• Tidak ada hasil yang ditemukan

Reformasi Pemerintahan dan Pembangunan

Dalam dokumen Dr, Budi Rianto, Drs. M.Si | i (Halaman 32-38)

BAB II STUDI PUSTAKA

2.3. Reformasi Pemerintahan dan Pembangunan

Gelombang demokratisasi dan transparansi yang melanda berbagai pemerintahan di dunia, khususnya di berbagai negara berkembang substansinya adalah tuntutan akan pelayanan masyarakat sebaik-baiknya dari birokrasi pemerintah. Keluhan masyarakat atas pelayanan yang diberikan oleh aparatur pemerintah, khususnya birokrasi garis depan, perlu dicermati dan

diupayakan jalan keluarnya supaya kepentingan dan kebutuhan masyarakat terlindungi dan terpuaskan.

Berbagai pemikiran tentang perbaikan pemerintahan untuk dapat melayani masyarakat tersebut misalnya Reinventing Government (Osborne), Banishing Birokrasi(Osborne & Platrik), Creating A Government That Work Better & Cost Less (Al Gore) dll. Menunjukkan bahwa tuntutan realisasi pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat tersebut, telah menjadi tidak dapat ditunda lagi untuk menjadi perhatian utama, seiring dengan perkembangan demokratisasi dan transparansi pemerintahan di berbagai belahan bumi ini.

Reformasi di Indonesia sebagai akumulasi tuntutan tentang perbaikan kinerja birokrasi tersebut kiranya di sebabkan oleh hal- hal sebagai berikut:

1. Derasnya tuntutan agar pemerintah mampu menciptakan adanya pemerintahan yang bersih, bertanggungjawab, professional dan bebas KKN.

2. Semakin tajamnya kritik masyarakat terhadap mutu pelayanan publik yang dirasakan masyarakat semakin merosot.

3. Kuatnya tuntutan agar aparat pelayanan lebih mampu bekerja keras, lebih produktif, lebih jujur walaupun hanya dimodali dengan sarana-prasarana kerja yang terbatas.

4. Keinginan yang kuat agar aparat pelayanan bekerja lebih professional, dalam arti bahwa mereka tidak hanya diminta untuk dapat bekerja demi tercapainya tujuan secara efektif, efisien, dan ekonomis tetapi juga bekerja lebih bertanggung jawab, adil dan jujur dalam melayani kepentingan masyarakat..

5. Tuntutan agar aparat pelayanan memperhatikan dengan sungguh-sungguh kebutuhan, keinginan, aspirasi masyarakat dan sejauh mungkin bisa memenuhinya.

Upaya perbaikan tersebut Di Jawa Timur, misalnya: seperti yang tertuang dalam “Instruksi Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Timur no. 12 / 1998 tentang Perbaikan dan Peningkatan Mutu Pelayanan Aparatur Pemerintah Kepada Masyarakat”; antara lain menegaskan bahwa mutu pelayanan aparatur pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat masih perlu terus diperbaiki dan ditingkatkan.

Dari aspek manajemen pelayanan public, otonomi daerah yang di titik beratkan di tingkat Kabupaten dan Kota, sesuai dengan

UU no. 22 tahun 1999 sebenarnya memiliki dimensi yang strategis.

Karena pemerintah di tingkat Kabupaten/kota, merupakan pemerintahan yang langsung berhadapan dengan rakyat, yang merupakan focal point pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan di Indonesia. Hendaknya berbagai unsur organisasi pelayanan publik, ada di tingkat birokrasi pemerintahan daerah ini, karena hal ini akan lebih memudahkan masyarakat dalam memperoleh pelayanan dari pemerintah. Khususnya yang menyangkut penyediaan sarana dan prasarana yang terkait dengan kebutuhan masyarakat bersama di daerah setempat .

Namun demikian hal yang tidak boleh ditinggalkan seiring dengan perbaikan pemerintahan dan pelayanan publik di lingkungan birokrasi pemerintah tersebut adalah bahwa: daerah selama 32 tahun pemerintahan orde baru, mengalami ketinggalan yang jauh dengan daerah perkotaan. Pemerintahan dan pembangunan yang sentralistik yang dikembangkan oleh pemerintah orde baru telah menimbulkan perbedaan kemajuan dan kesejahteraan rakyat yang sangat timpang antara masyarakat perkotaan dan masyarakat daerah pedesaan, termasuk pembangunan berbagai infratruktur masyarakat pada umumnya.

Setelah keberhasilan reformasi ini, serta diundangkannya UU no. 22 tahun 1999, maka hal paling urgen untuk segera dilakukan adalah mengurangi perbedaan yang mencolok antara pemerintah pusat dan daerah. Revitalisasi Manajemen Pembangunan di daerah untuk mengejar ketinggalan pemerintah daerah terhadap pemerintah pusat, akan memiliki makna yang sangat strategis bagi kepentingan misalnya:

1. penyebaran penduduk,

2. peningkatan sumber daya manusia di daerah, 3. pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, serta, 4. peningkatan penyerapan tenaga kerja di daerah dan lain-

lain.

Konsep tentang peletakan otonomi dititik beratkan di Kabupaten/Kota, telah melalui proses yang panjang, ketika di jaman Orde Baru Undang-undang Nomor 5 tahun 1974 dianggap masih kurang efektif untuk membangun pemerintahan daerah yang baik dan dapat merespon perkembangan masyarakat di era Globalisasi, dan persaingan bebas dunia. Mendagri Rudini saat itu, mengusulkan kemungkinan dihapusnya DPRD Tingkat I.dan otonomi diletakkan di Dati II saja. Senada dengan usulan tersebut,

Prof. Selosumardjan telah pula mengusulkan : ”agar propinsi hanya menjadi wilayah administratif, bukan daerah otonom. Dengan demikian, DPRD Tingkat I perlu dihapuskan dan otonomi diletakkan di daerah tingkat II, serta desa agar dijadikan daerah otonom” (BR. Soedarsono, Surya, 1990). Pemikiran tersebut kiranya sangat beralasan karena Kabupaten/Kota merupakan

“focal point” atau muara terdepan berbagai macam pelaksanaan pembangunan dan pemerintahan yang paling dekat dengan rakyat, maksudnya tidak ada satupun pembangunan di Indonesia ini yang tidak dilaksanakan di Kabupaten/Kota.

Bentuk-bentuk negara modern terpenting dewasa ini adalah negara serikat (federal state) dan negara kesatuan (Unitary state).

Negara kesatuan adalah suatu bentuk negara dimana wewenang legislatif tertinggi dipusatkan pada suatu badan legislatif nasional di pusat. Secara teoritis negara kesatuan ini merupakan bentuk negara yang kokoh dibanding negara serikat.

Dalam negara kesatuan terdapat dua cara penyelenggaraan urusan-urusan pemerintahan. Pertama, penyelenggaraan semua urusan pemerintahan ditangani langsung oleh pemerintah pusat, disebut sistem sentralisasi. Kedua, sistem desentralisasi, dimana

wilayah negara dibagi dalam daerah-daerah yang diberi hak dan kewenangan mengatur rumah tangga sendiri sesuai peraturan perundang-undangan, artinya daerah itu otonom.

Indonesia sebagai negara pluralis, dengan wilayah yang luas, ditinjau dari segi administratif, penyelenggaraan urusan- urusan pemerintahan dengan azas desentralisasi jelas akan lebih efisien dan efektif dibandingkan dengan sistem sentralisasi. Dengan penyelenggaraan urusan pemerintahan yang desentralistis tersebut, konsekwensinya adalah dengan membentuk daerah-daerah yang otonom.

2.4.Dari Pembangunan Masyarakat sampai ke Pemberdayaan

Dalam dokumen Dr, Budi Rianto, Drs. M.Si | i (Halaman 32-38)