Alhamdulillah, puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang akhirnya setelah melalui perjalanan yang sangat panjang, buku hasil penelitian ini berhasil diterbitkan. Survei ini dilakukan pada bulan Februari 2018 hingga Mei 2020, yakni hampir dua tahun.
Pembahagian Kelompok adat dan dialek pada etnik Lampung (Sumber : Hilman Hadikusuma 1989: 118)
- Culture Area
Suku Lampung sendiri terdiri dari marga dan buaya yang jumlahnya belum dapat dipastikan. Dibandingkan dengan suku lain di Sumatera Selatan, jumlah penduduk suku Lampung cenderung lebih sedikit.
Peta Marga-Indeeling residentie Lampoeng
Sumber: Peta Tata Letak Kediaman Marga-Marga Lampung (1930) dalam buku Nota Over De Lampoengsche Marga‖s, Van Royen (1930). Apalagi catatan lain berasal dari hasil penelitian Prof Hilman Hadikusuma (1989), dimana ia mengumpulkan marga-marga yang ada di lampung, dan pada tahun 1952 terdapat 87 marga di lampung.
Peta Wilayah Marga sebelum tahun 1952
- Marga Buay Bahuga dalam Wilayah Administratif 1. Aspek Geografis dan Administrasi
- Aspek Sosial dan Budaya
- Aspek Pertanian
- Aspek Industri, Perdagangan dan Potensi Pariwisata
- Karakteristik Wilayah Kecamatan Bahuga a. Sejarah Singkat Kecamatan Bahuga
Sungai-sungai besar di Kabupaten Way Kanan Nama Panjang Sungai (Km) Luas Aliran (Km). Kabupaten Way Kanan disebut sebagai negeri 1001 air terjun (khusus bagi mereka yang datang untuk menikmati air terjun di Kabupaten Way Kanan).
Kecamatan Bahuga
- Ngehuma : Tanah Adat yang Tidak Diperjual Belikan
Kecamatan Bahuga mempunyai 2 pasar sebagai sumber pemenuhan kebutuhan sehari-hari di Desa Tulang Bawang dan Desa Serdang Kuring. Pemanfaatan lahan non-sawah atau kering terdiri dari budidaya, berkebun dan tambak yang tersebar di 11 desa di Kecamatan Bahuga. Komunitas agama di distrik Bahuga adalah Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu dan Budha.
Jenis hewan ternak yang melimpah di Kecamatan Bahuga adalah sapi, kerbau, kambing, domba dan sejumlah kecil babi (Desa Bumi Agung Watas). Konsep bertani pada foto di atas banyak digunakan oleh para petani di Distrik Bahuga. Hasil pemekaran Kecamatan Bahuga adalah Kecamatan Bahuga, Kecamatan Buay Bahuga dan Kecamatan Bumi Agung.
Etnografi Mesir Ilir Marga Buay Bahuga
Tuan Raja Burung Kumbang
Suku Buay Bahuga merupakan masyarakat adat yang menganut tradisi Pepadun, salah satu suku yang ada di Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung. Ada pula Suku Buay Bahuga di daerah Suka Maju, walaupun mayoritas penduduknya adalah suku Jawa, namun masuk ke dalam wilayah adat suku Buay Bahuga diperbolehkan begawi. Dahulu ceritanya Syekh Ali Akbar atau yang kemudian dikenal dengan sebutan Tuan Raja Kumbang datang ke daerah ini, beliau berasal dari Kairo, Mesir, dan kemudian mengembangkan daerah Bahuga.
Oleh karena itu, marga Buay Bahuga sampai sekarang dilarang memakan ayam Beruga, dan sejak itulah muncul nama Buay Bahuga Beruga. Marga Buay Bahuga mempunyai lima desa kuno yang banyak memberi kita narasi dan bukti sejarah perjalanan Marga Buay Bahuga sejak masa pemerintahan Syekh Ali Akbar Glr Tuan Raja Burung Kumbang. Lima desa kuno tersebut adalah Mesir Ilir, Mesir Udik, Bumi Agung, Karangan dan Tulang Bawang. Menurut sejarahnya, para keturunan Buay Bahuga, khususnya yang berada di Mesir Udik, Mesir Ilir dan Bumi Agung, meyakini bahwa mereka berasal dari nenek moyang atau asal usul puyang atau seorang buay (keturunan) bernama Syekh Ali Akbar yang bergelar Tuan Raja Kumbang yang diyakini berasal dari wilayah Mesir, Arab Saudi.
Keturunan Tuan Raja Burung Kumbang atau Syeh Ali Akbar
- Narasi Etnografi : Jejak Ryamayu di Kampung Karangan dan Klaim-Klaim yang meragukan
- Menelusuri Jejak Ryapiaku di Kampung Mesir : Asal Muasal Mesir Ilir dan Udik
- Kampung Mesir Udik
Setahu saya Ryamayu adalah puyang asal Karangan Tengah yang asal usulnya belum saya ketahui sepenuhnya, saya tidak mau mengakuinya begitu saja. Namun saya tidak tahu kalau baik Pak A maupun Pak H mempunyai garis keturunan lurus. Tidak, menurutku tidak ada hubungan darah di antara mereka. Hanya saja mereka lebih tua, bukan?
Saya (Pak Pahit) juga tidak tahu apa keturunan mereka dari Udik Mesir, tapi apakah mereka sampai di Ryapiaku saya tidak tahu karena saya mengakuinya. Saya ini ada 32 orang hanya sampai kakek buyut saya tahu, saya tidak mengklaim itu, hanya kakek buyut saya yang tahu namanya. Iya kalau nggak, aku nggak sayang sama mereka, nggak, tapi kalau nggak tahu, nggak apa-apa, aku mau, nggak bisa.
Mesir Udik
Negeri Kepayungan berjarak sekitar 4 kilometer dari desa mesir ilir, hanya tersisa kebun milik warga, setelah anak buahnya selesai disini dia marah, dia mengeluarkan penguasa atasannya, maksudnya, dia bertepuk tangan dan api ini keluar dari tangannya. untuk membakar bukaan tanah leluhur Mesir. Ia masih mandi dan melihat api menyala langsung ke Mesir, setelah itu basahnya terangkat ke kanan dan menjadi muara yang disebut muara. Cepat atau kenali itu. Pertama-tama, setelah tiba di tanah Kepayungan pada awal magrib, Pak Tanda terlebih dahulu melihat ke arah orang yang sedang shalat dan meminta untuk berwudhu setelah meletakkan sajadahnya di atas daun alang-alang, maka ia mengulanginya lagi dan tidak berani karena orang tersebut sedang berpuasa. Udik Mesir merupakan salah satu desa kuno dalam marga Buay Bahuga, pecahan dari desa Mesir yang menjadi dua yaitu Mesir Ilir dan Mesir Udik.
Di antara keempat bangsawan ini, diperkirakan ada satu keturunan, yaitu Dewa Sifa mempunyai seorang putra Tuan Tanda dan Tuan Tanda memiliki seorang putra Tuan Pekurun. Setelah diselidiki lebih lanjut, tidak ditemukan kaitan antara keempat orang tersebut dengan hubungannya dengan Syekh Ali Akbar atau Tuan Raja Bug. Keterkaitan tokoh-tokoh tersebut masih perlu diselidiki meskipun sangat sulit karena tidak ada informan yang memahami sejarah abad-abad yang lalu.
Makam Tuan Tanda dan Tuan Pekurun di Kawasan Mesir Udik
- Mesir Ilir dan Ryacudu
Seperti pada cerita sebelumnya, diceritakan bahwa desa Mesir yang bernama Negeri Kepayungan ini masih satu dengan Mesir Ilir. Syekh Tuan Sahid berasal dari Mekkah, katanya nama tanah bercocok tanam di Tanah Payung, Mesir, lalu di sebelahnya, Mesir, Ilir, di sini, Mesir Udik. Jadi yang pindah ke Mesir Ilir adalah Pak. Sahid, Pak. Sifa dan Tn. Keluarga Tanda, kemudian Tn. Tanda bahwa mereka turun di sini di Mesir Udik.
Hanya garis lurus antara Mesir Udic dan Mesir Illyria yang awalnya diberikan oleh Mr. Sifa, anak dari Pak. Tande, Pak. Tanda yang telah membawa kita semua berarti itu. Cerita menarik lainnya, sebagian masyarakat menduga Tuan Sifa adalah sosok perempuan, orang tua Tuan Tande yang menggambarkan Udik Mesir. Tapi kalau di Mesir kalau mau menghormati adat istiadat atau begawi silahkan ke Benawa untuk Pak Puting.
Mesir Ilir dalam Peta GIS
- Bumi Agung : Gedong dan Benawa
Dengan demikian, terdapat tiga desa purbakala yang secara genealogis merupakan keturunan Tuan Raja Kumbang atau Syekh Ali Akbar, yaitu Mesir Udik, Mesir Ilir, dan Bumi Agung yang dibuktikan dengan keturunan. Suku Ilir Mesir merupakan kelompok keturunan yang berasal dari putra Tuan Raja Kumbang atau Syekh Ali Akbar yang bernama Ryacudu. Di Mesir marga Ilir Buay Bahuga khususnya di Natar Agung salah satu penyeimbangnya adalah Tuan Ryamizard Ryacudu bergelar Sutan Tuan Kaca Marga sebagai anak sulung dari garis Ryacudu yaitu ayah dari Musanif Ryacudu.
Berikut gambar keturunan Ryacudu saat ini yang masih berada di Rumah Natar Agung Mesir Ilir. Tn. Adik laki-laki Ryamizard Ryacudu yang bernama Ryamur Ryacudu Glr Ratu Pria merupakan salah satu penyeimbang Ilir Marga Buay Bahuga Mesir. Setiap rumah di Mesir Ilir mempunyai nama seperti Agung Keraton, Banjar Agung dan lain sebagainya.
GIS Kampung Bumi Agung, 2019
- Kampung Tua Karangan
Bumi Agung disana, setelah di Nganga Pisang ada kalanya pisang sudah sampai ke Bumi Agung Ilir; pada saat sampai ke Pak Puting, sudah ada 32 generasi. Ada seorang lelaki tua yang mengatakan bahwa dia masih berasal dari Bumi Agung, karena di sana juga terdapat Mangku Bumi, maka nenek moyang kami pun dibawa serta, karena ayah kami bernama Mangku Bumi. Pertama kita mulai dari bawah Cristop Arya Raja Meletakkan Burung Kumbang kembali ke Nasrunsyah yang bergelar Mangku Bumi.
Benar sekali, salah satu makam tempat Mangku Bumi melahirkan kedua anaknya ini berada di Nganga Pisang. Makam Mangku Bumi ada di Nganga Pisang, jadi dekat dengan Bumi Agung, agak ke timur, itu maksudnya kita harus naik perahu untuk sampai kesana. Kalau Mangku Bumi pertama di sini, tidak ada fotonya.
Peta GIS Kampung Karangan, 2019
- Kampung Tua Tulang Bawang
Tempat suci Umpu Nebi dan Umpu Putra Lima terletak di desa Karangan, begitu pula tempat Pepadun Umpu Putra Lima juga terletak di desa Karangan. Nama Karangan berasal dari perang dengan Belanda, dimana lokasi Kampung Karangan dulunya berada di Buluh, sedangkan di sini (sekarang Kampung Karangan) adalah bekarang (tempat memancing). Marga Buay Bahuga di desa Karangan sudah ada sejak Belanda bergabung dengan kerajaan di Bumi Agung (yang rumah lamanya “Benawa” ditinggalkan).
Bukti Radin Jambat berasal dari Desa Karangan adalah masih terpeliharanya barang-barang kuno berupa bola dan keris di desa ini. Rumah-rumah yang dibangun di desa Karangan mempunyai nama salah satunya adalah Agung Keratun, penyeimbang tertinggi di desa ini mempunyai penyeimbang tiuh. Desa Karangan tidak mempunyai hubungan darah dengan 4 desa tua Marga Buay Bahuga, melainkan karena adanya unsur pengakuan dan kesepakatan.
GIS Kampung Tulang Bawang, 2019
- Sistem Perkawinan Marga Buay Bahuga
Kalau beda marga memang ada sedikit perbedaan, tapi secara umum mirip, tidak terlalu mengherankan. Saat makan dan minum, ada yang membawa kambing, ada yang membawa nasi, ada yang membawa bumbu-bumbu, dan sebagainya. Ada yang pakai limun, ada juga yang dulu pakai sugus, ada juga yang pakai sekarang, apa namanya?
Nah, ada yang masih meminta uang dengan cara yang salah, ada pula yang tidak. Itu untuk perbandingan, sebetulnya ada yang nyekheh, tapi kami tidak bilang seperti itu, tapi ada yang nyekheh. Namun jika kita mengingat keadaan dan situasi, karena dahulu kita terpaksa melakukan pisak'an sebanyak enam kali, ada yang mencapai 8 jam.
Sistem Agribisnis
Syaratnya pertama harus bersih dulu, jadi sebelum dia bersihin dulu, dia suruh ke pemulung kalau pepadunnya dia bersihkan dulu ya? Prosesnya senyap, seghak ketika gadis kecil itu ingin menindik telinga/telinganya. Tujuan dari Seghak Seghak adalah agar anak tersebut bersih dan dapat mengikuti adat istiadat, yaitu jika anak perempuan menjadi mulei, jika anak laki-laki tersinggung maka ia juga akan diberi julukan.
Masyarakat Buay Bahuga
- Pengembangan Tanaman Pangan
- Perikanan
- Perkebunan
- Pertambangan
Pada dekade pertama kebijakan pemerintah kolonial ini, terjadi krisis beras di wilayah Lampung. Di daerah seperti Katimbang, Teluk Betung dan Semangka, perkebunan lada ini dikelola oleh orang Eropa. Sedangkan daerah seperti Seputih dan Tulang Bawang dikuasai oleh orang Tionghoa (Anonim, 1918: 38).
Daerah yang menjadi sentra budidaya lada di Lampung berada di daerah Semangka, Katimbang, Teluk Betung, Seputih, Sekampung dan Tulang Bawang. Sektor perkebunan lain yang menjadi sumber pendapatan utama daerah Lampung pada awal abad ke-20 adalah karet. Konsesi kepemilikan lahan perkebunan karet di wilayah Lampung dipegang oleh sekitar 20 perusahaan perkebunan (Department van Binnenlandsch Bestuur.