BAB I PENDAHULUAN
H. Sistematika Pembahasan
metode observasi dan wawancara dalam penelitian kuali- tatif.25
penelitian di lapangan akan di rencanakan dua kali pertemuan dalam seminggu pada hari Senin dan Kamis, kemudian enam kali per- temuan dalam sebulan dan dilakukan dalam tempo tiga bulan dari waktu yang sudah ditentukan antara peneliti dengan pihak terkait dan santri kelas XII MA NW Putra Narmada.
Table 1 : Rencana Kegiatan
No Rencana Kegiatan Jadwal Pertemuan
1 2 3 4
1. Izin Ke Pihak Sekolah 2. Kerjasama dengan Wali
Kelas XII MA
3. Pelaksanaan
4. Pemanggilan siswa dan Mengklasifikasikan ting- kat kebiasaan me rokok
5. Melakukan Need Asisment 6. Penanganan (treatment).
7. Pengelolaan data hasil temuan dan layanan
22 Narmada
Pondok Pesanteren Nurul Haramain NW Putra Narma- da berlokasi di Dusun Lembuak Kebon, Desa Lembuak, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Pondok ini di dirikan pada tanggal, 16 Juli 1991. Tempat didirikannya Pondok Pesantren Nurul Haramain NW Putra Narmada merupakan “Tanah Wakaf” dari Masyarakat. Awal mula did- irikannya Pondok Pesantren, Karna Masyarakat yang ada di Dusun Lembuak sangat antusias untuk memiliki sebuah Lembaga Pendidikan yang bisa menampung lulusan Sekolah Dasar (SD)/ Madrasah Ibtidakiyah (MI) yang begitu banyak, maka Tokoh Agama serta Masyarakat sefakat untuk mendi- rikan sebuah Madrasah, yang merupakan tempat mendidik anak-anak untuk menuntut ilmu Agama, sebagai penerus per- juangan cita-cita Bangsa dan Negara.26
Keberadaan Pondok Pesantren Nurul Haramain, tidak bisa dipisahkan dengan sejarah perjalanan Pondok Pesantren Nahdatul Wathan Narmada sebagai Pusat NW di Narmada.
Pada tahun 50-an, Masyrakat Narmada Pada waktu itu sudah mengenal dan mengamalkan ajaran Agama, tetapi masih banyak kekurangan dan kelemahan. Apa yang dilakukan dan amalkan atas nama Agama. Ternyata masih banyak yang tid- ak sesuai dengan ajaran Agama. Tidak sedikit dari yang mereka yakini ataupun amalkan adalah paham Leluhur dan Animisme yang mereka anggap sebagai ajaran Agama. Se- hingga banyak menyimpang dari ajaran Agama yang benar, salah satu contoh dari penyimpangan mereka adalah „Waktu Telu‟ (shalat 3 waktu).
26 Asroruddin, “Kajian Pendidikan dan Sosial Kemasyarakatan”,Al- Amin, Vol.5- no. 1 Januari-Juni 2020. hlm 60.
Masyarakat Narmada dipimpinan Lalu Alwi yang wak- tu itu menjabat sebagai Camat Narmada sepakat untuk mem- perbaiki keadaan, mereka menyadari betapa penting sebuah Lembaga yang dapat dimanfaatkan untuk meluruskan pema- haman serta pengamalan Agama mereka. Akhirnya, mereka sepakat untuk mendirikan sebuah lembaga dengan Nama
„Djamaah Islam Narmada (DIN). Setelah DIN terbentuk, timbul masalah Pengajar dan Pendidik yang akan mengelola DIN sesuai Misinya. Masyarakat bermusyawarah kembali dan dan sepakat untuk meminta tenaga pendidik kepada Al Maghfuru Lahu Bapak Maulana Syaikh TGKH. M. Zainud- din Abdul Majid, pendiri Pondok Pesantren Darun Nahdla- tain NW Pancor yang waktu itu masih bernama MNWDI dan terkenal dengan nama NWDI Pancor.27
B. Letak Geografis
Letak Geografis Pondok Pesantren Nurul Haramain MA NW Putra Narmada cukup strategis, hal ini di karenakan letaknya yang dekat dengan pemukiman warga Desa Lem- buak Kebon dan mudah di jangkau oleh transportasi, sehing- ga memudahkan para santri , walisantri dan Masyarakat secara umum. Adapun letak geografisnya dekat dengan Per- mukiman Masyarakat sekitar.
Adapun batas-batas Pondok Pesantren MA NW Nurul Haramain Putra Narmada adalah sebagai berikut :
a. Sebelah Utara : Sawah Warga.
b. Sebelah Selatan : Pemukiman Penduduk c. Sebelah Timur : Pemukiman Penduduk
27 Media Pers and Jurnalis NHIT, Document, Nurul Haramain NW Narmada 2021.
d. Sebelah Barat : Asrama Pondok Putri kampus dua.28
C. Struktur Kepengurusan Guru Bimbingan Konseling Santri.
Dalam mempermudah tugas dari masing-masing Guru Bimbingan Konseling (BK) maka di bentuk struktur kepen- gurusan bagian. Dalam struktur tersebut dari masing masing Guru Bimbingan Konseling (BK) bertugas di bawah Pimpi- nan Kepala Yayasan dan Pimpinan Pondok Pesantren me- lalui Pembimbing yang sudah di tentukan tugasnya oleh Pimpinan Pondok, dalam hal tersebut demi menegakkan ma- salah disiplin yang ada di dalam Pondok. Dalam tahapannya Pembimbing Bimbingan Konseling (BK) wajib melaporkan segala kegiatan dan peristiwa yang terjadi di dalam Pondok selama beberapa bulan bertugas.29
Untuk memudahkan perosese penelitian di lapangan kami di izinkan berkolaburasi dengan penanggung jawab lapangan yang sudah di tunjuk oleh ketua Pengasuhan santri sebagai Pembimbing dan Narasumber penelitian, adapun bi- odata penanggung jawab lapangan sebagai berikut:
a. Biodata Pembimbing Lapangan Nama : Inisial A Umur : 28 th Hobi : Basket
Tempat / Tanggal : Sumbawa, 10 Februari 1993.
Alamat : Lembuak Kebon, Narmada.
Pendidikan : S1 Jurusan Bahasa Arab UIN Mataram.
Tugas : Pengasuhan Santri Ponpes Ha- ramain Putra.
28 Letak Geografis Madrasah, Observasi, Narmada 20 Januari 2021
29 Narmada, Observasi, Narmada 20 Januari 2021
Tabel 2 :
Struktur Kepengurusan Pengasuhan Santri Ponpes Nurul Haramain NW Putra Narmada 2021.30
D. Deskripsi Umum Objek Penelitian.
Dalam upaya memberikan hasil yang lebih maksimal peneliti hanya memilih dua orang santri sebagai objek penelitian setelah menyeleksi dari beberapa santri yang merokok dalam. Berdasarkan arahan pembimbing lapangan peneliti hanya focus kepada dua orang santri yang memiliki kebiasaan merokok dari sebelum mereka masuk Pondok supaya dalam penelitian ini mendapatkan hasil yang sesuai
30 Struktur Kepengurusan Pengasuhan Santri Haramain Putra, Document Ta- hun 2021.
TGH. Hasanain Juaini, Lc. MH.
Ketua Yayasan H. Khairi Habibullah, S.Ag
Pimpinan Pondok
H.M. Anwar Tayib, Lc, M.Pd.
Pembimbing Abdul Basit, S.Pd
Pembimbing
Muhammad Ishaq, S.Pd.
Ketua Khairil Amri, S.T.P
Sekertaris
Muhamad Anshari, S.Pd.
Kesiswaan
dengan yang di harapkan. Adapun Deskripsi objek penelitian sebagai berikut:
a. Biodata Konseli M Nama : Inisial M Umur : 18 th Hobi : Sepak Bola
TTL : Labuhan Haji, 10 Februari 2003 Alamat : Labuhan Haji
Jurusan : Bahasa b. Biodata Konseli F
Nama : Inisial Fl Umur : 18 th
TTL : Sintung, 5 Januari 2003 Hobi : Sepak Bola dan Senam Lantai Alamat : Tanak Beak Pemangket, Sintung Jurusan : IPA
E. Tahap Penanganan Kebiasaan Merokok Pada Santri Yang Terbiasa Merokok.
Berdasarkam hasil pengamatan dan Informasi, bahwa peneliti menemukan permasalahan kebiasaan merokok pada santri Kelas XII MA Putra Narmada, santri merokok rata- rata karena sudah menjadi kebiasaan atau gaya hidup yang di bawa ketika sebelum masuk kedalam lingkungan Pondok Pesantren. Bahkan kebiasaan itu di biarkan begitu saja oleh Konseli selama bertahun-tahun sehingga menjadi suatu ke- biasaan buruk.31
Dari beberapa santri yang telah di wawancara, santri tersebut memang memiliki kebiasaan merokok, “kalau si
“M” memang dari dulu dia merokok, dari semenjak dia be- lum masuk Pondok”. 32 Santri tersebut memang sering mero-
31 Observasi, Narmada 13 Juni 2021.
32 Iskandar,Wawancara, Narmada 11 Oktober 2020.
kok, secara sembunyi-sembunyi dengan teman kelas maupun teman kamarnya .33
Terkait masalah kedisiplinan santri, Dewan pengasu- han di bantu oleh bagian Keamanan dan Ketua Organisasi Santri Nurul Haramain, pelanggaran disiplin seperti merokok di tangani oleh bagian Keamanan Organisasi Santri (OSNH) Pondok Pesantren Nurul Haramain, kemudian langsung di peroses oleh Dewan Pengasuha. Ketika santri tersebut melakukan pelanggaran lebih dari dua kali. Maka Pengasu- han Santri melakukan tindakan tegas terhadap santri tersebut sesuai aturan yang berlaku. Berdasarkan Standard Operating Procedure (SOP) Pimpinan Pondok Pesantren memiliki kon- sep dasar dalam menangani disiplin para santri yang melang- gar disiplin khususnya merokok. Yang dimana Pimpinan berupaya yang terbaik untuk kemajuan Pondok dalam mengatasi setiap permasalahan-permasalahan yang muncul.
Adapun tahapan santri yang melanggar di dalam disiplin khususnya, santri yang ketahuan merokok yang sesuai perosedur yang di berikan Pimpinan Pondok sebagai berikut :
a. Ketika ada anak yang ketahun melanggar disiplin jangan langsung di hukum atau langsung di botak, tapi panggil anaknya suruh datang ke bagian Pengasuhan. Dalam upaya ini Staf Pengasuhan santri tidak bisa mengambil keputusan secara cepat untuk menentukan hukuman kepada anak yang melanggar disiplin atau sering me- langgar disiplin di dalam Pondok Pesantren.
b. Ketika anaknya sudah datang kemudian anak tersebut di tanyakan atau di introgasi terlebih dahulu. Apa alasann- ya untuk melanggar disiplin, kemudian kapan mereka melanggar, dimana mereka melanggar dan seterusnya.
33 Sataf Pengasuhan, Wawancara, Narmada, 12 Oktober 2020.
Ketika jawabannya sudah dirasa sesuai dan masuk akal baru bagian Pengasuhan memberikan hukuman sebagai efek jera terhadap perbuatannya.
c. Ketika santri yang sama terus mengulangi kesalahan yang sama maka akan di panggil kedua orang tuanya atau wali dari anak tersebut. Dalam tahap ini Pengasuhan sebagai tangan kanan Pimpinan yang menindak lanjuti untuk melaporkan ke Pimpinana Pondok sebagai pem- beritahuan semua peroses dan keputusan akhir terkait kebijakan pondok terhadap santri yang sudah berulang kali melanggar disiplin.
Berdasarkan kebijakan Pimpinan Pondok Pesantren MA NW Putra Narmada sudah jelas dapat disimpulkan bahwa semua tahapan yang di jalani oleh Guru Bimbingan Konsel- ing memiliki tahapan yang sudah di tetapkan berdasarkan Standard Operating Procedure (SOP) yang telah di sepakati, sehingga santri yang memiliki pelanggaran khususnya per- masalahan merokok dapat di tangani dengan semaksimal mungkin.
F. Peroses Penerapan Teknik SEFT Dan Terapi Puasa Un- tuk Mengurangi Kebiasaan Merokok Pada Santri.
Dalam peroses penerapan teknik Spiritual Emo- tional Freedom Tehnicuqe (SEFT) dan terapi Puasa Guru Bimbingan Konseling langsung berperan sebagai Sefter yang memberikan penerapan langsung kepada santri yang memiliki kebiasaan merokok. Sehingga dalam peross pen- erapannya Guru Bimbingan Konseling langsung meman- tau perkembangan santri tersebut kemudian bekerjasama dengan bagian penanggung jawab ubudiyah atau bagian Taklim Organisasi Santri Nurul Haramain (OSNH).
Dalam Tugasnya Staf Pengasuhan santri setiap ta- hunnya memiliki program kerja yang memang terkait ten- tang keamanan dan kenyanana penghuni Pondok Pe-
santren, sehingga “Pengasuhan santri itu adalah tangan Kanan Pimpinan Pondok”34. Dalam melaksanakan tu- gasnya Dewan Pengasuhan Santri di bantu oleh para santri yang di bentuk dalam satuan tugas Organisasi Santri Nu- rul Haramain (OSNH). Dimana pada setiap tugas dan kewajibannya sudah di bagi berdasarkan bagian masing- masing.
Terkait masalah pelanggaran disiplin merokok, “Ma- salah Putung rokok itu memang banyak kita temukan di- mana mana. Tapi terkadang ada rokok bekas tamu jadi bukan santri atau penguhuni Pondok semua.”35 Santri yang ketahuan merokok menurut peraturan Program Kerja bagian Keamnana sanksinya langsung di Botak di tempat.
Hal tersebut sesuai dengan pernyataan salah satu bagian keamanan Organisasai Santri Nurul Haramain (OSNH) sebagai berikut :
“Biasanya Kita botak, kalau ketahuan merokok kedua kalinya, maka kita akan menambah hukumannya yaitu di larang berolahraga sampai rambutnya tumbuh dan yang terakhir ketika ketahuan merokok lagi maka kita dari pihak Keamanan melaporkan santri tersebut ke Pengasu- han untuk di berikan Surat Perjanjian bersama dengan Walinya. Ketika santri ini ketahuan merokok lagi maka akan di suruh pindah sekolah”.36
Terkait permasalah pelanggaran disiplin setiap pelanggran yang di lakukan oleh santri
“Semua Hukuman dan Pelanggaran itu Rujukannya adalah peraturan “Teng Komando” (peraturan santri), baik
34 Abdl.Basith Kepala Staf Pengasuhan , Wawancara, Narmada, 14 Juni 2021.
35 H.Anwar Kepala Staf Pengasuhan, Observasi, Narmada 13 Juni 2021.
36 Bagian Keamanan Santri Haramain,Wawancara, Narmada 15 Juni 2021.
itu tertulis maupun tidak tertulis.” (semua tentang pera- turan Pondok Pesantren).37
Maka semua bagian-bagian di dalam Pondok tersebut ikut terlibat untuk menjaga dan mendidik para santri ter- masuk Pimpinan Pondok, Guru yang ada didalam Pondok, Kakak tingkatnya dan semua Pengurus yang bertanggung jawab di rayon masing-masing. Terkait dengan aturan santri yang ketahuan merokok tidak ada yang membole- hkan santri merokok walaupun ada izin dari orang tua.
“Kalau saya, pernah menemukan santri merokok saya tempeleng. Karena yang saya sayangkan itu adalah uang orang tuanya.”38
Dari pernyataan salah satu Guru atau Tenaga Pen- didik yang berada di dalam Pondok. Sehingga bisa di sim- pulkan bahwa rokok itu memang tidak di perbolehkan se- hingga rokok ini termasuk dalam kategori sebuah pelang- garan. Berdasarkan hasil wawancara dengan Pengasuhan santri Pondok Pesantren MA NW Putra Haramain Nar- mada, terkait Peroses penerapan Teknik SEFT kepada santri yang memiliki kebiasaan merokok sebagai berikut:
“Cara kami menangani santri perokok yang sudah sering kali melanggar disiplin, khususnya merokok kalau hukumannya sendiri yang kita terapkan per- tama kita botak anak tersebut jika ketahuan mero- kok, kemudian di peroses data-datanya oleh bagian keamanan pusat. Kalau masih kita langsung terap- kan tehnik SEFT. SEFT ini saya peribadi sudah menerapkannya di beberapa santri kita. Namun yang datang dan kita terapi pada waktu itu cuman yang
37 Aulia Fathul Aziz Staf KMI Haramain, Observasi , Narmada, 13 Juni 2021.
38 Samsul Hakim. Bendahara Madrasah, Wawancara, Narmada 13 Juni 2021.
ikhlas mau berhenti merokok saja. Dengan harapan kedepan nanti teman-teman pengajar juga bisa ikut memperaktekannya pada santri yang lain. untuk cara atau pengaplikasiannya hampir sama seperti pan- duan yang ada, cuman kita memberikan gerakan tiping, Tun in , Set Up dasar-dasarnya saja, atau dengan menotok bebrapa bagian-bagian inti saja, seperti bagian ubun di kepala, terus bagian diatas alis mata terus di bagian bawah atau pelopak mata, terus di bagian bawah hidung dan di dagu, seperti itu yang kita terapkan. Jika berbicara cara atau jurus jitu ya kami rasa tidak ada ya. Karena pada dasarnya perilaku tersebut tumbuh karna keinginan dari diri kita masing-masing, jadi saya rasa caranya berhenti dan perbanyak muhasabah diri saja.”39
Berdasarkan hasil dari wawancara dengan Staf Pengasuhan santri peneliti menyimpulkan bahwa di Pon- dok Pesantren juga menggunakan tehnik SEFT dalam upaya menangani santri yang memiliki kebiasaa merokok, dari hasil wawancara bahwa santri yang sudah di terapi menujukan gejala mual, kemudian ketika merokok terasa pahit, gejala ini sama persis dengan gejala yang di tun- jukan oleh setiap perokok yang di terapi dengan mengunakan tehnik SEFT.
Dalam peroses penerapannya Staf Pengasuhan memiliki sikap perofesional dalam menangani kasus santri perokok, kendala yang di alami oleh staf pengasu- han dalam menerapkan teknik ini adalah sedikitnya santri yang ingin di terapi karena takut di berikan hukuman oleh pihak Pengasuhan, atau takut di Gundul. Kemudian ken-
39 Ansori, Staf Pengasuhan Haramain, Wawancara, Narmada 22 Otober 2021.
dala yang di temukan merupakan factor kurangnya kesadaran diri santri itu sendiri untuk berubah. 40
Seperti pengakuan dari santri kelas XII MA Putra Narmada :
“Saya memang sering merokok. Dan saya sendiri mau berhenti merokok. Saya mulai bisa merokok mulai kelas 2 SD, jadi dulu saya diajakin sama teman kelas saya merokok lama kelamman saya jadi terbiasa merokok. Tapi saya takut di Botak, dan Saya di suruh mengikuti Terapi (SEFT) sama Ustad A Pengasuhan santri.41
Dari percakapan tersebut kita simpulkan anak tersebut takut melakukan terapi karena takut di hukum, sehingga staf Staf Pengasuhan mengambil nisiatif untuk me- mamnggil anak terseut, kemudian berdasarkan pengakuan santri lainnya bahwa dia mengaku awal mula dia mulai merokok kemudian mereka ingin berhenti merokok.
“Dulu saya mulai merokok sejak klas 3 SD, rokok yang dulu yang terkenal itu rokok surya kalau saya merokok orang tua saya juga perokok. dulu saya merokok sering ketika mau tadarusan atau sebelum sholat isa untuk mengisi waktu luang. Biasanya 1-2 batang rokok sambil menunggu teman-teman datang.
Namun lama kelamaan saya sadar ada keinginnan berhenti merokok tapi saya takut nanti di hukum”42 Berdasarkan wawancara tersebut dapat di simpulkan, santri yang di terapi merupakan anak yang dengan sendirinya ingin berhenti merokok akan tetapi takut ketika pengasuhan mengetahui santri tersebut seorang perokok,
40 Ponpes Nurul Haramain Observasi, Narmada, 10 Oktober 2020.
41 Konseli Mujib, Wawancara, Narmada, 10 Oktober 2020.
42 Konseli Faisal, Wawancara, Narmada, 10 Oktober 2020.
kemudian di hukum. Sehingga kendala dalam melakukan terapi SEFT ini adalah karena factor ketakutan anak terse- but untuk mengungkapkan keinginan berhenti merokok pada pihak Pengasuhan santri.
Kunci dari metode penerapan Tehnik Spritual Emo- tional Freedom Tehnique (SEFT) di dalam Pondok Pe- santren ialah dengan ketukan ke 18 titik meridian tubuh dengan menggunakan dua jari. Cara melakukannya dibagi menjadi tiga tahap:
a). The Set-Up
The Set Up Merupakan langkah awal yang dilakukan untuk menetralisir “Psychological Re- versal” atau yang sering disebut dengan perla- wanan psikologis. Psychological Reversal berupa pikiran negative atau keyakinan bawah sadar nega- tive. Tujuan dari tahap ini yaitu untuk memastikan agar aliran energi tubuh kita terarahkan dengan te- pat. Tahap ini dilakukan dengan dua cara bersa- maan. Pertama dengan menekan dada kita sambil memutar berlawanan arah jarum jam, tepatnya dibagian “sore spot”( titik nyeri). Kedua, bersa- maan dengan set up word, yaitu kalimat yang perlu diucapkan dengan penuh perasaan untuk mene- tralisir Psichological Reversal. Struktur dari ka- limat set up adalah, merasakan-terima-pasrah- ikhlas. “Ya Allah meskipun saya merasa (tidak bisa melepaskan diri dari kebiasaan rokok), tapi saya ikhlas menerimanya dan saya pasrahkan kepada-Mu untuk kesembuhan saya”
Awalnya perokok di minta untuk mencium bau rokok yang biasa dihisapnya, ini adalah langkah awal yang di sebut dengan the set-up yang bertujuan untuk memastikan agar aliran energy
tubuh kita terarahkan dengan tepat. Langkah ini dilakukan untuk menetralisir pikiran negatif yang sepontan dari mencium bau rokok itu, yang pasti para perokok masih ingin menghisapnya. Setelah itu terapis akan menekan dada kita, tepatnya di sekitar dada atas.
b). Tune-in
Langkah kedua dilakukan dengan cara mem- bayangkan kondisi yang dapat membangkitkan emosi negative. Kemudian ketika emosi negative tersebut muncul dalam hati dan mulut mulai mengatakan “Ya Allah (meskipun….) Saya Ikhlas dan saya pasrah” Dalam peroses penerapannya Peneliti terlibat langsung dengan siswa yang merokok. Karena pada dasarnya penerapan teknik ini di lakukan dengan memberikan tapping atau seperti menotok pada bagian tertentu, untuk menghilangkan efek nikotin atau zat adiktif pada rokok. Kemudian selama peroses terapi Sefter menggunakan media berupa : beberapa batang ro- kok dan sebotol air mineral. Dalam panduan atau- pun pelatihan mengenai SEFT santri di minta un- tuk menghisap rokok secara terus menerus sampai memperlihatkan perubahan fisik, sambil santri ter- sebut di berikan teknik tipping pada beberapa ba- gian. Kemudian memberikan “Sugestion” pada santri untuk ikhlas dan pasrah untuk mengurangi bahkan menghilangkan kebiasaan buruk merokok karena Allah SWT.43
Dalam peroses pelaksanana teknik Tun In ini di kombinasikan dengan terapi Puasa pada santri
43 Observasi, Narmada, 22 Oktober 2020.
kelas XII MA Pondok Pesantren Nurul Haramain NW Putra Narmada, tahap pertaman santri di per- silahkan mengambil nasi di dapur santri untuk makan sahur yang memang sudah di sediakan oleh ibu dapur. Kemudian berdasarkan hasil observasi peneliti meninjau langsung lokasi dapur santri, yang semua santri Pondok Psantren makan di dapur tersebut. Kemudian untuk segala bentuk per- siapan terkait sahur hingga berbuka Puasa semuanya sudah di pasilitasi oleh Pondok dengan perantara ibu dapur.44
Hasil Wawancara dengan staf bagian Ubudi- yah atau bagian Ibadah santri Pondok Pesantren sebagai berikut :
“Jadi pertama saya perlu jelaskan bahwa puasa itu ibadah kepada Allah SWT. Bukan merupakan hukuman semata mata kepada santeri kita. dan di dalam pondok ini terdapat beberapa bagian, salah satunya bagian ubudiyah atau bagian ibadah san- teri sehari hari di dalam pondok. Jadi kalu untuk santeri kita yang berpuasa kita berika keleluasan bangun tidur nya, maksudnya kalau tidur santeri kita yang berpuasa bisa di masjid atau di depan rayon agar nanti ketika waktu sahurnya gampang di bangunkan oleh bagian taklim atau oleh mudabirnya. Kemudian mereka bisa langsung ked- apur mengambil nasi dan lauk pauknya. Kurang lebih seperti itu. Dan Alhamdulillah ketika di terapkan sanngsi tersebut anak-anak dapat efek je- ra minimal tidak mengulanginya lagi. Untuk pen- erapannya sama mereka bangun makan sahur
44Dapur santri Ponpes Haramain Observasi, Narmada, 11 Oktober 2020.
kemudian di pagi sampai menjelang berbuka kita wajibkan mereka membaca Al-Qur‟an di depan kamar bagian taklim sebagai absen bahwa anak tersebut menjalankan hukumannya dengan baik.
Sedangkan untuk kendala yang paling sering itu anak sering mengeluh lapar dan susah sekali di bangunkan untuk sahur dan langsung di terapi SEFT oleh bagian pengasuhan, kemudian karena badan lemas jadi anak-anak yang puasa sambil di terapi jadi lemas dan kebnanyak waktu tidurnya bahkan mereka merasakan pahit ketika mau men- coba merokok kembali.45
Dari percakapan di atas dapat disimpulkan bahwasanya tahap Tun In dengan terapi Puasa yang di terapkan untuk santri yang merokok sangat luar biasa dampaknya bagi santri tersebut, misal- kan dari penerapan tahap Tun In dengan terapi Puasa ini santri merasakan ada efek jera dan peru- bahan fisik di karena terapi SEFT di ikuti dengan berpuasa menyebabkan santri tersebut menjadi iklas untuk berhenti merokok, kemudian tenaga menjadi lemas dan lelah. Kemudian dari penera- pannya sering kali terkendala oleh santri yang su- litt untuk di bangunkan sahur. Sehingga perlu kesabaran untuk mendidik santri yang menerima hukuman tersebut.46
Sebagaimana dalam adab berlaku Puasa, maka dengan berpuasa segala tindakan dan ucapannya akan jauh dari segala bentuk kemaksiatan. Hal ter- sebut sangat lah sesuai dengan tahap Tun In terse-
45 Puji ketua Ubudiyah , Wawancara, 8 September 2021.
46 Masjid Jami Nurul Haramain Putra, Observasi 10 September 2021.