BAB V PENDIDIKAN DAN MOBILITAS SOSIAL DALAM MASYARAKAT
A. R EALITAS P ENDIDIKAN DI I NDONESIA S AAT INI
endidikan di Indonesia, sebagaimana juga terjadi di negara- negara lain pada umumnya, mengalami perubahan yang amat mendasar. Seperti dikatakan Dikens (dalam Lie, dkk.
2014:14) bahwa ’this the best of time and the worst of time’’ (ini adalah masa yang paling baik sekaligus paling buruk). Artinya, di era ini ada banyak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat dinikmati dalam konteks pendidikan, namun sebaliknya kemajuan yang dicapai tersebut sekaligus juga dibarengi dengan kemerosotan bidang pendidikan dalam beberapa hal. Untuk memahami realitas tersebut pendidikan dapat dilihat dari tiga dimensi, yakni pendidikan sebagai bagian dari dimensi kultural, struktural, dan ekonomis.
Dimensi kultural mengandung arti bahwa kesadaran publik sangat berperan bagi tumbuhnya pendidikan yang bermutu. Dalam konteks negara Kesatuan Republik Indonesia, kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam memajukan dunia pendidikan telah terlihat dari era sebelum kemerdekaan bangsa Indonesia diproklamirkan. Hal ini terbukti sejak zaman prakolonial masyarakat telah ikut aktif mendirikan sekolah-sekolah yang nantinya dapat dijadikan arena untuk membentuk dan mengkaderisasi calon-calon pemimpin
P
Jika dilacak dari akar sejarahnya, Jawa Barat sejak abad ke-5 sebenarnya telah berhasil keluar dari abad kegelapan. Sebagai bukti bahwa di Jawa Barat, khususnya di daerah Tanjung Priuk, yakni tepatnya di tepi Sungai Citarum dekat Bekasi dan Bogor ditemukan batu bertulis yang menerangkan tentang kerajaan Taruman Negara dan Rajanya Purnawarman. Batu bertulis tersebut diperkirakan telah ada sejak abad ke-5, meskipun tidak banyak memberi keterangan tentang keberadaan kerajaan Tarumanegara, tetapi setidaknya batu tersebut dapat dijadikan dasar untuk merekonstruksi perkembangan kerajaan di Indonesia, khususnya di tanah Jawa (Barnadib, 1983a:4).
Adanya bukti sejarah berupa batu bertulis yang ditemukan di daerah Bekasi dan Bogor, sebagaimana dijelaskan di atas, membuktikan bahwa sejak abad ke-5 sebenarnya bangsa Indonesia sudah mulai mengenal pendidikan yang selanjutnya menjadi benih dari tumbuhnya berbagai bentuk dan model pendidikan di Indonesia. Dasar-dasar pengembangan pendidikan yang telah dimulai sejak abad ke-5 oleh kerajaan Taruman Negara ini, pada dimensi kultural tampaknya berlanjut sampai pada jaman pemerintahan kolonial. Hal ini terlihat dari sekolah-sekolah yang berbasis masyarakat pada masa itu telah banyak berperan mendidik anak-anak muda (generasi penerus bangsa) agar kelak menjadi anak- anak yang cerdas dan mampu memperjuangkan hak kemerdekaan bangsa ini. Menurut catatan sejarah banyak sekolah berbasis pesantren, madrasah, taman siswa, sekolah-sekolah Kristen, dan Katolik telah menjadi tempat persemaian para pemikir, calon pemimpin dan pejuang kemerdekaan Indonesia.
Menurut Lie, dkk., (2014:15) selama penjajahan Belanda dan Jepang sekolah-sekolah berbasis masyarakat banyak berperan dalam pembentukan wawasan kebangsaan kepada para generasi muda yang
belajar di sekolah-sekolah bersangkutan. Jejak-jejak sejarah pendidikan yang bebasis pada masyarakat, sampai saat ini pun masih tampak dari peran yang dimainkan oleh sekolah-sekolah swasta yang ikut dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Kemudian pada dimensi struktural, peran serta negara (baca:pemerintah) dalam bidang pendidikan mulai tampak secara nyata sejak pemerintahan India Belanda. Namun, prinsip dasar dari penyelenggaraan pendidikan pada saat itu bukan untuk kemajuan pemerintah Indonesia, akan tetapi semuanya diperuntukan bagi kepentingan pemerintah kolonial Belanda. Di mana pada saat itu pemerintah Kolonial Belanda ingin mendapatkan tenaga terdidik untuk dipekerjaan di pabrik-pabrik perusahaan milik pemerintah kolonial agar bisa dibayar dengan upah yang sangat murah. Sebab jika membawa tenaga kerja dari negaranya tentu membutuhkan bayaran yang sangat mahal. Sementara di sisi lain pada abad ke-18 kawasan Eropa sedang dilanda oleh pemikiran aufklarung atau enlighstemen (era pencerahan), yang menekankan penggunaan akal sehat dan kemerdekaan pribadi tampaknya ikut juga mempengaruhi ideologi pendidikan di Indonesia saat itu. Hal demikian akhirnya ikut mendorong pesetanya perkembangan pendidikan di Indonesia.
Selain, dimensi kultural dan struktural sebagaimana disinggung pada uraian di atas, di era berkembangnya paham modernisme dan globalisasi, pendidikan lambat laun juga terimbas oleh dimensi ekonomi, yakni ekonomi pasar. Dengan kekuatan ekonomi dan dipacu oleh perkembangan teknologi komunikasi yang semakin canggih, era globalisasi telah mampu menciptakan hubungan antarindividu dan antarinstitusi di seluruh dunia menjadi semakin intensif. Antony Giddens, seorang Sosiolog modern sebagaimana dikutif Lie, dkk., (2014:18) menegaskan bahwa globalisasi sebagai intensifikasi relasi sosial di seluruh dunia, telah
menghubungkan lokalitas-lokalitas berjauhan, sehingga berakibat kejadian yang terjadi di suatu tempat tertentu akan dibentuk oleh pristiwa yang terjadi di belahan dunia yang lain. Artinya, proses globalisasi sering digunakan untuk menggambarkan penyebaran dan keterkaitan antara produksi, komunikasi, dan teknologi di seluruh dunia, sehingga hal tersebut dapat berimplikasi terhadap pengembangan pendidikan, dalam arti globalisasi dapat berimplikasi bagi menguatnya dimensi ekonomi dari proses pengembangan pendidikan.
Dengan demikian tidak berlebihan, jika Suda (2009) menulis sebuah buku yang berjudul ’’Merkantilisme Pengetahuan dalam bidang Pendidikan’’. Di dalam bukunya setebal 356 halaman tersebut, Suda menyatakan bahwa globalisasi ditandai dengan berbagai bentuk perluasan dan integrasi pasar, baik yang terjadi di negara-negara berkembang maupun di negara-negara maju. Akibatnya, wilayah- wilayah geografis dan kebudayaan yang sebelum globalisasi bersifat subsisten, setelah memasuki era globalisasi berubah menjadi berorientasi pasar. Dampak sosiologis dari ekspansi pasar adalah munculnya perilaku konsumtif di berbagai kategori usia, lapisan, dan kelompok masyarakat dan tidak terkecuali kelompok anak-anak usia sekolah (Suda, 2009:110—111).
Dampak lain yang ditimbulkan oleh adanya perluasan pasar adalah munculnya berbagai pusat perbelanjaan, mulai dari minimarket, supermarket, sampai hypermarket yang berdiri di setiap sudut perkotaan, bahkan sampai keplosok-plosok pedesaan.
Dengan demikian tidak mengherankan jika sebagian besar masyarakat kemudian mengalami apa yang disebut shopacholic, artinya masyarakat menderita penyakit ’’gila berbelanja’’. Seperti dimuat
Harian Kompas, 16 Januari (2005:16) yang mengatakan sebagai berikut.
Istilah shopacholic alias gila berbelanja biasanya melekat pada mereka yang tak mampu hidup tanpa berbelanja.
Gagasan menjalani hidup tanpa berbelanja adalah sesuatu yang sangat mengerikan bagi mereka. Bagi kaum seperti ini, berbelanja bukan sekadar gaya hidup, melainkan sudah menjadi belahan jiwa. Buat mereka tidak ritual yang paling mengasyikan yang bisa mengalahkan saat-saat berbelanja (Harian Kompas, 16 Januari 2005).
Sifat shopacholic semacam ini sangat sulit dihindari oleh seluruh lapisan masyarakat dewasa ini, termasuk masyarakat sekolah.
Akibatnya dimensi ekonomis dari lembaga pendidikan menjadi semakin menguat. Hal ini tentu berimplikasi pula terhadap mahalnya biaya pendidikan yang harus ditanggung oleh masyarakat ketika, mereka mau menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tiggi. Namun, perlu disadari bahwa mahalnya biaya pendidikan di era globalisasi ini, tidak semata-mata disebabkan karena keinginan pihak manajemen sekolah, akan tetapi juga dikondisikan oleh orang tua siswa. Hal ini terlihat dari antosias orang tua siswa untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah-sekolah yang berlabel sekolah favorit, sekolah unggulan, dan sekolah yang bertaraf internasional sangat tinggi, meski pun mereka harus membayar dengan harga yang sangat mahal. Hal ini bisa terjadi karena banyak orang tua yang memaknai pendidikan tidak hanya berdasarkan nilai utilitas, akan tetapi juga memaknai sekolah dari segi nilai simbolik.
Artinya, orang tua menyekolahkan anak-anak-anaknya ke
pendidikan yang berkualitas bagi putera-puteri mereka, akan tetapi juga dimaksudkan untuk menentukan simbol status sosialnya dalam masyarakat. Atau dengan bahasa lainnya dapat dikatakan bahwa pilihan orang tua untuk menyekolahkan putera-puterinya ke sekolah-sekolah yang berlabel favorit, unggulan, dan sekolah bertaraf internasional tidak dapat dilepaskan dari persoalan citra dan gaya hidup. Sekolah favorit adalah citra (objek) yang berfungsi sebagai juru bicara gaya hidup, baik dalam konteks identitas diri, maupun status sosial. Menurut Piliang (2004) gaya hidup harus dipertontonkan di ruang publik agar diketahui oleh orang lain.
Gagasan ini, sejalan dengan anutan budaya tontonan yang bercirikan pada aneka aktivitas kepenontonan.
B. Kekerasan yang Terjadi dalam Dunia Pendidikan