• Tidak ada hasil yang ditemukan

39 اهسفن ة�رمل� جوزت�ل و ة�رمل� جوزت �ل

4. Saksi

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama’ tentang kedudukan saksi dalam pernikahan, apakah termasuk rukun ataukah termasuk syarat dalam pernikahan. Ulama’ Syafi’iyah dan Hanabilah

41 Ibid.

42 Ibid.

berpendapat bahwa saksi itu adalah termasuk rukun dari pernikahan.

Sedangkan menurut Hanafiyah dan Zahiriyah, saksi merupakan salah satu dari dari syarat-syarat pernikahan yang ada.

Tentang keharusan adanya saksi dalam akad pernikahan dijelaskan dalam al-Qur’an surat al-Talaq ayat 2:

ْمُكْنِم ٍلْدَع ْيَوَذ �وُدِهْشَأ�َو ٍفوُرْعَمِب َّنُهوُقِراَف ْوَأ� ٍفوُرْعَمِب َّنُهوُكِسْمَأاَف َّنُهَلَجَأ� َنْغَلَب �َذِإاَف َهَّلل� ِقَّتَي ْنَمَو ۚ ِرِخآ�ْل� ِمْوَيْل�َو ِهَّللاِب ُنِمْؤُي َناَك ْنَم ِهِب ُظَعوُي ْمُكِلَٰذ ۚ ِهَّلِل َةَداَه َّشل� �وُميِقَأ�َو اًجَرْخَم ُهَل ْلَعْجَي

“Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.”43

Keharusan saksi ini juga dijelaskan dalam hadis riwayat Siti Ai sy ah:

اَنَثَّدَح ُّىِئاَسَّنل� ٍداَّبَع ِنْب ِنْيَسُحْل� ُنْب ُدَمْحَأ� اَنَثَّدَح ٍرْكَب ىِبَأ� ِنْب ِدَّمَحُم ُنْب ُدَمْحَأ� ٍّرَذ وُبَأ� اَنَثَّدَح َلاَق ْتَلاَق َةَشِئاَع ْنَع ِهيِبَأ� ْنَع َةَوْرُع ِنْب ِماَشِه ْنَع ىِبَأ� اَنَثَّدَح ٍناَنِس ِنْب َديِزَي ُنْب ُدَّمَحُم

»ٍل ْدَع ْىَدِهاَشَو ٍّىِلَوِب َّ�لِإ� َحاَكِن َ�ل « َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُهَّلل� ىَّل َص ِهَّلل� ُلوُسَر

Abu Dhar Ahmad ibn Muhammad ibn Abi Bakr bercerita kepadaku dari Ahmad ibn Husain ibn ’Abbad al-Nasai dari Muhammad ibn Yazid ibn Sinnan dari ayahnya dari Hisham ibn ’Urwah dari ayahnya dari

’Aishah: ’Aishah berkata bahwa Rasul Allah SAW bersabda “Tidak ada nikah tanpa wali dan dua saksi yang adil”.

43 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, 945.

Di Indonesia, bagi seseorang yang akan melaksanakan perni- kahan diharuskan juga menyertakan dua orang saksi, karena saksi adalah rukun pernikahan yang harus ada. Jika saksi tidak ada, maka pernikahan dianggap batal. Hal ini dijelaskan dalam KHI Pasal 24 ayat 1 dan 2, yaitu:

(1) Saksi dalam perkawinan merupakan rukun pelaksanaan akad nikah

(2) Setiap perkawinan harus disaksikan oleh dua orang saksi.44 Berkaitan dengan saksi, tidak semua orang boleh menjadi saksi bagi pernikahan kedua calon mempelai. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar dia bisa menjadi saksi yang sah, yaitu:

a. Saksi berjumlah minimal dua orang. Pendapat inilah yang dipegang oleh jumhur ulama. Sedangkan hanafiyah berpendapat lain, menurutnya, saksi itu boleh terdiri dari satu orang laki-laki dan dua orang perempuan.

b. Kedua saksi itu merdeka (bukan budak)

c. Saksi bersifat adil dalam arti tidak pernah melakukan dosa besar dan tidak selalu melakukan dosa kecil dan tetap menjaga muruah.

d. Saksi harus beragama Islam

e. Saksi harus bisa mendengar dan melihat

f. Kedua saksi adalah laki-laki. Menurut hanafiyah saksi itu boleh terdiri dari perempuan asalkan harus disertai saksi dari laki-laki.

Sedangkan menurut zahiriyah, saksi boleh dari perempuan dengan pertimbangan dua orang perempuan sama kedudukannya dengan seorang laki-laki.45

Sedangkan dalam KHI, ada dua persyaratan khusus yang harus dipenuhi oleh kedua saksi, yaitu saksi tidak boleh terganggu ingatannya, dan tidak boleh mengalami tunarugu atau tuli. Selain itu, saksi harus hadir dan menyaksikan secara langsung proses

44 Mardani, Kumpulan Peraturan tentang …, 136.

45 Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam …, 83.

terlaksananya akad nikah serta menandatangani akta nikah pada waktu dan di tempat akad nikah dilangsungkan. Penjelasan ini disebutkan dalam KHI Pasal 25 dan 26.

Selain persyaratan yang disebutkan di atas, ada satu catatan penting mengenai rukun dan syarat perkawinan, yaitu “pencatatan perkawinan”. Secara spesfifik tidak ada penjelasan dalam kitab fikih yang mewajibkan pernikahan harus dicatat di lembaga tertentu. Asal semua syarat rukun di atas telah terpenuhi, maka pernikahannya dianggap sah. Akan tetapi di dalam aturan hukum perkawinan Islam di Indonesia, pernikahan umat Islam wajib dicatatkan di lembaga yang berwenang, yaitu di Kantor Urusan Agama (KUA). Aturan ini sebagaimana disebutkan dalam KHI Pasal 5 dan 6:

Pasal 5

(1) Agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam setiap perkawinan harus dicatat.

(2) Pencatatan perkawinan tersebut pada ayat (1), dilakukan oleh Pegawai Pencatat Nikah sebagaimana yang diatur dalam Undang- Undang No. 22 Tahun 1946 jo. Undang-Undang No. 32 Tahun 1954.

Pasal 6

(1) Untuk memenuhi ketentuan dalam pasal 5, setiap perkawinan harus dilangsungkan dihadapan dan di bawah pengawasan Pegawai Pencatat Nikah.

(2) Perkawinan yang dilakukan di luar pengawasan Pegawai Pencatat Nikah tidak mempunyai kekuatan Hukum.

Berkaitan dengan aturan di KHI di atas, sangat menarik komentar KH Afifudin Muhajir dalam karyanya, Kitab Fathul Mujibil Qarib, beliau menyatakan:

صمهيفاحابمناكن��ذكوبجوانونسمناكن�ورمأ�لابهبوجودكأاتابج�وناكنامام�لاهبرمأ�امنأاملع�و

ةماعةحل

“Ketahuilah, sesungguhnya perintah seorang imam atau pemimpin, jika hal itu wajib maka menjadi semakin wajib. Jika itu sunah maka menjadi wajib. Apabila hal itu mubah, maka juga menjadi wajib selama mengandung kemaslahatan.”

Merujuk pernyataan di atas, pencatatan nikah dalam melaksana- kan pernikahan bagi umat Islam Indonesia adalah suatu kewajiban, di samping sebagai upaya untuk mewujudkan kemaslahatan rumah tangganya juga demi menaati pemerintah yang juga diperintahkan oleh agama.

Menurut KH Afifudin Muhajir, pada mulanya pencatatan nikah hukumnya adalah mubah, boleh dilakukan dan boleh pula ditinggalkan. Namun setelah undang-undang mengatur agar setiap pernikahan dicatat di KUA, maka kini hukum pencatatan tersebut berubah menjadi wajib. Peraturan ini tidak hanya menegaskan bahwa pernikahan adalah miithaqan ghalizan tetapi juga demi menjaga hak-hak pasangan suami istri, terutama hak istri yang seringkali ditelantarkan.46

Walaupun tidak ada aturan spesifik dalam fikih yang menyatakan bahwa pernikahan wajib dicatatkan, akan tetapi demi menjaga kemaslahatan suami sitri yang menjadi salah satu tujuan disyariatkannya pernikahan, maka pencatatan pernikahan bisa menjadi wajib. Pencatatan sangat penting terutama bagi pihak istri untuk menjaga hak-haknya, seperti hak mut’ah, hak nafkah, hak waris, hak asuh anak, perlindungan dari kekerasan dalam rumah tangga, dan lain sebagainya. Untuk mempertegas pentingnya pencatatan perkawinan ini, pemerintah melalui Kementerian Agama menerbitkan Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2018 tentang Pencatatan Perkawinan.

46 https://islam.nu.or.id/post/read/86012/kedudukan-dan-urgensi-pencatatan-nikah.

RANGKUMAN

1. Rukun pernikahan menurut KHI sebagaimana disebutkan dalam Pasal 14 ada lima, yaitu: calon suami, calon istri, wali nikah, dua orang saksi, ijab dan kabul. Sedangkan dalam kajian fikih khususnya mazhab syafi’i, rukun pernikahan adalah akad nikah, kedua calon laki-laki dan perempuan, wali, dan saksi.

2. Akad nikah bukanlah seperti akad jual beli yang menjadikan istri sebagai objek transaksi. Akad nikah bukanlah simbol bahwa suami membeli istri dengan seperangkat mahar yang telah dibayarkan.

Akan tetapi nikah adalah ikatan sakral dan agung sebagai simbol bahwa suami berkomitmen penuh untuk menjaga istri dan membahagiakannya sesuai kadar kemampuannya.

3. Jika melihat kemaslahatan kedua calon mempelai, maka pernikahan di bawah umur (16 tahun bagi perempuan dan 19 tahun bagi laki-laki) sebaiknya ditinggalkan. Bahkan jika mengacu pada program Pendewasaan Usia Perkawinan BKKBN, maka sebaiknya umur ideal menikah adalah 21 bagi perempuan dan 25 bagi laki-laki.

4. Ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban wali dalam pernikahan. Menurut Imam Syafi’I, wajib ada wali. Sedangkan menurut Imam Hanafi, tidak wajib ada wali sehingga orangtua tidak boleh memaksa anaknya untuk menikah dengan calon yang tidak disukai anaknya. Dalam KHI Pasal 20, bahwa wali adalah seorang laki-laki yang memenuhi tiga syarat, yaitu muslim, akil, dan balig.

LATIHAN

1. Cari contoh kasus tentang pelaksanaan pernikahan, lalu deskripsikan penjelasan syarat dan rukun dari pernikahan tersebut, lalu analisis apakah syarat dan rukunnya telah terpenuhi.

2. Apakah pernikahan di bawah umur (16 tahun bagi perempuan

dan 19 tahun bagi laki-laki) hukumnya sah dan apakah ideal?

3. Bolehkan orangtua memaksakan anak perempuannya menikah?

DAFTAR PUSTAKA

al-Andalusi, Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Rusyd al-Qurtubi. Bidayat al-Mujtahid wa Nihayat al-Muqtasid, Juz 2. Tk: ttt, tt.

BKKBN; Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi.

Pendewasaan Usia Perkawinan dan Hak-hak Reproduksi bagi Remaja Indonesia Perempuan. Jakarta: 2010.

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya. Surabaya:

Surya Cipta Aksara, 1993.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1989.

al-Jaziri, Abd al-Rahman. Al- Fiqh ‘ala Madhahib al-Arba’ah, Juz 4.

Beirut: Dar Al- Fikr, tt.

Al Jaziriy. Madzahib al- Arba’ah, jilid 4. Beirut: Darul Fikr, tt.

Kholilah, Tsamrotun. “Pandangan Ahli Medis Tentang Usia Perkawinan Menurut pasal 7 ayat 1 dan 2 UU No. 1 Tahun 1974.

Jurnal al-Hukam Vol. 5 No. 1. Juni 2015.

Kholis, Nur. “Penetapan Usia Dewasa Cakap Hukum berdasarkan Undang-Undang dan Hukum Islam, Jurnal Pemikiran Hukum dan Hukum Islam”. Yudisia. Vol. 8 N0. 1, Juni 2017.

Mardani. Kumpulan Peraturan tentang Hukum Islam di Indonesia.

Jakarta: Prenadamedia Group, 2013.

Ma’luf, Louis. al-Munjid. Beirut: Dar al-Mashrik, 1975.

Muhammad, Husein. Fiqh Perempuan. Yogyakarta; LKIS, 2007.

al-Shafi’i, Taqiyuddin Abu Bakr ibn Muh}ammad al-Husaini al-Husni al-Damsiqy. Kifayatul Akhyar, Juz II. Jeddah: al-Haromaini, tt.

Syarifuddin, Amir. Hukum Perkawinan Islam di Indonesia. Jakarta:

Kencana, 2006.

Wafa, Moh. Ali. Telaah Kritis Terhadap Perkawinan Usia Muda

Menurut Hukum Islam, Jurnal Ahkam, Jurnal Ilmu Syariah, Volume 17, number 2, 2017.

Yunus, Mahmud. Hukum Perkawinan dalam Islam Menurut Empat Mazhab. Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1996.

Zahroh, Muhammad Abu. Ushul al-Fiqh, Terjemahan oleh Saifullah Ma’sum. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2007.

Zuhailiy, Wahbah. Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, juz 9. Dimsyaq:

Dar al-Fikr, 1998.

BAB VI

LARANGAN, PENCEGAHAN, DAN