BAB VI STRUKTUR SOSIAL SEKOLAH, TUJUAN, PERAN DAN
B. T UJUAN D IBENTUKNYA S TRUKTUR S OSIAL S EKOLAH
B. Tujuan Dibentuknya Struktur Sosial Sekolah
pesuruh sekolah melalui kewenanganya untuk memberikan instruksi atau perintah kepada bawahanya. Demikian sebaliknya, wakil kepala sekolah, guru, TU, dan pesuruh sekolah wajib mematuhi instruksi kepala sekolah, dan begitu seterusnya. Namun, cara dan mekanisme seseorang membawakan peranannya berbeda antara satu orang dengan orang lainya tergantung seninya masing-masing. Seni yang dimaksud dalam konteks kepemimpinan adalah lebih mengarah pada suatu ’’nilai seni’’ yang memandang bahwa kesenian adalah sesuatu yang berharga dalam kehidupan manusia. Hal ini mengandung arti bahwa seseorang yang menjunjung tinggi nilai seni, maka orang bersangkutan memiliki kecenderungan yang lebih tinggi pula untuk berinteraksi atau berhubungan dengan orang lain. Sebab secara teori orang-orang seperti itu, lebih suka menghadapi keadaan sekitar melalui ekspresi diri dan menghindari keadaan yang bersifat interpersonal. Jadi, secara singkat dapat ditegaskan bahwa sifat-sifat manusia seni adalah hidup bersahaja, senang dengan keindahan, gemar mencipta, dan mudah bergaul dengan siapa saja (Suda, 2006:167—168).
Selain karena seni dan karakter yang dimiliki seorang pemimpin dapat membedakan perannya dalam sebuah organisasi, kondisi dan kultur yang dianut masyarakat di mana organisasi itu berada juga ikut berpengaruh. Misalnya, masyarakat Indonesia yang masih bersifat feodal di mana peran pemimpin masih sangat menentukan, maka peran kepala sekolah sebagai pemimpin pun masih sangat menentukan jalannya roda kehidupan organisasi sekolah (Tilaar, 2009:21). Dengan mengacu pada uraian di atas, dapat dibangun sebuah kerangka pemikiran bahwa peran dan kedudukan seseorang dalam sebuah organisasi, ternyata dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti faktor karakter (kepribadian) orang bersangkutan, faktor seni kepemimpinan yang dimiliki, dan budaya
yang tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat di mana organisasi sekolah itu berada.
Namun, perlu ditegaskan dalam uraian ini bahwa apa pun faktor yang mempengaruhi peran dan kedudukan seseorang dalam sebuah organisasi, yang jelas tujuan dibentuknya struktur sosial di lingkungan sekolah adalah untuk menegakan dan memperkuat keberadaan sekolah itu sendiri sebagai sebuah organisasi. Dikatakan demikian sebab dengan adanya struktur sosial di lingkungan sekolah, membuat tugas dan kewenangan setiap organ yang membentuk struktur itu menjadi jelas. Misalnya, kedudukan seseorang sebagai guru, maka kewajibannya adalah mendidik para siswa agar tumbuh dan berkembang menjadi insan yang cerdas dan berbudi pakerti luhur, serta berhak untuk memberikan instruksi kepada para siswa untuk belajar dan mengerjakan tugas-tugas dengan baik. Apabila ada peserta didik yang menolak atau tidak mengindahkan instruksi tersebut, maka guru berhak memberikan hukuman atau fanishment, agar mereka tidak mengulangi perbuatanya. Sebaliknya, bagi siswa yang bisa mengerjakan tugas dengan baik dan cepat guru juga berhak memberikan riward, sehingga ada keinginan bagi siswa bersangkutan untuk mengulangi perbuatan yang baik tersebut. Hal ini sangat terkait dengan pembentukan karakter para siswa di sekolah agar menjadi anak yang baik dan berkepribadian.
Berbicara pembangunan karakter (caracter bulding) memang selalu menawarkan diskusi menarik, terutama dalam diskursus modernitas. Modernisasi sebagai sebuah arus kebudayaan di dalamnya tidak dapat dilepaskan dari perkembangan prinsip-prinsip individualisme, pragmatisme, dan hedonisme. Individualisme mengandung arti manusia tidak lagi memahami dirinya dalam konteks diri komunal, melainkan dalam konteks diri individualistik.
Atau dalam bahasa lainnya, manusia tidak melihat masyarakat atau komunitas sebagai yang utama, dengan individu sebagai produknya, melainkan mayarakat hanya dianggap sebagai kumpulan individu- individu bebas yang secara sukarela bergabung untuk mencapai tujuan tertentu. Sejalan dengan hal tersebut, maka terjadilah pergeseran komunitas gemeinchaft menjadi masyarakat agregatif/gesellschaft (Atmadja, 2010:85). Selanjutnya, pragmatisme merupakan aliran filsafat yang mementingkan hal-hal yang besifat praktis (practicality), dan kerja keras yang kriteria utamanya adalah sukses finansial (Dewey, 2001:23—28). Sedangkan sifat hedonisme bagi masyarakat luas sering dikaitkan dengan sifat boros, suka menghambur-hamburkan uang, dan hanya berpikir tentang kebahagiaan duniawi. Untuk menghindari jangan sampai masyarakat sekolah terlalu jauh terjebak pada hal-hal yang bersifat individualis, pragmatis, dan hedonis, maka peran masing-masing organ yang membentuk struktur sekolah itu menjadi sangat penting. Dalam praktiknya peran masing-masing organ dapat saling mempengaruhi satu sama lainnya.
Berangkat dari uraian tersebut, dapat ditegaskan bahwa kedudukan dan peranan setiap organ dalam sebuah struktur sosial, selalu memiliki dimensi timbal balik. Misalnya, guru hanya bisa menjalankan perannya dengan baik, yakni menyuruh para siswanya agar rajin belajar dan mengerjakan tugas dengan baik, bila para siswanya mau mengikuti suruhan guru tersebut. Sebaliknya, bila para siswa tidak mengindahkan istruksi yang diberikan oleh guru kepadapnya, maka peran dan kedudukan guru tidak akan bermakna apa-apa. Artinya, dengan peran dan kedudukannya tesebut, guru berhak memeritah para siswanya untuk belajar dan mengerjakan tugas dengan baik, dan sebagai timbal baliknya para siswa berkewajiban untuk mematuhi perintah dan instruksi yang diberikan
oleh guru bersangkutan. Dengan mengacu pada urian tersebut dapat ditegaskan bahwa peranan adalah serangkaian hak dan kewajiban yang bersifat timbal balik dalam hubungan antarindividu. Dalam arti hak adalah kewenangan yang diberikan untuk melakukan sebuah tindakan yang kemudian minimbulkan kewajiban bagi pihak lain yang menjadi objek bagi perlakukan hak itu sendiri.
Kedudukan seseorang dalam struktur sosial sekolah umumnya diperoleh oleh seseorang kerena usahanya sendiri melalui kualifikasi pendidikan. Arinya, seseorang yang karena kualifikasi pendidikannya mereka dipandang cakap untuk menduduki sebuah kedudukan tertentu, mereka bisa meraihnya. Berbeda dengan kedudukan dalam struktur sosial yang berlaku dalam masyarakat umum. Dalam struktur sosial yang ada dalam masyarakat umum, sebuah kedudukan tidak selalu bisa didapati melalui kualifikasi pendidikan. Misalnya, untuk bisa menjadi raja dalam sebuah pemerintahan yang berbentuk kerajaan tidak bisa diraih melalui kualifikasi pendidikan. Sebab kedudukan sebagai raja harus diperoleh melalui keturunan atau kelahiran. Hanya mereka yang lahir di lingkungan istana kerajaan saja yang bisa mendapatkan kedudukan sebagai raja. Sementara orang-orang kebanyakan dalam arti yang lahir di luar garis keturunan raja tidak akan mungkin bisa menempati kedudukan sebagai raja.
Akan tetapi tidak demikian halnya dalam struktur sosial masyarakat modern, di dalam masyarakat modern tidak ada demarkasi yang jelas untuk membedakan kedudukan seseorang dalam masyarakat berdasarkan kelas. Artinya, posisi sosial dalam kehidupan masyarakat modern tidak didasarkan atas keturunan nenek moyangnya atau leluhurnya, melainkan ditentukan atas dasar prestasi kerja. Oleh karena itu dalam masyarakat modern setiap
individu dididik untuk bekerja dengan otak dan dengan fisik secara serentak, sehingga kehidupan intelektual dan kehidupan praktis dapat saling mengisi satu sama lain.
C. Kedudukan dan Peran Kepala Sekolah dalam