pesirah karena ini yang menurun Pak Ratu Pesirah. Berarti Minak Tuala ini pamannya Mika Tuan. Bukan Mangku Bumi yang itu, Mangku Bumi yang ini. Kalau yang itu yang tadi Mangku Bumi pertama diatas sini lagi tidak ada potonya itu. Nah Gatut Kaca itu yang saya kurang jelas karena kemaren Gatut Kaca ini ini ada yang menurunkan Pak Ratu Sirah. Kan Gatut Kaca Lampung menjuraikan menurunkon sang datuk keramatnya di Nganga Pisang jadi keramat Minak Tuala. Jadi Nganga Pisang itu terdapat adalah tiga keramat itu yang pasti….”

G. Kampung Tua Karangan

Peta 7. Peta GIS Kampung Karangan, 2019

Gambar 34. Kampung Karangan, dari Foto Drone atas, 2019

Kampung Karangan salah satu Marga Buay Bahuga, sebagaimana diceritakan sebelumnya, ada dugaan bahwa merupakan keturunan dari Ryamayu, khususnya Karangan Tengah, meskipun masih belum diketahui kebenarannya. Namun, cerita yang diyakini masyarakat adalah sebagaimana narasi berikut ini.

Kampung Karangan dikisahkan nenek moyang (ancestor) pertama berasal dari Irak bernama Radin5 Jambat. Radin Jambat, dari Irak ke Bengkulu. Saat ini sampai ke anak Pak Rasib adalah keturunan yang ke 13. Saat terjadi perang di Bengkulu, bertemu dengan Raja Banten yang memliki 2 orang anak laki – laki yang bernama Raden dan Radin. Setelah perang bertemu dengan Belanda dan akan membuat perjanjian, namun Belanda tidak mau membuat perjanjian lalu di lempar dengan meriam. Saat tu Radin Jambat marah dan melemparkan api neraka terjadilah letusan gunung

5 Radin bukan Raden; Raden sebutan berasal dari Banten

Krakatau yang pertama. Kampung Karangan ini dulu tempat perlintasan antara kerajaan Banten dan Sriwijaya.

Moyang yang ada di Karangan bernama Umpu Nebi . Hubungannya dengan Radin Jambat sama – sama moyang, hanya saja Radin jambat tidak melalui Rahim, sedangkan Umpu Nebi melalui Rahim. Moyang menjelma dan ganti nama, di kampung ini menjelma menjadi Umpu Putra Lima. Suatu saat pernah ada anak kecil kurus korengan tidak dikenal masuk ke kampung, dia minta makanan, padi dan lain-lain. Dikatakan bahwa dia adalah anak dari Umpu Nebi yaitu Jumpang Keling. Pada hari jumat anak itu dikelilingin oleh harimau dan menangis berhari –hari, setelah ditanya ternyata dia adalah Umpu Putra Lima dikarenakan sudah 5 kali turun dan berganti nama. Tidak diketahui siapa nama orang tuanya tidak ada yang tau, tapi setelah diteliti dia adalah keturunan dari Radin Jambat. Kemudian dia sering dipakai ketika perang melawan Belanda. Umpu Putra Lima akan di gawikan daam adat di atas pepadun, namun dia tidak mau. Ketika di atas pepaun, dia terbang dan menghilang. Karena selama ini tidak pernah begawi, maka begawi terakhir 2018 ketika anak pak Rasib menikah.

Moyang disini sudah lima kali menjelma, pertama Radin jambat sampai terakhir Umpu Putra Lima (jelmaan 1 orang). Silsilah keturunan Umpu Nebi:

Umpu Nebi Jumpang Keling

Radin Junjang Jimat Batin Radin Junjom Lanang tunggal

Radin Junjom Sutan Lanang Ratu

Krakatau yang pertama. Kampung Karangan ini dulu tempat perlintasan antara kerajaan Banten dan Sriwijaya.

Moyang yang ada di Karangan bernama Umpu Nebi . Hubungannya dengan Radin Jambat sama – sama moyang, hanya saja Radin jambat tidak melalui Rahim, sedangkan Umpu Nebi melalui Rahim. Moyang menjelma dan ganti nama, di kampung ini menjelma menjadi Umpu Putra Lima. Suatu saat pernah ada anak kecil kurus korengan tidak dikenal masuk ke kampung, dia minta makanan, padi dan lain-lain. Dikatakan bahwa dia adalah anak dari Umpu Nebi yaitu Jumpang Keling. Pada hari jumat anak itu dikelilingin oleh harimau dan menangis berhari –hari, setelah ditanya ternyata dia adalah Umpu Putra Lima dikarenakan sudah 5 kali turun dan berganti nama. Tidak diketahui siapa nama orang tuanya tidak ada yang tau, tapi setelah diteliti dia adalah keturunan dari Radin Jambat. Kemudian dia sering dipakai ketika perang melawan Belanda. Umpu Putra Lima akan di gawikan daam adat di atas pepadun, namun dia tidak mau. Ketika di atas pepaun, dia terbang dan menghilang. Karena selama ini tidak pernah begawi, maka begawi terakhir 2018 ketika anak pak Rasib menikah.

Moyang disini sudah lima kali menjelma, pertama Radin jambat sampai terakhir Umpu Putra Lima (jelmaan 1 orang). Silsilah keturunan Umpu Nebi:

Umpu Nebi Jumpang Keling

Radin Junjang Jimat Batin Radin Junjom Lanang tunggal

Radin Junjom Sutan Lanang Ratu

Keramat Umpu Nebi dan Umpu Putra Lima ada di Kampung Karangan, begitupun dengan tempat Pepadun Umpu Putra Lima ada juga di Kampung Karangan. Nama karangan bermula dari peristiwa perang dengan Belanda, yang dulu lokasi kampung Kampung Karangan berada di Buluh sementara disini (kampung karangan sekarang) adalah tempat bekarang (tempat mencari ikan).

Kampungnya di Buluh, pengkalan (tempat mencari ikannya di sini / lokasi Karangan sekarang). Oleh sebab itulah kampung ini disebut Karangan, dan akhirnya pindah ke kampung sekarang. “Buluh itu nama sungai kecil, sekarang berubah menjadi desa Sukadana dalam kecamatan Buay Bahuga”.

Marga Buay Bahuga di kampung Karangan sudah ada sejak Belanda yang ikut dengan Kerajaan yang ada di Bumi Agung (yang rumah tuanya “Benawa”sudah ditinggalkan.). Dari 5 kampung tua adat Marga Buay Bahuga, Karangan adalah Kampung yang terpisah sendiri dari kecamatan Bahuga, karena masuk di kecamatan Bumi Agung secara administrative. Bukti bahwa Radin jambat berasal dari Kampung Karangan adalah tersimpanya barang tua beruapa meriam, keris di kampung ini. Dokumen sejarah kampung karangan sebenarnya ada, namun karena takut terbongkar rasia di dalamnya maka dibakar karena bertentangan dengan agama Islam.

Rumah yang sudah begawi di kampung Karangan diberi nama, salah satunya adalah Agung Keratun, penyimbang yang paling tinggi di kampung ini memiliki penyimbang tiuh. Semua orang yang mampu bisa menjadi penyimbang tiuh dan begawi dengan syarat untuk menjadi penyimbang tiuh dan begawi adalah harus mendahulukan anak tertua laki – laki, setelah itu baru adiknya. Gelar penyimbang diberikan oleh raja (penyimbang marga). Nilai penumpukan / Injak penyimbang tiuh berjumlah 12 (penyimbang marga 24).

Sebenarnya penyimbang Marga saat ini sudah banyak misalnya di Simpang Empat, Baradatu, dan Giham, namun yang beradsarkan keturunan / darah hanya satu (Putting). Penyimbnag marga yang bukan berdasarkan darah, kekuasaannya terbatas. Misalnya Gedung (Mesir Udik) merupakan penyimbang Marga, namun karena Gedung

tidak memiliki anak laki – laki maka Benawa yang menjadi tetidak inti walaupun mereka lebih tua. Sampai sekarang Benawa yang memegang tahta kerajaan. Seharusnya Gedung itu melakukan Mancor Jaman lagi, tapi anak keturunannya tidak mau pulang kampung lagi. Sementara di Benawa terus Mancor Jaman ke keturunannya.

8 Marga yang ada, pusat adatnyanya berada di Marga Buay Bahuga karena berdasarkan garis keturunan dan darah. Kampung Karangan tidak ada ikatan darah dengan 4 kampung tua di Marga Buay Bahuga, namun karena unsur pengakuan dan kesepakatan.

Meskipun ada yang mengaitkan dengan Ryamayu dan berbagai klaim-klaim yang diceritakan sebelumnya namun hal itu tidak diketahui oleh sebagian besar masyarakat di Kampung Karangan dan belum bisa dibuktikan secara ilmiah kebenarannya. Menurut kepercayaan mereka Kampung Karangan berasal dari:

1. Kampung Sena: letaknya berada di dekat Kecamatan Negara Batin

2. Kampung Gunung 3: Datuk Hitam Pagaruyung 3. Karangan Udik

4. Karangan

Di Kampung Karangan dari Abah Rasyid diketahui terdapat banyak peninggalan-peninggalan

1. Barang pusaka peninggalan moyang: Keris, Meriam, buku kulit kayu

2. Keramat: Umpu Nebi, Umpu Putra Lima (jinganan / rumah:

tempat pepadun) 3. Benteng

Berikut dapat dilihat Kampung Karangan, makam-makam keramat dan benda-benda peninggalan-peninggalan:

tidak memiliki anak laki – laki maka Benawa yang menjadi tetidak inti walaupun mereka lebih tua. Sampai sekarang Benawa yang memegang tahta kerajaan. Seharusnya Gedung itu melakukan Mancor Jaman lagi, tapi anak keturunannya tidak mau pulang kampung lagi. Sementara di Benawa terus Mancor Jaman ke keturunannya.

8 Marga yang ada, pusat adatnyanya berada di Marga Buay Bahuga karena berdasarkan garis keturunan dan darah. Kampung Karangan tidak ada ikatan darah dengan 4 kampung tua di Marga Buay Bahuga, namun karena unsur pengakuan dan kesepakatan.

Meskipun ada yang mengaitkan dengan Ryamayu dan berbagai klaim-klaim yang diceritakan sebelumnya namun hal itu tidak diketahui oleh sebagian besar masyarakat di Kampung Karangan dan belum bisa dibuktikan secara ilmiah kebenarannya. Menurut kepercayaan mereka Kampung Karangan berasal dari:

1. Kampung Sena: letaknya berada di dekat Kecamatan Negara Batin

2. Kampung Gunung 3: Datuk Hitam Pagaruyung 3. Karangan Udik

4. Karangan

Di Kampung Karangan dari Abah Rasyid diketahui terdapat banyak peninggalan-peninggalan

1. Barang pusaka peninggalan moyang: Keris, Meriam, buku kulit kayu

2. Keramat: Umpu Nebi, Umpu Putra Lima (jinganan / rumah:

tempat pepadun) 3. Benteng

Berikut dapat dilihat Kampung Karangan, makam-makam keramat dan benda-benda peninggalan-peninggalan:

Gambar 35. Kampung Karangan, Bahuga

Gambar 36. Makam Umpu Nebi, Leluhur Kampung Karangan

Gambar 37. Leluhur Umpu Putra Lima, Kampung Karangan, Bahuga

Gambar 38. Tempat keramat Jinganan, menyimpan alat Cakak Pepadun di Kampung Karangan, Bahuga

Gambar 37. Leluhur Umpu Putra Lima, Kampung Karangan, Bahuga

Gambar 38. Tempat keramat Jinganan, menyimpan alat Cakak Pepadun di Kampung Karangan, Bahuga

Gambar 38. Isi dalam Jinganan Cakak Pepadun, di Kampung Karangan, Bahuga.

H. Kampung Tua Tulang Bawang

Dalam dokumen BAHUGA dalam tradisi Lampung (Halaman 146-154)