• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tuan Raja Burung Kumbang

Dalam dokumen BAHUGA dalam tradisi Lampung (Halaman 84-89)

Etnografi Mesir Ilir Marga Buay Bahuga

A. Tuan Raja Burung Kumbang

Marga Buay Bahuga adalah masyarakat adat yang ber adat kan Pepadun, salah satu marga di Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung. Way Kanan sendiri memiliki 8 marga atau kelompok adat, yakni Marga Bahuga, Marga Pemuka Pangeran Tua, Marga Pemuka Pangeran Udik, Marga Pemuka Pangeran Ilir, Marga Pemuka Bangsa Raja, Marga Semenguk, Marga Barasakti, Marga Baradatu. Untuk buay yakni kelompok kerabat dan keturunan (kinship and descent), maka di Way Kanan ini memiliki 5 Kebuayan yakni : Buay Pemuka, Buay Bahuga, Buay Barasakti, Buay Semenguk dan Buay Baradatu.

Marga Buay Bahuga, merupakan kumpulan dari beberapa kampung tua, yakni Mesir Udik, Mesir Ilir, Bumi Agung, Karangan dan Tulang Bawang. Kemungkinan kampung-kampung ini mendeklarasikan diri sebagai Marga, setelah Belanda mempetakan Lampung dalam batas- batas marga. Sebelum pembatasan itu belum ada istilah marga, karena keturunan dalam Lampung adalah Buay, jadi namanya Buay Bahuga, artinya satu keturunan orang-orang Bahuga. Buay Bahuga kemungkinan ada kemudian menjadi marga kemungkinan setelah Belanda mempetakan kelompok-kelompok adat di Lampung, maka langsung dinamakan dengan nama buay nya yaitu Marga Buay Bahuga.

2

Etnografi Mesir Ilir Marga Buay Bahuga

A. Tuan Raja Burung Kumbang

Marga Buay Bahuga adalah masyarakat adat yang ber adat kan Pepadun, salah satu marga di Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung. Way Kanan sendiri memiliki 8 marga atau kelompok adat, yakni Marga Bahuga, Marga Pemuka Pangeran Tua, Marga Pemuka Pangeran Udik, Marga Pemuka Pangeran Ilir, Marga Pemuka Bangsa Raja, Marga Semenguk, Marga Barasakti, Marga Baradatu. Untuk buay yakni kelompok kerabat dan keturunan (kinship and descent), maka di Way Kanan ini memiliki 5 Kebuayan yakni : Buay Pemuka, Buay Bahuga, Buay Barasakti, Buay Semenguk dan Buay Baradatu.

Marga Buay Bahuga, merupakan kumpulan dari beberapa kampung tua, yakni Mesir Udik, Mesir Ilir, Bumi Agung, Karangan dan Tulang Bawang. Kemungkinan kampung-kampung ini mendeklarasikan diri sebagai Marga, setelah Belanda mempetakan Lampung dalam batas- batas marga. Sebelum pembatasan itu belum ada istilah marga, karena keturunan dalam Lampung adalah Buay, jadi namanya Buay Bahuga, artinya satu keturunan orang-orang Bahuga. Buay Bahuga kemungkinan ada kemudian menjadi marga kemungkinan setelah Belanda mempetakan kelompok-kelompok adat di Lampung, maka langsung dinamakan dengan nama buay nya yaitu Marga Buay Bahuga.

Persebaran marga buay Bahuga ada di Bumi Agung, Tulang Bawang, Kebang, Karangan, dan Mesir. Ada juga marga buay bahuga di daerah Suka Maju, meski mayoritas penduduk Jawa tetapi sudah masuk pada wilayah adat marga buay Bahuga, sudah boleh begawi.

Buay Bahuga di Kecamatan Bumi Agung yaitu Bumi Agung Runyai, sedangkan Mesir Ilir dan Udik ada di Kecamatan Bahuga, Tulang Bawang ada di Kecamatan Bahuga, Kebang, Bahuga, dan Karangan masuk Bumi Agung. Kedatun di kecamatan Bahuga. Desa Suka Bumi, Sri Tunggal, Suka Maju, Bumi Agung, Runyai masuk kecamatan Bumi Agung.

Nama Bahuga dahulunya diambil dari nama ayam hutan yaitu ayam beruga. Sejarah asal usulnya karena dahulunya ada orang Mesir yang datang ke Mesir ini, tepatnya dari Kairo. Jadi yang membuka Mesir ini adalah dari sana. Dulu ceritanya, Syeh Ali Akbar atau kemudian bergelar Tuan Raja Burung Kumbang datang ke kawasan ini, beliau yang berasal dari Kairo, Mesir, kemudian mengembangkan kawasan Bahuga. Nama Bahuga diambil dari ayam Beruga, konon ceritanya Syeh Ali Akbar ikut sayembara yang diselenggarakan oleh seorang Raja, sayembaranya adalah menangkap ayam beruga dan bisa bertelur di atas tangan, siapa yang berhasil memenangkan sayembara maka akan dinikahkan dengan Ratu Ibu, anak sang Raja. Adik laki-laki Syeh Ali Akbar bernama Manuk Minco atau Capang Mak Nabik menjelma menjadi ayam beruga, maka Syeh Ali Akbar berhasil memenangkan sayembara tersebut dan mempersunting Ratu Ibu. Oleh karena itulah sampai sekarang Marga Buay Bahuga dilarang memakan ayam beruga tersebut, dan sejak saat itulah kemudian ada nama Buay Bahuga dari Beruga.

Marga Buay Bahuga memiliki lima kampung tua yang memberikan kita banyak narasi dan bukti sejarah bagaimana perjalanan Marga Buay Bahuga sejak dari puyang Syeh Ali Akbar Glr Tuan Raja Burung Kumbang, lima kampung tua itu yaitu Mesir Ilir, Mesir Udik, Bumi Agung, Karangan dan Tulang Bawang. Masing- masing kampung memiliki cerita sendiri-sendiri tentang puyang mereka, ada yang berkaitan dengan Tuan Raja Burung Kumbang dan

ada yang tidak. Meskipun dikatakan satu kebuayan atau satu keturunan, namun jika berbicara marga, maka itu adalah batas administratif, dan adat adalah kesepakatan. Sehingga bisa saja kampung yang tidak memiliki hubungan keturunan masuk dalam satu marga tertentu karena kesepakatan.

Sejarahnya, keturunan Buay Bahuga terutama yang berada di Mesir Udik, Mesir Ilir dan Bumi Agung meyakini bahwa mereka berasal dari seorang nenek moyang atau puyang asal atau satu buay (keturunan) bernama Syeh Ali Akbar bergelar Tuan Raja Burung Kumbang yang diyakini oleh berasal dari wilayah Mesir, Saudia Arabia. Sementara itu untuk Kampung Karangan sebagian ada yang meyakini juga merupakan keturunan dari anak laki-laki tertua Syeh Ali Akbar yakni Ryamayu, namun belum ada bukti-bukti ilmiah yang cukup. Untuk Kampung Tulang Bawang, konon merupakan anak keturunan dari adik laki-laki Syeh Ali Akbar yakni Manuk Minco atau Capang Mak Nabik. Oleh karena itu peneliti menganalisis bahwa kedua Kampung ini menjadi bahagian dari Bahuga karena memang keturunan dari salah satu putra Syeh Ali Akbar, atau karena mengambil adat dengan Bahuga, setelah adanya marga, karena marga adalah batas administrative sebagaimana dijelaskan di atas.

Syeh Ali Akbar atau Tuan Raja Burung Kumbang datang datang ke tanah Bahuga itu belum diketahui tahun berapa, diperkirakan bahwa generasi yang hidup saat penelitan dilaksanakan yakni tahun 2019, telah hidup sampai generasi ke 34, maka Tuan Raja Burung Kumbang merupakan generasi pertama. Kemungkinan terbesar beliau datang dalam rangka penyebaran agama Islam di daerah ini.

Tim peneliti menemukan makam beliau di daerah Rebang Kasui Way Kanan, dengan menuju jalanan setapak melewati kebun karet dan anak sungai-sungai kecil, dari jalanan besar maka akan menempuh perjalanan dengan kaki selama lebih kurang 2 jam. Menempuh perjalanan ke sini sangatlah tidak mudah karena terdapat jalanan yang sempit, becek dan melewati kebun karet, sawit dan menyebrang sungai kecil. Makam beliau terletak persis di pinggir Sungai Umpu. Tak jauh dari makam beliau terdapat makam isterinya yakni Ratu Ibu, sebagaimana gambar berikut ini:

ada yang tidak. Meskipun dikatakan satu kebuayan atau satu keturunan, namun jika berbicara marga, maka itu adalah batas administratif, dan adat adalah kesepakatan. Sehingga bisa saja kampung yang tidak memiliki hubungan keturunan masuk dalam satu marga tertentu karena kesepakatan.

Sejarahnya, keturunan Buay Bahuga terutama yang berada di Mesir Udik, Mesir Ilir dan Bumi Agung meyakini bahwa mereka berasal dari seorang nenek moyang atau puyang asal atau satu buay (keturunan) bernama Syeh Ali Akbar bergelar Tuan Raja Burung Kumbang yang diyakini oleh berasal dari wilayah Mesir, Saudia Arabia. Sementara itu untuk Kampung Karangan sebagian ada yang meyakini juga merupakan keturunan dari anak laki-laki tertua Syeh Ali Akbar yakni Ryamayu, namun belum ada bukti-bukti ilmiah yang cukup. Untuk Kampung Tulang Bawang, konon merupakan anak keturunan dari adik laki-laki Syeh Ali Akbar yakni Manuk Minco atau Capang Mak Nabik. Oleh karena itu peneliti menganalisis bahwa kedua Kampung ini menjadi bahagian dari Bahuga karena memang keturunan dari salah satu putra Syeh Ali Akbar, atau karena mengambil adat dengan Bahuga, setelah adanya marga, karena marga adalah batas administrative sebagaimana dijelaskan di atas.

Syeh Ali Akbar atau Tuan Raja Burung Kumbang datang datang ke tanah Bahuga itu belum diketahui tahun berapa, diperkirakan bahwa generasi yang hidup saat penelitan dilaksanakan yakni tahun 2019, telah hidup sampai generasi ke 34, maka Tuan Raja Burung Kumbang merupakan generasi pertama. Kemungkinan terbesar beliau datang dalam rangka penyebaran agama Islam di daerah ini.

Tim peneliti menemukan makam beliau di daerah Rebang Kasui Way Kanan, dengan menuju jalanan setapak melewati kebun karet dan anak sungai-sungai kecil, dari jalanan besar maka akan menempuh perjalanan dengan kaki selama lebih kurang 2 jam. Menempuh perjalanan ke sini sangatlah tidak mudah karena terdapat jalanan yang sempit, becek dan melewati kebun karet, sawit dan menyebrang sungai kecil. Makam beliau terletak persis di pinggir Sungai Umpu. Tak jauh dari makam beliau terdapat makam isterinya yakni Ratu Ibu, sebagaimana gambar berikut ini:

Gambar 10. Makam Tuan Raja Burung Kumbang nenek moyang asal usul Buay Bahuga, lokasi di Rebang Kasui, Way Kanan, terletak dipinggir sungai Way Umpu.

foto By Peneliti 27 April 2019 terletak di koordinat S 04 42 040‖, E 104 20 876‖.

Makam Tuan Raja Burung Kumbang, terletak di pinggir sungai dikelilingi oleh bambu. Jadi secara alamiah bambu ini penting, bambu ini penolong. maka ini jangan ditebang pasti ada pamalinya

atau pantangan kayak ayam beruga atau ayam hutan yang dilarang di makan oleh warga Buay Bahuga. Menurut keyakinannya kalau menginap disini ini tidak boleh tidak bawa obat nyamuk atau sejenisnya malah kita tambah dikeroyok nyamuk, kalau tidak pakai obat nyamuk justru tidak ada nyamuk malamnya. Makam ini juga banyak dikunjungi peziarah dan tampak beberapa pondok untuk peziarah beristirahat dan untuk menginap disini.

Sebelum memasuki kawasan makam ini terdapat beberapa makam, salah satunya adalah makam dari Ratu Ibu yakni isteri dari Tuan Raja Burung Kumbang, sedangkan makam yang lain tidak diketahui makam siapa. Makam Ratu Ibu sendiri dapat dilihat dalam gambar berikut ini :

Gambar 11. Makam Ratu Ibu, isteri dari Tuan Raja Burung Kumbang di Rebang Kasui Way Kanan

Foto By Peneliti 27 April 2019 Terletak dikoordinat S 04 42 065‖ E104 28 869‖

atau pantangan kayak ayam beruga atau ayam hutan yang dilarang di makan oleh warga Buay Bahuga. Menurut keyakinannya kalau menginap disini ini tidak boleh tidak bawa obat nyamuk atau sejenisnya malah kita tambah dikeroyok nyamuk, kalau tidak pakai obat nyamuk justru tidak ada nyamuk malamnya. Makam ini juga banyak dikunjungi peziarah dan tampak beberapa pondok untuk peziarah beristirahat dan untuk menginap disini.

Sebelum memasuki kawasan makam ini terdapat beberapa makam, salah satunya adalah makam dari Ratu Ibu yakni isteri dari Tuan Raja Burung Kumbang, sedangkan makam yang lain tidak diketahui makam siapa. Makam Ratu Ibu sendiri dapat dilihat dalam gambar berikut ini :

Gambar 11. Makam Ratu Ibu, isteri dari Tuan Raja Burung Kumbang di Rebang Kasui Way Kanan

Foto By Peneliti 27 April 2019 Terletak dikoordinat S 04 42 065‖ E104 28 869‖

Dari tahun yang tidak diketahui maka Syeh Ali Akbar atau Tuan Raja Burung Kumbang memiliki empat orang anak yang bernama Ryamayu, Ryapiaku, Ryacudu dan Ryamangku Sendiwa, dapat dilihat dalam bagan di bawah ini :

Bagan 12. Keturunan Tuan Raja Burung Kumbang atau Syeh Ali

Dalam dokumen BAHUGA dalam tradisi Lampung (Halaman 84-89)