Bab 2 KOMPONEN KURIKULUM
C. Proses Belajar Mengajar/Organisasi Kurikulum
pengetahuan, proses, dan nilai-nilai. Sedangkan orientasi materi tersebut juga ada tiga, yaitu mata pelajaran, kegiatan belajar, dan pengalaman belajar.
Pada umumnya pakar di bidang kurikulum sepakat bahwa yang menjadi isi kurikulum adalah pengetahuan (fakta, penjelasan, prinsip, dan definisi), keterampilan dan proses (membaca, menulis, berhitung, menari, berpikir kritis dan membuat keputusan, berkomunikasi), nilai (percaya akan baik dan buruk, benar dan salah, indah dan jelek).
Urutan isi kurikulum terdapat empat macam, yaitu; simple to Complex (dari sederhana ke yang sulit), prerequisite learning (urutan pengetahuannya sistematis), whole-to-part (umum ke khusus) dan kronologis. Sedangkan memilih isi kurikulum ada empat, yaitu; signifikansi (kepentingannya), pemanfaatan, minat, dan perkembangan manusia.
lapangan, atau penguatan tentang konsep atau keterampilan tertentu.
1. Ruang Lingkup
Karena banyaknya informasi dan pengetahuan yang muncul sehingga tidak semuanya harus diajarkan kepada pebelajar atau mereka harus mempelajarinya secara keseluruhan mengingat keterbatasan waktu, tenaga, dana dan lain sebagainya. Schubert (1986) mengajukan lima macam ruang lingkup, yaitu; mata pelajaran, bidang yang luas, proyek, kurikulum inti (core curriculum), dan integrasi.
a. Mata Pelajaran
Ruang lingkup berdasarkan mata pelajaran yang terpisah-pisah sudah sangat lumrah didapat pada setiap kurikulum sekolah di mana-mana. Beberapa mata pelajaran tertentu dipilih berdasarkan anggapan bahwa mata pelajaran tersebut berguna dan relevan untuk dipelajari oleh pebelajar. Sedangkan mata pelajaran lainnya yang dianggap tidak perlu dikesampingkan. Umpamanya, hampir semua kurikulum mencantumkan bahasa, sains, dan matematika; akan tetapi mata pelajaran pendukung lainnya juga sama pentingnya untuk saling mengisi dan dimasukkan ke dalam kurikulum tertentu.
b. Bidang Yang Luas
Banyak pakar kurikulum yang mengkritik tentang mata pelajaran yang terpisah-pisah seperti yang disebutkan di atas, sehingga beberapa ahli kurikulum menyatukan beberapa mata pelajaran atau disiplin ilmu menjadi satu mata bidang studi yang lebih luas. Seperti menyatukan matematika dengan sains menjadi ilmu pengetahuan alam (IPA) atau ilmu pengetahuan sosial (IPS) sebagai gabungan beberapa mata pelajaran di bidang ilmu- ilmu sosial.
Para pendukung penggabungan ini mengemukakan bahwa kita harus mengajarkan kepada pebelajar saling keterkaitan antar dan antara bidang -bidang ilmu yang saling berkaitan dan berdekatan.
c. Proyek
Metode proyek yang dikembangkan Kilpatrik dalam Schulbert (1986) melibatkan para pebelajar atau peserta didik untuk melakukan suatu proyek yang penyelesaiannya memerlukan pengetahuan dan mencakup banyak bidang studi atau disiplin ilmu. Menurut konsep ini, proyek tersebut ditentukan oleh para pebelajar atau peserta didik, walaupun pada prakteknya seringkali proyek yang akan dilakukan para pebelajar atau peserta didik ini ditentukan oleh guru.
Metode proyek ini menanamkan dan memberikan pengertian dan pemahaman kepada para peserta didik bahwa diperlukan perspektif ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas untuk dapat memahami suatu masalah yang terdapat dalam kultur, masyarakat, kehidupan pribadi, atau masalah-masalah yang yang berkaitan dengan aspek intelektualitas.
d. Kurikulum Inti (core curriculum)
Kurikulum inti yang diajukan oleh Alberty, Faunce dan Bassing (dalam Schubert, 1986) menyatakan beberapa disiplin ilmu bersama- sama dalam satu kesatuannya yang biasanya mengenai masalah sosial.
Umpamanya, permasalahan seperti peperangan dan perdamaian, kelaparan, peledakan penduduk, kemiskinan dapat dipelajari dengan membimbing para pebelajar melaksanakan riset sehingga mereka memperoleh pengertian yang cukup dalam dari berbagai disiplin ilmu atau dari pengalaman praktis mereka di masyarakat.
Kegiatan belajar melalui kurikulum inti ini dapat mendorong pebelajar untuk mempelajari masalah-masalah besar dan luas yang menarik untuk dikaji bersama, sehingga dapat pula melihat saling keterkaitan yang lebih dalam mengenai masalah tersebut dari pada hanya mempelajarinya dari satu segi saja. Kurikulum inti biasanya ditawarkan pada siswa sekolah menengah, baik tingkat pertama maupun tingkat atas, sedangkan proyek biasanya ditawarkan di sekolah dasar. Kurikulum inti ini sama dengan sejumlah mata pelajaran tertentu yang harus diambil semua anak sebelum mereka dibolehkan untuk mengambil mata pelajaran pilihan.
e. Integrasi
Seorang atau sekelompok peserta didik menetapkan ruang lingkup studinya secara bersama-sama atau secara individual, mereka mengeksplorasi arah studi mereka dalam suatu proses yang didasarkan atas pertumbuhan dan perkembangan individual personal dan sosial mereka.
Pendukung kurikulum inti menyatakan bahwa kurikulum ini memungkinkan anak didik menyadari dan memahami kemampuan mereka sendiri dan menyadari kemampuan mereka mengendalikan hidup mereka sendiri serta memiliki pengalaman untuk bertanggung jawab bagi pendidikan mereka sendiri.
Urut-urutan metode kurikulum adalah dengan cara seperti berikut ini: mengikuti teks, berdasarkan pilihan guru, berdasarkan disiplin urutan ilmu, atas minat atau perhatian peserta didik, berdasarkan hirarki belajar (dari yang mudah ke yang sulit), serta berdasarkan perkembangan (sesuai tingkat kematangan anak).
2. Unsur Organisasi Kurikulum
Unsur-unsur organisasi kurikulum meliputi:
Konsep: metode kurikulum dikembangkan berdasarkan konsep
• tertentu seperti kebudayaan, pertumbuhan, ruang lingkup, evaluasi dan lain-lain.
Generalisasi: kesimpulan yang diambil ilmuan berdasarkan
• observasi yang mendalam.
Keterampilan: biasanya merupakan suatu keahlian psikomotoris
• atau kemampuan yang direncanakan untuk dimiliki anak didik menurut kurikulum bagi kelangsungan proses belajarnya.
Nilai: nilai agama dan nilai filsafat, nilai filsafat di masyarakat
• agar dapat hidup dengan baik dan dapat diterima oleh masyarakat seperti menghargai hakekat kemanusiaan setiap orang tanpa membedakan suku, ras, bangsa, agama, pangkat, penghasilan atau latar belakang lainnya. Kalau kurikulum disepakati
yang berhubungan dengan nilai-nilai, sebagian besar kegiatan dan pengalaman belajar diatur sedemikian rupa agar nilai-nilai itu dihayati dan dimiliki anak didik.