• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Perkawinan Marga Buay Bahuga

Dalam dokumen BAHUGA dalam tradisi Lampung (Halaman 158-187)

Etnografi Mesir Ilir Marga Buay Bahuga

Peta 8. GIS Kampung Tulang Bawang, 2019

I. Sistem Perkawinan Marga Buay Bahuga

Dalam masyarakat adat Marga Buay Bahuga, pesta pernikahan dilakukan dalam upacara begawi. Begawi di seluruh kampung di Bahuga sama tata caranya, karena masih satu marga. Kalau beda marga ada pebedaan sedikit, tapi secara garis besar mirip tidak ada yang berbeda terlalu mencolok. Apalagi yang sudah begawi penuh tapi kalo yang kecil-kecil itu juga masih ada perbedaannya, karena adat ini kan tidak statis, dia fleksibel. Tergantung kesepakatan, kesepakatan tapi harus mengacu kepada satu tujuan.

Sebelum begawi tokoh-tokoh adat ini maupun penyimbang ini di undang termasuk penyimbang marga. Itu kita mengadakan sidang adat apa yang mau kita laksana. Contoh salah satu penumbukan, kalau penumbukan dulu itu cuman kecil ya banyak orang tidak mau datang minyak aja tidak kembali. Kita mngadakan suatu kebijakan suatu kebijakan itu makanya orang pada datang. Kalau menurutnya tidak sesuai lebih baik apas karet, dan ngunduh sawit katanya gitu.

Iyalah disesuaikan sama juga disesuaikan sama zaman. Namanya iya kalau zaman sekarang ini kan kalau kita tidak sendirian kan yang apa bagaimana yang melastarikan adat itu siapa lagi. Bisa mudar nanti adat.

Jadi gawi di Bahuga kan ada yang cekhita terang, sebambangan, semanda dan lain-lain. Kebanyakan itu sebambangan atau larian.

ke sana, sementara kalau jalan sini udah tidak bisa lagi di akses, dan jalan di sini harus keliling dulu, kalo dulu kan harus pakai perahu. Di tempat yang baru lebih ramai karena adanya tranlog itu, translog itu berasal dari Jawa Brebes. Dulu 20 KK sekarang jadi 120 KK. 100 di Bumi Agung yang 20 di Tulang Bawang. Trans itu ada sejak tahun 70an semenjak pak Nasrun jadi Kepala Negeri, karena dulu pak Nasrun jadi kepala negeri tahun 68, kepala negeri itu statusnya dulu kan ada Pesirah, Pesirah hilang jadi kepala negeri, negeri hilang itu menjadi kecamatan sekarang tahun 70an, ada Pesirah ada kepala negeri, kalo pesirah ada di kepala negeri, kalau kampung ini tetap Tulang Bawang.

I. Sistem Perkawinan Marga Buay Bahuga

Dalam masyarakat adat Marga Buay Bahuga, pesta pernikahan dilakukan dalam upacara begawi. Begawi di seluruh kampung di Bahuga sama tata caranya, karena masih satu marga. Kalau beda marga ada pebedaan sedikit, tapi secara garis besar mirip tidak ada yang berbeda terlalu mencolok. Apalagi yang sudah begawi penuh tapi kalo yang kecil-kecil itu juga masih ada perbedaannya, karena adat ini kan tidak statis, dia fleksibel. Tergantung kesepakatan, kesepakatan tapi harus mengacu kepada satu tujuan.

Sebelum begawi tokoh-tokoh adat ini maupun penyimbang ini di undang termasuk penyimbang marga. Itu kita mengadakan sidang adat apa yang mau kita laksana. Contoh salah satu penumbukan, kalau penumbukan dulu itu cuman kecil ya banyak orang tidak mau datang minyak aja tidak kembali. Kita mngadakan suatu kebijakan suatu kebijakan itu makanya orang pada datang. Kalau menurutnya tidak sesuai lebih baik apas karet, dan ngunduh sawit katanya gitu.

Iyalah disesuaikan sama juga disesuaikan sama zaman. Namanya iya kalau zaman sekarang ini kan kalau kita tidak sendirian kan yang apa bagaimana yang melastarikan adat itu siapa lagi. Bisa mudar nanti adat.

Jadi gawi di Bahuga kan ada yang cekhita terang, sebambangan, semanda dan lain-lain. Kebanyakan itu sebambangan atau larian.

Kalau dia 10 orang yang sebambangan itu 6 orang paling orang yang melakukan cekhita terang. Sebambangan itu larian, yang maksudnya biasa orang disini lakukan adalah sebambangan itu. Sebambangan itu ada prosesnya juga. Sebambangan itukan yang bersangkutan antara bujang dan gadis itu yang dinamakan pacaran kan. Jadi kalau dulu pacaran itu ada prosesnya, karena dulu bukan kita masih-masih sama adat bukan, cuma sekarang udah-udah. Kalau dulu yang namanya pacaran itukan tidak sembarangan. Yang pertama umpanya anak si A dan anak si B maksudnya bujang gadis ini mungkin setelah ketemu, ada rasakan, ngobrol dulu pake surat.

Belum ada hand phone belum, tapi pakai surat. Samakhan.

Samakhan itu orang tuanya belum tahu dia sendiri yang tahu kira- kira gitu. Sebenarnya sesamakhan bukan besamakhan. Itu namanya sesamakhan dulu, setelah saling kenal. Setelah kenal, setelah sesamakhan. Setelah nyambung, dia minta kalau bahasa dulunya betekhang. Betekhang itu menerangkan kepada masyarakat sekitar bahwa anak si A mau sama anak si B, yang minta di terangkan pihak laki-laki supaya anak saya betekhang. Jadi caranya betekhang itu pertama ada prosesnya. Pihak Laki-laki minta utusan datang ke rumah pihak perempuan karena mengatakan hasrat dari keluarga sini bahwa bahasa Lampung-nya manjak tikhak menerangkan bahwa anak si A ada mau gitu. Pihak laki-lakinya datang ke pihak perempuannya melalui perantara. Melalui perantaraan dulu namanya bekayunan ini proses pacaran ini. Pacaran itu, Tenadai tenadaiyan. Satu, tenadai. Di dalam tenadai ada namanya betekhang.

Dalam tenadai itu tidak langsung. Kalau dia tidak minta betekhang maka tidak betekhang. Berarti dalam tenadaian itu bujang gadisnya udah bertemu. Udah pakai surat, kemudian gadis ini minta betekhang. Supaya anak bujang ini betekhang, tetapi betekhang itu ada utusan bahwa keluarga sini kan mau menerangkan ada maunya begitukan. Maka diadakan Bekayunan, yaitu ngirim utusan. Berkirim surat namanya besamakhan dulu. Dia kan minta menekhang, dia minta menekhang itu dia nyuruh. Pihak laki-laki nyuruh orang untuk supaya diterima apa tidak, diterima oleh keluarga pihak perempuan apa tidak. Kadang tidak di terima itu karena masih keluarga tidak diterima kan gitu.

Banyak yang tidak terima bekayonan itu juga ada syaratnya misalnya pakai gula, pakai susu, ada yang di bawalah yah wat usungan kalau kata kita. Kalau diterima baru yang laki-laki ini tinggal tergantung apa mau makan minum, apa mau minum saja yang di bawa itu berat. Kalau makan minum, ada yang bawa kambing, ada yang bawa beras, bawa bumbu, dan lain sebagainya.

Diterima bekayonan itu diterima utusannya itu andai kadang- kadangkan karena kita sekelik katanya kita keluarga, tidak usah katanya. Kalau diterima baru yang tadi urun rumbuk keluarga ini apa permintaan yang bersangkutan itu minta minum saja boleh minum saja makan. Taroklah makan minum, kalau dia makan minum. Bawa kambing, bawa beras, bawa gula, dan lain sebagainya. Sudah itu bawa kueh dan lain sebagainya, bawa susu, bawa kopi, bawa teh dan apalagi pokoknya sesuai peraturannya disana itukan. Nah diantarlah disitu dengan sang gadis. Nah sang gadisnya itukan ditukar, besok lusa katanya malamnya itu kan mau ngundang. Ngundang tetangga- tetangga makan yang itunya dimakan. Kalau kambingnya dipotong.

Kalau yang dikerjakan mukhaw manggil tetangganya itu yang baik itu yang bapak-bapak atau ibu-ibunya, juga bujang gadisnya. Kalau itu ramai, di canggotkan. Canggot namanya kalau itu rame. Tapi kalau tidak memadailah yang mengantarkannya itu. Kambingnya di potong, ayam-ayamnya di potong yah dimasak dan lain sebagainya.

Ada yang pake limun ada juga yang pake sugus dulu ada juga kalau sekarang ya apa Namanya.

Istilahnya makan-makanannya cukup gitu, ada yang menerangkan bahwa anaknya si A mau sama anaknya B misalnya.

Orang sudah tahu baru itu namanya tenadai itu sudah tenadai. Kalau dulu itu tenadai namanya. Itu namanya ngongkos yang ngantar- ngantar itu. Yang nganter-nganter makanan itu segala macam dari pihak laki-laki, perempuan tidak. Namanya ngongkos. Prilaku bujang gadis dari pra nikah sampai melamar, nindai, butancok, bakuhaga, betur, tekadung, ngongkos, nuwik kasih, ngikhok. Jadi kalau nindai itu lain lagi. Inikan nindai itu sebelum pacaran dia di samakhan dulu cerita disamain dulu cerita anak yang bersangkutan bapaknya nindai atau ibunya nindai itu yang nindai.

Banyak yang tidak terima bekayonan itu juga ada syaratnya misalnya pakai gula, pakai susu, ada yang di bawalah yah wat usungan kalau kata kita. Kalau diterima baru yang laki-laki ini tinggal tergantung apa mau makan minum, apa mau minum saja yang di bawa itu berat. Kalau makan minum, ada yang bawa kambing, ada yang bawa beras, bawa bumbu, dan lain sebagainya.

Diterima bekayonan itu diterima utusannya itu andai kadang- kadangkan karena kita sekelik katanya kita keluarga, tidak usah katanya. Kalau diterima baru yang tadi urun rumbuk keluarga ini apa permintaan yang bersangkutan itu minta minum saja boleh minum saja makan. Taroklah makan minum, kalau dia makan minum. Bawa kambing, bawa beras, bawa gula, dan lain sebagainya. Sudah itu bawa kueh dan lain sebagainya, bawa susu, bawa kopi, bawa teh dan apalagi pokoknya sesuai peraturannya disana itukan. Nah diantarlah disitu dengan sang gadis. Nah sang gadisnya itukan ditukar, besok lusa katanya malamnya itu kan mau ngundang. Ngundang tetangga- tetangga makan yang itunya dimakan. Kalau kambingnya dipotong.

Kalau yang dikerjakan mukhaw manggil tetangganya itu yang baik itu yang bapak-bapak atau ibu-ibunya, juga bujang gadisnya. Kalau itu ramai, di canggotkan. Canggot namanya kalau itu rame. Tapi kalau tidak memadailah yang mengantarkannya itu. Kambingnya di potong, ayam-ayamnya di potong yah dimasak dan lain sebagainya.

Ada yang pake limun ada juga yang pake sugus dulu ada juga kalau sekarang ya apa Namanya.

Istilahnya makan-makanannya cukup gitu, ada yang menerangkan bahwa anaknya si A mau sama anaknya B misalnya.

Orang sudah tahu baru itu namanya tenadai itu sudah tenadai. Kalau dulu itu tenadai namanya. Itu namanya ngongkos yang ngantar- ngantar itu. Yang nganter-nganter makanan itu segala macam dari pihak laki-laki, perempuan tidak. Namanya ngongkos. Prilaku bujang gadis dari pra nikah sampai melamar, nindai, butancok, bakuhaga, betur, tekadung, ngongkos, nuwik kasih, ngikhok. Jadi kalau nindai itu lain lagi. Inikan nindai itu sebelum pacaran dia di samakhan dulu cerita disamain dulu cerita anak yang bersangkutan bapaknya nindai atau ibunya nindai itu yang nindai.

Nindai kelakuan mustika apa bagus apa tidak. Penilaian juga membetulkan nindai. Udah itu nindai sudah itu ngongkos kan nindai itu tidak di setujui orang tua itu tidak jadi. Kan umpamanya sudah.

Sebelum seebelum betekhang masih namanya sesamakhan. Pertama sesamakhan, bagaimana dia mau nindai kalau tidak ada apa ada hubungan antara yang bersangkutan. Jadi ini pertama dia besamakhan, kedua kalau mau pake nindai ya nindai dulu. Baru dia ngokos itukan. Sudah itu bekahaga, bekahaga itu mau itu maksudnya itu. Sudah itu karena bekahaga itu dia sudah ngongkos sudah bekahaga. Kalau kita bekahaga segalanya ya banyak macam. Di dalam mereka itu sudah senadaian sudah-sudah ngongkos itu namanya bekahaga. Sudah itu betuntun. Betuntun itu, maksud arti betutuk itu sang bujang itu ngajak temannya. Kalau dulu kan banyak yang ke ladang. Umpamanya misalnya, ngebantu lah, intinya membantu bapak ibu sang gadisnya atau keluarganya apa pekerjaannya di bantu itu namanya betuntun. Betuntun itu kadang-kadang lama prosesnya.

Ada yang 3th ada juga sampe 5th tapi tidak jadi. Orang perempuannya nikah larian dengan orang lain. Sudah betuntun ada nama beselom. Ada kata beselom. Beselom berartikan nyelam itu betul-betul, yang nyekheh ini tadi penghargaan. Jadi dikategorikan kalau di tata urutkan banyak betul itu prosesnya. Nyekheh ini suatu penghargaan adaptasi. Anaknya si A dan anaknya si B kalau dia ketemu dengan suaminya si B yang nadai itu begini. Zaman dulu sudah tidak lagi dia nyingkir yah umpamanya papasan dulukan dengan jalan kaki, dia nyingkir sambil duduk begini tidak mau melihat. Sopan ya. Kalau sekarang tuk-tuk assalamu’alaikum, kumussalam mana si A buk? saya mau ngobrol, sekarang kan. Kalau dulu tidak bisa itu namanya itu yang namanya nyekheh itu didalemnya itu nyekheh namanya adaptasi namanya kan penghargaan sama orang tuanya. Bukan saja bapaknya itu tadi kalau bahasanya keluarga-keluarganya. Tapi kalau kakak pasti begitu juga apalagi kalo yang namanya kelama-nya itu kan dia kan nyekheh kalau dia minta tekhang sesuadah itu prosesnya lagi kan. Betuntuk itu yang namanya bekerja atau pekerjaan dari keluarga gadis atau orang tua.

Betuntuk dia membantu keluarga pekerjaan sang wanitanya itu. apapun perkerjaannya. Habis betuntuk itu kalo ada tidak kata sepakatnya antara bujang dan gadis itu. Kalau itu sudah ada kata sepakatnya 2 versi lagi, sebambangan atau inta tekhang. Kalau sebambangan kalau senadaian sekali nanti nyimpulkan aja ya. Kalau sudah betadaian begini sudah tekhang sudah ngokosin tadi, mungkin sudah betuntuk dan lain sebagainya. Dia udah kata sepakat.

Dua versi itu. Sebambang itu larian, kalo inta tekhang itu seperti mau baik-baik lamaran. Inta tekhang dulu itu ditentukan waktunya, didiskusikan sama orang tuanya di nifas dulu, tapi biasanya ini panjang kalau cerita. Biasanya dari sebambangan dulu sudah dia sudah sama-sama setuju, sudah menyimpulkan untuk dan menyimpulkan dia sudah menjadi bukan saja mau pacaran saja atau mau tenadaian saja. Dia sudah mau jadi keluarga maksudnya mau suami istri. Si sang gadis punya permintaan. Kalau dia mau belarian ini mau sebambangan. Nah, umpamanya permintaannya 20jt misalnya. 20jt itu setelah ada diserahkan kepada sang gadis itu yang namanya yang sebambangan ini. Sudah di tentukan waktu antara A dengan si B ini kan sudah sepakatnya besok malam katanya mau sebambangan. Apa jam 10 yang tidak sesuai kesepakatan waktu. Tapi juga liat orang tuanya, kalau orang tuanya masih bangun tidak bisa kan. Nah si gadis itu diambil lah sama pria itu kan dibawa diboyong ke rumah dia. Tapi ditinggalin uang dulu ini

Ditinggalin uang sama surat kan biasanya. Biasanya taruh di bawah kasur, yang penting di jelaskan apa di lemari, apa di kasur, apa dimana kan. Nah sudah itu yah baru dia ngetak salah. Berapa, jadi kalau dia dekat bisa sehari, kalau dia tidak jauh 2 hari, kalau dia betul-betul jauh 3 hari . Ngatak salah itu mengakui kesalahan. Pakai kambing, pakai beras sedikit-sedikit, pakai gula dan lain sebagainya pakai syaratnya. Datanglah utusan dari sang pria, menghadap sang ibu bapaknya sang gadis. Intinya dia mohon maaf mengatakan kehilangan keluarga disini sudah mantap di tangan si A, mengatakan bahwa tidak ada, tidak ada kalau bahasa Lampunya cacat bekhita.

Tidak ada cacat berita, tidak ada luka, tidak ada apa ya. Dia sudah ada mantep dirumah kediaman kalau bahasanya dijinganan

Betuntuk dia membantu keluarga pekerjaan sang wanitanya itu. apapun perkerjaannya. Habis betuntuk itu kalo ada tidak kata sepakatnya antara bujang dan gadis itu. Kalau itu sudah ada kata sepakatnya 2 versi lagi, sebambangan atau inta tekhang. Kalau sebambangan kalau senadaian sekali nanti nyimpulkan aja ya. Kalau sudah betadaian begini sudah tekhang sudah ngokosin tadi, mungkin sudah betuntuk dan lain sebagainya. Dia udah kata sepakat.

Dua versi itu. Sebambang itu larian, kalo inta tekhang itu seperti mau baik-baik lamaran. Inta tekhang dulu itu ditentukan waktunya, didiskusikan sama orang tuanya di nifas dulu, tapi biasanya ini panjang kalau cerita. Biasanya dari sebambangan dulu sudah dia sudah sama-sama setuju, sudah menyimpulkan untuk dan menyimpulkan dia sudah menjadi bukan saja mau pacaran saja atau mau tenadaian saja. Dia sudah mau jadi keluarga maksudnya mau suami istri. Si sang gadis punya permintaan. Kalau dia mau belarian ini mau sebambangan. Nah, umpamanya permintaannya 20jt misalnya. 20jt itu setelah ada diserahkan kepada sang gadis itu yang namanya yang sebambangan ini. Sudah di tentukan waktu antara A dengan si B ini kan sudah sepakatnya besok malam katanya mau sebambangan. Apa jam 10 yang tidak sesuai kesepakatan waktu. Tapi juga liat orang tuanya, kalau orang tuanya masih bangun tidak bisa kan. Nah si gadis itu diambil lah sama pria itu kan dibawa diboyong ke rumah dia. Tapi ditinggalin uang dulu ini

Ditinggalin uang sama surat kan biasanya. Biasanya taruh di bawah kasur, yang penting di jelaskan apa di lemari, apa di kasur, apa dimana kan. Nah sudah itu yah baru dia ngetak salah. Berapa, jadi kalau dia dekat bisa sehari, kalau dia tidak jauh 2 hari, kalau dia betul-betul jauh 3 hari . Ngatak salah itu mengakui kesalahan. Pakai kambing, pakai beras sedikit-sedikit, pakai gula dan lain sebagainya pakai syaratnya. Datanglah utusan dari sang pria, menghadap sang ibu bapaknya sang gadis. Intinya dia mohon maaf mengatakan kehilangan keluarga disini sudah mantap di tangan si A, mengatakan bahwa tidak ada, tidak ada kalau bahasa Lampunya cacat bekhita.

Tidak ada cacat berita, tidak ada luka, tidak ada apa ya. Dia sudah ada mantep dirumah kediaman kalau bahasanya dijinganan

umpamanya Sultan raja turunan jadi anak mantu Sultan Raja Turunan kata utusan itu tadi. Sudah itu yah sudah menentukan waktu anjaw sabai. Pas ngantak salah, ditentuin, Menetukan waktu Anjau Sabai, Anjau sabai apa anjau mengian, kalau sudah ditentukan waktunya, si sabainya datang bersama mengian-mengian yang bersangkutan. Tapi kalau dulu kadang-kadang yang mengian-nya ditinggalkan dulu tidak bareng. Maksudnya apa duduk di luar dulu sudah itu diizinkan minta izin supaya mengian-nya di masukkan.

Dulu malah ada yang tinggal mengian-nya nginap. Mijat begini, kalau sekarang tidak jaman saya lagi. Jadi mertuanya di pijat, iya calon mertuanya. Ayut-ayut namanya. Nah pertemuan keluarga yang namanya anjau sabai itu pertemuan keluarga. Anjau mengian anjau sabai anjau mengian. Baru juga waktu sujud. Nah didalam itukan didalam gnetak salah itu, ada yang masih minta uang ada yang tidak.

Tapi kebanyakan minta uang walaupun cuma sekedar formalitas.

Uang ini ya uang adat. Uang adat pasti. Cuman ada juga yang diluar adat.

Uang kiluan (uang mintaan) dari pihak yang laki-laki ngajak pihak yang perempuan ya. Uang kiluwan dari yang perempuan. Nah kalau sudah sepakat, kalau sudah minta uang atau tidak. Na dia sudah merencanakan jadwal waktu sujud. Nah sujud itu kalau yang mampu sesuai kesepakatan ya pakai sapi. Satu namanya inta tekhang, tapi juga kebetulan. Kebetulankan sebambangan. Pake sapi ada yang pake kambing yang sujud itu, tergantungkan dengan kesepakatan dan kemampuan ala kadarnya. Nah itu, setelah sujud keputusan dari sang pria tau mengian sudah langsung ngundang keluarga besar pihak calon mempelai perempuan, untuk pelaksanaan ijab dan qabulnya untuk menentukan hari ini hari ini hari ini, tanggal ini, tanggal ini, tanggal ini gitu.

Menentukan tanggal pernikahannya, pas bagian sujud. Itu sudah ngundang. Sehingga pertemuan kedua itu manjau sabai. Anjau sabai itu sekalian nentuin sujudnya kapan dan nentuin nikahnya kapan? Kadan-kadang belum. Kalau dia pas dia ini ada salah dia minta uang belum ada, itu dalam prosesnya itu tidak juga. Kalau dia minta uang itukan, kami minta uang kalau udah ditinggalkan 20 jt,

minta lagi umpamanya 20 jt. Uangnya belum ada. Belum ada yaitu belum bisa nentukan waktu. Tidak bisa ditentukan waktu untuk acara besujud. Belum bisa karena sujud itu harus sudah deal. Kalau sudah sujud berarti sudah deal. Deal ini waktunya. Artinya segala permintaannya sudah tercukupi minta uang, daging sapi itu sudah tercukupi. Baru pelaksaan sujud itu bisa di laksanakan. Kalau misalnya pihak perempuan inikan minta itu, minta itu, minta itu, tapi kalo yang diminta itu belum di kasih, belum lanjut sujud. Kan kesimpulannya gini, kadang-kadang itu bisa dibicarakan dengan mufakat dimana kalua tidak mampu misalnya 20 juta maka dirundingkan mampunya 10juta saja maka kalua setuju, maka pernikahan dilangsungkan.

Kalau belum deal belum, ya boleh musyawarah mufakat.

Kalau dia deal walaupun permintaannya 20, ada cuma 5 saling setuju maka lanjut. Tapi kalau dia bertahan ya lama juga ini prosesnya.

Lama juga. Ya harus siapkan itu sesuai itu, tapi perempuan itukan masih udah dirumah gitu itu masalahnya. Tapi namanya kemajuan, sudah kemajuan, namun orang dulu ya dikemajuan itu ada juga yang tidak bagus. Tidak bagusnya semua permintaan tidak ada. Kawin hukum namanya nikah hukum dikasih surat. Misalnya, karena gimana mau ngadakan kalau uang 20 juta kalau diakan tidak ada umpama ini sang bapak mertuanya itu semata-mata. Udah gimana lagi mau ngusahain tidak bisa lagi. Tidak bisa lagi, ya udah besan kami ini nyerah. Kami minta suratnya. Ya kalau nikah pasti nikah tapi bahasanya tidak ada ninggam-nya. Kadang-kadang juga begini ya kalau dulu ada yang sujud tapi tidak ninggam. Tapi ini jarang ya, yang diadakannya uang permintaan waktu dia sujud karena dia sujud itu berarti bagus tetapi dia itu cuma motong-motong ayam misalnya motong ayam. Tapi dia tidak ngundanglah kira-kira begitu, kemudian baru sujud. Sujud itu biasanya kan kalau sujud ini walaupun belum ada permintaannya pelaksanaan sujud tidak apa.

Kalau ada diantarkan permintaannya sesuai dengan kesepakatan minta misalnya uang 10 jt diadakan hanya 5jt deal atau disetujui, maka udah jadi. Diantarkan, langsung merencanakan nikah. Waktu anjau sabai yang bisa itu kalau sujud itu pasti sudah ada.

Dalam dokumen BAHUGA dalam tradisi Lampung (Halaman 158-187)