• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.5 Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE)

SPBE merupakan singkatan dari Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik, Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) adalah penyelenggaraan pemerintahan yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk memberikan layanan kepada Pengguna SPBE. Hal ini seperti yang tertuang pada Peraturan Presiden No. 95 Tahun 2018 tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik. SPBE ditujukan untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, transparan, akuntabel, serta pelayanan publik yang berkualitas dan terpercaya. Tata kelola dan manajemen sistem pemerintahan berbasis elektronik secara nasional juga diperlukan untuk meningkatkan keterpaduan dan efisiensi sistem pemerintahan berbasis elektronik.

Revolusi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) memberikan peluang bagi pemerintah untuk melakukan inovasi pembangunan aparatur negara melalui penerapan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) atau E-Government, yaitu penyelenggaraan pemerintahan yang memanfaatkan TIK untuk memberikan layanan kepada instansi pemerintah, aparatur sipil negara, pelaku bisnis, masyarakat dan pihak- pihak lainnya. SPBE memberikan peluang untuk mendorong dan mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan yang terbuka, partisipatif, inovatif, akuntabel, meningkatkan kolaborasi antar instansi pemerintah dalam melaksanakan urusan dan tugas pemerintahan untuk mencapai tujuan bersama, meningkatkan kualitas, jangkauan

pelayanan publik kepada masyarakat luas, menekan tingkat penyalahgunaan kewenangan dalam bentuk kolusi, korupsi, nepotisme melalui penerapan sistem pengawasan, dan pengaduan masyarakat berbasis elektronik.

Pemerintah menyadari pentingnya peran SPBE untuk mendukung semua sektor pembangunan. Upaya untuk mendorong penerapan SPBE telah dilakukan oleh pemerintah dengan menerbitkan peraturan perundang-undangan sektoral yang mengamanatkan perlunya penyelenggaraan sistem informasi atau SPBE. Sejauh ini kementerian, lembaga, pemerintah daerah telah melaksanakan SPBE secara sendiri- sendiri sesuai dengan kapasitasnya, dan mencapai tingkat kemajuan SPBE yang sangat bervariasi secara nasional. Untuk membangun sinergi penerapan SPBE yang berkekuatan hukum antara kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah, diperlukan Rencana Induk SPBE Nasional yang digunakan sebagai pedoman bagi Instansi Pusat dan Pemerintah Daerah untuk mencapai SPBE yang terpadu. Rencana Induk SPBE Nasional disusun dengan memperhatikan arah kebijakan, strategi, inisiatif pada bidang tata kelola SPBE, layanan SPBE, TIK, dan SDM untuk mencapai tujuan strategis SPBE tahun 2018 – 2025.

Tujuan pembangunan aparatur negara sebagaimana ditetapkan dalam RPJP Nasional 2005 - 2025 dan Grand Design Reformasi Birokrasi 2010 - 2025.

VISI SPBE

“Terwujudnya sistem pemerintahan berbasis elektronik yang terpadu dan menyeluruh untuk mencapai birokrasi dan pelayanan publik yang berkinerja tinggi.”

Visi tersebut menjadi acuan dalam mewujudkan pelaksanaan SPBE yang terpadu di Instansi Pusat dan Pemerintah Daerah untuk menghasilkan birokrasi pemerintah yang integratif, dinamis, transparan, dan inovatif, serta peningkatan kualitas pelayanan publik yang terpadu, efektif, responsif, dan adaptif.

Untuk mencapai visi SPBE, misi SPBE adalah:

1. Melakukan penataan, penguatan organisasi, dan tata kelola sistem pemerintahan berbasis elektronik yang terpadu;

2. Mengembangkan pelayanan publik berbasis elektronik yang terpadu, menyeluruh, dan menjangkau masyarakat luas;

3. Membangun fondasi teknologi informasi dan komunikasi yang terintegrasi, aman, dan andal; dan

4. Membangun SDM yang kompeten dan inovatif berbasis teknologi informasi dan komunikasi.

Berdasarkan visi dan misi SPBE, tujuan SPBE adalah:

1. Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, efisien, transparan, dan akuntabel.

2. Mewujudkan pelayanan publik yang berkualitas dan terpercaya; dan 3. Mewujudkan sistem pemerintahan berbasis elektronik yang terpadu.

Berdasarkan visi, misi, dan tujuan SPBE, sasaran SPBE adalah:

1. Terwujudnya tata kelola dan manajemen SPBE yang efektif dan efisien;

2. Terwujudnya layanan SPBE yang terpadu dan berorientasi kepada pengguna;

3. Terselenggaranya infrastruktur SPBE yang terintegrasi; dan 4. Meningkatnya kapasitas SDM SPBE.

Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik, yang selanjutnya disingkat SPBE, di Instansi Pusat dan Pemerintah Daerah ditujukan untuk mewujudkan proses kerja yang efisien, efektif, transparan, dan akuntabel serta meningkatkan kualitas pelayanan publik. Agar pelaksanaan SPBE dapat berjalan mencapai tujuannya, maka perlu dilakukan evaluasi secara berkala untuk mengetahui sejauh mana kemajuan dari pelaksanaan SPBE di setiap Instansi Pusat dan Pemerintah Daerah (Kemenpan RB, 2018).

Evaluasi SPBE merupakan proses penilaian terhadap pelaksanaan SPBE di Instansi Pusat dan Pemerintah Daerah untuk menghasilkan suatu nilai Indeks SPBE yang menggambarkan tingkat kematangan (maturity level) dari pelaksanaan SPBE di Instansi Pusat dan Pemerintah Daerah. Agar penilaian ini dilaksanakan secara efektif dan obyektif, maka perlu disusun pedoman evaluasi yang dapat dipahami oleh semua pemangku kepentingan evaluasi SPBE.

Pedoman Evaluasi SPBE disusun untuk memberikan petunjuk dalam rangka melaksanakan evaluasi atas pelaksanaan SPBE di Instansi Pusat dan Pemerintah Daerah.

Pedoman evaluasi ini mengatur tentang perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan hasil

evaluasi SPBE. Ruang lingkup penyelenggaraan SPBE di Instansi Pusat dan Pemerintah Daerah yang akan dievaluasi sedikitnya mencakup tata kelola SPBE, layanan SPBE, dan kebijakan SPBE.

Pedoman evaluasi SPBE dimaksudkan untuk memberikan panduan bagi evaluator internal dan evaluator eksternal dalam hal sebagai berikut:

1. Memahami tujuan evaluasi serta penetapan ruang lingkup penilaian pelaksanaan SPBE

2. Memahami metodologi penilaian pelaksanaan SPBE

3. Memahami langkah-langkah kerja yang harus dilakukan dalam proses evaluasi 4. Memahami mekanisme pelaporan atas penilaian pelaksanaan SPBE.

Tujuan dilakukan evaluasi SPBE adalah

1. Mengetahui capaian kemajuan pelaksanaan SPBE pada Instansi Pusat dan Pemerintah Daerah

2. Memberikan saran perbaikan untuk peningkatan kualitas pelaksanaan SPBE

3. Menjamin kualitas pelaksanaan evaluasi SPBE pada Instansi Pusat dan Pemerintah Daerah.

Tahapan evaluasi SPBE pada Instansi Pusat dan Pemerintah Daerah adalah:

1. Perencanaan, yaitu mempersiapkan instrumen evaluasi, mempersiapkan tim evaluator, dan melakukan sosialisasi evaluasi.

2. Pelaksanaan, yaitu melakukan pengumpulan data dan penilaian melalui evaluasi dokumen, wawancara, dan/atau observasi lapangan.

3. Pelaporan, yaitu menyusun hasil penilaian dan rekomendasi perbaikan.

Tingkat kematangan SPBE merupakan kerangka kerja yang mengukur derajat pengembangan SPBE ditinjau dari tahapan kapabilitas proses dan kapabilitas fungsi teknis SPBE. Tingkatan kematangan mengarahkan pengembangan SPBE pada keluaran dan dampak yang lebih baik. Tingkat kematangan yang rendah menunjukkan kapabilitas dan keberhasilan yang rendah, sedangkan tingkat kematangan yang tinggi menunjukkan kapabilitas dan keberhasilan yang lebih tinggi.

Metode tingkat kematangan pada evaluasi SPBE dikembangkan berdasarkan model- model tingkat kematangan yang telah dipraktikkan secara luas, yaitu:

1. CMM/CMMI (Capability Maturity Model/CMM Integration) yang dibangun oleh Software Engineering Institute (SEI) merupakan model yang mengukur tingkat kematangan proses pengembangan piranti lunak. Model ini menjadi dasar pengembangan berbagai model kematangan lain seperti tingkat kematangan tata kelola TIK pada COBIT (Control Objectives for Information Technology), arsitektur TIK (Enterprise Architecture Maturity Model), manajemen resiko (Risk Maturity Model), dan manajemen pengetahuan (Maturity Model for Knowledge Mangement).

2. E-Government Maturity Models merupakan model tingkat kematangan yang mengukur evolusi SPBE dari aspek fungsionalitas dan kapabilitas teknis yang dikembangkan oleh banyak pihak antara lain Layne dan Lee (2001), Andersen dan Henriksen (2006), Kim dan Grant (2010), dan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada UN e-Government Survey (2012).

Tingkat kematangan pada kapabilitas proses terdiri dari lima tingkat yaitu rintisan, terkelola, terstandardisasi, terintegrasi dan terukur, optimum. Sedangkan tingkat kematangan pada kapabilitas fungsi teknis terdiri lima tingkat yaitu informasi, interaksi, transaksi, kolaborasi, dan optimalisasi. Setiap tingkat (level) memiliki karakteristik masing-masing yang dapat secara jelas membedakan antara tingkat satu dengan tingkat yang lain. Karakteristik pada tingkat (level) yang lebih tinggi mencakup karakteristik pada tingkat (level) yang lebih rendah.

Penilaian pada pelaksanaan SPBE dilakukan melalui struktur penilaian yang terdiri dari:

1. Domain, merupakan area pelaksanaan SPBE yang dinilai;

2. Aspek, merupakan area spesifik pelaksanaan SPBE yang dinilai; dan

3. Indikator, merupakan informasi spesifik dari aspek pelaksanaan SPBE yang dinilai.

Tabel 2.17 Tingkat Kematangan pada Domain Tata Kelola SPBE dan Kebijakan Internal SPBE

Tingkat (Level) Karakteristik

1 Rintisan Proses tata kelola dilaksanakan sewaktu-waktu, tidak terorganisasi dengan baik, tanpa pemantauan, dan hasil tidak terprediksi. Kebijakan internal belum tersedia atau masih berbentuk konsep.

2 Terkelola Proses tata kelola dilaksanakan dengan dasar-dasar manajemen yang telah didefinisikan dan didokumentasikan, dilaksanakan berdasarkan standar masing- masing unit organisasi. Kebijakan internal telah dilegalisasi, namun pengaturannya bersifat parsial atau sektoral.

3 -

Terstandardisasi

Proses tata kelola dilaksanakan sepenuhnya dengan standardisasi oleh semua unit organisasi terkait. Kebijakan internal telah mengatur standar proses tata kelola bagi semua unit organisasi terkait, tetapi belum mengatur keselarasan antar proses tata kelola.

4 Terintegrasi dan Terukur

Proses tata kelola dilaksanakan terintegrasi dengan proses tata kelola lain dan terukur kinerjanya secara kuantitatif. Kebijakan internal telah mengatur integrasi antar proses tata kelola dan mekanisme pengukuran kinerja proses tata kelola tersebut.

5 Optimum Proses tata kelola dilaksanakan dengan peningkatan kualitas secara berkesinambungan. Kebijakan internal telah mengatur mekanisme evaluasi berkelanjutan dan manajemen perubahan.

Sumber: (Kemenpan RB, 2018)

Tingkat kematangan pada kapabilitas fungsi SPBE diterapkan pada domain layanan SPBE. Karakteristik tingkat kematangan dapat dilihat pada Tabel 2.19

Tabel 2.18 Tingkat Kematangan pada Domain Layanan SPBE

Tingkat Kriteria

1 – Informasi Layanan SPBE diberikan dalam bentuk informasi satu arah.

2 Interaksi Layanan SPBE diberikan dalam bentuk interaksi dua arah.

3 Transaksi Layanan SPBE diberikan melalui integrasi dengan layanan SPBE lain.

4 Kolaborasi Layanan SPBE diberikan melalui integrasi dengan layanan SPBE lain.

5 Optimalisasi Layanan SPBE dapat beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan di lingkungan internal dan eksternal.

Sumber: (Kemenpan RB, 2018)

Tabel 2.19 Indikator SPBE

Domain Aspek Nomor

Indikator

Gap Kebijakan

SPBE

Kebijakan Internal Tata Kelola SPBE

Indikator 1 Belum ada Kebijakan Arsitektur SPBE BNN Indikator 2 Belum ada Kebijakan Peta Recana SPBE Indikator 3 Kebijakan Manajemen Data ada, tetapi belum

memenuhi aturan manajemen data

Indikator 4 Kabijakan Kebijakan Pembangunan Aplikasi ada, tetapi belum memenuhi standar pembangunan aplikasi

Indikator 5 Peraturan Layanan Pusat Data ada, tetapi belum kriteria muatan layanan pusat data

Indikator 6 Kebijakan layanan jaringan intra sudah, tetapi belum memuat kriteria muatan jaringan intra Indikator 7 Belum ada kebijakan sistem penghubung

layanan

Indikator 8 Belum ada kebijakan manajemen keamanan informasi

Indikator 9 Belum ada kebijakan internal audit TIK

Indikator 10 Sudah ada kebijakan tim koordinasi, tetapi belum memenuhi kriteria

Tata Kelola SPBE

Perencanaan Strategis SPBE

Indikator 11 Belum ada Arsitektur SPBE BNN Indikator 12 Belum ada Peta Rencana SPBE BNN

Indikator 13 Sudah ada rencana dan anggaran SPBE, tetapi belum memenuhi kriteria keterpaduan rencana dan anggaran SPBE

Indikator 14 Belum ada inovasi proses bisnis SPBE Teknologi

Informasi dan Komunikasi

Indikator 15 Sudah ada aplikasi SPBE, tetapi belum memenuhi kriteria ruang lingkup proses pembangunan aplikasi SPBE

Indikator 16 Sudah ada layanan pusat data, tetapi belum memenuhi kriteria ruang lingkup pemanfaatan dan pengoperasian pusat data

Indikator 17 Sudah ada layanan jaringan intra, tetapi belum memenuhi kriteria ruang lingkup keterhubungan dan akses

Indikator 18 Sudah ada sistem penghubung layanan, tetapi belummemenuhi kriteria ruang lingkup pemanfaatan dan pengoperasian

Penyelenggaraan SPBE

Indikator 19 Sudah ada tim koordinasi SPBE, tetapi memenuhi kriteria ruang lingkup Tim Koordinasi SPBE

Domain Aspek Nomor Indikator

Gap

Indikator 20 Sudah ada kolaborasi penerapan SPBE, tetapi memenuhi kriteria ruang lingkup Kolaborasi Penerapan SPBE

Manajemen SPBE

Penerapan Manajemen SPBE

Indikator 21 Belum ada manajemen resiko SPBE

Indikator 22 Sudah ada penerapan manajemen keamanan informasi, tetapi belum memenuhi kriteria ruang lingkup

Indikator 23 Sudah ada penerapan manajemen data, tetapi belum memenuhi memenuhi kriteria ruang lingkup

Indikator 24 Sudah ada penerapan manajemen aset TIK, tetapi belum memenuhi kriteria ruang lingkup Indikator 25 Sudah ada penerapan kompetensi sumber daya

manusia, tetapi belum memenuhi memenuhi kriteria ruang lingkup

Indikator 26 Belum ada penerapan manajemen pengetahuan Indikator 27 Sudah ada penerapan manajemen perubahan,

tetapi belum memenuhi kriteria ruang lingkup Indikator 28 Sudah ada penerapan manajemen layanan SPBE,

tetapi memenuhi kriteria ruang lingkup Pelaksanaan

Audit TIK

Indikator 29 Belum dilakukan audit infrastruktur Indikator 30 Belum dilakukan audit aplikasi Indikator 31 Belum dilakukan audit keamanan Layanan

SPBE

Layanan Administrasi Pemerintahan Berbasis Elektronik

Indikator 32 Sudah ada aplikasi layanan perencanaan, tetapi belum memenuhi kriteria

Indikator 33 Sudah ada aplikasi layanan penganggaran, tetapi belum memenuhi kriteria

Indikator 34 Sudah ada aplikasi layanan keuangan, tetapi belum memenuhi kriteria

Indikator 35 Sudah ada aplikasi layanan pengadaan barang dan jasa

Indikator 36 Sudah ada aplikasi layanan kepegawaian, tetapi belum memenuhi kriteria

Indikator 37 Sudah ada aplikasi layanan kearsipan, tetapi belum memenuhi kriteria

Indikator 38 Sudah ada aplikasi layanan pengelolaan BMN, tetapi belum memenuhi kriteria

Indikator 39 Belum ada aplikasi layanan pengawasan internal Indikator 40 Sudah ada aplikasi layanan akuntabilitas kinerja

organisasi, tetapi belum memenuhi kriteria Indikator 41 Sudah ada aplikasi layanan kinerja pegawai,

tetapi belum memenuhi kriteria

Domain Aspek Nomor Indikator

Gap Layanan Publik

Berbasis Elektronik

Indikator 42 Sudah ada aplikasi layanan pengaduan pelayanan publik

Indikator 43 Sudah ada aplikasi layanan data terbuka, tetapi belum memenuhi kriteria

Indikator 44 Sudah ada aplikasi layanan JDIH, tetapi belum memenuhi kriteria

Indikator 45 Sudah ada aplikasi layanan publik sektoral 1, tetapi belum memenuhi kriteria

Indikator 46 Sudah ada aplikasi layanan publik sektoral 2, tetapi belum memenuhi kriteria

Indikator 47 Sudah ada aplikasi layanan publik sektoral 3, tetapi belum memenuhi kriteria

Sumber: (Kemenpan RB, 2021b)